cover
Contact Name
Yaqzhan
Contact Email
yaqzhanjurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yaqzhanjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan
ISSN : 24077208     EISSN : 25285890     DOI : -
Jurnal Yaqzhan adalah jurnal ilmiah yang fokus dalam publikasi hasil penelitian dalam kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun pada bulan januari dan juli. Jurnal Yaqzhan terbuka umum bagi peneliti, praktisi, dan pemerhati kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini dikelola oleh Jurusan Akidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Jurnal ini pertama kali terbit pada tahun 2015.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2023)" : 10 Documents clear
TERMINOLOGI STUDI AKIDAH/TEOLOGI DAN RUANG LINGKUP STUDI AKIDAH AKHLAK Nurul Liza Nasution; Raisa Nur Salum; Sapri Sapri; Ira Suryani
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.16289

Abstract

Iman dalam tubuh manusia diibaratkan sebagai kepala. Oleh karena itu, jika iman seorang hamba rusak, maka hal terpenting yang harus diperbaiki adalah iman itu sendiri. Akidah yang mutlak bagi individu tidak dapat dibeli atau diganti dengan apapun. Akidah juga berkaitan erat dengan keimanan hamba Allah. Dimana seseorang wajib mempercayainya, sehingga layak disebut mukmin. Iman adalah ajaran agama tentang keyakinan atau kepercayaan kepada Tuhan. Semua agama samawi mengajarkan tentang keimanan sebagai dasar dan prinsip tauhid, sehingga sejak dini materi keimanan sudah diajarkan. Akidah yang diyakini sebagai seorang muslim harus melibatkan janji dan konsekuensi kepada Allah, yaitu dengan mengikuti segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang mengemukakan proses penafsiran atau penggambaran berdasarkan teori yang digunakan sebagai pedoman. Jenis penelitian ini didasarkan pada penelitian kepustakaan (library research) dengan mengacu pada referensi-referensi yang relevan dengan penelitian yang diangkat
ADAPTASI HOTS KE DALAM SISTEM PEMBELAJARAN UNIVERSITAS SIBER ASIA: PARADIGMA FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM IMAM FAIZIN RM Imam Abdillah
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.15306

Abstract

Strategi pembelajaran high-order thinking skills (HOTS) yang dikemukakan oleh Bloom mendapat sambutan hangat dalam konteks pendidikan di Indonesia, khususnya di perguruan tinggi. Keberadaan HOTS yang diadopsi dalam Kurikulum Merdeka (dengan penekanan inovasi pembelajaran, inovasi produk mahasiswa, dan kolaborasi antara dosen dan mahasiswa) tidak hanya difungsikan sebagai penyiapan dan pengembangan masyarakat 4.0 bahkan masyarakat 5.0 semata, tetapi hal yang lebih mendasar juga menyasar pada pendalaman dan pengembangan minat dan bakat mahasiswa. Pemerintah melalui Kurikulum Merdeka secara terbuka mengintegrasikan TPACK, Kompetensi 4 C, Karakter Profil Pelajar Pancasila, dan HOTS.
ISLAMISASI TINDAKAN: KAJIAN KRITIS TERHADAP KONSTRUKSI TRANSFORMATIF DALAM TEOLOGI PEMBEBASAN HASSAN HANAFI Adi Candra Wirinata
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.15482

