cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni
ISSN : 23547154     EISSN : 27988678     DOI : -
Core Subject : Art,
The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches.
Articles 219 Documents
Eksistensi Ilustrasi Kaos Bertema Bali Di Kota Denpasar Eldiana Tri Narulita; Ni Ketut Pande Sarjani
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.834 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.215

Abstract

Kaos bertema Bali mempunyai desain dengan motif-motif ilustrasi yang bertema budaya lokal Bali. Bagaimana eksistensi minat pembeli terhadap ilustrasi kaos bertema Bali di kota Denpasar? Apa makna ilustrasi budaya lokal yang terdapat pada elemen visual kaos bertema Bali? menjadi fokus masalah dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui eksistensi minat pembeli terhadap ilustrasi kaos bertema Bali di kota Denpasar dan untuk mengetahui apa makna ilustrasi budaya lokal yang terdapat pada elemen visual kaos bertema Bali.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sesuai dengan pendekatan kualitatif maka secara spesifikasi analisisnya ditunjang dengan analisis semiotika. Hasil penelitian yang telah diperoleh bahwa di toko oleh-oleh Krisna Nusa Indah, didapati bahwa kaos dengan ilustrasi yang bergambar karikatur/kartun dan ada teks “Bali” lebih laris. Selain itu kaos dengan ilustrasi barong juga banyak dipilih. Namun bagi konsumen terutama untuk pilihan kaos VVIP anak-anak, ilustrasi karakter kartun yang sedang tren seperti minion, angry bird, shaun the sheep, bernard bear, lebih diminati. Sedangkan hasil penelitian di toko oleh-oleh Erlangga 2, kaos dengan teks humor yang mengadaptasi kaos dari Joger lebih banyak dipilih konsumen. Hasil penelitian di Kumala production, kaos yang paling banyak dipesan adalah kaos dengan tema obyek wisata seperti Tanah lot, Besakih Kintamani. Adapun analisa tanda dan makna yang terdapat elemen visual kaos bertema Bali dilakukan melalui pendekatan semiotika diperoleh hasil bahwa dalam sample ilustrasi kaos bertema Bali terdapat tanda dan makna berupa ikon, indeks, simbol, kode kebudayaan dan kode narasi Bali- theme T-Shirt has a design motifs illustration that reflect Bali local culture. How the existence of buyer interest towards illustration themed shirts Bali in Denpasar? What is the meaning of the illustrations contained in the local culture visual elements themed shirts Bali? become the focus of the problem in this research. The purpose of this research was to determine the existence of buyers of the shirt illustration themed Bali in Denpasar and to find out what the local culture illustrations contained on the visual elements of the Bali-themed T-shirts. This research used a qualitative descriptive method. In accordance with the qualitative approach is supported by the analysis specification semiotic analysis. The result of research have been obtained that in Krisna Nusa Indah a souvenir shop, it was found that the T-Shirt with a caricature illustrations / cartoons and there is the text "Bali" is more in demand. In addition barong shirt also more selected. But for consumers, especially for selection of t-shirts VVIP children, illustration cartoon characters that are trends like minion, angry bird, shaun the sheep and bernard bear, more desirable. And the research results in a Erlangga 2 souvenir shop, T-shirts with text adapted humor shirts from Joger more preferably consumers. Then results in Kumala production, most ordered shirt is a shirt with the tourism site theme such as Tanah Lot, Besakih Kintamani. The analysis of signs and meanings contained visual elements of the Bali-themed T-shirts made through semiotic approach showed that in a sample illustration themed shirts Bali there are signs and meanings in the form of icons, indexes, symbols, cultural codes and codes of narrative.
Terpuruknya Seni Kerajinan Di Kabupaten Gianyar Bali Pada Pasar Global I Wayan Suardana; Ni Kadek Karuni; I Ketut Buda
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.228 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.216

