cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 913 Documents
Makna Seni Ukiran Gorga Pada Rumah Adat Batak Sianipar, Karolina; Gunardi, Gugun; -, Widyonugrahanto; Rustiyanti, Sri
PANGGUNG Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i3.20

Abstract

Tulisan ini berjudul “Makna seni ukiran gorga pada rumah adat batak”. Ukiran gorga merupakan salah satu bentuk kesenian ukiran khas kebudayaan adat batak. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui berbagai bentuk dari ukiran gorga pada rumah adat batak. Bentuk ukiran gorga bermacam-macam, sehingga pada setiap bentuk ukiran gorga memiliki makna yang  berbeda-beda. Oleh karena itu, tulisan ini juga bertujuan untuk memahami makna yang ada pada ukiran gorga. Dalam pemaknaan ukiran gorga menggunakan pendekatan semiotika. Semiotika ialah pendekatan ilmu yang mempelajari tentang tanda. Pada ukiran gorga rumah adat batak memiliki makna kehidupan, yang mana hal ini tergambar melalui bentuk-bentuk pada setiap ukiran.Kata kunci : Ukiran, Gorga, Rumah Adat Batak
Pertunjukan Pajoge Makkunrai pada Masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan -, Jamilah
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.160

Abstract

ABSTRACT This paper discusses the Performances Pajoge Makkunrai using textual approach multilapis Marco de Marinis. They were collected by observation and interview  with the Pajoge  Makkunrai players and the prominent  figures  of the lokal society.  The research  result  of Pajoge  Makkunrai are consists of dancers (Pajoge), nurse (Indo pajoge), guardian (Pengibing),  musician (Paganrang), dance, consists of Tettong mabborong  (assembled),   Mappakaraja  (reverence),  Mappasompe (gift giving), Ballung (lay down),  Mappaccanda  (rejoice),  Mattekka (cross), Massesere  (sur- round), Majj u lek ka  le bba (tre ad width) ,  Mattap po (s owi ng), Mag gali o  (con tor t  bod y), Mappaleppa  (clapping)  and motion  Massimang   (goodbye). Playing (Paganrang) consists of two tambour,  and one gong  beater.  The musical  accompaniment  consists  of a drum beat and the lyrics sung. Pattern floor consists  of a range themselves one (mabbulo sipeppa), circle (mallebu), and quadrangular   (sulapa eppa).  Beautiful makeup dadasa,  and costumes  is baju bodo  and pakambang. Jungge accessories,  fans and shawls  property.  The show of Pajoge  Makkunrai  on the stage (Baruga). Keywords: Pajoge,  Indo Pajoge,  and Pengibing  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertunjukan Pajoge Makkunrai  dengan menggunakan pendekatan tekstual multilapis Marco de Marinis. Pengumpulan data dengan cara observasi dan wawancara dengan para pemain Pajoge Makkunrai dan tokoh- tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertunjukan Pajoge Makkunrai terdiri atas penari (Pajoge), inang pengasuh (Indo Pajoge), pengawal (Pengibing), pemusik (Paganrang), ge r ak  tari,  te rdir i  atas  Tetto ng  m ab boro ng ( be rkumpul ),  Mappak araja (pe n gh or ma ta n) ,  M ap pa so mp e  (member i  h ad ia h) ,  B al l u ng (m e r e b a hk an  ba da n) , Mappaccanda (bergembira), Mattekka (menyeberang), Massesere (mengelilingi), Majjulekka lebba  (melangkah lebar), Mattappo  (menabur), Maggalio  (meliukkan badan), Mappaleppa (bertepuk tangan) dan gerak Massimang  (pamit). Musik iringan terdiri atas tabuhan gendang dan syair atau elong  kelong.  Pola lantai bersaf satu (mabbulo sipeppa), lingkaran (mallebu),  dan segi empat (Sulapa Eppa). Tata rias cantik disertai dadasa,  kostum baju bodo  dipakai di istana,   baju pakambang  dipakai di luar istana. Asesoris jungge, properti kipas dan selendang. Pertunjukan Pajoge Makkunrai  bertempat pada sebuah panggung (Baruga). Kata kunci: Pajoge,  Indo Pajoge,  dan Pengibing
Kitsch dalam Iklan TV Komersial dan Selera Konsumer Indonesia Hanif, Wildan; Piliang, Yasraf Amir
PANGGUNG Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.195

