cover
Contact Name
Yaqzhan
Contact Email
yaqzhanjurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yaqzhanjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan
ISSN : 24077208     EISSN : 25285890     DOI : -
Jurnal Yaqzhan adalah jurnal ilmiah yang fokus dalam publikasi hasil penelitian dalam kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun pada bulan januari dan juli. Jurnal Yaqzhan terbuka umum bagi peneliti, praktisi, dan pemerhati kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini dikelola oleh Jurusan Akidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Jurnal ini pertama kali terbit pada tahun 2015.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2020)" : 10 Documents clear
Perilaku Altruistik dan Eklektik dalam Praksis Pendidikan Kiai Ahmad Dahlan Andi Andi; Sugeng Riadi; Nur Fajar Absor
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.6196

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dua hal, yaitu: pertama representasi perilaku altruistik dan eklektik dalam filsafat pendidikan Kiai Ahmad Dahlan dan apa yang melatari Kiai Ahmad Dahlan melakukan kedua perilaku tersebut. Maka dari itu, penelitian ini perlu dilakukan sebagai upaya untuk menggali filsafat pendidikan yang digagas oleh Kiai Ahmad Dahlan agar watak dasar dari filsafat pendidikan yang dikembangkannya dapat dilestarikan sesuai dengan semangat zaman. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan ancangan analisis isi. Penelitian ini memanfaatkan teknik baca dan teknik catat dalam pengumpulan data, sedangkan analisis yang digunakan adalah model hermeneutika. Sumber data penelitian adalah buku “Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan Kiai Ahmad Dahlan” karya Abdul Munir Mulkhan, hal ini dikarenakan Kiai Ahmad Dahlan sendiri jarang meninggalkan karya tulis. Buku tersebut diterbitkan dalam tahun 2010 oleh Penerbit Kompas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku altruis dan eklektik banyak memberi kontribusi dalam filsafat pendidikan yang diselenggarakan oleh Kiai Ahmad Dahlan. Hasil lainnya menunjukkan bahwa dua perilaku tersebut dilatari oleh nilai-nilai etika welas asih dan pandangan liberal yang dimiliki Kiai Ahmad Dahlan. Kata Kunci: Altruis, Eklektik, Filsafat Pendidikan, Filsafat Pendidikan, Ahmad Dahlan.
RADIKALISME ISLAM SEBAGAI PROBLEM BAGI BANGSA INDONESIA DI MASA KONTEMPORER Bani Syarif Maula
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.6772

Abstract

Sudah sejak lama Islam Indonesia dikenal dunia sebagai Islam yang ramah dan damai serta toleran dan akomodatif. Namun demikian, runtuhnya rezim otoriter Soeharto menjadi masa transisi yang telah membuka pintu kebebasan seluas-luasnya sehingga ideologi yang berasal dari luar dapat masuk dengan leluasa. Masa transisi tersebut pada akhirnya menjadi tantangan bangsa Indonesia tersendiri. Tantangan tersebut bersumber dari tiga masalah besar, yaitu: pertama adalah adanya kelompok masyarakat yang ingin mengubah konsensus nasional, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika; kedua adalah klaim kebenaran Islam sepihak yang marak di tengah-tengah muslim perkotaan karena pengaruh faham salafi/wahabi; dan ketiga adalah kelompok Islam mayoritas yang cenderung diam (silent majority) atas tantangan tersebut. Dua isu pertama dipengaruhi oleh ideologi Islam transnasional dengan pandangan radikal yang memaksakan keyakinannya kepada semua muslim di Indonesia. Sedangkan isu terakhir berasal dari umat Islam mayoritas yang cenderung menikmati alam demokrasi selepas pemerintahan Soeharto. Karena itulah ideologi Islam radikal dapat berkembang di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut perlu upaya untuk melawan radikalisme Islam tersebut, yaitu dengan bersuara menyampaikan gagasan Islam yang toleran dan inklusif, melakukan reinterpretasi ajaran Islam dengan tajdid dan ijtihad, juga melalui dunia pendidikan yang menekankan aspek-aspek kesadaran multikultural dan kesadaran umat Islam sebagai bagian dari world citizenship.Kata kunci: radikalisme1, fundamentalisme2, ideologi Islamisme3, Indonesia4
KRITIK TERHADAP ADAPTASI BUDAYA SEBAGAI JALAN MASUKNYA ISLAM DI TANAH JAWA Humar Sidik
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.6075

Abstract

ABSTRAK: Masuknya Islam ke Tanah Jawa melalui jalur budaya secara tidak langsung menanamkan doktrin bahwa Islam merupakan agama yang damai dan toleran akan budaya serta kepercayaan lain. Namun dibalik itu semua di beberapa wilayah terdapat ajaran Islam yang mengalami perpaduan budaya sehingga melunturkan nilai dan makna yang terkandung dalam ajaran Islam hingga berujung pada bid’ah dan khurafat. Maka dari itu penelitian ini ditulis dengan tujuan untuk mengkritik jalan masuknya Islam melalui adaptasi budaya di Tanah Jawa. Penulisan ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif analisis dengan pendekatan historis serta instrumen utama berupa studi literatur. Hasil penelitian dalam penulisan ini terdiri dari, pertama, transformasi budaya menjadi jalan masuk utama karena pembawa Islam pertama di Nusantara adalah kaum sufi, yang memiliki toleransi kuat dalam berbudaya. Kedua, wujud dari adaptasi Islam terhadap budaya dan kepercayaan lokal, baik dalam akulturasi, asimilasi ataupun sinkretisme. Ketiga, kritik terhadap jalan masuknya Islam di Jawa serta timbulnya gerakan Islam modern yang bertujuan untuk mengembalikan Islam sesuai ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kata Kunci: Budaya1, Islam2, Tanah Jawa3.
AJARAN MARTABAT TUJUH DALAM SERAT WIRID HIDAYAT JATI (Perspektif Teori Emanasi) Bisri Bisri
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.6404

Abstract

Kajian tasawuf selalu menarik untuk didiskusikan, bahkan  di era pasca modern dimana kita merasakan tiba-tiba begitu ramai orang mencari dan menempuh jalan-jalan spiritual. Seolah mencari kesegaran kembali, makna dan  nilai kemanusiaan dari dahaga akibat amukan modernisme yang cenderung positivistik, dan gaya hidup yang pragmatis.  Islam sendiri datang ke Nusantara sudah dalam corak tasawuf, baik yang dibawa oleh para Walisongo maupun guru-guru sufi lain di Nusantara termasuk di Aceh. Di Jawa, ajaran ini terus berkembang bahkan dalam banyak kitab atau tulisan sastra Jawa, baik dalam kitab serat Wedatama, Serat Dewaruci maupun dalam Serat Wirid Hidayat jati. Ajaran Martabat tujuh dalam Wirid Hidayat jati, merupakan pengembangan dari Ibnu Arabi dan Muhammad Ibnu Fadlullah dalam kitab Al-Tuhfatu Mursalah ila Ruhin Nabi serta ajaran Tasawuf Aceh. Walaupun coraknya panteisme-monisme, teori tingkatan tujuh martabat dalam penciptaan masih serupa dengan teori emanasi. Untuk itu menarik ketika menggunakan perspektif emanasi untuk melihat ajaran ini. Metodelogi dalam penelitian ini menggunakan library research (pustaka). Dalam penelitian ada tiga hal yang dijadikan perspektif dalam analisis tentang ajaran ini, yaitu; Sumber dan ajaran (antara emanasi dan martabat tujuh) yang terpaut zaman yang cukup jauh, metodologi yang berbeda dimana emanasi lebih diskursif filosofis sementara ajaran martabat tujuh bercorak intuitif mistis, serta beberapa perbedaan dan titik temu dari keduanya.
NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM TRADISI MASYARAKAT DAYAK HINDU BUDHA BUMI SEGANDU UNTUK MEWUJUDKAN GOOD AND SMART CITIZEN Risladiba Risladiba
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.6161

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi yang menjadi ciri khas dari masyarakat Dayak Hindu Budha Bumi Segandu. Masyarakat Dayak Hindu Budha Bumi Segandu adalah suatu komunitas Dayak yang berada di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, sehingga disebut juga Dayak Losarang. Masyarakat Dayak Losarang tersebut memiliki tradisi yang menjadi ciri khas dari komunitasnya. Di dalam tradisi mereka, terkandung nilai-nilai yang diamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi masyarakat Dayak Losarang antara lain:  Ajaran Sejarah Alam Ngaji Rasa, yakni merupakan ajaran etika yang menjadi sumber segala kebaikan, Memuliakan Wanita (Istri) dan Anak, Kesabaran, Bener, Jujur, Nerima, Lakonana Barang Kang Lima (melaksanakan Perkara yang lima), Toleransi, Menjaga Keharmonisan dengan Sesama Makhluk.
Kerokhanian Sapta Darma dan Permasalahan Hak-hak Sipil Penghayat di Indonesia Hanung Sito Rohmawati
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.6156

Abstract

Kerokhanian Sapta Darma merupakan salah satu aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan Penetapan Presiden RI Nomor 1/PNPS Tahun 1965 Aliran kepercayaan berbeda dengan agama. Adanya pembedaan ini berimplikasi pada perbedaan kebijakan Negara untuk penganut agama dan penghayat kepercayaan sehingga menimbulkan permasalahan hak-hak sipil penghayat kepercayaan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, penulis menggunakan metode wawancara dan observasi untuk pengumpulan data penelitian. Fokus penelitian ini yaitu penghayat Kerokhanian Sapta Darma di Sanggar Candi Sapta Rengga. Dari penelitian ini penulis menemukan bahwa terdapat beberapa permasalahan hak-hak sipil penghayat Kerokhanian Sapta Darma, terutama sebelum adanya UU No. 23/2006. Permasalah hak-hak sipil antara lain hak atas pencantuman identitas di kolom agama dalam KTP; hak atas pencatatan dan registrasi perkawinan antar penghayat di Kantor Catatan Sipil; hak atas pendidikan, dalam hal ini hak anak-anak penghayat untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan kepercayaannya; hak atas sumpah jabatan sesuai dengan kepercayaannya bagi PNS; hak atas lahan pemakaman dan penguburan sesuai dengan kepercayannya; hak untuk berkumpul dan membangun rumah ibadah.
TEORI KRITIS: PERKEMBANGAN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PROBLEMATIKA DI ERA DISRUPSI Irvan Tasnur; Ajat Sudrajat
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.5894

Abstract

Perkembangan teknologi yang sangat masif di era disrupsi bukan hanya menimbulkan berbagai dampak positif bagi kehidupan, namun juga membuka jalan bagi berbagai permasalahan-permasalahan baru dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini bertujuan guna meninjau latar belakang lahir dan berkembangnya teori kritis, serta relevansinya apabila diterapkan pada masyarakat industri 4.0. Penelitian ini menggunakan metode hermeneutik dalam menjelaskan realitas yang terjadi. Hasil analisis didapatkan bahwa lahirnya teori kritis disebabkan oleh adanya dominasi ilmu pengetahuan, manusia, serta budaya yang diakibatkan oleh berkembangnya positivisme, liberalisme dan kapitalisme pada masyarakat sehingga melahirkan cara pandang yang hanya dilandaskan pada pemikiran pragmatis dan kacamata sains, bahkan untuk mengamati suatu fenomena sosial yang tidak dapat dijelaskan dengan metode tersebut, hal ini juga sering disebut sebagai perspektif one dimensional man. Teori kritis sebagai counter discourse terhadap dominasi dan cara pandang one dimensional man bertujuan untuk menciptakan masyarakat kritis dan emansipatoris yang bukan hanya terpaku pada usaha memenuhi kebutuhan jasmani atau materil akan tetetapi juga rohani. Teori ini berkembang dalam tiga fase utama di mana pada tiap masing-masing fase tersebut, terdapat sejumlah tokoh yang berusaha menjelaskan teori kritis dari berbagai paradigma yang berbeda, serta berusaha saling mengkritisi guna mendapatkan formulasi teori kritis yang tepat. Namun, walaupun terdapat berbagai perbedaan, inti keseluruhan dari pemikiran tersebut bermuara pada kesimpulan di mana teori kritis diarahkan untuk pembentukan masyarakat kritis guna menangkal adanya perspektif one dimensional man yang jauh dari sifat emansipatoris. Hasil analisis juga didapatkan bahwa teori kritis masih sangat relevan diterapkan pada masyarakat dominasi industri 4.0, di mana teknologi dan kapitalisasi mengarah kepada dehumanisasi yang sangat ditentang oleh pemikiran ini, namun hal yang harus diperhatikan dalam menerapakannya agar dapat menciptakan masyarakat kritis dan emansipatoris yaitu penggunaan metode yang matang dalam proses aplikasinya, agar teori tersebut tidak mengarahkan pada suatu kerangka berpikir tertentu, sehingga membawa pada lahirnya dominasi baru.
Hakikat Pluralisme di Indonesia Perspektif Nurcholis Madjid Fahrul Rozi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.6157

Abstract

AbstrakDewasa ini, kita seringkali menyaksikan realitas, dimana agama hadir bukan lagi sebagai alat pemersatu umat, namun agama justru menimbulkan skisma . Dampaknya terdapat keistimewaan terhadap kaum mayoritas dan diskriminasi terhadap kaum minoritas. Hal ini disebabkan karena mindset common sense (masyarakat umum) bersifat eksklusif dan bukan inklusif. Okeh karena itu, Nurcholis Madjid lahir sebagai pemikir dan sekaligus cendekiawan muslim yang membuka pikiran umat agar dapat menerima perbedaan. Apa yang disebut sebagai “teologi inklusif” lahir sebagai solusi atas masalah pluralisme di Indonesia. Ia menyatakan jika semua agama adalah Islam secara hakikat, karena semua agama berintikan ajaran “pasrah kepada Tuhan.” Nurcholis Madjid mengajak kita untuk membuka mata kita dan melihat perbedaan sebagai suatu anugerah Tuhan. Sehingga dengan perbedaan itu, justru kita harus bersatu dalam prespektif Bhinneka Tunggal Ika.Kata kunci : skisma, eksklusif, inklusif, Nurcholis Madjid, pluralisme, Bhinneka Tunggal IkaAbstractAt last, we frequency see any reality, where the religion present not as tool who integrat society, but religion exactly make a result of schism. The impact of it are the society majority have a privilege and discrimination for minority society. This phenomenon resulted by mindset of common sense who exclusive abd not inclusive. So that, Nurchlolis Madjid born as thinker and also as a Moslem scientist who open the think of society suppose can accept differences. What who mentioned as “inclusive theology” born as solve upon the pluralism problem. He said that all of religion are same according to the reality, because all of religion are had basic though to “ surrender to God.” Nurchlolis Madjid let us to open our eyes snd see the differences as a gift from God. So that, with that differences, exactly we must integrate in the Bhinneka Tunggal Ika perspectiveKeywords : schism, exclusive, inclusive, Nurchlolis Madjid, pluralism, Bhinneka Tunggal Ika
PERAN SENTRAL BUNDA MARIA DALAM PROSESI ARAK-ARAKAN PATUNG TUAN MA DI LARANTUKA (SUATU UNGKAPAN KEARIFAN LOKAL DALAM TRADISI RELIGIUS) R.F Bhanu Viktorahadi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.6774

Abstract

Saint Mary’s figure is so exclusive to the people of Larantuka City which appear in the Semana Santa ritual. In Lera Wulan Tanah Ekan’s Lamaholot ethnic pre-Catholic religious system which views female figures as representations of the universe, it brings forth an allegation that there is a correlation with the cultural dominance of the Virgin Mary figure. This paper analyzes Semana Santa’s, especially Tuan Ma procession phenomenon as the main indicator of Larantuka society’s exclusive appreciation and perception background toward the Virgin Mary and try to seek, Larantuka people as Lamaholot ethnic have a local wisdom called Lewotana covering all the values they embrace and implement, including the value in their religious system. The phenomenon of the cultural system religion of Larantuka society alteration from Lera Wulan Tanah Ekan and Lewotana into Catholic culture only occurs at the level of social behavior and artifacts, the idea of the value of the sacred women figure who is considered as a representation of the universe still exist in the cognitive nature of Larantuka society with the figure of the Virgin Mary as a substitution process media of feminist value along with symbol as ‘place’ meaning to the admiration and respect to woman figure, especially mother.Keyword: Tuan Ma, Semana Santa, Akulturasi, Kearifan Lokal, Feminisme.
FENOMENA SAINS DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF IAN G. BARBOUR DAN ISMAIL RAJI AL-FARUQI Nur Aeny Juliatiningsih
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v6i1.5541

Abstract

Perkembangan ilmu sains dan agama menimbulkan isu-isu pemberitaan  yang menarik untuk terus dikaji dan ditelaah. Isu-isu tentang pertentangan antara agama dan sains memberi semangat baru bagi beberapa ilmuwan dan agamawan, seperti Ian G. Barbour dan Ismail Raji Al-Faruqi. Perspektif mereka dalam mengkaji fenomena sains dalam  Al-Quran memberikan satu paradigma baru. Barbour dengan teori empat tipologi sains dan agama antara lain konflik, independensi, dialog dan integrasi sedangkan Ismail Raji Al-Faruqi dalam bukunya yang berjudul Islamization of Knowladge mengemukakan bahwa islamisasi harus ditujukan secara langsung terhadap bidang-bidang ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Diharapkan dengan membandingkan dua pemikiran tokoh tersebut dapat menemukan titik temu antara sains dan agama sehingga kami merumuskan masalah berupa fenomena sains dalam Al-Qur’an menurut perspektif Ian G. Barbour dan Ismail Raji Al-Faruqi. Metode yang digunakan yaitu metode telaah pustaka pada jurnal-jurnal penelitian yang berkaitan dengan perspektif Ian G. Barbour dan Ismail Raji Al-Faruqi tentang fenomena sains dalam Al-Qur’an.Kata Kunci : perspektif, relasi, agama dan sains

Page 1 of 1 | Total Record : 10