JURNAL WALENNAE
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi.
Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Articles
252 Documents
AWAL MULA WAJO DAN ASPEK RUANG SITUS INTI WAJO ABAD XV-XIX MASEHI
M. Irfan Mahmud
WalennaE Vol 4 No 2 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3873.379 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v4i2.131
Confederation is general Bugis governmental model. In macro, Wajo state area was divided into three limpo and 31 wanua, included Wanua under Wajo authority. At Wajo center, artifacts, features and eco-facts were found at Tosora site which describing socio-economic and politic and religion areas.Konfederasi adalah model umum pemerintahan Bugis. Secara makro, wilayah negara bagian Wajo dibagi menjadi tiga limpo dan 31 wanua, termasuk Wanua di bawah otoritas Wajo. Di pusat Wajo, artefak, fitur, dan ekofak ditemukan di situs Tosora yang menggambarkan wilayah sosial-ekonomi dan politik serta agama.
GAMBARAN UMUM SITUS GERABAH MANDING SULAWESI BARAT
Citra Andari
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1160.569 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v11i2.217
Earthenware vessel is one of archaeological artifacts made of clay which has been known since prehistoric, the era when human started to plant and staying in one place. Staying together in one village cause knowledge which has to be arrange increased. Technology to produce daily goods started to be increased by making things of clay. Before human knew making stuff made of clay, their needs of organic stuff was still used until now, even earthenware vessel could be made.Bejana tembikar adalah salah satu artefak arkeologis yang terbuat dari tanah liat yang telah dikenal sejak prasejarah, Era ketika manusia mulai menanam dan tinggal di satu tempat. Bermukim di satu desa dapat menyebabkan pengetahuan bertambah. Teknologi untuk menghasilkan barang sehari-hari mulai meningkat dengan membuat bahan dari tanah liat. Sebelum manusia tahu membuat bahan yang terbuat dari tanah liat, kebutuhan mereka akan bahan organik masih digunakan sampai sekarang, bahkan tembikar pun dapat dibuat.
INTERAKSI MANUSIA TERHADAP BINATANG DI GUA BATTI
A. Muh Saiful;
Budianto Hakim
WalennaE Vol 14 No 1 (2016)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3889.139 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v14i1.35
Gua Batti terletak di Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Keberadaan tulangfaunamenjadi data utama untuk menerangkan tingkah laku manusia yang mendiami Gua Batti.Adapun metode yang digunakan adalah pengumpulan data dengan ekskavasi dan identifikasi jenis fauna melaluipendekatan biologi. Kemudian data dieksplanasi dengan memperhatikan tingkah laku budaya dalamarkeologi. Deposit tulang di Gua Batti didominasi jenis binatang mamalia besar yang terdiri dari anoa danbabi serta menunjukkan kesamaan dengan jenis binatang lukisan pada dinding gua. Penghuni Gua Battiberburu binatang dan mengolah sisa makanannya sebagai artefak, melaksanakan ritual dan mengenal tabu.Gua Batti dihuni oleh dua pendukung kebudayaan yang berbeda dalam masa yang berbeda pula.
TELAAH AWAL TEMBIKAR WAJO
Muhammad Nur;
Budianto Hakim
WalennaE Vol 12 No 2 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1582.241 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v12i2.240
Use of Wajo pottery in the past with a buffer area ceramic phenomenon that can not be ignored. The quality is very large pottery-making Wanua ancient Wanua very promising Wajo valuable data for the reconstruction of civilization in South Sulawesi. Human communities that inhabit a Wanua or in a larger context, call it the kingdom always has a different trend.Penggunaan tembikar Wajo di masa lalu dengan area persebaran fenomena keramik yang tidak bisa diabaikan. Kualitas tembikar yang sangat besar membuat Wanua-Wanua kuno sangat menjanjikan data berharga Wajo untuk rekonstruksi peradaban di Sulawesi Selatan. Komunitas manusia yang mendiami Wanua atau dalam konteks yang lebih luas, sebut saja kerajaan selalu memiliki tren yang berbeda.
DETERMINASI BUDAYA ISLAMI DI WILAYAH PINGGIRAN KEKUASAAN BUGIS
M. Irfan Mahmud
WalennaE Vol 4 No 1 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4776.385 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v4i1.122
Islamic presence was recognized as transformative strength. Nevertheless, archaeological evidence indicated that Islam emergence net entirely change local culture and situation. In early times, local elements an still the most profound and energetic affirmations towards the creation of cultural forms, as found at hinterland Duri site, Enrekang, South Sulawesi. At Duri Islamic graveyards, then were no materials implementation in its basic Islamic elements; in contrary, local elements which related with Rambu Solok rites (Aluk Kamatean) are still play its dominant role, furthermore, the more concrete statues shapes reflected the strong primitive religion and, in the other hand, the weakness of Islamic culture or its teaching determination.
PEMANFAATAN SUMBERDAYA ARKEOLOGI DAN LINGKUNGANNYA
Baharuddin Nurkin
WalennaE Vol 3 No 2 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1111.891 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v3i2.106
Sumber daya arkeologi adalah sumber daya budaya yang harus di lindungi dan dipelihara agar tidak mengalami kerusakan. Tulisan ini memberikan sebuah pemahaman tentang pemanfaatan sumber daya arkeologi yang berkelanjutan. Sebagaimana diketahui bahwa sumber daya arkeologi bersifat sangat rapuh dan tidak dapat di perbaharui, maka dari itu diperlukan sebuah upaya pengelolaan yang tepat agar dalam pemanfaatannya bisa menjamin keberlangsungan sumber daya arkeologi itu sendiri. Proses pembangunan di sebuah daerah dan pemanfatan sumber daya arekeologi sebagai objek wisata merupakan ancaman lanhgsung terhadap keberadaan dari tinggalan arkelogi tersebut. Oleh karna itu, dibutuhkan upaya pengelolaan yang dimulai dari penelitian arkeologi hingga pelibatan masyarakat untuk membuat sebuah solusi terhadap berbagai kepentingan yang ada.
TINGGALAN MENHIR DI BEKAS KERAJAAN WAJO DAN PENDAHULUNYA
nfn Rustan;
Aldi Mulyadi
WalennaE Vol 5 No 2 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2328.173 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v5i2.154
Menhir sebagai tinggalan budaya yang erat hubungannya dengan religi, berkembang pada masa tradisi megalitik. Pesatnya tradisi pemujaan menyebabkan perhatian lebih ditujukan pada kehidupan religi, maka muncul pertanyaan, apakah sebuah masyarakat dengan system politik, ekonomi, dan budaya yang telah berkembang pesat di Wajo masih mewarisi dan menganut system religi pemujaan arwah nenek moyang yang bias dianggap sebagai system religi purba?. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan budaya megalitik di wilayah Wajo. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data pustaka dan survei lapangan yang kemudian diolah untuk menghasilkan hipotesa. Hasil yang diperoleh menunjukkan tidak semua menhir yang ditemukan difungsikan sebagai media ritual pemujaan arwah leluhur tetapi juga difungsikan sebagai nisan dan batas wanua atau wilayah.
TEKNIK PEMBUATAN SERPIH BILAH DENGAN PENDEKATAN ARKEOLOGI EKSPERIMENTAL
Ansar Rasyid
WalennaE Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1440.474 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v15i2.273
Penelitian yang dilakukan bertemakan, teknik pembuatan serpih bilah dengan menggunakan pendekatan arkeologi eksperimental. Aktivitas eksperimen inilah yang dijadikan acuan untuk menjelaskan kemungkinan cara yang ditempuh manusia dalam hal memproduksi artefak. Penelitian ini memiliki dua permasalahan meliputi, bagaimana proses pembuatan serpih bilah dengan teknik penyerpihan langsung dan bentuk apa sajakah yang dihasilkan dari pemilihan dataran pukul secara acak dan di satu bidang datar pada material. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemungkinan cara-cara hidup manusia masa lampau dalam hal membuat alat batu serta mengetahui secara rinci proses pembuatan serpih bilah. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan data, pengolahan data dan interpretasi data dengan menganalisis berdasarkan pada proses pembuatan serpih bilah dan bentuk yang dihasilkan. Hasil eksperimen berupa artefak serpih-bilah, memperlihatkan keahlian manusia membuat alat serta kemampuan mental memikirkan dan mempersiapkan rangkaian operasionalnya. Rangkaian operasional dalam eksperimen ini dapat memberi gambaran tentang rangkaian proses pembuatan jenis artefak batu yang sebenarnya.
KEMUNGKINAN PENERAPAN METODE ANALITICAL HIERARCHI PROCESS DALAM PERSPEKTIF RUANG SKALA MIKRO (STUDI KASUS GUA GARUNGGUNG, KABUPATEN PANGKEP)
nfn Asfriyanto
WalennaE Vol 9 No 2 (2006)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5123.57 KB)
|
DOI: 10.24832/wln.v9i2.177
Gambar prasejarah yang terdapat pada gugusan gua hunian di Maros-Pangkep, dapat dijadikan suatu objek ujicoba pendekatan metode analytical hierarchi proses (AHP) dalam bidang arkeologi. Secara umum permasalahan penelitian berkaitan dengan fenomena tersebut, yaitu apa yang menjadi alas an pendukung kebudayaan Garunggung dalam memilih ruang dan bidang gua sebagai media gambar. Pendekatan ini bertujuan untuk menguji variabilitas data ruang dan bidang sebagai media gambar. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data, karena pendekatan analitical hierarchi proses membutuhkan beberapa kriteria data seperti data morfologi gua yang berkaitan dengan keruangan, dilanjutkan dengan menganalisa dan menafsirkan data. Hasil yang diperoleh bahwa tulisan ini barulah sebatas ujicoba, dan harus diujicobakan pada gua-gua prasejarah lain yang tersebar digugusab kawasan karts Maros-Pangkep dan objek arkeologi lain. Penerapan pendekatan ini layak dipertimbangkan dalam analisis yang memiliki spesifikasi jangkauan ruang skala mikro.