cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni
ISSN : 23547154     EISSN : 27988678     DOI : -
Core Subject : Art,
The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches.
Articles 219 Documents
Pengembangan Metode Pembelajaran Olah Tubuh Melalui Variasi Metodik Dengan Memanfaatkan Media Fitnes Pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sendratasik FSP ISI Denpasar Rinto Widyarto; Ni Wayan Mudiasih; Ni Wayan Iriani
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6222.717 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i1.357

Abstract

Program Studi Pendidikan Sendratasik, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar sebagai prodi baru yang terus berupaya mengembangkan pembelajaran yang unggul dan berkualitas. Untuk itu kajian ini dipilih mata kuliah olah tubuh sebagai salah satu kajian metode pengembangan yang memerlukan latihan gerak tubuh yang dipilih sesuai dengan pola gerak yang bersifat bebas. Pelatihan olah tubuh untuk meningkatkan kelenturan/flexibilitas tubuh, memaximalkan jarak jangkau persendian, menanamkan rasa estetika dan sensitifitas gerak, dan juga menambah ke-kuatan dalam meningkatkan stamina tubuh. Pembelajaran olah tubuh melalui variasi metodik dengan memanfatkan media fitness merupakan pengembangan metode pada mahasiswa program studi pendidikan Sendratasik yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Pengembangan metode pembelajarannya masih tetap mengacu kepada metode-metode yang ada dan konvensional. Permasalahan kajian ini difokuskan pada pemilihan materi teknik gerak atraksi dan yoga beserta rumusan konsep geraknya yang memanfaatkan media fitness sebagai variasi metodiknya. Kemudian dilakukan penulisan istilah gerak olah tubuh, serta langkah-langkah untuk mengimplementasikannya.  Tujuan dan target penelitian ini untuk menghasilkan ‘produk teknik gerak” mengenai pembelajaran olah tubuh melalui variasi metodik yang memanfaatkan media fitness pada mahasiswa program studi pendidikan Sendratasik. Variasi metodik yang dihasilkan sebagai upaya penyesuaian potensi dan media fitness yang ada di Fakultas Seni Pertunjukan, agar fasilitas pembelajaran yang dimiliki lebih fungsional dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Metode penelitian ini dengan pendekatan kualitatif, yang lebih menekankan pada ”metode variatif”. Mengutamakan variasi pembelajaran antara tim peneliti dan mahasiswa Program studi Pendidikan Sendratasik. Metode pengumpulan data melalui observasi partisipasi, wawancara, dan pelatihan yang terfokus pada mahasiswa. Hasil penelitian ini berupa deskripsi yang menjadi bahan terapan dasar bagi pembelajaran mata kuliah olah tubuh dan selanjutnya berkontribusi pada mata kuliah praktek tari yang lainnya.The Study Program of Sendratasik Education, Faculty of Performing Arts of ISI Denpasar as a new study program which continually strives to develop a superior and quality learning. Therefore, this study was chosen as a “olah tubuh” as a study of development methods that require exercise of body motion selected in accordance with the pattern of motion that is free. Exercise training to improve flexibility of the body, maximize joint distance, instill aesthetic sense and motion sensitivity, and also increase the strength in increasing body stamina. Learning of “olah tubuh” through methodical variation by utilizing the fitness media is the development of methods on the students of the course of Sendratasik education which has never been done before. The development of the learning method still refers to existing and conventional methods. The problem of this study focused on the selection of motion attraction and yoga techniques along with the formulation of the concept and motion that utilizes the media fitness as its methodical variation. Then do the writing of motion if the body, as well as steps to implement it. The objectives and targets of this research are to produce 'to move products' on learning “olah tubuh” through methodical variations that utilize the fitness media in the students of the Sendratasik education. Methodological variations are produced as an effort to adjust the potential and the existing fitness media in the Faculty of Performing Arts, so that the learning facilities owned are more functional and can be developed in a sustainable manner. This research method with qualitative approach, which more emphasis on "variatif method". Prioritizing learning variation between research team and student of Study Program of Sendratasik Education. Method of collecting data through participant observation, interview, and training which focused on student. The results of this study in the form of descriptions that become the basic applied materials for learning body fitness courses and then contribute to other dance practice classes.
Kajian Semiotika Sebagai Strategi Komunikasi Pada Film Enslaved Desak Putu Yogi Antari Tirta Yasa
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9423.474 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i1.358

