Articles
882 Documents
GEDUNG ADAT DAYAK NGAJU DI PALANGKARAYA - Reaktualisasi Arsitektur Vernakular
Harianto, Dedi;
Gosal, Pierre H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 1 No. 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku I KONTEKSTUAL. Volume 1 No.2 November 2012
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v1i2.576
GEDUNG ADAT DAYAK NGAJU DI PALANGKARAYA Reaktualisasi Arsitektur Vernakular 1. Dedi Harianto Mahasiswa Program Studi S1 Arsitektur Unsrat 2. Ir. Pierre H. Gosal, MEDS [1] ABSTRAK Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Salah satunya adalah kebudayaan suku dayak ngaju. untuk menghadirkan kebudayaan itu, di perlukan sebuah sarana untuk menunjang kegiatan-kegiatan di dalamnya. Di Kalimantan Tengah sendiri terlebih khusus di kota Palangkaraya fasilitas budaya dayak ngaju ini belum tersedia, sehingga di butuhkan pengadaan fasilitas adat berupa “Gedung Adat Dayak Ngaju di Palangkaraya†sehingga nanti kedepannya dapat memberikan tempat atau wadah untuk mengapresiasikan kebudayaan dayak ngaju. Perancangan Gedung Adat Dayak Ngaju ini menggunakan pendekatan tema perancangan “Reaktualisasi Arsitektur Vernakularâ€, dimana dalam perancangan nanti perancang mengacu pada bentukan dasar rumah adat dayak. Nilai-nilai masyarakat serta budaya lokal diimpartasikan kedalam rancangan sehingga pada nantinya Gedung Adat Dayak Ngaju ini dapat menjadi representasi budaya dari tempat dimana dia berada. Adapun perancangan Gedung Adat Dayak Ngaju ini dimaksudkan untuk menampung kegiatan-kegiatan adat yang ada di palangkaraya bahkan Kalimantan Tengah. Hal ini dapat di lihat dari animo masyarakat akan kegiatan-kegiatan adat yang menunjukan peningkatan dari waktu ke waktu. Kata Kunci : budaya, dayak ngaju, gedung, vernakular [1] Staf Dosen Pengajar UNSRAT
PUSAT REHABILITASI PASCA-STROKE (Penerapan Prinsip-prinsip Healing Environment)
Waworundeng, Jessica N.;
Kindangen, Jefrey I.;
Makarau, Vicky H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v4i1.6444
Kemajuan peradababan manusia sudah semakin berkembang pesat disegala bidang kehidupan. Ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Kesibukan yang luar biasa membuat manusia lalai terhadap kesehatan tubuhnya, sehingga banyak ditemukan berbagai penyakit yang menyerang manusia. Salah satu penyakit yang banyak menyerang manusia adalah penyakit akibat gangguan saraf yaitu stroke. Di kota Manado jumlah penderita stroke mengalami peningkatan sebesar 0.04% per tahun. Kurangnya fasilitas rehabilitasi pasca stroke membuat angka kesembuhan penderita stroke sangat kecil. Pusat Rehabilitasi Pasca-stroke di Manado di buat sebagai alternatif pemecahan masalah yang ada. Untuk mewujudkan gagasan ini, maka diterapkan model proses desain generasi II yang terdiri dari dua fase. Fase pertama yaitu pengembangan wawasan komprehensif dengan pendekatan konvensional berupa kajian tipologi objek serta kajian tapak dan lingkungan. Fase kedua yaitu berupa Executed Image-Present-Test Cycle. Penerapan prinsip-prinsip Healing Environment adalah tema yang digunakan dalam desain Pusat Rehabilitasi Pasca-stroke. Pengertian healing environment itu sendiri ialah penyembuhan atau terapi yang memanfaatkan suasana ruang yang memulihkan baik pada ruang dalam maupun ruang luar dengan menggunakan unsur-unsur yaitu tekstur, warna, skala ruang dan bentuk ruang. Tujuan dari penerapan prinsip-prinsip healing environment ini adalah terjadinya keseimbangan tubuh, pikiran dan jiwa. Melalui elemen-elemen perancangan arsitektural, dapat diciptakan sebuah lingkungan binaan yang dapat mendukung proses penyembuhan penderita stroke. Hasil yang berupa penyajian gambar – gambar arsitektural , yang bertujuan untuk menyampaikan informasi tentang kualitas perancangan Pusat Rehabilitasi Pasca-stroke di Manado dengan implementasi tema penerapan prinsip-prinsip Healing Environment. Kata kunci : Pusat Rehabilitasi Pasca-stroke, Stroke, Healing Environment
