cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
GIZI INDONESIA
Published by DPP PERSAGI Jakarta
ISSN : 04360265     EISSN : 25285874     DOI : -
Core Subject : Health,
Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) is an open access, peer-reviewed and inter-disciplinary journal managed by The Indonesia Nutrition Association (PERSAGI). Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) has been accredited by Indonesian Institute of Sciences since 2004. Gizi Indonesia aims to disseminate the information about nutrition, therefore it is expected that it can improve insight and knowledge in nutrition to all communities and academics. Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) offers a specific forum for advancing scientific and professional knowledge of the nutrition field among practitioners as well as academics in public health and researchers
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 35, No 2 (2012): September 2012" : 14 Documents clear
HUBUNGAN STATUS ANEMIA, PRAKTIK PEMBERIAN MAKAN, PRAKTIK PERAWATAN KESEHATAN, DAN STIMULASI KOGNITIF DENGAN FUNGSI KOGNITIF ANAK SEKOLAH DASAR Puspaningtyas, Desty Ervira; Sudargo, Toto; Syamsiatun, Nurul Huda
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v35i2.127

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara status anemia, praktek pemberian makan pada anak, pemeliharaan kesehatan anak, dan stimulasi kognitif pada fungsi kognitif anak sekolah dasar umur  9-13  tahun  yang  tinggal di  Kabupaten  Imogiri  kota  Bantul,  Yogjakarta,  Sebanyak  120  anak  terplih secara  acak  sederhana,  tetapi  7  diantaranya  tidak  mengikuti  test  kognitif.  Status  anemia  ditentukan berdasarkan  konsentrasi  kadar  hemoglobin  secara  cyanmethemoglobin.  Data  tentang  kebiasaan pemberian  makan  anak,  praktik  pemeliharaan  kesehatan  dan  stimulasi  kognitif  anak  diambil  dengan pertanyaan  yang  diajukan  pada  orang  ibunya  melalui  kuesioner.  Fungsi  kognitif  diukur  dengan  metoda CFIT dan  hasil belajar  di sekolahnya, termasuk pada mata ajaran Bahasa Indonesia dan maematika. Uji Hubungan  2  variabel  menunjukkan  bahwa  terdapat  hubungan  yang  bermakna  antara  status  anemia dengan  angka  matematika  (p=0.005,  ρ  spearman  0.264),  praktek  pemberian  makan  pada  anak  dengan angka matematika (p=0.029, ρ spearman 0.206), dan stimulasi kognitif dengan angka matematika (p=0.027, ρ  spearman  0.208).  Dapat  disimpulkan  bahwa  dalam  penelitian  ini  status  anemia,  praktik  pemberian makanan  anak  dan  stimulasi  kogntif  pada  anak  mempunyai  hubungan  yang  bermakna  terhadap  fungsi kognitif anak, terutama pada angka pencapaian matematika. Kata kunci: status anemia, praktik pemberian makan pada anak, stimulasi kognitif, fungsi kognitif, anak sekolah dasar
HUBUNGAN POLA MINUM DAN JUMLAH KONSUMSI CAIRAN DARI MINUMAN TERHADAP STATUS DEHIDRASI SANTRIWATI USIA 16-18 TAHUN DI PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH JAKARTA SELATAN TAHUN 2012 Ratnasari .; Moesijanti Soekatri
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v35i2.128

Abstract

Cairan  adalah  apa  saja  yang  mengandung  air.  Cairan  bisa  didapat  dari  makanan  dan  minuman. Kehilangan  air  tubuh  manusia  apabila  tidak  diimbangi  dengan  pemasukan  cairan  yang  cukup  akan mengalami dehidrasi.  Dalam penelitian ini, cairan yang diteliti hanya yang berasal dari minuman. Tujuan dari  penelitian  ini  adalah  untuk  mengetahui  hubungan  pola  minum  (jenis,  frekwensi  dan  merek),  serta jumlah  yang  dikonsumsi  dari  minuman  saja,  terhadap  status  dehi drasi  santriwati  di  Pondok  Pesantren Darunnajah Jakarta Selatan.  Penelitian ini  adalah  cross-sectional. Populasinya  adalah santriwati berusia 16-18 tahun yang tinggal di asrama Pondok Pesantren Darunnajah. Sampel adalah seluruh santriwati yang memenuhi  kriteria,  jumlahnya  35  santriwati.  Data  yang  dikumpulkan  meliputi  nama   dan  usia,  pola konsumsi  minuman,  serta  jumlah  cairan  yang  diminum  melalui  wawancara  menggunakan  kuesioner. Untuk data status dehidrasi diperoleh melalui  pengujian urin  menggunakan  indikator  Urinalysis Reagen Strips. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian kecil sampel mengalami dehidrasi (17,1%) walaupun mereka  telah  mengonsumsi  sampai  7  jenis  minuman  (31,6%).  Hasil  analisis  cenderung  menunjukkan adanya  hubungan  pola  dan  jumlah  konsumsi  cairan  dari  minuman  masing  masing  terhadap  status dehidrasi. Kata kunci: pola konsumsi cairan, jumlah konsumsi cairan, status dehidrasi
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI, ANEMIA, STATUS INFEKSI, DAN ASUPAN ZAT GIZI DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH ENDEMIK GAKI Toto Sudargo; Emy Huriyati; Lastiana Safitri; Winda Irwanti; Sri Ahadi Nugraheni
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v35i2.129

Abstract

Anak-anak yang tinggal di daerah  GAKI  mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kelaparan dan rendahnya skor IQ.  Tujuan penelitian ini menjelaskan  hubungan status gizi, anemia, status infeksi, dan  asupan  zat  gizi  (energi,  protein,  karbohidrat,  lemak,  iodium,  vitamin  C,  vitamin  A,  Fe,  Zn,  dan Selenium), dengan fungsi kognitif    anak sekolah dasar (SD) yang tinggal di daerah GAKI, dan  mengetahui kandungan iodium pada tanah dan air di wilayah tersebut. Jenis studi observasional dengan desain crosssectional.  Subjek  penelitian  anak  SD  berusia  9-12  tahun  kelas  3,  4,  dan  5  dari  3  SD  di  daerah  endemik GAKI  Kecamatan  Kismantoro,  Kabupaten  Wonogiri,  Jawa  Tengah.  Status  GAKI  diukur  menggunakan metode  palpasi  dan  Urinary  Iodine  Excretion  (UIE),  status  gizi  dengan  indikator  TB/U,  status  anemia menggunakan Hemocue, status infeksi dengan wawancara pada orangtua, asupan zat gizi menggunakan multiple  food  recall  24  jam  (3  hari),  kandungan  iodium  dalam  tanah  dan  air  menggunakan  Inductive Coupled  Plasma-Mass  Spectrometry  (ICP-MS)  dan  fungsi  kognitif  menggunakan  Weschler  Intelligence Score for Children-Revised  (WISC-R).  Hasil menunjukkan  20 subjek (28,9%) mengalami  GAKI, 27 subjek (39,1%)  stunting,  17  subjek  (24,6%)  anemia,  11  subjek  (15,9%)  infeksi  (ISPA  dan  diare)  dan  57  subjek (82,6%)  mengalami  gangguan  fungsi  kognitif.  Analisis  bivariat  menunjukkan  tidak  terdapat  hubungan signifikan antara status  GAKI  dan infeksi dengan fungsi kognitif (p0,05). Terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan anemia dengan fungsi kognitif (p0,05).  Analisis multivariat asupan zat gizi energi, protein,  karbohidrat,  lemak,  iodium,  vitamin  C,  vitamin  A,  besi,  dan  selenium  memberikan  kontribusi sebesar  20,9%  dari  skor  IQ  total  anak  sekolah.  Hb,  UIE,  dan  asupan  zat  gizi  memberikan  kontribusi sebesar 24,1% dari skor IQ total anak sekolah. Hasil laboratorium menunjukkan  rerata  kandungan  iodiumtanah (2,49 ppm), dan dalam air (2,7ppb) berada di bawah standar. Jadi status gizi dan anemia, asupan zat gizi  berhubungan  dengan  fungsi  kognitif  anak  sekolah.  GAKI  dan  status  infeksi  tidak  berhubungan dengan fungsi kognitif. Secara bersama Hb, UIE dan asupan zat gizi berhubungan dengan fungsi kognitif. Rerata kandungan iodium pada tanah dan air di wilayah penelitian berada di bawah standar.Kata kunci: GAKI, status gizi, anemia, infeksi, fungsi kognitif
PERILAKU MEROKOK ORANG TUA DAN BERAT BADAN BAYI LAHIR (Analisis Data Riskesdas 2010) Sudikno .; Sandjaja .
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v35i2.130

Abstract

BBLR masih merupakan masalah di bidang kesehatan perinatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku  merokok  orang  tua  dengan  berat  badan  bayi  lahir.  Penelitian  ini  menggunakan  data  sekunder Riskesdas  2010  dengan  disain  penelitian  cross-sectional.  Sampel  adalah  semua  rumah  tangga  yang mempunyai  bayi  berumur  0-11  bulan.  Data  diambil  dari  kuesioner  individu  (RKD10IND)  dan  kuesioner rumah tangga (RKD10RT),  yaitu karakteristik  kepala keluarga, istri dari kepala keluarga. Data anak yang dianalisis  yang  mempunyai  catatan  berat  badan  lahir,  lahir  cukup  bulan,  status  sebagai  anak  (bukan anggota  keluarga  lain).  Hasil  penelitian  tidak  berhasil  menunjukkan  adanya  perbedaan  rata-rata  berat badan lahir bayi menurut perilaku orang tua yang perokok maupun bukan perokok.Kata kunci: perilaku merokok, orang tua, berat badan bayi lahir
MASALAH ANAK PENDEK DI INDONESIA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEMAJUAN NEGARA Atmarita .
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v35i2.125

Abstract

Masalah gizi khronis di Indonesia terlihat jelas ditandai dengan prevalensi anak pendek usia 0-59 bulan  yang  mendekati  40  persen.  Kajian  ini  bertujuan  untuk  memberikan  rekomendasi  konkrit berdasarkan faktor penyebab terjadinya masalah gizi khronis. Analisis deskriptif dilakukan dari hasil pengumpulan data Riset Kesehatan Dasar 2010. Kajian menunjukkan dengan jelas bahwa anak Indonesia masih jauh tertinggal ditandai dengan pencapaian rata-rata tinggi badan ketika mereka berusia 19 tahun. Pada anak laki-laki adalah 162,9 cm, lebih pendek 13,6 cm dibanding rujukan,  dan  pada  anak  perempuan  adalah  152,8  cm  atau  10,4  cm  lebih  pendek  dibanding rujukan.  Terhambatnya  pertumbuhan  pada  anak  mengindikasikan  pembangunan  yang  kurang efisien dalam upaya perbaikan sumber daya manusia. Perlu dilakukan upaya komprehensif dan terintegrasi mulai dari  mengatasi akar permasalahan terkait kemiskinan melalui berbagai bentuk upaya  pemberdayaan  masyarakat,  termasuk  perubahan  perilakunya  yang  dapat  mempercepat perbaikan permasalahan yang saat ini terjadi. Kata kunci: masalah, anak pendek, kemajuan negara
HUBUNGAN PENYAKIT MENULAR BERBASIS LINGKUNGAN DENGAN STATUS GIZI BALITA Elsi, Elsa
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v35i2.131

Abstract

Penyakit menular berbasis lingkungan dapat menyebabkan kejadian gizi kurang dan gizi buruk. Penelitian lanjutan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penyakit menular berbasis lingkungan dengan status gizi balita (0-59 bulan) dengan menggunakan data Riskesdas 2007.  Desain penelitian adalah crosssectional  yang  bersifat  deskriptif.  Populasi  penelitian  adalah  seluruh  balita  0-59  bulan  pada  Riskesdas 2007, sedangkan sampel adalah seluruh balita 0-59 bulan pada Riskesdas 2007  dengan ibu yang berusia 15-54 tahun. Kriteria inklusi  adalah seluruh rumah tangga Riskesdas 2007 yang mempunyai balita dengan variabel  yang  lengkap.  Data  yang  dikumpulkan  meliputi:  karakteristik  balita  (umur,  jenis  kelamin,  berat badan),  karakteristik  ibu  (umur,  pendidikan,  dan  pekerjaan),  penyakit  menular  berbasis  lingkungan (penyakit  filariasis,  demam  berdarah  dengue,  malaria,  infeksi  saluran  pernafasan  akut,  pneumonia, tuberkulosis paru, campak, tifoid, hepatitis, diare), dan lingkungan rumah tangga balita ( kualitas fisik air minum, kualitas tanah, dan pemeliharaan ternak). Hasil penelitian menunjukkan  bahwa risiko status gizi kurang dan status gizi buruk pada balita yang mengalami penyakit menular berbasis lingkungan dan ibu dengan pendidikan SD ke bawah lebih tinggi (OR=2,05) dibandingkan ibu dengan pendidikan perguruan tinggi (OR= 1,12). Sedangkan menurut tempat tinggal diketahui bahwa risiko status gizi kurang dan status gizi  buruk  pada  balita  yang  mengalami  penyakit  menular  berbasis  lingkungan  dan  bertempat  tinggal di perdesaan lebih tinggi (OR=1,25) dibandingkan balita yang tinggal di perkotaan (OR= 1,12).Kata kunci: penyakit menular, lingkungan, status gizi
EVALUASI SISTEM PENYELENGGARAAN MAKANAN LUNAK DAN ANALISIS SISA MAKANAN LUNAK DI BEBERAPA RUMAH SAKIT DI DKI JAKARTA, TAHUN 2011 Anwar, Irfanny; Herianandita, Edith; Ruslita, Ida
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v35i2.126

Abstract

Pelayanan gizi merupakan salah satu fasilitas pelayanan di rumah sakit. Penyelenggaraan makanan lunak bertujuan  memberikan terapi diet yang sesuai dengan kondisi pasien untuk mempercepat penyembuhan. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai dari perencanaan menu hingga  evaluasi. Dalam upaya penyelenggaraan makanan lunak di beberapa rumah sakit masih dijumpai keluhan pasien tentang  makanan  yang  disajikan.  Tujuan  penelitian  adalah  mengevaluasi  sistem  penyelenggaraan makanan  lunak  dan  menganalisis  persepsi  responden  terhadap  makanan  lunak  serta  alasan menghabiskan atau tidak menghabiskan makanan. Penelitian ini merupakan penelitian crossectional yangdilakukan di RSUD Pasar Rebo, RS Islam Sukapura, RS Persahabatan Jakarta. Populasi merupakan pasien yang  mendapat  makanan  lunak.  Sedangkan  sampel  adalah  sebagian  populasi  yang  diambil  secara purposive  sejumlah  30  orang  di  setiap  rumah  sakit.  Hasil  penelitian  menunjukkan  sebagian  besarresponden  adalah  laki-laki,  usia  36-50  tahun,  lulusan  SMA,  tidak  bekerja,  jenis  diet  bervariasi,  tidak terganggu  nafsu  makan, mempunyai  pengetahuan  yang  cukup  tentang  makanan  lunak.  Sebagian  besar responden  tidak  menghabiskan  makanan  pokok,  lauk  nabati  dan  sayuran.  Rata -rata  responden menghabiskan lauk hewani, hidangan penutup, dan makanan selingan. Alasan terbanyak responden tidak menghabiskan makanan adalah porsi terlalu banyak, kenyang, malas makan,  tidak suka dan rasa kurang enak.  Alasan  terbanyak  responden  menghabiskan  makanan  adalah  lapar,  porsi  cukup,  rasa  enak,  dan ingin cepat sembuh. Responden yang menilai variasi menu, penampilan menu, dan paduan rasa makanan baik  rata-rata  30%.  Belum  semua  tahapan  dalam  sistem  penyelenggaraan  makanan  banyak  dilakukan dengan  baik.  Kesimpulan  penelitian  sebagian  besar  makanan  lunak  yang  disajikan  belum  dapat dihabiskan  responden  dan  sistem  penyelenggaraan  makanan  lunak  masih  perlu  perbaikan  pada  menu, standar resep,  besar porsi, alat saji, hygiene dan sanitasi.  Disarankan untuk melakukan  perbaikan menu makanan  lunak,  variasi  bahan  makanan,  besar  porsi,  perbaikan  alat  saji,  penampilan  pramusaji  dan konseling gizi.Kata kunci: evaluasi penyelenggaraan makanan lunak, analisis sisa makanan, rumah sakit
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI, ANEMIA, STATUS INFEKSI, DAN ASUPAN ZAT GIZI DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH ENDEMIK GAKI Sudargo, Toto; Huriyati, Emy; Safitri, Lastiana; Irwanti, Winda; Nugraheni, Sri Ahadi
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.053 KB)

Abstract

Anak-anak yang tinggal di daerah  GAKI  mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kelaparan dan rendahnya skor IQ.  Tujuan penelitian ini menjelaskan  hubungan status gizi, anemia, status infeksi, dan  asupan  zat  gizi  (energi,  protein,  karbohidrat,  lemak,  iodium,  vitamin  C,  vitamin  A,  Fe,  Zn,  dan Selenium), dengan fungsi kognitif    anak sekolah dasar (SD) yang tinggal di daerah GAKI, dan  mengetahui kandungan iodium pada tanah dan air di wilayah tersebut. Jenis studi observasional dengan desain crosssectional.  Subjek  penelitian  anak  SD  berusia  9-12  tahun  kelas  3,  4,  dan  5  dari  3  SD  di  daerah  endemik GAKI  Kecamatan  Kismantoro,  Kabupaten  Wonogiri,  Jawa  Tengah.  Status  GAKI  diukur  menggunakan metode  palpasi  dan  Urinary  Iodine  Excretion  (UIE),  status  gizi  dengan  indikator  TB/U,  status  anemia menggunakan Hemocue, status infeksi dengan wawancara pada orangtua, asupan zat gizi menggunakan multiple  food  recall  24  jam  (3  hari),  kandungan  iodium  dalam  tanah  dan  air  menggunakan  Inductive Coupled  Plasma-Mass  Spectrometry  (ICP-MS)  dan  fungsi  kognitif  menggunakan  Weschler  Intelligence Score for Children-Revised  (WISC-R).  Hasil menunjukkan  20 subjek (28,9%) mengalami  GAKI, 27 subjek (39,1%)  stunting,  17  subjek  (24,6%)  anemia,  11  subjek  (15,9%)  infeksi  (ISPA  dan  diare)  dan  57  subjek (82,6%)  mengalami  gangguan  fungsi  kognitif.  Analisis  bivariat  menunjukkan  tidak  terdapat  hubungan signifikan antara status  GAKI  dan infeksi dengan fungsi kognitif (p>0,05). Terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan anemia dengan fungsi kognitif (p<0,05).  Analisis multivariat asupan zat gizi energi, protein,  karbohidrat,  lemak,  iodium,  vitamin  C,  vitamin  A,  besi,  dan  selenium  memberikan  kontribusi sebesar  20,9%  dari  skor  IQ  total  anak  sekolah.  Hb,  UIE,  dan  asupan  zat  gizi  memberikan  kontribusi sebesar 24,1% dari skor IQ total anak sekolah. Hasil laboratorium menunjukkan  rerata  kandungan  iodiumtanah (2,49 ppm), dan dalam air (2,7ppb) berada di bawah standar. Jadi status gizi dan anemia, asupan zat gizi  berhubungan  dengan  fungsi  kognitif  anak  sekolah.  GAKI  dan  status  infeksi  tidak  berhubungan dengan fungsi kognitif. Secara bersama Hb, UIE dan asupan zat gizi berhubungan dengan fungsi kognitif. Rerata kandungan iodium pada tanah dan air di wilayah penelitian berada di bawah standar.Kata kunci: GAKI, status gizi, anemia, infeksi, fungsi kognitif
PERILAKU MEROKOK ORANG TUA DAN BERAT BADAN BAYI LAHIR (Analisis Data Riskesdas 2010) ., Sudikno; ., Sandjaja
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.886 KB)

Abstract

BBLR masih merupakan masalah di bidang kesehatan perinatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku  merokok  orang  tua  dengan  berat  badan  bayi  lahir.  Penelitian  ini  menggunakan  data  sekunder Riskesdas  2010  dengan  disain  penelitian  cross-sectional.  Sampel  adalah  semua  rumah  tangga  yang mempunyai  bayi  berumur  0-11  bulan.  Data  diambil  dari  kuesioner  individu  (RKD10IND)  dan  kuesioner rumah tangga (RKD10RT),  yaitu karakteristik  kepala keluarga, istri dari kepala keluarga. Data anak yang dianalisis  yang  mempunyai  catatan  berat  badan  lahir,  lahir  cukup  bulan,  status  sebagai  anak  (bukan anggota  keluarga  lain).  Hasil  penelitian  tidak  berhasil  menunjukkan  adanya  perbedaan  rata-rata  berat badan lahir bayi menurut perilaku orang tua yang perokok maupun bukan perokok.Kata kunci: perilaku merokok, orang tua, berat badan bayi lahir
MASALAH ANAK PENDEK DI INDONESIA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEMAJUAN NEGARA ., Atmarita
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.744 KB)

Abstract

Masalah gizi khronis di Indonesia terlihat jelas ditandai dengan prevalensi anak pendek usia 0-59 bulan  yang  mendekati  40  persen.  Kajian  ini  bertujuan  untuk  memberikan  rekomendasi  konkrit berdasarkan faktor penyebab terjadinya masalah gizi khronis. Analisis deskriptif dilakukan dari hasil pengumpulan data Riset Kesehatan Dasar 2010. Kajian menunjukkan dengan jelas bahwa anak Indonesia masih jauh tertinggal ditandai dengan pencapaian rata-rata tinggi badan ketika mereka berusia 19 tahun. Pada anak laki-laki adalah 162,9 cm, lebih pendek 13,6 cm dibanding rujukan,  dan  pada  anak  perempuan  adalah  152,8  cm  atau  10,4  cm  lebih  pendek  dibanding rujukan.  Terhambatnya  pertumbuhan  pada  anak  mengindikasikan  pembangunan  yang  kurang efisien dalam upaya perbaikan sumber daya manusia. Perlu dilakukan upaya komprehensif dan terintegrasi mulai dari  mengatasi akar permasalahan terkait kemiskinan melalui berbagai bentuk upaya  pemberdayaan  masyarakat,  termasuk  perubahan  perilakunya  yang  dapat  mempercepat perbaikan permasalahan yang saat ini terjadi. Kata kunci: masalah, anak pendek, kemajuan negara

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 46 No 2 (2023): September 2023 Vol 46, No 1 (2023): Maret 2023 Vol 45, No 2 (2022): September 2022 Vol 45, No 1 (2022): Maret 2022 Vol 44, No 2 (2021): September 2021 Vol 44, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 43, No 2 (2020): September 2020 Vol 43, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 42, No 2 (2019): September 2019 Vol 42, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 More Issue