cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
METODE EXTRAPOLASI SEBAGAI ALTERNATIF METODE EVALUASI LAHAN UNTUK IDENTIFIKASI LAHAN SAWAH Purnomo, Djoko; Gandasasmita, Komarsa; Sutandi, Atang
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.871 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.85

Abstract

Kendala terbesar kegiatan evaluasi lahan di Indonesia adalah ketersediaan dan kelengkapan data sumberdaya lahan skala semi detil maupun detil. Meskipun data sumberdaya lahan pada skala tersebut tersedia namun data mengenai sifatkimia dan biologi tanah seringkali tidak lengkap. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan metode evaluasi lahan alternatif untuk identifikasi lahan sawah, yaitu metode ekstrapolasi. Metode ekstrapolasi dimulai dari identifikasi karakteristik lahan yang mencirikan keberadaan lahan sawah, penentuan kelas dan skor karakteristik lahan penciri menurut tingkat kecocokan lahan sawah, identifikasi nilai skor total berikut klasifikasi tingkat kecocokan lahan sawah akhir yang terjadi di lahan sawah, dan ekstrapolasi spasial tingkat kecocokan lahan sawah akhir ke seluruh area kajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik lahan yang mencirikan keberadaan lahan sawah adalah kemiringan lereng, curah hujan, jarak dari jalan, dan jarak dari sumber air. Perbandingan metode ekstrapolasi dengan metode evaluasi kesesuaian lahan maupun evaluasi kemampuan lahan menunjukkan bahwa metode ekstrapolasi dapat direkomendasikan sebagai metode evaluasi lahan alternatif karena memiliki representasi keberadaan lahan sawah yang paling tinggi, yaitu 97,5 %.Kata Kunci: Evaluasi Lahan, Ekstrapolasi Spasial, Lahan Sawah.ABSTRACTThe main obstacle in land evaluation in Indonesia is the availability and completeness of land resources data, both in semi-detailed and detailed scale. Eventhough land resource data on semi-detailed and detailed scale are obtainable but chemical and biological soil properties data is often incomplete.To anticipate such problems, this research aimed to review the application of alternative land evaluation method for paddy field identification, which is called extrapolation method. The extrapolation method started from the identification of land  characteristics that could indicate the presence of paddy field, fortitude class and score of identifier land characteristics according to the paddy field suitability, identified total score and paddy field suitability level that occured in paddy field, and extrapolated paddy field suitability level spatially throughout the study area. The results showed that the land characteristics that could be used as identifier characteristic were; slope, rainfall, distance from the road, and distance from the water source. Comparison extrapolation method with land suitability evaluation and land capability evaluation method showed that extrapolation method could be recommended as an alternative method for land evaluation because it had the highest paddy field representation, which was 97.5%.Keywords: Land Evaluation, Spatial Extrapolation, Paddy Field.
KEBUTUHAN DATA SPASIAL KELAUTAN DAN KETERBATASAN METODA INDERAJA DALAM MENDUKUNG PEMETAAN SUMBERDAYA KELAUTAN Gaol, Jonson Lumban; Arhatin, Risti Endriani; Zamani, Neviaty P; Madduppa, Hawis
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1195.507 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.332

Abstract

Kelangkaan data spasial kelautan merupakan permasalahan mendasar dalam perencanaan pembangunan kelautan di negara berkembang seperti lndonesia. Untuk mengatasi permasalahan ini, teknologi inderaja menjadi salah-satu alternatif pilihan. Salah satu ekosistem laut yang mengandung kekayaan sumberdaya alam adalah ekosistem terumbu karang. Pemanfaatan data inderaja untuk pemetaan ekosistem terumbu karang telah diperkenalkan di lndonesia sejak tahun 90-an dan saat ini sudah umum digunakan di Indonesia. Namun demikian, data inderaja mempunyai keterbatasan untuk memetakan objek terumbu karang karena berada hingga kedalaman tertentu yang tidak ada penetrasi cahaya. Pola distribusi terumbu karang yang mengikuti geomorfologi dasar perairan sangat mempengaruhi hasil penginderaan. Hasil penelitian di kepulauan Una-una Togean menuniukkan bahwa interpretasi dari citra satelit tidak menggambarkan kondisi terumbu karang yang sesungguhnya.Kata Kunci: Data Spasial, Kelautan, Inderaja, Terumbu Karang ABSTRACTThe lack of marine spatial data is the fundamental problems in marine development planning in developing countries like Indonesia. We need remote sensing technology to be one alternative option to get over this problem. A coral reef ecosystem is one of the marine ecosystems that contain a rich of marine resources. Utilization of remote sensing data for napping coral reef ecosystems have been introduced in Indonesia since the 90’s and now is commonly used in Indonesia. However, the remote sensing data has limitations for coral reef napping object being in a certain depth into which has no light penetration. Distribution patterns of coral reef following the bottom geomorphology of water influence the sensory results. The results of research conducted in the Una-una Togean Island showed that the coral reef map derived satellite images did not describe the real condition of the reef. Keywords: Spatial Data, Marine, Remote Sensing, Coral Reef
PEMETAAN RISIKO BENCANA PADA DAERAH PARIWISATA KABUPATEN LOMBOK BARAT, NUSA TENGGARA BARAT Marchiavelly, Mone Iye; Narieswari, Lalitya; Munajati, Sri Lestari; Sumaryono, Sumaryono; Santoso, Widodo Edi; Martha, Sukendra
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.36 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-2.149

Abstract

Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mempunyai posisi sangat strategis sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW). Disamping keberadaannya sebagai daerah wisata, Kabupaten Lombok Barat juga termasuk daerah rawan bencana, diantaranya bencana tsunami, banjir dan longsor. Untuk itu, diperlukan pendekatan manajemen risiko bencana dalam kerangka pariwisata untuk mendukung Pengurangan Risiko Bencana. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan risiko bencana di daerah pariwisata serta memperkirakan kerugian ekonomi yang mungkin timbul bila terjadi bencana. Metode yang digunakan adalah melalui Focus Group Discussion (FGD), pengumpulan data primer dan sekunder serta analisis SIG untuk menghasilkan risiko bencana. Selanjutnya, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan kepada pemerintah dan masyarakat yang bergerak di sektor pariwisata dalam rangka pengurangan risiko bencana di lokasi penelitian.Kata Kunci: Risiko Bencana, Pariwisata, Focus Group Discussion ABSTRACTWest Lombok Regency is one of regencies in West Nusa Tenggara which become the Tourism Destination Region (TDR). In addition to its presence as a tourism destination area, West Lombok is also categorized as disaster-prone areas, such as tsunami, flood and landslide. Therefore, a disaster risk management approach within a framework of tourism to support Disaster Risk Reduction is needed. The aim of this paper is mapping the risk in tourism area and estimates the economic lose due to disaaster. The method used is a Focus Group Discussion (FGD), primary and secondary data collection and GIS analysis to produce the risk maps. Furthermore, it is expected that the results of this study can be used as input to the government and the people engaged in the tourism sector in the context of disaster risk reduction at the sites.Keywords: Disaster Risk, Tourism, Focus Group Discussion
PELUANG DAN TANTANGAN EKONOMI GEOSPASIAL DI INDONESIA Amhar, Fahmi; Karsidi, Asep; Poniman, Aris; Wijoyo, Suharto
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.719 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.90

Abstract

Salah satu dari tujuan UU No. 4/2011 tentang Informasi Geospasial adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berbasis pemerataan dan keberlanjutan. Pemerataan selain berdimensi sosio-demografis juga geografis-finansial. Dan keberlanjutan selain memperhatikan aspek ketersediaan sumber daya alam juga dampak lingkungan. Tulisan singkat ini akan membahas 3 aspek dari sekian aspek ekonomi geospasial di Indonesia. Pertama menelaah gagasan bahwa bila Informasi Geospasial Dasar (IGD) yang menjadi domain Badan Informasi Geospasial (BIG) digratiskan, maka akan terjadi dampak positif ekonomi yang cukup signifikan, dan berbagai cabang ekonomi kreatif spasial akan tumbuh subur. Kedua menelaah aspek-aspek penguatan SDM yang diperlukan untuk menunjang tumbuhnya ekonomi geospasial. Dan ketiga ide pengaturan agar masyarakat tetap mendapatkan IGDyang paling berkualitas, di tengah keterbatasan sumberdaya BIG – meski mendapat mandat UU menjadi satu-satunya penyelenggara, namun pada saat yang sama ada inisiatif baik dari pemerintah daerah, swasta maupun masyarakat.Kata Kunci : Informasi Geospasial, Ekonomi, Tarif Gratis, Pemetaan Partisipatif.ABSTRACTOne of the purposes of Law No. 4/2011 on Geospatial Information is to increase economic growth based on equity and sustainability. Equalization in addition to socio-demographic dimension is also geographically-financial. And sustainability in addition to the aspect of the availability of natural resources also impacts to the environment. This short article will discuss three aspects of the geospatial aspects of Indonesias economy. The first examines the idea that if the Base Geospatial Information (IGD) which is the domain of the Geospatial Information Agency (BIG) is free, there will be a quite significant positive economic impact, and the various branches of creative spatial economy will flourish. The second examines aspects of strengthening human resources needed to support the geospatial economic growth. And the third idea is regulating so that people still get the most qualified geospatial information, among constraints of BIG - although received a legal mandate to be the sole provider, but at the same time there is a good initiative from the local government, private and public.Keywords : Geospatial Information, Economic, Free Charge, Patisipatory Mapping.
FOREST FRAGMENTATION ANALYSIS AND ITS RELATIONSHIP WITH FOREST DEGRADATION Darmawan, Mulyanto
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2222.324 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2009.11-1.337

Abstract

Borneo tropical rain forest (BTRF), for many years, has been subject for timber extraction, agriculture, and plantation expansion. Although it has experienced land conversion, complete pictures of the effect of forest degradation of the remaining forest are poorly understood. As its condition is necessary for evaluating total forest condition, therefore understanding of the relationship between fragmentation and degradation are important. Initially, forest fragmentation analysis was applied to understand geometrical shape of forest after long period of forest clearance. Finally the fragmentation analysis was applied to calculate proportion of forest (Pof) and forest connectivity to non-forest (Cot). Forest area was extracted from land cover classification using Landsat data and six categories of fragmentation metric (interior, perforated, edge, transitional, patch and undetermined) were developed in this study. Result showed that if the remaining forest was characterized with interior forest pattern, the less forest degradation had threatened, however, if the remaining forest had characteristic as patch, transition and perforated patterns, moderate to high level of forest degradation had been threatening.Kata Kunci: Analisis Fragmentasi Hutan, Degradasi Hutan, Hutan Hujan TropisABSTRACTHutan Hujan Tropis di wilayah Borneo (Kalimantan) sudah lama menjadi target sumber kayu, ataupun ekspansi lahan pertanian dan perkebunan. Meski telah berulang kali mengalami pengalihan dan perubahan hutan, akan tetapi gambaran yang lengkap tentang degradasi hutan alami yang tinggal masih sulit dipahami. Memahami kondisi degradasi hutan tersebut sangat diperlukan dalam upaya evaluasi kondisi hutan Kalimantan sepenuhnya, maka diperlukan pemahaman hubungan antara fragmentasi hutan dan tingkat degradasi hutan. Dalam study ini, pertama kali analisa fragmentasi dilakukan untuk mengetahui bentukan geometris hutan tropis yang ada yang merupakan hasil proses konversi hutan telah berlangsung lama. Selanjutnya, analisa Framentasi dilakukan untuk menghitung proporsi hutan (Pof) dan koneksi hutan dengan penggunaan lahan lain yang bukan hutan (Cof). Data hutan bersumber dari hasil klasifikasi tersedia (supervised classification) land cover atas citra satelit Landsat. Enam kategori metric fragmentasi digunakan dalam studi ini yaitu : interior, perforated, edge, transitional, patch dan undetermined. Hasil studi menunjukkan hubungan antara karateristik geometris hutan dengan kondisi hutan degradasi, yaitu apabila hutan yang ada mempunyai bentukan geometris interior maka kecil kemungkinan degradasi hutan terjadi. Namun, apabila hutan yang ada ditandai dengan bentukan geometris patch, transition dan perporated, maka dapat disimpulkan telah terjadi proses degradasi intensif terhadap hutan tersebut mulai dari kategori sedang hingga tinggi.Keywords : Forest Fragmentation Analysis, Forest Degradation, Tropical Rain Forest 
STRATEGI PENGEMBANGAN KOMODITAS PERKEBUNAN BERBASIS DAYA DUKUNG LAHAN DI KABUPATEN MAJENE Fatmawaty, Fatmawaty; Baskoro, Dwi Putro Tejo; Widiatmaka, Widiatmaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.614 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.215

Abstract

Kemampuan lahan merupakan potensi lahan untuk penggunaan berbagai sistem pertanian secara umum untuk penggunaan lahan berkelanjutan. Kemampuan lahan adalah salah satu metode untuk mengetahui daya dukung lahan. Kabupaten Majene merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah sebagai petani. Komoditas pertanian seperti perkebunan dianggap sangat membantu perekonomian masyarakat, tetapi penurunan produktivitas perkebunan mengakibatkan dampak negatif bagi pendapatan masyarakat. Kegiatan pertanian selalu ditandai dengan pembukaan lahan baru. Oleh karena itu, jika aktivitas pertanian mengabaikan kemampuan lahan maka lahan akan menjadi rusak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian penggunaan lahan dengan kemampuan lahan dan RTRW dan menyusun strategi pengembangan komoditas unggulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 kelas kemampuan lahan dan 12 sub-kelas kemampuan lahan dengan faktor pembatas dominan adalah lereng. Sebagian penggunaan lahan di beberapa area tidak cocok dengan kemampuan lahannya yaitu sebesar 28%, sedangkan ketidakcocokan penggunaan lahan dengan RTRW jauh lebih sedikit, yakni 14,8%. Strategi yang diharapkan dapat meningkatkan komoditas perkebunan adalah menjaga kesuburan tanah, pengendalian hama terpadu, penerapan pola tanam, meningkatkan kualitas sumber daya petani, meningkatkan peran penyuluh, pembangunan dan perbaikan infrastruktur serta manajemen panen/pasca panen.Kata kunci: Strategi pengembangan komoditas, kemampuan lahan, komoditas unggulanABSTRACTLand capability is potentials land for uses of various agricultural systems for general sustainable land uses. Land capability is one of methods to determine carrying capacity of land. Majene Regency is one of regencies in West Sulawesi Province with major of livelihoods is as farmers. Agricultural commodities especially plantation is very important for the people‟s welfare in this area, but the decrease in productivity have negative impacts to the farmers‟ income. Agricultural activities always be marked with opening new land. Therefore, if land capability ignored then the land will be degraded. This research aims to evaluate conformity of the existing land use and land capability with spatial planning (RTRW) and to arrange a leading community development strategy. The results showed that land has four capability classes and twelve capability sub-classes with slope concerns as the dominant limiting factor. The land uses in some areas do not match with their land capabilities accounted for 28%, while unconformity land uses to spatial planning (RTRW) is far less, accounted for 14,8%. The strategies to increase the plantation commodities are by maintaining soil fertility, integrated pest management, implementation of cropping patterns, development of farmer resource, development role of agricultural extension agents, development and improvement of infrastructure and management of harvest and postharvest.Keywords : commodity development strategy, land capability, leading commodity
KLASIFIKASI PENUTUP LAHAN BERBASIS OBJEK PADA CITRA SATELIT SPOT DENGAN MENGGUNAKAN METODE TREE ALGORITHM Julzarika, Atriyon; Carolita, Ita
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.217 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.220

Abstract

Perkembangan klasifikasi berbasis objek sudah dikenal sejak kemajuan recognition pada bidang fotogrametri kedokteran sekitar tahun 1970. Klasifikasi berbasis objek ini kemudian digunakan pada bidang penginderaan jauh. Klasifikasi ini diaplikasikan pada klasifikasi penutup lahan dengan berbagai pendekatan metode. Pada penelitian ini, penutup lahan berbasis objek dilakukan menggunakan pendekatan region growing dan teknik klasifikasi dengan menggunakan metode tree algorithm. Klasifikasi ini menggunakan citra satelit SPOT wilayah Danau Limboto. Proses pertama yang dilakukan adalah melakukan segmentasi dengan penentuan parameter skala 15, shape 0,1 dan compactness 0,5. Pembuatan tree algorithm ini didasarkan pada jenis sampel yang dipilih sesuai dengan jenis klas objek. Kemudian hasil klasifikasi ini dilakukan uji geostatistik berupa classification stability, best classification result, error matrix based on TTA Mask, dan error matrix based on samples. Tulisan ini bertujuan untuk menentukan teknik klasifikasi penutup lahan berbasis objek pada citra satelit SPOT menggunakan metode tree algorithm. Teknik klasifikasi ini diharapkan bisa meningkatkan ketelitian (akurasi dan presisi) klasifikasi penutup lahan serta dapat menjadi alternatif metode klasifikasi yang telah tersedia saat ini.Kata kunci: objek, segmentasi, tree algorithm, uji geostatistik, Danau LimbotoABSTRACTThe development of object-based classification has been known since the recognition progress in the field of medical photogrammetry in about the year of 1970. Object-based classification is then also used in the field of remote sensing. This classification was applied to land cover with various approach of methods. In this study, object-based land cover classification used an approach of region growing and classification technique by tree algorithm. This classification used SPOT satellite imagery of Lake Limboto. The first process was determined the segmentation with scale parameter 15, shape 0.1 and compactness 0.5. The making of treealgorithm was based on the type of sample selected according to the type of objects class. Then the results of the classification has been used to perfom geostatistical tests of classification stability, best classification result, error matrix based on TTA Mask, and error matrix based on samples. This paper aims to determine the land cover objects based classification technique on the SPOT satellite imagery using tree algorithm method. This classification technique is expected to increase accuracy and precision of land cover classification and can be used as an alternative method of classification that has been available at this time.Keywords: object, segmentation, tree algorithm, geostatistical test, Lake Limboto
KAJIAN DETEKSI DEGRADASI HUTAN DENGAN DATA MODIS DAN LANDSAT DALAM MEMAHAMI SKENARIO PENERAPAN REDD Widjojo, Suharto; Darmawan, Mulyanto; Poniman, Aris; Maulia, Nita; Sutanto, Ari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.025 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.95

Abstract

Dalam studi ini data multi temporal satelit Landsat resolusi spasial 30 meter periodetahun 2003, 2006 dan 2009 dan data MODIS tahun 2003 dan 2008 digunakan untuk deteksi degradasi hutan wilayah Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur. Deteksi level degradasi hutan menggunakan metode deteksi perubahan (change detection) dan analisa fragmentasi (fragmentation analysis). Kategori fragmentasi ditentukan berdasar pengelompokkan hutan dengan klas edge, perforated dan patch, sementara hutan alami dikelompokkan atas dalam hutan core pada buffer 250 sampai 500 acre. Selanjutnya dilakukan analisa faktor dasar (baseline factor) untuk memahami penerapan REDD sebagai respon terjadinya degradasi hutan. Hasil analisa data MODIS 2003-2008 menunjukkan terjadinya kecenderungan perubahan penurunan luas hutan sebesar 23,5% (7.256.931 ha). Dari 23,5% tersebut, sekitar 70,0% (5.089.851,7 ha) berupa perubahan penurunan pada hutan alami dan sekitar30,0% (2.167.079,3 ha) berupa penambahan hutan yang terkategori degradasi. Sebaliknya terjadi pula penambahan pada areal bukan hutan sekitar 30% (2.167.079,3 ha). Sementara analisa dengan data Landsat menunjukkan hasil kebalikan, yaitu selama periode 2003 – 2009 terjadi kenaikan jumlah hutan alami sebesar 3,5% (961.313 ha). Dari jumlah 3,5% tersebut, sebesar 7,8% (1.519.694 ha) berupa penambahan pada luasan hutan alami, dan berupa penurunan hutan terkategori degradasi sebesar 6,8% (558.381 ha) dan penurunan atas area bukan hutan sebesar 3,7% (961.313 ha). Adaptasi REDD pada masyarakat Kalimantan timur tersebar pada kelompok hutan terdegradasi (Patch, Perforated dan Edge). Kata Kunci: Hutan Tropis Basah, MODIS, Landsat, REDD, Hutan TerdegradasiABSTRACTSThis study used multi-temporal satellite Landsat imageries with 30-meter spatialresolution period in 2003, 2006 and 2009 and MODIS data in 2003 and 2008 for detection of forest degradation in Kalimantan region, especially East Kalimantan. Detection of degradation level was done using change detection method and fragmentation analysis. Categories were determined by grouping of forest fragmentation by class of edge, perforated and patches, while natural forests in the forest cores were grouped on the buffer 250 to 500 acres. Further analysis was conducted on baseline factors to understand the application of REDD as a response to forest degradation. Analysis result of MODIS data in 2003-2008 shows a trend of decreased forest area by 23.5% (7,256,931 ha). Of 23.5%, approximately 70.0% (11,793,319 ha) were in the form of changes to a decrease in natural forest and approximately 30.0% (4,536,388 ha) of forests are categorized addition of degradation. In contrast, there were also addition to non-forest area of about 30% (7,252,525 ha). Meanwhile, Landsat data analysis shows the opposite result. For example, during the period 2003 – 2009 there was an increase of 3.5% (961,313 ha) of natural forests. Out of the total 3.5% of these, 7.8% (1,519,694 ha) were in the form of addition to the natural forest area, and a decrease in forest degradation as many as 6.8% (558,381 ha) and a decrease of nonforest area of 3.7% (961,313 ha). Adaptation of REDD in East Kalimantan communities scattered in groups of degraded forests (Patch, Perforated and Edge).Keywords: Tropical Rain Forest, MODIS, Landsat, REDD, Degraded Forest
MODEL PERUBAHAN PENUTUPAN/PENGGUNAAN LAHAN UNTUK IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS DI KABUPATEN BOGOR, KABUPATEN CIANJUR, DAN KABUPATEN SUKABUMI Kubangun, Siti Hadjar; Haridjaja, Oteng; Gandasasmita, Komarsa
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.37 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.391

Abstract

Pemanfaatan lahan yang melampaui kemampuan lahannya, dapat mengakibatkan degradasi lahan. Degradasi lahan jika dibiarkan akan menimbulkan lahan kritis. Dampak yang terjadi akibat lahan kritis mengakibatkan lahan mengalami penurunan kualitas sifat-sifat tanah, penurunan fungsi konservasi, fungsi produksi, hingga berpengaruh pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang memanfaatkan lahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lahan kritis, berdasarkan pemodelan perubahan penutupan/penggunaan lahan dengan metode Artificial Neural Network (ANN). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lahan-lahan yang tergolong kritis mencakup lahan berlereng dengan penutupan/penggunaan lahan yang telah terkonversi. Faktor utama penyebab konversi lahan adalah tingginya kebutuhan hidup terhadap pangan, sandang, dan papan, akibat meningkatnya kepadatan penduduk. Selain hal tersebut, kemiringan lereng, jarak dari jalan, dan jarak dari permukiman juga menjadi faktor penyebab perubahan lahan. Upaya pemanfaatan lahan sebaiknya didukung oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan sosial dan ekonomi, namun juga berorientasi pada lingkungan yang berkelanjutan.Kata kunci:  jaringan saraf tiruan, perubahan penutupan/penggunaan lahan, model spasial, lahan kritis.ABSTRACTOver used of land can caused the degradation, it can be lead to the critical of the land. The impacts of this issue such as the decreasing of the soil characteristics quality, conservation function, production, affecting social and economic of the society which used the land.  This research aims to identify the critical land based on the land use cover change models with Artificial Neural Network (ANN) method. This research shows the critical lands including land with the slope which has been converted with the land use cover change models. The main factors caused land converse are the high of need of food, clothing, and shelter, cause of the increasing population density. Besides those factors, the shape of slope, distance from the road and settlements   are also the result of the land changing. The efforts in using the land should be supported by the increasing of the human resources, which are not only be oriented on the need of social and economic, but also on the sustainable environment.Keywords: artificial neural network (ANN), land use cover change (LUCC), spatial models, critical land.
PEMETAAN POTENSI EPIDEMI MUNTABER DI KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI, PROVINSI SUMATERA BARAT Mulya, Setyardi Pratika; Suwarno, Yatin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.233 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.225

Abstract

Bencana epidemi penyakit adalah suatu wabah penyakit tertentu atau kejadian luar biasa yang tiba-tiba meluas dan menyebabkan sakit pada manusia dalam jumlah yang banyak. Penyakit ini termasuk urutan ke empat dari sepuluh penyakit terbanyak yang mewabah di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahaya/rawan, hirarki dan potensi epidemi penyakit muntaber di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Analisis yang digunakan adalah skoring, pembobotan, skalogram, dan analisis spasial. Hasil penelitian ini adalah (1). wilayah kecamatan yang memiliki tingkat kerawanan penyebaran epidemi penyakit muntaber tertinggi berada di Kecamatan Siberut Utara dan beberapa lokasi di Kecamatan Sipora Selatan, sedangkan yang memiliki tingkat kerawanan yang rendah didominasi di sebagian kecil Pulau Siberut, Kecamatan Sikakap, dan Kecamatan Pagai Selatan, (2). Kecamatan Pagai Selatan memiliki hirarki 1, kecamatan yang berhirarki 2 adalah Kecamatan Sikakap dan Sipora Utara, dan kecamatan yang berhirarki 3 adalah Kecamatan Pagai Utara, Siberut Barat Daya, Siberut Barat, Siberut Selatan, Siberut Tengah, Siberut Utara, dan Sipora Selatan, (3). Potensi terbesar penyakit muntaber terjadi di wilayah Siberut Utara dan beberapa tempat di Sipora Selatan. Sementara itu, potensi terkecil terjadinya penyakit muntaber berada di Kecamatan Pagai Selatan.Kata Kunci: hirarki, Kepulauan Mentawai, muntaber, potensi, rawan.ABSTRACTEpidemic disease is an extraordinary event that suddenly spread and causes humans illness in large numbers. This disease ranks fourth (out of ten) endemic diseases in Mentawai Islands. This study aims to determine prone, hierarchy and the potential for epidemics of diarrhea in the Mentawai Islands. The analysis is scoring, weighting, schallogram, and spatial analysis. Results of this study are: (1). Sub district of which has a severe impact diarrheal disease epidemics highest are North Siberut sub district and South Sipora, (2). Sub district of South Pagai has a hierarchy 1, hierarchy 2 are Sikakap and Sipora sub district of North, and hierarchy 3 are sub district of North Pagai, Siberut Southwestern, Siberut West, South Siberut, Central Siberut, North Siberut, and South Sipora, (3). The biggest potential diarrheal diseases in the sub district of North Siberut and some places in South Sipora.Keywords: hierarchy, Mentawai Islands, diarrhea, potential, vulnerable