AGRIKAN Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan
Bidang kajian dimuat meliputi agribisnis, teknologi budidaya, sumberdaya perikanan, kelautan, sosial ekonomi kelautan dan perikanan, bioteknologi perikanan. Sejak tahun 2017 mulai diterbitkan secara elektronik kerjasama Pusat Studi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna Raha.
Articles
43 Documents
Search results for
, issue
"Vol 12, No 1 (2019)"
:
43 Documents
clear
Strategi Pengembangan Komoditi Lokal Buah Naga berbasis Agribisnis di Kabupaten Soppeng
Irmayani Irmayani;
Dahlia Purnama;
Arman Arman;
Nur Ilmi
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.12.1.126-135
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi dalam pengembangan komoditi buah naga (Dragon Fruit) berbasis agribisnis di Kabupaten Soppeng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) berdasarkan hasil pembobotan dan pemberian rating diperoleh skor untuk faktor kekuatan utama dalam usahatani Buah Naga yaitu. Faktor kekuatan Kualitas Buah Naga Merah dan Luas Lahan sedangkan faktor kelemahan yaitu Produk Tidak Tahan Lama, penyakit pada Buah Naga dan harga. Faktor peluang pada usahatani Buah Naga Permintaan Buah Naga Merah meningkat dan Jenis pupuk yang digunakan, dan Faktor ancaman yaitu permainan harga oleh pedagang dan banyaknya persiangan. Strategi Pengembangan Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) di Desa Tottong Kecamatan Donri-donri Kabupaten Soppeng yang menjadi hasil penetapan strategi yang tepat dilakukan adalah Strategi Strenghts-Opportunities (SO) yaitu memaksimalkan Produksi Buah Naga Merah, untuk meningkatkan produksi pengolahan buah naga, meningatkan kualitas Buah Naga Merah dengan memanfaatkan jenis pupuk terbaik, memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki guna memaksimalkan permintaan Buah Naga.
Keterkaitan parameter fisik-kimia perairan dengan kelimpahan jenis ikan demersal di Sungai Maro pada fase bulan berbeda musim peralihan I
Modesta Ranny Maturbongs;
Sisca Elviana;
Chair Rani;
Andi Iqbal Burhanuddin
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1676.01 KB)
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.12.1.162-172
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan ikan demersal yang tertangkap di perairan Sungai Maro serta mengetahui keragaman dan keseragaman ikan pada fasa bulan yang berbeda (new moon dan full moon) pada musim peralihan I. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2019 di Sungai Maro. Sebanyak 98 ekor yang tertangkap yang terbagi pada fase bulan gelap sebanyak 45 ekor dan 53 ekor diperoleh pada fase bulan terang dengan menggunakan jaring insang percobaan dari berbagai ukuran mata jaring. Dari hasil tangkapan diperoleh 14 spesies ikan dari 14 genus terkoleksi. Keanekaragaman jenis ikan demersal pada fase bulan gelap dan terang termasuk dalam kategori rendah. Tingkat keseragaman jenis pada fase bulan gelap termasuk dalam kategori tidak merata, pada fase bulan terang termasuk kategori kurang seragam. Hasil CCA menunjukkan parameter fisik-kimia perairan berpengaruh terhadap sebaran ikan demersal pada stasiun dan fase bulan yang berbeda.