Abstract

Dalam tahun belakangan ini, dengan terbukanya pasar global, seni kerajinan di Gianyar mengalami keterpurukan yang sangat drastis. Banyak usaha kerajinan yang gulung tikar tidak lagi melanjutkan usahanya karena tidak adanya pesanan dari konsumen luar negeri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, teknik pengumpulan datanya: studi pustaka, observasi, wanwancara, kuesioner dan dokumentasi. Analisis data meliputi berbagai tahapan yaitu: identifikasi data, klasifikasi data, seleksi data, dan analisis data dengan menggunakan analisis kualitatif analitik yang disajikan dalam bentuk uraian. Banyak faktor yang mengakibatkan seni kerajinan di Gianyar terpuruk. Permasalahannya tidak saja terletak pada jumlah kunjungan wisata, tetapi pada produk kerajinan itu sendiri seperti disain, material, kualitas, penampilan, dan harga. Disain tidak seiring dengan perkembangan selera masyarakat yang selalu berubah. Kualitas karya, Etos kerja, kreativitas dan inovatif perajin mulai menurun, dan selalu ingin meniru karya yang telah ada. Persaingan antar perajin dan pengusaha juga tidak sehat, dan kualitas menjadi taruhan untuk merebut pasar. Kualitas yang kurang baik pada akhirnya pelanggan mengalihkan pesanannya ke Negara lain. Hasil penelitian ini diharapkan dapat sebagai masukan bagi perajin, pengusaha, dan pemerintah sehingga seni kerajinan di Gianyar akan tumbuh dan berkembang kembali, sehingga perekonomian masyarakat menjadi stabil. Nowadays, through the development of global market, the art industry in Gianyar decreased drastically. There were so many businesses of art industries which were bankrupt because of the deterioration of customer from abroad. Data analysis of the study consisted of several steps including: data identification, data classificati on, data selection, and data analysis by using analytic qualitative analysis provided in the form of essay. There are many factors that caused art industry in Gianyar experiencing the deterioration. It is not only because of the number of tourists as visitors but also for the product of art itself, such as its design, material, quality, appearance, and price. The fact is the design of the product does not follow a society’s taste. The decrease of art quality, ethos of work, creativity, innovation of craftsman and the desire of plagiarism cause that problem also. The competition between craftsmen and businessmen is bad and the quality of the product became a bet to grab the market. Beside that, the low quality of the product make the customers change their mind to order a product to another country. The result of this study is expected to be suggestions for craftsman, businessmen, and government in order to develop and improve the art industry, therefore the economy of society becomes stable.
Dinamika Seni Patung Abiansemal Badung Utara Sebagai Obyek Wisata I Ketut Buda; I Made Radiawan
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.846 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.217

Abstract

Abiansemal adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Badung yang memiliki beberapa sentra seni patung dan telah berkembang sejak lama. Ada tiga wilayah sentra seni patung yang sangat terkenal yaitu Jagapati, Angantaka, dan Sedang yang sering disebut dengan JAS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam dinamika seni patung JAS. terutama yang terjadi setelah bom Bali I dan II dan masuknya pasar bebas dalam era Globalisasi. Penelitian ini akan bermanfaat bagi masyarakat, seniman, akademisi, dan pemerintah sebagai studi komparatif dalam penciptaan dan pembinaan karya lebih lanjut Penelitian ini menggunakan adalah metode kualitatif karena masalah yang dibahas lebih banyak berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat, terutama sikap pematung dalam menghadapi persaingan pemasaran yang sangat ketat. Hasil penelitian lebih bersifat deskripsi, narasi melalui kata-kata. Teknik pengumpulan datanya yaitu studi pustaka, observasi, dan wawancara dengan beberapa imforman seperti seniman, perajin, pencinta seni, budayawan dan yang lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir ini, seni patung JAS mengalami keterpurukan yang sangat drastis, banyak pematung yang tidak bisa melanjutkan pekerjaannya karena pemasaran seni patung sangat lesu. Pematung banyak yang beralih propesi yaitu kembali sebagai petani, peternak, tukang bangunan, dan pelaku wisata, karena penghasilan mengerjakan seni patung sangat rendah dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Abiansemal is one of districts in Badung regency which has some art sculpture collection and they have developed since a long ago. There are three regions of art sculpture that are very famous such as Jagapati, Angantaka, and Sedang and they are often called with JAS. This study aimed at finding out deeply about the dynamics of JAS art sculpture especially after the tragedy of first and second of bomb Bali and the existence of free market in globalization era. This study will be beneficial to society, artist, academician, and government as comparative study in creating and developing the work next.The method of the study was qualitative method with problems that were discussed more in relation to social life of society, especially for carpenter’s attitude in facing the strict competition of technical marketing. The result of the study was description, narration through words. The process of data collection used literature review, observation, interview with informants such as artists and craftsmen, art lover, cultural observer, and so on. Nowadays, JAS art sculpture decrease drastically, most of carpenters cannot continue their works because of the technical marketing which is so listless. Most of carpenters change their profession become farmer, breeder, builder, and guide. That situation happens because their salaries as carpenters are low and not enough to fulfil their necessary in daily life.
Jejak Karawitan Dalam Kakawin Arjuna Wiwaha: Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna Komang Sudirga; Hendra Santosa; Dyah Kustiyanti
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.148 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.218

