cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Arsitektur DASENG
ISSN : 23018577     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur DASENG adalah media informasi pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni khususnya Artikel Ilmiah bidang Arsitektur berupa Hasil Penelitian, Hasil Perancangan, Studi Kepustakaan maupun Tulisan Ilmiah.
Arjuna Subject : -
Articles 882 Documents
REDESAIN KANTOR BUPATI MINAHASA (REFLEKSI BUDAYA SUB-ETNIS TOULOUR DALAM RANCANGAN ARSITEKTUR) Singkoh, Alfrets; Sela, Rieneke L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 2 No. 2 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.2 Juli 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v2i2.1978

Abstract

ABSTRAK   Kabupaten Minahasa merupakan sebuah daerah otonom yang memiliki struktur Pemerintahan yang berfungsi untuk mengatur berbagai aspek dan bidang demi kelangsungan hidup di Tanah Minahasa. Sistem Pemerintah Daerah Kabupaten merupakan ujung tombak pelaksanaan pembangunan, maka diperlukan peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana perkantoran sesuai dengan standart daerah otonom. Pada kenyataan sekarang ini, melalui metode observasi dan wawancara Kantor Bupati yang ada di Minahasa mengalami penurunan mutu dan kualitas serta terdapat beberapa masalah yang terjadi pada kondisi lapangan kawasan sekitar. Berdasarkan kenyataan ini, diperlukan sebuah gagasan Redesain untuk menata dan merancang kembali Kantor Bupati Minahasa. Dengan penerapan strategi ini, diharapkan terciptanya Kantor Bupati Minahasa yang terdesain dengan baik. Kabupaten Minahasa merupakan sebuah wilayah yang besar dan sangat luas serta terdapat 9 sub-etnis suku asli orang Minahasa. Sekarang ini banyak terjadinya pemekaran-pemekaran di Tanah Minahasa yang ingin berdiri sendiri, mandiri dan menjadi daerah otonom. Daerah-daerah yang sudah resmi dimekarkan seperti Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Tenggara. Daerah-daerah Kabupaten ini berdiri sendiri dengan menggunakan sub-etnis masing-masing daerah sesuai dengan pembagian sub-etnis di Tanah Minahasa. Hal ini menjadi dasar pertimbangan diangkatnya tema “ Refleksi Budaya sub-etnis Toulour dalam Rancangan Arsitektur”, karena Kantor Bupati Minahasa terletak di Tondano dengan sub-etnis Toulour. Sebagai hasilnya adalah rancangan Kantor Bupati yang efisien dan mencerminkan kebudayaan Toulour. Diharapkan Kantor Bupati ini bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas Pemerintah Kabupaten Minahasa, mensejahterakan kehidupan masyarakat tanah Minahasa dan masyarakat Minahasa bisa melestarikan kebudayaan sub-etnis Toulour. Kata kunci      :  Kabupaten Minahasa, Kantor, sub-etnis Toulour [1] Mahasiswa PS1 Arsitektur UNSRAT [2] Staf Dosen Pengajar Arsitektur UNSRAT
MALL DAN HYPERMARKET DI KOTAMOBAGU (IMPLEMENTASI COPYING BEHAVIOR MENURUT P A BELL DALAM ARSITEKTUR) Warouw, Hilda; Mastutie, Faizah
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 2 No. 3 (2013): Volume 2 No.3 November 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v2i3.3728

Abstract

ABSTRAK Kota Kotamobagu merupakan kota yang sedang berkembang dengan tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi. Sehingga, masyarakat membutuhkan sebuah pusat perbelanjaan yang lengkap, inovatif dan rekreatif. Penggunaan tema copying behavior sebagai penyesuaian terhadap tingkah laku masyarakat dan menjadi langkah awal dalam pembentukan kepribadian atau perilaku manusia terhadap lingkungannya. Adanya penyesuaian terhadap tingkah laku dapat menjadi acuan dalam merancang Mall dan Hypermarket. Tujuan perancangan ini untuk mewadahi dan menunjang aktifitas perekonomian di Kota Kotamobagu, dengan kelengkapan sarana dan fasilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat. Oleh karena itu setelah mengambil salah satu aspek makna sosial yang ada dimasyarakat yaitu kebiasaan yang ada. Sehingga objek yang nantinya dihadirkan dapat diterima dan mudah beradaptasi dengan masyarakat yang ada. Kata kunci : Mall, Hypermarket, copying, behavior
GRAHA SENI DI KOTA MANADO (Metafora Dalam Rancangan Arsitektur) Usman, Kevin; Sondakh, Julianus A. R.; Rogi, Octavianus H. A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 3 No. 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v3i2.5939

Abstract

Seni terlahir dan terbentuk dari peradaban manusia. Hal tersebut mencerminkan kesenian daerah yang ada di Indonesia saat ini, yang mendapat apresiasi yang lebih dari masyarakatnya. Jumlah peminat seni yang semakin bertambah menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan dalam bidang seni. Hal tersebut bertolak belakang dengan Kesenian daerah di kota Manado. Hal ini dilihat dari perkembangannya yang masih dibawah dari pariwisata di Manado yang berkembang cukup pesat. Padahal kepariwisataan kota Manado bisa menjadi potensi berkembangnya seni daerah. Aspek indikator sosial budaya dalam bidang kesenian perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah dalam hal memberi ruang apresiasi dalam kreativitasnya para peminat seni di kota Manado. Hal ini memberi peluang bagi pihak pemerintah kota Manado untuk memfasilitasi kegiatan seni dengan gedung yang presentatif yaitu dengan menghadirkan “Graha Seni” yang mampu mengangkat kesenian daerah di Manado. Untuk mendukung konsep ini maka tema perancangan yang diambil untuk perancangan ini yaitu Metafora dalam rancangan arsitektur. Proses desain yang dipakai dalam perancangan ini yaitu proses desain generasi II, yang terdiri dari 2 fase, yang pertama adalah fase pengembangan wawasan komprehensif, yaitu pengkajian tipologi objek, tapak dan lingkungan, serta tema Metafora dalam Arsitektur, lalu dilanjutkan ke fase kedua yaitu fase konseptualisasi, dengan mekanisme siklus image-present-test menurut John Zeisel, yang diawali dengan pemikiran konsep (imaging), dilanjutkan dengan penyajian konsep ke dalam bentuk gambar (presenting), lalu mengevaluasi konsep berdasarkan kriteria pengujian tertentu (testing). Proses tersebut dilakukan secara berulang dengan memperbaiki setiap hasil evaluasi, hingga perancang memutuskan untuk mengakhiri proses pada siklus tertentu. Konsep gubahan masa bangunan Graha Seni ini diambil dari bentuk menyerupai seekor burung yan sedang terbang terinspirasi dari lukisan-lukisan seni rupa. Bentuk ini diterapkan pada tampak atas dan tampilan eksterior Graha Seni dengan spesifikasi tema yaitu metafora kombinasi menurut Anthony C Antoniades. Sehingga bangunan ini terlihat menarik sesuai dengan fungsi dan karakter bangunan ini. Kata kunci : Seni, Metafora, Manado
GEDUNG KESENIAN PAPUA SEBAGAI PUSAT SENI DAN BUDAYA (ARSITEKTUR SIMBOLISME) Lamia, Vero A.; Karongkong, Hendriek H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 5 No. 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v5i1.12281

Abstract

Setiap manusia adalah seniman, disadari ataupun tidak karena manusia adalah suatu karya seni Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga dapat dikatakan bahwa dimanapun manusia berada yang adalah makhluk Tuhan yang diciptakan penuh dengan seni akan selalu melakukan seni dengan cara-cara dan kebudayaannya masing-masing. Berkesenian adalah salah satu ekpresi proses kebudayaan manusia. kesenian adalah salah satu ciri utama suatu kebudayaan. Bagi manusia kesenian memiliki dua dimensi, yaitu dimensi budaya (pemerdekaan diri) dan dimensi fungsional (kegunaan, efisiensi, teknis dan komersil). Manusia ingin menikmati  dan membagikan pengalaman estetis dalam kehidupannya, sehingga berkesenian menjadi penting dalam hidup. Dari uraian tersebut diatas, Kota Jayapura membutuhkan wadah yang dibangun khusus untuk keperluan konvensi, pameran,  dan kegiatan yang secara masal. Rencana pembangunan Gedung Kesenian Papua di Kabupaten Jayapura yang nantinya dirancang dengan dasar penerapan tema Arsitektur Simbolisme sebagai symbol/tanda keindahan merupakan kebutuhan objek rancangan  sebagai pameran dan pertunjukan yang lingkupnya regional atau nasional maupun internasional. penerapan tema Arsitektur Simbolisme melalui kajian yang ada diharap dapat mengoptimalkan fungsi bangunan, memberikan kenyamanan serta meningkatkan kepariwisataan kota Jayapura.   Kata kunci : simbolisme, seni, gedung kesenian, papua
TERMINAL ANGKUTAN UMUM DI AMURANG (Unordinary in Ordinary Architecture) Rambi, Anastasya E.; Rogi, Octavianus H. A.; Supardjo, Surjadi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i2.8895

Abstract

Kehadiran sebuah terminal di setiap kabupaten/kota merupakan hal yang penting dan esensial. Kota Amurang saat ini telah memiliki sebuah terminal dengan tipe B, namun keberadaannya dinilai masih diwarnai dengan berbagai permasalahan yang kompleks dan berujung pada tidak optimalnya kinerja operasionalisasi terminal tersebut yang pada gilirannya mempengaruhi pertumbuhan kabupaten Minahasa Selatan di dalamnya Kota Amurang. Hal ini melatarbelakangi gagasan perlunya relokasi terminal tersebut yang telah diprogramkan pemerintah daerah setempat dan telah dituangkan dalam RTRW kabupaten Minahasa Selatan. Lokasi yang baru dari terminal ini adalah di Kapitu, Kecamatan Amurang barat. Rancangan relokasi terminal ini digagas dengan mengaplikasikan tema “unordinary in ordinary architecture” yang diharapkan mampu mewujudkan suatu rancangan terminal baru yang lebih representatif dengan menampilkan fitur-fitur yang unik dan tidak lazim (unordinary) dalam tipologi rancangan terminal yang terbilang standar (ordinary). Ada tiga pendekatan dasar yang umum digunakan dalam sebuah perancangan karya arsitektur, itu pula yang digunakan dalam perancangan proyek terminal ini, yaitu pendekatan tipologikal, pendekatan analitik terhadap tapak dan lingkungan serta pendekatan tematik. Adapun proses perancangan yang digunakan ialah proses perancangan generasi II menurut kategorisasi Horst Rittel yang mengedepankan karakteristik proses desain yang spiralistik, mengacu pada asumsi bahwa masalah-masalah perancangan pada hakikatnya penuh dengan kerumitan dan bersifat akut. Di sisi lain, optimalisasi konsep rancangan terminal ini menggunakan metode  “image-present-test” yang dikemukakan oleh John Seizel. Hasil akhir rancangan diwarnai dengan penerapan konsep-konsep desain yang mengacu pada tema, yang dilandaskan pada strategi olah tipe berupa modifikasi, transformasi, kombinasi bahkan substitusi dari berbagai formasi arsitektonis, dengan tidak mengabaikan aspek penting yang bersifat standar dalam rancangan terminal. Beberapa fitur hasil olah tipe yang unik dalam rancangan akhir antara lain ialah gubahan konfigurasi massa yang menggunakan kombinasi beragam geometri dasar termasuk lingkaran, pola sirkulasi yang linier dan parsial menurut tipe angkutan, aplikasi material selubung bangunan tradisional dan kontemporer secara kombinatif, serta program ruang dalam dengan tambahan ruang-ruang tertentu yang lazimnya tidak asosiatif dengan fungsi terminal, sedemikian hingga nuansa “unordinary” dapat dihadirkan dalam performa terminal yang baru ini. Kata kunci : terminal, unordinary in ordinary arhitecture, image-present-test, olah tipe
KAMPUNG VERTIKAL DI SINDULANG ‘HUMANISME DALAM ARSITEKTUR’ Taaluru, Stenly Y.; Waani, Judy O.; Warouw, Fela
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.9666

Abstract

Perkembangan sebuah kota selalu hadir dengan setiap konsekuensinya terhadap bentuk fisik kota, juga bagi masyarakatnya.  Bagi kota-kota di negara berkembang seperti Indonesia, peningkatan jumlah penduduk kota di satu sisi dan berkurangnya lahan karena penambahan kebutuhan ruang fisik manusia di sisi lainnya telah menjadi permasalahan utama dalam kehidupan berkota, termasuk di dalamnya permasalahan  pada sektor perumahan dan permukiman. Berbagai persoalan dan fenomena di atas dengan segala turunannya menjadikan permasalahan penyediaan perumahan dan permukiman khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah bawah bersifat kompleks dengan lingkup permasalahan yang berkisar dalam skala terkecil yaitu aspek manusia hingga mencakup aspek-aspek makro yang berwujud dalam bentuk sistem, diantaranya ekonomi, politik, sosial dan budaya. Humanisme dalam arsitektur merupakan sebuah pendekatan dalam upaya  melihat dan merespon kompleksitas permasalahan permukiman pada umumnya dan kampung pada khususnya,dalam rangka menciptakan tipologi hunian vertikal rumah susun yang ideal bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah di perkotaan. Kata kunci: kampung, rumah susun, hunian vertikal, humanisme.
RESORT KONSERVASI BURUNG ENDEMIK DI TAMAKO (ARSITEKTUR “NEW ORGANIC”) Tengkue, Maychel; Indradjaja, Makainas
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 5 No. 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v5i1.12264

Abstract

Keberadaan keanekaragaman hayati (biodeversitas) yang ada di Kabupaten Kepulauan Sangihe menjadi salah satu potensi Sumber Daya Alam daerah yang patut dilestarikan. Salah satu yang dimaksud ialah kekayaan alam lewat keanekaragaman burung yang terdapat di kepulauan Sangihe. Ini dibuktikan dengan ditemukannya lima jenis burung endemik Sangihe yang hidup di hutan pegunungan Sahendarhumang. Namun realita yang ada menunjukan bahwa kehidupan satwa endemik sedang berada dalam status kritis akibat laju perkembangan eksploitasi kawasan hutan pegunungan Sahendarhumang yang cukup sulit dibendung. Dimana secara langsung membawa dampak terhadap penurunan jumlah populasi  burung khas daerah serta mengakibatkan kerusakan lingkungan dan perubahan ekosistem yang ada didalamnya. Hasil survei lapangan dari beberapa lembaga peneliti burung menunjukan bahwa telah berkurangnya jumlah burung endemik yang hidup di habitat aslinya. Untuk menanggapi isu tersebut diperlukan langkah nyata pihak-pihak terkait guna menjaga keberlangsungan hidup satwa yang dilindungi ini. Jika di pandang dari segi Arsitektural maka solusi yang tepat dan tanggap terhadap permasalahan yang berkembang diatas ialah bagaimana menghadirkan suatu wadah dan lingkungan yang dapat menampung serta melestarikan  kehidupan burung tanpa meninggalkan habitat aslinya. Fasilitas yang sesuai dengan peruntukan sebagai fungsi untuk menampung dan melestarikan kehidupan satwa endemik Sangihe ini ialah dengan menghadirkan suatu objek konservasi yang dapat mengakomodasi sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Mengkaji peluang yang ada untuk lebih memaksimalkan fungsi utama konservasi sebagai wadah pelestarian. Maka timbul gagasan untuk memunculkan suatu objek pendukung fasilitas utama yakni resort yang nantinya akan berintegrasi dengan fasilitas konservasi dimana terdapat dua unsur utama pelestarian dan edukasi secara rekreatif didalamnya. Maksud dari pada hadirnya resort sebagai pendukung dengan fungsi esensial sebagai tempat rekreasi dan bersantai, ialah memperkenalkan kehidupan burung dan cara melestarikannya lewat proses yang se-nyaman dan se-santai mungkin, yang nantinya juga akan dilandasi dengan diaplikasikannya tematik desain arsitektur “new organic” sehingga diharapkan dapat memberi pengalaman empiris psikologis pada pengunjung objek konservasi dan resort burung endemik Sangihe. Kata Kunci : Keanekaragaman Hayati, Endemik, Arsitektur “new organic”, Tamako, Sangihe.
SEKOLAH SENI MUSIK DI AMBON. Arsitektur Metafora Hukom, Jolefry; Kindangen, Jefrey I.; Kapugu, Herry
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23668

Abstract

Kota Ambon merupakan Ibukota dari Provinsi Maluku dengan penduduk Kota Ambon memiliki jumlah penduduk sekitar 331.254 jiwa yang tidak bisa jauh dari musik lagu-lagu daerah mereka yang dinyanyikan di Indonesia sebutlah manise-manise. notabene anak-anak mudanya memiliki bakat dalam bidang musik. Baik dalam bidang musik vocal atau suara, bermain gitar, keyboard/piano, drum, Trumpet/Suling, serta seni musik daerah seperti totobuang, tifa, dan rebana.  Banyaknya musisi asal ambon yang membawa nama harum Indonesia, baik dalam negri maupun luar negeri, Mendorong Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan kementrian pariwisata mencanangkan ambon menjadi kota musik dunia tahun 2019. Peracangan Sekolah Seni Musik di Ambon ini dibuat agar dapat mendukung Ambon sebagai kota musik dunia dengan  Perancangan meliputi konsep fisik desain bangunan Sekolah Seni musik digabungkan dengan pameran seni bertemakan Arsitektur Metafora yang dapat menjadi daya tarik dan juga sebagai tempat/wadah pembelajaran yang memberikan zona diantaranya keadaan outdor, indoor dengan penggunaan material yang ramah lingkungan.  Kata Kunci : Sekolah Seni Musik, Arsitektur Metafora
Redesain Kompleks Stadion Klabat Manado “Arsitektur Modern Rasionalisme” Rogahang, Piere H. B.; Poli, Hanny; Siregar, Frits O. P.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i2.8886

Abstract

perkembangannya sangat menjanjikan, terbukti banyak pembangunan dan pengembangan kawasan yang dilakukan dikota ini, sebagai kota yang sedang berkembang, tentunya harus di imbangi dengan menghadirkan fasilitas-fasilitas untuk Masyarakat sebagai pelengkap ataupun sebagai sarana bagi masyarakatnya untuk bisa mengembangkan potensi diri serta berkreasi dan sebagai fasilitas-fasilitas yang di banggakan. Dalam bidang olahraga, tentunya juga harus ditingkatkan kualitas dan mutu dari sarana dan prasarana dari olahraga itu sendiri, tidak terkecuali dengan Stadion Klabat Manado, yang menjadi Stadion satu-satunya kota ini, kondisi dan kualitas Stadion harus ditingkatkan atau di evaluasi baik secara fisik, fungsi, dan prospek kedepan sebagai tempat olahraga yang ada di kota Manado. Meningkatnya kebutuhan masyarakat kota akan fasilitas olahraga yang baik dan menyenangkan, membuat Stadion Klabat harus di benahi atau di redesain, sehingga bisa digunakan dengan baik dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat kota Manado akan fasilitas olahraga. Redesain menjadi salah satu cara agar stadion ini bisa difungsikan kembali`dengan melihat segala kekurangan dan masalah-masalah yang ada sekarang, yang nantinya bisa dipikirkan solusi dan kualitas yang dibutuhkan di zaman yang modern sekarang. Sehingga nantinya kebutuhan masyarakat bisa di wadahi dan bisa meningkatkan kembali prestasi-prestasi dunia olahraga Sulawesi Utara. Dengan mengangkat tema arsitektur modern rasionalisme, sebagai ciri khas Stadion Klabat ini, diharapkan bangunan ini menjadi icon yang modern di kota Manado dengan tidak menghilangkan identitas sepakbola yang pernah ada sebelumnya, juga sebagai tempat yang baru yang dilengkapi dengan fasiltas-fasilitas pendukung yang bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat atau pengunjung dari Stadion Klabat ini. Kata kunci : Kota Manado, Stadion Klabat, Redesain
PUSAT HIBURAN MUSIK DI MANADO (SOUL OF SPACE SEBAGAI PENDEKATAN DESAIN) Abdulsalam, Gilang G.; Waani, Judy O.; Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 5 No. 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v5i1.10739

Abstract

ABSTRAK Musik adalah Bahasa manusia, karena dengan musik dapat mengekspresikan perasaan, isi hati, serta jati diri seseorang. Musik sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia, pada awalnya musik hanya berperan sebagai hiburan di waktu-waktu tertentu. Namun seiring berjalannya waktu, musik menjelma sebagai sebuah gaya hidup yang melekat dalam kehidupan manusia. Di Indonesia musik berkembang dengan sangat pesat, ditandai dengan munculnya grup-grup muik, aliran-aliran musik yang baru, pendetang-pendatang baru di balantika musik Indonesia, yang banyak di support oleh event dan kompetisi musik solo singer maupun grup band. Pengaruh ini pun mulai menjamur dan terasa di kota Manado yang mulai memperhatikan dunia musik, banyaknya penyanyi-penyanyi solo yang sudah terkenal, dan munculnya band-band lokal, serta adanya kompetisi-kompetisi paduan suara gerejawi yang marak di Sulawesi Utara dan sudah memunculkan sanggar-sanggar paduan suara yang cukup berprestasi di ajang nasional maupun internasional. Namun ketika hal ini berkembang dengan sangat pesat, maka dibutuhkan sebuah wadah yang bisa menampung segala bentuk hiburan yang berkaitan dengan musik. Oleh karena itu sebagai inisiatif, diangkat Pusat Hiburan Musik di Manado dengan tema Soul Of Space Sebagai Pendekatan Desain. Keberadaan gedung Pusat Hiburan Musik di kota Manado sangatlah penting, selain sebagai wadah menyalurkan seni musik dan kegiatannya. Gedung Pusat Hiburan Musik juga dapat berperan sebagai pemicu dan poin penting dalam tonggak pariwisata di kota Manado. Dengan menggunakan tema perancangan “Soul Of Space Sebagai Pendekatan Desain” diharapkan bangunan Pusat Hiburan Musik ini dapat meng-ekspresikan jiwa atau karakteristik musik ke dalam setiap aspek perancangan. Kata Kunci : Kota Manado, Musik ,Pusat Hiburan, Soul Of Space.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 3, Agustus 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 1, Februari 2025 Vol. 13 No. 4 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 4, November 2024 Vol. 13 No. 3 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 3, Agustus 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 2, Mei 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): DASENG Volume 13 Nomor 1, Februari 2024 Vol. 12 No. 4 (2023): DASENG Volume 12 Nomor 4, Oktober 2023 Vol. 12 No. 3 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 3, Juli 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 2, April 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 1, Januari 2023 Vol. 11 No. 2 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 2, November 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022 Vol. 10 No. 2 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 2, November 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 1, Mei 2021 Vol 9, No 2 (2020): Volume 9 Nomor 2, November 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020 Vol 9, No 1 (2020): Volume 9 No. 1 Mei 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020 Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019 Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018 Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017 Vol. 5 No. 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016 Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015 Vol. 3 No. 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Volume 3 No.1 Mei 2014 Vol. 2 No. 3 (2013): Volume 2 No.3 November 2013 Vol. 2 No. 2 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.2 Juli 2013 Vol. 2 No. 1 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.1 Mei 2013. Vol. 1 No. 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku II EKSPERIMENTAL. Volume 1 No.2 November 2012 Vol. 1 No. 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku I KONTEKSTUAL. Volume 1 No.2 November 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): EDISI PERDANA Volume 1 No.1 Mei 2012 More Issue