Iktiofauna di padang lamun Pulau Tatumbu Teluk Kotania, Seram Barat–Maluku
Husain Latuconsina;
Anita Padang;
Aris M. Ena
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (834.936 KB)
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.12.1.93-104
Padang lamun merupakan ekosistem khas perairan pantai sebagai habitat penting bagi iktiofauna. Salah satu kawasan pulau-pulau kecil dengan potensi padang lamun yang didukung keberadaan ekosistem mangrove dan terumbu karang adalah perairan pulau Tatumbu – Teluk Kotania, Seram Barat, Maluku. Penelitian bertujuan untuk melihat distribusi spasial-temporal dan struktur komunitas iktiofauna pada ekosistem padang lamun. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei - Juli 2015 selama periode siang dan malam hari di ekosistem padang lamun dengan karakteristik habitat berbeda. Koleksi iktiofauna menggunakan jaring insang dasar, dan pengukuran parameter oseanografi meliputi kecepatan arus, suhu, salinitas, dan pH. Total jumlah iktiofauna terkoleksi sebanyak 296 individu, 35 spesies, 23 genera dari 21 famili yang tergolong ke dalam tujuh ordo. Secara temporal, biodiversitas, kelimpahan dan struktur komunitas iktiofauna dipengaruhi oleh sifat diurnal dan nokturnal, sedangkan secara spasial dipengaruhi oleh karaktersitik habitat lamun dan kedekatannya dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Sehingga diperlukan pengelolaan ketiga ekosistem secara utuh untuk mendukung kehidupan iktiofauna dan pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis ekosistem.
Penentuan Program Strategis dalam Pengembangan Agroindustri Perikanan
Ratmi Ratmi;
Andi Nuddin;
Irmayani Irmayani
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.12.1.120-125
Kelembagaan dalam agribisnis khususnya pada sub-sistem pengolahan cenderung dibentuk hanya sebagai wadah untuk mendistribusikan bantuan proyek ataupun hanya sebagai wadah kontrol setelah proyek berakhir. Sehingga kelompok-kelompok pengolah masih menemukan banyak kendala dan lamban dalam mengembangkan usaha. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan program strategis yang seharusnya dilakukan dalam pengembangan agroindustri perikanan. Penelitian dilakukan di Kota Parepare dengan metode analisis ISM. Metode ini tidak membutuhkan jumlah sampel yang banyak, sehingga dalam penelitian ini jumlah sampel 21 orang dengan teknik purposive (sengaja). Hasil analisis ISM menunjukkan bahwa dari 8 sub-elemen yang diduga, terdapat 3 program memiliki daya penggerak (driver-power) yang besar (DP > 0,50) dan kebergantungan (dependent) terhadap sub-elemen (program strategis) lainnya kecil (D ≤ 0,50). Ke-3 program tersebut yakni (1) penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) bagi unit pengolahan ikan, (2) optimalisasi sistem logistik ikan nasional, dan (3) pengadaan kerja sama/kemitraan dengan swasta, yang artinya dapat dijadikan sebagai program prioritas dalam pengembangan agroindustri perikanan.
Kajian Lama Pemasakan terhadap beberapa Komponen Mutu Ikan Lele Presto
Asmawati Asmawati;
Adi Saputrayadi;
Marianah Marianah
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (612.664 KB)
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.12.1.51-58
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pemasakan terhadap beberapa komponen mutu lele presto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Eksperimental dengan melakukan pecobaan di Laboratorium, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan satu faktor yaitu pengaruh lama pemasakan terhdap beberapa komponen mutu lele presto yang terdiri dari lima perlakuan yaitu: L1= 60 menit, L2= 70 menit, L3= 80 menit, L4= 90 menit, dan L5= lama pemasakan 100 menit. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis keragaman(Analysis of variance) pada taraf nyata 5 %. Bila terdapat perlakuan yang berpengaruh secara nyata maka diuji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pemasakan berpengaruh secara nyata terhadap semua parameter sifat kimia yang diamati yaitu kadar air, kadar protein dan sifat organoleptik yaitu warna, aroma, tekstur, dan rasa lele presto yang diamati. Semakin lama waktu pemasakan maka kadar air semakin menurun, kadar proteinnya semakin tinggi, sedangkan skor nilai warna, aroma, rasa dan tekstur semakin meningkat dan disukai oleh panelis. Perlakuan yang paling disukai oleh panelis yaitu perlakuan L5 dengan Lama pemasakan 100 menit dengan suhu 121 oC, dengan kriteria warna abu-abu, tekstur lunak rasa dan aroma disukai.