Abstract

Artikel ini mengkaji pemikiran Hassan Hanafi, khususnya pola pemikirannya tentang teologi pembebasan. Artikel ini berusaha mengklarifikasi posisi Hassan Hanafi dalam dunia pemikiran teologi Islam. Hal yang banyak diperhatikan dalam artikel ini adalah bagaimana Hassan Hanafi membaca dan memposisikan teologi Islam dalam pemikirannya dan bagaimana ia menggunakannya sebagai legitimasi perlawanan dalam konsep teologi pembebasannya. Usaha Hassan Hanafi dalam membaca, memposisikan, dan menggunakan teologi Islam sebagai legitimasi perlawanan tersebut yang dalam artikel ini disebut sebagai proses islamisasi tindakan. Kajian dalam artikel ini menemukan bahwa Hassan Hanafi membaca teologi Islam menggunakan hermeneutika dengan pendekatan istinbat istiq’ra’i; yang tidak memisahkan antara Tuhan dan bumi. Melalui pembacaan ini Hassan Hanafi memposisikan teologi Islam sebagai teori tindakan manusia. Sebagai sebuah teori, maka teologi dalam pemikiran Hassan Hanafi digunakan untuk melegitimasi tindakan-tindakan perlawanan terhadap penindasan.
KONSEP SOLIDARITAS ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF EMILE DURKHEIM Zulfikar Falah
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.13137

Abstract

This study analyzes the concept of inter-religious solidarity from the perspective of Emile Durkheim. The dictum regarding exclusive and inclusive teachings is under the auspices of every existing religion. Tension will arise when people of different religions show existential exclusivity of religion. Thus, solidarity becomes a way to neutralize tension. Emile Durkheim's solidarity theory is the result of interpretive ideas in interpreting the problematic relations of individuals with society. The formulation of the problem in this study is how is the concept of inter-religious solidarity from the perspective of Emile Durkheim. This study uses the library research method, with relevant sources, such as books, journals, theses, dissertations, etc. Responding to the formulation of the problem, this research gives the result that in Emile Durkheim's perspective, social change can occur due to the meaning of mechanical solidarity which turns into organic solidarity. This then implies that the relationship between religious communities with mechanical solidarity, social groups only see the importance of meeting the needs of facilities without having functional dependence. Harmony is increasingly intertwined in relations between religious communities with organic solidarity, harmony is increasingly intertwined, but it tends to promote functional dependence, and diversity is unstoppable.
PHENOMENA OF JAPAN'S POPULAR CULTURE HEGEMONY IN INDONESIA: ITS RELEVANCE IN STRENGTHENING NATIONAL CULTURE KOENTJARANINGRAT PERSPECTIVE Revi Dicky Adistu; Sartini Sartini; Kusuma Putri
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.12124

Abstract

The development of Japanese popular culture is spreading worldwide, especially in Indonesia. Indonesia has a diversity of local wisdom values and national culture that is rich in culture with noble traditions and artistic values that are now starting to erode Japanese popular foreign culture. The research findings explain that there are people in a community, especially the Yogyakarta, Jakarta and Bandung areas, who are eroded by Japanese culture by demonstrating that fashion and language are products of Japanese popular culture, which has implications for the loss of inherent national identity as national identity. In this case, Koentjaraningrat's cultural philosophy from the perspective of the seven cultural elements answers how to prevent a developed nation from being eroded by westernization from Western (Japanese) influences without eliminating local wisdom and cultural values by strengthening national culture.Keyword: Popular culture1, national culture2, modernzation3
MEMBACA FENOMENA PERDAGANGAN MANUSIA (HUMAN TRAFFICKING) DI INDONESIA DALAM TERANG KONSEP RELASI AKU-ENGKAU MARTIN BUBER Yohanes D Naimnanu; Oktovianus Kosat; Dominikus Saku
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.14391

Abstract

The research aims to examine the concept of human relations in Martin Buber's thought and seeks to read this concept against the phenomenon of human trafficking in Indonesia. The formulation of the questions in this study are; what is the concept of the I-thou relationship from Martib Buber's point of view? and how is this concept used to read (analyze, view) the phenomenon of human trafficking crimes in Indonesia? This paper is analyzed using the literature review method through literary sources such as books, journals and relevant articles. The results of the study found that Martin Buber divides human relations into two types, namely the I-it relationship and the I-thou relationship. Through the pattern of the "I-it" relation, there is a relation that runs as subject-object. Where "I" always sees the other as a mere object. Meanwhile, the pattern of "I-thou" relationship requires interpersonal relationships that run dialogically and reciprocally. There is a dimension of equality there. I see other people not as objects but as subjects like the other me. Because of that there is a principle of mutual responsibility. The relevance of Martin Buber's concept to the phenomenon of human trafficking is as follows: first, in the I-you relationship it is reflected that I must treat others the way I want to be treated. Second, the couple must hold each other, not annihilate each other. Third, dialogue oriented towards mutual understanding, responsibility towards 'the other' without imposing personal will, fourth, an I-Thou relationship requires everyone to uphold the attitude of sociality with the aim of eliminating the attitude of ego and greed that often makes other people need satisfiers.                                
MEMBACA PANDANGAN SEYYED HOSSEIN NASR TENTANG SUMBER DAN DOKTRIN TASAWUF DALAM ISLAM Avisena Perdana Putra Muama
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.14973

Abstract

Seyyed Hossein Nasr adalah sosok intelektual besar Islam yang pemikirannya banyak dijadikan sebagai rujukan maupun perbandingan oleh kalangan pemikir-pemikir Islam maupun Barat. keahliannya dalam berbagai bidang serta kompleksitas pemikirannya menjadikan sosok ini banyak diteliti oleh berbagai kalangan dan akademisi. Namun disisi lain pemikiran Nasr tersebut tidak sedikit terpengaruh oleh tradisi tasawuf, ekspresi-ekspresi dan pandangan sufistik Nasr banyak dituangkan di sebagian besar karya-karyanya yang masih bisa kita jumpai dan akses sampai saat ini. berdasarkan hal itu artikel ini ditulis dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan Seyyed Hossein Nasr tentang tasawuf yang secara spesifik penulis tujukan terhadap sumber dan doktrin tasawuf dalam Islam menurut Nasr. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer diambil dari karya Seyyed Hossein Nasr antara lain; Islamic Spirituality (1987); The Garden of Truth Islam The Vision and Promise of Sufism Islam’s Mystical Tradition (2008), serta dari beberapa karya lainnya yang berhubungan dengan topik penelitian ini. Adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini didasarkan pada buku, artikel journal, majalah, situs web yang relevan dengan topik penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa; Pertama, sumber tasawuf dalam Islam didasarkan pada Al-Quran dan Sunnah Nabi, dua hal ini berperan sebagai sumber dari segala macam pengetahuan dan doktrin dalam Islam termasuk tasawuf didalamnya. Kedua, tasawuf merupakan salah satu bagian penting dari trilogi ajaran utama Islam yaitu Ihsan yang dalam pandangan Nasr Ihsan tidak lain adalah ajaran spiritual yang telah dilestarikan, ditransmisikan, dan disebarkan dalam tasawuf. Ketiga, dalam tasawuf yang menjadi tujuan utama kehidupan manusia adalah dengan mengetahui akan kebenaran dan realitas absolut (Tuhan), beberapa tahapan-tahapan yang dilalui untuk sampai kepada pengetahuan tentang kebenaran tersebut yakni dengan cara ilm al-yaqin, ain al-yaqin dan tahapan tertinggi adalah haqq al-yaqin.
ETIKA SOSIAL QUR’ANIK BAGI SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS M. Ied Al Munir; Mohd. Arifullah
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.14167

Abstract

Sustainable Development Goals belum secara baik dipahami dan diterima oleh masyarakat Indonesia. Kurangnya pemahaman dan penerimaan ini disebabkan oleh berbagai alasan, salah satunya karena Sustainable Development Goals seringkali dipandang sebagai agenda dari luar Indonesia yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, diperlukan usaha untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa Sustainable Development Goals sejalan dengan nilai-nilai yang ada yang dalam penelitian ini adalah nilai-nilai agama Islam yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan latar studi kepustakaan. Data dikumpulkan dari literatur cetak dan online serta dianalisis dengan teori hermeneutika. Penelitian ini menemukan bahwa beragam pilar dalam Sustainable Development Goals, yakni pilar pembangunan sosial, pilar pembangunan ekonomi, pilar pembangunan lingkungan, dan pilar pembangunan hukum memiliki semangat yang sejalan dengan berbagai ayat dalam al-Qur’an. Temuan ini penting bagi usaha untuk menyosialisasikan dan mengimplementasikan Sustainable Development Goals dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia
PANCASILA : SOLUSI ISLAM DAN KEBANGSAAN Naila Farah
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.15509