REDESIGN PUSAT PENELITIAN DAN KONSERVASI ILMU KELAUTAN FPIK UNSRAT DI MINAHASA UTARA (ECO-TECH ARCHITECTURE)
Lumowa, Stenly A;
Gosal, Piere H
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 2 No. 2 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.2 Juli 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v2i2.2098
ABSTRAK Penelitian dan konservasi di bidang kelautan merupakan cara yang tepat untuk pengembangan ilmu pengetahuan alam laut unutk pembangunan sumber daya manusia serta disamping itu juga menambah daya tarik keanekaragaman biota laut apalagi selama ini wilayah perairan indonesia adalah salah satu yang terbesar di indoneia. Banyak daerah yang belum memiliki fasilitas pusat penelitian dan konservasi yang memadai. Contohnya pusat penelitian dan konservasi di minahasa utara tepatnya di desa likupang dua, banyak yang dikeluhkan para peneliti karena tidak adanya peningkatan fasilitas, tidak berkembangnya fasilitas yang ada karena banyak fasilitas yang salah dirancang. Padahal merupakan pusat penelitian yang dimiliki oleh salah satu instansi ternama, yaitu Universitas Sam Ratulangi. Makadariitudiperlukan ide untuk mere-design dan meningkatkan fasilitas Pusat Penelitian dan konservasi tersebut sehingga dapat memenuhi kebutuhan akan pengembangan hasil sumberdaya ilmu kelautan di waktu yang akan datang nanti. Padaintinya, SecarakeseluruhanObjek ini merupakanrepresentasiSuatu Sistem Ekologi dan Teknologi yang digunakan untuk menunjang kelangsungan kegiatan yang kondusif sebagai tema perancangan yang mengangkat keterpaduan antara objekbangunan,unsurdansumberdayaalamsekitar, yang dipadukan dengan teknologi yang tepatdemi kelangsungan objek ini. Kata Kunci : Pusat Penelitian, Konservasi, Re-Design, teknologi
DESAIN KANTOR MAJELIS DAERAH GPDI DI MANADO DENGAN PENERAPAN ARSITEKTUR MINIMALIS
Turangan, Magreine
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 5 No. 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v5i2.14094
Gereja Pantekosta di Indonesia (disingkat GPdI) adalah denominasi Kristen yang beraliran Pentakosta). GPdI adalah sebuah gerakan di kalangan Protestanisme. Seperti  Gereja-gereja pada umumnya memiliki wadah organisasi yang di sebut Kantor, Gereja Pantekosta juga memiliki tempat mewadahi kegiatan pelayanan organisasi gereja yang di terbagi atas Kantor Majelis Pusat dan Daerah. Kantor Majelis Pusat mewadahi kegiatan organisasi GPdI se-Indonesia, lain halnya dengan Kantor Majelis Daerah yang bertugas mengkoordinasi pelayanan per-daerah saja. Kantor Majelis Daerah GPdI ini berlokasi di Desa Buha, Manado, Sulawesi Utara. Penerapan Arsitektur Minimalis dalam perancangan Kantor Majelis Daerah GPdI di Manado ini yaitu untuk menekankan hal-hal yang bersifat esensial dan fungsional. Bentuk-bentuk geometris elementer tanpa ornamen atau dekorasi menjadi karakternya. Perancangan ini disesuaikan dengan fungsi kantor, kebutuhan objek dan model arsitektural yang sedang tren dikalangan masyarakat saat ini. Kata Kunci : Arsitektur Mimimalis, Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), dan Kantor Majelis Daerah.