Abstract

Semiotika film merupakan salah satu bidang utama dalam teori film yang penting untuk dipahami sebagai sebuah paradigma dalam proses pengkajian dan penciptaan film. Perlu adanya suatu kajian yang mengkhusus mengenai semiotika film, salah satunya adalah dengan mengkaji film yang menerapkan semiotika film sebagai strategi komunikasi. Enslaved merupakan film produksi Yayasan Seva Bhuana dan Sanggar Sri Redjeki Films yang menarik untuk dikaji karena menggunakan semiotika sebagai strategi komunikasinya. Metode yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yang dilakukan dengan penentuan subyek penelitian, objek penelitian, lokasi penelitian, desain penelitian, penentuan informan, metode pengumpulan data dan metode analisis data. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode semiotika yang bersifat kualitatif-interpretatif dan metode semiotika empiris, dengan penyajian hasil analisis data dengan metode deskriptif analitif. Hasil penelitian ini adalah kajian mengenai penerapan teori semiotika film dalam Enslaved serta penerapan unsur-unsur semiotika terkait dengan unsur-unsur film.Film semiotics is one of the main field on film theory which is important to understand as a paradigm in the process of film study and creation. A specific study about film semotics is needed, one of it by reviewing film that apply film semiotics as communication strategy. Enslaved is a film by Yayasan Seva Bhuana and Sanggar Sri Redjeki Films which is interesting to be studied because it applied film semiotics as communication strategy. The method used in this research is qualitative method by the determination of research subject, research object, research location, research design, informants, methods of collecting data and methods of data processing. The analysis methods used in this research is semiotics methods which is qualitative-interpretative and empiric semiotics methods with descriptive-analitive methods on data presentation. The result of this research is a study of the application of film semiotics theory and how semiotics elements related to the film elements in Enslaved.
Alih Kode dalam Pertunjukan Wayang Kulit Bali Inovatif I Gusti Ngurah Gumana Putra
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1645.464 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i1.359

Abstract

Tulisan yang berjudul Alih Kode dalam Pertunjukan Wayang Kulit Bali Inovatif ini mengangkat masalah yakni penyebab seniman dalang beralih kode dan pola kecenderungan alih kode. Teori Sosiolinguistik digunakan untuk menjelaskan hubungan antara tingkah laku bahasa di masyarakat menyangkut ketetapan dan pemilihan variasi serta ragam bahasa dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti partisipan, situasi pembicaraan, ranah pembicaraan, dan faktor-faktor nonbahasa. Seniman dalang beralih kode disebabkan oleh partisipan tokoh wayang serta adanya perubahan topik pembicaraan. Apabila ditinjau dari sudut peralihan bahasa yang digunakan, macam alih kode dapat dibagi menjadi dua yaitu alih kode ke luar dan alih kode ke dalam. Apabila ditinjau dari sudut perubahan bahasa yang digunakan, maka alih kode dapat dibagi menjadi dua yakni alih kode metaforik dan Alih kode situasional. Wujud alih kode dibagi menjadi dua yakni alih tingkat tutur dan alih bahasa. Alih tingkat tutur yang terjadi adalah dari tingkar tutur hormat ke tingkat tutur lepas hormat dan sebaliknya. Alih bahasa yang terjadi adalah dari bahasa Bali ke bahasa Jawa Kuna, dari bahasa Jawa Kuna ke bahasa Bali, dari bahasa Bali ke bahasa Indonesia, dari bahasa Indonesia ke bahasa Bali, dari bahasa Bali ke Bahasa Inggris, dan dari bahasa Inggris ke bahasa Bali. Ada 2 ciri alih kode yakni  ciri situasi dan latar belakang sosial tokoh-tokohnya, serta ciri saling ketergantungan bahasa.The article entitled Code Switching in Bali Innovative Wayang Kulit Performance analyzed the problem of causing dalang artists to switch codes and patterns tendency of code switching. The Sociolinguistic Theory is used to explain the relationship between language behavior in society concerning the provision and selection of variations and varieties of languages by considering factors such as participants, speech situations, conversation spheres, and non-linguistic factors. Dalang artist switches the code  caused by the puppet participant and the change of topic. When viewed from the transition point of the language used, the sort of code switching can be divided into two, namely the switching of code out and switching code into. When viewed from the angle of language changes used, the code switching can be divided into two namely the switching of metaphoric codes and situational code divert. The form of code switching is divided into two namely the switching of speech and language switching. The level of speech switching that occurs is from respect level of speech to the unrespect level of speech and vice versa. The language translation is from Balinese to Old Javanese, from Old Balinese to Balinese, from Balinese to Indonesian, from Indonesian to Balinese, from Balinese to English, and from English to Balinese. There are two characteristics of code switching that characterize the situation and social background of the characters, as well as the characteristics of language interdependence
Karakterisasi Bentuk Tokoh Anoman Dalam Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati I Bagus Wijna Bratanatyam
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5183.933 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i1.360

Abstract

Wayang Kulit Ramayana merupakan pertunjukan wayang kulit yang sumber lakonnya dari wiracerita Ramayana dengan musik iringan babatelan gender wayang. Ciri khas dari pertunjukan ini yaitu pada saat penampilan palawaga atau tokoh-tokoh kera. Salah satu tokoh kera yang dalam Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati mendapatkan porsi penampilan karakterisasi mengkhusus yaitu Anoman. Anoman merupakan panglimna pasukan kera Gua Kiskenda yang mengabdi kepada Rama. Hal ini menarik untuk diteliti khususnya pengkarakteran tokoh Anoman dalam Wayang Kulit Ramayana gaya Sukawati. Penelitian ini ini bertujuan untuk menguraikan dan menjelaskan bentuk tokoh Anoman dalam Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati yang terdiri dari : 1. Bagian Atas (kepala)Tokoh Anoman, 2. Bagian Tengah (badan) Tokoh Anoman, 3. Bagian Bawah (kaki) Tokoh Anoman. Dengan menggunakan metode kualitatif, dan analisis deskriptif analisis. Penelitian yang mengaplikasikan teori semiotika ini menghasilakan kesimpulan bahwa bentuk dari tokoh Anoman sangat kompleks baik dilihat dari anatominya dari bagian atas, tengah dan bawah yaitu berbentuk kera menyerupai manusia maupun dilihat dari tata busananya yang dikenakan. Sehingga dapat dipahami karakterisasi bentuk tokoh Anoman dalam Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati.Wayang Kulit Ramayana is a leather puppet show which is the source of the play from wiracerita Ramayana with music of babatelan gender wayang. The characteristic of this performance is at the appearance of palawaga or ape characters. One of the monkey figures in the Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati get the portion of the special characterization performance Anoman. Anoman is a panglimna of Kiskenda Cave monkeys who serve Rama. This is interesting to examine in terms of what pengkarakteran figure Anoman in Wayang Kulit Ramayana style Sukawati. This research aims to describe and explain the form of Anoman figure in Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati consisting of: 1. Top (head) Anoman figure, 2. Central (body) Anoman figure, 3. Underside (foot) Anoman figure . This research is a qualitative research, with descriptive method of analysis. Based on the semiotics overburden foundation to analyze the data, it can be concluded that the shape of Anoman figure is very complex whether it is seen from the anatomy of the top, middle and bottom that is human-like ape shape and seen from the fashion charged. So that can be understood characterization of Anoman figure form in Wayang Kulit Ramayana Gaya Sukawati.
Film Dokumenter “Sesuluh” Sebagai Media Pembentuk Karakter Bangsa I Ketut Buda; I Nyoman Payuyasa; I Made Deny Chrisna Putra
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2018): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.491 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i2.549

Abstract

Dewasa ini berbagai macam masalah muncul ke permukaan menghiasi media. Hal ini mencerminkan terjadinya degradasi moral atau kemerosotan karakter. Padahal jika dicermati  nilai-nilai karakter sangat kental termuat dalam nilai-nilai lokalitas kebudayaan yang salah satunya adalah wayang Kamasan. Lukisan wayang Kamasan adalah budaya yang sarat dengan nilai-nilai moralitas. Berkaitan dengan hal ini penulis termotivasi untuk melakukan kajian terhadap sebuah film dokumenter yang berjudul “Sesuluh” yang secara materi film ini mengangkat wayang Kamasan serta nilai-nilai karakter pembentuk bangsa. Mengingat film banyak digandrungi masyarakat luas dan begitu menginspirasi bagi generasi penerus bangsa. Oleh karena itu dalam peneitian ini penulis mengangkat tiga permasalahan, yaitu pertama adalah bagaimanakah konsep film “Sesuluh”, kedua bagaimanakah cerita film “Sesuluh”, dan ketiga bagaimanakah eksplorasi nilai-nilai karakter yang terdapat dalam lukisan wayang Kamasan. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan observasi. Film dokumenter “Sesuluh” adalah jenis film dokumenter yang berdurasi 17 menit. Film ini mengambil konsep penggalian dan eksplorasi nilai karakter dalam wayang Kamasan, dengan menghadirkan tiga nara sumber yang berkompeten. Cerita film dibagi menjadi tiga babak, babak pertama membahas peran dan fungsi wayang kamasan, ketiga eksplorasi nilai karakter, dan ketiga berupa konklusi. Film “Sesuluh” ini merupakan sebuah media yang pantas dan patut dijadikan sarana pembentukan karakter bangsa.Today various problems surfaced adorn the media. This reflects the occurrence of moral degradation or deterioration of character. In fact, if we look at the character values are very thick, contained in the values of cultural locality, one of which is Kamasan wayang. Kamasan puppet paintings are cultures that are full of moral values. In connection with this the writer is motivated to conduct a study of a documentary film entitled “Sesuluh” which in this film materializes Kamasan wayang and the values of the nation’s forming characters. Considering the film is much loved by the wider community and so inspiring for the future generation. Therefore, in this study the author raises three problems, namely first is how the concept of the film “Sesuluh”, the second how the story of the film “Sesuluh”, and the third how to explore the character values contained in Kamasan puppet paintings. The design of this study is descriptive qualitative. Data collection method uses interview and observation methods. The documentary film “Sesuluh” is a type of documentary film that lasts 17 minutes. This film takes the concept of digging and exploring the value of characters in the Kamasan wayang, by presenting three competent resource persons. The film story is divided into three rounds, the first round discusses the roles and functions of kamasan puppet, the third is exploration of character values, and the third is conclusions. This “Sesuluh” film is an appropriate media and should be used as a means of forming the nation’s character. 
Program Kemitraan Masyarakat Banjar Dinas Bongan Gede, Desa Bongan dan SMK Saraswati 3 Tabanan di Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali I Gde Made Indra Sadguna; I Ketut Sariada
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2018): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.195 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i2.550

Abstract

Masyarakat Bali dan kesenian merupakan hal yang tak terpisahkan dan saling terkait. Kesenian menempati ruang yang penting, khususnya dalam konteks ritual keagamaan. Dalam pelaksanaan upacara di Bali, dikatakan tidak akan lengkap dan selesai tanpa hadirnya kesenian, khususnya seni tari dan karawitan. Kini dengan perkembangan globalisasi dan teknologi, peminat kesenian dari generasi muda mulai mengalami penurunan. Hal tersebut dikarenakan gaya pola hidup yang berubah mengikuti sinetron di televisi, penggunaan media sosial dan internet yang berlebihan, serta adanya anggapan bahwa seni tari dan karwaitan adalah hal yang kuno. Dari hal tersebut, timbul kekhawatiran akan semakin terpinggirkannya kesenian Bali. Oleh sebab itu, perlu dilakukan usaha-usaha pelestarian kesenian, salah satunya lewat Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Dalam kegiatan PKM ini terdapat dua mitra, yaitu Banjar Bongan Gede sebagai Mitra I dan SMK Saraswati 3 Tabanan sebagai Mitra II. Kedua mitra mengalami permasalahan yang sama, yaitu rendahnya animo anak-anak dan siswa yang mempelajari seni tari dan karawitan. Dari pertemuan dengan kedua mitra, ditemukan tiga masalah utama yaitu kurangnya animo dalam belajar berkesenian, yang berakibat pada kurangnya teknik tari dan karawitan, serta kurangnya referensi tari-tarian kreasi baru. Untuk mengatasi permasalahan tersebut akan ditawarkan solusi dengan melakukan presentasi seni yang interaktif dan menarik, workshop peningkatan teknik tari dan karawitan, serta pengajaran tari Selat Segara sebagai salah satu tari kreasi baru. Sasaran peserta PKM untuk mitra I adalah anak-anak berusia 12-15 tahun serta siswa-siswi yang memilih ekstrakurikuler tari dan tabuh untuk mitra II. Melalui solusi yang ditawarkan, didapatkan hasil meningkatnya animo anak-anak serta siswa dalam mempelajari kesenian, adanya peningkatan teknik tari dan karawitan, serta mampu menguasai tari Selat Segara dengan baik. Hasil dari pembinaan PKM ini didokumentasikan dalam bentuk DVD. Arts and society are two inseparable factors in the Balinese life. The existence of art plays a vital role, especially in the religious context. Ceremonies are not complete without the presence of art, especially karawitan (traditional Balinese music) and dance. Now, in the era of technology and globalization, younger generation are experiencing a decline in arts. This is due to the lifestyle patterns that change following soap operas on television, excessive use of social media and the internet, and the assumption that dance and music are old school. From this, concerns arise about the increasingly marginalized Balinese arts. To preserve the arts, there should be efforts to be done, one is through the Program Kemitraan Masyarakat (PKM). In this PKM activity there were two partners, namely Banjar Dinas Bongan Gede Banjar Partner I and SMK 3 Saraswati Tabanan as Partner II. Both partners experienced the same problems, namely the low interest in children and students studying dance and music. From meetings with the two partners, three main problems were found, namely the lack of interest in learning art, which resulted in a lack of dance and karawitan techniques, as well as a lack of reference to new dances. To overcome these problems, a solution will be offered by conducting interactive and interesting art presentations, dance and karawitan techniques improvement workshops, and teaching Selat Segara dance as one of the new dance creation. The target of PKM participants for partner I is children aged 12-15 years and students who choose dance and karawitan extracurricular for partner II. Through the solutions offered, the results are the increasing of interest of children and students in learning art, the improvement of dance and karawitan techniques, and being able to perform the Selat Segara dance. The results of this PKM are documented on DVD. 
Nilai-Nilai Tradisi dan Modernitas Pada Karya Nyoman Gunarsa I Wayan Nuriarta; I Bagus Wijna Bratanatyam
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2018): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.639 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i2.551

Abstract

Dalam lukisannya, Gunarsa melakukan penggalian nilai dan spirit yang terkandung dalam entitas budaya dan seni tradisional Bali. Pada konteks ini, Gunarsa juga menyerap tradisi seni modern yaitu; fine art (seni murni) melalui bangku akademis. Gunarsa melahirkan estetika ”baru” dari penggabungan kaidah-kaidah modern dengan nilai-nilai tradisi Bali. Penelitian ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dalam bentuk kajian akademis terhadap karya-karya Nyoman Gunarsa yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Seni Lata Mahosadhi ISI Denpasar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif untuk mengumpulkan, menyaring dan menganalisis data. Teori kritik seni Feldman digunakan dalam kajian terhadap karya-karya Nyoman Gunarsa dimulai dengan deskripsi dan analisis formal terhadap aspek-aspek formal, dilanjutkan dengan interpretasi terhadap keterkaitan aspek formal tersebut dengan representasi nilai-nilai tradisi dan modernitas dan terakhir evaluasi. Data tersebut dijabarkan secara deskriptif untuk mendapatkan hasil yang jelas terhadap masalah-masalah yang diajukan dalam penelitian ini. Setelah semua data dianalisis dan dibahas secara mendalam, langkah terakhir adalah menyimpulkan temuan-temuan yang diperoleh sesuai dengan data yang ada, yang didasarkan pada ruang lingkup permasalahan yang dikaji.In his painting, Gunarsa explores the values and spirit contained in artistic entities and Balinese traditional culture. In this context, Gunarsa also absorbs modern art traditions, named; fine art through formal studies. Gunarsa has founded a “new” aesthetic of paintings by combining the modern principles with Balinese traditional values. This study aims to increase knowledge in the form of academic studies on the works of Nyoman Gunarsa stored in the Lata Mahosadhi Art Documentation Center, ISI Denpasar. This study uses a qualitative research design to collect, filter and analyze the data. Feldman’s art criticism theory used in this study of Nyoman Gunarsa’s works. It begins with a formal description and analysis of the formal aspects, followed by an interpretation of the relationship between the formal aspects and the representation of traditional values and its modernity, and then the evaluation. The data is described descriptively to get clear results on the problems proposed in this study. After all the data are analyzed and discussed deeply, then the final step is to conclude the finding items from the available data, which is based on the scope of the problem being examined. 
Jenis Dan Bentuk Pepalihan Peciren Bebadungan Pada Pemesuan : Studi Kasus Desa Kesiman I Putu Udiyana Wasista; I Kadek Dwi Noorwatha
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2018): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.882 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i2.552

