cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
INTEGRASI DATA INDERAJA DAN DATA GEOLOGI UNTUK MENDUKUNG EKSPLORASI TAMBANG EMAS, Studi Kasus di Kabupaten Paniai Provinsi Papua yanuarsyah, iksal; Suwarno, Yatin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1314.906 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-1.559

Abstract

ABSTRAKPemetaan potensi sumberdaya geologi pertambangan khususnya potensi mineral perlu dilakukan sebagai awal dalam pengelolaan sumberdaya pertambangan terlebih dalam tahapan eksplorasi pendahuluan. Penginderaan jauh (Inderaja) merupakan alat bantu yang merekam rona lingkungan bumi yang mampu menginterpretasi potensi eksplorasi mineral logam seperti emas. Dengan menggunakan data citra satelit, biaya eksplorasi akan lebih rendah, termasuk efisiensi dalam melakukan pemboran. Tujuan dari studi ini yaitu mampu mendeliniasi Jalur Alterasi dengan interpretasi citra satelit agar untuk mendukung kegiatan eksplorasi tambang lebih efektif dan efisien. Lokasi kajian berada di Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai, Propinsi Papua seluas 40.116 Ha yang merupakan lokasi Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi PT. Kotabara Mitratama (izin berdasarkan Keputusan Bupati Paniai No. 017 Tahun 2010). Metode yang digunakan dalam kajian ini yaitu metode konseptual dengan memanfaatkan faktor geologi yang berpengaruh pada terbentuknya endapan minera). Tahapan analisa dimulai dari pengumpulan data spasial (peta) dan non spasial (tabular), analisa interpretasi citra Landsat dan identifikasi kelurusan zona lemah (lineament) untuk menentukan zona mineralisasi. Berdasarkan hasil interpretasi citra Landsat dengan didukung analisa geologi untuk daerah IUP PT. Kotabara Mitratama berprospek Tembaga (Cu) dan Emas (Au) yang terbagi dalam 9 Zona Mineralisasi dengan luas mencapai 2.922,48 Ha (yang terdiri dari 8 zona mineralisasi primer seluas 2.208,83 Ha dan 1 zona mineralisasi aluvial seluas 713,65 Ha). Kata kunci: data inderaja, data geologi, eksplorasi emas  ABSTRACT Geological mapping of the mineral potential has to be done as the preliminary stages of mining exploration. Remote sensing is a common tool that used to records the earths environment through image interpretation such for gold mine potential exploration. By using satellite imagery data, will be lower exploration costs, including efficiency in drilling The aim of this study is to delineate alteration zone with satellite image interpretation to support mining exploration activities more effectively and efficiently. The study Located in Bogobaida District, Paniai Regency, Papua Province, covering an area of 40 116 hectares, in site case of Legal Mining Exploration Permit (IUP) PT. Kotabara Mitratama (Paniai Regent Decree No. 017 of 2010). The method used is utilizing conceptual geological factors that alleged the formation of mineral deposits. Stages of analysis starting from spatial data (maps) and non-spatial (tabular) collection, then Landsat satellite imagery interpretation and identification of weak zones straightness (lineament) due to define the mineralized zones. Based on the results of image interpretation with geological analysis in IUP PT. Kotabara Mitratama was prospected Copper (Cu) and gold (Au) which is divided into 9 Mineralization Zone with an area of 2,922.48 ha (consisting of 8 primary mineralized zone covering an area of 2,208.83 ha and 1 alluvial mineralized zone measuring 713.65 ha). Keywords: Remote sensing, geological data, gold exploration
ARAHAN PEMANFAATAN LAHAN UNTUK UPAYA MENGURANGI BAHAYA LONGSOR DI KABUPATEN AGAM DAN KABUPATEN PADANG PARIAMAN, SUMATERA BARAT Pramita, Viona; Gandasasmita, Komarsa; Munibah, Khursatul
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.983 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.60

Abstract

ABSTRAKSumatera Barat merupakan salah satu dari deretan daerah aktif tektonik dan vulkanik yang terletak pada pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, pergerakan lempeng tersebut memicu banyaknya bencana alam, salah satunya adalah longsor. Kabupaten Agam dan Padang Pariaman merupakan wilayah di Sumatera yang sering mengalami longsor. Kabupaten Agam dan Kabupten Padang Pariaman sering mengalami beberapa kejadian bencana tanah longsor yang mengakibatkan korban jiwa, kerugian, dan kerusakan fasilitas. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis spasial, analisis atribut, dan analisis deskriptif, memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang menggunakan metode pendugaan Puslittanak yang dikeluarkan pada tahun 2004, skor dan bobot untuk setiap parameter selanjutnya diklasifikasikan ke dalam 5 kelas, yaitu kelas sangat rendah sampai sangat tinggi. Semakin tinggi skor dan bobot, maka pengaruhnya akan semakin tinggi terhadap longsor, dan sebaliknya. Hasil penelitian menunjukkan Kabupaten Agam dan Padang Pariaman memiliki kelas bahaya longsor cukup variatif, mulai dari kelas bahaya longsor rendah sampai dengan sangat tinggi, dengan persentase terbesar berada pada kelas bahaya sedang ±114.387,58 ha atau 31,85% dari luas keseluruhan wilayahnya (±359.036,35 ha). Kata Kunci: longsor, SIG, Agam, Padang Pariaman, skorABSTRACTWest Sumatra is amongst tectonically and volcanically active area, located at the interface of Indo-Australia and Eurasia plates. The movement of plates triggers many natural disasters, one of them is landslides. The regency of Agam and Padang Pariaman are amongst the area susceptible to landslides in Sumatra, causing the loss of lives, the loss of material and facility damages. The method used includes spatial analysis, attribute analysis and descriptive analysis using Geographic Information System (GIS) with the data from Puslittanak in which the scores and weights for each parameter were classified into 5 classes indicating the lowest until the highest values. The highest scores and weights indicated the greater impact of landslide, and vice versa. The results showed that the regency of Agam and Padang Pariaman had: (1) varying hazard classes, starting from the lowest until the highest class, with greater percentage on the intermediate class, that is ±114,387.58 ha or 31.85% from the total area (±359,036.35 ha); Keywords: landslide, GIS, Agam,Padang Pariaman, score
PEMBUATAN PETA FOTO SKALA 1:5.000 DENGAN FOTO UDARA FORMAT KECIL UNTUK KAWASAN HUTAN Anto, G.H.; Setiawan, lwan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (901.39 KB)

Abstract

Kebutuhan yang selalu meningkat terhadap peta skala besar untuk sistem monitoring sumberdaya alam yang berkesinambungan dan adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan di lndonesia, diperlukan suatu metoda tepat guna yang retatif murah untuk menunjang kepentingan pemetaan terutama di daerah yang memiliki tingkat aktivitas tinggi dengan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga program monitoring sumberdaya alam dan lingkungan tidak terabaikan.ABSTRACTDue to necessity in large scale maps and economic crisis in Indonesia, there has to be a method that is relatively cheap, accurate and can be held responsible to support mapping activities especially in rapidly developing areas for continuous monitoring natural resources.Kata Kunci . Peta Foto, small Format Aerialphoto. otonomi Daerah. EfisiensiKeyword: Photomap, Small Format Aerialphoto, Regional Autonomy. Efficiency
STUDY ON THE ROLE OF URBAN FOREST TOWARD TEMPERATURE REDUCTION IN RESIDENTIAL AREA Wijanarto, Antonius B; Marlina, Etty; Jaya, I Nengah Surati
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.428 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.124

Abstract

Nowadays, the quality of urban environment is a challenging problem. Urban development indicated by the increase of population as well as development in all aspects, either positive or negative. But it can degrade the environment quality. This can be indicated by for example, air pollution, which can reduce the oxygen supply and overwhelms the production of carbon dioxide as well as the increase in temperature. From the foregoing problems, the “back to nature” concept is needed to solve environment problem in urban area, by introducing the urban forest. However, constraints in available space exists, therefore, alternative solution can be employed by increasing the effectiveness of existing urban forest. This research aims at analyzing the effectiveness of urban forest in reducing the air temperature based on two parameters: forest structures and forest forms. Keywords: Urban Forest, Temperature Reduction, Forest Structure, Forest Forms, GIS Analysis. ABSTRAKKualitas lingkungan perkotaan, akhir-akhir ini, merupakan masalah yang menantang. Perkembangan perkotaan selalu mengindikasikan dengan pencemaran udara dan perkembangan di segala bidang, yang berdampak positif maupun negatif. Namun demikian, perkembangan ini dapat menurunkan kualitas lingkungan. Hal ini dapat diindikasikan misalnya polusi udara, yang dapat menurunkan jumlah oksigen dan meningkatkan jumlah karbon dioksida yang juga terindikasikan dengan naiknya suhu udara perkotaan. Dari berbagai masalah lingkungan tersebut, konsep kembali ke alam dibutuhkan untuk mengatasi masalah lingkungan perkotaan, dengan mengenalkan konsep hutan kota. Namun, banyak pembatasan-pembatasan termasuk lahan yang tersedia, sehingga solusi yang dapat meningkatkan efektivitas hutan kota dibutuhkan. Penelitian ini menganalisa efektivitas hutan kota dalam menurunkan suhu udara perkotaan berdasarkan dua parameter: struktur hutan dan bentuk hutan.Kata Kunci: Hutan Kota, Penurunan Suhu Udara, Struktur Hutan, Bentuk Hutan, Analisa SIG.
APLIKASI CITRA LANDSAT 8 OLI UNTUK IDENTIFIKASI STATUS TROFIK WADUK GAJAH MUNGKUR WONOGIRI, JAWA TENGAH Laksitaningrum, Kusuma Wardani; Widyatmanti, Wirastuti
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1424.37 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.633

Abstract

ABSTRAKWaduk Gajah Mungkur (WGM) adalah bendungan buatan yang memiliki luas genangan maksimum 8800 ha, terletak di Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Kondisi perairan WGM dipengaruhi oleh faktor klimatologis, fisik, dan aktivitas manusia yang dapat menyumbang nutrisi sehingga mempengaruhi status trofiknya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kemampuan citra Landsat 8 OLI untuk memperoleh parameter-parameter yang digunakan untuk menilai status trofik, menentukan dan memetakan status trofik yang diperoleh dari citra Landsat 8 OLI, dan mengevaluasi hasil pemetaan dan manfaat citra penginderaan jauh untuk identifikasi status trofik WGM. Identifikasi status trofik dilakukan berdasarkan metode Trophic State Index (TSI) Carlson (1997) menggunakan tiga parameter yaitu kejernihan air, total fosfor, dan klorofil-a. Model yang diperoleh berdasar pada rumus empiris dari hasil uji regresi antara pengukuran di lapangan dan nilai piksel di citra Landsat 8 OLI. Model dipilih berdasarkan nilai koefisien determinasi (R2) tertinggi. Hasil penelitian merepresentasikan bahwa nilai R2 kejernihan air sebesar 0,813, total fosfor sebesar 0,268, dan klorofil-a sebesar 0,584. Apabila nilai R2 mendekati 1, maka semakin baik model regresi dapat menjelaskan suatu parameter status trofik. Berdasarkan hasil kalkulasi diperoleh distribusi yang terdiri dari kelas eutrofik ringan, eutrofik sedang, dan eutrofik berat yaitu pada rentang nilai indeks 50,051 – 80,180. Distribusi terbesar adalah eutrofik sedang. Hal tersebut menunjukkan tingkat kesuburan perairan yang tinggi dan dapat membahayakan makhluk hidup lain.Kata kunci: Waduk Gajah Mungkur, citra Landsat 8 OLI, regresi, TSI, status trofikABSTRACTGajah Mungkur Reservoir is an artificial dam that has a maximum inundated areas of 8800 ha, located in Pokoh Kidul Village, Wonogiri Regency. The reservoir’s water conditions are affected by climatological and physical factors, as well as human activities that can contribute to nutrients that affect its trophic state. This study aimed to assess the Landsat 8 OLI capabilities to obtain parameters that are used to determine its trophic state, identifying and mapping the trophic state based on parameters derived from Landsat 8 OLI, and evaluating the results of the mapping and the benefits of remote sensing imagery for identification of its trophic state. Identification of trophic state is based on Trophic State Index (TSI) Carlson (1997), which uses three parameters there are water clarity, total phosphorus, and chlorophyll-a. The model is based on an empirical formula of regression between measurements in the field and the pixel values in Landsat 8 OLI. Model is selected on the highest value towards coefficient of determination (R2). The results represented that R2 of water clarity is 0.813, total phosphorus is 0.268, and chlorophyll-a is 0.584. If R2 close to 1, regression model will describe the parameters of the trophic state better. Based on the calculation the distribution consists of mild eutrophic, moderate eutrophic, and heavy eutrophic that has index values from 50.051 to 80.18. The most distribution is moderate eutrophication, and it showed the high level of trophic state and may harm other living beings.Keywords: Gajah Mungkur Reservoir, Landsat 8 OLI satellite imagery, regression, TSI, trophic state
PEMODELAN PENETAPAN LAHAN SAWAH BERKELANJUTAN BERBASIS REGRESI LOGISTIK DAN EVALUASI LAHAN MULTIKRITERIA DI KABUPATEN SUKABUMI Santosa, Sigit; Rustiadi, Ernan; Mulyanto, Budi; Murtilaksono, K; Widiatmaka, Widiatmaka; Rachman, Noer F
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.783 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-2.65

Abstract

ABSTRAKAlih fungsi sawah terus terjadi di Pulau Jawa sehingga mengancam ketahanan pangan nasional. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) belum mampu mengendalikan alih fungsi sawah. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model penetapan lahan sawah berkelanjutan menggunakan metode regresi logistik dan evaluasi lahan multikriteria. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi yang merupakan wilayah perbukitan di bagian selatan Pulau Jawa dengan luas lahan sawah yang cukup besar dan mendukung ketersediaan pangan nasional. Pemodelan dibangun berdasarkan karakteristik alih fungsi lokal dengan mempertimbangkan konsep pembangunan berkelanjutan. Variabel-variabel penting yang mendukung terjadinya alih fungsi sawah yang dipertimbangkan adalah jarak sawah terhadap jalan, permukiman, dan industri. Hasil regresi logistik selanjutnya menjadi masukan bobot bagi evaluasi lahan multikriteria yang dapat menghasilkan tiga skenario kebijakan perlindungan sawah, yaitu standar, protektif, dan permisif guna kepentingan pembangunan. Melalui pemodelan ini diperoleh sawah-sawah prioritas lindung yang memudahkan pengelolaannya dan sekaligus menjadi penyangga bagi sawah-sawah di belakangnya.Kata Kunci: model perlindungan lahan sawah berkelanjutan, regresi logistik, evaluasi lahan multikriteriaABSTRACTConversion of paddy fields has continuously occurred in Java Islands, thus threatens a national food security. The Regional Spatial Planning and the Policy on Sustainable Food-crop Agricultural programs seem to unable to control paddy field conversion. This research was conducted to develop a sustainable paddy field zone delineation model using logistic regression and multicriteria land evaluation. The research location is in the Sukabumi Regency which is has various morphology and large paddy fields to support national food security. The model is developed by local conversion characteristics and considering the concept of sustainable development. Important variables that contribute to paddy fields conversion are the distance to road, settlements and industrial regions. Results of logistic regression then become the input for weighted criteria to develop three policy scenarios of paddy fields protection; standard, protective, and permissive in order to support regional development. Through this model, we obtain the priority paddy fields to be protected as well as become buffer zones for the surrounding paddy fields.Keywords: paddy fields protection model, logistic regression, multicriteria land evaluation
PEMETAAN ZONA INTRUSI DI JAKARTA Riadi, Bambang
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1257.02 KB)

Abstract

Pertumbuhan penduduk mempunyai berbagai efek, tumbuhnya pemukiman dan urbanisasi. Di wilayah pesisir menurunnya kualitas airtanah akibat intrusi dan pola penggunaan lahan. Jakarta sebagai Ibukota negara berada diwilayah pesisir, wilayah ini mengalami problem intrusi dan juga amblasnya permukaan tanah. Teknik Penginderaan Jauh dan analisa kandungan chloride air tanah yang diambil dari sumur-sumur diseputar Jakarta dikombinasikan dengan peta dapat menunjukan indikasi daerah Jakarta yang teintrusi oleh air laut.ABSTRACTThe increase of population has many effects, such as rapid growth of settlements and urbanizations. ln the coastal region, degradation of water quantity due to saltwater intrusion effects the land use pattern. Jakarta region the capital city of The Republic of Indonesia is also in coastal region, that city has saltwater intrusion problems at soon as land subsidence. Remote sensing Technique and resulted examination chloride content of water sample, compile into map to show indicate salt intrusion area. Kata Kunci : Pemetaan Intrusi Air LautKeywords: Mapping, Salt Intrusion
PEMANFAATAN DATA INDERAJA UNTUK PENDUGAAN DEGRADASI SUMBERDAYA TERUMBU KARANG DI KABUPATEN POHUWATO, PROVINSI GORONTALO Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.815 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.129

Abstract

Salah satu wilayah yang mempunyai jumlah pulau-pulau kecil dengan potensi yang cukup kaya adalah Perairan Teluk Tomini. Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo merupakan salahsatu wilayah yang termasuk dalam wilayah Perairan Teluk Tomini. Monitoring sumberdaya terumbu karang dilakukan dengan cara pemetaan neraca, yang pada dasarnya adalah memetakan kondisi awal dan akhir sehingga diketahui tingkat degradasi atau perubahannya. Pemetaan neraca ini dilakukan dengan analisa berdasarkan hasil interpretasi citra satelit menggunakan data 2 waktu (time series) yaitu Citra Landsat tahun 2000 dan Citra ALOS AVNIR 1-B tahun 2007 dengan cek lapangan tahun 2008. Berdasarkan degradasi sumberdaya terumbu karang maka prediksi nilai ekonominya dapat diproyeksikan. Nilai ekonomi yang digunakan adalah Total Economic Value (TEV). Berdasarkan analisa neraca maka dapat dilihat perubahan yang terjadi selama 8 tahun yaitu karang seluas 1.615,91 ha tidak mengalami perubahan, 396,65 ha berubah menjadi lamun, dan 185,23 ha berubah menjadi pasir. Sedangkan nilai ekonomi total dari ekosistem terumbu karang di wilayah Kabupaten Pohuwato sebesar Rp 164.217.923,33/ha/tahun.Kata kunci: Terumbu Karang, Neraca Sumberdaya Alam, Degradasi, Nilai Ekonomi ABSTRACTOne of regions that has a number of small islands with a rich enough potential is Tomini Bay. Pohuwato Regency, Gorontalo Province is one of the areas included in the Tomini Bay. Coral reef resources monitoring was held by mapping the balance sheet, which is basically to map the beginning and end of the condition to know the degradation rates or changes of the coral reef. Mapping the balance sheet based on analysis of satellite imagery interpretation results using two time data (time series), e.i. the year 2000 Landsat image and the image of ALOS AVNIR 1-B in the year 2007 with a field check in 2008. Based on the degradation of coral reef resources, the prediction of the economic value can be projected. Economic value used in this research is the Total Economic Value (TEV). Based on the analysis, the changes that occur during the 8 years are, an area of 1615.91 ha coral reef has not changed, changed to 396.65 ha seagrass, and 185.23 ha turned into sand. While the total economic value of coral reef ecosystems in the region Pohuwato District 164,217,923.33 Rp/ha/year.Keywords: Coral Reef, Natural Resources Accounting, Degradation, Economic Value
PEMODELAN DAMPAK KEBIJAKAN REDD : STUDI KASUS HUTAN DI PULAU SUMATERA Nahib, Irmadi; Suwarno, Yatin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1181.126 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.696

Abstract

Emisi karbon yang terjadi akibat deforestasi dan degradasi hutan menyumbang hampir 20%  emisi global, lebih besar daripada sektor transportasi global dan yang kedua setelah industri energi. Indonesia adalah negara yang sangat penting dalam hal deforestasi dan degradasi hutan. Enam puluh persen dari luas daratan Indonesia adalah hutan, dan memiliki kawasan hutan hujan tropis terbesar ke-3 di dunia. Hutan Indonesia pada periode 2000-2009 telah mengalami deforestasi sekitar 15,15 juta ha. Distribusi spasial deforestasi terjadi di Pulau Kalimatan mencapai 5505863,93 (36,32%), Pulau Sumatera 3711797,45 (24,48%) dan Kepulauan Maluku 1,258,091,72 (8,30%). Di pulau Sumatera, Provinsi ……… Riau merupakan wilayah dengan deforestasi terbesar, mencapai 2002908,83 ha. Deforestasi akan berdampak terjadinya emisi karbon.  Salah satu metode untuk mengukur emisi dari deforestasi dan degradasi hutan adalah model Geosiris.  Model ini mengasumsikan pemanfaatan hutan menghadapi trade-off  antara pendapatan pertanian yang diperoleh dari konversi  hutan, dan pendapatan karbon yang diperoleh dengan melindungi hutan. Data yang digunakan dalam studi :  peta tutupan hutan pada tahun 2005 dan 2010, peta deforestasi 2005-2010, dan data penyebab deforestasi : ( kemiringan, elevasi, jarak logaritmik ke jalan terdekat, jarak dari  ibukota provinsi,  peta taman nasional, peta areal perkebunan), harga karbon dan harga pertanian. Sumber data adalah : https://clarklabsorg/products/.  Analisis emisi karbon dilakukan dengan oleh menggunakan modul Geosiris pada software TerrSet.   Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur deforestasi dan emisi dari periode 2005-2010 di pulau Sumatera dengan menggunakan model Geosiris.    Hasil analisis dengan asumsi harga karbon sebesar US $ 10 / tCO2e, menunjukkan deforestasi yang terjadi di Pulau Sumatera  dampak kebijakan REDD adalah 170,447 ha (16,70%), perubahan emisi karena REDD 17,59-22 -29% (di bawah tanpa skenario referensi REDD +), atau mengurangi emisi sebesar 245 - 265 MtCO2e / 5 tahun, akhirnya, surplus bersih pemerintah pusat dari pembayaran karbon sebesar US $ 300276736 (NPV, 5 tahun). Kata Kunci: Deforestasi, Emisi Karbon, Pendapatan Pertanian, Insentif Karbon ,  Model GeosirisABSTRACTCarbon emissions related to deforestation and forest degradation represent almost 20% of global emissions, greater than the global transportation sector and second only to the energy industry.  For several reasons, Indonesia is a very important country in regarding to deforestation and forest degradatio. Sixty percent of Indonesias land area is forested, and it has the 3rd largest area of tropical rainforest in the world.  Indonesia’s  Forest in the period 2000-2009 has been deforested about 1515 million ha. The spasial distribution of deforestation occurred on the Kalimatan island  reach 5,505,86393 (36.32%), Sumatra Island 3,711,79745 (24.48 %) and Maluku Islands 1,258,09172 (8.30%.  In the Sumtra island, it self Riua Province has the greatest deforestation, they are reaching 2,002,90883 ha. Deforestation will cause carbon emissions. One of method for  measuring emissions from deforestation and forest degradation is Geosiris model. This model assumes forest users face a trade-off between the agricultural revenue obtained from deforesting land, and the carbon revenue obtained by protecting them. A modeled GeOSIRIS policy uses a carbon payment system to incentivize emission reductions.  Data used in study : maps of forest cover in 2005 and 2010, map of deforestation,  driver variables (slope,  elevation, logarithmic distance to the nearest road or provincial capital, or the amount of area per pixel included in a national park, or a timber plantation),  carbon price and agricultural.  Data sources in  https://clarklabsorg/products/. Calculating emisi carbon was  done by the GeOSIRIS module in TerrSet. The aim of study is to measuring deforestation and emissions from tropical deforestation period 2005-2010 in Sumatera island using Geosiris model. The results show, according to Geosiris, that at an international carbon price of US $10/tCO2e,  Sumatera  Island would have  :  change in deforestation due to REDD is  170,447  ha   (1670 %), change in emissions  due to REDD is  1759  – 2229  % (below the without  REDD+ reference scenario), or reduced emissions by  245 - 265  MtCO2e/ 5 years, finally, net central government surplus from carbon payments US $  300,276,736  (NPV, 5 years)Keywords: Deforestation, Carbon Emission, Agricultural Revenue, Carbon payments , Geosiris Model,
ANALISIS DEGRADASI UNTUK PENYUSUNAN ARAHAN STRATEGI PENGENDALIANNYA DI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN–SALAK PROVINSI JAWA BARAT Carolyn, Rully Dhora; Baskoro, Dwi Putro Tejo; Prasetyo, Lilik Budi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.771 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.70

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji status degradasi hutan pada Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS). Petakerapatan tajuk dihasilkan dari citra Landsat tahun 2003, 2006 dan 2011, yang selanjutnya digunakan untukmendeteksi kelas kerapatan hutan dan tingkat degradasi hutan. Degradasi hutan terjadi akibat interaksi berbagaifaktor, oleh karena itu analisis terhadap faktor-faktor yang diduga memberikan pengaruh terhadap degradasi hutanpenting untuk dikaji, antara lain faktor fisik dan sosial. Teknik Stepwise Generalized Linear/Nonlinear Regression yangdigunakan untuk melihat faktor-faktor ini menunjukkan bahwa jarak Desa dengan Kecamatan, laju perubahan luaslahan non pertanian, laju pertumbuhan penduduk dan persentase perubahan jumlah keluarga pertanian merupakanfaktor-faktor yang berpengaruh terhadap luas degradasi. Memperhatikan hal tersebut maka disusunlah alternatifstrategi pengendalian degradasi hutan dengan menggunakan teknik Analytic Hierarchy Process. Berdasarkanpembobotan, disimpulkan bahwa strategi yang paling penting sebagai langkah awal pengendalian degradasi hutanadalah strategi penyelarasan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor dengan Surat Penunjukkan TNGHS.Kata Kunci : Degradasi Hutan, Faktor-Faktor yang Berpengaruh, Regulasi.ABSTRACTThe study investigated the status of forest degradation in Gunung Halimun-Salak National Park. Forest canopydensity maps derived from 2003, 2006, and 2011 Landsat satellite imagery, were used to detect the forest canopydensity and forest degradation level. Forest degradation caused by interaction of many factors, therefore it is importantto examine the driving factors of forest degradation, such as social and physical factors. Stepwise generalizedlinear/nonlinear regression models were applied. The results showed that the distance to the nearest town, the growthof builtup area (non agriculture area), population growth, and amount of agriculture family unit are significantlyinfluencing forest degradation. Considering the driving factors, the alternative strategy have been arranged and scoredby Analytic Hierarchy Process. It was concluded that synchronization between Bogor Regency regional planning andofficially status authorized of the Park was the most important strategy to become starting point to manage forestdegradation in Gunung Halimun-Salak National Park.Keyword : Forest Degradation, Driving Factors, Regulation.