cover
Contact Name
Mahmudi Siwi
Contact Email
Mahmudi Siwi
Phone
-
Journal Mail Official
mahmudisiwi@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM]
ISSN : 23388021     EISSN : 23388269     DOI : -
JURNAL SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT [JSKPM] merupakan jurnal ilmiah nasional yang menyajikan artikel-artikel hasil penelitian, review dan editorial dalam ilmu sosiologi, antropologi, politik, komunikasi, ekologi manusia, psikologi sosial, agraria, kependudukan, pendidikan, penyuluhan, tatakelola sumberdaya alam, pengembangan masyarakat dan corporate social responsibility.
Arjuna Subject : -
Articles 514 Documents
Sosiohistoris Industri Pertambangan di Pulau Sebuku Hakim, Lukman
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.511 KB) | DOI: 10.29244/jskpm.4.1.1-14

Abstract

This research was conducted in the village of Sarakaman, District of Sebuku Island, Kotabaru, South Kalimantan. There are two mining industry corporations in Sebuku Island. They are PT Bahari Cakrawala Sebuku (PT BCS) and PT Sebuku Iron Lateritic Ores (PT SILO). PT BCS was established since 1997 and PT SILO was established in 2004. In 2010 PT BCS and PT SILO expand the exploitation area in Sarakaman. Sarakaman community was the subject of this research. The purpose of this research was: (1) To analyze the process of mining industrialization in Sebuku Island and (2) To analyze the dynamics of the community poverty as the impact of mining industrialization in Sebuku Island. The data were collected through participant observation, in-depth interviews, focus group discussions, the study of literature/documents and participation in community activities. This research concluded: (1) permits of mining industry corporations given by local government without local communities agreement, (2) compensation of land acquisition and residential communities conducted by mining industry corporations was fairly large, but not comparable to the community socio-economic sustainability, (3) Labor recruitment system of mining industry tend to limit communities occasion to absorbed, such as education terms at the senior high school, range of age were 15-25 years old and the term of ‘putra daerah’ was been urban biased.Key words: mining industrialization, permits of mining industry, compensation, labor recruitment systemABSTRAKPenelitian ini dilakukan di Desa Sarakaman, Kecamatan Pulau Sebuku, Kotabaru, Kalimantan Selatan. Di lokasi tersebut terdapat dua perusahaan tambang. Kedua perusahaan tambang tersebut adalah PT Bahari Cakrawala Sebuku (PT BCS) dan PT Sebuku Iron Lateritic Ores (PT SILO). PT BCS berdiri sejak tahun 1997 dan PT SILO berdiri pada tahun 2004. Pada tahun 2010 PT BCS dan PT SILO memperluas areal eksploitasinya di Desa Sarakaman. Subjek penelitian ini adalah masyarakat Desa Sarakaman. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk menganalisis proses pertambanganisasi di Pulau Sebuku. Pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi berpartisipasi, wawancara mendalam, diskusi kelompok, studi literature/ dokumen dan berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) perizinan industri pertambangan dikeluarkan oleh pemerintah daerah tanpa melalui aksi komunikatif kepada masyarakat, (2) kompensasi dalam pembebasan lahan dan tempat tinggal masyarakat yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan terbilang besar, namun tidak sebanding dengan keberlanjutan sosial ekonomi masyarakat, (3) perekrutan tenaga kerja yang dijalankan perusahaan pertambangan justru mempersempit peluang masyarakat lokal untuk terserap, seperti syarat tingkat pendidikan setingkat SMA, kisaran usia 15-25 tahun dan istilah putra daerah yang bias kota.Katakunci: industrialisasi, perizinan pertambangan, kompensasi, perekrutan tenaga kerja
Tingkat Kesetaraan Gender dalam Rumah Tangga Peserta Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Rahma, Audia; Amanah, Siti
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.4.2.207-216

