cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI)
ISSN : 24422606     EISSN : 2548611X     DOI : -
JBBI, Indonesian Journal of Biotechnology & Bioscience, is published twice annually and provide scientific publication medium for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to biotechnology and bioscience. This journal accepts original papers, review articles, case studies, and short communications. The articles published are peer-reviewed by no less than two referees and cover various biotechnology subjects related to the field of agriculture, industry, health, environment, as well as life sciences in general. Initiated at the then Biotech Centre, the journal is published by the Laboratory for Biotechnology, the Agency for the Assessment and Application of Technology, BPPT.
Arjuna Subject : -
Articles 542 Documents
METODE EKSTRAKSI DNA TANAMAN TANPA PRESIPITASI ETANOL UNTUK KEGIATAN POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) Nugroho, Kristianto; Terryana, Rerenstradika Tizar; Reflinur, .; Lestari, Puji
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 6 No. 1 (2019): June 2019
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.537 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v6i1.3082

Abstract

A Simplified Plant DNA Extraction Protocol without Ethanol Precipitation for Polymerase Chain Reaction (PCR) Activities ABSTRACTMolecular-based research in agriculture includes DNA extraction stage involving DNA precipitation using ethanol or isopropanol which tends to take a long time. The purpose of this study was to obtain a plant DNA extraction method for Polymerase Chain Reaction (PCR) activities without going through the ethanol precipitation stage. Five important agricultural commodity crops, namely rice, corn, soybeans, chilies, and shallots were extracted by DNA using the modified Doyle and Doyle method. After the extraction phase using chloroform and isoamil alcohol solvents, the supernatant obtained was not precipitated using ethanol but was directly diluted and used as a template in PCR activities using two pairs of Simple Sequence Repeat (SSR) markers. The results showed that all samples could be well amplified, and amplicon tape visualized in both 1% agarose gel and 6% polyacrylamide gel were clearly visible. This method could save time and material, and reduce the dependence on liquid nitrogen. But this method is still limited to PCR requirements only, and cannot be used for activities that require high quality and quantity of DNA such as Next Generation Sequencing (NGS), digestion, and hybridization.Keywords: DNA extraction, ethanol precipitation, liquid nitrogen, PCR, SSR,  ABSTRAKPenelitian berbasis molekuler pada bidang pertanian mencakup tahapan ekstraksi DNA yang melibatkan presipitasi DNA menggunakan etanol atau isopropanol yang cenderung memakan waktu lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh metode ekstraksi DNA tanaman untuk kegiatan Polymerase Chain Reaction (PCR) tanpa melalui tahapan presipitasi etanol. Lima tanaman komoditas pertanian penting yaitu padi, jagung, kedelai, cabai, dan bawang merah diekstraksi DNA-nya menggunakan metode Doyle and Doyle yang dimodifikasi. Setelah tahap ekstraksi menggunakan pelarut kloroform dan isoamil alkohol, supernatan yang terbentuk tidak dipresipistasi menggunakan etanol melainkan langsung diencerkan dan digunakan sebagai template dalam kegiatan PCR menggunakan dua pasang marka Simple Sequence Repeat (SSR). Hasil menunjukkan bahwa seluruh sampel dapat teramplifikasi dengan baik serta pita hasil amplikon yang tervisualisasi baik pada gel agarosa 1% maupun gel poliakrilamid 6% terlihat jelas. Metode ini dapat menghemat waktu dan bahan serta mengurangi ketergantungan pemakaian nitrogen cair. Tetapi metode ini masih terbatas hanya untuk kebutuhan PCR saja dan tidak dapat digunakan untuk kegiatan yang membutuhkan DNA dengan kualitas serta kuantitas tinggi seperti Next Generation Sequencing (NGS), digesti, maupun hibridisasi.Kata Kunci: ekstraksi DNA, nitrogen cair, PCR, presipitasi etanol, SSR
KARAKTERISASI ISOLAT BAKTERI FIBRINOLITIK WU 021055* ASAL PERAIRAN PANTAI PAPUMA, JEMBER Sri Pananjung, Ajeng Maharani; Ulfa, Evi Umayah; Senjarini, Kartika; Arimurti, Sattya
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 2 No. 1 (2015): June 2015
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.11 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v2i1.528