Abstract

ABSTRAKIklan TV komersial memiliki hubungan timbal balik dengan selera konsumer. Penelitian mengenai iklan TV bermuatan kitsch, yang sering dikaitkan dengan selera rendah ini, mencoba menjawab bagaimana gambaran selera masyarakat konsumer Indonesia pada tahun 2015. Metode yang digunakan adalah metode lintas disiplin dengan pendekatan Cultural studies. Penelitian ini menguraikan gambaran selera massa konsumer Indonesia sebagai dampak dari tayangan iklan TV komersial. Dengan mengambil sampel “Iklan Biji Selasih Serbuk Panas Dalam Bintang Toedjoe”, didapati bahwa iklan tersebut mengandung unsur budaya global yang bercampur (hibrid) dengan budaya lokal dan mitos populer khas Indonesia. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa selera masyarakat Indonesia, terutama kelas menengah bawah, sangat terkait dengan karakter manusia Indonesia yang memiliki naluri berkesenian yang tinggi, suka pamer, percaya tahayul, mudah dipengaruhi oleh budaya dari luar, dan bersifat hipokrit. Kata Kunci : Kitsch, Selera Konsumer, Iklan TVABSTRACTCommercial TV advertising has a considerable influence on the tastes of consumers. Research on the kitsch-laden TV ads, which are often associated with bad taste, try to answer how is the consumer tastes of the people of Indonesia in 2015. The method used is the method of cross-disciplinary approach to Cultural studies. This study provides a picture of the mass consumer tastes Indonesia as a result of commercial TV ad impressions. By taking samples of “Biji Selasih Serbuk Panas Dalam Bintang Toedjoe” " TV ad, found that the advertisement contained elements of global culture mixed (hybrid) with the local culture and popular myths typical of Indonesia. The results of this study also showed that the tastes of Indonesian people, especially the lower middle class, strongly associated with the character of Indonesian people who have a high artistic instinct, happy to show off, but easily influenced by the culture from the outside, believe in superstitious, and is hypocritical.Keywords: Kitsch, Consumer Tastes, TV ad
Internalisasi Nilai Kebersamaan melalui Pembelajaran Seni Gamelan (Pendidikan Karakter bagi Mahasiswa) Afryanto, Suhendi
PANGGUNG Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i1.85

Abstract

ABSTRACT The research is motivated by imbalance behaviors among the younger generation as the responsible generation for continuing the national aspiration which has been in very alarming point. These im­ balance behaviors are (1) integrity crisis and promiscuity among students, (2) gang fight between students who are intellectually should set a good example to the society (3) distortion of togetherness value, and (4) widespread loss of national character or identity that caused multi dimension crisis which leads to disintegration process. Consequently, it is necessary to provide an alternative solution to restore peaceful life and uphold togetherness value as a part of distinctive Indonesian national character through formal educational dimension. Keywords: Togetherness Value­Gamelan­Character Education  ABSTRAK Penelitian ini termotivasi oleh ketidakseimbangan perilaku di kalangan generasi muda se- bagai generasi yang bertanggung jawab untuk melanjutkan aspirasi nasional yang telah berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Ketidakseimbangan perilaku itu ialah (1) krisis integritas dan pergaulan bebas di kalangan mahasiswa, (2) tawuran antara ma- hasiswa yang secara intelektual seharusnya memberikan contoh yang baik kepada ma- syarakat (3) distorsi nilai kebersamaan, dan (4) hilangnya karakter atau identitas nasional secara luas yang menyebabkan krisis multi dimensi yang mengarah pada proses disinte- grasi. Oleh karena itu, perlu memberikan solusi alternatif untuk memulihkan kehidupan yang damai dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan sebagai bagian dari karakter nasio- nal khas Indonesia melalui dimensi pendidikan formal. Kata kunci: nilai kebersamaan, Pembelajaran Seni Gamelan, pendidikan karakter  
The Traditional Art of Terebang Gebes in Mikanyaah Munding Culture Gunardi, Gugun; Ampera, Taufik; Yunasaf, Unang
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.277

