cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
KAJIAN SOSIAL EKONOMI PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP DI PERAIRAN DANAU TEMPE Muliawan, Irwan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1889.509 KB)

Abstract

Pemanfaatan sumberdaya danau secara multiguna telah memberi manfaat besar, khususnya bagi masyarakat yang bermukim di sekitar danau. Pola ekstrasi yang digunakan dalam tiap jenis pemanfaatan sumberdaya pun beragam. Sayangnya, tidak semua metode tersebut justru memperparah degradasi lingkungan perairan danau. Dampak terparah akibat menurunnya kualitas lingkungan danau terjadi di subsektor perikanan, berupa penurunan produksi tangkapan. Kajian ini bertujuan mengungkap pengelolaan danau untuk pengembangan perikanan di Danau Tempe. Kajian ini menganalisis nilai manfaat langsung sumberdaya Danau Tempe, kelayakan usaha di danau serta mengurai distribusi manfaat dari masyarakat pemanfaatan sumberdaya tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai ekonomi sumberdaya danau terlihat distribusi manfaat dari subsektor perikanan tidak merata. Penyebabnya adalah dominasi pemanfaatan ruang oleh salah satu metoda penangkapan ikan (bungka toddo). Oleh karena itu regulasi mengenai penangkapan ikan diberlakukan melalui Peraturan Daerah No. 5/2000 oleh Pemerintah Kabupaten Wajo. Kemudian direkomendasikan agar pondasi bungka toddo terbuat dari bahan beton dengan jumlah yang telah ditentukan sesuai aturan yang berlaku.ABSTRACTLake resources have many usages which bring great benefits, especially for the community who live around it. The methods people make use of the resources are varied. However, not all of those methods concern with the sustainability of the resources. Some has contributed direct impact to worsen the lake water environmental degradation. The worst impact of the degradation is the decrease in fishery catch. The objective of this study was to show the lake management for fisheries development in Lake Tempe. This study analyzed direct use value technique, benefit value distribution from the user community of the resource. The study shows that benefit value distribution in fisheries sub sector is not well distributed. lt is caused by the spatial use is dominated by bungka toddo. Therefore, regulation toward fishing technique should be applied through the Local Regulation No.5/2000 by Government of Wajo Regency. Thus, it is proposed that bungka toddo base is made from solid materials and the total number of bungka toddo is restricted based on the regulation.Kata Kunci : Perikanan, Nilai Manfaat Langsung, Distribusi Manfaat Keywords : Fisheries, Direct Use Value, Benefit Distribution
PERSEPSI PETANI TERHADAP BANJIR DI LAHAN SAWAH: STUDI KASUS DI KABUPATEN KENDAL DAN KABUPATEN DEMAK, PROVINSI JAWA TENGAH Hartini, Sri; Hadi, M Pramono; Sudibyakto, Sudibyakto; Poniman, Aris
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.465 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.134

Abstract

Ancaman banjir pada lahan sawah dapat menyebabkan berkurangnya luas panen dan produksi beras. Banjir genangan di wilayah pantura Jawa Tengah ini disebabkan oleh tingginya curah hujan dan/atau pasang air laut (rob). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi petani terhadap banjir genangan pada lahan sawah. Persepsi masyarakat petani yang digali mencakup persepsi mengenai kejadian banjir pada lahan sawah baik yang disebabkan karena hujan atau rob, atau gabungan antara keduanya, dan dampaknya terhadap produksi padi. Persepsi petani merupakan dasar perilaku adaptasi yang dilakukan petani. Adaptasi mencakup segala usaha yang dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi risiko, dari risiko pengurangan produksi padi hingga hilangnya seluruh lahan sawah karena tergenang secara permanen. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi lapangan dan wawancara, dengan sampel terpilih dan terbatas pada petani di wilayah yang terkena banjir. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa petani di wilayah penelitian telah melakukan adaptasi guna mengurangi risiko kerugian karena banjir sesuai dengan persepsi dan kapasitasnya yang diwujudkan dalam pembangunan infrastruktur penahan banjir dan/atau modifikasi bentuk pola tanam.Kata Kunci: Sawah, Banjir Genangan, Persepsi ABSTRACTFlood inundation over the paddy field threatens the rice production by degrading the harvest area and rice production. Flood inundation in the area of study occurs due to high rainfall and/or sea water tide. This research aims to study farmers’ perception towards the flood inundation over the paddy field. Farmers’ perception investigated includes perception towards the occurrences of flood inundation resulted from rainfall and/or sea water tide and the impact to the rice production. The farmers’ perception is the based of farmers adaptation behaviour. Meanwhile, the adaptation investigated includes any efforts that have been carried out to reduce the risks, from the reduction of rice production into the lost of paddy field due permanent inundation. This research carried out by doing field observation and interview, with sample selected purposively inclusively to farmers in the flooded area. The result shows that the farmers have been performed adaptation based on their perception and capacity by building flood control and modification of crop calendars.Keyword: Paddy Field, Flood Inundation, Perception
Preface GLOBE Vol. 19 No. 2 Globe, redaksi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.091 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.745