Pengaruh Substitusi Rumput Laut terhadap Kandungan Serat Cookies Sagu
Rehena, Zasendy;
Ivakdalam, Lydia Maria
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1109.73 KB)
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.12.1.157-161
Serat merupakan komponen penting dalam bahan pangan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan serta mempunyai kemampuan mencegah berbagai macam penyakit. Rumput laut merupakan bahan potensial sebagai sumber serat pangan dengan kandungan yang cukup tinggi. Kandungan serat yang tinggi dapat mencegah kanker usus besar, juga membantu pengobatan tukak lambung, radang usus besar, susah buang air besar, dan gangguan pencernaan lainnya dan dapat digunakan sebagai dasar makanan fungsional terapi yang dapat dipergunakan pada penderita obesitas, diabetes, hipertensi, jantung koroner. Selain itu rumput laut adalah komoditas hasil perikanan yang sedang ditingkatkan pemanfaatannya. Hal ini dikarenakan banyak sekali manfaat yang dapat dihasilkan dengan cara mengoptimalkan seluruh potensi rumput laut yang ada. Beberapa jenis rumput laut yang bermanfaat bagi manusia adalah dari jenis rumput laut merah dan coklat. Rumput laut dapat digunakan sebagai bahan subtitusi dalam pengembangan produk sumber serat pangan berupa kelompok produk makanan selingan/jajanan seperti cookies. Cookies umumnya terbuat dari bahan baku tepung terigu namun dapat digantikan dengan memanfaatkan tepung sagu yang kaya akan karbohidrat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan serat dan mutu organoleptik cookies sagu yang disubtitusi rumput laut. Hasil Penelitian menunjukan bahwa Ada pengaruh jenis dan konsentrasi rumput laut terhadap kandungan serat cookies sagu. Hasil uji organoleptik yang meliputi aspek warna, aroma, rasa dan kerenyahan menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat yang tertinggi pada perlakuan jenis Eucheuma cottonii dengan konsentrasi 30% dan terendah pada jenis Sargassum crassifolium dengan konsentrasi 40%. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar rumput laut dapat disubtitusi pada bentuk makanan lain yang dapat diterima dan disukai oleh masyarakat di Kabupaten Maluku tengah.
Pendapatan Usahatani Sistem Integrasi Berbasis Padi dan Sapi di Kelurahan Rimbo Kedui Kabupaten Seluma Propinsi Bengkulu
Novitri Kurniati;
Edi Efrita;
Denni Damaiyanti
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (508.444 KB)
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.12.1.64-69
Sistem integrasi merupakan pertanian campuran tanaman dan ternak, dimana limbah produk tanaman digunakan sebagai pakan ternak dan limbah ternak digunakan sebagai pupuk untuk meningkatkan kesuburan tanah. Yang menjadi dasar pada sistem integrasi adalah terdapat sinergi dan saling melengkapi antara tanaman dan ternak, dan limbah keduanya bisa saling dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan usahatani sistem integrasi serta menghitung kontribusi usahatani padi sawah dan sapi potong terhadap sistem integrasi di Kelurahan Rimbo Kedui Kabupaten Seluma. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Metode Studi Kasus. Teknik analisa data menggunakan fungsi pendapatan serta persentase untuk menghitung kontribusi pendapatan usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan usahatani integrasi sebesar Rp 72.209.416,69 / tahun, dengan kontribusi usahatani padi sebesar 28,38 persen, sedangkan kontribusi dari usahaternak sapi potong sebesar 71,62 persen.
