cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 252 Documents
Reviewer Acknowledgement Tim Redaksi
WalennaE Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.473 KB) | DOI: 10.24832/wln.v15i2.290

Abstract

POTENSI DAN SEBARAN ARKEOLOGI MASA ISLAM DI SULAWESI SELATAN Muhammad Husni; nfn Hasanuddin
WalennaE Vol 13 No 2 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3799.63 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i2.260

Abstract

Sebaran peninggalan arkeologi Islam memang cukup menarik dibicarakan, karena kejadiannya berlangsung cukup lama dalam konteks masyarakat yang konservatif. Namun menjadi identifikasi dasar legitimasi kultural dan kepeloporan pembaharuan dalam masyarakat. Masuknya Islam di Sulawesi Selatan agak terlambat jika dibandingkan dengan kawasan sekitarnya seperti Maluku, Kalimantan, dan Pesisir Utara Jawa. Sejak awal abad ke-17 Masehi, masyarakat Sulawesi menganut agama Islam dan dicap sebagai orang Nusantara yang paling kuat identitas keislamannya. Meskipun demikian, pada saat yang sama berbagai kepercayaan dan tradisi yang berasal dari Praislam masih tetap dipertahankan oleh sebagian masyarakatnya hingga akhir abad ke-20 Masehi. Di beberapa daerah yang juga menerima Islam, bahkan mengalami perkembangannya dengan bukti-bukti arkeologis berupa makam yang megah dan kaya akan ragam hias. Indikasi yang dapat diamati mengenai proses islamisasi yaitu terdapatnya beberapa peninggalan arkeologi berupa kompleks-kompleks makam, mesjid dan naskah-naskah kuno yang ditulis dengan huruf Arab. Peninggalan makam-makam Islam jika dihubungkan dengan kajian proses Islamisasi di setiap daerah, merupakan data yang sangat penting, karena makam sebagai salah satu perilaku ritual sekaligus perilaku sosial dan merupakan salah satu fenomena yang harus ada dalam siklus kehidupan manusia. Demikian pula dengan transformasi budaya yang dapat dilihat pada bentuk makam dan nisan yang digunakan.Spreading of Islamic archaeological inheritance is an interesting topic to be discussed, because it occurred in conservative society for a quite long period of time. It became basic identification for cultural legitimating and renewal pioneering in society. Although the spreading of Islam in South Celebes was a little slow compared with other regions such as Moluccas, Borneo and north of Java. In early 17th century, people of Celebes professed Islam. They were labeled as people with the strongest Islamic identity in Indonesian archipelago. But in the same time, some beliefs and traditions ofpre-Islam were still maintained in the society until the end of 20th century. In some regions, Islam showed its development with some archaeological evidences of luxurious graves with rich ornaments. Islamisation process was indicated on some archaeological inheritance of graves, mosque and ancient scripts written in Arabic. Related to study of Islamisation process in every region, inheritance of Islamic graves is a very important data. Graves indicates as one of ritual and social behavior. It was one of phenomenon that always occur in human life. Likewise, cultural transformation could be seen on graves and gravestones.
PERSPEKTIF DALAM BEHAVIORAL ARCHAEOLOGY nfn Najemain
WalennaE Vol 5 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3289.452 KB) | DOI: 10.24832/wln.v5i1.141

Abstract

Behavioral archaeology memandang bahwa, subyek pokok disiplin ilmu arrkeologi adalah hubungan timbal balik antara tingkah laku manusia dengan kebudayaan materi, dalam waktu dan tempat yang tidak terbatas. Arkeologi tingkah laku merupakan usaha dari pakar arkeologi untuk lebih memposisikan arkeologi sebagai ilmu yang senantiasa berkembang dan berusaha memperluas ruang gerak para arkeolog, agar tidak terkungkung dalam doktrin bahwa arkeologi adalah ilmu tentang masa lalu, namun tidak menghilangkan sifat dasar arkeologi yang mengkaji budaya materi hasil tingkah laku manusia. Behavioral archaeology memberikan perhatian yang serius terhadap proses transformasi yang di alamai oleh data arkeologi dengan pandangan bahwa benda-bendaitu mrupakan cerminan tingkah laku masa lampau yang telah melenceng atau bias. Oleh karna itu harus diketahui terlebih dahulu proses benda-benda itu terbentuk hingga menjadi seperti yang kita dapatkan sekarang ini.
NASKAH KUNA KERATON BUTON SULAWESI TENGGARA nfn Muhaeminah
WalennaE Vol 12 No 1 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2856.976 KB) | DOI: 10.24832/wln.v12i1.227

Abstract

Archaeological site of Buton has a very important thing besides many ancient archaeology, that contains many Islamic material, Prays, Moslem poem, as a basic ideology. The archaeological site of Buton reconstruct the history of Buton and the role of Islam, in improvement of social politic and the econome of society of Buton.Situs arkeologi Buton memiliki hal yang sangat penting selain banyak naskah kuno, yang berisi baajaran Islam, Doa, puisi Muslim, sebagai ideologi dasar. Situs arkeologi Buton merekonstruksi sejarah Buton dan peran Islam, dalam perbaikan politik sosial dan ekonom masyarakat Buton.
THE CONTEXT OF THE CARNELIAN BEADS FROM BONTO-BONTOA, BANTAENG, SOUTH SULAWESI David Bulbeck; Moh. Ali Fadillah
WalennaE Vol 3 No 1 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1414.32 KB) | DOI: 10.24832/wln.v3i1.81

Abstract

No Abstract
HUNIAN AWAL MANUSIA BERDASARKAN POTENSI SUMBERDAYA ALAM: PEMBAHASAN TENTANG SISTEM MATA PENCAHARIAN YANG BERMAKNA SOSIAL-EKONOMIS E.A. Kosasih
WalennaE Vol 6 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3119.03 KB) | DOI: 10.24832/wln.v6i2.164

Abstract

Perhatikan perkembangan ilmu prasejarah secara umum, tampak ada tiga faktor utama yang saling berkaitan erat, yaitu faktor alam, manusia dan kebudayaan sebagai suatu integritas. Materi tinggalan budaya mereka merupakan salah satu sumberdaya yang diharapkan dapat menyusun riwayat hidup masyarakat prasejarah yang tergolong kompleks, serta mampu pula merefleksikan kondisi kehidupan sosial-ekonomi dan atau religi-magis, yang melatarbelakangi lahirnya berbagai bentuk budaya yang pernah diciptakannya. Penelitian ini memusatkan perhatiannya pada sistem sosial budaya masyarakat prasejarah. Tujuannya untuk menggambarkan kondisi masyarakat dalam aspek sosial budaya dan mengetahui pula kondisi geografis suatu tempat hunian serta jumlah kegiatan yang bermakna ekonomi. Metode yang dilakukan berupa pengumpulan data, pengolahan data dan interpretasi data. Hasil yang diperoleh bahwa pengelolaan lingkungan dapat diartikan sebagai upaya untuk melindungi, memelihara serta memperbaiki kualitas lingkungan, agar segala kebutuhan dasar manusia dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
ARTEFAK LITIK DI KAWASAN PRASEJARAH BATU EJAYYA: TEKNOLOGI PERALATAN TOALIAN DI PESISIR SELATAN SULAWESI nfn Suryatman
WalennaE Vol 15 No 1 (2017)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2142.102 KB) | DOI: 10.24832/wln.v15i1.2

Abstract

Batu Ejayya adalah salah satu kawasan prasejarah hunian Toalian di pesisir selatan Sulawesi. Kawasan ini mulai dihuni pada masa pertengahan hingga akhir holosen. Kawasan tersebut berada di wilayah formasi batuan Vulkanik, dimana ketersediaan sumber bahan Chert untuk peralatan sulit ditemukan. Permasalahan penelitiannya adalah bagaimana perilaku penghuni Toalian membuat peralatan litik dengan keterbatasan bahan material berkualitas baik di sekitar kawasan situs. Temuan artefak litik dari ekskavasi dan survei akan dianalisis dengan fokus pada kategori alat serpih diretus, serpih tidak diretus, serpih utuh dan batu inti pada bahan batuan Chert dan Vulkanik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan peralatan kecil yang cenderung tinggi dan rumit mengharuskan mereka untuk mencari dan menemukan bahan tersebut sebagai bahan utama. Tahapan teknologi untuk bahan Chert diawali dengan penyerpihan awal yang dilakukan diluar dari kawasan situs. Bahan Vulkanik hanya sebagai bahan alternatif untuk peralatan berukuran besar dan tidak membutuhkan modifikasi tinggi.
POLA PIKIR DAN TINGKAH LAKU MANUSIA PRASEJARAH (TOALA?) DI SITUS GUA BATTI, BONTOCANI: BERDASARKAN VARIABILITAS TEMUAN ARKEOLOGIS Budianto Hakim
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5895.568 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.250

Abstract

Sejalan dengan tugas studi arkeologi, yaitu merekonstruksi kehidupan manusia pada masa lampau melalui hasil budaya yang ditinggalkan yang sampai pada kita. Untuk merekonstruksi pola hidup manusia prasejarah, belum ada keterangan tertulis yang dapat menuntun kita, yang tersedia hanyalah budaya yang berbentuk materi, seperti artefak (alat batu, gerabah, alat logam, alat tulang dll) makanan (tulang binatang, kerang, biji-bijian dll). Dari tinggalan budaya inilah sehingga dapat diketahui tahap-tahap perkembangan yang telah dicapai manusia. Artefak sebagai sarana yang digunakan masa lalu untuk memenuhi kebutuhan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Selain itu, artefak juga dapat memberikan gambaran tentang kegiatan sosial dan aktivitas masa lampau. Jadi melalui kegiatan penelitian, artefak maupun non-artefak yang kita temukan dapat memberikan gambaran tentang proses perkembangan budaya (cultur change) dari masa ke masa sebagai bahan perbandingan kebudayaan kita pada dewasa ini. In line with the task of archaeological studies, namely reconstructing the past human life through the cultural left that up to us. To reconstruct patterns of prehistoric human life, there is no written statement can lead us, which is available only in the form of remnants of material culture, such as artifacts (stone tools, pottery, metal tools, bone tools, etc.) and food waste (animal bones, shells, seeds grains, etc.). Of cultural relics is so knowable stages of human development has been achieved. Artifacts as a means by which humans use the past to meet the needs of continued survival. In addition, artifacts can also give an overview of social activities and activities of the past. So through research activities, artefacts and non-artifacts that we found can provide a snapshot of the process of cultural development (Cultur change) from time to time as a comparison of our culture at present.
KAJIAN TIPOLOGIS KENDI TANAH LIAT SITUS GEDUNGKARYA, JAMBI, DAN PERSAMAANNYA DI ASIA TENGGARA Budianto Hakim
WalennaE Vol 4 No 2 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4102.599 KB) | DOI: 10.24832/wln.v4i2.132

Abstract

The background of pot as one of pottery development could be understood in two aspects: commerce, inter-cultural relations, and language. An enormous pot made from clay at Gedungkarya site is a new issue. Where this pot does came from? And, whether Gedungkarya site is an 'industry' or not? Hitherto the question still under debates for white clay pots distribution includes wide areas in South East Asia. A typology study to compare with South East Asia pots is an effort to answer the question above.
EKSISTENSI KOMUNITAS BUGIS DI KERAJAAN PAGATAN DAN KUSAN, KALIMANTAN SELATAN Andi Nuralang
WalennaE Vol 4 No 1 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3539.171 KB) | DOI: 10.24832/wln.v4i1.123

Abstract

Bugis migrants were the pioneer of Pagatan Kingdom in South Kalimantan which integrated by Kusan Kingdom by Arung Abdulkarim. Bugis community pocket at Pagatan was pioneered by Penna Dekke, a wealthy ruler of Soppeng, who later on established a kingdom. Bugis existence at Pagatan and Kusan was proved with artifacts and monument finds. Archaeological findings at formerly Bugis settlement pockets are still able to be found. Even the living Bugis culture remains practice by the community, such as its language and religion.

Page 10 of 26 | Total Record : 252