cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 252 Documents
MANIK-MANIK DALAM KONTEKS PENGUBURAN DI SITUS GUA WOLATU, KOLAKA UTARA, SULAWESI TENGGARA Bernadeta AKW
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3967.727 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i2.213

Abstract

Research conducted at the site found some Wolatu Cave beads made of stone and glass with various colors, associated with a bronze bracelet, foreign ceramics and wood fragments alleg­edly used as a burial container. The findings also strengthen the interpretation used as stock tomb. Ethnographic study showed that functional beads grave as with stock, also has a primary function, namely as accessories to beautify the objects themselves and as a medium of exchange in trade trading activities.Penelitian yang dilakukan di situs Gua Wolato ditemukan beberapa manik-manik terbuat dari batu dan kaca dengan berbagai warna, terkait dengan gelang perunggu, keramik asing dan pecahan kayu yang sebelumnya digunakan sebagai wadah penguburan. Temuan ini juga memperkuat interpretasi yang digunakan sebagai makam. Studi etnografi menunjukkan bahwa manik-manik difungsikan sebagai bekal kubur, juga memiliki fungsi utama, yaitu sebagai aksesoris untuk mempercantik benda itu sendiri dan sebagai media pertukaran dalam aktivitas perdagangan.
Info Arkeologi Tim Editor
WalennaE Vol 3 No 2 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1339.628 KB) | DOI: 10.24832/wln.v3i2.111

Abstract

KUBUR ISLAM KUNO DI PESISIR SULAWESI SELATAN DAN SULAWESI BARAT nfn Muhaeminah
WalennaE Vol 10 No 2 (2008)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2463.908 KB) | DOI: 10.24832/wln.v10i2.192

Abstract

Nisan termasuk tinggalan arkeologi Islam yang banyak terdapat di Sulawesi Selatan. Tinggalan arkeologi Islam tidak terlepas dari sejarah kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan sekitar abad XIV, dimana tinggalan berupa nisan yang amat bervariasi. Penelitian ini akan bertumpu pada bentuk-bentuk nisan yang ada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Tujuan penelitian ini, untuk mengungkapkan bentuk-bentuk nisan yang tersebar di beberapa kompleks makam yang ada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data dan pengelompokan data. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bangunan makam di beberapa  daerah tampaknya tidak mempunyai bentuk yang sama. Analisis bentuk memperlihatkan tipe nisan tertentu  di pesisir barat laut Sulawesi Selatan (Majene dan Polewali Mamasa) dan kelompok lainnya berada di pesisir selatan (Gowa dan Bantaeng). Perbedaan karakter pada bentuk nisan dipengaruhi oleh budaya dan sejarah masuknya Islam di dua wilayah tersebut.
REFLEKSI STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT BUGIS PADA SITUS KOMPLEKS MAKAM KALOKKOE WATU SOPPENG nfn Makmur
WalennaE Vol 14 No 1 (2016)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4143.888 KB) | DOI: 10.24832/wln.v14i1.39

Abstract

Sistem pelapisan sosial pada masyarakat Sulawesi Selatan sudah terbentuk sejak lama yaitu golonganbangsawan yang berasal dari keturunan to manurung, lapisan orang-orang biasa yang disebut to maradekadan lapisan ata atau hamba sahaya. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai adanyastratifikasi sosial yang dimanifestasikan dalam penataan makam-makam pada awal Islam. Studi inimenitikberatkan pada pengkajian bentuk dan tata letak makam di Kompleks Makam Kalokkoe WatuSoppeng. Dalam pencapainnya digunakan teknik observasi dan analisis berdasarkan atribut bentuk dangaya jirat maupun nisan di kompleks tersebut. Refleksi stratifikasi sosial masyarakat masa lampau terlihatdengan jelas pada sistem penataan ruang-ruang mikro. Letak maupun bentuk jirat dari tokoh bangsawanmemiliki keistimewaan dari makam-makam yang lainnya.
ANALISIS MANIK-MANIK DALAM PENELITIAN ARKEOLOGI Nani Somba
WalennaE Vol 12 No 2 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2439.453 KB) | DOI: 10.24832/wln.v12i2.236

Abstract

Study of the beads in a particular geographic area can provide a description of the location of the ancient settlement, the spread of humans and the selection of land used for settlements. Similarly, taking into account qualitative similarities and differences between the beads from various sites, can be described as trade relations between the centers of settlement. In the study of archaeological experts to create analytical models that are used as a bridge to the past through the remains of their material, to determine various aspects of human life, among other things, the classification model, typological analysis, and mineralogical analysis. To reach an understanding in the context of space and time, so do contextual analysis and interpretation with seriation method and ethnographic analogy.Studi tentang manik-manik di wilayah geografis tertentu dapat memberikan deskripsi lokasi pemukiman kuno, penyebaran manusia dan pemilihan lahan yang digunakan untuk pemukiman. Demikian pula, dengan mempertimbangkan persamaan dan perbedaan kualitatif antara manik-manik dari berbagai situs, dapat digambarkan hubungan perdagangan antara pusat pemukiman. Dalam studi arkeologi, para ahli membuat model analitis yang digunakan sebagai jembatan ke masa lalu melalui sisa-sisa peninggalan yang ditemukan, untuk menentukan berbagai aspek kehidupan manusia antara lain, model klasifikasi, analisis tipologis, dan analisis mineralogi. Untuk mencapai pemahaman dalam konteks ruang dan waktu, maka dilakukan analisis dan interpretasi kontekstual dengan metode seriasi dan analogi etnografi.
EXPLORING EARLY POLITICAL AND ECONOMIC TIES BETWEEN WEST SOPPENG AND SUPPAQ FROM ABOUT THE LATE THIRTEENTH CENTURY UNTIL THE MID FIFTEENTH CENTURY: MYTH, MARRIAGE AND TRADE Stephen Charles Charles
WalennaE Vol 4 No 1 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3292.501 KB) | DOI: 10.24832/wln.v4i1.118

Abstract

Silsilah Bugis bukan hanya bermanfaat untuk mengetahui hubungan kekerabatan, tetapi dapat juga menjadi sumber sangat penting dalam menulis sejarah politik dan ekonomi negeri-negeri di Sulawesi Selatan sebelum abad XVlI. Dalam artikel ini diungkap hubungan ekonomi dan politik antara Soppeng Barat dengan Kerajaan Suppaq sekurang-kurangnya antara abad XIII sampai pertengahan abad XV berdasarkan teks Lontaraq (naskah Bugis). Untuk mengatasi kesulitan kronologi digunakan bantuan bukti-bukti arkeologi. Telaah naskah Lontaraq (RGS) dan survei arkeologis memperlihatkan adanya hubungan perdagangan keramik antara Soppeng Barat dan Suppaq sekitar abad XIII sampai akhir abad XlV. Pada periode itu, keramik merupakan simbol status sosial otoritas politik golongan bangsawan. Keramik kemungkinan didatangkan ke Soppeng melalui pelabuhan Suppaq di tepi Barat Sulawesi Selatan.
PENELITIAN ARKEOLOGI YANG IMPLEMENTATIF “SATU OBSESI HASIL PENELITIAN ARKEOLOGI MASA DEPAN” Gunadi Kasnowihardjo
WalennaE Vol 11 No 1 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2853.812 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i1.204

Abstract

Why the system of archaeological resource management, archaeological research sector still feel marginalized? The question is this controversial writer intentionally throwing at the beginning of this essay to discourse can arouse the attention of the honorable readers. There are two dominant factors affecting the occurrence of disharmony in the archaeological re­source management system in Indonesia. Both these factors are internal factors, namely errors in determining the strategy and work program of archaeological research. Thus far the research results are always the conclusion that the research should be continued for the future or the next financial year (never ending research). Apart from that research results in the form of archaeological research reports are stopped at the library. Recapitulation of the results of research reports in the three Branch of Archaeological Research Centre Such as Balai Arkeologi Yogyakarta, Banjarmasin, and Makassar, almost all of the results of archaeo­logical research for a decade (1994 - 2004) not able to enter the "realm of implementation". Another internal factor is not the development of methods and techniques in laboratory ar­chaeological research institute, which studies the consequences of substance will decrease the weight and quality of research results.Mengapa sistem manajemen sumber daya arkeologis, sektor penelitian arkeologi masih merasa terpinggirkan? Pertanyaannya adalah apakah penulis kontroversial yang sengaja dilontarkan di awal esai ini untuk wacana dapat membangkitkan perhatian pembaca yang terhormat. Ada dua faktor dominan yang mempengaruhi terjadinya ketidak harmonisan dalam sistem manajemen sumber daya arkeologi di Indonesia. Kedua faktor ini adalah faktor internal, yaitu kesalahan dalam menentukan strategi dan program kerja penelitian arkeologi. Sejauh ini hasil penelitian selalu menjadi kesimpulan bahwa penelitian harus dilanjutkan untuk masa depan (penelitian tidak pernah berakhir). Terlepas dari itu, hasil penelitian dalam bentuk laporan penelitian arkeologi dihentikan di perpustakaan. Rekapitulasi hasil laporan penelitian di tiga Cabang Pusat Penelitian Arkeologi Seperti Balai Arkeologi Yogyakarta, Banjarmasin dan Makassar, hampir semua hasil penelitian arkeologi selama satu dekade (1994 - 2004) tidak dapat masuk ke ranah implementasi ". Faktor internal lainnya bukanlah pengembangan metode dan teknik di lembaga penelitian arkeologi laboratorium, melainkan mempelajari konsekuensi terhadap subsistensi yang akan mengurangi bobot dan kualitas hasil penelitian.
PENGARUH TRADISI DAN SIMBOL MEGALITIK PADA MAKAM KUNA ISLAM DI SULAWESI SELATAN Danang Wahju Utomo
WalennaE Vol 3 No 2 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4075.547 KB) | DOI: 10.24832/wln.v3i2.101

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang unsur-unsur taradisi megalitik dan arti simboliknya yang tertuang dalam bentuk pahatan pada makam-makam kuno islam di Sulawesi Selatan, serta untuk mencari gambaran mengenai pengaruh tradisi megalitik pada bentuk-bentuk makam kuno islam di Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode obserfasi dan metode pustaka yang menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari tradisi megalitik pada makam islam di Sulawesi Selatan atau dengan kata lain telah terjadi akulturasi budaya lokal dengan kebudayaan besar islam, khususnya di Sulasesi Selatan. 
SISTEM PENGUBURAN WADAH KAYU DI SULAWESI SELATAN Nani Somba
WalennaE Vol 2 No 1 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1516.279 KB) | DOI: 10.24832/wln.v2i1.67

Abstract

Penelitian ini bersifat deskriftif yang menyajikan data berupa sebaran wadah kubur Kayu di Sulawesi Selatan yaitu di kabupaten Bulukumba, Selayar, Polmas, Toraja, Mamuju dan Enrekang. Tujuan dari penelitian ini memperjelas maksud dan tujuan penempatan wadah kubur kayu di dalam gua. Bentuk wadah kubur tiap-tiap daerah memperlighatkan ciri-ciri khusus yang berbeda, tetapi mempunyai bentuk-bentuk dasar yang sama yaitu bentuk perahu atau lesung, sedangkan polahias pada wadah kubur dapat menjelaskan keadaan struktur sosial dan ekonomi masyarakat pada waktu itu.
TIPE NISAN ACEH DAN DEMAK-TROLOYO PADA KOMPLEKS MAKAM SULTAN HASANUDDIN, TALLO DAN KATANGKA nfn Rosmawati
WalennaE Vol 13 No 2 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4689.133 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i2.269

Abstract

Proses Islamisasi di Makassar, tidak lepas dari pengaruh budaya Aceh (Melayu) dan budaya Jawa. Banyak teori tentang asal-usul masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan, namun berdasarkan bukti arkeologis seperti makam, dapat diketahui dari mana pengaruh budaya Islam tersebut berasal. Dengan menggunakan metode deskripsi dan perbandingan antara bentuk-bentuk nisan tipe Aceh yang berkembang di Sumatra dan Semenanjung Malaysia dan tipe Demak-Troloyo dengan bentuk nisan pada makam-makam kuno di kawasan Makassar, dapat diketahui bahwa asal-usul dari budaya tersebut, adalah budaya Aceh (Melayu) dan Jawa. Hal ini terutama dapat dilihat pada kehadiran nisan tipe Aceh dan tipe Demak-Troloyo pada masa lampau di beberapa kompleks makam kuno di Makssar. Tipe nisan Aceh dan Demak-Troloyo digunakan oleh para raja dan tokoh-tokoh agama Islam pada masa lampau sebagai nisan pada makam mereka, separti yang nampak pada kompleks makam Sultan Hasanuddin, Katangka dan Tallo.The process of lslamization in Makassar, is related wite from the cultural influence of Aceh (Malay) and Javanese culture. Many theories about the origins of the emergence of Islam in South Sulawesi, but based on archaeological evidence, such as tombs, can be known from where the influence of Islamic culture is derived. By using the method of description and comparison between these forms tombstones is a widespread type of Aceh in Sumatra and Peninsular Malaysia and the type of Demak-Troloyo with a gravestone in ancient tombs in the area of Makassar, it is known that the origins of these cultures, is of Acehnese culture (Malay) and Java. This can especially be seen in the presence of graves in Aceh type and Demak-Troloyo type in the past on some ancient tomb complex in Makassar. Type of tombstone Aceh and Demak-Troloyo used by kings and religious leaders of Islam in the past as a headstone on their graves, as visible in the tomb complex of Sultan Hasanuddin, Katangka and Tallo.

Page 9 of 26 | Total Record : 252