Abstract

Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian dari “Melacak Jejak Karawitan dalam Naskah Jawa Kuno: Kajian Bentuk, fungsi dan Makna”. Karena penelitian pada tahun pertama ini menyangkut pada 22 Naskah dan sangat sulit untuk ditemukan naskah-naskahnya, maka dalam penulisan artikel ini hanya akan menampilkan jejak-jejak karawitan yang tersurat dalam Kakawin Arjuna Wiwaha saja, sehingga bahasan artikel ini lebih fokus dan dapat dikembangkan menjadi bahasan untuk tulisan yang lain dengan mengambil bahasan pada karya kesusastraan lainnya. Dengan demikian diharapkan pembahasan bentuk, fungsi, dan makna istilah karawitan pada tahun 1028 -1035 di Jawa Timur penguraiannya dapat lebih jelas. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, yaitu melalui heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Khusus untuk artikel ini, pada tahap heuristik ditemukan dua buah Kekawin Arjuna Wiwaha yaitu koleksi Perpustakaan Nasional dan Koleksi Gedong Kertya. Kritik dilakukan secara internal melalui penerjemahan, yang dilanjutkan dengan interpretasi terhadap terjemahan dari dua naskah Kekawin Arjuna Wiwaha, dan terakhir adalah historiografi yaitu penulisan mengenai jejak karawitan dalam kakawin Arjuna Wiwaha: Kajian Bentuk, fungsi dan makna. Perubahan bentuk atau perwujudan dan juga penyebutan nama dari instrumen karawitan yang tersurat dalam kakawin Arjuna Wiwaha ada yang berubah dan ada pula yang tetap, seperti Mredangga yang sekarang dikenal dengan Istilah bedug. Perubahan nama juga terjadi dari berebet menjadi Cengceng. Hal ini bisa saja dikarenakan penyebutan nama instrumen didasarkan pada bunyi yang dihasilkannya seperti bedug karena bunyinya dug dug dug, dan cengceng karena karena ketika dibunyikan, bunyinya ceng ceng ceng. Ada istilah karawitan yang saat ini tidak ditemukan di belahan Nusantara seperti kata wina sejenis kecapi dan rawanahasta sejenis rebab. Wina kalau memang sejenis kecapi kemungkinan bentuknya lain dengan kecapi mungkin saja berkembang di belahan nusantara yang lain karena kecapi hanya berkembang di Sunda. Sama halnya dengan Rawanahasta yang diartikan sejenis rebab maka instrumen ini berkembang di belahan nusantara yang lain.This writing is a part of research entitled “Tracing Karawitan in Old Java Script: The Study of Form, Function and Meaning”. The first year research is that of 22 scripts and they are very difficult to find, hence in the writing of this article will merely put forward the traces of karawitan written in Kakawin Arjuna Wiwaha. Therefore, the discussion of this article is more focus and can be developed as a reference to another writing about different literature. Thereby, it hopes that the commentary about form, function and meaning of the term karawitan in 1028 -1035 in East Java can be clearer.This research uses historical method that is through heuristic, criticism, interpretation and historiography. Specifically for this article, in the stage of heuristic it was found two Kekawin Arjuna Wiwaha that are collection of National Library and Gedong Kertya. Criticism was done internally through translation then interpreting the translation of two Kekawin Arujna Wiwaha scripts. Finally, the historiography is writing about karawitan trace in kakawin Arjuna Wiwaha: Study about Form, Function and Meaning. Changes of form or materialization and mentioning the name of karawitan instrument written in kakawin Arjuna Wiwaha are present, but there is also the unchanged ones, such as Mredangga nowadays known as bedug. The changes of name also occur from berebet to cengceng. This can be happened because mentioning the instrument name is usually based on the sound produced such as bedug which sounds dug dug dug and cengceng produces the sounds ceng ceng ceng. There is karawitan term that can’t be found in Indonesian archipelago nowadays such as wina, a sort of kecapi, and rawanahasta, a sort of rebab. If Wina was a sort of kecapi, the form was probably different with kecapi. It was probably developing in another part of Indonesian archipelago because kecapi was only developing in Sunda. The same as Rawanahasta which is interpreted as a sort of rebab, therefore this instrument was developing in another part of Indonesian archipelago.
Prototipe Gamelan Sistem Sepuluh Nada Dalam Satu Gembyang Hendra Santosa; - Saptono; I Ketut Sudhana
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.058 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.219