Abstract

A blood clot (thrombus) in a blood stream is formed due to a circulatory system imbalance in the hemostasis which results in plug of blood vessels. The suppliy of nutrients and oxygen to the tissues is inhibited (ischemia) by the accumulation of thrombus and embolus in the blood vessel. This prosses is the main cause for further atherotrombotic diseases such as myocardial infraction and cerebral infraction. This disease could be overcome by thrombolytic therapy by using fibrinolytic protease enzyme. Fibrinolytic activity of protease enzymes have been studied from various species of bacteria. Bacterial isolate of WU 021055* obtained from Papuma coastal waters has demonstrated fibrinolytic activity. This research was aimed to identify the bacterial isolate through morphological characterization (colony and cell morphology), physiological characterization (indole test, carbohydrates fermentation test (glucose, lactose, sucrose and fructose), catalase test, starch hydrolysis test, and the pH effect test), and molecular identification using 16S rRNA. Based on those characterizations, the bacterial isolate of WU 021055* shows a high similarity to Bacillus aerius.Keywords: Atherotrombosis, fibrinolytic, identification, characterization, bacteria ABSTRAKBekuan darah (trombus) dalam peredaran darah terbentuk akibat ketidakseimbangan sistem sirkulasi dalam hemostasis yang menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Akumulasi trombus dan embolus pada pembuluh darah mengakibatkan suplai nutrisi dan oksigen ke jaringan terhambat (iskemia) dan bahkan kematian jaringan (infark). Pembentukan ini merupakan etiologi dari penyakit aterotrombosis seperti infark miokard dan infark serebral. Penyakit akibat trombosis ini dapat diatasi dengan terapi trombolitik dengan enzim protease fibrinolitik. Aktivitas enzim protease fibrinolitik telah diteliti dari berbagai spesies bakteri. Isolat bakteri WU 021055* asal perairan pantai papuma tampak memiliki aktivitas fibrinolitik. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi isolat bakteri melalui karakterisasi morfologi (morfologi koloni dan sel), karakterisasi fisiologis (uji indol, uji fermentasi karbohidrat (glukosa, laktosa, sukrosa dan fruktosa), uji katalase, uji hidrolisis pati, dan uji pengaruh pH), dan identifikasi secara molekuler menggunakan 16S rRNA. Berdasarkan karakterisasi morfologi, fisiologi, dan marker 16S rRNA, isolat bakteri WU 021055* menunjukkan kemiripan yang tinggi dengan Bacillus aerius.Kata kunci: Aterotrombosis, fibrinolitik, identifikasi, karakterisasi, bakteri
PENENTUAN JENIS KELAMIN BURUNG KENARI (Serinus canaria) BERDASARKAN GEN Chromodomain Helicase DNA-Binding 1 (CHD1) Akhrom, Afif Muhammad; Soedarmanto, Indarjulianto; Yanuartono, Yanuartono; Susmiati, Trini; Nururrozi, Alfarisa; Raharjo, Slamet
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.004 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v7i1.3178

Abstract

Phenotype determination of sex in young canaries is very low in accuracy. This study aimed to develop a genotypic sexing method in canaries. This study used 12 canaries consisting of 3 mature males, 3 mature females and 6 one-month-old canaries. Phenotypic sexing by cloacal observation was done on all birds, continued by genotypic sexing to identification CHD1 gene using polymerase chain reaction (PCR). The PCR used blood samples for mature canaries, and feather for mature and one-month-old canaries. The results of phenotypic observations showed that all mature male canaries had prominent and pointed cloaca forms, all mature females had flat and wide, whereas all one-month-old birds had a flat cloaca. The result of PCR showed a single band (500 bp) for mature male and double bands (500 bp and 300 bp) for mature female canaries. The PCR results of one-month-old canaries showed that there were one male and five females. Based on this study, it was concluded that genotypic sexing using the PCR method is effective in the sex determination of canaries.Keywords: canary, CHD1, genotype, PCR, sexing ABSTRAKPenentuan jenis kelamin burung kenari muda secara fenotip akurasinya sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis kelamin burung kenari secara genotip. Penelitian ini menggunakan 12 ekor burung kenari, terdiri dari 6 ekor dewasa (3 jantan, 3 betina) serta 6 ekor umur 1 bulan. Semua burung ditentukan jenis kelaminnya dengan mengamati kloaka dan identifikasi gen CHD1 menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR). Sampel DNA berasal dari darah dan bulu untuk burung dewasa serta bulu untuk burung umur 1 bulan. Pengamatan fenotip menunjukkan bahwa burung kenari dewasa jantan mempunyai bentuk kloaka menonjol dan runcing, dewasa betina berbentuk datar dan lebar, sedangkan semua burung umur 1 bulan mempunya bentuk kloaka datar. Hasil identifikasi gen CHD1 diperoleh adanya 1 pita gen sekitar 500 bp dari sampel darah dan bulu semua burung kenari dewasa jantan, dan 2 pita gen sekitar 500 bp dan 300 bp dari sampel semua burung kenari betina dewasa. Hasil PCR pada sampel burung umur 1 bulan menunjukkan bahwa 1 ekor jantan dan 5 ekor betina. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penentuan jenis kelamin secara genotip menggunakan gen CHD1 dapat dilakukan pada burung kenari.
Back Cover JBBI Vol 1, No 1, December 2014 Sriherwanto, Catur
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 1 No. 1 (2014): December 2014
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.652 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v1i1.1039