Abstract

ABSTRAKKonservasi Budaya Lokal Mikanyaah Munding sebagai Landasan Village Breeding Center Kerbau adalah penelitian yang dilaksanakan oleh kami terkait dengan bentuk penangkaran kerbau berbasis budaya tradisional, yang dilaksanakan di Desa Cikeusal-Tasikmalaya. Di dalam budaya “Mikanyaah Munding” juga ternyata terdapat pelestarian berbagai seni tradisi Sunda, diantaranya adalah Seni Terbang Gebes. Dalam tulisan ini digunakan metode penelitian kualitatif dengan kajian etnografi, sedangkan teknik pengumpulan data digunakan teknik wawancara. Dari pembahasan hasil penelitian diperoleh antara lain; sistem penangkaran kerbau berbasis budaya lokal Mikanyaah Munding, yang di dalamnya terdapat; kebiasaan masyarakat setempat di dalam memperlakukan ternak kerbau, kosa kata khusus terkait dengan peternakan kerbau, hajat lembur yang ada hubungannya dengan peternakan kerbau, dan berbagai bentuk kesenian tradisional Sunda yang dilaksanakan dalam rangka budaya Mikanyaah Munding. Dalam artikel ini akan dibahas salah satu kesenian terkait, yaitu Seni Terbang Gebes.Kata Kunci: Budaya, Mikanyaah-Munding, Seni Terbang GebesABSTRACTConservation of local culture “Mikanyaah Munding” (or Nurturing Buffalos) as the base of Village Breeding Center of “Kerbau” is a research done on traditional “kerbau” breeding in Cikeusal, Tasikmalaya. “Mikanyaah Munding” reserve a variety of Sundanese traditional art performance, one of which is “Seni Terbang Gebes”. This essay uses qualitative method involving ethnography as its perspective. The data is collected from interviews. Our findings from analysis are: the habit of locals in treating their buffalos; specific vocabulary on breeding; festivities in relation to breeding and all kinds of Sundanese traditional art performance included in “Mikanyaah Munding”. This essay discusses one of its art performance, “Seni Terbang Gebes”.Keywords: Culture, Mikanyaah Munding, Seni Terbang Gebes 
Spiritualitas Budaya Jawa dalam Seni Tari Klasik Gaya Surakarta Pamardi, Silvester; Haryono, Timbul; -, R.M. Soedarsono; Kusmayati, A.M. Hermien
PANGGUNG Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i2.118

Abstract

ABSTRACT Javanese classical dance has grown dynamically in line with the history of the palaces in Central Java, especially after the fifteenth century that began in the era of the kingdom of Demak. It has lived and thrived in the court of Mataram Islam since the period of Panembahan Senapati at Kotagede, the time of Sultan Agung in the palace Plered, until the moving of the palace of Mataram to Kartasura.This research methods is focused on the use of qualitative data with the questions of ‘why’ and ‘how’ to unravel the mystery behind of the phenomenon. This actions are carried out with approach of multi- disciplinary such as science of history, social science, and choreography.The events of Gianti agreement in 1755 did not give only influence and impact on the power of the king of Mataram to had to be split into two regions, namely the region of Surakarta and Yogyakarta Sul- tanate region, but also had implications to the life of Javanese culture. The culture of Javanese which was originally derived from the one kingdom, namely  Mataram Kasunanan, then divided into two styles, namely Javanese culture of Surakarta and Yogyakarta. Fortunately, in the palace of Kasunanan Surakarta as well as in the Kasultanan Yogyakarta palace is still being developed classical Javanese arts based on cultural and adiluhung values; respectivelly developed in the different patterns or styles. The values of spiritual ‘Javanese’ is remained as a source of reference. Keywords: the art of dance, classical, spirituality of Javanese  ABSTRAK Seni tari klasik Jawa telah berkembang secara dinamis seiring dengan sejarah perkembang- an keraton-keraton di Jawa Tengah, terutama setelah abad XV yang dimulai pada era kerajaan Demak. Seni tari klasik Jawa hidup dan berkembang di lingkungan istana Mataram Islam sejak periode Panembahan Senapati di Kotagede, atau jaman Sultan Agung di keraton Plered sampai dengan berpindahnya keraton Mataram ke Kartasura.Metode penelitian ini konsentrasi utamanya pada penggunaan data kualitatif dengan per- tanyaan-pertanyaan ’mengapa’ dan ’bagaimana’ untuk mengungkap misteri yang berada di belakang fenomena yang ada. Tindakannya dilakukan dengan pendekatan multi disiplin dari ilmu-ilmu sejarah, sosial, dan koreografi.Peristiwa perjanjian Gianti pada tahun 1755 tidak saja berpengaruh dan berdampak pada kekuasaan raja Mataram yang harus membagi menjadi dua wilayah, yaitu wilayah Kasunanan Surakarta dan wilayah Kasultanan Yogyakarta, tetapi juga berimplikasi pada kehidupan ke- budayaan Jawa. Kebudayaan Jawa yang semula bersumber dari satu kerajaan, yaitu Mataram Kasunanan, kemudian menjadi dua corak, yaitu kebudayaan Jawa Surakarta dan Yogyakarta. Namun demikian, baik di istana Kasunanan Surakarta maupun istana Kasultanan Yogyakarta tetap mengembangkan kesenian klasik Jawa berdasarkan nilai-nilai budaya adiluhung walau- pun dalam corak atau gaya yang berbeda. Nilai-nilai spiritualitas ‘kejawen’ tetap menjadi sum- ber acuannya. Kata kunci: seni tari, klasik, spiritualitas Jawa
Penokohan Film Sawung Kampret Karya Dwi Koendoro (Dwi Koen) Dalam Perspektif Strukturalisme Gayatri Puspitasari, Dyah
PANGGUNG Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i1.11

