cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni
ISSN : 23547154     EISSN : 27988678     DOI : -
Core Subject : Art,
The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches.
Articles 219 Documents
Tari Rejang Renteng Sebagai Motivasi Belajar Tari Wali Bagi Wanita Di Kota Denpasar Ni Made Haryati
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2019): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.466 KB) | DOI: 10.31091/sw.v7i2.726

Abstract

Tari Rejang Renteng ini merupakan salah satu tari Rejang yang berhasil direkontruksi kembali oleh salah seorang penata tari yang bernama Ida Ayu Made Diastini. Tari Rejang Renteng merupakan tarian Rejang yang berasal dari daerah Nusa Penida dan dilestarikan kembali oleh Dinas Kebudayaaan Provinsi Bali pada tahun 1999. Tari Rejang Renteng dewasa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, dimana tarian ini ditarikan oleh para wanita sebagai wujud rasa bakti dan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Saat ini tarian ini telah berkembang baik di daerah perkotaan hingga pedesaan, salah satu daerah yang melestarikan serta mengembangkan tarian Rejang Renteng yaitu Kota Denpasar. Berdasarkan uraian di atas, mengenai beberapa fenomena yang terjadi dewasa ini dari dampak yang diperoleh dari hasil pelestarian dan sosialisasi tari Rejang Renteng, menarik minat penulis untuk meneliti lebih mendalam mengenai tari rejang Renteng sebagai motivasi belajar tari wali bagi wanita di Kota Denpasar. Untuk itu perlu dilakukan pengkajian secara mendalam mengenai Tari Rejang Renteng Sebagai Motivasi Belajar Tari Wali Bagi Wanita Di Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan observasi ke masing-masing kecamatan di Kota Denpasar. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori bentuk untuk mengetahui bentuk tari Rejang Renteng dan teori kebutuhan untuk mengetahui faktor yang memotivasi wanita di Kota Denpasar untuk mempelajari tari Rejang Renteng. Dari penelitian ini diperoleh hasil mengenai bentuk serta struktur tari Rejang Renteng serta mengenai faktor yang memotivasi yaitu untuk kebutuhan untuk ngayah dan melestarikan tari Rejang Renteng.
Brand Identity Untuk Kampung Singkong Salatiga Sebagai Upaya Meningkatkan Kesadaran Merek Herlina Kumala Sari; Peni Pratiwi; Birmanti Setia Utami
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2020): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.323 KB) | DOI: 10.31091/sw.v8i1.756

Abstract

Kampung Singkong adalah salah satu pusat kuliner khas di Salatiga yang berbahan baku singkong, diolah sedemikian rupa menjadi olahan pangan moderen dan berkelas berdiri pada tahun 2016. Perkembangan Kampung Singkong tersebut berdampak luas terhadap kegiatan perekonomian masyarakat didaerah Ledok, Argomulyo sehingga terbentuk suatu paguyuban UMKM didaerah tersebut. Melihat dari potensi yang ada sangat disayangkan Kampung Singkong Salatiga belum memiliki brand identity dan pengaplikasiannya yang dapat mempresentasikan Kampung Singkong. Hal ini menjadi kendala besar bagi beberapa pemilik toko karena sebagian besar dari mayarakat tidak mengetahui adanya Kampung Singkong Salatiga. Masyarakat lebih mengenali Singkong Keju D-9 saja. Berdasarkan permasalahan yang ada, maka dirancanglah sebuah brand identity yang komunikatif untuk Kampung Singkong Salatiga. Brand identity dirancang guna menjelaskan citra Kampung Singkong dan juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran merek bagi wisatawan. Selain itu permasalahan lain yang dihadapi adalah minimnya grafis lingkungan, sehingga banyak wisatawan yang kesulitan menemukan Kampung Singkong atau tidak mengenali identitas Kampung Singkong. Hasil dari perancangan berupa logo sebagai identitas visual Kampung Singkong, media pengaplikasian logo seperti kartu nama, surat, amplop, karcis parkir dan perancangan graphic environment seperti sign system dan denah lokasi atau peta Kampung Singkong.
Penggunaan Multimedia Visual Terhadap Tari Pendet Pada Mahasiswa Putu Setyarini
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2019): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.174 KB) | DOI: 10.31091/sw.v7i2.818

Abstract

Teknologi informasi saat ini berkembang sangat pesat, khususnya dalam bidang Multimedia visual. Software baru silih berganti bermunculan dan mengalami perkembangan. Dalam dunia pendidikan, peranan Multimedia membawa dampak yang sangat bagus dalam proses belajar mengajar. Multimedia dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang sangat efektif dan efisien. Salah satu pembelajaran tari yang berbasis multimedia adalah Tari Pendet. Mempelajari tari Pendet melalui multimedia akan membangkitkan keinginan mahasiswa untuk mulai mempelajari tari Pendet, serta dengan adanya multimedia akan merangsang mahasiswa untuk mulai aktif mempelajari tari, karena dalam pembelajarannya menggunakan media video yang dapat diulang dan diputar berkali-kali, sehingga mahasiswa mampu untuk memahami tari Pendet tersebut. Dengan adanya pembelajaran menggunakan media multimedia, maka perkembangan mahasiswa dalam mempelajari tari Pendet akan terlihat dengan jelas, baik dari sikap maupun hasil akhir dari perkuliahan. Tujuan dari pembelajaran tari Pendet melalui Multimedia adalah dapat memberikan informasi visual yang lengkap tentang gerak-gerak Tari Pendet. Serta bisa lebih meningkatkan kesadaran masyarakat terutama generasi muda tentang seni budaya, khususnya Seni Budaya yang ada didaerahnya masing-masing. Metode pembelajaran tari Pendet pada media multimedia visual, dapat memberikan dasar-dasar tari Bali secara utuh karena seluruh gerakan dapat diamati dengan baik, sehingga mahasiswa dapat dengan mudah mempelajari Tari Pendet yang diajarkan. Hasil pembelajaran tari yang berbasis Multimedia, membuat mahasiswa lebih senang dan tertarik pada seni budaya khususnya pada seni tari. Mahasiswa atau anak didik langsung dapat melihat bentuk maupun struktur dari Tari Pendet tersebut. Dan anak didik atau mahasiswa pun akan fokus dengan materi tari Pendet yang dipelajarinya.
Bentuk, Fungsi Dan Makna Ornamen Pada Gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu Di Pusat Dokumentasi Seni Institut Seni Indonesia Denpasar I Gede Agus Indram Bayu Artha; I Wayan Nuriarta
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2019): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1755.817 KB) | DOI: 10.31091/sw.v7i2.819

Abstract

Ornamen adalah komponen produk seni yang ditambahkan atau sengaja dibuat untuk tujuan sebagai hiasan. Ornamen pada suatu benda maupun produk diharapkan memiliki penampilan yang lebih baik, menarik, memiliki nilai estetis dan mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Di dalam ornamen ada yang disebut dengan istilah motif dan pola ornamen. Motif merupakan unsur pokok ornamen, Selanjutnya pola merupakan bentuk pengulangan dari motif. Motif dan pola ornamen yang dituangkan ke-dalam benda maupun produk, nantinya dapat dipergunakan dalam kegiatan sehari-hari, keagamaan, seni, dan budaya. Di Bali penggunaan ornamen juga digunakan pada alat upacara keagamaan, benda-benda seni dan budaya, misalnya pada gamelan. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini mengambil objek tentang ornamaen yang ada pada salah satu gamelan bali, yaitu ornamen pada gamelan semar pegulingan saih pitu yang ada di pusat dokumentasi (PUSDOK) seni Institut Seni Indonesia Denpasar (ISI Denpasar). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk, fungsi dan makna ornamen pada gamelan semar pagulingan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Hasil Penelitian menunjukan bentuk ornamen, fungsi estetis, simbolis dan konstruksi, serta memunculkan makna denotatif dan konotatif pada cerita arjuna wiwaha dalam ornamen tersebut.
Komunikasi Musikal Dalam Seni Pertunjukan Bali: Studi Kasus Tari Barong Ket I Gde Made Indra Sadguna; Ni Wyn. Suratni
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2019): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.678 KB) | DOI: 10.31091/sw.v7i2.820

Abstract

Komunikasi dapat diartikan sebagai sebuah interaksi serta proses penyampaian pesan dari satu pihak ke pihak lainnya. Dalam sebuah komunikasi terdapat hal-hal yang ingin disampaikan terkait suatu berita tertentu. Secara umum terdapat dua jenis komunikasi, yaitu komunikasi secara verbal serta komunikasi secara non-verbal. Dalam kehidupan seni pertunjukan di Bali, terdapat pula kedua jenis komunikasi tersebut. Komunikasi verbal dapat dijumpai pada jenis-jenis kesenian yang menggunakan dialog di dalam pertunjukannya. Bahasa yang sering digunakan di antaranya, Bahasa Bali, Bahasa Jawa Kuno, Bahasa Indonesia, bahkan terkadang terselip bahasa asing. Namun hal menarik yang dapat disimak adalah terdapat pula jenis-jenis kesenian yang berkomunikasi secara non-verbal. Penelitian ini difokuskan kepada proses komunikasi non-verbal khususnya komunikasi musikal yang terjadi dalam sebuah pertunjukan tari Barong Ket. Tarian ini merupakan salah satu ikon seni pertunjukan Bali dan sudah diakui sebagai salah satu warisan budaya oleh UNESCO. Di dalam penyajiannya, penari Barong mendominir pertunjukan dalam artian bahwa respons musik sangat tergantung pada koreografi yang ditarikan. Selain penari Barong, peran pemain kendang sangat sentral, sebab merupakan mediator antara penari dengan musisi lainnya. Dalam hal ini, pemain kendang memberikan respon sebagai akibat dari gerakan penari Barong yang kemudian diteruskan kepada musisi lainnya melalui komunikasi musikal yang dilakukan. Komunikasi musikal dalam hal ini diartikan sebagai sebuah kesepakatan tanda yang disampaikan oleh pemain kendang sehingga dapat dipahami oleh musisi lainnya sebagai penerima pesan. Jenis permainan kendang Barong memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi karena dalam permainannya menggunakan sistem kendang tunggal. Permainan kendang tunggal merupakan sebuah teknik yang mengedepankan keragaman vokabuler ritme yang dimiliki, serta kemampuan berimprovisasi. Kendang tunggal sangat fleksibel serta tidak memiliki pola yang baku. Penelitian ini difokuskan kepada dua hal pokok, yakni teknik permainan kendang tunggal dalam pertunjukan tari Barong, serta komunikasi musikal yang terjadi antara penari Barong, pemain kendang, serta musisi lainnya. Penelitian terkait komunikasi yang terjadi antara penari dengan musisi sangat jarang dilakukan sehingga merupakan hal yang menarik untuk diungkap secara lebih mendalam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis data primer dan data sekunder. Pengumupulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan, wawancara, serta observasi partisipasi. Selanjutkan dilakukan reduksi, analisis data, serta penarikan kesimpulan. Hasilnya analisis data disajikan dengan menggabungkan analisis formal maupun informal.
Kajian Komik Kartun Panji Koming Di Tahun Politik I Wayan Nuriarta; I Gusti Ngurah Wirawan
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2019): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.697 KB) | DOI: 10.31091/sw.v7i2.821

Abstract

Kartun-kartun panji Koming yang hadir pada Koran Kompas Minggu saat tahun politik adalah sebuah kartun kritik. Kartun ini unik karena cara berceritanya menggunakan komik strip dengan narasi kisah di zaman Majapahit, namun selalu memiliki konteks kekinian. Secara visual Kartun Panji Koming sangat menarik untuk dibongkar karena cara berceritanya menggunakan gaya ungkap komik yang berarti adanya pemanfaatan panel-panel serta kombinasi kata dan gambar dalam menyampaikan pesan. Selanjutnya pesan yang dihadirkan melalui kombinasi gambar dan kata juga menarik untuk diungkap karena; pertama, kartun ini bukan saja dikenal kritis, melainkan juga keras. Kedua, bahwa seri kartun Panji Koming dimuat di Koran Kompas yang merupakan Koran dengan jumlah oplah yang besar, yang terutama memang beredar dikalangan kelas menengah yang diandaikan juga sebagai pembaca yang kritis. Berkaitan dengan hal tersebut, maka kartun Panji Koming sangat penting untuk dikaji terkait transisi panelnya serta pemanfaatan kata dalam panel untuk mengungkap makna. Kajian komik menggunakan teori komik McCloud dan penafsiran maknanya akan dibedah menggunakan teori semiotika Barthes tentang makna denotasi dan makna konotasi. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan dalam bentuk kajian akademis terhadap komik kartun Panji Koming pada Koran Kompas. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif untuk mengumpulkan, menyaring dan menganalisis data. Objek penelitian ini difokuskan pada analisis pilihan momen, pilihan bingkai, pilihan citra, pilihan kata, pilihan alur serta makna denotasi dan makna konotasi. Objek penelitian tersebut didasarkan pada analisis teori komik yang dikembangkan oleh McCloud dan makna denotasi dan makna konotasi dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes.
Estetika Visual Gamelan Gong Kebyar Lelengisan Di UPT. Pusat Dokumentasi Lata Mahosadhi Instut Seni Indonesia Denpasar Agus Ngurah Arya Putraka
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2019): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.687 KB) | DOI: 10.31091/sw.v7i2.822

Abstract

Sesuai dengan visi misi ISI Denpasar yaitu sebagai “Pusat Unggulan Seni Budaya (Centre of Excellent) Berbasis Budaya Lokal Berwawasan Universal” Dengan dasar itulah ISI Denpasar mendirikan UPT. Pusat Dokumentasi Lata Mahosadhi ISI Denpasar pada tanggal 16 juni 1997, dimana pada UPT. Pusat Dokumentasi ISI Denpasar terdapat beragam koleksi perangkat keras seni. Gamelan merupakan instrument yang tidak terpisahkan dengan adat dan kebudayaan masyarakat pulau Bali. Salah satu gamelan yang dominan dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap gamelan di Bali ialah gamelan gong kebyar. Dari segi visual gamelan gong kebyar memiliki beragam tampilan, ada yang terdapat ukiran ornamen dengan warna emas (meprada) pada bagian pelawah ataupun terampa gamelan, juga terdapat gamelan gong kebyar yang tidak menggunakan ornamen sebagai hiasan pada plawah atau terampa, gamelan gong kebyar ini disebut sebagai gamelan gong kebyar lelengisan. Bila dilihat secara visual koleksi gong kebyar lelengisan yang dimiliki oleh UPT. Pusat Dokumentasi Lata Mahosadhi ISI Denpasar memiliki bentuk yang polos namun unik dan kelasik, sehingga penulis ingin meneliti gamelan lelengisan berdasarkan unsur estetika visual berdasarkan dari mana gamelan lelengisan tersebut berasal, serta kapan gamelan gong kebyar lelengisan ini dibuat. Adapun metode yang akan digunakan dalam proses penelitian ini ialah dengan metode pengumpulan data kualitatif, dengan pengumpulan data primer dan skunder, kemudian menganalisa kedua sumber data tersebut sehingga akan didapat suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga pada akhirnya kesimpulan dari penelitian dapat digunakan sebagai refrensi ilmiah dan sebagai bahan ajar untuk kegiatan perkuliahan di Institut Seni Indonesia Denpasar.
Nilai Estetis Iklan Susu Formula Dancow di Media Televisi Alit Kumala Dewi; I Nyoman Artayasa
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2019): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.843 KB) | DOI: 10.31091/sw.v7i2.823

Abstract

Perusahaan yang menggunakan media televisi untuk mempromosikan produknya sangat beragam, salah satunya adalah PT Nestle Indonesia. Dancow merupakan salah satu produk susu formula andalannya. Dalam upaya menarik perhatian audiens, iklan televisi Dancow berusaha menampilkan konsep kreatif dan persuasif, konsep kreatif tersebut tentunya tidak lepas dari konstruksi estetika yang diciptakan untuk mempengaruhi target audiens. Pengiklan akan mengaplikasikan strategi kreatifnya untuk memberikan daya tarik tersendiri untuk mempengaruhi audiens, sehingga masing-masing iklan akan memiliki nilai estetis dengan kandungan makna berbeda. Begitupula iklan Dancow, tentunya memiliki nilai-nilai estetis yang terkandung dalam strukturnya yang terdiri dari unsur visual dan unsur audio, sehingga menjadikan produk tersebut memiliki ciri khas tersendiri. Berdasarkan hal tersebut, maka fokus penelitian adalah untuk mendeskripsikan secara analitis nilai estetis iklan dancow di media televisi. Penelitian ini menerapkan metode penelitian deskripstif kualitatif, dengan melibatkan tiga sampel iklan televisi Dancow. Analisis nilai Estetis mengacu pada teori prinsip-prinsip dasar periklanan dari Frank F. Jefkins. Manfaat dari penelitian, untuk membuka wawasan dan pengetahuan dalam memahami nilai estetis iklan susu formula Dancow di media televisi. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa, nilai estetis yang terdapat pada iklan Dancow berkaitan dengan unsur visual dan unsur audio. Semua unsur menghasilkan hubungan yang saling mengikat sehingga menciptakan gambaran yang jelas, dan menghasilkan tema yang kuat, unsur- unsur dalam iklan tersebut terorganisasi, terseleksi, tertata sedemikian rupa berdasarkan kedelapan prinsip dasar periklanan.
Tari Rejang Gadung Di Desa Gadungan Kecamatan Slemadeg Timur Kabupaten Tabanan Ni Made Arshiniwati; Ni Luh Sustiawati; Ni Ketut Suryatini
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2019): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1156.247 KB) | DOI: 10.31091/sw.v7i2.885