Abstract

Sustainable Reserve Food Garden (SRFG) is a program initiated by the Ministry of Agriculture to increase households food security. The program involves the households that consist of men and women in the activities of SRFGP. To see whether the program has addressed gender equality,  the research aims to analyze how the beneficiary households characteristics of SRFG, how men, women in the beneficiary households divides the division of labours and how the external supports towards the implementation of SRFGP. A census was conducted to 46 beneficiary households of SRFGP who are members of the Melati, Dahlia, and Mawar Women's Farmers Group (WFG) also supported by in-depth interviews to six informants including three chiefs of each WFG, chief of combined farmer group (CFG), agricultural extension officer, and the Village Head of Cikarawang. Most of the beneficiary households have a low level of gender equality in the implementation of SRFGP. The results show the issues of subordination and multi burden that experienced by women in the division of labours arises due to strong social value in the community, women are conceived to be responsible to activities such as managing the households and family, whilst men embedded as head of the family and responsibility to protect the family socio-economically.Keywords: gender equality, rural households, SRFGABSTRAKKawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan program yang dikembangkan oleh Kementerian Pertanian guna memenuhi ketahanan pangan rumah tangga. Program ini melibatkan rumah tangga yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dalam kegiatan Program KRPL. Untuk melihat apakah program ini telah menerapkan prinsip kesetaraan gender, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana karakteristik rumah tangga peserta Program KRPL, bagaimana pembagian kerja dalam rumah tangga peserta dan bagaimana dukungan lingkungan dalam pelaksanaan Program KRPL. Sensus dilakukan terhadap 46 rumah tangga peserta Program KRPL anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, Dahlia, dan Mawar juga didukung wawancara mendalam kepada enam informan yaitu tiga ketua masing-masing KWT, ketua gapoktan, penyuluh pertanian, dan Kepala Desa Cikarawang. Sebagian besar rumah tangga peserta memiliki tingkat kesetaraan gender yang rendah dalam pelaksanaan Program KRPL. Hasil penelitian menunjukkan terdapat Isu subordinasi dan  beban kerja ganda yang dialami perempuan dalam pembagian kerja rumah tangga muncul akibat kuatnya nilai sosial dalam masyarakat yang dominan menempatkan perempuan pada kegiatan mengatur urusan rumah dan keluarga, sementara laki-laki sebagai kepala keluarga lebih dikhususkan untuk melindungi keluarga secara sosial ekonomi.Kata kunci: kesetaraan gender, Program KRPL, rumah tangga di pedesaan
Pengaruh Partisipasi Masyarakat dalam Pemanfaatan Teknologi Biogas Berliany, Julianita; Fatchiya, Anna
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.3.2.%p

Abstract

Biogas is one of the renewable energy that can be used as an alternative energy to replace un-renewable energy. The development of biogas management could be success because of the participation of the community in every phases so the community could continue to produce biogas and feel the sustainable benefits. This research aims to collect information about the participation of rural community in biogas management. The location for this research is at Cisondari Village, Pasir Jambu District, Bandung Regency, West Java Province. The method used in the research is quantitative approach through survey method with questionnaires and complemented with qualitative approach. This research proved that utilizer characteristics, government subvention, and characteristic of biogas as an innovation can influence the rural community participation in biogas’ utilization. Beside that those impacts that made by biogas utilization can influence the socio-economic condition of the community.Keywords : Biogas, energy, participation, communityABSTRAKBiogas merupakan salah satu energi terbarukan yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar seperti minyak tanah dan gas alam. Keberhasilan pengembangan pemanfaatan energi biogas di pedesaan tidak lepas dari keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan pengambilan keputusan hingga tahap menikmati hasil sehingga masyarakat dapat terus melakukan pengelolaan energi biogas dan merasakan manfaatnya secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis partisipasi masyarakat dalam pengelolaan energi biogas. Lokasi penelitian ini yaitu di Desa Cisondari, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.Metode yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kuantitatif melalui metode survei dengan kuesioner yang didukung oleh data kualtitatif melalui wawancara dan studi literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan karakteristik pengguna biogas, bantuan pemerintah, serta karakteristik inovasi biogas mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan biogas. Dampak yang ditimbulkan dari pemanfaatan tersebut pun berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.Kata Kunci : Biogas, energi, masyarakat, partisipasi
Analisis Gender pada Rumah Tangga Nelayan terhadap Fenomena Perubahan Iklim Mustaurida, Rohmah; Falatehan, Sriwulan Ferindian
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.039 KB) | DOI: 10.29244/jskpm.4.2.137-154

Abstract

Climate change now is not only society in global level problem, but also at communities level. Shapes of climate change was happened in Sukajaya Lempasing village were flood, coastline change, and fishes habitat change. In fishermen household there were women and men who had different needs, roles, and division of labor. The purpose of this study were to identify shapes of climate change, to analyze the relationship between individual and household characteristics with access, decision making of resources, control, participation in social activities, and benefits gained in gender perspective, also to know vulnerability of coastal household in Sukajaya Lempasing village. The respondes were household with man leader and woman leader. This study was used quantitative and qualitative metodes. Rank Spearman test result showed there were individual and household caracteristics had highly corelation between (a) eduation with division of labour in productive role, (b) age and motivation be a fishermen with control of productive role, (c) age, experience of fishing, and mount of member in household with control in social role, (d) age and experience of fishing with division of labour and control of benefits gained.Keywords : Climate change, gender, fishermen householdABSTRAK Perubahan iklim kini bukan hanya masalah masyarakat pada tingkat global saja, tapi juga pada tingkat komunitas. Dapak perubahan iklim yang terjadi di Desa Sukajaya Lempasing seperti banjir/rob, perubahan garis pantai, dan perubahan habitat ikan berdampak pada rumah tangga nelayan. Rumah tangga terdiri dari individu perempuan dan laki-laki yang memiliki kebutuhan, peran, dan pembagian kerja yang bebeda. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dampak perubahan iklim, menganalisis hubungan karakter individu dan rumah tangga terhadap pembagian kerja, pengambilan keputusan terhadap sumberdaya, kontrol, partisipasi, dan manfaat yang diperoleh dalam perspektif gender pada anggota rumah tangga nelayan, dan mengetahui kerentanan pada rumah tangga nelayan. Responden merupakan rumah tangga dengan kepala rumah tangga laki-laki dan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Hasil uji korelasi menggunakan Rank Spearman menunjukkan adanya variabel karakteristik individu dan rumah tangga yang signifikan, yaitu antara (a) pendidikan terhadap pembagian kerja dalam kegiatan produktif, (b) umur dan motivasi menjadi nelayan terhadap kontrol terhadap kegiatan produktif, (c) umur, lama menjadi nelayan, dan jumlah anggota rumah tangga terhadap kontrol dalam mengikuti kegiatan sosial, (d) umur dan lama menjadi nelayan terhadap pembagian kerja dan kontrol terhadap manfaat yang diperoleh.Kata Kunci : Perubahan iklim, gender, rumah tangga nelayan
Kewirausahaan Sosial dan Taraf Hidup Masyarakat Tunagrahita Nurfiani, Sari; Kolopaking, Lala M
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.118 KB) | DOI: 10.29244/jskpm.3.1.%p

Abstract

This research aimed to analyze the correlation between the capacity of social entrepreneurship institutions with the living standard of mental-retardation people in Karangpatihan Village. The method used a quantitative method and supported by qualitative data that involved mental-retardation people as respondent. Rumah Harapan was able to improve the economic and social welfare of the mental-retardation people through rags doormat business (73.3%). These research found were supported by a quantitative test that indicates a significant correlation between the capacity of Rumah Harapan and the standards of living of mental-retardation people. This condition was inseparable from the existence of internal and external factors that encouraged Rumah Harapan. It is necessary to figure the social entrepreneur. Without an entrepreneurial-minded individual, the community approach did not work. In addition, social problems could not only be complemented by providing 'ministration' but also driving competencies or capabilities through a community approach.Keywords: community empowerment, community welfare, institution ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kapasitas lembaga  kewirausahaan sosial lokal dengan taraf hidup masyarakat tunagrahita di Desa Karangpatihan. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dan didukung dengan data kualitatif yang melibatkan responden warga tunagrahita. Rumah Harapan mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial warga tunagrahita dengan usaha keset kain perca (73,3%) meskipun indeks taraf hidup mereka paling rendah di masyarakat. Temuan ini didukung uji kuantitatif yang menunjukkan adanya korelasi signifikan antara kapasitas lembaga Rumah Harapan dan taraf hidup warga tunagrahita. Hal ini tidak terlepas dari adanya faktor internal dan eksternal yang mendorong Rumah Harapan. Sehingga penting untuk menemukan sosok wirausahawan sosial karena pendekatan komunitas tidak akan berhasil. Persoalan sosial tidak hanya bisa diselesaikan dengan memberi ‘bantuan’ tetapi  memberikan kompetensi atau kemampuan melalui pendekatan komunitas.Kata Kunci:  kesejahteraan masyarakat, lembaga, pemberdayaan masyarakat
HUBUNGAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN KELOMPOK DENGAN GAYA KEPEMIMPINAN KETUA KELOMPOK TANI (Kasus di Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat) Rahman, Zulfikar; Sulistiawati, Asri
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.3.3.%p

Abstract

ABSTRAK Sektor pertanian memegang peranan penting bagi Indonesia. Setiap usahatani membentuk kelompok kecil dalam mengelola pertaniannya. Keberhasilan kelompok tani dalam mencapai tujuan tidak terlepas dari andil karakteristik ketua dan kelompok tani tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu (1) mengidentifikasi karakteristik ketua kelompok tani, (2) mengidentifikasi karakteristik kelompok tani, (3) mengidentifikasi gaya kepemimpinan ketua kelompok tani, (4) menganalisis hubungan karakteristik ketua kelompok tani dan kelompok tani dengan gaya kepemimpinan ketua kelompok tani. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang dengan melibatkan 30 responden. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei dan data kualitatif. Analisis data menggunakan uji korelasi Rank Spearman dan tabel frekuensi tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang cukup dan signifikan antara indikator umur kelompok pada karakteristik kelompok tani dengan gaya kepemimpinan. 
Perhutanan Sosial dan Langgengnya Ketimpangan Penguasaan Lahan Hutan Oktaviani, Ananda Diah; Soetarto, Endriatmo
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol 4, No 3 (2020)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.4.3.309-324

Abstract

Hutan merupakan kesatuan ekosistem yang vital perannya bagi masyarakat sekitar hutan. Dalam upaya mengurangi ketimpangan penguasaan, pemerintah melegalisasi penguasaan yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah kerja Perhutani dengan Perhutanan Sosial skema IPHPS. Peraturan tersebut merubah sistem tenurial yang telah ada dan menciptakan kapital-kapital dalam lapisan sosial paling atas pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sistem tenurial pasca Perhutanan Sosial IPHPS dengan stratifikasi sosial baru dalam masyarakat serta implementasi Perhutanan Sosial dengan skema IPHPS mengubah sistem tenurial yang mengarah pada pemerataan dan keadilan agraria. Lokasi penelitian ini yaitu Dusun Patrol, Desa Dano, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Metode yang digunakan untuk menggali fakta, data, dan informasi dalam penelitian adalah pendekatan kuantitatif melalui metode survei dengan kuesioner dan didukung data kualitatif dengan teknik wawancara mendalam. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling dan snowball. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman dan uji Paired T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang lemah diantara sistem tenurial pasca Perhutanan Sosial dengan stratifikasi sosial yaitu dengan P-value dari korelasi 0,048 dan nilai koefiesien Rank Spearman sebesar 0.261. Adapun perubahan sistem tenurial pasca Perhutanan Sosial meliputi penguasan lahan yang lebih luas oleh elit petani, durasi penguasaan yang diperpanjang, penguasaan moda produksi lebih dimiliki oleh elit, dan menurunnya intensitas relasi dengan Perhutani.Kata Kunci: penguasaan lahan, perhutanan sosial, stratifikasi sosial masyarakat======ABSTRACTThe forest is a vital ecosystem for the community around the forest. In an effort to reduce tenure inequality, the government legalized the tenure carried out by communities in the Perhutani working area with Social Forestry requiring IPHPS. The regulation changes the existing tenure system and creates capital in the upper social layer of society. This study aims to analyze the relationship between the post-Social Forestry IPHPS tenure system with new social stratification in the community and the implementation of Social Forestry by implementing IPHPS to change the tenure system that is directed at agrarian equality and agrarian. The location of this research is Patroli Hamlet, Dano Village, Leles District, Garut Regency. The method used to support facts, data, and information in research is quantitative through survey methods with questionnaires and supported by qualitative data with advanced interview techniques. Sampling was done by accidental sampling and snowball techniques. Data were analyzed using the Spearman Rank trial and Paired T-test. The results showed that there was a weak relationship between the post-social Forestry tenure system and social stratification, with a P-value of 0.048 and a Spearman Rating coefficient of 0.261. Related to changes in the tenure system post-Social Attention Regarding broader land tenure by the peasant elite, increased extended tenure, more dominant modes of production demanded by the elite, and increasing intensity of relations with Perhutani.Keywords: community social stratification, land tenure, social forestry
Partisipasi, Keefektifan Program, dan Keberdayaan Ekonomi Masyarakat dalam Implementasi Program Corporate Social Responsibility Rosidi, Imron; Sumardjo, Sumardjo
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol 4, No 5 (2020): Article in Press
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.4.5.%p