Abstract

Konsep sepuluh nada dalam satu gembyang pernah dirumuskan oleh dua orang musikolog Indonesia yaitu Raden Mahyar Angga Kusumadinata dan R. Hardjo Subroto. Pada gamelan Bali hal tersebut tersirat dalam lontar Prakempa. Konsep musikal yang sesungguhnya menarik ini, belum pernah diteliti dan dilakukan pengkajian yang mendalam. Dalam konteks inilah, sistem nada pada gamelan dengan menggunakan sembilan nada dalam satu gembyang penelitiannya terapan dilakukan.Tujuan Jangka panjang penelitian ini adalah membuat sebuah model gamelan dengan sistem sepuluh nada dalam satu Gembyang. Jika penelitian dapat diwujudkan, akan memberikan kosntribusi yang sangat signifikan dalam menunjang kreativitas seniman karawitan. Penelitian ini diperkirakan akan memakan waktu antara tiga tahun dengan masing-masing capaian setiap tahunnya berupa sebuah model instrumen gamelan. Penelitian terapan ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi lapangan untuk mencari nada dasar. Metode observasi kepustakaan untuk menelaah hasil-hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan interval nada. Metode observasi laboratorium yang menggunakan sofware Nuendo H2O serta Plug in RMIV untuk mencari sampler nada dan interval. Hasil yang didapat, kemudian direalisasikan dalam bentuk instrumen yang terbuat dari kayu, dan selanjutnya diujicobakan dalam bentuk praktik berkarawitan. Setelah dinilai cocok kemudian dibuatkan prototipe yang selanjutnya diujicoba baik melalui gending yang sudah ada, maupun gending baru. Pengukuran nada-nada secara matematis tidaklah tepat dipergunakan dalam pembuatan prototipe gamelan sistem sepuluh nada ini. Hal ini terjadi ketika apa yang ditemukan dalam penelitian gamelan Nawa Swara ternyata dari sisi rasa terasa ada yang tidak pas walaupun secara rasa dalam laras selendro sudah benar namun ternyata nada sisipannya yang menggunakan hitungan matematis terasa tidak enak didengar.The concept of ten tones in one gembyang been formulated by two people musicologist Indonesia RadenAnggaMahyarKusumadinata and R. HardjoSubroto. In the Balinese gamelan it is implied in the Prakempa manuscript. The real interesting musical concepts, have not been investigated and conducted in-depth assessment. In this context, the gamelan tuning system using nine tones in one gembyang applied research carried out. The long term goal of this research is to create a model of the system gamelan with ten tones in one Gembyang. If research can be realized, will give contributions significant in supporting the creativity of musical artists. This study is expected to take between three years with each achievement annually in the form of a gamelan instrument models. Applied research was conducted using the method of observation to find the basic tone. Observation methods literature to examine the results of previous studies related to tone intervals. Laboratory observation method which uses H2O Nuendo software and plug-in RMIV to find sampler tones and intervals. The results obtained, then realized in the form of instruments made of wood, and subsequently tested in the form music practice. Having considered suitable then created a prototype which further tested through gending existing or new gending. Measurement tones mathematically it is not appropriate used in the manufacture of the gamelan prototype this ten tone system. This happens when what was found in the study gamelan NawaSwara turns of the flavor was there that do not fit in the barrel flavor although selendro are correct but in fact the tone of additions that use mathematical calculation was not pleasant to hear.
Teks Bahasa Bali Pada Desain T-Shirt (Analisis Wacana) Ida Ayu Dwita Krisna Ari; Cok Istri Puspawati Nindhia
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.006 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.220

