cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 913 Documents
Rekonstruksi Sejarah Seni Dalam Konstruk Sejarah Visual Dienaputra, Reiza D
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.64

Abstract

ABSTRACTArt History is a category of history writing that is rich with research object. This is along withthe width of art definition scope. In the most current development, the work of art history iseasier to find in the form of scientific work at university, either essay of undergraduate (skripsi),thesis, or dissertation. Observing the encouraging development, some efforts to make the arthistory work either more qualified or more interesting to be enjoyed are needed. One of theefforts can be taken is by reconstructing art history in the visual history construct.Reconstruction of art history in visual art construct requires the using of visual source as themain source of writing and visual history research method as the chosen method. By using themethod, the produced art history will be rich with visual fact, either moving pictures or staticones.Keywords: art history, visual history, visual sourceABSTRAKSejarah seni adalah sebuah kategori penulisan sejarah yang kaya dengan obyekpenelitian. Hal ini seiring dengan luasnya ruang lingkup definisi seni. Dalamperkembangan terbaru, karya sejarah seni lebih mudah ditemukan dalam bentukkarya ilmiah di universitas, baik tulisan para sarjana (skripsi), tesis, ataupun disertasi. Dalam mencermati perkembangan yang menggembirakan tersebut, diperlukan upaya- upaya untuk membuat karya sejarah seni yang lebih berkualitas dan lebih menarikuntuk dinikmati. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah denganmerekonstruksi sejarah seni dalam konstruk sejarah visual. Rekonstruksi sejarah senidalam konstruk sejarah visual memerlukan penggunaan sumber visual sebagai sumberutama penulisan sejarah dan metode penelitian visual sebagai metode yang dipilih. Dengan menggunakan metode ini, sejarah seni yang dihasilkan menjadi kaya akanfakta visual, baik gambar-gambar bergerak maupun gambar-gambar statis. Kata kunci: sejarah seni, sejarah visual, sumber visual
Teknik Fotografi dalam Sastra Realisme LADULTERA Karya Theodor Fontane Gantrisia, Kamelia
PANGGUNG Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i1.230

Abstract

ABSTRACT          This research is entitled “Photography Approach in the Literary Work of Realism LAdultera by Theodor Fontane”. The aims of the research are to identify the descriptions found in literary work and the representation of photography criteria found in those descriptions. The methods employed in this research are formal method. The analysis is carried out by explaining the descriptions briefly and using them to identify parts of the text pointing to those descripstions. They are then analyzed by means of photography criteria from Heinz Buddermeier and Erwin Koeppen.             The result shows that the descriptions are concentrated on three types of setting descriptions: realm, interior, and building setting. In every description various description techniques which are similar to common techniques used in photography are found. They are observers view transition, transition and/or regularity of observers position, occuracy and sharpness of the object, static quality and object visual, and inequality of object setting. Key words: realism, description, photographyABSTRAK          Penelitian ini berjudul ”Teknik Fotografi dalam Karya Sastra Masa Realisme LAdultera Karya Theodor Fontane”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasikan deskripsi-deskripsi yang muncul dalam karya sastra dan mengkaji penggambaran-penggambaran fotografis dalam deskripsi-deskripsi tersebut. Metode yang dipergunakan adalah metode formal. Analisisnya dilakukan dengan cara menjabarkan secara singkat tentang deskripsi dalam karya sastra dan mempergunakannya untuk mengidentifikasikan bagian-bagian teks yang mengarah pada deskripsi. Bagian-bagian teks yang mengandung deskripsi tersebut selanjutnya dianalisis dengan bantuan kriteria-kriteria fotografi menurut Heinz Buddemeier dan Erwin Koppen.             Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa deskripsi-deskripsi yang dimunculkan dalam karya dikonsentrasikan pada tiga jenis deskripsi latar, yaitu latar alam, interior, dan bangunan. Dalam setiap deskripsi ditemukan berbagai teknik penggambaran yang memiliki kemiripan dengan teknik-teknik yang biasa dipergunakan dalam fotografi, yaitu perpindahan pandangan pengamat, perpindahan dan/atau keajegan posisi pengamat, ketepatan dan ketajaman objek, sifat statis dan visual objek, serta ketidaksejajaran latar objek.    Kata Kunci: realisme, deskripsi, fotografi
Perbandingan Kode Visual Pertunjukan Golek Sunda Tradisional dan Pertunjukan Golek Sunda dalam Media TV -, Irfansyah; Piliang, Yasraf A.
PANGGUNG Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i2.97