Abstract

Tulisan ini berisi  kajian penokohan film Sawung Kampret yang diadaptasi dari komik Le- genda Sawung Kampret. Kajian ini menarik karena dua hal. Pertama, komik dan film adaptasi- nya diciptakan dan disutradarai oleh orang yang sama, yakni Dwi Koendoro. Kedua, kajian film yang diadaptasi dari komik Indonesia merupakan yang pertama. Melalui pendekatan struktural Ferdinand de Saussure, kajian berpusat pada relasi berbagai elemen penokohan yang membentuk keutuhan struktur narasi film. Didapat beberapa temuan menarik dimana unsur kelucuan pada penokohan film Sawung Kampret direlasikan dengan sejarah, hingga mampu membentuk narasi asosiatif yang mengusung nasionalisme berdasar nilai kemanusiaan, kebe- ragaman etnis dan budaya. Fakta tersebut menunjukkan bahwa melalui film Sawung Kampret, Dwi Koendoro mampu menciptakan perspektif struktur baru dengan melakukan kritik terha- dap struktur lama. Pasangan berlawanan (binary opposition) dalam sistem lama coba diperta- nyakan. Sebagai hasil akhir maka dapat disimpulkan bahwa film Sawung Kampret merupakan film parodi sejarah yang sarat akan muatan pesan moral dan nasionalisme.   Kata kunci: film, adaptasi, penokohan, struktur, relasi
Kreativitas Seniman Tingkilan Kutai Kalimantan Timur Irawati, Eli
PANGGUNG Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i4.150

Abstract

ABSTRACT For Kutai society, the term of Tingkilan has two meanings: first, as a betingkilan activity, that is performed by the performers through chanting the songs, whereas the lyrics are in the form of pantun which are intended as satire. Second, betingkilan is also known as a kind of musical ensemble.  The creativity of Tingkilan playings are inseparable from some aspects that influenced it, either external or internal factors. The external aspects are connected with the Kutai society’s views about their concepts of life, customs, and traditions, due to geographical situations, history, and the advance of science and technology.  Whereas the internal aspects that influence the improvement of Tingkilan playings are the efforts of the artists themselves to create new works productively that can accommo- date the contemporary Kutai society’s preferences which of course need the artists creative touch. Keywords: Creativity aspects, Tingkilan, Kutai, and ethnomusicology  ABSTRAK Tingkilan dalam masyarakat Kutai memiliki dua pengertian yaitu sebagai sebuah ak- tivitas betingkilan atau mendendangkan lagu yang berisi sindiran lewat pantun dan juga untuk penyebutan sebuah ansambel musik. Kreativitas Tingkilan tidak terlepas dari bebe- rapa faktor yang mempengaruhinya baik yang disebabkan oleh faktor eksternal maupun faktor internal. Faktor eksternal yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi pan- dangan masyarakat tentang konsep hidup, adat, dan tradisi masyarakat Kutai disebabkan oleh letak geografis yang strategis, sejarah, dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun faktor internal yang mempengaruhi perkembangan Tingkilan adalah adanya upaya dari para senimannya untuk produktif menciptakan karya-karya baru yang bisa mengakomodir dari selera masyarakat Kutai zaman sekarang yang tentunya membu- tuhkan sentuhan olah kreativitas dari para senimannya. Kata kunci: Faktor-faktor kreativitas, Tingkilan, Kutai, dan etnomusikologi
Dari Tari ke Musik: Pembentukan Musik Suita Pada Era Musik Barok Martiana, Pola
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.47