Abstract

Pepalihan peciren bebadungan merupakan pakem pepalihan yang berkembang di wilayah Denpasar. Pakem pepalihan ini tersisa di wilayah Desa Kesiman, disebabkan daerah Kesiman tidak tersentuh vandalisme arsitektur pada masa penjajahan Belanda. Pepalihan digunakan pada arsitektur tradisional Bali sebagai ornamentasi dengan tujuan estetis. Salah satu jenis arsitektur tradisional bali yang menggunakan pepalihan adalah pemesuan. Penelitian ini memfokuskan pada pemesuan, disebabkan pemesuan merupakan identitas dari sebuah wilayah. melalui pepalihan pada pemesuan di wilayah Desa Kesiman, dapat diketahui bentuk dan jenis pepalihan peciren bebadungan yang lumrah digunakan sebagai gambaran identitas wilayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif komparatif melalui hasil wawancara dengan undagi. Pepalihan peciren bebadungan menggunakan permainan garis geometris dengan sistem konstruksi gandeng yang cukup rumit. Melalui permainan tersebut tercipta estetika khas bebadungan yang terkesan kokoh dan modern. Jenis pepalihan yang lumrah digunakan pada pemesuan di wilayah Desa Kesiman adalah palih sebitan, palih tiasan, palih ganggong, palih gumulung, palih gegilik, palih baong capung, palih kekarangan, palih sasak, dan palih lelempong.Pepalihan peciren bebadungan is a standard transfer system that is developing in the Denpasar area. This transfer system is left in the Kesiman Village area, because the Kesiman area was not touched by architectural vandalism during the Dutch colonial period. Transfers are used in traditional Balinese architecture as ornamentation with aesthetic purposes. One type of traditional Balinese architecture that uses transfer is pemesuan. This research focuses on traditional Balinese entrance, because the traditional Balinese entrance is the identity of a region. Through the transition to the establishment in the Kesiman Village, it can be seen that the shape and type of the traditional Peciren switch that is commonly used as an illustration of regional identity. This study uses a qualitative approach with descriptive comparative methods through the results of interviews with undagi. The transfer system of peciren bebadungan uses a geometric line game with an articulate construction system that is quite complicated. Through the game created a distinctive aesthetic that is solid and modern. The types of shifting that are commonly used in the processing in Kesiman Village are palih sebitan, palih tiasan, palih ganggong, palih gumulung, palih gegilik, palih baong capung, palih kekarangan, palih sasak, and palih lelempong. 
Analisis Nilai Karakter Dalam Penggalan Cerita Ramayana Pada Pandil Gong Kebyar Di Pusdok Isi Denpasar I Nyoman Payuyasa; Wayan Diana Putra
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2018): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.242 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i2.553

Abstract

Dewasa ini masyarakat mulai diresahkan dengan berbagai macam permasalahan terorisme, pemerkosaan, korupsi, serta tindakan kriminal lainnya. Penggiatan pendidikan karakter sepertinya belum memeroleh maksimal. Padahal karakter masyarakat Indonesia seharusnya tidak lepas dari moralitas dalam kearifan lokal dalam bentuk seni budaya. Terutama Bali yang sarat dengan nilai seni budaya, yang salah satunya adalah kesenian musik tradisional Gong Kebyar. Ada bagian unik dalam setiap instrumen gong yang disebut dengan pandil yang berupa ukiran yang menceritakan kisah Ramayana. Tentu dalam kisah ini banyak sekali muatan nilai-nilai karakter dan moral, namun belum ada yang menerjemahkan serta menganalisisnya. Sebagai sebuah upaya untuk mengikutsertaan bidang kesenian dalam menanggulangi kemerosotan karakter,  penulis tertarik untuk manganalisis nilai-nilai karakter dan moral dalam pandil gong kebyar ini. Permasalahan serta tujuan penelitian ini untuk mendeskripsi cerita dan nilai-nilai karakter dalam pandil gong kebyar. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penulis menggunakan metode observasi dan wawancara untuk mengumpulkan data penelitian.  Hasil penelitian ini menemukan ada sepuluh rangkaian cerita Ramayana serta beberapa memuat nilai-nilai moral, seperti tanggung jawab, kesetiaan, rela berkorban, ketidakserakahan, dan penegakkan kebenaran.Nowadays people are starting to be troubled by various problems of terrorism, rape, corruption, and other criminal acts. Activation of character education does not seem to have maximized. Whereas the character of Indonesian society should not be separated from morality in local wisdom in the form of cultural arts. Especially Bali which is full of artistic and cultural values, one of which is the traditional Gong Kebyar music art. There is a unique part in each gong instrument called pandil in the form of carvings which tells the story of Ramayana. Of course in this story there are a lot of character and moral values, but no one has translated or analyzed them. As an effort to participate in the arts in tackling the deterioration of character, the writer is interested in analyzing the character and moral values in the kebyar pandil gong. The problem and the purpose of this study is to describe the characters’ stories and values in the Pandil Gong Kebyar. The design of this study is descriptive qualitative. The author uses observation and interview methods to collect research data. The results of this study found that there are ten series of Ramayana stories and some contain moral values, such as responsibility, loyalty, willingness to sacrifice, injustice, and upholding the truth. 
Perkembangan Trend Kamen Wanita Di Bali Dewa Ayu Putu Leliana Sari
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2018): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.589 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i2.554

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menelusuri tentang bagaimana perkembangan salah satu bagian dari busana adat tradisional yaitu kamen di Bali baik yang digunakan pada saat upacara adat ke Pura, sehari-hari maupun upacara manusa yadnya. Subjek yang paling menonjol dalam perkembangan pakaian adat Bali yaitu wanita Bali. Ruang lingkup tulisan ini yaitu kamen wanita yang dikenakan pada saat ke pura maupun pesta adat (dalam agama hindu disebut dengan manusa yadnya). Pada awalnya, pakem busana adat Bali ke Pura, yaitu :Pertama diawali dengan memakai kamen tetapi lipatan kamen melingkar dari kanan ke kiri sesuai dengan konsep sakti. Putri sebagai sakti bertugas menjaga agar si laki-laki tidak melenceng dari ajaran Dharma. Tinggi kamen putri kra-kira setelapak tangan karena pekerjaan putri sebagai sakti sehingga langkahnya lebih pendek. Setelah menggunakan kamen untuk putri memakai bulang yang berfungsi untuk menjaga rahim, untuk mengendalikan emosi. Sekitar 5 tahun lalu terjadi pergeseran bentuk kamen dari yang seharusnya dikenakan pada saat ke Pura. Perubahan bentuk kamen tersebut dikarenakan pengaruh kaum fashionista dan sosialita yang merombak cara berkain dengan system ikat dan draping. Pakem kamen wanita yang seharusnya dikenakan pada saat persembahyangan ke pura serta trend yang sedang in pada bentuk, motif serta warna kamen. Perkembangan motif berupa kain printing dengan motif kain tradisional Bali, batik-batik serta kain yang dibordir dengan motif songket. Serta dalam perkembangan warna kamen yang dikenaan lebih berani, tidah hanya menggunakan warna-warna khas Bali. This paper aims to explore how the development of one part of traditional traditional clothing namely kamen in Bali is good that is used during traditional ceremonies to the temple, daily and manusa yad ceremony. The most prominent subject in the development of Balinese traditional clothing is Balinese women. The scope of this paper is that women are worn when they go to temples or traditional parties (in Hindu religion they are called manusa yadnya). In the beginning, the custom of Balinese clothing to the temple, namely: First begins with wearing kamen, but the folds of kamen circle from right to left according to the magic concept. The princess as a magician is in charge of keeping the man from deviating from the teachings of the Dharma. The height of the princess is about the palm of the hand because the work of the princess is powerful so the steps are shorter. After using kamen for the daughter to use a bone that serves to protect the uterus, to control emotions. About 5 years ago there was a shift in the form of kamen from what was supposed to be worn at the temple. Changes in the form of kamen are due to the influence of the fashionistas and socialites who overhauled the way to deal with the tie and draping systems. The ingredients for women’s kamen that should be worn when praying to temples and trends that are currently in shape, motif and color are kamen. The development of motifs in the form of printing cloth with traditional Balinese cloth motifs, batik and cloth embroidered with songket motif. As well as the development of kamen colors that are recognized more boldly, not only use Balinese colors.Â