cover
Contact Name
Jamil Suprihatiningrum
Contact Email
inklusi@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-515856
Journal Mail Official
inklusi@uin-suka.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/inklusi/ET
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Inklusi Journal of Disability Studies
ISSN : 23558954     EISSN : 25809814     DOI : https://doi.org/10.14421/ijds
Core Subject : Social,
INKLUSI accepts submission of manusciprts on disability issues from any discipline. We are promoting an interdisciplinary approach to work on disability rights and social inclusion of the people with disabilities.
Articles 189 Documents
Policy Implementation and Social Functioning of Persons with Disabilities: The Role of Social Support Willya Achmad
INKLUSI Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.120210

Abstract

Rapid demographic and lifestyle changes have increased the urgency of public policies that respond to the needs of persons with disabilities. This study examines the influence of policy implementation on the social functioning of persons with disabilities, with particular attention to the role of social support. The research was conducted at the Griya Harapan Disabled Social Services Center (PPSGHD) in West Java Province using a quantitative approach and a 5-point Likert scale questionnaire administered to 100 respondents. Data were analyzed using PLS-SEM to assess both the measurement and structural models. The findings indicate that policy implementation significantly improves the social functioning of persons with disabilities but does not directly affect social support. Meanwhile, social support has a significant positive effect on social functioning, underscoring its important role in shaping functional outcomes. These results highlight that effective policy implementation needs to be complemented by strengthened social support to enhance the social functioning of persons with disabilities. Perubahan demografis dan gaya hidup yang cepat meningkatkan urgensi kebijakan publik yang responsif terhadap kebutuhan penyandang disabilitas. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh implementasi kebijakan terhadap keberfungsian sosial penyandang disabilitas, dengan perhatian khusus pada peran dukungan sosial. Penelitian dilakukan di Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Disabilitas (PPSGHD) Provinsi Jawa Barat menggunakan pendekatan kuantitatif melalui kuesioner skala Likert 5 poin yang melibatkan 100 responden. Data dianalisis menggunakan PLS-SEM untuk menguji model pengukuran dan model struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan berpengaruh signifikan terhadap keberfungsian sosial penyandang disabilitas, namun tidak berpengaruh langsung terhadap dukungan sosial. Sementara itu, dukungan sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberfungsian sosial. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas implementasi kebijakan perlu dilengkapi dengan penguatan dukungan sosial untuk meningkatkan keberfungsian sosial penyandang disabilitas.
Motives for Physical Activity among Deaf Students: A Descriptive Analysis Febriani Fajar Ekawati; Tri Winarti Rahayu; Budhi Satyawan; Ismaryati; Deddy Whinata Kardiyanto; Bambang Wijanarko
INKLUSI Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.120212

Abstract

Participation in physical activity offers important health and social benefits for Deaf students, including opportunities for skill development, social interaction, and enhanced self-confidence. However, limited attention has been given to the motivational factors that shape their engagement in physical activity within inclusive education contexts. This study aimed to examine the types of motivation influencing Deaf students’ participation in sports and physical activities. Employing a quantitative descriptive design, the study involved 43 Deaf students aged 12–19 years who completed an adapted version of the Motives and Barriers for Physical Activity and Sport (MBAFD) questionnaire. The findings indicated that intrinsic motivation—particularly enjoyment, learning new movements, and perceived well-being—emerged as the dominant factor driving participation in physical activity. These results underscore the importance of fostering autonomy-supportive and enjoyable physical education environments to promote sustained engagement among Deaf students and inform the development of more inclusive and context-responsive physical education practices. Partisipasi dalam aktivitas fisik memberikan manfaat kesehatan dan sosial yang penting bagi siswa Tuli, termasuk pengembangan keterampilan, peningkatan interaksi sosial, dan penguatan kepercayaan diri. Namun, kajian yang secara khusus menelaah faktor-faktor motivasional yang memengaruhi keterlibatan siswa Tuli dalam aktivitas fisik masih terbatas, khususnya dalam konteks pendidikan inklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis motivasi yang memengaruhi partisipasi siswa Tuli dalam aktivitas olahraga dan aktivitas fisik. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 43 siswa Tuli berusia 12–19 tahun yang mengisi kuesioner Motives and Barriers for Physical Activity and Sport (MBAFD) versi adaptasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi intrinsik, terutama yang berkaitan dengan kesenangan, pembelajaran gerak baru, dan persepsi kesejahteraan, merupakan faktor dominan yang mendorong partisipasi aktivitas fisik. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan lingkungan pendidikan jasmani yang mendukung otonomi, menyenangkan, dan responsif terhadap kebutuhan siswa Tuli guna mendorong keterlibatan yang berkelanjutan serta memperkuat praktik pendidikan jasmani inklusif.
Intervening at the Margins: Preschool Teachers’ Perception of Disability Intervention in Rural Areas Noviana Mustapa; Widya Rizky Pratiwi; Dwi Rezki Hardianto Putra Rustan; Juhana; Anugrah Murtini; Samihah Mahamud
INKLUSI Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.120211

Abstract

This study employed a quantitative descriptive survey design to examine preschool teachers’ perceptions of interventions for children with disabilities in rural areas of Banten, Indonesia. Data were collected from 62 preschool teachers using a 25-item questionnaire covering five domains: understanding of disability, early identification, intervention planning, classroom implementation, and evaluation. Descriptive statistical analysis was used to interpret the data. The findings indicate that teachers generally hold positive attitudes toward inclusive education and recognise the importance of differentiated learning approaches. However, notable gaps remain in teachers’ practical competence and confidence, particularly in developing Individual Learning Plans and implementing interventions independently in classroom settings. Professional collaboration was also perceived as limited due to insufficient guidance and access to specialist support. These findings highlight the need for targeted professional development to strengthen teachers’ capacity to implement inclusive practices effectively, especially in rural contexts where access to training and support remains constrained. Penelitian ini menggunakan desain survei kuantitatif deskriptif untuk mengkaji persepsi guru PAUD terhadap intervensi bagi anak dengan disabilitas di wilayah pedesaan Banten. Data dikumpulkan dari 62 guru PAUD melalui kuesioner berisi 25 butir yang mencakup lima aspek: pemahaman tentang anak dengan disabilitas, identifikasi dini, perencanaan intervensi, pelaksanaan di kelas, dan evaluasi. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru umumnya memiliki sikap positif terhadap pendidikan inklusif dan memahami pentingnya pembelajaran yang beragam. Namun, masih terdapat kesenjangan pada kompetensi praktis dan kepercayaan diri, khususnya dalam penyusunan rencana pembelajaran individual dan pelaksanaan intervensi di kelas. Selain itu, kolaborasi profesional masih terbatas akibat kurangnya bimbingan dan akses terhadap dukungan. Temuan ini menegaskan perlunya pelatihan profesional yang lebih terarah untuk memperkuat kapasitas guru dalam menerapkan praktik pendidikan inklusif secara efektif, terutama di wilayah pedesaan.
The Impact of Sexual Violence on Adolescents with Intellectual Disabilities: A Scoping Review Dwi Yati; Syisnawati
INKLUSI Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.130105

Abstract

Adolescents with intellectual disabilities (ID) are at increased risk of sexual violence due to cognitive and communication challenges, dependence on caregivers, and limited access to protective education. However, evidence regarding its impacts and responses remains fragmented. This scoping review aimed to map evidence on the impacts of sexual violence among adolescents with ID, identify intervention approaches, examine systemic barriers, and highlight research gaps. Following the Arksey and O’Malley framework and PRISMA-ScR guidelines, literature was searched in PubMed, Scopus, CINAHL, and ScienceDirect for studies published between 2020 and 2024. Eleven studies met the inclusion criteria. Findings revealed psychological, behavioural, social, and legal consequences, including PTSD, anxiety, behavioural dysregulation, and barriers to disclosure and support. Educational and community-based interventions showed promise, although evidence was limited by methodological weaknesses and the lack of long-term evaluation. Further trauma-informed interventions and rigorous research are needed. Abstrak Remaja penyandang intellectual disability (ID) berisiko lebih tinggi mengalami kekerasan seksual akibat keterbatasan kognitif, kesulitan komunikasi, ketergantungan pada pengasuh, dan terbatasnya akses terhadap pendidikan perlindungan serta layanan dukungan. Namun, bukti mengenai dampak dan respons yang efektif masih terfragmentasi. Kajian ini bertujuan memetakan bukti tentang dampak kekerasan seksual pada remaja dengan ID, mengidentifikasi pendekatan intervensi, mengkaji hambatan sistemik, dan menyoroti kesenjangan penelitian. Mengikuti kerangka Arksey dan O'Malley serta pedoman PRISMA-ScR, pencarian literatur dilakukan di PubMed, Scopus, CINAHL, dan ScienceDirect untuk publikasi tahun 2020–2024. Sebelas studi memenuhi kriteria inklusi. Temuan menunjukkan dampak psikologis, perilaku, sosial, dan hukum, termasuk PTSD, kecemasan, disregulasi perilaku, serta hambatan dalam pengungkapan dan akses dukungan. Intervensi berbasis pendidikan dan komunitas menunjukkan potensi, meskipun bukti masih terbatas oleh kelemahan metodologis dan minimnya evaluasi jangka panjang.
Learning Profiles of Slow Learner Students on Periodic Properties of Elements Using E-LAPD Dian Novita; Hana Salsabila Virani; Teguh Bedjo Santoso; Rahmania Fitrah Sari; Findiyani Ernawati Asih
INKLUSI Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.130104

Abstract

Slow learner students require adaptive chemistry learning support to understand abstract concepts. This research aims to explore the learning profiles and learning outcomes of slow learner students using Electronic Student Activity Sheets (E-LAPD) with individualized learning strategies on the topic of periodic properties of elements. Participants consisted of three slow learner students at Senior High School 10 Surabaya. This research employed a mixed-method approach using an embedded design. Qualitative data were analyzed using NVivo 11 software, while quantitative data were analyzed using N-gain scores to measure learning outcomes. The findings indicated a dominant visual learning tendency, although one student also demonstrated an auditory preference. The results also showed improved learning outcomes with a high average N-gain score. These findings highlight that E-LAPD can support inclusive chemistry learning by accommodating diverse learning needs and facilitating adaptive and inclusive learning for slow learner students. AbstrakSiswa slow learner memerlukan dukungan pembelajaran kimia yang adaptif untuk memahami konsep-konsep abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi profil belajar dan hasil belajar siswa slow learner menggunakan Lembar Aktivitas Peserta Didik Elektronik (E-LAPD) dengan strategi pembelajaran individual pada materi sifat periodik unsur. Partisipan penelitian terdiri atas tiga siswa slow learner di SMA Negeri 10 Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain embedded. Data kualitatif dianalisis menggunakan perangkat lunak NVivo 11, sedangkan data kuantitatif dianalisis menggunakan skor N-gain untuk mengukur hasil belajar. Temuan menunjukkan adanya kecenderungan gaya belajar visual yang dominan, meskipun satu siswa juga menunjukkan preferensi auditori. Hasil penelitian juga menunjukkan peningkatan hasil belajar dengan rata-rata skor N-gain yang tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa E-LAPD dapat mendukung pembelajaran kimia inklusif dengan mengakomodasi kebutuhan belajar yang beragam serta memfasilitasi pembelajaran yang adaptif dan inklusif bagi siswa slow learner.
Accommodation as Institutional Infrastructure: A Scoping Review of Inpatient Disability Policy and Implementation Stephanie Quon; Isabel Truong; Leah Moroz; Katherine Zheng
INKLUSI Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.130102

Abstract

Adults with disabilities frequently encounter barriers in inpatient care, including environmental, communication, cognitive, and sensory challenges, despite legal obligations to provide reasonable accommodations. This study maps how inpatient accommodation policies are specified and operationalized. A PRISMA-ScR–guided scoping review was conducted across MEDLINE, Embase, CINAHL, PsycINFO, and Scopus (inception–July 2025), supplemented with grey literature. Twenty-three sources met the inclusion criteria. Policies were most developed for communication access, while accommodations addressing cognitive, psychosocial, sensory, and multi-component needs were less consistently operationalized. Implementation depended on reliable systems for identifying and documenting needs, clear role allocation, access to resources (e.g., interpreters, accessible formats, support persons), and limited mechanisms for measurement and accountability. These findings position accommodation as anticipatory, system-level infrastructure for inpatient safety and equity, while highlighting design gaps that hinder consistent delivery. Penyandang disabilitas dewasa sering menghadapi berbagai hambatan dalam layanan rawat inap, termasuk hambatan lingkungan, komunikasi, kognitif, dan sensorik, meskipun terdapat kewajiban hukum untuk menyediakan akomodasi yang layak. Studi ini bertujuan memetakan bagaimana kebijakan akomodasi rawat inap dirumuskan dan dioperasionalisasikan. Scoping review berbasis PRISMA-ScR dilakukan melalui basis data MEDLINE, Embase, CINAHL, PsycINFO, dan Scopus (awal hingga Juli 2025), serta dilengkapi dengan literatur abu-abu. Sebanyak 23 sumber memenuhi kriteria inklusi. Kebijakan paling berkembang pada aspek akses komunikasi, sementara akomodasi untuk kebutuhan kognitif, psikososial, sensorik, dan multi-komponen masih kurang konsisten dioperasionalisasikan. Implementasi bergantung pada sistem identifikasi dan dokumentasi yang andal, kejelasan peran, akses terhadap sumber daya (misalnya interpreter dan format aksesibel), serta keterbatasan mekanisme pengukuran dan akuntabilitas. Temuan ini menempatkan akomodasi sebagai infrastruktur sistemik yang bersifat antisipatif bagi keselamatan dan keadilan layanan, sekaligus mengungkap kesenjangan desain kebijakan yang menghambat implementasi yang konsisten.
Teachers’ Challenges and Strategies in Sexual and Reproductive Health Education for Children with Intellectual Disabilities Dyah Dwi Astuti; Duwi Pudji Astuti; Tri Widyastuti Handayani; Sumardino Sumardino
INKLUSI Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.130101

Abstract

Children with intellectual disabilities require additional support in understanding sexual and reproductive health due to decision-making challenges and limited educational and socio-cultural support. This study explored teachers’ challenges and strategies in delivering such education. A qualitative descriptive design was conducted in a special school involving five teachers selected through purposive sampling. Data were collected through focus group discussions (FGDs) and analyzed using inductive content analysis. Five themes revealed challenges in managing sexual behaviors that were not aligned with cognitive development. Teachers implemented habituation, experience-based learning, and counseling to support understanding of bodily changes, social norms, and self-regulation during puberty, supported by collaboration among schools, parents, and health professionals. These findings highlight the importance of adaptive and collaborative approaches. Schools should integrate experience-based learning and strengthen partnerships with families and health professionals. Anak dengan disabilitas intelektual membutuhkan dukungan tambahan dalam memahami kesehatan seksual dan reproduksi akibat keterbatasan dalam pengambilan keputusan serta dukungan sistem pendidikan dan sosial-budaya yang masih terbatas. Penelitian ini mengeksplorasi tantangan dan strategi guru dalam memberikan edukasi tersebut. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif di Sekolah Luar Biasa dengan lima guru yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui diskusi kelompok terarah (FGD) dan dianalisis menggunakan inductive content analysis. Hasil penelitian mengidentifikasi lima tema yang menunjukkan tantangan dalam mengelola perilaku seksual yang tidak sejalan dengan perkembangan kognitif. Guru menerapkan strategi berupa pembiasaan, pembelajaran berbasis pengalaman, dan konseling untuk mendukung pemahaman perubahan tubuh, norma sosial, serta pengaturan diri selama pubertas, melalui kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan tenaga kesehatan. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan yang adaptif dan kolaboratif. Sekolah perlu mengintegrasikan pembelajaran berbasis pengalaman serta memperkuat kemitraan dengan keluarga dan tenaga kesehatan.
Rethinking the Concept of Disability from the Perspective of Javanese Local Culture Imanuel Teguh Harisantoso
INKLUSI Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.130103

Abstract

Javanese culture provides a unique epistemological framework for understanding disability. Within Javanese cosmology, disability is not limited to bodily impairment but is embedded in symbolic, ritual, and religious structures, as reflected in figures such as Palawijan and the Punakawan. This study aims to clarify, reinterpret, and reclaim the place of disability within Javanese thought. Colonial modernity introduced epistemic ruptures, establishing hierarchical knowledge systems and medical frameworks that defined disability as illness or abnormality. Such models severed disability from its spiritual and cosmological dimensions and privileged utilitarian, medical interpretations. Employing cultural hermeneutics, supported by theories of *othering* and orientalism, this research examines how colonial knowledge marginalized indigenous meanings. The findings show that disability in Javanese culture is closely associated with spiritual potency and moral agency. Persons with disability are often regarded as *orang sakti*, individuals with supernatural power who mediate justice, balance, and welfare. Disability is a source of sacred power essential for maintaining cosmological harmony and communal well-being. Budaya Jawa menyediakan kerangka epistemologis yang unik untuk memahami disabilitas. Dalam kosmologi Jawa, disabilitas tidak terbatas pada gangguan tubuh semata, tetapi tertanam dalam struktur simbolik, ritual, dan religius, sebagaimana tercermin dalam figur seperti Palawijan dan Punakawan. Penelitian ini bertujuan untuk memperjelas, menafsirkan kembali, dan merebut kembali posisi disabilitas dalam pemikiran Jawa. Modernitas kolonial memperkenalkan keterputusan epistemik dengan membangun sistem pengetahuan yang hierarkis serta kerangka medis yang mendefinisikan disabilitas sebagai penyakit atau abnormalitas yang memerlukan rehabilitasi. Model-model tersebut memutus disabilitas dari dimensi spiritual dan kosmologisnya, serta mengutamakan tafsir yang utilitarian dan medis. Dengan menggunakan hermeneutika budaya, yang didukung teori *othering* dan orientalisme, penelitian ini menelaah bagaimana pengetahuan kolonial memarginalkan makna-makna lokal. Temuan penelitian menunjukkan bahwa disabilitas dalam budaya Jawa sangat berkaitan dengan potensi spiritual dan agensi moral. Penyandang disabilitas kerap dipandang sebagai *orang sakti*, yakni individu yang memiliki kekuatan supranatural dan berperan sebagai penengah keadilan, keseimbangan, serta kesejahteraan. Disabilitas adalah sumber kekuatan sakral yang penting untuk menjaga harmoni kosmologis dan kesejahteraan komunitas.
Stigma dan Legitimasi Agama dalam Perkawinan Disabilitas Intelektual Dea Salma Sallom; Masdar Hilmy
INKLUSI Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.130106

Abstract

This study examines how religious values, cultural norms, and social stigma shape marriage practices between people with intellectual disabilities and non-disabled people in Gresik. The main question is how the interaction of these three factors affects the acceptance, legitimacy, and sustainability of marriage. Using a socio-legal qualitative approach, data was collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation of four families as well as religious and community leaders, and analyzed using Pierre Bourdieu's framework. This study argues that marriages involving people with disabilities are carried out through a combination of religious and social capital that enables families to survive, but at the same time reinforces their dependence on external authorities. The findings show that religious and cultural values encourage acceptance, while social stigma, including stigma by association remains a major obstacle. Islamic law and religious leaders serve as sources of legitimacy as well as arenas for negotiating the concept of kafa'ah. This study emphasizes the need for a more inclusive reinterpretation of Islamic law with regard to persons with disabilities.   Abstrak Penelitian ini mengkaji bagaimana nilai religius, norma budaya, dan stigma sosial membentuk praktik perkawinan antara penyandang disabilitas intelektual dan non-disabilitas di Gresik. Pertanyaan utamanya adalah bagaimana interaksi ketiga faktor tersebut memengaruhi penerimaan, legitimasi, dan keberlangsungan perkawinan. Dengan pendekatan kualitatif sosio-legal, data dihimpun melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap empat keluarga serta tokoh agama dan masyarakat, dianalisis menggunakan kerangka Pierre Bourdieu. Penelitian ini berargumen bahwa perkawinan disabilitas dijalankan melalui kombinasi modal religius dan sosial yang memungkinkan keluarga bertahan, namun sekaligus memperkuat ketergantungan pada otoritas eksternal. Temuannya menunjukkan bahwa nilai agama dan budaya mendorong penerimaan, sementara stigma sosial, termasuk stigma asosiatif tetap menjadi hambatan utama. Hukum Islam dan tokoh agama berfungsi sebagai sumber legitimasi sekaligus arena negosiasi konsep kafa’ah. Studi ini menegaskan perlunya reinterpretasi hukum Islam yang lebih inklusif terhadap penyandang disabilitas.