Abstract

NILAI SOSIAL EKONOMI RUMPUT LAUT: STUDI KASUS KECAMATAN TANIMBAR SELATAN DAN SELARU, KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT, PROVINSI MALUKU Wahyudin, Yudi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.925 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.75

Abstract

ABSTRAKBudidaya rumput laut dalam kurun waktu lebih kurang satu dasawarsa terakhir telah menjelma menjadi matapencaharian utama di beberapa desa di wilayah Kecamatan Tanimbar Selatan dan Selaru, Kabupaten MalukuTenggara Barat, Provinsi Maluku. Profil nilai sosial ekonomi aktivitas ini mengkaji karakteristik aktivitas budidayarumput laut dan nilai ekonominya dengan pendekatan effect on production. Berdasarkan hasil analisis permintaandapat disimpulkan bahwa kemiringan kurva permintaan yang terbentuk adalah sebesar 0,26, sedangkan kemiringankurva penawaran dari hasil analisis adalah sebesar 0,56. Pada kondisi keseimbangan pasar menghasilkan hargapasar riil, yaitu sebesar Rp.4.603,78 per kilogram dengan jumlah produk optimal yang diminta di pasar sebanyak15,60 ton per tahun. Nilai total ekonomi sumberdaya rumput laut hasil budidaya dapat dihitung dengan mencari nilaisurplus konsumen dan nilai surplus produsen. Nilai surplus konsumen diestimasi sebesar Rp.31,91 juta, sedangkannilai surplus produsennya sebesar Rp.52,87 juta, sehingga nilai total ekonomi sumberdaya rumput laut hasil budidayadapat diestimasi sebesar Rp.84,78 juta per individu pembudidaya dan dengan jumlah pembudidaya sebanyak 1.614orang, maka nilai ekonomi total sumberdaya rumput laut hasil budidaya di Kecamatan Tanimbar Selatan dan Selarumencapai sebesar Rp.136,83 milyar.Kata Kunci: Rumput Laut, Profil, Surplus Konsumen, Surplus Produsen, Nilai Ekonomi.ABSTRACTSeaweed culture that has been cultured during the period of approximately a decade became the main livelihoodfor several villages in the Subdistrict of South Tanimbar and Selaru, West Maluku Tenggara District, Maluku Province.Socio-economic value of the activity profile examines the characteristic of seaweed farming activities and theeconomic value using effect on production approach. Based on the demand analysis, it can be concluded that theslope of the demand curve is equal to 0.26, while the slope of the supply curve was 0.56. In the market equilibriumconditions produce real market prices, amounting of IDR 4,603.78 per kilogram with the optimal number of productsdemanded in the market as much as 15.60 tons per year. The total value of the economic resources of seaweedcultivation can be calculated by finding the value of consumer surplus and producer surplus. Consumer surplusestimated at IDR 31.91 million, while the value of producer surplus amounted to IDR 52.87 million, so that the totalvalue of the economic resources of seaweed cultivation can be estimated as much as IDR 84.78 million per individualfarmer. The number of seaweed cultivators was as 1,614 people, so that the total economic value of seaweedcultivation in the Subdistrict of South Tanimbar and Selaru reached IDR 136.83 billion.Keywords: Seaweed, Profiles, Consumer Surplus, Producer Surplus, Economic Value.
KAITAN ANTARA ASPEK PENENTUAN POSISI, PEMETAAN, DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS SERTA PERMASALAHANNYA DENGAN SUPLEMEN ELEMEN-ELEMEN SISTEM KOORDINAT Soeryamihardja, R. Danoe; Sedayu, Pipien M.; Yusfania, Meiriska; Julian, Miga M.
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1829.214 KB)

Abstract

Penentuan posisi, pemetaan dan Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan keping-keping mosaik pada suatu permasalah geodesi dan geomatika. Antara keping satu dan lainnya pasti saling berkaitan. Masalahnya tidak semua orang menganggap antara keping tersebut sebagai-kesatuan. Sebagai seorang geodet harus dapat memandang sebuah permasalah godesi dan geomatika sebagai suatu aspek penentuan posisi, pemetaan, dan SlG sebagai mosaik yang saling mendukung. Pada makalah ini disajikan sebuah studi kasus tentang permodelan erosi, sehingga terlihat jelas hubungan dan peran antara ketiga aspek tersebut. Selain itu, dari ketidakseragaman data masukan dalam penentuan erosi dapat dikaji pula mengenai variasi sistem koordinat setiap data serta proses penyeragamannya guna keberhasilan proses selanjutnya.ABSTRACTPositioning, mapping and Geographic Information Systems (GIS) are mosaic pieces on a problem of Geodesy and Geomatics. One and the other pieces must be interrelated. The problem is that not all people think of these pieces as a whole. Geodetists should look at  a problem in Geodesy and Geometics as an aspect of positioning, mapping, and GIS as a mosaic of mutually supportive. This paper will present a case study on modeling of erosion, so that relationship and role of the three aspects become apparent. ln addition, different input data for determination of erosion can be used to assess the variation of coordinate system for every data set.Kata Kunci: Posisioning, Pemetaan, SIG, Model, ErosiKeyword: Positioning, Mapping, GIS, Model, Erotion
PERAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PEMBENTUKAN SPATIAL THINKING SKILLS DAN TERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN BENCANA Yusup, Yasin; Sugiyanto, Sugiyanto; Hadi, Partoso
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.658 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.139

Abstract

Budaya keselamatan dan ketangguhan terhadap bencana belum terbentuk di tengah masyarakat, sehingga dampak bencana semakin besar dan masyarakat pun mudah termakan isu. Hal ini mengindikasikan bahwa pemahaman masyarakat terhadap kondisi lingkungan sekitarnya (“local knowledge”) belum berkembang secara baik. Salah satu penyebabnya adalah pembelajaran geografi belum menghasilkan outcome kecakapan berfikir keruangan secara baik. Salah satu “tool” yang efektif untuk meningkatkan kecakapan berfikir keruangan adalah GIS. Makalah ini membahas pentingnya kecakapan berfikir keruangan (“spatial thinking skills”) dalam pembelajaran geografi dan terapannya dalam pembelajaran bencana. GIS menawarkan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi lingkungan mereka sendiri menggunakan teknologi informasi baru, sehingga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kecakapan berfikir keruangan. Meningkatnya spatial thinking skills menjadikan siswa mengenal kondisi lingkungan sekitarnya dengan baik termasuk ancaman, kerentanan dan risiko bencananya, sehingga saat terjadi bencana siswa bisa menyelamatkan diri sendiri, keluarga dan masyarakatnya. Dengan demikian “spatial thinking skills” merupakan kompetensi dasar dalam geografi yang bisa diterapkan dalam pembelajaran bencana dan pada akhirnya bisa ikut membatu meningkatkan budaya keselamatan dan ketangguhan masyarakat terhadap bencana, sehingga tidak mudah termakan isu bencana yang tidak benar.Kata Kunci: Budaya Keselamatan dan ketangguhan terhadap bencana, Pembelajaran Geografi, Kemampuan Berfikir Spasial, Pembelajaran Bencana ABSTRACTSafety and resilience culture to disaster has not been established in the community, so the impact of disaster tends to increase and the community easily influenced by improper disaster issues. This indicates that peoples understanding to the condition of the surrounding environment (local spatial knowledge) has not developed properly. One of the reasons is the learning outcomes of geography education have yet produced good spatial thinking skills. Therefore, it is considered that GIS could be an effective tool for improving the spatial thinking skills. This paper discusses the importance of spatial thinking skills in geography and applied in the learning of disasters. GIS offers students the opportunity to explore their own environment using new information technologies, which can be used to enhance spatial thinking skills. The increase of spatial thinking skills make students more familiar with the condition of their surrounding environment, including threats, vulnerabilities and disaster risks, so that when disaster strikes the students can help themselves, their families and communities.Thus spatial thinking skills is a basic competence in geography can be applied in the learning of disaster and could ultimately help to improve safety culture and community resilience to disasters, therefore they will easily fall in deceptive disaster issues.Keywords: Culture of safety and resilence to disaster, Geography, Spatial Thinking Skills, Disaster Learning
PEMETAAN SEBARAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT: PENDEKATAN ANALISIS MULTITEMPORAL Rahadiati, Ati; Soewardi, Kadarwan; Wardiatno, Yusli; Sutrisno, Dewayany
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.435 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2018.20-1.718

Abstract

Budidaya rumput laut merupakan salah satu kegiatan di daerah pesisir yang berkembang sangat pesat.  Untuk mengetahui kondisi eksisting luasan budidaya rumput laut perlu dilakukan pemetaan sebaran budidaya rumput laut.  Pemetaan sebaran budidaya rumput laut akan lebih cepat dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh.  Tujuan dari penelitian adalah untuk membandingkan citra SPOT-6 dan Landsat 8 OLI dalam memetakan sebaran budidaya rumput laut dan untuk mengestimasi luasan eksisting budidaya rumput laut.  Proses analisis menggunakan dua metode yaitu interpretasi visual untuk SPOT-6 pansharpened dan analisis digital nilai spektral untuk Landsat 8 OLI.  Sebagai studi kasus digunakan wilayah pesisir Kabupaten Takalar.  Hasil interpretasi visual citra SPOT-6 pansharpened perekaman Maret 2013 menunjukan luasan budidaya rumput laut sebesar 800,6 hektar.  Analisis Landsat 8 perekaman Maret 2014 menggunakan band 2,3 dan 4 luasan budidaya 2.273,6 hektar dengan nilai Kappa 0,64.  Analisis Landsat 8 perekaman tahun 2016 luasan musim barat 2.451 hektar, musim peralihan ke-1 2.017,11 hektar, musim timur 637,9 hektar, dan musim peralihan ke-2 seluas 1.169,2 hektar.  Nilai akurasi keseluruhan Landsat 8 perekaman tahun 2016 lebih dari 85% yang menunjukan citra ini dapat mengestimasi luasan eksisting budidaya rumput laut.
REKONSTRUKSI MODEL 3D MENGGUNAKAN FOTO UDARA UNTUK MENDUGA TINGGI OBJEK Hanief, Hafzal; Nurdiati, Sri; Suwardhi, Deni
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.921 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.80

Abstract

ABSTRAKRekonstruksi 3D, terutama untuk ekstraksi tinggi menggunakan foto udara digital yang diambil dari kamera nonmetrikdan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) adalah studi yang menantang. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untukmenentukan presisi tinggi objek yang diungkapkan dari model 3D dan menetapkan prosedur untuk memberikan hasilyang optimal. Dua atau lebih tumpang tindih foto udara dapat dibangun ke dalam model 3D dengan menerapkanprinsip-prinsip collinearity dan geometri epipolar menggunakan algoritma rekonstruksi 3D. Karena ketidakstabilankamera digital non-metrik, kamera harus dikalibrasi sebelum rekonstruksi 3D diproses, dengan cara bahwa kualitasekstraksi spasial dapat kemudian diukur. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 24 megapixel Resolusi SonyNEX7 kamera digital dan Hexacopter UAV. Kamera Kalibrasi Toolbox digunakan untuk menghitung parameter intrinsikkamera dan program yang spesifik dikembangkan dengan menggunakan MATLAB dalam rangka membangun model3D dan untuk memperoleh ketinggian objek. Hasil validasi dilakukan dengan membandingkan ketinggian model 3Ddengan satu pengukuran dengan menggunakan Electronic Total Station. Keakuratan tinggi objek hingga 1 mmberhasil dicapai, dengan ketinggian kesalahan prediksi terbesar mencapai 15,2 cm pada 70 m ketinggian terbang diatas permukaan tanah.Kata Kunci : Rekonstruksi 3D, Collinearity, Geometri Epipolar, PUNA.ABSTRACTReconstruction of 3D, especially on height extraction using digital aerial photos taken from a non-metric cameraand Unmanned Aerial Vehicle (UAV) is a challenging study. The purposes of this study are: (1) to determine theprecision of an object’s height reveal from a 3D model, and (2) to establish procedures to deliver the optimal result.Two or more overlapping aerial photos can be constructed into a 3D model by applying principles of collinearity andepipolar geometry using 3D reconstruction algorithm. Since there is an instability on a non-metric digital camera, thecamera must be calibrated before 3D reconstruction is process, in that way the quality of spatial extraction, then canbe measured. The study is conducted using 24 megapixels resolution Sony NEX7 digital camera and HexacopterUAV. Camera Calibration Toolbox was utilized to calculate intrinsic parameters of the camera and a specific programis developed using MATLAB in order to build the 3D model and to obtain the object’s height. The result validation isdone by comparing the height from 3D model with that one measured using Electronic Total Station. The accuracy ofthe object’s height up to 1 mm was successfully achieved, with largest height prediction error reaches of 15.2 cm at 70m flying height above ground level.Keyword : 3D Reconstruction, Collinearity, Epipolar Geometry, UAV.
MODEL SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN/PENUTUPAN LAHAN DENGAN PENDEKATAN CELLULAR AUTOMATA: STUDI KASUS DAS GIDANAU, PROVINSI BANTEN Munibah, Khursatul
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2776.891 KB)

Abstract

Cellular Automata (CA) merupakan salah satu pendekatan untuk memodelkan perubahan penggunaan lahan yang berbasis pada data spasial dan bersifat dinamik sehingga model ini dapat memprediksi penyebaran penggunaan lahan secara spasial. lnput data untuk membangun model ini adalah peta penggunaan lahan multiwaktu (1982, 1994 dan 2006) dan peta kesesuaian lahan saat ini. Simulasi dilakukan pada 3 model yang menggunakan Transitional Probability Matrix (TPM) berbeda. Pengalokasian penggunaan lahan pada setiap piksel dilakukan dengan mendasarkan pada penggunaan lahan periode sebelumnya, penggunaan lahan tetangganya dan kesesuaian lahannya. Peta prediksi penggunaan lahan divalidasi dengan peta penggunaan lahan aktual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang layak untuk memprediksi penggunaan lahan di tahun 2018 dan 2030 adalah model dengan TPM 1994-2006 pada iterasi ke-12 (berdasarkan nilai kappa). Perubahan penggunaan lahan selama periode 2006-2030 diprediksi masih di bawah 5% per 12 tahun.Kata Kunci: Cellular Automata, Model, Spasial, DAS Cidanau ABSTRACTCellular Automata (CA) is one of many scientific approaches to build land use change modeling based on spatial data and it has a feature on dynamic of times, so that it can, predict future distribution of land use spatially. The data used as input to create model wen multitemporal land use maps (1982, 1994 and 2006) and land suitability maps. Simulation was applied on three models with differences in term of Transitional Probability Matrix (TPM). Land use allocation on each pixels based on its previous land use and those of its neighbors and also its land suitability. Maps of predicted land use were validated using actual, land use map. The result indicated that the acceptable model was using TPMlssa-26., on 12" iteration (based on kappa value). This model was used to predict land use in 2018 and 2030. For the period of 2006-2030, the land use changes are predicted to be less than 5% per 12 years.Keywords : Cellular Automata, Model, Spatial, Cidanau Watershed
PENGGUNAAN DATA SATELIT OPTIK DAN SAR UNTUK PENDETEKSIAN LEMPENG DAN STRUKTUR GEOLOGI Julzarika, Atriyon; Wiji, Wiji
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1159.54 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-2.144

Abstract

Sejauh ini pengukuran lempeng dan struktur geologi dilakukan melalui pengukuran lapangan. Namun perkembangan teknologi penginderaan jauh satelit dapat digunakan untuk mendeteksi lempeng dan struktur geologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan pendeteksian lempeng dan struktur geologi yang efisien dan berbiaya rendah dengan menggunakan data satelit (optik dan SAR). Pendeteksian lempeng dan struktur geologi ini dilakukan dengan pendekatan geo-matematika (perataan). Penelitian ini menggunakan citra optik Grace dan Altimetri dan citra SAR yaitu ALOS Palsar, XSAR, dan SRTM. Citra Grace dan Altimetri digunakan untuk pembuatan model geoid yaitu Earth Gravitational Model (EGM) 2008) dan defleksi vertikal. Hasil defleksi vertikal (xi dan eta) inilah yang digunakan untuk pendeteksian lempeng. Data ALOS Palsar, XSAR, dan SRTM3 C digunakan untuk pembuatan height model dengan metode integrasi dari ketiga height model dari data tersebut sehingga dihasilkan height model yang akurat dan presisi. Koreksi bull eye’s diterapkan pada height model untuk menghilangkan anomali tinggi dengan metode Height Error Maps (HEM), yang dilanjutkan dengan koreksi undulasi geoid terhadap EGM2008. Selanjutnya height model tersebut digunakan untuk mendeteksi struktur geologi berupa sesar dengan metode Dip and Strike. Hasil dari penelitian ini bisa digunakan sebagai alternatif dalam pembuatan peta pergerakan lempeng dan peta struktur geologi. Selain itu juga bisa diaplikasikan untuk transformasi koordinat astronomis ke koordinat geodetik dalam penentuan batas wilayah. Proses pendeteksian lempeng dan struktur geologi ini lebih efisien dan berbiaya rendah sehingga bisa diaplikasikan untuk berbagai kepentingan keteknikan dan non keteknikan.Kata Kunci: Lempeng, Struktur Geologi, Citra Satelit Optik, SAR, Efisien ABSTRACTSo far, measurement of plate tectonic and geology structure has been done by field measurement. However, the advancement in satellite remote sensing technology enable it to be used for detecting the plate tectonic and geology structure. This research aims to detect plate tectonic and geology structure efficiently and low cost by using optical and SAR satellite data. The detection used a geo-mathematical approach (averaging). This research used optical image of Grace and Altimetry, and SAR imageries namely ALOS Palsar, XSAR, and SRTM. The Grace and Altimetry imageries used for building geoid model which is Earth Gravitational Model (EGM) 2008) and vertical deflection. The result of vertical deflection (xi and eta) then used for detecting the plate. Meanwhile, the ALOS Palsar, XSAR, dan SRTM3C imageries were used for building a height mode by integrated those three height models. The result was a high accuracy and precision of height model. A “bull eye’s” correction using Height Error Maps (HEM) method was applied to remove the height anomaly. The process continues by correction of geoid undulating of the EGM2008. The integrated height model then used for detecting the plate and geology structure i.e. fault using dip and strike method. The research result shows that this method can be alternative for mapping plate movement and geology structure. Besides that, it can also be applied for transforming astronomical coordinate into geodetic coordinate in an area boundary delimitation. In sum, the plate and geology structure process developed is considered efficient and low cost, so that it can be applied for several technical and non-technical purposes.Kata Kunci: Plate Tectonic, Geology Structure, Optical Satellite Imagery, SAR, Efficient