Abstract

ABSTRACT Wayang Golek is a Sundanese typical performing art that has grown on generations by the grip. The grip becomes a kind of rule or code in Wayang Golek show which govern all the constituent elements. Since the presence of Television, Wayang Golek is then performed through this media. However, since Wayang Golek is performed through Television, it represents significant differences with Wayang Golek traditional show. The differences are shown by the creation of stage design com- bined with digital technology and its various effects, such as zoom in/out, opening title, and even the broadcast interactive model. To understand the differences between Wayang Golek traditional show and on Television, the method which is used is the study of cause and effect or comparison (caus- al-comparative studies). The purpose of the study is to determine the changes of the visual elements in Wayang Golek show on Television. The result of the research shows that there are significant differences between Wayang Golek traditional show and on Television. Keywords: Visual Code, Sundanese Golek Show  ABSTRAK Kesenian Wayang Golek merupakan pertunjukan khas masyarakat Sunda yang telah ter­ bangun secara turun temurun berdasarkan pakem. Pakem menjadi semacam aturan main (kode) yang mengatur pertunjukan dan pembuatan Golek. Sejak munculnya media televisi, pertunjukan Wayang Golek pun kemudian dipentaskan melalui media ini. Akan tetapi, semenjak pertunjukan Wayang Golek dipentaskan dalam media televisi nyatanya mere­ presentasikan perbedaan yang signifikan dengan pertunjukan Wayang Golek tradisional. Perbedaan itu ditunjukkan dengan kreasi tata panggung yang dipadu dengan teknologi digital dan berbagai efeknya, seperti efek zoom in/out, munculnya opening title, hingga model interaktif siaran. Untuk memahami perbedaan antara pertunjukan Wayang Golek tradisional dengan pertunjukan Wayang Golek dalam media televisi, maka metode yang digunakan adalah metode studi perbandingan (comparative studies). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh pemahaman terkait adanya perubahan unsur yang muncul pada pertunjukan Wayang Golek dalam media televisi. Hasil penelitian menun­ jukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pertunjukan Wayang Golek tradisional dengan pertunjukan Wayang Golek dalam media Televisi. Kata Kunci: Kode Visual, Pertunjukan Golek Sunda
The Contribution of Cultural Art in the Creation of Liong Ornament on the Roof of Tay Kak Sie Temple Semarang Central Java Mustaqin, Khairul
PANGGUNG Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i4.293

Abstract

AbstractThe Liong Ornaments on the roof of Tay Kak Sie Temple in Semarang Central Java are influenced by the various contributions of art and culture to its creation. The issues raised in this research, namely: 1) How Liong ornaments form on the roof of Tay Kak Sie Temple are; 2) How art elements on Liong ornaments on the roof of Tay Kak Sie Temple; 3) What are the contributions of art and culture to the creation of Liong ornaments on the roof of Tay Kak Sie Temple Semarang Central Java. The purpose of this study is to provide an explanation of Liong ornament form on the roof of Tay Kak Sie Temple; art elements on Liong ornaments on the roof of Tay Kak Sie Temple; and cultural art contribution to the creation of Liong statue ornament on the roof of Tay Kak Sie Temple Semarang Central Java. This research uses qualitative method with case study approach. Ornaments Liong statue on the roof of Tay Kak Sie Temple is a three-dimensional work with simplification and deformation techniques. Liong statue ornament is an imitative form of Chinese mythology animal. The texture of the ornament, ie smooth, smooth wavy, and rough. Liong Ornaments use seven colors and contain elements of blue monochromatic color. Liong Ornaments are included in imitative artwork with a style of naturalist expression. Expression of ornaments, namely anger, ambition, and firmness. Liong ornaments form on the roof of Tay Kak Sie Temple Semarang Central Java influenced by the factors of artists, culture, the influence of the Ming Dynasty, the location of the temple, and trust.Keywords: Contribution of Cultural Art, Creation, Liong Ornament, Temple
Empat Koreografer Tari Kontemporer Indonesia Periode 1990-2008 Supriyanto, Eko; Haryono, Timbul; -, R.M. Sudarsono; Murgiyanto, Sal
PANGGUNG Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i4.130

Abstract

ABSTRACT This research will elaborate four Indonesian contemporary choreographers, which lead to open the significant of embodiment process on Indonesian dancers. With a focus on four choreographers, Mar- tinus Miroto, Mugiyono Kasido, Hartati, and Jecko Siompo. A case study of body of those four choreo- graphers has reached its “institutional” level, so choosing those four characters, as a representation of Indonesian dancer is the right thing to do. With the complexity discipline and body work training, the four dancers and choreographer strengthening on how procession to achieve and advancing body work is located in some important process: exercise, training, and performance. This is different from the pro- cess of body works quality and the achievement of most dancers and choreographer outside of Indonesia. Usually the dancers outside of Indonesia only stress on two things: Training and performance. The four dancers in the work have had a typical body works each of them, but it is undeniable that there is a role in the respective Sardono as the maestro. Sardono’s strong influence thus again took place in forming a model to the body or body-dance attitude of dancers who then the outcome was, in fact, different from Sardono’s works. Keywords: contemporary, embodied, training, rehearsal, performance  ABSTRAK Penelitian ini membahas empat koreografer, dalam membuka wacana proses ketubuhan penari di Indonesia. Empat koreografer tersebut, Martinus Miroto, Mugiyono Kasido, Hartati, dan Jecko Siompo, memperlihatkan betapa kompleksitas proses ketubuhan mereka berbeda dengan penari dan koreografer pada umumnya, terutama dari luar Indonesia. Mereka mem- berikan pengalaman yang detail tentang pendisiplinan tubuh mereka untuk mencapai sebuah capaian dan keunggulan. Dengan kompleksitas disiplin dan training ketubuhan, keempat penari dan koreografer ini menggukuhkan betapa proses pencapaian dan kemuktahiran tubuh terletak pada beberapa proses penting: Training, Latihan, dan Pementasan. Jika ditilik secara ke- seluruhan, keempat penari ini mempunyai pengalaman belajar, atau setidaknya pernah men- galami proses menari bersama Sardono W. Kusumo. Ketubuhan yang yang dieksplorasi adalah ciri khas dari Sardono yang dikenal dengan laku dalam bahasa Jawa. Walaupun belajar dari Sar- dono, keempat koreografer tersebut mengembangkan tarian yang berbeda dengan Sardono. Kata kunci: kontemporer, ketubuhan, training, latihan, pementasan
Pertunjukan Jonggan Dalam Konteks Sosial Kemasyarakatan Suku Dayak Kanayatn -, Turyati
PANGGUNG Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i3.23

Abstract

Jonggan merupakan pertunjukan tari tradisi masyarakat suku Dayak Kanayatn. Tarian ini disajikan untuk penyambutan tamu terhormat. Pertunjukan Jonggan terkait dengan berbagai hajat ritual dan hajat sosial masyarakat, antara lain Naik Dango (Ritual panen padi), perkawinan, dan Gawai Dayak (pesta rakyat). Tarian ini biasa ditarikan oleh kaum tua dan muda, laki-laki dan perempuan, tetapi biasanya dihadiri oleh sebagian besar orang tua, karena di dalamnya disajikan pantun-pantun lama yang berisi petuah, moral, agama, dan pandangan hidup. Penelitian Jonggan ini menggunakan pendekatan etnografi untuk mencatat perilaku estetik dan perilaku sosial budaya dalam pertunjukan Jonggan. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa anak muda lebih suka menari berpasangan untuk membangun komunikasi dalam acara Jonggan dari pada harus berbalas pantun. Sentuhan emosional, kegembiraan muncul sebagai ungkapan kebersamaan, pribadi, dan komunal yang memberikan gambaran nyata dari hubungan yang berkembang antara emosi pribadi. Gejala pertunjukan menunjukkan terjadinya interaksi dan integrasi sosial yang bermuara pada terbangunnya kohesi sosial masyarakat.Kata kunci: Jonggan, Dayak Kanayatn, Pertunjukan, Tari
Fenomena Musik Ring Back Tone (RBT): Kapitalisme, Budaya Popular, dan Gaya Hidup Minawati, Rosta
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.163

Abstract

ABSTRACT RBT music is a phenomenon enjoyed by millions  of fans.  RBT, better known as ring back tones  have become part of the lifestyle  of subscribers.  Ring back tones have sound meanings  (as music) which are experienced by callers after placing their calls. The music is heard by callers till the phone is answered.  The phenomena of RBT is capable of gaining  the interest  of a million customers. In Indonesia  cellphone use has become widespread, cheap and available.  The  func- tion  of the  cellular  telephone can facilitate  the acquisition  of needs for its owner. In general urban centers around the world will form social  networks,  engage in capitalism,  popular cul- ture  and life styles. The  development  of this phenomenon is inseparable from capitalism  itself. Through RBT consumers can easily  download their favorite songs. In the context  of this phe- nomenon capitalism,  pop culture  and lifestyle represent three inseparable interrelated  elements. Keywords: Music RBT, Capitalisme, CulturalPopular,  Lifestyle.     ABSTRAK Musik RBT merupakan fenomena yang digemari berjuta pelanggan. RBT atau yang lebih dikenal dengan   nada sambung menjadi gaya hidup para pelanggannya. Nada sambung (ring back tone) memiliki arti suara (musik) yang di dengar lewat jalur telepon oleh pihak penelepon setelah melakukan pemanggilan. Musik tersebut dapat di dengar pihak yang menghubungi sampai telepon dijawab.Fenomena RBT mampu meraih berjuta pelanggan. Di Indonesia, pengguna Hp menjadi sangat umum, murah dan terjangkau. Fungsi telepon seluler akan lebih memfasilitasi pemenuhan kebutuhan pemiliknya. Secara umum, kota-kota urban di dunia akan membentuk jaringan sosial, kapitalisme, budaya popular, dan gaya hidup. Perkembagan fenomena ini tidak terlepas karena adanya kapitalisme.Melalui RBT, para konsumen dengan mudah mendownloadlagu-lagu yang digemari. Berkaitan dengan fenomena tersebut, kapitalisme, budaya pop(ular) dan gaya hidup merupakan tiga serangkai yang tidak dapat dipisahkan. Kata kunci: Kapitalisme, Budaya Populer, Gaya Hidup
Narasi Cahaya Kearifan Lokal Dalam Film Sang Pencerah Karya Hanung Bramantyo Puspitasari, Dyah Gayatri; Sabana, Setiawan; Ahmad, Hafiz Azis
PANGGUNG Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i4.206

Abstract

ABSTRACT Narrative is an important element in film. Its sequence has certain logic related to the meaning of film story. A film is the work of a director, its events sequence has accommodated certain message or in- tention of the director. The study of Sang Pencerah by Hanung Bramantyo applies the text visual nara- tive analysis using narrative theory of Genette and semiotics of Peirce as supporting theory. The result of the analyses finds out that Sang Pencerah is a film structure in three chapters with linier pattern. The light aspect correlated  with the meaning of enlightment seems to be used as the binding factor of the main story. By analysing various visual signs it is found that the enlightment idea (pencerahan) in the film is the western rationality of modernism versus Ahmad Dahlan. It is a rationality which manifests hospitality and local wisdom as a strong identity which balances the modernity. Keywords: narrative, film, light, message, modernism    ABSTRAK Narasi merupakan unsur penting dalam film. Urutannya mengandung logika tertentu yang berkaitan dengan makna cerita film. Film dapat dikatakan sebagai narasi yang merep- resentasikan realitas. Namun karena film merupakan gubahan sutradara, maka urutan peris- tiwa itu tentunya sudah dibubuhi pesan atau niatan tertentu sutradara. Dengan mengambil film Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo sebagai studi kasus, dilakukan identifikasi pesan dan makna yang termuat di dalam film tersebut. Kajian ini menggunakan metode analisis teks visual naratif dengan teori narasi Genette dan semiotika Peirce sebagai pembantu. Dari hasil analisis struktur narasiditemukan bahwa Sang Pencerah merupakan film alur tiga babak dengan pola linier. Aspek cahaya yang dikorelasikan dengan makna pencerahan, tampak dimanfaat- kan sebagai pengikat rangkaian inti cerita. Melalui analisis berbagai penanda visual selanjutnya ditemukan bahwa gagasan pembaharuan (pencerahan) yang diketengahkan sutradara dalam film ini merupakanrasionalitas modernisme Barat versus Ahmad Dahlan. Sebuah rasionalitas yang mengejawantahkan kesantunan dan kearifan lokal sebagai keutuhan jati diri pengimbang kebaharuan. Kata kunci: narasi, film, cahaya, pesan, modernisme 
Meningkatkan Hasil Belajar Menari Kreatif Melalui Pendekatan Pembelajaran Piaget Dan Vygotsky Dewi, Melina Surya
PANGGUNG Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i1.88

Abstract

AbstractThis paper discusses the result of a research of learning improvement which uses the action research method with one cycle.  The research aims at: 1) improving the creative dance learning; and 2) understanding the effectiveness of the Piaget and Vygotsky learning approaches.  The sample of the research is B-class students of Santa Ursula Kindergarten of Central Jakarta. Based on the data obtained quantitatively (pre-test and post-test) and class observation, it could be concluded that there is an improvement to the outcomes of the students dance learning, and that the Piaget and Vygotsky learning approaches are effective to be implemented at B-class of Santa Ursula Kindergarten.  Based on the research outcomes, it can be recommended that Kindergarten teachers use the Piaget and Vygotsky learning approaches which are adapted to the condition and situation of each school. Key words: creative dance learning, Piaget and Vygotsky learning approaches AbstrakTulisan ini membahas hasil penelitian peningkatan pembelajaran yang menggunakan metode penelitian tindakan dengan satu siklus. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) meningkatkan pembelajaran tari kreatif, dan 2) memahami keefektifan pendekatan pembelajaran Piaget dan Vygotsky. Sampel dari penelitian ini adalah siswa-siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Santa Ursula Jakarta Pusat. Berdasarkan data yang diperoleh secara kuantitatif (pre-test dan post-test) dan observasi kelas, dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan terhadap hasil pembelajaran tari para siswa, dan bahwa pendekatan pembelajaran Piaget dan Vygotsky efektif diimplementasikan pada kelas B Taman Kanak-Kanak Santa Ursula. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, guru-guru Taman Kanak-Kanak disarankan untuk menggunakan pendekatan pembelajaran Piaget dan Vygotsky yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing sekolah. Kata Kunci: belajar menari kreatif, pendekatan pembelajaran Piaget dan Vygotsky   
The Symbolic Meanings of Toraja Carving Motifs Salam, Sofyan; Husain, Muh. Saleh Husain; Tangsi, Tangsi
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.280

Abstract

ABSTRACTThe study on the symbolic meaning of the Toraja ornamental design was conducted in a traditional wood-carver community at Tonga, Kesu District of North-Toraja Regency. The study question was stimulated by the fact that, nowadays, there are no more wood-carver teachers with tomanarang status (expert in Toraja culture) at Tonga and surrounding areas as there were happened in the past. The method of this study was survey by using indept-interviews technique. The interview was conducted with the traditional wood-carvers at Tonga. The result of study explained that the traditional wood-carvers at Tonga have a meager understanding on the symbolic meaning of the Toraja ornamental-designs. This lack of understanding is caused by the traditional wood-carvers’ view that it is not neccessary to understand the symbolic meaning of the toraja ornamental designs. For them, technical skills in wood-carving are more important to be mastered. The results of the research indicate the occurence of value orientation changes of Toraja wood-carvers.Key words: Wood-carving, symbolic meanings, Toraja ornamental design.ABSTRAKPenelitian makna simbolik motif hias ukir Toraja ini dilaksanakan di sebuah komunitas pengukir-kayu tradisional di Tonga Kecamatan Kesu Kabupaten Toraja-Utara.Pertanyaan penelitian dipicu oleh kenyataan tidak adanya lagi pengukir-kayu yang berstatus tomanarang(ahli ukir dan sekaligus ahli budaya Toraja) di Tonga dan daerah sekitarnya yang berfungsi sebagai guru-ukir sebagaimana yang terjadi pada masa lalu. Metode penelitian ini adalah survey dengan menggunakan teknik wawancara mendalam. Wawancara dilakukan terhadap pengukir-kayu tradisional Toraja yang bermukim di Tonga. Hasil penelitian ini menjelaskan para pengukir-kayu tradisional di Tonga memiliki pemahaman yang amat kurang terhadap makna simbolik dari motif-hias ukir-kayu tradisional Toraja. Kurangnya pemahaman ini disebabkan oleh karena pengukir menganggap tidak perlu memahami makna simbolik tersebut. Bagi mereka, yang perlu dimiliki adalah kemampuan teknis dalam membuat ukiran-kayu. Temuan penelitian ini menunjukkan telah terjadinya perubahan orientasi nilai dari pengukir-kayu tradisional Toraja.Kata kunci: Seni ukir-kayu, makna simbolik, motif hias Toraja

Page 9 of 92 | Total Record : 913


Filter by Year

2004 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi Vol 35 No 3 (2025): Estetika, Identitas, dan Digitalisasi: Praktik Seni dan Budaya Nusantara dalam P Vol 35 No 2 (2025): Representasi, Transformasi, dan Negosiasi Budaya dalam Media, Seni, dan Ruang So Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr Vol 34 No 4 (2024): Dekonstruksi dan Rekonstruksi Identitas Budaya Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33, No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33, No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreati Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33, No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32, No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32, No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 32, No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31, No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 31, No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30, No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue