cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
Published by Forum Ilmiah Kesehatan
ISSN : 20863098     EISSN : 25027778     DOI : -
Core Subject : Health,
Journal of Health Research "Forikes Voice" is a medium for the publication of articles on research and review of the literature. We accept articles in the areas of health such as public health, medicine, nursing, midwifery, nutrition, pharmaceutical, environmental health, health technology, clinical laboratories, health education, and health popular.
Arjuna Subject : -
Articles 1,733 Documents
Multidimensional Challenges in the Implementation of the Acute Appendicitis Clinical Pathway Arsil, Firli Yan; Girsang, Ermi; Nasution, Sri Lestari Ramadhani
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16410

Abstract

Acute appendicitis is a common cause of acute abdominal pain that requires immediate intervention to prevent complications, especially among vulnerable groups such as children and the elderly. The clinical pathway is used to standardize care, improve efficiency, and reduce costs. This study aimed to analyze the implementation of the acute appendicitis clinical pathway at Pertamina Hospital Pangkalan Brandan. The research used a qualitative phenomenological approach involving six informants (two key, two main, and two supporting). Data were collected through observation, in-depth interviews, and document review, then analyzed descriptively through data reduction, presentation, and conclusion drawing. The results showed that the implementation of the acute appendicitis clinical pathway still faces challenges in unstructured interprofessional communication, limited human resources such as case managers and clinical pharmacists, and the absence of an adequate information and logistics system. Resistance also occurs due to low understanding, entrenched old practices, and lack of incentives. Internal evaluations have not significantly influenced behavioral change, while supervision and inter-unit coordination remain weak. As conclusion, the implementation of the acute appendicitis clinical pathway at Pertamina Hospital Pangkalan Brandan faces interrelated, multidimensional challenges across communication, resources, disposition, and bureaucratic structure aspects.Keywords: hospital; clinical pathway; acute appendicitis 
Efek Faktor Individu, Manajemen dan Pendukung Terhadap Penundaan Operasi Elektif Sriwardani, Endang; Wijaya, Dodi; A’la, Muhamad Zulfatul
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16440

Abstract

Delays in elective surgery are considered a fundamental problem in healthcare because they cause significant disruptions to patient flow, further exacerbating already limited operational capacity, and consequently reducing hospital performance and patient satisfaction. The purpose of this study was to determine the reasons for surgical delays across hospitals and countries. The method used in this study was a literature review. The search terms used were "Delay" AND "Elective" AND "Surgery" in the Scopus, ScienceDirect, PubMed, and Proquest databases. Articles reviewed were limited to the last five years in English. The study's findings are divided into three domains: individual factors, including patient condition, type of surgery, medical diagnosis, ASA scoring, race, kidney failure, steroid use, gender, and health insurance. Management factors include insufficient human resources, including nurses and specialist doctors, as well as hospital policies. Supporting factors include insufficient operating room capacity and inadequate equipment. The study concluded that the main causes of surgical delays fall into three domains and are potentially controllable by hospital managers, who can strive to improve areas such as patient flow and capacity management.Keywords: surgery; elective; postponement ABSTRAK Penundaan operasi elektif dianggap sebagai masalah fundamental dalam layanan kesehatan karena menyebabkan gangguan yang signifikan terhadap alur pasien, yang semakin memperburuk kapasitas operasional yang seringkali sudah terbatas, dan akibatnya mengurangi kinerja rumah sakit serta kepuasan pasien. Tujuan studi ini adalah mengetahui alasan penundaan operasi di berbagai rumah sakit dan negara. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah literature review. Kata kunci yang digunakan dalam mencari literatur adalah “Delay” AND “Elective” AND “Surgery” pada database Scopus, ScienceDirect, PubMed, dan Proquest. Artikel yang ditelaah dibatasi 5 tahun terakhir dalam Bahasa inggris. Temuan studi ini dibagi menjadi 3 domain yaitu faktor individu yang meliputi kondisi pasien, jenis operasi, diagnose medis, skoring ASA, ras, gagal ginjal, penggunaan steroid, jenis kelamin, dan asuransi kesehatan. Faktor manajemen meliputi sumber daya manusia yang kurang yaitu perawat dan dokter spesialis serta kebijakan rumah sakit. Sedangkan pada faktor pendukung ditemukan kurangnya kapasitas kamar operasi dan peralatan yang kurang memadai. Kesimpulan studi ini menyatakan bahwa penyebab utama penundaan operasi terbagi atas 3 domain dan memungkinkan dapat dikendalikan oleh manajer rumah sakit, yang dapat berupaya untuk meningkatkan area seperti aliran pasien dan manajemen kapasitas.Kata kunci: pembedahan; elektif; penundaan
Karsinoma Nasofaring dengan Manifestasi Efusi Otitis Media, Emfisema Paru dan Kejang pada Pria Tidak Merokok dengan Pajanan Asap Biomassa Adji, Iwan Setiawan; Nabilah, Aisyah; Arifinnia, Salwa Ghaisani Syariifah; Hanief, Sekar Mayang Raisa; Rosyita, Fadhilla Jihan; Alghozi, Muhammad Hilmi
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16430

Abstract

Nasopharyngeal carcinoma is a head-neck epithelial malignancy with high prevalence in Southeast Asia. Chronic biomass smoke exposure is also potentially carcinogenic. This study aims to document a case of nasopharyngeal carcinoma in a non-smoker setting exposed to chronic biomass smoke, with pulmonary emphysema and a neurological presentation mimicking brain metastases, and to analyze the pathophysiological mechanisms, diagnostic challenges, and clinical and policy implications in areas with high biomass exposure. This study is a hospital case report, involving a single patient. Data were collected from history taking, physical examination, ancillary tests, and treatment outcomes, which were then analyzed descriptively. The study presents a 65-year-old male, a non-smoking farmer from a rural area, who presented with right-sided hearing loss followed by a single seizure. A CT scan revealed a right nasopharyngeal mass extending into the sphenoid and paranasal sinuses with mastoid effusion, and a hypodense lesion in the temporal lobe consistent with an old infarct. A chest X-ray showed pulmonary emphysema, and no brain metastases were found. Discussion: The combination of nasopharyngeal carcinoma and emphysema in a non-smoker suggests a possible etiological link to daily exposure to firewood smoke in an unventilated home. The patient's seizure manifestations are more likely due to metabolic disturbances than metastasis. In conclusion, this case emphasizes the importance of awareness of the risk of nasopharyngeal cancer and lung disease from biomass smoke exposure in a rural non-smoking population, as well as the urgency of environmentally based prevention.Keywords: nasopharyngeal carcinoma; biomass smoke; non-smoker; pulmonary emphysema; seizures ABSTRAK Karsinoma nasofaring merupakan keganasan epitel kepala-leher yang prevalensinya tinggi di Asia Tenggara. Paparan asap biomassa kronik juga berpotensi bersifat karsinogenik. Studi ini bertujuan untuk mendokumentasikan kasus karsinoma nasofaring dengan latar non-smoker yang terpapar asap biomassa kronik, disertai emfisema paru dan presentasi neurologis yang meniru metastasis otak, serta menganalisis mekanisme patofisiologis, tantangan diagnostik, dan implikasi klinis maupun kebijakan di daerah dengan paparan biomassa tinggi. Studi ini merupakan laporan kasus di rumah sakit, yang melibatkan pasien tunggal. Data dikumpulkan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, serta hasil terapi, yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil studi menampilkan seorang pria 65 tahun, petani non-perokok dari daerah pedesaan, datang dengan keluhan penurunan pendengaran kanan, diikuti kejang tunggal. CT-scan menunjukkan massa nasofaring kanan yang meluas ke sinus sphenoid dan paranasal dengan efusi mastoid, serta lesi hipodens di lobus temporalis yang konsisten dengan infark lama. Foto toraks menunjukkan emfisema paru, dan tidak ditemukan metastasis otak. Diskusi: Kombinasi karsinoma nasofaring dan emfisema pada non-perokok menunjukkan kemungkinan hubungan etiologis dengan paparan asap kayu bakar harian di rumah tanpa ventilasi. Manifestasi kejang pasien lebih mungkin akibat gangguan metabolik daripada metastasis. Sebagai kesimpulan, kasus ini menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko kanker nasofaring dan penyakit paru akibat paparan asap biomassa pada populasi non-perokok di pedesaan, serta urgensi pencegahan berbasis lingkungan.Kata kunci: karsinoma nasofaring; asap biomassa; non-perokok; emfisema paru; kejang
Terapi Rendam Kaki Air Hangat Campuran Garam dan Kencur untuk Menurunkan Tekanan Darah Sistolik Lansia dengan Hipertensi Khoerunnisa, Elma; Sais, Dava Dio Muhammad; Kadang, Yulta; Ismoyowati, Tri Wahyuni
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16421

Abstract

Hypertension is a major health problem frequently experienced by the elderly, which can increase the risk of cardiovascular complications such as stroke and heart disease. The purpose of this study was to determine the effect of warm water foot soak therapy mixed with salt and galangal on blood pressure in elderly hypertensive patients. This study used a one-group pretest-posttest design. The sample consisted of 30 elderly patients with hypertension selected using a purposive sampling technique. The intervention was carried out by soaking the feet in warm water at a temperature of 38-40°C mixed with 15 grams of salt and 100 grams of galangal for 10-20 minutes every day for 7 days. Blood pressure measurements were taken before and after the intervention using a digital sphygmomanometer. The results of this study showed a significant decrease in blood pressure after the intervention. The Wilcoxon test showed a p-value of <0.001, which means there was a difference in blood pressure between before and after the warm water foot soak therapy mixed with salt and galangal. Thus, there is a significant effect of warm water foot soak therapy mixed with salt and galangal on reducing blood pressure in elderly hypertensive patients. In conclusion, warm water foot soak therapy with a mixture of salt and galangal is an effective method for lowering blood pressure in elderly people with hypertension.Keywords: hypertension; elderly; warm water foot soak therapy; salt; galangal ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang sering dialami oleh lansia, yang dapat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh terapi rendam kaki air hangat campuran garam dan kencur terhadap tekanan darah lansia hipertensi. Penelitian ini menggunakan desain one group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 30 lansia dengan hipertensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan dengan merendam kaki menggunakan air hangat bersuhu 38-40°C yang dicampur dengan 15 gram garam dan 100 gram kencur selama 10-20 menit setiap hari selama 7 hari. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter digital. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya penurunan signifikan pada tekanan darah sesudah intervensi. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p <0,001, yang berarti terdapat perbedaan tekanan darah antara sebelum dan sesudah terapi rendam kaki air hangat campuran garam dan kencur. Dengan demikian, ada pengaruh signifikan dari terapi rendam kaki air hangat campuran garam dan kencur terhadap penurunan tekanan darah lansia hipertensi. Sebagai kesimpulan, terapi rendam kaki air hangat campuran garam dan kencur merupakan metode yang efektif untuk menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi.Kata kunci: hipertensi; lansia; terapi rendam kaki air hangat; garam; kencur
Waktu Optimal Pelaksanaan Open Reduction and Internal Fixation pada Fraktur Maksilofasial Adji, Iwan Setiawan; Arifinnia, Salwa Ghaisani Syariifah; Rosyita, Fadhilla Jihan; Hanief, Sekar Mayang Raisa; Nabilah, Aisyah; Alghozi, Muhammad Hilmi
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16436

Abstract

Maxillofacial fractures are complex injuries with serious functional and aesthetic implications. Determining the optimal timing of Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) remains a matter of debate due to differences in clinical outcomes between early and delayed surgery. This issue is crucial to prevent complications such as infection, malunion, and occlusion disorders. The aim of this study was to systematically review the current scientific evidence regarding the effect of ORIF timing on clinical outcomes and complications in maxillofacial fractures. This study is a systematic literature review using the PRISMA 2020 guidelines. PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar databases were searched for articles from 2008–2024 using the keywords “maxillofacial fracture,” “ORIF timing,” and “outcomes.” Ten studies met the inclusion criteria and were analyzed narratively based on parameters such as operative time, functional outcomes, and complications. Based on the study results, most studies indicate that early ORIF (≤72 hours) results in better bone healing (p <0.05), reduces the risk of infection and occlusion disorders, and accelerates masticatory rehabilitation. However, some studies report that delayed surgery up to 5–7 days can still provide comparable results if the soft tissue condition is unstable. The conclusion of this study is that current evidence supports the implementation of early ORIF if the patient's systemic condition permits. Delayed surgery should only be considered in cases with severe edema or high anesthetic risk.Keywords: maxillofacial fracture; open reduction and internal fixation; operative time; healing; complications ABSTRAK Fraktur maksilofasial merupakan cedera kompleks dengan implikasi fungsional dan estetik yang serius. Penentuan waktu optimal tindakan Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) masih menjadi perdebatan, karena perbedaan hasil klinis antara operasi dini dan tertunda. Isu ini penting untuk mencegah komplikasi seperti infeksi, malunion, dan gangguan oklusi. Tunjuan dari studi ini adalah meninjau secara sistematis bukti ilmiah terkini mengenai pengaruh waktu pelaksanaan ORIF terhadap hasil klinis dan komplikasi pada fraktur maksilofasial. Studi ini merupakan systematic literature review menggunakan panduan PRISMA 2020. Basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar ditelusuri untuk artikel tahun 2008–2024 dengan kata kunci “maxillofacial fracture”, “ORIF timing”, dan “outcomes”. Sebanyak 10 studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara naratif berdasarkan parameter waktu operasi, hasil fungsional, dan komplikasi. Berdasarkan hasil studi, sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa ORIF dini (≤72 jam) menghasilkan penyembuhan tulang yang lebih baik (p <0,05), menurunkan risiko infeksi dan gangguan oklusi, serta mempercepat rehabilitasi fungsi mastikasi. Namun, beberapa studi melaporkan bahwa operasi tertunda hingga 5–7 hari masih dapat memberikan hasil sebanding bila kondisi jaringan lunak belum stabil. Kesimpulan studi ini menyatakan bahwa bukti terkini mendukung pelaksanaan ORIF dini bila kondisi sistemik pasien memungkinkan. Penundaan operasi sebaiknya hanya dipertimbangkan pada kasus dengan edema berat atau risiko anestesi tinggi.Kata kunci: fraktur maksilofasial; open reduction and internal fixation; waktu operasi; penyembuhan; komplikasi
Responsive Feeding Sebagai Prediktor Kejadian Stunting pada Balita Nurul, Eli; Aisyah, Iis; Rosyda, Rafika
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16426

Abstract

Stunting in toddlers remains a serious public health problem because it impacts long-term physical growth and cognitive development. Parenting factors, including responsive feeding and parenting styles, are still overlooked in nutrition interventions. The purpose of this study was to analyze the relationship between responsive feeding and parenting styles and the incidence of stunting in toddlers. This study used a cross-sectional design, involving 79 toddlers selected using a purposive sampling technique. Data were collected through the RFPAT questionnaire, PSDQ-SF, and anthropometric measurements based on height-for-age z-scores. Data analysis was performed using the Spearman correlation test and logistic regression. The results of the multivariate analysis showed that responsive feeding significantly influenced the incidence of stunting (p = 0.002; Odds Ratio = 1.211); however, parenting styles had no effect (p = 0.452). Based on these findings, it can be concluded that responsive feeding is a predictor of stunting in toddlers.Keywords: toddler; stunting; responsive feeding ABSTRAK Stunting pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius karena berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif jangka panjang. Faktor pengasuhan, termasuk responsive feeding dan pola asuh masih terabaikan dalam intervensi gizi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara responsive feeding dan pola asuh dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, yang melibatkan 79 balita yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner RFPAT, PSDQ-SF, dan pengukuran antropometri berdasarkan z-score tinggi badan menurut umur. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dan uji regresi logistik. Hasil analisis secara multivariat menunjukkan bahwa responsive feeding berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian stunting (p = 0,002; Odds Ratio = 1,211); namun faktor pola asuh tidak berpengaruh (p = 0,452). Berdasarkan temuan ini dapat disimpulkan bahwa responsive feeding merupakan prediktor kejadian stunting pada balita.  Kata kunci: balita; stunting; responsive feeding
Strategi Intervensi Peningkatan Kualitas Hidup Orang dengan HIV/AIDS Ahmad, Zunaidi; Upoyo, Arif Setyo; Purnawan, Iwan
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16431