Abstract

Saat ini muncul sebuah paradigma baru yang unik pada kalangan remaja di Bali yakni maraknya pemakaian t-shirt menggunakan teks bahasa Bali, T-Shirt tersebut bertuliskan pesan atau kata-kata mulai dari pesan yang lucu, bersifat sindiran, pernyataan pribadi, dan ada juga pesan- pesan yang porno, tema yang diangkat adalah pengalaman yang dijumpai dalam kehidupan sehari - hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk teks dan ilustrasi pada T-Shirt menggunakan teks bahasa Bali, makna yang terkandung dalam teks dan ilustrasi pada T-Shirt serta faktor – faktor pendorong yang mempengaruhi pemakai sehingga memilih menggunakan T-Shirt tersebut. Tahapan penelitian pertama, mengidentifikasi elemen-elemen visual yang terdapat dalam T-Shirt selanjutnya menganalisis makna apa yang terkandung dalam teks dan ilustrasi yang terdapat pada t-shirt. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis wacana. Kontribusi penelitian ini adalah dapat memberikan pengetahuan teoritis di bidang ilmu desain komunikasi visual bagaimana menciptakan sebuah desain T-Shirt yang menarik minat remaja sehingga mampu menjadi trend fashion baru agar nantinya dapat dijadikan rujukan bagi praktisi di bidang usaha konveksi, distribution outlet dan industri kecil bagaimana merancang desain T-Shirt agar menarik dan diterima oleh khalayak sasaran.Currently emerged a new paradigm that is unique in teenagers in Bali namely the rampant use of t-shirts using text language Bali, T-Shirt that reads the message or words - words from the message humorous, satirical, personal statements, and there is also a message - a message that is pornographic, the theme is the experience encountered in daily life - today. The aim of this study was to determine the form of text and illustrations on t-shirts using text language Bali what meaning is contained in the text and illustrations on a T-Shirt as well as a factor - the driving factors that influence the user to choose to use the t-shirt. The steps of this research: first, to identify the elements - visual element anything contained in the T-Shirt next to analyze the meaning of what is contained in the text and illustrations contained in t-shirts using a qualitative descriptive od with approach discourse analysi. The contribution of this study is that it can provide theoretical knowledge in the field of visual communication design how to create a T-Shirt designs that appeal to adolescents so that they can become a new fashion trend that can later be used as a reference for practitioners in the field of convection, distribution outlets and small businesses how to design design t-shirts in order to attract and received by the target audience.
Style Bali Dalam Foto Prewedding Cok Istri Puspawati Nindhia; Ida Ayu Dwita Krisna Ari
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 (2015): November
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.344 KB) | DOI: 10.31091/sw.v3i0.221

Abstract

Foto prewedding style Bali sebagai wujud kreativitas fotografer, dikarenakan dalam pembuatannya foto ini membutuhkan kreativitas tinggi agar penyatuan ide antara obyek foto dan fotografer dapat terjalin sempurna sehingga menghasilkan foto yang bagus. Penelitian ini akan membahas tentang Foto prewedding sebagai wujud kreativitas fotografer, dikarenakan dalam pembuatannya foto ini membutuhkan kreativitas tinggi agar penyatuan ide antara obyek foto dan fotografer dapat terjalin sempurna sehingga menghasilkan foto yang bagus. Kreativitas adalah suatu faktor bawaan individual yang dikendalikan oleh motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk foto prewedding berdasarkan tingkat kreatifitas fotografer. Hasil yang diperoleh yakni, bentuk ide dalam pembuatan foto prewedding berdasarkan ide adalah bentuk foto prewedding berlatar belakang arsitektur Bali, foto prewedding style Bali berdasarkan kehidupan sosial masyarakat dan bentuk prewedding style Bali berdasarkan tata busana Bali. Struktur bentuk foto prewedding style Bali diperoleh berupa foto prewedding bentuk hitam putih, berbentuk warna dan inframerah. Selanjutnya dalam konsep-konsep estetika, yakni nilai-nilai keindahan foto berdasarkan estetika ideational, keindahan foto berdasarkan konsep ide pembuatan, dan estetika technikal berupa penggunakan teknik dalam pemotretanPrewedding photo style Bali as a form of creativity, because in this photograph manufacture requires high creativity that pooling of ideas between the object image and the photographer can be perfectly interwoven to produce good photographs. This research will discuss prewedding photos as a form of creative photographer, because in this photograph manufacture requires high creativity that pooling of ideas between the object image and the photographer can be perfectly interwoven to produce good photographs. Creativity is an innate factors individually controlled motivation. This study aims to assess the forms of photos prewedding based on the level of creativity of photographers. The results obtained, the form of ideas in the manufacture prewedding picture based on an idea is a form of prewedding photo background Balinese architecture, prewedding photo Bali style based social life and shape prewedding Bali based fashion style Bali. Structure form prewedding photo Bali style obtained in the form of photos prewedding form of black and white, color and infrared shaped. Furthermore, the concepts of aesthetics, namely the values of beauty photos by ideational aesthetics, the beauty of the picture is based on the concept of the idea of making, top technical and aesthetic form of the use of the technique in photograph
Rejang Di Pura Balang Tamak, Warisan Budaya Desa Nongan Ida Ayu Wayan Arya Satyani; I Wayan Adi Gunarta
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7964.892 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i1.354