Abstract

AKTIVITAS Stenotrophomonas rhizophila DAN Trichoderma sp. DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Ganoderma boninense Rupaedah, Bedah; Amanda, Debby Viola; Indrayanti, Reni; Asiani, Nia; Sukmadi, Bambang; Ali, Asep; Wahid, Abdul; Firmansyah, Taufik; Sugianto, Mahmud
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 5 No. 1 (2018): June 2018
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3510.05 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v5i1.2767

Abstract

Activities of Stenotrophomonas rhizophila and Trichoderma sp. in Inhibiting the Growth of Ganoderma boninense ABSTRACTBasal stem rot (BSR) disease in oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) due to infection of Ganoderma boninense. Various efforts to overcome BSR disease has been done, such as by utilizing endophytic microbes. The purpose of this research was to determine the activities of Stenotrophomonas rhizophila and Trichoderma sp inhibiting the growth of G. boninense. This research was divided into three stages, namely: stability test of S. rhizophila activity against G. boninense; activity of chitinase and cellulase enzymes produced by S. rhizophila; the effectiveness of S. rhizophila and Trichoderma sp. on G. boninense in a greenhouse. The parameters observed were plant height, leaves number, chlorophyll content, disease incidence and severity. The stability testing of S. rhizophila activity against G. boninense showed 53% of inhibition. Chitinase activity showed negative result. While cellulase index was about 0.46. The effectiveness test showed the significantly different results on plant height, leaves number and chlorophyll content.Keywords: Chitinase, cellulase, Ganoderma boninense, Stenotrophomonas rhizophila, Trichoderma sp. ABSTRAKPenyakit busuk pangkal batang (BPB) pada tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) muncul karena diinfeksi oleh Ganoderma boninense. Berbagai upaya penanggulangan penyakit BPB telah dilakukan, diantaranya dengan memanfaatkan mikroba endofit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas bakteri Stenotrophomonas rhizophila dan Trichoderma sp. dalam menghambat pertumbuhan G. boninense. Penelitian ini dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu: pengujian stabilitas aktivitas S. rhizophila terhadap G. boninense; pengujian aktivitas enzim kitinase dan selulase yang dihasilkan oleh S. rhizophila; pengujian efektivitas S. rhizophila dan Trichoderma sp. terhadap G. boninense di rumah kaca. Parameter yang diamati pada pengujian efektivitas berupa tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah klorofil, kejadian dan keparahan penyakit. Uji stabilitas aktivitas S. rhizophila terhadap G. boninense menunjukkan adanya penghambatan rata-rata sebesar 53%. Uji aktivitas enzim kitinase pada bakteri S. rhizophila menunjukkan hasil negatif. Sedangkan indeks enzim selulase pada bakteri S. rhizophila sebesar 0.46. Pada uji efektivitas tampak hasil yang berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun dan kandungan klorofil.Kata Kunci: Kitinase, selulase, Ganoderma boninense, Stenotrophomonas rhizophila,    Trichoderma sp.
MANURE UNGGAS: SUPLEMEN PAKAN ALTERNATIF DAN DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN Yanuartono, Yanuartono; Nururrozi, Alfarisa; Indarjulianto, Soedarmanto; Haribowo, Nurman; Purnamaningsih, Hary; Raharjo, Slamet
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 5 No. 2 (2018): December 2018
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1472.076 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v5i2.2775