Abstract

Quality of life in people with HIV/AIDS is influenced by various factors, including stigma, adherence to antiretroviral therapy, and social support. The aim of this study was to synthesize interventions that have been implemented to improve quality of life in people with HIV/AIDS based on recent primary research. This systematic review included articles published between January 2018 and August 2022, retrieved from seven databases: ScienceDirect, SAGE Journals, EBSCOHost, PubMed, Scopus, ProQuest, and Wiley Online. Inclusion criteria included randomized controlled trials involving people with HIV/AIDS, articles in English, and full-text submissions. Of the 965 articles identified, 10 met the inclusion criteria. Reported interventions included telemonitoring, yoga, cognitive behavioral therapy, community empowerment, and social support. Most interventions demonstrated a positive impact on quality of life, particularly in the psychological, social, and spiritual domains. The interventions lasted three to six months, with better outcomes in longer-term programs. Family involvement and interdisciplinary collaboration were concluded as key contributing factors to the success of the interventions.Keywords: people with HIV/AIDS; quality of life; antiretroviral therapy; social support ABSTRAK Kualitas hidup pada orang dengan HIV/AIDS dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk stigma, kepatuhan terhadap terapi antiretroviral, dan dukungan sosial. Tujuan studi ini adalah mensintesis berbagai intervensi yang telah diterapkan untuk meningkatkan kualitas hidup pada orang dengan HIV/AIDS berdasarkan penelitian primer terbaru. Tinjauan sistematis ini mencakup artikel yang diterbitkan antara Januari 2018 hingga Agustus 2022, yang didapatkan dari tujuh database yaitu ScienceDirect, SAGE Journals, EBSCOHost, PubMed, Scopus, ProQuest, dan Wiley Online. Kriteria inklusi meliputi randomized controlled trial dengan melibatkan orang dengan HIV/AIDS, artikel berbahasa Inggris dan memuat teks lengkap. Dari 965 artikel yang diidentifikasi, 10 artikel memenuhi kriteria inklusi. Intervensi yang dilaporkan meliputi telemonitoring, yoga, cognitive behavioral therapy, pemberdayaan komunitas, dan dukungan sosial. Sebagian besar intervensi menunjukkan dampak positif pada kualitas hidup, terutama dalam domain psikologis, sosial, dan spiritual. Durasi intervensi adalah tiga hingga enam bulan, dengan hasil yang lebih baik pada program jangka panjang. Disimpulkan bahwa keterlibatan keluarga dan kolaborasi lintas disiplin menjadi faktor pendukung utama keberhasilan intervensi.Kata kunci: orang dengan HIV/AIDS; kualitas hidup; terapi antiretroviral; dukungan sosial
Experiences of Obese Adolescent Girls in Depression Prevention Dewi, Ari Pristiana; Lipoeto, Nur Indrawati; Bachtiar, Adang; Yanis, Amel
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 17, No 1 (2026): January 2026 (up coming)
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf170101

Abstract

Depression in obese adolescent girls is a serious disorder that can affect their behavior, emotions, and thoughts. The purpose of this study was to explore the experiences of obese adolescent girls in preventing depression. This study used a qualitative approach, a phenomenological study. The participants were 11 obese adolescent girls in Pekanbaru City, selected using a purposive sampling technique. The data collection method used was in-depth interviews. Data were analyzed using the Colaizzi method. The results showed that there were four themes and 13 sub-themes. The first theme was the unpleasant experiences of obese adolescents, consisting of three sub-themes: body shaming, bullying, and discrimination. The second was the psychological impact, consisting of two sub-themes: intrapersonal and interpersonal impacts. The third was the internal factors determining depression prevention, consisting of four sub-themes: knowledge of depression, self-esteem, self-image, and coping mechanisms. The fourth was the external factors determining depression prevention, consisting of four sub-themes: peers, teachers, family, and health care workers. In conclusion, obese adolescent girls had unpleasant experiences, experienced psychological impacts, and were aware of the internal and external determinants of depression prevention. It is hoped that healthcare institutions will provide intensive nursing care for adolescents with obesity to prevent depression.Keywords: adolescent girls; obesity; depression; experience; prevention
Aktivitas Fisik Ringan hingga Sedang sebagai Faktor Penunjang Keseimbangan Hormon dan Keteraturan Siklus Menstruasi Tarigan, Dwi Reva Nita Sela Br; Sitorus, Marta Aurelia; Mahara, Erike Wanate; Kaban, Mickael Brema; Tumanggor, Arif Wellmen; Siregar, Nurhamida Sari; Kurniawan, Randi
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16432

Abstract

A regular menstrual cycle is often considered an important indicator of women's reproductive health because it reflects hormonal balance and a stable body condition. One factor influencing this cycle's regularity is physical activity. Physical activity can influence the functioning of the hormonal system through neuroendocrine mechanisms and the body's energy balance. The aim of this study was to critically examine how physical activity affects the menstrual cycle and develop applicable recommendations for maintaining women's reproductive health. This study was a literature review of nine scientific articles published between 2014 and 2025. Each article was analyzed to examine the relationship between physical activity intensity and menstrual cycle disorders in adolescents and young adults, taking into account other factors that may influence outcomes, such as nutritional status, body mass index, and psychological well-being. The analysis showed that high-intensity or excessive physical activity can disrupt reproductive hormone balance, often triggering disorders such as oligomenorrhea, amenorrhea, or hypomenorrhea. Conversely, regular light to moderate physical activity plays a positive role in stabilizing hormones and maintaining menstrual cycle regularity. In conclusion, moderate-intensity physical activity and a regular pattern are recommended preventive and promotive measures to maintain menstrual cycle regularity and support women's reproductive health.Keywords: physical activity; menstrual cycle; adolescent girls ABSTRAK Siklus menstruasi yang teratur sering dijadikan indikator penting kesehatan reproduksi perempuan karena mencerminkan keseimbangan hormon dan kondisi tubuh yang stabil. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keteraturan siklus ini adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik bisa memengaruhi kerja sistem hormon melalui mekanisme neuroendokrin dan keseimbangan energi tubuh. Tujuan studi ini adalah meninjau secara kritis bagaimana aktivitas fisik berpengaruh terhadap siklus menstruasi serta menyusun rekomendasi yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan reproduksi perempuan. Studi ini merupakan tinjauan literatur terhadap sembilan artikel ilmiah yang terbit antara tahun 2014 hingga 2025. Setiap artikel dianalisis untuk melihat hubungan antara intensitas aktivitas fisik dan gangguan siklus menstruasi pada remaja maupun perempuan dewasa muda, dengan mempertimbangkan faktor lain yang turut memengaruhi hasil, seperti status gizi, indeks massa tubuh, dan kondisi psikologis. Hasil analisis menunjukkan bahwa aktivitas fisik dengan intensitas tinggi atau berlebihan dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi, yang sering memicu gangguan seperti oligomenore, amenore, atau hipomenore. Sebaliknya, aktivitas fisik ringan hingga sedang yang dilakukan secara teratur justru berperan positif dalam menstabilkan hormon dan menjaga keteraturan siklus menstruasi. Sebagai kesimpulan, aktivitas fisik dengan intensitas sedang dan pola yang teratur adalah pilihan langkah preventif dan promotif untuk menjaga keteraturan siklus menstruasi serta mendukung kesehatan reproduksi perempuan.Kata kunci: aktivitas fisik; siklus menstruasi; remaja putri 
Masa Kerja, Postur Kerja dan Aktivitas Berulang Sebagai Determinan Musculoskeletal Disorders pada Pekerja Laundry Munairah, Munairah; Aswin, Budi; Lanita, Usi; Perdana, Silvia Mawarti
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16413

Abstract

Musculoskeletal disorders are an occupational health problem in informal sectors such as laundries, which are prone to occur due to unergonomic work postures, repetitive activities, and long work durations. The purpose of this study was to analyze the relationship between work posture, repetitive activities, length of service, and body mass index (BMI) with the incidence of musculoskeletal disorders in laundry workers. This study used a cross-sectional design, involving 82 workers selected using a proportional stratified random sampling method. Data collection was conducted using the Rapid Entire Body Assessment (REBA) worksheet, the Nordic Body Map (NBM), and questionnaires according to the variables. Data were analyzed using the Chi-square test. The analysis results showed that the p-value for each independent variable was work posture = 0.023, repetitive activities 0.029, work period 0.001, and body mass index = 0.744. Therefore, it can be concluded that the determinants of musculoskeletal disorders in laundry workers in this location are length of service, work posture, and repetitive activities.Keywords: musculoskeletal disorders; length of service; work posture; repetitive activities ABSTRAK Musculoskeletal disorders merupakan masalah kesehatan kerja pada sektor informal seperti laundry yang rentan terjadi akibat postur kerja tidak ergonomis, aktivitas berulang, dan durasi kerja yang panjang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara postur kerja, aktivitas berulang, masa kerja, dan indeks massa tubuh dengan kejadian musculoskeletal disorders pada pekerja laundry. Penelitian ini menggunakan desain cross- sectional, dengan melibatkan 82 pekerja yang dipilih menggunakan metode proporsional stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Rapid Entire Body Assessment (REBA) worksheet, Nordic Body Map (NBM), dan kuesioner sesuai variabel. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p untuk masing-masing variabel independen adalah postur kerja = 0,023, aktivitas berulang 0,029, masa kerja 0,001 dan indeks massa tubuh = 0,744. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa determinan kejadian musculoskeletal disorders pada pekerja laundry di lokus ini adalah masa kerja, postur kerja dan aktivitas berulang.Kata kunci: musculoskeletal disorders; masa kerja; postur kerja; aktivitas berulang

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 1 (2026): January 2026 (up coming) Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025 Vol 16, No 3 (2025): Juli-September 2025 Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 (up coming) Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025 Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024 Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024 Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024 Vol 15, No 1 (2024): Januari-Maret 2024 2024 Vol 14, No 4 (2023): Oktober - Desember 2023 Vol 14, No 3 (2023): Juli - September 2023 Vol 14, No 2 (2023): April 2023 Vol 14, No 1 (2023): Januari 2023 2023 Vol 13, No 4 (2022): Oktober 2022 Vol 13, No 3 (2022): Juli 2022 Vol 13, No 2 (2022): April 2022 Vol 13, No 1 (2022): Januari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Februari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Januari 2021 2022 Vol 12, No 4 (2021): Oktober 2021 Vol 12, No 3 (2021): Juli 2021 Vol 12, No 2 (2021): April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus Januari 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus November 2021 Vol 12, No 1 (2021): Januari Vol 11, No 3 (2020): Juli 2020 Vol 11, No 2 (2020): April 2020 Vol 11, No 1 (2020): Januari 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Maret-April 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus November-Desember 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Januari-Februari 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Mei-Juni 2020 Vol 11, No 4 (2020): Oktober Vol 10, No 4 (2019): Oktober 2019 Vol 10, No 3 (2019): Juli 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 1 (2019): Januari 2019 Vol 9, No 4 (2018): Oktober 2018 Vol 9, No 3 (2018): Juli 2018 Vol 9, No 2 (2018): April 2018 Vol 9, No 1 (2018): Januari 2018 Vol 8, No 4 (2017): Oktober 2017 Vol 8, No 3 (2017): Juli 2017 Vol 8, No 2 (2017): April 2017 Vol 8, No 1 (2017): Januari 2017 Vol 7, No 4 (2016): Oktober 2016 Vol 7, No 3 (2016): Juli 2016 Vol 7, No 2 (2016): April 2016 Vol 7, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 6 (2015): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional 2010: Template More Issue