Abstract

Masyarakat Desa Nongan, Kabupaten Karangasem meyakini bahwa Rejang di Pura Balang Tamak di desa mereka adalah warisan Pan Balang Tamak, figur licik dan lihai dalam cerita rakyat Bali. Keberadaan Rejang ini hampir punah, meninggalkan jejak berupa serobong/gelungan (hiasan kepala) dihiasi buah-buahan seadanya. Harapan masyarakat untuk merekontruksi Rejang di Pura Balang Tamak, mendorong peneliti untuk melakukan penelusuran terhadap ingatan masyarakat yang hampir tertimbun bersama reruntuhan Pura Balang Tamak sejak peristiwa gejor atau gejer Bali 1917. Berdasarkan hal tersebut di atas, penelitian ini bertujuan untuk memetakan keterhubungan ide-ide yang membangun Rejang di Pura Balang Tamak, yaitu: ide tentang Rejang, ide tentang Pura Balang Tamak, ide tentang mitos Pan Balang Tamak, dan ide tentang Desa Nongan. Metoda penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisa, dideskripsikan, disusun dan disimpulkan. Hasil penelitian yang didapat bahwa Rejang di Pura Balang Tamak adalah Rejang Pala, merupakan salah satu sarana ritual Usaba Pala (perayaan sebagai ungkapan rasa syukur terhadap kelimpahan hasil subak abian/tegal). The villagers of Nongan believe that the rejang dance in Balang Tamak temple is the inheritance of Pan Balang Tamak, a cunning and shrewd figure in Balinese folklore. The existence of this dance is almost extinct, leaving only a trace of serobong/gelungan – a head decoration – of some fruits. The people’s expectation to reconstruct Rejang dance at Pura Balang Tamak has encouraged the researchers to trace the recollections of people’s memory of the dance which are almost buried with the ruins of Pura Balang Tamak since the Bali earthquake in 1917or it was called gejer Bali. Based on the background above, this research aims to map the connections of ideas that build Rejang dance in Pura Balang Tamak, that is: the idea of Rejang, the idea of Pura Balang Tamak, the idea of Pan Balang Tamak myth, and the idea of Nongan Village. The research methodology used in this writing is descriptive qualitative. The data of the research is collection trhough observations, interviews, literature study, and documentations. The data collection is then analyzed, described, compiled and summarized. The findings obtained that Rejang dance in Pura Balang Tamak is Rejang Pala. This Rejang is one of the means of ritual Usaba Pala (a celebration to express gratitude towards the abundance of subak abian/farm harvest)
Konsep Teo-Estetika Teks Dharma Pawayangan Pada Pertunjukan Wayang Kulit Bali I Dewa Ketut Wicaksana
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2138.543 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i1.355