SANGGAR PENGEMBANGAN BUDAYA SUKU AYAMARU, AITINYO DAN AIFAT DI SORONG “ARSITEKTUR NEO VERNAKULARâ€
Nauw, Weldus;
Rengkung, Joseph
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 2 No. 3 (2013): Volume 2 No.3 November 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v2i3.3568
ABSTRAK Indonesia dikenal memiliki budaya yang sangat beragam, dan ini dapat dilihat dengan beragam suku bangsa yang masing–masing mempunyai kebudayaan tersendiri dan juga terdapat beragam komunitas adat. Komunitas adat yang dimaksud disini adalah kelompok–kelompok masyarakat atau satuan sosial masyarakat yang berdiam di satu wilayah tertentu yang saling berinteraksi secara intensif, sehingga ada ciri–ciri yang sama sebagai kebudayaan mereka, baik kebudayaan yang tidak kelihatan maupun bentuk–bentuk kebudayaan yang kelihatan secara fisik. Menghadirkan suatu sanggar seni budaya yang nantinya melengkapi sarana prasaran penunjang pariwisata dan membina masyarakat untuk melestarikan seni budaya daerah-nya khusus daerah Ayamaru, Aitinyo dan Aifat(A3) di sorong dan untuk mempromosikan potensi seni budaya suku A3 sehinngga dapat di kenal secara luas di Indonesia maupun manca Negara. Untuk mewujudkan gagasan ini, di terapkan metode pendekatan yang mengarah kepada wadah pengembagan seni budaya dan adat-istiadat serta kenyamanan bangunan yang sesuai dengan pendekatan tematik pada penataan ruang dan bangunan.secara persepsi fungsional, persepsi visual, dan persepsi structural. Hasil desain yang berupa penyajian gambar – gambar arsitektural yang bertujuan untuk menyampaikan informasi tentang kualitas perancangan Sanggar Seni Budaya Suku Ayamaru, Aitinyo dan Aifat di Sorong dengan implementasi tema Arsitektur Neo Vernakular. Kata kunci : Sanggar Pengembangan Seni Budaya Ayamaru, Aitinyo, Aifat (A3) Arsitektur Neo Vernakular.
WALE BUDAYA DI TONDANO. “IMPLEMENTASI ARSITEKTUR VERNAKULAR MINAHASAâ€
Timpal, Greyni A. J.;
Makarau, Vicky H.;
Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v6i1.15365
Minahasa merupakan salah satu etnis yang ada di Sulawesi Utara, Indonesia. Minahasa memiliki daya tarik di bidang pariwisata, bahasa, kuliner, kerajinan tangan, arsitektur, musik, pertanian dll yang bahkan semuanya itu bisa memajukan bidang edukasi/pendidikan serta ekonomi. Kehidupan yang harmonis antar sub-suku dan kearifan lokal masyarakat mengidentifikasi bahwa masih adanya nilai-nilai kebudayaan tradisional yang melekat dalam kehidupan masyarakat Minahasa. Namun, jaman sekarang ini telah terjadi pergeseran nilai-nilai budaya tradisional akibat perubahan gaya hidup dan pola pikir masyarakat modern. Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu menghadirkan suatu wadah yang dapat mengangkat kembali nilai-nilai kebudayaan tradisional Minahasa lewat upaya pelestarian, pengembangan serta pembinaan dalam mempertahankan kesenian dan kebudayaan serta kearifan lokal yang ada di Minahasa. Untuk itu dihadirkanlah Wale Budaya yang berlokasi di Tondano, sebagai Ibukota Kabupaten Minahasa dimana sebagian masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat mereka dan tidak mengesampingkannya. Tema Implementasi Arsitektur Vernakular Minahasa diangkat untuk menerapkan perancangan objek Wale Budaya dengan mengangkat kembali nilai budaya Minahasa yang kini sudah mulai pudar serta menerapkan desain tradisional Minahasa. Kata Kunci : Minahasa, Wale, Budaya, Vernakular, Tondano
SHOPPING MALL DI MANADO. Biophilic Design
Magdalena, Enggrila D.;
Rogi, Octavianus H. A.;
Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17291
Saat ini shopping mall telah menjadi trend gaya hidup modern bagi kalangan masyarakat khususnya kaum urban di Manado. Kehadirannya makin digemari karena fungsi shopping mall semakin meluas menjadi semacam community center, tempat menikmati gaya hidup melalui konsumsi barang dan jasa yang sesuai dengan symbol status, sekaligus menjadi fasilitas pemenuh kebutuhan psikologi sebagai area rekreatif dan hiburan. Tingginya tingkat konsumsi masyarakat terhadap shopping mall menyebabkan turunnya tingkat interaksi masyarakat dengan alam sebagai lingkungan hidup mereka. Padahal alam telah menjadi kebutuhan dasar yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Penerapan biophilic design dipilih karena sejatinya interaksi dan keinginan untuk selalu terikat dengan lingkungan alami adalah kebutuhan dasar bagi manusia. Selain itu, pendekatan desain biophilik pada shopping mall terbukti berpotensi meningkatkan penjualan 15% - 20% (Wolf, 2005) serta secara bersamaan mampu memenuhi kebutuhan fisiologis (kenyamanan) dan kebutuhan psikologis (kesehatan & ketenangan) pengguna bangunan. Proses perancangan dilakukan melalui pendekatan – pendekatan terhadap kajian objek rancangan, tema dan tapak yang kemudian dikembangkan dan diolah menggunakan proses desain siklus image present tense hingga menghasilkan ide atau gagasan konsep. Dalam penerapan tema pada objek rancangan mengacu pada 14 prinsip desain biophilic yang masing – masing dipilih sesuai dengan kesesuaian prinsip desain terhadap kebutuhan pada masing – masing aspek desain objek rancangan. Adapun prinsip desain yang dirasa paling dominan dalam desain adalah hubungan visual terhadap alam, karena aplikasi unsur alami adalah hal yang paling utama dirasakan dalam desain. Kata Kunci : Shopping Mall, Biophilic, Kebutuhan, Fisiologis, Psikologis
PENGARUH LUAS BUKAAN VENTILASI TERHADAP PENGHAWAAN ALAMI DAN KENYAMANAN THERMAL PADA RUMAH TINGGAL HASIL MODIFIKASI DARI RUMAH TRADISIONAL MINAHASA
Toisi, Novan H.;
Kussoy, John W.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 1 No. 1 (2012): EDISI PERDANA Volume 1 No.1 Mei 2012
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v1i1.367
ABSTRAK Pembangunan rumah tinggal akhir-akhir ini semakin meningkat pesat, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Rumah-rumah ini tentu saja memerlukan rancangan yang sesuai dengan si penghuni/pemilik sehingga bisa mewakili identitas/citra diri. Identitas, bisa digali dari khasanah budaya tradisional yang ada. Arsitektur Tradisional yang dimiliki bangsa Indonesia sangatlah beragam, salah satunya Minahasa. Di Kota Manado sendiri terdapat cukup banyak masyarakat yang memilih rumah tinggal hasil modifikasi dari rumah Tradisional Minahasa sebagai tempat hunian karena selain praktis dibangun juga sebagai upaya pelestarian terhadap Arsitektur Tradisional Minahasa. Dalam rangka untuk melestarikan kebudayaan Minahasa telah banyak dilakukan kajian-kajian mengenai Arsitektur Tradisional Minahasa, salah satunya kajian mengenai permasalahan Non-fisik seperti: karakter, citra, norma-norma dan sosial budaya lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan masa mendatang, tentunya dibutuhkan juga pendekatan dari sisi fisik, salah satunya yaitu Kenyamanan Termal dan Penghawaan Alami, sehingga memenuhi tuntutan kenyamanan dan kesehatan sebagai bangunan tempat tinggal. Kenyamanan Termal dan Penghawaan Alami salah satunya dipengaruhi oleh Luas Bukaan Ventilasi pada Selubung Bangunan yang mengalirkan udara kedalam bangunan sehingga akan terjadi pertukaran udara dalam bangunan. Analisis pengaruh Luas Bukaan Ventilasi terhadap Kenyamanan Termal dan Penghawaan Alami akan dilakukan dengan menyimpulkan pengaruh Luas Bukaan terhadap Kecepatan Angin dalam bangunan disaat menyentuh Kulit, di saat jendela tertutup dan terbuka, serta menyimpulkan apakah Kecepatan Angin tersebut memenuhi standar dalam bangunan. Penelitian ini juga menyimpulkan apa saja elemen bangunan yang harus dirubah dan yang harus dipertahankan untuk perancangan rumah tinggal hasil Modifikasi dari Rumah Tradisional Minahasa dimasa mendatang.  Kata kunci: Luas Bukaan Ventilasi, Kenyamanan Termal, Penghawaan Alami
Museum Kayu di Woloan “Eco-Techâ€
Raco, Winsensius S. P.;
Tondobala, Linda;
Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 3 No. 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v3i2.6024
Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. Museum di Indonesia terus berkembang seiring perkembangan zaman. Kesan historik masih sangat kental pada museum di Indonesia, sehingga museum yang sebenarnya memiliki fungsi edukatif yang sangat baik menjadi kurang diminati. Di antara banyaknya jenis museum yang ada di indonesia Museum kayu yang memiliki fungsi konservatif perlu diadakan agar kelestarian kayu dapat terjaga, selain itu juga dapat mempermudah kita dalam menklarifikasi jenis-jenis kayu termasuk fungsi, kualitas, kegunaan dan pembudidayaannya. Museum kayu di Indonesia terdapat didaerah Waduk Panji Sukarame, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yaitu Museum Kayu Tuah Himba. Di dalam Museum Kayu ini terdapat beragam jenis kayu-kayu yang ada di Pulau Kalimantan. Di daerah Sulawesi Utara terdapat beberapa museum seperti museum Kebudayaan Sulawesi Utara, museum budaya waruga dll. Masih banyak hal di Sulawesi Utara yang memiliki potensi yang perlu di museumkan, salah satunya yaitu kayu. Woloan adalah salah satu kelurahan di kota Tomohon yang terkenal dengan produksi Rumah Panggung. Sejak dahulu Woloan telah melakukan produksi rumah kayu yang sudah di eksport sampai luar negeri. Rumah panggung sendiri adalah salah satu hasil budaya daerah Sulawesi Utara. Hal tersebut mendukung daerah ini sebagai tempat dibangunnya Museum Kayu karena punya nilai historis dan kebudayaan yang mendukung. Dengan dibangunnya Museum Kayu ditempat ini diharapkan dapat turut menjadi sarana konservasi bagi pelestarian dan pengolahan kayu di Sulawesi Utara. Dengan Menggunakan Suatu pendekatan tematik yaitu “Eco-Tech†Objek rancangan dapat lebih diaplikasikan sesuai dengan maksud dan tujuan Museum Kayu yaitu menjadi sarana Edukatif, Rekreatif dan Konservasi. Pemanfaatan pengolahan lahan yang disesuaikan dengan ekologi daerah Woloan dan penggunaan Teknologi pendukung dalam desain diharapkan mampu menciptakan Mueum Kayu yang sesuai fungsi, menari dan punya nilai lebih terutama bagi daerah dibangunnya Museum Kayu.. Kata Kunci : Museum Kayu, Woloan, Eco-Tech.
HIBRIDISASI FUNGSI PASAR TRADISIONAL DAN MALL
Rompis, Febrina D S;
Sangkertadi, Prof.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 2 No. 1 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.1 Mei 2013.
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v2i1.992
ABSTRAK Pasar tradisional dan mall merupakan tempat berdagang dan berbelanja. Meskipun keduanya memiliki fungsi yang sama namun terdapat perbedaan yang signifikan dari kedua fungsi ini. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari lokasi, barang yang didagangkan, bentuk bangunan, sistem perbelanjaan yang berlaku, dll. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Â Dengan metode-metode hybrid dalam arsitektur maka fungsi pasar tradisional dan mall akan di hibridisasikan sehingga akan menghasilkan suatu sistem yang baru yang bersimbiosis / saling menguntungkan. Kata Kunci : Â Â Â Â Â Â Â Pasar Tradisional, Mall, Hibridisasi, Fungsi, Simbiosis