Abstract

Tari Rejang Gadung merupakan salah satu jenis tari rejang yang biasanya ditarikan setiap upacara agama (odalan) di pura-pura di Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. Tari Rejang Gadung ditarikan secara bersama-sama oleh para wanita dewasa, remaja, dan anak-anak yang mau ngaturan ayah (berpartisipasi) menari. Para penari yang ada di belakang bergerak mengikuti penari paling depan yang tahu persis paileh (urutan gerak tarinya). Tidak ada pembatasan usia dan jumlah pemain, serta busana yang digunakan untuk tari tersebut adalah busana ke pura yang sopan. Permasalah yang ada, Mitra (Pengempon Pura Sindu) melihat bahwa belakangan ini tari Rejang Gadung mulai meredup akibat munculnya berbagai jenis tari khususnya tari rejang yang dapat disaksikan dengan mudah baik melalui youtube, televisi, maupun media elektronik lainnya. Masalah lain adalah penari yang menguasai tari dan diharapkan mampu memberikan contoh serta menari dengan mengambil posisi di depan kini semakin berkurang. Penyebab dari kurangnya kemampuan penari menarikan tari Rejang Gadung menurut Mitra karena kurangnya pembinaan atau pelatihan tentang teknik gerak dan koreografi yang tepat serta kurangnya media yang mendukung dalam mempelajari tari tersebut. Melihat permasalahan yang dihadapi Mitra, maka PKM ini bertujuan untuk memberikan solusi dengan memberikan pelatihan tari, tabuh, dan tata rias kepada warga pengempon Pura Sindu, sehingga eksistensi tari Rejang Gadung bisa dipertahankan. PKM ini juga menghasilkan video tari Rejang Gadung sebagai media pembelajaran atau pelatihan. Kegiatan PKM dilaksanakan melalui metode pemberdayaan dengan lima tahapan yaitu sosialisasi, koodinasi, pelatihan, pendampingan praktek lapangan, dan evaluasi. PKM ini dilakukan kurang lebih tiga bulan, pesertanya sekitar 50 orang terdiri dari penari anak-anak, remaja, dan dewasa, serta penabuh (pemain gamelan) dari berbagai tingkatan umur. Hasil PKM menunjukkan bahwa kemampuan penari Rejang Gadung dan kemampuan para penabuh terlihat semakin meningkat. Para penari sudah mampu menari tanpa diberikan contoh, penari sudah berani mengambil posisi di depan, para penabuh sudah mampu mengiringi tari Rejang Gadung. Melalui pelatihan ini para penari dan penabuh memperoleh pengalaman baik estetis, sosial, maupun kultural.
Proses Pembuatan Film Animasi 2D “Pedanda Baka” I Gede Adi Sudi Anggara; Hendra Santosa; A.A Gde Bagus Udayana
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2020): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.266 KB) | DOI: 10.31091/sw.v8i1.923

Abstract

Dahulu, para orang tua sering bercerita tentang dongeng dan cerita rakyat daerah kepada anak-anaknya menjelang tidur. Namun kini, cerita rakyat yang merupakan salah satu seni tradisi lisan telah mengalami marginalisasi. Tak hanya dikarenakan dengan perubahan zaman dan hadirnya berbagai teknologi, tetapi juga karena tradisi mendongeng di lingkungan keluarga telah memudar. Sangat disayangkan bila kisah-kisah inspiratif dan penuh dengan pesan moral yang terkandung di dalamnya tidak tersampaikan ke masyarakat luas, terutama anak-anak. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi dan industri kreatif saat ini, film animasi 2D adalah salah satu media informatif yang efektif dalam menyajikan dan mentransfer kisah-kisah cerita rakyat kepada masyarakat luas, terutama anak-anak yang menyukai film kartun. Film animasi 2D “Pedanda Baka” merupakan film animasi yang sumber ceritanya berasal dari cerita rakyat daerah Bali. Dalam proses pembuatannya, film animasi 2D ini melalui beberapa tahapan yang terbilang kompleks. Pembuatan film animasi 2D “Pedanda Baka” ini menerapkan metode pembuatan film dengan melalui tiga tahapan yaitu tahap pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Selain itu dalam penelitian ini juga menggunakan teknik pengumpulan primer yaitu wawancara dengan Made Taro selaku budayawan dan pendongeng asal Bali, serta didukung dengan data sekunder yakni studi kepustakaan. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tahap pra-produksi dilalui dengan beberapa proses dimulai dari menentukan ide cerita, membuat perencanaan, membuat naskah(script), membuat desain visual, serta membuat storyboard. Tahap produksi meliputi persiapan bidang kerja, modelling karakter, rigging karakter, perekaman dubbing, proses animasi, serta render animasi. Sedangkan tahap pasca-produksi meliputi proses compositing, editing, test render dan render final.