Abstract

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah untuk memberikan penyadaran khususnya kepada dalang-dalang muda di Bali, bahwa penguasai Dharma Pawayangan sangatlah penting. Lontar Dharma Pawayangan adalah pustaka khusus yang isinya memuat petunjuk yang membimbing para dalang dalam melaksanakan dharma/kewajibannya sebagai dalang, serta `rambu-rambu` yang mengikat dalang untuk tidak menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran agama Hindu dan etika. Teks lontar tersebut menyinggung hal-hal yang bersifat praktis/estetik, teologi, dan metafisik, yakni berkaitan langsung dengan pertunjukan wayang, dan aspek teologi Hindu yakni aspek satyam/kebenaran, siwam /kesucian, dan sundaram/ keindahan, serta metafisik, yakni memposisikan dalang dan wayang pada alam makrokosmos dan mikrokosmos (bhuwana agung lan bhuwana alit). Akhir-akhir ini ditemukan gejala di masyarakat Pedalangan, adanya kecendrungan untuk tidak memperhatikan lagi petunjuk-petunjuk Dharma Pawayangan. Adanya rasa enggan dihati mereka untuk mempelajari isi pustaka Dharma Pawayangan yang berbahasa Jawa Kuna (Kawi), bahasa Bali bahkan sebagian berbahasa Sanskerta dengan pengertian dan pemahaman yang sangat kompleks. Pengertian dan pemahaman akan Lontar Dharma Pawayangan di masa lampau kemudian teramati saat ini sungguh jauh berbeda, karena berbeda cara pandang serta model pembelajarannya. Orientasi dalang saat ini mempelajari pedalangan/pewayangan lebih ke hal-hal teknis, sehingga aspek teo-estetikanya terabaikan. Atas dasar penelitian dan penelusuran yang mendalam, diharapkan dapat membuka tabir rahasia dibalik arti dan maknanya, mengingat teks Dharma Pawayangan sarat dengan konsep teologis, estetik, filosofis, pendidikan dan nilai-nilai kemanusiaan, sangat potensial sebagai media informasi, edukasi, ritualisasi, hiburan serta pembinaan watak dan kepribadiaan. Penelitian ini mengambil lokasi di Bali, karena diyakini hampir semua dalang-dalang di Bali memiliki Lontar Dharma Pawayangan, termasuk juga di Museum Gedong Kirtya (Singaraja), Pusdok Provinsi Bali, dan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Bali. Pada proses pengumpulan data, peneliti dibantu oleh mahasiswa Program Studi Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar sebagai pencatat dan mengambil data foto. Teknik pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang berada dalam wilayah ilmu agama dan seni/estetika. Hal ini sesuai dengan ide pokok penelitian, yaitu untuk mengungkap hal-hal tersembunyi yang tidak menjadi kepedulian, memampukan suatu kesadaran yang lebih kaya terhadap aktualitas teks Dharma Pawayangan melalui pencerahan ilmiah. Mengguna-kan paradigma kritis sebagai landasan berpikir dan hermeneutika sebagai teori kunci, bentuk kajian dilakukan dengan mengembangkan paradoks-paradoks penafsiran makna dan membuka ruang kesadaran baru dalam memahami gejala estetika religius. Paradigma hermeneutika merupakan tradisi intelektual yang mendasarkan diri pada sesuatu yang berada di balik sesuatu yang faktual, yang nyata atau yang terlihat. Pluralitas presfektif dalam memberi interpretasi/penafsiran pada gilirannya memberikan kekayaan makna dalam suatu karya sastra, akan menambah kualitas estetika, etika dan logika.The long-term goal of this study is to provide awareness, especially to the young masterminds in Bali, that the Dharma Pawayangan master is very important. Lontar Dharma Pawayangan is a special literature whose contents contain guides that guide the dalangs in performing their dharma/dalang duties, as well as `signs' that bind the dalang not to deviate from the principles of the teachings of Hinduism and ethics. The lontar text deals with practical/aesthetic, theological, and metaphysical matters, which are directly related to wayang performances, related to aspects of Hindu theology of satyam/truth, siwam/sakura, and sundaram/beauty aspects. as well as metaphysical, ie positioning puppeteers and puppets on macrocosmic and microcosmic realms (bhuwana agung lan bhuwana alit). Recently found symptom in Pedalangan society, the tendency to pay no attention to the instructions of Dharma Pawayangan. The reluctance of their hearts to learn the contents of Dharma Pawayangan libraries that speak Old Javanese (Kawi), Balinese language even some speak Sanskrit with understanding and understanding is very complex. Understanding and understanding of Lontar Dharma Pawayangan in the past then observed at this time is very much different, because different way of view and model of learning. The current puppeteer's orientation is to learn puppetry more to technical matters, so the theo-aesthetic aspect is neglected. On the basis of deep research and investigation, it is hoped to unveil the secrets behind its meaning and meaning, since the Dharma Pawayangan text is loaded with theological, philosophical, educational and humanitarian meanings, potential for information, education, ritualization, entertainment and character building and personality. This research takes place in Bali, because it is believed that almost all dalang-dalang in Bali have Lontar Dharma Pawayangan, including also in Gedong Kirtya Museum (Singaraja), Pusdok Bali Province, and Library of Higher Education in Bali. In the process of collecting data, the researcher is assisted by students of Pedalangan Art Studies Program, Faculty of Performing Arts, ISI Denpasar as a recorder and taking photo data. Technique of data retrieval is done by observation, interview and documentation. This research is a qualitative research residing in the area of religion science and art/aesthetics. This is in accordance with the main idea of research, namely to reveal the hidden things that are not a concern, enabling a richer awareness of the actuality of Dharma Pawayangan text through scientific enlightenment. Using a critical paradigm as the basis for thinking and hermeneutics as a key theory, the form of study is done by developing the paradoxes of meaning interpretation and opening up a new awareness space in understanding religious aesthetic phenomena. The hermeneutic paradigm is an intellectual tradition that bases itself on something that is behind something factual, real or visible. The perspective plurality of interpretation in turn provides a wealth of meaning in a literary work, adding to the aesthetic, ethical and logical qualities.
Elemen Desain Komunikasi Visual Dalam Merchandise Iklan Politik Pasangan Dharmanegara Pada Pilkada Kota Denpasar 2014 I Gusti Ngurah Wirawan; I Wayan Nuriarta
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3130.032 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i1.356

Abstract

Iklan politik, menjadi perhatian utama dalam mekanisme industri citra yang dihadirkan sekedar menjadi alat bantu untuk mendekatkan gagasan dan karya nyata sang caleg pada masyarakat calon pemilih. Biasanya berwujud : rontek, spanduk, poster, stiker, baliho caleg, dan bendera parpol yang ditebarkan di ruang publik. Pada kenyataannya dalam pilkada 2014, keberadaan iklan politik menjadi salah kaprah, para caleg berkampanye hanya mengandalkan pemasangan alat peraga kampanye berbentuk iklan ruang. Alat peraga kampanye cenderung menjadi sampah visual. Berbeda halnya dengan pasangan DharmaNegara, selain mengandalkan alat peraga kampanye iklan ruang, pasangan ini menggunakan merchandise sebagai media kampanye. Merchandise yang digunakan berupa mug lengkap dengan packagingnya dan T-Shirt. Menariknya lagi, didalamnya mengkombinasikan gaya visual WPAP dengan elemen desain komunikasi visual. WPAP sendiri merupakan salah satu jenis konsep vektor yang bertekstur bidang yang saling silang-bersilang dengan perbedaan dan pemilihan warna yang khusus tanpa menghilangkan karakter dari objek tersebut. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri untuk dapat dikaji lebih dalam lagi sesuai dengan keilmuan desain komunikasi visual. Penelitian ini menggunakan metode deskriftif kualitatif. Data dalam bentuk primer dan sekunder dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, kepustakaan, dokumentasi dan internet. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk, estetika dan makna yang terkandung dalam elemen desain komunikasi visual pada merchandise  iklan politik pasangan DharmaNegara pilkada Kota Denpasar tahun 2014.Political advertising is a major concern in the mechanism of the image industry presented simply to be a tool to bring the ideas and concrete works of the candidates to the community of prospective voters. Usually tangibles, banners, posters, stickers, billboards, and flags of political parties are spread in public spaces. In fact, in the 2014 election, the existence of political advertisements became misguided, the legislative candidates only rely on the installation of campaign props in the form of ad space. The campaign props tend to be visual garbage. Unlike the case with DharmaNegara couples, in addition to relying on advertising space campaign props, these couples use merchandise as a campaign. Merchandise used in the form of mugs complete with packaging and T-Shirt. Interestingly, it combines the visual style of WPAP with visual communication design elements. WPAP is one kind of vector concept that is textured in a field that crisscross each other with distinction and special color selection without losing the character of the object. It becomes the main attraction to be studied more deeply in accordance with the science of visual communication design. This research uses qualitative descriptive approach. Informations in primary and secondary forms were collected through observation, interview, literature, documentation and internet techniques. The purpose of this study to knowing the form, aesthetics and the meaning contained in the visual communication design elements on the merchandise of political advertising partner DharmaNegara Election Denpasar in 2014.