cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI)
ISSN : 24422606     EISSN : 2548611X     DOI : -
JBBI, Indonesian Journal of Biotechnology & Bioscience, is published twice annually and provide scientific publication medium for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to biotechnology and bioscience. This journal accepts original papers, review articles, case studies, and short communications. The articles published are peer-reviewed by no less than two referees and cover various biotechnology subjects related to the field of agriculture, industry, health, environment, as well as life sciences in general. Initiated at the then Biotech Centre, the journal is published by the Laboratory for Biotechnology, the Agency for the Assessment and Application of Technology, BPPT.
Arjuna Subject : -
Articles 35 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020" : 35 Documents clear
PENGARUH SINBIOTIK KEFIR TEPUNG PISANG BATU (Musa balbisiana) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS SINDROM METABOLIK Salsabila, Dhea Marliana; Maryusman, Taufik; Fatmawati, Iin
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.675 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v7i1.3730

Abstract

Metabolic syndrome begins with insulin resistance characterized by hyperglycemia. Synbiotic kefir banana (Musa balbisiana Colla) flour reduces blood glucose level. This study was conducted to analyze the effects of synbiotic kefir banana (M. balbisiana) flour on blood glucose level of metabolic syndrome rats. This study used 24 Sprague Dawley.rats which were divided into four groups, i.e. negative control was given standard diet, positive control was given high fat fructose diet (HFFD), treatment I (PI) and treatment II (PII) were given HFFD and synbiotic kefir banana (M. balbisiana) flour 1.8 mL 200 g־¹ rat BW per day (PI) and 3.6 mL 200 g־¹ rat BW per day (PII), respectively, for three weeks. The result showed a significant difference (p=0.000) in blood glucose after giving synbiotic kefir banana (M. balbisiana) flour. Synbiotic kefir banana (M. balbisiana) flour reduced blood glucose level in metabolic syndrome rats.Keywords: banana flour, blood glucose level, kefir, metabolic syndrome, synbiotic ABSTRAKSindrom metabolik diawali resistensi insulin yang ditandai hiperglikemia. Sinbiotik kefir tepung pisang batu (M. balbisiana) menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh sinbiotik kefir tepung pisang batu (M. balbisiana) terhadap kadar glukosa darah tikus sindrom metabolik. Penelitian ini menggunakan 24 tikus Sprague Dawley yang dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kontrol negatif yang diberi pakan standar, kontrol positif yang diberi high fat fructose diet (HFFD), dan perlakuan I (PI) serta perlakuan II (PII) yang masing-masing diberi HFFD dan sinbiotik kefir tepung pisang batu (M. balbisiana) 1,8 mL 200 g־¹ BB tikus per hari (PI) dan 3,6 mL 200 g־¹ BB tikus per hari (PII) selama tiga minggu. Hasil menunjukkan perbedaan kadar glukosa darah setelah pemberian sinbiotik kefir tepung pisang batu (M. balbisiana) secara signifikan (p=0,000). Sinbiotik kefir tepung pisang batu (M. balbisiana) menurunkan kadar glukosa darah tikus sindrom metabolik.
PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KASAR RESIN DAN DAUN GAHARU (Gyrinops versteegii) Wangiyana, I Gde Adi Suryawan; Akram, .; Isbulloh, Farouq
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.901 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v7i1.3862

Abstract

Comparison of Antibacterial Activities of Agarwood (Gyrinops versteegii) Resin and Leaf Crude ExtractThis research aim is to compare antibacterial activities of leaves extract and resin extract of Gyrinops versteegii with different extraction solvent and concentration. Leaves and resin had been prepared by drying and grinding then were extracted by maceration method. Factorial experiment design was used for extract application to Staphylococcus aureus ATCC25923. First factor was extract ingredient, second factor was extraction solvent, third factor was extract concentration. Inhibition zone as main parameter for antibacterial assay were analysed by ANOVA, HSD test and standard error. The inhibition zone of resin was higher than inhibition zone of leaves. The extraction solvent and extract concentration were not significantly resulted in different inhibition zone diameter. However, there were unique interaction between extraction solvent and extraction concentration that affected inhibition zone diameter. It could be concluded that the inhibition zone of resin was higher than that of leaves while no significant result from extraction solvent and extract concentration factorsKeywords: antibacterial, agarwood, extract, leaves, resin ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antibakteri daun gaharu dan resin gaharu G. versteegii menggunakan beberapa pelarut pengekstrak dan konsentrasi ekstrak yang berbeda. Bahan daun dan resin gaharu dikeringkan dan dicacah, kemudian diekstrak menggunakan metode maserasi. Uji aplikasi ekstrak pada Staphylococcus aureus ATCC25923 dilakukan menggunakan rancangan faktorial, yaitu faktor pertama bahan ekstrak (resin, daun), faktor kedua pelarut pengekstrak (etanol, metanol), dan faktor ketiga konsentrasi ekstrak (0,25; 0,5; dan 1 g mL–1). Data zona hambat terhadap bakteri uji dianalisis menggunakan ANOVA, BNJ dan standard error. Rerata zona hambat ekstrak daun gaharu (7 mm) lebih besar secara signifikan dibandingkan dengan rerata zona hambat ekstrak resin (6,5 mm). Faktor pelarut pengekstrak dan konsentrasi ekstrak tidak berpengaruh signifikan terhadap zona hambat. Pelarut pengekstrak dan konsentrasi ekstrak memberikan pengaruh interaksi berbeda-beda terhadap zona hambat. Dapat disimpulkan bahwa bahan ekstrak daun gaharu memiliki aktivitas antibakteri lebih bagus dibandingkan dengan ekstrak resin gaharu dengan konsentrasi ekstrak efisien sebesar 0,25 g mL–1.
PENENTUAN JENIS KELAMIN BURUNG KENARI (Serinus canaria) BERDASARKAN GEN Chromodomain Helicase DNA-Binding 1 (CHD1) Akhrom, Afif Muhammad; Soedarmanto, Indarjulianto; Yanuartono, Yanuartono; Susmiati, Trini; Nururrozi, Alfarisa; Raharjo, Slamet
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.004 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v7i1.3178

Abstract

Phenotype determination of sex in young canaries is very low in accuracy. This study aimed to develop a genotypic sexing method in canaries. This study used 12 canaries consisting of 3 mature males, 3 mature females and 6 one-month-old canaries. Phenotypic sexing by cloacal observation was done on all birds, continued by genotypic sexing to identification CHD1 gene using polymerase chain reaction (PCR). The PCR used blood samples for mature canaries, and feather for mature and one-month-old canaries. The results of phenotypic observations showed that all mature male canaries had prominent and pointed cloaca forms, all mature females had flat and wide, whereas all one-month-old birds had a flat cloaca. The result of PCR showed a single band (500 bp) for mature male and double bands (500 bp and 300 bp) for mature female canaries. The PCR results of one-month-old canaries showed that there were one male and five females. Based on this study, it was concluded that genotypic sexing using the PCR method is effective in the sex determination of canaries.Keywords: canary, CHD1, genotype, PCR, sexing ABSTRAKPenentuan jenis kelamin burung kenari muda secara fenotip akurasinya sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis kelamin burung kenari secara genotip. Penelitian ini menggunakan 12 ekor burung kenari, terdiri dari 6 ekor dewasa (3 jantan, 3 betina) serta 6 ekor umur 1 bulan. Semua burung ditentukan jenis kelaminnya dengan mengamati kloaka dan identifikasi gen CHD1 menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR). Sampel DNA berasal dari darah dan bulu untuk burung dewasa serta bulu untuk burung umur 1 bulan. Pengamatan fenotip menunjukkan bahwa burung kenari dewasa jantan mempunyai bentuk kloaka menonjol dan runcing, dewasa betina berbentuk datar dan lebar, sedangkan semua burung umur 1 bulan mempunya bentuk kloaka datar. Hasil identifikasi gen CHD1 diperoleh adanya 1 pita gen sekitar 500 bp dari sampel darah dan bulu semua burung kenari dewasa jantan, dan 2 pita gen sekitar 500 bp dan 300 bp dari sampel semua burung kenari betina dewasa. Hasil PCR pada sampel burung umur 1 bulan menunjukkan bahwa 1 ekor jantan dan 5 ekor betina. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penentuan jenis kelamin secara genotip menggunakan gen CHD1 dapat dilakukan pada burung kenari.
IDENTIFIKASI KROMOSOM HOMOLOG MELALUI DETEKSI NUCLEOLUS ORGANIZER REGIONS DENGAN PEWARNAAN AgNO3 PADA TANAMAN BAWANG MERAH Puspita, Andin; Setiawan, Agus Budi; Purwantoro, Aziz; Sulistyaningsih, Endang
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1142.116 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v7i1.3693

Abstract

Generally, the standard procedure for karyotype analysis of shallot is sorted by chromosome sizes. Therefore, the identification of homologous chromosomes is difficult without using a specific probe. Nucleolus Organizing Regions (NORs) can be used as a probe for precise identification of homologous chromosomes. However, the use of NORs for plant karyotyping in Indonesia is poorly investigated. In this study, shallot chromosomes were prepared using modified Carnoy’s solution II, fixed in Carnoy’s solution, and stained by using aceto-carmine and AgNO3 for detecting NORs. Chromosome images were analyzed by CHIAS IV. One locus NOR bearing chromosome pair was detected at metaphase and interphase, and it was located at short arms of subtelomeric chromosome number 6. NORs can be used as a probe for precise identification of homologous chromosomes in shallot. Therefore, this technique has the potential to be applied on species closely related to shallot and on other plant species.Keywords: AgNO3, chromosome condensation, NORs, shallot chromosome, shallot karyotype ABSTRAKProsedur kariotipe untuk bawang merah umumnya masih disusun berdasarkan ukuran kromosom, sehingga diperlukan suatu penanda yang dapat mengidentifikasi kromosom homolog secara presisi. Identifikasi kromosom homolog secara presisi menggunakan suatu penanda, khususnya deteksi Nucleolus Organizing Regions (NORs), yang di Indonesia masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat kariotipe dan mengidentifikasi kromosom homolog bawang merah melalui deteksi NORs menggunakan metode pewarnaan AgNO3. Proses fiksasi akar dilakukan dengan menggunakan modifikasi larutan Carnoy II, lalu difiksasi dengan larutan Carnoy, dan kromosom diwarnai dengan aceto-carmine dan larutan AgNO3 untuk mendeteksi NORs. Selanjutnya, citra kromosom dianalisis menggunakan CHIAS IV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sepasang NORs yang terdeteksi pada fase metafase dan interfase yang  terletak pada bagian lengan pendek di kromosom subtelosentrik nomor 6. Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar di bidang sitogenetika bawang merah untuk mengidentifikasi kromosom homolog secara presisi menggunakan penanda NOR. Oleh karenanya, teknik ini dapat diaplikasikan pada spesies yang berdekatan dengan bawang merah dan komoditas tanaman lainnya.Kata Kunci: AgNO3, kariotipe bawang, kondensasi kromosom, kromosom bawang, NORs
EKPRESI ANTIGEN Ag85B DARI Mycobacterium tuberculosis PADA GALUR SEL MAMALIA Pambudi, Sabar; Widayanti, Tika; Stephanie, Nadya
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.863 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v7i1.3840

Abstract

Expression of Mycobacterium tuberculosis Ag85B Antigen in Mammalian Cell CultureTuberculosis (TB) continues to be a major health problem worldwide, affecting millions of people each year. The only vaccine approved for the prevention of TB is Bacillus Calmette-Guérin (BCG). However, one of the limitations of BCG is that its preventive effect against pulmonary TB varies from person to person. Therefore, there arises a need for a new TB vaccine to replace BCG. This study aims to obtain the Ag85B recombinant protein which has characteristics similar to the native Ag85B antigen from Mycobacterium tuberculosis. In this study, we cloned and expressed recombinant Ag85B in mammalian cell culture. In the initial step, we cloned synthetic Ag85B into mammalian expression vector pFLAG-CMV4 and expressed the gene in CHO-K1 cells. Interestingly, a specific band around 30 kDa was observed in the culture media of transfected cells by Western blot analysis. The results from our research showed the potency of mammalian expression system to produce recombinant protein Ag85B for new TB vaccine candidate.Keywords: Ag85B, mammalian cells, tuberculosis, vaccine, expression ABSTRAKTuberkulosis (TB) terus menjadi salah satu masalah kesehatan dunia yang mempengaruhi jutaan manusia setiap tahun. Satu-satunya vaksin untuk TB yang ada adalah Bacillus Calmette-Guérin (BCG). Namun demikian, vaksin BCG ini memiliki kelemahan berupa terjadi efek preventif yang bervariasi dari satu individu terhadap individu lainnya.  Oleh sebab itu diperlukan pengembangan vaksin TB yang dapat menggantikan vaksin BCG yang sudah ada. Penelitian ini bertujuan memperoleh protein rekombinan Ag85B yang memiliki karakteristik mirip dengan antigen Ag85B native dari Mycobacterium tuberculosis. Pada penelitian ini, telah dilakukan kegiatan pengklonaan dan ekspresi gen Ag85B pada galur sel mamalia.  Pada tahap awal dilakukan pengklonaan gen sintesis Ag85B ke dalam plasmid pada sel mamalia pFLAG-CMV4 dan diekspresikan gennya pada sel CHO-K1. Hasil analisis Western blot menunjukan tersekresinya gen target berukuran 30 kDa pada media kultur dari sel mamalia yang ditransfeksi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan potensi dari sistem ekpresi untuk protein rekombinan Ag85B pada galur sel mamalia sebagai kandidat vaksin TB yang baru.
BAKTERI ENDOFIT YANG DIISOLASI DARI AKAR Eurycoma longifolia DAN POTENSINYA SEBAGAI PENGENDALI JAMUR PATOGEN TANAMAN Sulistiyani, Tri Ratna; Meliah, Siti; Damayanti, .
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6303.007 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v7i1.3997

Abstract

Eurycoma longifolia (pasak bumi) is known as a medicinal plant that contains biologically active compounds. Studies on endophytic bacteria associated with pasak bumi and their biocontrol activities have not been widely reported. The objective of this study is to isolate potential endophytic bacteria associated with E. longifolia possessing biocontrol activity against plant pathogenic fungi, Sclerotium rolfsii, Fusarium solani, F. oxysporum, and Colletotrichum gloeosporioides. Endophytic bacteria were isolated from the roots of E. longifolia using the plant piece method and identified based on 16S rRNA genes analysis. Antagonist test of bacterial isolates was conducted by dual confrontation method. The mechanisms of fungal growth inhibition were evaluated based on their ability to produce hydrolytic enzymes, antibiotic, and volatile organic compounds. Two isolates were obtained and identified as Stenotrophomonas maltophilia (Apb1) and Serratia marcescens (Apb2). Apb2 was able to inhibit the growth of four tested fungi and showed protease, chitinase as well as cellulase activities. The crude extract and volatile organic compound produced by Apb2 were active against F. solani growth.Keywords: biocontrol, endophytic, Eurycoma longifolia, fungi, inhibition mechanism ABSTRAKEurycoma longifolia (pasak bumi) dikenal sebagai tanaman obat yang mengandung beberapa senyawa aktif secara biologis. Penelitian mengenai bakteri endofit yang berasosiasi dengan tanaman pasak bumi berikut aktivitas biokontrolnya belum banyak dilaporkan. Penelitian ini bertujuan mengisolasi bakteri endofit potensial dari tanaman E. longifolia yang memiliki aktivitas biokontrol terhadap empat strain uji jamur patogen tanaman, yaitu Sclerotium rolfsii, Fusarium solani, F. oxysporum, dan Colletotrichum gloeosporioides. Bakteri endofit diisolasi dari akar E. longifola menggunakan metode plant piece dan diidentifikasi berdasarkan analisis gen 16S rRNA. Uji antagonis isolat bakteri dilakukan dengan metode konfrontasi ganda. Mekanisme penghambatan jamur patogen tanaman dievaluasi berdasarkan kemampuannya dalam memproduksi enzim hidrolisis, senyawa antibiotik, dan senyawa organik volatil. Dua isolat bakteri endofit berhasil diperoleh dan teridentifikasi sebagai Stenotrophomonas maltophilia  (Apb1) dan Serratia marcescens (Apb2). Isolat Apb2 mampu menghambat pertumbuhan keempat jamur yang diuji dan menunjukkan aktivitas protease, kitinase dan selulase. Ekstrak kasar dan senyawa organik volatil yang dihasilkan oleh isolat Apb2 aktif menghambat pertumbuhan F. solani.
Back Cover JBBI Vol 7, No 1, December 2020 ., .
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.157 KB)

Abstract

PENGARUH WAKTU FERMENTASI TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KADAR BETASIANIN MINUMAN FUNGSIONAL DARI BUAH NAGA (Hylocereus polyrhizus) DAN UMBI BIT (Beta vulgaris) Maryati, Yati; Susilowati, Agustine; Artanti, Nina; Lotulung, Puspa Dewi Narij; Aspiyanto, Aspiyanto
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.82 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v7i1.3732

Abstract

Effect of Fermentation on Antioxidant Activities and Betacyanin Content of Functional Beverages from Dragon Fruit and BeetrootKombucha is a traditional beverage prepared by fermenting polyphenol-rich tea using a consortium of bacteria and yeast (SCOBY). Dragon fruit and beetroot contain a significantly high amount of polyphenols and betacyanin as antioxidants which are beneficial in reducing the risk of cardiovascular disease, cancer, and the body's natural degeneration related to the early-aging process. This study aims to determine changes in antioxidant activity and levels of betacyanin from fermented dragon fruit and beetroot as functional drinks during different fermentation times. The results showed that there was a correlation between fermentation time and antioxidant activity in its ability to counteract free radicals, ferric reducing antioxidant power (FRAP), and the levels of betacyanin produced. Longer fermentation time caused an increase in free radical inhibition and reduction of iron ions but reduced the levels of betacyanin. The optimum value of free radical inhibitory activity (DPPH) was obtained in the 12-day fermented dragon fruit drink with an inhibitory value of 80.76%, ability to reduce iron ions by 197.94 µg ascorbic acid mL-1, and betacyanin level of 0.055 mg L-1Keywords: antioxidants, dragon fruit, betacyanin, beetroot, functional beverages ABSTRAKKombucha merupakan minuman tradisional hasil olahan fermentasi teh yang kaya polifenol dengan konsorsium bakteri dan yeast (SCOBY). Buah naga dan umbi bit memiliki polifenol dan senyawa betasianin yang cukup tinggi sebagai antioksidan yang bermanfaat dalam menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, penyakit kanker dan degenerasi alami tubuh terkait proses penuaan dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan aktivitas antioksidan dan kadar betasianin dari fermentasi buah naga maupun umbi bit sebagai minuman fungsional selama waktu fermentasi yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya korelasi antara waktu fermentasi terhadap aktivitas antioksidan dalam kemampuannya menangkal radikal bebas, kemampuan mereduksi ion besi (FRAP), dan kadar betasianin yang dihasilkan. Semakin lama waktu fermentasi menyebabkan peningkatan penghambatan radikal bebas dan reduksi ion besi, namun menurunkan kadar betasianin. Nilai aktivitas penghambatan radikal bebas (DPPH) optimum diperoleh dari minuman fermentasi buah naga selama waktu fermentasi 12 hari dengan nilai penghambatan sebesar 80,76%, kemampuannya dalam mereduksi ion besi sebesar 197,94 µg asam askorbat mL–1, dan kadar betasianin sebesar 0,055 mg L–1
BIOCHEMICAL CHARACTERIZATION OF RECOMBINANT PHYTASE ENZYME (phyK) FROM Klebsiella sp. ASR1 ENCAPSULATED WITH ALGINATE Hidayatullah, Muhammad Eka; Sajidan, .; Susilowati, Ari; Mkumbe, Baraka Stewart; Greiner, Ralf
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.584 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v7i1.2997

Abstract

Karakterisasi Biokimia Enzim Fitase Rekombinan (phyK) dari Klebsiella sp. ASR1 Yang Dienkapsulasi Dengan AlginatEnzim fitase melepas molekul fosfor pada atom C dari benzena Inositol fitat. Tetapi fitase memiliki kelemahan tidak mampu bertahan terhadap kondisi ekstrim dalam lambung nonruminansia. Solusi dalam penelitian ini yaitu fitase dienkapsulasi menggunakan alginat. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi fitase setelah dienkapsulasi menggunakan alginate. Hasil penelitian ini yaitu fitase yang dienkapsulasi memiliki aktivitas tertinggi pada pH 6,0, sedangkan fitase tanpa enkapsulasi pada pH 5,0. Suhu optimum untuk aktivitas tertinggi fitase yang dienkapsulasi yaitu 70ºC, sedangkan fitase tanpa enkapsulasi 37ºC. Untuk perlakuan penambahan ion logam, aktivitas tertinggi fitase yang dienkapsulasi terjadi dengan penambahan 0,1 mM Fe2+ dan 1,0 mM Ca2+, sedangkan fitase tanpa enkapsulasi dengan penambahan 0,1 mM Fe2+. Berdasarkan hasil penelitian ini, fitase yang dienkapsulasi memiliki keunggulan lebih banyak dibandingkan dengan fitase tanpa enkapsulasi, karena mampu bertahan pada pH dan suhu tinggi, dan beberapa efek ion logam.Kata Kunci: alginat, asam fitat, enkapsulasi, fitase, fitase rekombinanABSTRACTPhytase enzymes release phosphorus molecules on the C atom from benzene inositol phytate. But phytase has the disadvantage of being unable to withstand extreme conditions in the non-ruminant stomach. The solution in this research was phytase encapsulated using alginate. This study aims to characterize phytase after being encapsulated using alginate. The results of this study were the encapsulated phytase had the highest activity at pH 6.0, while the unencapsulated phytase at pH 5.0. The optimum temperature for the highest activity of the encapsulated phytase was 70ºC, while the unencapsulated phytase 37ºC. For treatment of metal ion addition, the highest activity of the encapsulated phytase occurred with the addition of 0.1 mM Fe2+ and 1.0 mM Ca2+, while the unencapsulated phytase with the addition of 0.1 mM Fe2+. Based on the results of this study, the encapsulated phytase had more advantages compared to the unencapsulated phytase, as the former withstand high pH and temperature, and some metal ion effects.
PERBANYAKAN AKASIA HIBRIDA (Acacia mangium × Acacia auriculiformis) MELALUI SUBKULTUR BERULANG Yelnititis, Yelnititis; Sunarti, Sri
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jbbi.v7i1.3113

Abstract

In vitro culture is a promising technique for mass propagation of high-value species. Study of propagation for Acacia hybrid (A. mangium x A. auriculiformis) through this technique has been conducted using single node stem from seedlings as explants. Growth medium used was modified Murashige and Skoog (MS), basal medium Woody Plant Medium (WPM), and Gamborg (B5) supplemented. The study was conducted in two stages, namely shoot induction and shoot multiplication. The treatment tested was the Benzyl Adenine (BA) supplementation at the concentration of 0.3; 0.7; and 1.0 mgL-1 of. Observation was conducted on the frequency of shoot induction, number of shoot, shoot length and visual performance of the culture. The result showed that treatment of BA 0.7 mgL-1 on modified MS medium is the best for shoot induction, shoot multiplication and visual performace of the culture. The average of number of shoot was 2.6; 5.0 and 7.7 shoots on the first three consecutive subcultures. Changing to different basal medium on the fourth subculture showed that the treatment of BA 0.7 mgl-1 is the best condition for shoot regeneration (12.60 shoots) and shoot length (6.97 cm). The culture from this treatment showed the best visual morphological performance.Keywords:Acacia hybrid; multiplication; subculture; in vitro; BA. ABSTRAKKultur in vitro merupakan suatu teknik yang menjanjikan untuk perbanyakan massal spesies-tanaman bernilai tinggi. Penelitian perbanyakan akasia hibrid (A. mangium x A. auriculiformis) melalui kulturin vitro telah dilakukan dengan menggunakan eksplan berupa batang satu buku yang berasal dari anakan. Media tumbuh yang digunakan adalah media dasar Murashige dan Skoog (MS) yang sudah dimodifikasi, media dasar Woody Plant Medium (WPM), dan Gamborg (B5). Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu induksi tunas dan perbanyakan tunas. Perlakuan yang diuji adalah penggunaan Benzyl Adenine (BA) dengan konsentrasi 0,3; 0,7 dan 1,0 mg L-1. Pengamatan dilakukan terhadap waktu induksi tunas, jumlah tunas, tinggi tunas dan penampilan biakan secara visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan BA 0,7 mg L-1 pada media MS modifikasi merupakan perlakuan terbaik untuk induksi tunas, perbanyakan tunas, tinggi tunas, dan kondisi biakan secara visual. Jumlah rata-rata tunas yang dihasilkan dari perlakuan ini adalah 2,6; 5,0 dan 7,7 tunas pada subkultur pertama, kedua dan ketiga. Pada penggunaan media dasar berbeda pada subkultur keempat menunjukkan bahwa perlakuan BA 0,7 mg L-1 merupakan perlakuan terbaik dengan jumlah tunas sebanyak 12,60 tunas dan rata-rata tinggi tunas 6,97 cm. Biakan yang dihasilkan dari perlakuan tersebut mempunyai penampilan yang baik dan normal.

Page 1 of 4 | Total Record : 35