Persepsi Penerapan Sasi Laut di Wilayah Perairan Kepulauan Kei: Upaya Mendukung Keberlanjutan Sumber Daya Laut
Ana Diana Santy Betaubun;
Sergius Epo Bran Laiyanan;
Ditel Renyaan;
Frischilla Pentury
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (508.153 KB)
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.12.1.136-144
Secara konsep dan tujuannya Sasi ditujukan untuk keberlanjutan lingkungan dan perekonomian masyarakat pesisir meskipun tingkat resistensi cukup tinggi dari warga. Penelitian ini memberikan masukan kepada pemerintah pusat dan daerah dalam rangka pemberlakuan perlindungan zona laut dan MPA sehingga dapat ditetapkan aturan yang sesuai dengan kondisi masyarakat dengan pendekatan kearifan lokal yaitu sasi laut. Penelitian ini dilakukan di Kepulauan Kei, Maluku, Sampel penelitian diambil dari 5 Desa yang tersebar pada 5 kecamatan dan dua wilayah administrasi, sebanyak 52 responden digunakan dalam penelitian yang dianalisis dengan alat analisis regresi logistik. Hasil penelitian didapatkan bahwa persepsi masyarakat pesisir pada pentingnya perlindungan wilayah perairan di Kepulauan Kei harus segera dilindungi, selanjutnya hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pesisir di wilayah ini setuju dengan adanya aturan formal untuk melindungi sumber daya laut berdasarkan konsep sasi. Selanjutnya faktor dukungan dan aturan formal akan meningkatkan dukungan masyarakat pesisir pada penggunaan sasi untuk perlindungan laut. Implikasi dari penelitian ini adalah pemerintah daerah di Kepulauan Kei perlu menyusun dan menetapkan peraturan daerah pemanfaatan sumber daya laut, sehingga keberlanjutan sumber daya laut di wilayah ini dapat bertahan.
Biologi Reproduksi Ikan Momar Putih, Decapterus macrosoma, Bleeker 1851 di Perairan Selat Haruku Maluku Tengah
Madehusen Sangadji;
Yenni Sofyan
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (510.562 KB)
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.12.1.59-63
Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan nisbah kelamin, kematangan gonad yang meliputi tingkat kematangan gonad, ukuran pertama kali matang gonad, dan indeks kematangan gonad ikan momar putih. Pengambilan contoh ikan dilakukan sebanyak lima kali dengan jarak waktu dua minggu sekali pada bulan Mei – Juli 2016. Contoh ikan diperoleh dari hasil tangkapan nelayan jaring mini purse seine yang didaratkan di Desa Oma. Analisis contoh dilakukan di Laboratorium Iktiologi ,Universitas Darussalam Ambon. Nisbah kelamin dianalisis dengan uji chi-square , sedangkan ukuran pertama kali matang gonad dihitung dengan metode Spearman –Karber. Hasil memperlihatkan bahwa nisbah kelamin jantan : betina adalah 1,21 : 1,00. Panjang pertama kali matang gonad adalah 189,98 mm (jantan) dan 200,91 mm ( betina ). Indeks kematangan gonad berkisar 0,2417- 3,7804% untuk ikan jantan dan 0,2525 – 4, 0491% untuk ikan betina.
Potensi Penggunaan Biomassa Tumbuhan Liar Di Lahan Kering Sebagai Sumber Bahan Organik Untuk Meningkatkan Produktivitas Tanah
Muliatiningsih Muliatiningsih;
Erni Romansyah;
Budy Wiryono
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sangia Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (57.692 KB)
|
DOI: 10.29239/j.agrikan.12.1.105-111
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi biomassa berbagai jenis tumbuhan liar sebagai alternatif sumber bahan organik dalam meningkatkan produktivitas tanah. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan percobaan di rumah kaca. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan perlakuan A: alang-alang (Imperata cylindrica), B : krinyu (Cromolaena odorata), C : kentawong (Blumea mollis), D : pepeti (Pephrosia spinosa), E : kosta (Acacia sp), F : dui (Acacia pernesiana), G : sengon (Blumea sp). Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis keragaman pada taraf 5% dan diuji lanjut dengan BNJ pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imperata cylindrica masih memiliki C/N ratio > 20 tetapi Cromolaena odorata, Blumea mollis, Pephrosia spinosa, Acacia sp, Acacia pernesiana, dan Blumea sp telah mencapai kadar C/N ratio < 20, C/P ratio < 200, dan N total akhir kompos meningkat dari N total awal sebelum dekomposisi hal ini menunjukkan biomassa tumbuhan liar tersebut berpotensi sebagai sumber bahan organik.