Abstract

Manure Poultry: Alternative Feed Supplements and Impacts on the EnvironmentABSTRACTThe increase in protein demand is now of serious concern as the human population is forecasted to rise to as much as 9.6 billion by 2050. The poultry industry is one of the largest and fastest growing sectors of livestock production in the world. Increased production results in increased sewage so that the impact on the emergence of environmental problems associated with increased air pollution, water, and soil. The sustainability of animal feeds is crucial in the development of livestock production systems, and feed efficiency can be improved by reusing poultry waste in livestock diets, thus diminishing the use of feed grains. There are several ways of disposing of poultry waste including burial, incineration, composting, fertilizer or source of biogas energy and feed for livestock. Poultry manure is a rich source of lignocelluloses, polysaccharides, proteins, minerals, and other biological materials. It is currently expected some problems can be overcome by utilizing poultry manure waste as an alternative feed source for livestock. This paper aims to review the negative effects of excessive chicken manure and its benefits as an alternative feed for livestock and fish.Keywords: alternative feed, livestock, pollution, poultry industry, poultry manure ABSTRAKKenaikan permintaan protein menjadi perhatian serius karena populasi manusia diperkirakan akan meningkat menjadi sebanyak 9,6 miliar orang pada tahun 2050. Industri perunggasan merupakan salah satu sektor produksi ternak terbesar dan tercepat di dunia. Meningkatnya hasil produksi tersebut akan menambah jumlah limbah sehingga berdampak pada munculnya masalah lingkungan yang terkait dengan peningkatan polusi udara, air dan tanah. Ketersediaan pakan hewan secara berkesinambungan sangat penting dalam pengembangan sistem produksi ternak dan efisiensi pakan dapat ditingkatkan dengan menggunakan kembali limbah unggas sebagai bahan pakan ternak, sehingga mengurangi penggunaan biji-bijian sebagai sumber pakan. Ada beberapa metode mengurangi jumlah manure ayam termasuk penguburan, insinerasi, pengomposan, pemupukan atau sumber energi biogas dan pakan ternak. Kotoran unggas adalah sumber lignoselulosa, polisakarida, protein, mineral dan bahan biologi lainnya. Saat ini diperkirakan beberapa permasalahan bisa diatasi dengan memanfaatkan limbah manure unggas sebagai sumber pakan alternatif bagi ternak. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dampak negatif dari manure ayam yang berlebihan dan manfaatnya sebagai pakan alternatif untuk ternak dan ikan.Kata Kunci: industri perunggasan, manure ayam, pakan alternatif, polusi, ternak
OPTIMALISASI MEDIA PRODUKSI AMILOGLUKOSIDASE MENGGUNAKAN FERMENTASI MEDIA PADAT Sunaryanto, Rofiq; Marasabessy, Ahmad
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 3 No. 1 (2016): June 2016
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.689 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i1.19

Abstract

Amiloglukosidase merupakan salah satu enzim yang banyak digunakan dalam industri gula cair. Dalam proses fermentasi, komposisi medium fermentasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas amiloglukosidase. Optimalisasi media padat proses produksi amiloglukosidase secara fermentasi padat dengan menggunakan isolat Aspergillus niger telah dilakukan. Optimalisasi media padat dilakukan dengan menentukan rasio dedak:pati terbaik yang selanjutnya dikombinasikan dengan beberapa sumber nitrogen. Dalam penelitian ini sumber nitrogen yang digunakan adalah sumber nitogen organik dan sumber nitrogen anorganik. Sumber nitrogen organik yang digunakan antara lain Corn Step Liquor dan pepton, adapun sumber nitrogen anorganik yang digunakan adalah amonium nitrat, amonium sulfat, dan amonium pospat. Fermentasi dilakukan selama 120 jam pada suhu 30ºC.Hasil percobaan menunjukkan bahwa kombinasi perbandingan media sumber karbon dedak:pati 1:1 menghasilkan produktivitas amiloglukosidase tertinggi 724 Unit/ml. Amonium sulfat merupakan sumber nitrogen anorganik terbaik dan mampu menghasilkan produktivitas amiloglukosidase sebesar 823 Unit/ml, sedangkan Corn Step Liquor (CSL) yang merupakan sumber nitrogen organik mampu menghasilkan produktivitas amiloglukosidase lebih tinggi dibandingkan pepton dengan produktivitas sebesar 884 Unit/ml.Keywords: Aspergillus niger, amyloglucosidase, fermentation, carbon source, nitrogen source  ABSTRAKAmiloglukosidase adalah salah satu enzim yang banyak digunakan dalam industri gula cair. Dalam proses fermentasi, komposisi medium fermentasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas amiloglukosidase. Pada penelitian ini telah dilakukan optimalisasi media padat pada proses produksi amiloglukosidase secara fermentasi padat dengan menggunakan isolat Aspergillus niger. Optimalisasi media padat dilakukan dengan menentukan rasio dedak:pati terbaik yang selanjutnya dikombinasikan dengan beberapa sumber nitrogen. Sumber nitrogen yang digunakan adalah sumber nitrogen organik dan anorganik. Sumber nitrogen organik yang digunakan antara lain adalah Corn Step Liquor (CSL) dan pepton, adapun sumber nitrogen anorganik yang digunakan adalah amonium nitrat, amonium sulfat, dan amonium fosfat. Fermentasi dilakukan selama 120 jam pada suhu 30ºC. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kombinasi perbandingan media sumber karbon dedak:pati 1:1 menghasilkan produktivitas amiloglukosidase tertinggi, yaitu 724 unit/mL. Amonium sulfat merupakan sumber nitrogen anorganik terbaik dan mampu menghasilkan produktivitas amiloglukosidase sebesar 823 unit/mL, sedangkan CSL menghasilkan produktivitas amiloglukosidase lebih tinggi dibandingkan pepton, yakni sebesar 884 unit/mL.Kata kunci: Aspergillus niger, amiloglukosidase, fermentasi, sumber karbon, sumber nitrogen
KONSENTRASI MALONDIALDEHID PADA TIKUS DIABETIK YANG DIBERI PAKAN BERBAHAN SAGU (Metroxylon sagu) DAN Moringa oleifera Muhajirin, Rahmah Nadea Fitriyani; Fauziyah, A'immatul; Marjan, Avliya Quratul
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 6 No. 2 (2019): December 2019
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1751.818 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v6i2.3630

Abstract

Malondialdehyde Concentration in Diabetic Rats Given Feed Made from Sagu (Metroxylon sagu) and Moringa oleifera ABSTRACTHyperglycemia in type 2 diabetes mellitus (DMT2) can cause oxidative stress characterized by increased malondialdehyde (MDA) production. Flavonoids have antioxidant activity that can suppress the production of free radicals that cause oxidative stress. Flavonoids are found in Cersa mori (CM), a food product made from sagu (Metroxylon sagu) and Moringa oleifera. This study aims to analyze the effect of CM administration on MDA levels in alloxan-induced diabetic rats. Antioxidant activity and total CM flavonoids were analyzed using DPPH reduction and colorimetry methods. Thirty-two Wistar rats were divided into 4 groups: negative control (K1), positive control 1 (K2), positive control 2 (K3) and treatment of feeding 5 g CM/200 g BW per day (K4). The intervention was carried out for 30 days. MDA levels were examined before and after the intervention by spectrophotometry. The results showed a significant decrease in MDA levels in K2, K3, and K4 by -11.5 ± 3.39 μM, -10.5 ± 4.32 μM, and -14.9 ± 2.85 μM, respectively. The lowest decrease in MDA levels was found in K4 fed with CM (p < 0.05).Keywords: alloxan; diabetes; flavonoid; malondialdehyde; resistant starchABSTRAKHiperglikemia pada diabetes melitus tipe 2 (DMT2) dapat menimbulkan stres oksidatif yang ditandai dengan peningkatan produksi malondialdehid (MDA). Flavonoid memiliki aktivitas antioksidan yang mampu menekan produksi radikal bebas penyebab stres oksidatif. Flavonoid terdapat di dalam produk pangan Cersa mori (CM) yang terbuat dari sagu (Metroxylon sagu) dan kelor (Moringa oleifera). Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian CM terhadap kadar MDA tikus diabetes yang diinduksi aloksan. Aktivitas antioksidan dan total flavonoid CM masing-masing dianalisis menggunakan metode reduksi DPPH dan kolorimetri.Tiga puluh dua ekor tikus Wistar dibagi menjadi 4 kelompok: kontrol negatif (K1), kontrol positif 1 (K2), kontrol positif 2 (K3), dan perlakuan yang diberikan 5 g CM/200 g BB per hari (K4). Intervensi dilaksanakan selama 30 hari. Kadar MDA diperiksa sebelum dan setelah intervensi secara spektrofotometri. Hasil menunjukkan adanya penurunan signifikan kadar MDA pada K2, K3 dan K4 yaitu secara berturut-turut sebesar -11,5 ± 3,39 µM; -10,5 ± 4,32 µM; dan -14,9 ± 2,85 µM. Penurunan kadar MDA terendah terdapat pada K4 yang diberikan CM (p < 0,05).
Appendix JBBI Vol 2, No 1, June 2015: Keyword Index and Author Index Sriherwanto, Catur
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 2 No. 1 (2015): June 2015
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.867 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v2i1.1060

Abstract

Preface JBBI Vol 4, No 2, December 2017: Foreword and Acknowledgement Tajuddin, Teuku
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 4 No. 2 (2017): December 2017
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.164 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v4i2.2612

Abstract