Abstract

ABSTRACTSuite as a musical form was composed by many Baroque composers. It was built and based on dances which is popular in the Renaissance or Baroque eras. This paper tries to understand the way composers adapt one form of art to another form, that is from dance to music, which is widely known as ecranisation. To grasp it in depth, this paper firstly describes what dance musics consist in suite. Secondly, it describes the dances which form the dance music. To make it clear, it also describes the essence of dance that makes it possible the transformation from dance to music. The result shows that the transformation does happen because of the abstract essence in dance was transformed into notes in music. This process is revealed by using the method of phenomenology of Maurice Merleau- Ponty.Keywords: music, dance, suite, ecranisation, inspiration, transformation, movement, noteABSTRAKMusik suita yang banyak digubah pada era musik Barok dibangun dari sejumlah gerakan musik yang berasal-usul dari tari-tari yang populer di era Renaisans/ Barok. Tulisan ini berusaha memahami bagaimana komponis mengalihwahanakan seni yang ada: dari tari ke musik. Untuk memahami kejadian itu, penulis memaparkan gerakan musik apa saja yang terdapat di dalam suita, setelah itu dipaparkan tari-tari yang menjadi sumber inspirasi komponis. Setelah didapatkan gambaran lengkap mengenai musik dan tari yang relevan, perlulah dipahami apa yang terdapat di dalam tari sehingga bisa diserap oleh komponis untuk kemudian dikeluarkan kembali dalam bentuk musik. Dari paparan itu terlihatlah bahwa transformasi dari tari ke musik hanya mungkin karena adanya transformasi gagasan abstrak yang terdapat di dalam tari untuk kemudian diekspresikan dalam bentuk nada-nada, dan hal itu semua hanya bisa dipahami dengan menggunakan metode fenomenologi dari Maurice Merleau-Ponty.Kata kunci: musik, tari, suita, alih wahana, inspirasi, transformasi, gerakan, nada
ESTETIKA KARAWITAN TRADISI SUNDA Herdini, Heri
PANGGUNG Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i3.75

Abstract

The problem of "aesthetics" related not only to the "text" or the art form itself, but also to the mindset and worldview of the communities on "the world" and "the nature of human life." Behind the musical form itself, there lies the mindset of Sundanese people which formed the basis for the "text" of karawitan. The understanding on "karawitan context" is, therefore, important. It means that "text" and "context" constitute "two sides of the same coin" which are interrelated to each other. This is the subject matter to be discussed in this paper.            This paper is a philosophical study in order to find "the aesthetic of traditional karawitan" which has not been revealed so far. To reveal this problem the writer uses the theory of "Antagonistic Dualism" by Jakob Sumardjo. Based on the analysis to the "text" and "context" of Sundanese traditional karawitan, it is concluded that "the aesthetic of Sundanese traditional karawitan" comes from the concept of "masagi" that in substance may produce "pola tiga” (pattern of three) as a reflection of the culture of tritangtu, those are: tekad, ucap, and lampah. Keywords: Aesthetic,traditional karawitan, pola tiga. 

Filter by Year

2004 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi Vol 35 No 3 (2025): Estetika, Identitas, dan Digitalisasi: Praktik Seni dan Budaya Nusantara dalam P Vol 35 No 2 (2025): Representasi, Transformasi, dan Negosiasi Budaya dalam Media, Seni, dan Ruang So Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr Vol 34 No 4 (2024): Dekonstruksi dan Rekonstruksi Identitas Budaya Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33, No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33, No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreati Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33, No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32, No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32, No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32, No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31, No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 31, No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue