cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 16, No 2 (2014)" : 11 Documents clear
ANALISIS SALURAN SPEKTRAL YANG PALING BERPENGARUH DALAM IDENTIFIKASI KESEHATAN TERUMBU KARANG: Studi Kasus Pulau Menjangan Besar dan Menjangan Kecil, Kepulauan Karimunjawa Murti, Sigit Heru; Wicaksono, Pramaditya
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.85 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.57

Abstract

ABSTRAKSalah satu faktor yang berpengaruh dalam penggunaan teknologi penginderaan jauh untuk identifikasi tingkat kesehatan terumbu karang adalah konfigurasi saluran spektral sensor. Pemahaman tentang saluran spektral yang berpengaruh positif terhadap proses identifikasi kesehatan terumbu karang sangat penting dalam efisiensi pemetaan, baik dari segi waktu maupun akurasi yang didapatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari saluran spektral yang berkontribusi positif terhadap identifikasi kesehatan terumbu karang, dengan menggunakan bantuan analisis PCA (Principle Component Analysis) dan Factor Loadings pada citra Landsat 7 ETM+ dan ASTER. Tingkat kesehatan terumbu karang dilihat dari persentase tutupan karang hidupnya dan dibagi menjadi empat kelas yaitu Sangat Baik (>75% tutupan karang hidup), Baik (50-74%), Sedang (25-49%) dan Rusak (<25%). Untuk mengetahui saluran spektral yang paling baik dalam identifikasi kesehatan terumbu karang, klasifikasi multispektral dilakukan pada kombinasi PC (Principle Component) band dan dilakukan uji akurasi. Hasil uji akurasi dipasangkan dengan hasil analisis Factor Loadings untuk melihat kontribusi tiap saluran spektral pada tiap akurasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran hijau merupakan saluran yang berkontribusi paling tinggi dan saluran merah adalah saluran memberikan kontribusi paling rendah. Saluran biru, yang merupakan saluran dengan penetrasi tubuh air paling baik, memberikan kontribusi yang lebih rendah dibandingkan dengan saluran hijau karena tingginya hamburan Rayleigh yang terjadi pada saluran biru tersebut.Kata Kunci: Landsat 7 ETM+, ASTER, PCA, factor loadings, terumbu karangABSTRACTOne of the major factors to determine the success of remote sensing identification for coral reefs health is the spectral resolution of the sensor. The understanding about the characteristic of spectral bands contribute positively to the identification of coral reefs health is very important for the effective and satisfactory mapping results. This research aimed to identify the most effective spectral band for the coral reefs health identification, using Principle Component Analysis (PCA) and factor loadings analysis. Landsat 7 ETM+ and ASTER VNIR images were used in this research. Coral reefs health condition is determined from the percentage of live coral cover and divided into four ordinal classes: very good (>75% live coral reefs cover), good (50-74%), medium (25-49%), and bad (<25%). To find the most effective bands for coral reefs health identification, multispectral classification was applied on Principle Component (PC) bands combinations. Afterward, the mapping accuracy of each PC bands combination was assessed. Each accuracy assessment result was evaluated with factor loadings analysis result to understand the contribution of different spectral bands on the resulting mapping accuracy. The results show that green band is the most effective spectral band which provides the highest contribution to the mapping, while red band provide the lowest contribution. Blue band, which is the best water penetration band, was less efficient than green band due to the strong Rayleigh scattering that affects more significantly on shorter wavelengths.Keywords: Landsat 7 ETM+, ASTER, PCA, factor loadings, coral reefs
PERMODELAN PERSEBARAN KONSENTRASI NITRAT DALAM AIR SUNGAI DENGAN SOIL AND WATER ASSESSMENT TOOL Atiqi, Randhi; Kusratmoko, Eko; Indra, Tito Latif
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.753 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.62

Abstract

ABSTRAKPendekatan modeling merupakan metode yang banyak digunakan untuk manajemen daerah aliran sungai (DAS) dengan lebih baik karena dimungkinkan untuk dilakukan forecasting terhadap dampak-dampak yang mungkin akan terjadi sehubungan dengan aktivitas manusia di DAS tersebut. Model Soil and Water Assessment Tool (SWAT) secara ekstensif telah umum digunakan untuk mempelajari debit sungai, hasil sedimen, dan muatan nutrien. Penelitian ini dilakukan pada Kali Gede, Ci Putat, Kali Caringin, dan Kali Angsana yang tersebar di Kecamatan Bojongsari dan Sawangan, Depok. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana hasil simulasi model SWAT terhadap persebaran konsentrasi nitrat dalam air sungai sehubungan dengan penggunaan lahan dan membuat simulasi persebaran konsentrasi nitrat dengan skenario wilayah permukiman mengalami perluasan sebesar 1,2% per tahun. Validasi hasil simulasi model menggunakan data konsentrasi nitrat hasil pengukuran langsung yang dilaksanakan pada bulan April 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model SWAT dapat menghasilkan simulasi yang baik pada wilayah dengan topografi dan jenis tanah yang homogen, serta jenis penggunaan lahan yang berbeda. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Normalized Objective Function (NOF) untuk Kali Gede adalah 0,21, Ci Putat 0,11, Kali Caringin 0,09, dan Kali Angsana 0,05. Sementara NOF yang dapat diterima adalah dari 0-1, dimana nilai 0 adalah nilai yang paling sempurna. Selain itu, meluasnya wilayah permukiman akan meningkatkan konsentrasi nitrat dalam air sungai di Kecamatan Bojongsari dan Sawangan.Kata Kunci: model, SWAT, DAS, konsentrasi nitrat, penggunaan lahanABSTRACTModelling approaches is widely used to get best watershed management because it’s possibility to forecast the impact of human activities on watershed. Soil and Water Assessment Tool (SWAT) model has been used extensively to study run off, sediment yield, and nutrient load. This research was take place at Kali Gede, Ci Putat, Kali Caringin, and Kali Angsana located in Bojongsari and Sawangan Sub-district, Depok City. The purposes of this research were to know accuracy of SWAT modeling making simulation nitrate concentration in river related with homegeneous slope and soil, and heterogeneous landuse and to forecast tthe impact of the residential area expansion to the nitrate consentration. Model simulation is validated using observe nitrate concentration data which was taken from river in April 2013. The conclusion of this research are SWAT model can be used to make acurate simulation of nitrate concentration whichare shown by Normalized Objective Function (NOF) values which 0.21 at Kali Gede, 0.11 at Ci Putat, 0.09 at Kali Caringin, and 0.05 at Kali Angsana. NOF value indicated how accurate models simulation which is allowed from 0-1 and 0 indicated perfect simulation. The expansion of residential area in Bojongsari and Sawangan Sub-district will cause nitrate concentration in these rivers increase.Keywords: model, SWAT, watershed, nitrate concentration, landuse
PEMETAAN PROFIL HABITAT DASAR PERAIRAN DANGKAL BERDASARKAN BENTUK TOPOGRAFI: Studi Kasus Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Jakarta Setyawan, Iwan E.; Siregar, Vincentius P.; Pramono, Gatot H.; Yuwono, Doddy M.
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.617 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.58

Abstract

ABSTRAKHabitat dasar perairan dangkal mempunyai peran besar baik secara ekonomi maupun ekologi. Ketersediaan informasi habitat dasar menjadi sangat penting seiring kesadaran pengelolaan berbasis lingkungan. Citra satelit menjadi salah satu sumber untuk identifikasi dan informasi spasial. Pada umumnya informasi luasan habitat dasar perairan dihitung secara planimetrik. Hal ini menyebabkan kurang akuratnya hasil luasan terutama pada daerah dengan variasi topografi yang besar dan untuk pemetaan skala besar seperti pada pulau kecil. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk memberikan alternatif metode pemetaan dalam perhitungan luas habitat bentik yang lebih akurat dengan mempertimbangkan topografi dasar perairan. Kemampuan citra satelit multispektral menembus kolom air dapat digunakan untuk memberikan informasi habitat dasar dan morfologi dasar perairan. Pendekatan penelitian ini dilakukan dengan menggabungkan nilai batimetri dan hasil identifikasi habitat sehingga menggambarkan kondisi nyata dan memperoleh luas yang lebih mendekati kenyataan. Penelitian dilakukan di P. Panggang, Kepulauan Seribu Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya perbaikan luasan habitat dasar kelas karang 2,85%, karang dan Death Coral Algae (DCA) 1,08%, lamun rapat 0,38%, lamun sedang 0,12%, pasir 0,11%, pasir berlamun dan pasir rubble masing-masing sebesar 0,06%.Kata Kunci: pemetaan, Citra Worldview-2, habitat dasar, topografi dasar lautABSTRACTShallow water benthic habitat has a major role both economically and ecologically. The availability of benthic habitat information become very important along with the awareness of management based on environment. Satellite imagery becomes one of the sources for the identification and spatial information. In general, information of habitat benthic area isobtained only planimetric calculated. This leads toless accurate results, especially in the area of the large variations in topography and for detail scale mapping of such small island. The purpose of the study is to provide an alternative method of mapping the benthic habitat area calculation more accurate by considering benthic topography. Penetration of multi spectral bands gives benefits to identificate of benthic habitat and sea bottom morphology. The approach of this study by incorporating the results of the identification of habitats and bathymetry extract of Worldview-2 image combined to obtain more accurate results closer to reality. The study site is around Panggang Island, Jakarta. The results showed an improvement on habitat area measurement indicated by the correction of each habitat classes: coral habitat increase2.85%, coral with Death Coral Algae (DCA) increase 1.08%, dense seagrass increase 0.38%, medium seagrass increase 0.12%, sand increase 0.11%, sand with rubbleand sand with coarse seagrass respectively increase by 0.06%.Keywords: mapping, Worldview-2 Imagery, benthic habitat, sea surface topography
ANALISIS POTENSI RISIKO TANAH LONGSOR DI KABUPATEN CIAMIS DAN KOTA BANJAR, JAWA BARAT Suriadi, A.B.; Hartini, Sri; Hartini, Sri
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.764 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.63

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini membahas masalah tanah longsor baik penyebab maupun potensi risiko yang ditimbulkannya, merupakan bagian dari hasil penelitian potensi bencana yang terkait dengan variabilitas iklim ekstrim di bagian selatan Jawa Barat. Hasil dari penelitian ini disajikan dalam bentuk informasi geospasial atau peta tentang tanah longsor yaitu Peta Sebaran Derah Rawan Tanah Longsor, Peta Kerentanan Penduduk terhadap Bahaya Longsor, Peta Kapasitas Penduduk Menghadapi Bencana, serta Peta Potensi Risiko Bencana Tanah Longsor. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: data DEM SRTM dengan resolusi spasial 30 m, Citra Landsat ETM, Peta Topografi, dan data statistik seperti kepadatan penduduk, ketersediaan infrastruktur mitigasi bencana, kesadaran penduduk menghadapi bencana atau kesiapan masyarakat untuk bencana alam yang mungkin terjadi. Metode yang digunakan adalah aplikasi penginderaan jauh dan GIS. Interpretasi citra satelit Landsat dilakukan untuk menghasilkan peta penutup lahan. Data DEM SRTM digunakan untuk membuat peta kemiringan lereng dan peta kerapatan drainase. DEM SRTM dikombinasikan dengan citra Landsat digunakan untuk interpretasi dan pemetaan bentuk lahan. Data kemiringan lereng, penutup lahan (land cover), bentuk lahan dan kerapatan aliran diberi skor dan digunakan sebagai parameter dalam pemetaan bahaya longsor. Bahaya longsor dibagi menjadi tiga kategori: rendah, sedang, dan tinggi. Data statistik dipetakan berbasis batas desa. Melalui proses SIG semua data diintegrasikan, kemudian dianalisis dan diklasifikasi. Berdasarkan Peta Potensi Risiko Longsor yang dihasilkan, didapatkan bahwa 21% dari area Kabupaten Ciamis berpotensi risiko tinggi, 36% dari luas daerah mempunyai risiko sedang, dan 43% yang lainnya mempunyai risiko rendah terhadap tanah longsor.Kata Kunci: peta bahaya, keterpaparan, rawan, rentan, kapasitasABSTRACTThis research is a part of the results of the research on potential disaster related to extremes climate variability on the south part of West Java. However, the discussion in this paper focused on landslides in terms of both the causes as well as the potential risks it caused. The results of this study are geospatial information or maps about landslide in the area of study. Those maps are Map of Landslide Prone, Map of peoples Vulnerability to Landslide Hazard, Map of the Capacity of residents facing disasters, as well as Map of the Risk Potential of Landslides. Data had been used in this research consisted of: SRTM DEM, Landsat imagery, topographic maps, as well as statistical data of population density, the availability of infrastructure for disaster mitigation, awareness of people facing disaster or people’s preparedness for natural disaster that may be happen, and others. The method used is the application of GIS and remote sensing. Interpretation of Landsat imagery had been used for mapping the land use type. Meanwhile, slope and drainage density maps had been derived from the SRTM DEM. The SRTM DEM combined with Landsat imagery was used on interpretation and mapping of landforms. The data of slope steepness, land use, landform and drainage density then were scored and used as a parameter of the landslide hazard mapping. The landslide hazard then divided into three categories: low, medium, and high. The statistical data are mapped using village boundary basis. By using GIS processing, all of the data were integrated, then analyzed and classified. Based on the Landslide Risk Potential Map produced, found that 21% of the area of Ciamis Regency fall in potentially high risk, 36% of the area in moderate risk, and another 43% was in lower risk to landslides.Keywords: hazard map, exposure, prone, vulnerability, capacity
PEMETAAN EMISIVITAS PERMUKAAN MENGGUNAKAN INDEKS VEGETASI Fawzi, Nurul Ihsan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.026 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.59

Abstract

ABSTRAKPemetaan emisivitas permukaan (land surface emissivity) menjadi penting terutama untuk mengurangi kesalahan dalam estimasi suhu permukaan menggunakan citra satelit. Beberapa metode dikembangkan untuk memperoleh emisivitas permukaan dari data penginderaan jauh. Salah satu alternatif yang mudah untuk mendapatkan emisivitas permukaan adalah dengan menggunakan Indeks Vegetasi. Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) digunakan dalam penelitian ini. Data yang digunakan adalah Landsat ETM+ yang telah dikoreksi geometrik dan radiometrik. Emisivitas permukaan yang diperoleh, kemudian diolah dengan analisis zonal statistic untuk mendapatkan nilai statistik pada masing-masing kelas tutupan lahan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada objek vegetasi (kerapatan tinggi) memiliki nilai emisivitas sebesar 0,986, vegetasi (kerapatan sedang) sebesar 0,982, untuk objek lahan terbangun dan lahan terbuka sebesar 0,965 dan 0,964, dan untuk tubuh air memiliki emisivitas sebesar 0,979. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai emisivitas yang diperoleh dari citra penginderaan jauh Landsat ETM+ mendekati nilai emisivitas yang diperoleh dengan pengukuran menggunakan radiometer termal.Kata Kunci: emisivitas, penginderaan jauh, Landsat ETM+, indeks vegetasi, NDVIABSTRACTLand surface emissivity mapping become important to reduce error on estimating surface temperature using satellite imagery. Several methods have been developed to obtain land surface emissivity from remote sensing data. One of the alternative process to obtain land surface emissivity is using vegetation indices. Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) was used in this research. The primary data used is a Landsat ETM+ imagery with geometric and radiometric corrections. The surface emissivity obtained was processed using zonal statistic to find out a value on each land cover categories. The result shown that emissivity value for high density vegetation was 0.986, moderate density vegetation was 0.982, built-up area and barren land were 0.965 and 0.964, and for water body was 0.979. These results indicated the emissivity value that obtained from Landsat ETM+ remote sensing data were around the emissivity values measured using thermal radiation detector.Keywords: emissivity, remote sensing, Landsat ETM+, vegetation indices, NDVI
ANALISIS SPASIAL SUMBER DAYA HUTAN KABUPATEN TOLI-TOLI Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.584 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.64

Abstract

ABSTRAKHutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hutan memiliki berbagai fungsi ekologis. Pemanfaatan sumber daya hutan yang dilakukan akan memberikan manfaat yang lebih besar. Salah satu metode yang bisa digunakan untuk menganalisis dinamika sumber daya hutan adalah metode neraca sumber daya hutan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Peta Penutupan dan Penggunaan Lahan tahun 2000, 2006 dan 2011. Analisis dilakukan dengan pendekatan sistem informasi geografis. Penelitian ini bertujuan mengetahui deforestasi sumber daya hutan dan mengetahui perubahan stok karbon yang terjadi akibat dampak dari perubahan penutupan lahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa laju penyusutan hutan periode 2000-2011 di Kabupaten Toli-Toli sebesar 19.016 ha atau sekitar 1.729 ha/tahun. Dampak dari perubahan penutupan hutan mengakibatkan penurunan cadangan karbon 3.405,86 Mton atau setara dengan emisi karbon sebesar 3.423,47 Mton. Kerugian ekonomi yang terjadi sebesar US$ 1.100,708 juta atau Rp. 13.208,50 milyar. Hasil analisis valuasi ekonomi konversi hutan menjadi perkebunan sawit diperoleh nilai bersih kini dengan Net Present Value (NPV) sebesar minus US$ 269,65 4 juta yang berarti investasi tidak layak.Kata Kunci: sumber daya hutan, valuasi ekonomi, stok karbon, dinamika spasialABSTRACTForest is a natural resource that is very important and beneficial for the livelihood either directly or indirectly. Forest have a variety of ecological functions. The utilization of natural resources (forests) should be done if would provide greater benefits than the condition of natural resources. One of the functions of forests is to maintain the amount of stored carbon (carbon stocks). The dynamics of forest area changes into non-forest land resulted in reduced forest functions as a provider of environmental services. One of the methods that can be used to analyze the dynamics of forest resources is of forest resources balance method. The data used in this study is the Land cover and Land Use Map (2000,2006 and 2011). The analysis was performed using geographic information system analysis. This study aims to determine the deforestation of forest resources during the period of 2000 to 2011 and determine the changes on carbon stock caused by the impact of land cover change. The results showed the rate of forest deforestation during the period of 2000-2001 at Toli-Toli of 19,016 ha or about 1,729 ha per year. The impact of the changes in the forest cover resulted in the decrease of carbon stocks by 3,405.86 Mtons, equivalent to 3,423,47 Mtons of carbon emissions. Economic losses accounted at US$ 1,100.708 million or Rp.13,208.50billion. The results of the analysis of economic valuation of forest conversion to oil palm plantations, net present value (Net Present Value, NPV) was of minus 4US$ 269.65 million which means that the investment is not feasible.Keywords: forest resources, economic valuation, carbon stock, spatial dynamic
KAJIAN WILAYAH PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL BERBASIS KOMODITAS UNGGULAN PERTANIAN DI KABUPATEN MAJALENGKA Hidayat, Edwin; Sutandi, Atang; Tjahjono, Boedi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.969 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.55

Abstract

ABSTRAKPertanian merupakan sektor basis di Kabupaten Majalengka, namun memiliki keterkaitan sektoral yang lemah dengan industri pengolahan hasil pertanian. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi keunggulan komparatif-kompetitif komoditas unggulan pertanian berdasarkan luas tanam, (2) mengidentifikasi desa-desa berbasis industri kecil pengolahan hasil pertanian, (3) mengidentifikasi desa yang memiliki tingkat fasilitas pelayanan dan aksesibilitas tinggi untuk mendukung industri, (4) mengidentifikasi potensial fisik lahan untuk pengembangan komoditas, (5) menentukan daerah pengembangan industri kecil berbasis komoditas unggulan pertanian dan daerah pengembangan komoditasnya. Metode analisis yang digunakan adalah analisis location quotient (LQ), shift share (SSA), skalogram dan kesesuaian fisik lahan. Komoditas pertanian yang diteliti adalah jagung, mangga, kedelai, dan pisang. Hasil penelitian menunjukkan jagung unggul di 6 kecamatan, mangga unggul di 13 kecamatan, kedelai unggul di 1 kecamatan, dan pisang unggul di 3 kecamatan. Terdapat 179 desa berbasis industri kecil pengolahan hasil pertanian. Desa dengan tingkat fasilitas pelayanan dan aksesibilitas tinggi terdiri atas 50 desa. Fisik lahan yang sesuai untuk masing-masing wilayah pengembangan komoditas terdiri atas 21.862 hektar untuk jagung, 207.546 hektar untuk mangga, 4.073 hektar untuk kedelai, dan 20.669 hektar untuk pisang. Wilayah yang diarahkan untuk pengembangan industri kecil berbasis komoditas unggulan pertanian terdiri atas 10 desa sebagai desa industri dan 6 kawasan industri yang merupakan gabungan dari beberapa desa, sedangkan arah prioritas pengembangan komoditas terdiri atas 3.264,24 hektar untuk jagung, 302,57 hektar untuk mangga, 3.694 hektar untuk kedelai, dan 907,61 hektar untuk pisang.Kata Kunci: Majalengka, komoditas unggulan, industri kecil, wilayah pengembanganABSTRACTAgriculture is a basic sector on Majalengka Regency, but it has a weak sectoral linkages with agro-processing industries. This study aimed to: (1) identify the comparative-competitive advantage of agricultural advantage commodities acreage, (2) identify the villages with become small industries of agro-processing based, (3) identify villages with high level of the facilities services and accessibility to support the industry, (4) Identify physical potention of the land for commodity development, (5) determine the development areas for small industries based on agricultural advantage commodities and its commodity development areas. The analytical method used was analysis of the location quotient (LQ), shift share analysis (SSA), schallogram and physical land suitability analyses. This research focus on commodities, those were corn, mango, soybean and bananas. The results showed that corn was superior in 6 districts, mango was superior in 13 districts, soybean was superior in 1 district and bananas was superior in 3 districts. There were 179 villages as basic of small agro-processing industries. Villages with the high level of facilities services and accessibility consisted of 50 villages. There were 21,862 ha land that phisically suitable for corn, 207,546 ha for mango, 4,073 ha for soybean and 20,669 ha for bananas. There were 10 industrial villages and 6 industrial areas that consisted of some villages, that could be developed as a development region for small industries based on agricultural advantage commodities. The priority areas for commodity development were 3,264.24 hectares for corn, 302.57 hectares for mango, 3,694 hectares for soybean and 907.61 hectares for bananas.Keywords: Majalengka, advantage commodity, small industry, development region
ARAHAN PEMANFAATAN LAHAN UNTUK UPAYA MENGURANGI BAHAYA LONGSOR DI KABUPATEN AGAM DAN KABUPATEN PADANG PARIAMAN, SUMATERA BARAT Pramita, Viona; Gandasasmita, Komarsa; Munibah, Khursatul
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.983 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.60

Abstract

ABSTRAKSumatera Barat merupakan salah satu dari deretan daerah aktif tektonik dan vulkanik yang terletak pada pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, pergerakan lempeng tersebut memicu banyaknya bencana alam, salah satunya adalah longsor. Kabupaten Agam dan Padang Pariaman merupakan wilayah di Sumatera yang sering mengalami longsor. Kabupaten Agam dan Kabupten Padang Pariaman sering mengalami beberapa kejadian bencana tanah longsor yang mengakibatkan korban jiwa, kerugian, dan kerusakan fasilitas. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis spasial, analisis atribut, dan analisis deskriptif, memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang menggunakan metode pendugaan Puslittanak yang dikeluarkan pada tahun 2004, skor dan bobot untuk setiap parameter selanjutnya diklasifikasikan ke dalam 5 kelas, yaitu kelas sangat rendah sampai sangat tinggi. Semakin tinggi skor dan bobot, maka pengaruhnya akan semakin tinggi terhadap longsor, dan sebaliknya. Hasil penelitian menunjukkan Kabupaten Agam dan Padang Pariaman memiliki kelas bahaya longsor cukup variatif, mulai dari kelas bahaya longsor rendah sampai dengan sangat tinggi, dengan persentase terbesar berada pada kelas bahaya sedang ±114.387,58 ha atau 31,85% dari luas keseluruhan wilayahnya (±359.036,35 ha). Kata Kunci: longsor, SIG, Agam, Padang Pariaman, skorABSTRACTWest Sumatra is amongst tectonically and volcanically active area, located at the interface of Indo-Australia and Eurasia plates. The movement of plates triggers many natural disasters, one of them is landslides. The regency of Agam and Padang Pariaman are amongst the area susceptible to landslides in Sumatra, causing the loss of lives, the loss of material and facility damages. The method used includes spatial analysis, attribute analysis and descriptive analysis using Geographic Information System (GIS) with the data from Puslittanak in which the scores and weights for each parameter were classified into 5 classes indicating the lowest until the highest values. The highest scores and weights indicated the greater impact of landslide, and vice versa. The results showed that the regency of Agam and Padang Pariaman had: (1) varying hazard classes, starting from the lowest until the highest class, with greater percentage on the intermediate class, that is ±114,387.58 ha or 31.85% from the total area (±359,036.35 ha); Keywords: landslide, GIS, Agam,Padang Pariaman, score
PEMODELAN PENETAPAN LAHAN SAWAH BERKELANJUTAN BERBASIS REGRESI LOGISTIK DAN EVALUASI LAHAN MULTIKRITERIA DI KABUPATEN SUKABUMI Santosa, Sigit; Rustiadi, Ernan; Mulyanto, Budi; Murtilaksono, K; Widiatmaka, Widiatmaka; Rachman, Noer F
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.783 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.65

Abstract

ABSTRAKAlih fungsi sawah terus terjadi di Pulau Jawa sehingga mengancam ketahanan pangan nasional. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) belum mampu mengendalikan alih fungsi sawah. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model penetapan lahan sawah berkelanjutan menggunakan metode regresi logistik dan evaluasi lahan multikriteria. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi yang merupakan wilayah perbukitan di bagian selatan Pulau Jawa dengan luas lahan sawah yang cukup besar dan mendukung ketersediaan pangan nasional. Pemodelan dibangun berdasarkan karakteristik alih fungsi lokal dengan mempertimbangkan konsep pembangunan berkelanjutan. Variabel-variabel penting yang mendukung terjadinya alih fungsi sawah yang dipertimbangkan adalah jarak sawah terhadap jalan, permukiman, dan industri. Hasil regresi logistik selanjutnya menjadi masukan bobot bagi evaluasi lahan multikriteria yang dapat menghasilkan tiga skenario kebijakan perlindungan sawah, yaitu standar, protektif, dan permisif guna kepentingan pembangunan. Melalui pemodelan ini diperoleh sawah-sawah prioritas lindung yang memudahkan pengelolaannya dan sekaligus menjadi penyangga bagi sawah-sawah di belakangnya.Kata Kunci: model perlindungan lahan sawah berkelanjutan, regresi logistik, evaluasi lahan multikriteriaABSTRACTConversion of paddy fields has continuously occurred in Java Islands, thus threatens a national food security. The Regional Spatial Planning and the Policy on Sustainable Food-crop Agricultural programs seem to unable to control paddy field conversion. This research was conducted to develop a sustainable paddy field zone delineation model using logistic regression and multicriteria land evaluation. The research location is in the Sukabumi Regency which is has various morphology and large paddy fields to support national food security. The model is developed by local conversion characteristics and considering the concept of sustainable development. Important variables that contribute to paddy fields conversion are the distance to road, settlements and industrial regions. Results of logistic regression then become the input for weighted criteria to develop three policy scenarios of paddy fields protection; standard, protective, and permissive in order to support regional development. Through this model, we obtain the priority paddy fields to be protected as well as become buffer zones for the surrounding paddy fields.Keywords: paddy fields protection model, logistic regression, multicriteria land evaluation
KAJIAN PERCEPATAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS KECAMATAN/DISTRIK, DESA/KELURAHAN SECARA KARTOMETRIS Riadi, Bambang; Makmuriyanto, Agus
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.09 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.56

Abstract

ABSTRAKPengawasan dan pembinaan penyelenggaraan pemerintahan desa wajib dilakukan oleh camat sebagai perangkat daerah kabupaten atau daerah kota. Dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri wajib memfasilitasi pelaksanaan PP No.72 Tahun 2005 tentang Desa dengan mengeluarkan Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Desa yang berupa Permendagri No. 27 Tahun 2006 tentang Penetapan dan Penegasan Batas Desa.Penetapan dan penegasan batas desa dilaksanakan untuk memberikan kepastian hukum terhadap batas desa di wilayah darat.Permendagri No. 76 Tahun 2012 diterbitkannya sebagai pengganti Permendagri No. 1 Tahun 2006 mengatur bahwa penetapan dan penegasan batas daerah dilakukan secara kartometris, sehingga kajian penerapan metode iniperlu dilakukan terhadap penetapan batas desa/kelurahan. Pelaksanaan penetapan dan penegasan batas desa dilakukan di atas peta skala 1:5.000 - 1:10.000, namun ketersediaan peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) sampai saat ini baru pada skala 1:10.000 dan pada wilayah yang masih terbatas. Inovasi teknologi dengan memanfaatkan data citrategak resolusi tinggi hasil perekaman satelit ataupun pesawat tanpa awak (UnmannedAerial Vehicle/UAV) diperlukan untuk melengkapi ketentuan skala peta dalam pelaksanaan penetapan dan penegasan batas desa. Lokasi penelitian ini adalah di sebagian wilayah Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogordan Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat. Hasil wawancara dengan penduduk pada kedua desa yang berbatasan menyatakan bahwa batas wilayah indikatif yang terdapat pada peta RBI didapatkan pernyataan: salah, benar, dan tidak tahu.Demikian juga dengan informasi mengenai unsur alam dan buatan yang lain sebagai indikasi batas dikarenakan lurah/kepala desa belum mengetahui wilayah kerjanya.Kata Kunci: batas indikatif, penetapan, penegasan, UAVABSTRACTSupervision and monitoring of the village governance carried out by the head of sub-district as part of regency or city supervision. Here, theMinistry of HomeAffairs facilitates the implementation of the Government Regulation No.72 Year 2005 about Village by issuing Guidelines for Village Boundaries Delimitation and Affirmation through Regulation of Ministry of Home Affairs No. 27 Year 2006 about Village Boundaries Delimitation and Affirmation. The village boundaries delimitation is implemented to provide legal certainty especially to the village boundaries on the land portion. TheRegulation of Ministry of Home Affairs No. 76 Year 2012 as a replacement of Regulation of Ministry of Home Affairs No. 1 Year 2006regulates that the village boundaries delimitation shall be done by using chartometric method, so that an assessment of the implementation ofthe method forvillage’sboundaries is required. Implementation of the village boundaries delimitation shall be done on a map with scale of 1:5,000 - 1:10,000, yet the RBI maps is only availableon a scale of 1:10,000 and cover limited areas. An innovation, such as by utilizing high-resolution imageriesobtained by using satellite or Unmanned Aerial Vehicle (UAV), is required to accelerate the accomplishment to the village boundaries delimitation. This research was carried outat some parts of Cibinong sub-district, Bogor Regencyand Kais District, Sorong Selatan Regency, Papua Barat Province.Results of interview to people live in two nearby villages borders regarding the indicative boundaries shown on the topographic (RBI) maps provide answers of: false, true and unclear. Similar answers also addressed to a question about natural and artificial elements as indicative boundaries because the head of the village do not familiar with their villages area.Keywords: boundary indicative, determination, affirmation,UAV

Page 1 of 2 | Total Record : 11