Abstract

Pancasila merupakan hasil kerja serius bangsa Indonesia, terutama mereka yang bergabung dengan BPUPKI. Di antara mereka ada yang menyandang gelar ulama. Mereka dan para pemuka dari agama lain bersama-sama merumuskan dan menetapkan apa yang akan menjadi dasar negara. Dalam merumuskan dan menetapkan dasar negara, mereka mengacu pada kepentingan bersama (bangsa Indonesia) dengan mempertimbangkan berbagai masukan yang datang dari masyarakat. Pancasila sudah terbukti bisa menyatukan masyarakat Indonesia yang majemuk, sungguhpun dalam perjalanannya ia tidak lepas dari tantangan dan kritik. Pancasila merupakan ideologi  berbangsa dan bernegara, untuk itu tidak pada tempatnya untuk membandingkan antara agama dan Pancasila.Sungguhpun demikian, masih juga terdapat sebagian kecil umat Islam yang berpendapat  bahwa Pancasila bertentangan dengan Islam. Sekiranya Pancasila bertentangan dengan Islam, sudah barang tentu para ulama akan menolaknya untuk dijadikan sebagai dasar negara.Menurut Harun Nasution, Pancasila tidak bertentangan dengan Islam melainkan sejalan dengannnya, bahkan sila-sila yang terdapat di dalamnya adalah juga ajaran dasar yang terdapat dalam Islam.A.K. Priggodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Jakarta : Dian Rakyat, 1961.AMW. Pranarka, Sejarah pemikiran Tentang Pancasila, Jakarta : CSIS, 1987.Bahtiar Effendi, Islam dan Negara, Transformasi Pemikiran Islam, dalam majalah “prisma”, Jakarta : LSAF, 1992.Bernhard Dahm, Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan, jakarta : LP3ES, 1987.Endang Syaifuddin Anshari, Piagam Jakarta, Jakarta : CV. Rajawali, 1986.Harun Nasution, Islam Rasional, Bandung : Mizan, 1995.Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Gerakan dan Pemikiran, Jakarta : Bulan Bintang, 1985.M. Bambang Pranowo, Islam dan Pancasila, Dinamika Politik Islam di Indonesia, dalam jurnal Ulumul Qur’an, Jakarta : LSAF, 1992.makalah pada acara peresmian Yayasan Badan Wakaf Paramadina, Jakarta, 1986.Nurcholis Madjid, Islam Agama Kemanusiaan, Jakarta : Paramadina, 1995.
ANALISIS FILSAFAT ILMU DALAM KONTEKS KOMUNIKASI PEMBANGUNAN Zamroatul Fuaddah
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.15469

Abstract

Philosophy has an important role in the development of communication science, especially development communication which shapes the practices and social realities of society. A thorough understanding of the philosophy of scientific concepts, such as axiology, epistemology, and ontology, is the key to guiding development communication more meaningfully and effectively in supporting social progress and improving community welfare. The method used in this research is a literature review study, where researchers collect data from indexed books and journals. The researcher attempts to explain how philosophical studies have been carried out in development communication over the last ten years. The results of this research will provide a better understanding of the role of philosophy of science in the context of developmental communication and how axiology, epistemology and ontology influence developmental information communication practices. These findings will contribute to a better understanding of how development communication can be more effective, ethical and sustainable to support social, economic, political and cultural development goals.

Page 1 of 1 | Total Record : 10