cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 252 Documents
TEMUAN MEGALIT DAN PENATAAN RUANG PERMUKIMAN DI KABUPATEN ENREKANG nfn Hasanuddin
WalennaE Vol 13 No 2 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3955.75 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i2.264

Abstract

Situs Tampo dan Situs Buntu Marari adalah situs megalitik yang ditemukan di wilayah Kabupaten Enrekang. Kedua situs tersebut memperlihatkan keberagaman dan sebaran data artefaktual yang cukup menarik untuk dikaji dalam penelitian arkeologi permukiman. Temuan umpak dan struktur bangunan teras membuktikan adanya sistem permukiman yang cukup kompleks dengan sifat kemandirian yang dibangun dalam jalinan sistem okupasi. Lokasi yang berada di daerah ketinggian menunjukkan tingkat okupasi yang cukup tinggi dengan akselerasi penggunaan lokasi berdasarkan pertimbangan teknologis. Dikatakan demikian karena sistem permukiman itu berlangsung di daerah ketinggian yang disesuaikan dengan faktor geografis daerah Enrekang. Mungkin juga lebih disebabkan oleh pertimbangan keamanan, karena daerah ketinggian cukup strategis untuk kemanan, baik secara hubungan komunal maupun dari faktor alam seperti menghindari kemungkinan banjir.Tampo and Buntu Marari Sites are megalithic sites found in the area of Enrekang Regency. These sites show the diversity and distribution of artefactual data that interesting to study in the research of archaeological settlements. Extolled and terrace structure findings proves the existence of a fairly complex settlement system with independence properties built within the occupational system. Location which is located at an altitude regions show a fairly high level of occupational therapy with acceleration of location utilizing based on technological considerations. It was said, because the system of settlements took place in the region height adjusted by geographic factor of Enrekang area. It may also be more due to security considerations, because the height is a good strategic area for safety, both communal relationships as well as natural factors such as avoiding the possibility of flooding.
KIPRAH SYEKH ABD. MANAN DAN TRANSFORMASI SOSIAL DI BANGGAE, MAJENE Andi Fatmawati Umar
WalennaE Vol 5 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2092.958 KB) | DOI: 10.24832/wln.v5i1.145

Abstract

Penelitian ini membahas tentang tokoh syekh ABD manan dengan fokus utama untuk mengetahui latar sejarah kehidupannya di daerah banggae, majene. Teknik pengumpulan data di lakukan melalui tinjauan pestaka dan melakukan survei lapangan untuk merekam tinggalan budayanya. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kehadiran syekh abd. Manan di banggae mendapat dukungan dari raja banggae, hal ini juga telah mengubah pola pikir masyarakat dalam menanamkan rasa solidaritas serta semangat kebersamaan, tetapi sebagian masyarakat masih tetap mempertahankan tradisi pra-islam yang tujuannya memperbaiki status sosial. Hal ini dapat dilihat dari pendirian bangunan makam yang megah dengan ragam hias serta nisan yang ditempatkan di atas bangunan tersebut.
PERSPEKTIF ARKEO-HISTORIS MIGRASI BUGIS DAN MAKASSAR: KUASI JARINGAN NASIONALITAS NUSANTARA M. Irfan Mahmud
WalennaE Vol 3 No 1 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4651.703 KB) | DOI: 10.24832/wln.v3i1.85

Abstract

Arus migrasi orang Bugis dan Makassar tampaknya lebih di dorong oleh mentalitas budaya dan konflik lokal. Dalam tulisan ini, akan di uraikan bagaimana arus migrasi orang-orang Bugis dan Makssar secara tidak sadar menggantikan posisi majapahit dalam proyek nasionalitas yang lebih permanen. Disini dapat dilihat bahwa, keberhasilan orang bugis dan makassara dalam menguasai jaringan nasional nusantara terletak pada interaksi sosial, ekonomi, politik dan agama bersifat non formal yang sangat bertolak belakang dengan upaya-upaya politik formal yang dilakukan oleh kerajaan Majapahit sebelumnya.
MENHIR SIGUNTU, TORAJA Muhammad Husni; Danang Wahju Utomo
WalennaE Vol 6 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3740.137 KB) | DOI: 10.24832/wln.v6i2.168

Abstract

Tradisi megalitik sebagai salah satu kebudayaan masa lampau yang mencakup segala aspek kehidupan manusia. Peninggalan megalit sangat berkaitan erat dengan pemujaan arwah leluhur. Tulisan ini akan memusatkan perhatian selain pada fungsi juga pola penempatannya terhadap penggunaan ruang. Studi ini dilakukan untuk melihat peranan menhir secara keseluruhan dalam kehidupan masyarakat Toraja melalui pembahasan terhadap menhir Siguntu di kecamatan Sanggalangi, Kabupaten Tana Toraja. Tujuannya untuk mengetahui fungsi dari menhir Siguntu. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data yang dilanjutkan dengan analisis artefak dan konteks pada objek penelitian. Hasil yang diperoleh menhir Siguntu, selain berkaitan dengan upacara penguburan, menhir Siguntu juga berkaitan dengan pemujaan pada arwah leluhur. Selain itu, penempatan kompleks menhir Siguntu yang relatif berada di tengah-tengah berbagai elemen pemukiman, memberikan asumsi bahwa menhir Siguntu dianggap sebagai pusat dalam melakukan hubungan dengan roh leluhur. 
BENTUK DAN RAGAM HIAS MAKAM ISLAM KUNO DI KABUPATEN JENEPONTO SULAWESI SELATAN nfn Hasanuddin; Basran Burhan
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6356.794 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.254

Abstract

Eksplorasi yang telah dilakukan di Jeneponto diperoleh sebaran makam Islam kuno pada sepuluh situs dengan variabilitas temuan makam yang sangat kompleks. Hubungan yang tampak jelas antara bentuk jirat, nisan dan ragam hias menunjukkan bahwa semakin besar dan tinggi ukuran jirat dan semakin variatif ragam hias suatu makam, maka tokoh yang dimakamkan memiliki strata yang tinggi pula. Bentuk jirat dengan varian ragam hias tidak berkorelasi positif terhadap bentuk jirat untuk melihat strata sosial orang yang dimakamkan. Hubungan bentuk jirat dengan bentuk nisan memperlihatkan bahwa pemakaian bentuk nisan paling banyak pada jirat monolit bersusun dua disusul dengan jirat bersusun tiga. Khusus untuk nisan menhir hanya digunakan pada makam tanpa jirat atau jirat yang tersusun dari batu-batu alam. Tampaknya tidak ada pola yang jelas mengenai penggunaan bentuk-bentuk nisan terhadap bentuk-bentuk jirat. Demikian pula dengan sistem ideologi, terlihat bahwa di daerah Jeaeponto, walaupun kepercayaan yang dianut sebelum adanya Islam, namun masih terlihat adanya unsur-unsur pra-Islam yang teraktualisasi pada bentuk makam, nisan dan ragam hias sebagai akibat adanya proses akulturasi dua unsur budaya. Exploration has been done in Jeneponto was obtained distributions of moslem ancient tombs at ten sites with variability of the tomb findings are very complex. The apparent relationship between the form of sepulcher, tombstones and ornaments show that the larger and height and the more varied decoration of a tomb, then the figures are buried have a higher strata as well. Sepulcher with a variant form of ornamentation is not positively correlated with the form of sepulcher to see the social strata of people are buried. Relationship of sepulcher and tombstone shows that the use of tombstones are most on a monolithic with composition of two, followed with a three one. Especially for menhir, it is used only for tombs without sepulcher or sepulcher that is composed of natural stones. It seems there is no clear pattern regarding the use of grave forms on sepulcher forms. Similarly with ideological system, shows that in Jeneponto area, although the beliefs held prior to Islam, but still visible presence of elements of pre-Islamic which actualized in the form of graves, tombstones and various ornaments as a result of the acculturation process of the two elements of culture.
Berita Penelitian Tim Editor
WalennaE Vol 4 No 2 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.224 KB) | DOI: 10.24832/wln.v4i2.136

Abstract

CIRI BUDAYA AUSTRONESIA DI KAWASAN ENREKANG SULAWESI SELATAN Nani Somba
WalennaE Vol 12 No 1 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2862.245 KB) | DOI: 10.24832/wln.v12i1.222

Abstract

Enrekang is one of the regencies in South Sulawesi which having less attention in archaeo­logical research. The research of Collo sites shows some of its importance, that is an old abandoned settlement and a shelter burial. The findings at Bambapuang's region, especially from Collo site seems showing its relationship with the character of early agricultural tradition while keep inheriting the late-Neolithic stone tools tradition. The basic character of the cultures in Bambapuang region relates with flakes technology, pottery, and ancestor's worship. The preliminary conclusion from all of the researches in Enrekang is that the first chronology of the settlement growth in Bambapuang Regency--especially at Collo site was at the same period with the spread of Austronesia in Nusantara Archipelago.Enrekang adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang kurang perhatian dalam penelitian arkeologi. Penelitian situs Collo menunjukkan beberapa aspek pentingnya, yaitu pemukiman tua yang ditinggalkan dan pemakaman. Temuan di wilayah Bambapuang, terutama dari situs Collo tampaknya menunjukkan hubungannya dengan karakter tradisi pertanian awal sambil tetap mewarisi tradisi alat-alat batu Neolitik akhir. Karakter dasar budaya di wilayah Bambapuang terkait dengan teknologi serpih, tembikar, dan pemujaan leluhur. Kesimpulan awal dari semua penelitian di Enrekang adalah bahwa kronologi pertama pertumbuhan permukiman di Kabupaten Bambapuang - terutama di lokasi Collo - adalah - pada periode yang sama dengan penyebaran Austronesia di Kepulauan Nusantara.
CETAKAN TANAH LIAT DI DESA LAMANGGA, KOTA BAU-BAU, BUTON Danang Wahju Utomo
WalennaE Vol 5 No 2 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4131.234 KB) | DOI: 10.24832/wln.v5i2.159

Abstract

Tradisi pengecoran logam di desa Lamangga sangat menarik perhatian yaitu dari hasil limbah industri. Limbah yang dimaksud disini bukanlah sisa-sisa lelehan logam tetapi limbah cetakan pengecoran dari tanah liat. Cetakan tanah liat dalam beberapa hal sering lepas dari pengamatan, maka perlu dilakukan pengamatan yang bertujuan untuk melihat proses perbengkelan logam. Metode yang dilakukan berupa pengumpulan data melalui pengamatan dan analisis terhadap fragmen cetakan tanah liat serta melakukan pengkajian secara etnoarkeologi. Hasil yang diperoleh bahwa pertukangan logam menunjukkan sebuah proses yang selalu menghasilkan limbah, salah satunya pecahan cetakan tanah liat. Pecahan tanah liat atau fragmen gerabah yang ditemukan di sebuah situs tidak semua adalah wadah, kemungkinan lain merupakan cetakan tanah liat apabila temuan fragmen tersebut memiliki konteks atau berasosiasi dengan situs perbengkelan logam.
ARTEFAK BATU DARI SITUS BULU BAKUNG, MALLAWA: JEJAK TEKNOLOGI ALAT BATU M. Fadhlan S. Intan
WalennaE Vol 1 No 2 (1998)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2267.141 KB) | DOI: 10.24832/wln.v1i2.47

Abstract

Penelitian ini membahas tentang artefak batu di situs Bulu Bakung, dengan fokus utama untuk mengetahui lokasi sumber bahan baku dari artefak litik di Situs Bulu Bakung Kecamatan  Mallawa Kabupaten Maros. Dengan melakukan survei permukaan berhasil dikumpulkan beberapa jenis temuan artefak litik seperti, batu inti, alat – alat serpih, bilah , kapak batu tanpa asah, batu bulat. Berdasarkan hasil analisis patrologi yg dilakukan diketahui bahwa sumber bahan baku artefak litik situs Bulu Bakung berasal dari lingkungan di sekitar Bulu Bakung.
MUNGKINKAH DI KABUPATEN BUTON MEMILIKI TEMUAN PRASEJARAH Bernadeta AKW
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7076.357 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.245

Abstract

Selama ini Kabupaten Buton dijuluki sebagai "kota seribu benteng". Hal itu dapat dimengerti karena Buton memiliki sebaran benteng, dan selama ini menjadi topik pembahasan di kalangan sejarawan maupun arkeolog. Dalam perspektif arkeologi, penelitian situs-situs yang berindikasi prasejarah di Sulawesi bagian Tenggara terbilang masih jarang ditemukan. Penelitian berupa eksplorasi gua-gua yang dilakukan 2011 belum ditemukan adanya temuan prasejarah baik di beberapa situs gua maupun situs terbuka. Sejumlah gua yang disurvei hanya memperlihatkan bekas aktivitas ritual. Padahal, kondisi topografi Sulawesi Tenggara yang tidak jauh berbeda dengan kondisi topografi wilayah Sulawesi Selatan dan memungkinkan adanya keterkaitan budaya antara dua wilayah hunian prasejarah. Selain tindak ritual, tradisi pembuatan tembikar juga ditemukan di Buton, merupakan lahan studi etnoarkeologi yang menjanjikan harapan kajian yang akurat, guna melahirkan berbagai model penelitian etnoarkeologi di Indonesia. Dengan melihat kondisi topografi, mungkinkah Buton memiliki temuan prasejarah yang dapat memberi gambaran mengenai awal peradaban manusia? All this time Buton Regency is titled as the "city of a thousand fortresses ". This is understandable because Buton has spread fortress, and has been a topic of discussion among historians and archaeologists. In archaeological perspective, the sites studies that are indicated prehistoric in Southeast Sulawesi are still fairly rare. The study of caves exploration conducted in 2011 has not found any prehistoric findings in several cave sites and open sites. A number of caves surveyed showed only former ritual activity. In fact, Southeast Sulawesi topographic conditions are not much different from the topography of South Sulawesi and it allow for cultural linkages between the two prehistoric residential areas. In addition to acts of ritual, tradition of making pottery is also found in Buton, which is a promising area of accurate assessment expectations of etnoarcheology study, gave birth to a variety of models etnoarcheology study in Indonesia. By looking at the topography, is it possible that Buton has prehistoric findings may give an idea of the beginning of human civilization

Page 8 of 26 | Total Record : 252