Abstract

Kehadiran perusahaan dalam suatu wilayah berpotensi menimbulkan konflik dan ketimpangan di masyarakat sekitar perusahaan. Perusahaan tambang minyak merupakan salah satu contoh sektor industri yang sangat produktif dalam penambahan pendapatan Negara. Di sisi lain, sektor pertambangan juga menjadi sektor yang cenderung rentan terhadap konflik dan ketimpangan ekonomi. Program tanggungjawab sosial perusahaan atau CSR berperan mengelola potensi konflik dan mencegah ketimpangan di masyarakat sekitar perusahaan tambang. Tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis hubungan antara prasyarat partisipasi dengan partisipasi masyarakat dalam implementasi program CSR; (2) Menganalisis hubungan antara faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi masyarakat dalam implementasi program CSR; (3) Menganalisis hubungan partisipasi masyarakat dengan keberdayaan ekonomi dalam implementasi program CSR; (4) Menganalisis hubungan partisipasi masyarakat dengan keefektifan program CSR; dan (5) Menganalisis hubungan partisipasi masyarakat dengan keefektifan program CSR. Pengambilan data dilakukan dengan metode sensus sebagai data primer dengan panduan kuesioner dan data kualitatif digunakan peneliti dengan melakukan wawancara mendalam kepada informan menggunakan panduan pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Prasyarat partisipasi menunjukkan keterkaitan yang sangat kuat dengan setiap tahap partisipasi masyarakat; (2) Faktor internal dan eksternal berperan kuat terhadap penguatan partisipasi masyarakat; (3) Keberdayaan ekonomi menunjukkan memperkuat partisipasi masyarakat dalam program CSR; (4) Partisipasi masyarakat telah memperkuat keefektifan program CSR; dan (5) Keberdayaan ekonomi telah memperkuat keefektifan CSR.
Hubungan Kebutuhan Belajar dengan Kemampuan Aksara dan Dampaknya terhadap Pemberdayaan Perempuan Majida, Inas; Muljono, Pudji
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol 4, No 4 (2020)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.4.4.491-502

Abstract

Pemberantasan buta aksara melalui Program keaksaraan dasar adalah salah satu bentuk pemberdayaan perempuan yang akan mempengaruhi pembangunan nasional. Upaya pemberdayaan perempuan bersifat strategis, karena perempuan yang telah melek aksara akan mempunyai kemandirian dan kepercayaan diri dalam mengatur perekonomian keluarga yang secara tidak langsung akan mengurangi kemiskinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan kebutuhan belajar dengan kemampuan aksara warga belajar dan menganalisis dampaknya terhadap pemberdayaan perempuan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Analisis data yang digunakan adalah Analisis tabulasi silang dan uji statistik Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kebutuhan belajar internal nonfisik dengan kemampuan membaca dan menulis. Hubungan yang signifikan juga terdapat pada kemampuan membaca dan menulis dengan pemberdayaan meliputi aspek pendidikan, aksesibilitas dan tindakan.Kata kunci: program keaksaraan dasar, kemampuan aksara, pemberdayaan perempuan, kebutuhan belajar=====ABSTRACTEradication of illiteracy through Basic Literacy Programmes is a form of empowerment of women what will affect national development. Women’s empowerment efforts are strategic because women who have literacy will have confidence in the independence and set up a family economy indirectly will reduce the level of poverty. The purpose of this paper is to analyze the relationship of learning needs with the success of the Basic Literacy Program and to analyze the impact on the women empowerment. This research using a quantitative approach that is supported by qualitative data. The analysis of the data used Cross Tabulation Analysis and use Rank Spearman statistic test. The result of the research showed that there is a significant correlation between reading and writing ability. There is a significant correlation between reading and writing ability and empowerment which included aspects of education, accessibility, and action.Keywords: basic literacy program, the effectiveness of the program, the level of women empowerment, the level of fulfilment      
Tingkat Penggunaan E-Commerce pada Remaja di Kota dan Kabupaten Bogor Artheswara, Lana Ciarna; Sulistiawati, Asri
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol 4, No 4 (2020)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.4.4.437-448

Abstract

Pesatnya perkembangan E-Commerce di beberapa tahun belakang, menjadikan E-Commerce sebagai prospek bisnis besar dalam dunia perdagangan. Tren penggunaan E-Commerce ini melanda dunia remaja, dibuktikan dengan adanya survey OTX dan The Intelligence Group yang dilakukan terhadap remaja berusia 13-17 tahun, hampir 6 dari setiap 10 remaja pernah membeli produk dan jasa lewat internet. Hasil survey ini menunjukkan bahwa perilaku remaja dalam berbelanja di E-Commerce telah berkembang dan menjadi gaya hidup remaja perkotaan. Namun, akses internet di Indonesia saat ini dapat dijangkau hingga ke daerah pedesaan, maka dari itu saat ini E-Commerce dapat diakses oleh semua orang tanpa adanya batasan geografis. Penelitian ini dilakukan di dua lokasi yang berbeda yaitu di Kota dan Kabupaten Bogor. Hal ini untuk membandingkan hasil data dari kedua lokasi tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat penggunaan E-Commerce yang dilihat dari frekuensi penggunaan aplikasi, durasi akses aplikasi, dan banyaknya aplikasi E-Commerce pada gawai yang dimiliki oleh remaja Kota dan Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan didukung dengan data kualitatif. Data kuantitatif didapat melalui kuesioner dan data kualitatif didapatkan dari wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam hal penggunaan E-Commerce oleh remaja yang tinggal di daerah pedesaan dan di Kota Bogor. Perbedaan nampak dalam hal durasi akses dan tingkat kepemilikan aplikasi E-Commerce.Kata Kunci : E-Commerce, ICT, Internet, Remaja=====ABSTRACTThe development of Electronic-Commerce (E-Commerce) in the past few years has made E-Commerce as a big business prospect in the world of commerce. The trend of E-Commerce is coming to adolescent’s world, there’s evidenced by the OTX survey and The Intelligence Group conducted on adolescents aged 13-17 years, the survey said that 6 out of every 10 teenagers have bought products and services online. The results of this survey indicate that adolescent behaviour in shopping in E-Commerce has developed and become a lifestyle of urban youth. While internet access in Indonesia can be reached up to rural areas, it means E-Commerce can be accessed by everyone without geographical restrictions. This research was conducted in two different locations, on Urban and Rural Area in Bogor to compare the results of data from the two locations. This paper aims to determine differences in the level of E-Commerce usage, and the indicator to measure it is the frequency of application usage, the duration of application access, and the number of E-Commerce applications on devices. This research uses a quantitative approach and is supported by qualitative data. Quantitative data obtained through questionnaires and for qualitative data obtained from in-depth interviews. The results of this study is the duration of access and the amount of E-Commerce has significant differences between the adolescent who lived in Urban and Rural Area of Bogor.Keywords : E-Commerce, ICT, Internet, Teenagers

Filter by Year

2017 2025