cover
Contact Name
Yaqzhan
Contact Email
yaqzhanjurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yaqzhanjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan
ISSN : 24077208     EISSN : 25285890     DOI : -
Jurnal Yaqzhan adalah jurnal ilmiah yang fokus dalam publikasi hasil penelitian dalam kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun pada bulan januari dan juli. Jurnal Yaqzhan terbuka umum bagi peneliti, praktisi, dan pemerhati kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini dikelola oleh Jurusan Akidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Jurnal ini pertama kali terbit pada tahun 2015.
Arjuna Subject : -
Articles 188 Documents
Pembaruan Islam di Indonesia (Telaah Atas Pemikiran Harun Nasution, Nurcholis Madjid, dan Abdurrahman Wahid) Farah, Naila
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i2.18936

Abstract

Gerakan pemikiran ketiga tokoh di atas, telah menancapkan pengaruhnya yang luas terhadap etos dan dinamika berpikir umat Islam Indonesia. Bahkan pengaruh pemikiran mereka telah dapat dirasakan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam kehidupan intelektual umat Islam Indonesia. Mereka telah berhasil mendobrak pintu kejumudan menuju pola pikir yang dinamis dan kreatif. Yang menarik dari ketiga pemikir ini adalah upayanya yang gigih untuk mempertemukan antara, pada satu sisi, nilai-nilai keislaman dengan keindonesiaan, sementara pada sisi lain, antara kekayaan warisan pemikiran Islam klasik dengan nilai-nilai modernitas –dengan bahasa dan pendekatan apapun yang mereka gunakan-. Sehingga dari komitmen seperti ini –dalam posisinya yang ada- yidak berlebihan kalau ketiga pemikir ini dimasukkan dalam kelompok “neo-modernis Islam”. Yakni, komitmennya yang membangun visi Islam di masa modern, dengan sama sekali tidak meninggalkan warisan intelektual Islam. Bahkan jika mungkin, mencari akar-akar Islam untuk mendapatkan kemodernan Islam itu sendiri.
Perspektif Thomas Kuhn : Epistemologi Paradigma dan Revolusi Kecerdasan Buatan Amelia, Tasya Faricha; Susanti, Rahmi; Yosef, Yosef; Siahaan, Sardianto Markos
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i2.18777

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji epistemologi dan pergeseran paradigma dalam konteks pemikiran Thomas Kuhn serta relevansinya terhadap fenomena keilmuan modern, khususnya kecerdasan buatan (AI). Subjek penelitian mencakup analisis kritis terhadap teori paradigma Kuhn dan aplikasinya pada revolusi saintifik AI. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji karya-karya Kuhn dan referensi sekunder terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep paradigma Kuhn memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk memahami perubahan dalam ilmu pengetahuan, yang terjadi melalui fase paradigma, anomali, krisis, revolusi, dan transisi ke paradigma baru. Penerapan teori Kuhn pada perkembangan AI menyoroti bagaimana teknologi ini merevolusi pendekatan ilmiah dan menciptakan norma baru dalam berbagai disiplin ilmu. Rekomendasi penelitian ini adalah agar paradigma Kuhn diterapkan lebih luas untuk menganalisis kemajuan teknologi dan perubahan sosial, serta untuk mengevaluasi dampak etis dan praktis dari AI dalam masyarakat modern. Penelitian ini juga mendorong pendekatan yang lebih fleksibel dan multidisipliner dalam menghadapi tantangan ilmu pengetahuan masa depan.
Keadilan Menurut Amartya Sen dan Kontribusinya bagi Penanganan Ketidakadilan Sosial dalam Masyarakat Multikultural di Indonesia. Hamat, Yulianus Evantus; Pandor, Pius; Fordino, Agustinus; Nasar, Yulianus Lihong; Yeval, Nur Oktavianus
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i2.19318

Abstract

Fokus utama dari tulisan ini adalah membahas konsep keadilan yang dikembangkan oleh Amartya Sen dalam menangani fenomena ketidakadilan sosial pada masyarakat multikultural di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana konsep keadilan yang digagas Amartya Sen dapat memberikan kontribusi dalam mempromosikan keadilan sosial terhadap fenomena ketidakadilan sosial yang terjadi di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yakni studi literatur dan pembacaan kritis atas konsep keadilan dari Amartya Sen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keadilan akan terwujud ketika setiap individu diberi kebebasan untuk memilih dan mengembangkan kemampuan mereka dalam menjalani kehidupan yang mereka nilai bermakna. Sementara akar utama lahirnya ketidakadilan adalah karena kegagalan memahami keadilan secara komprehensif. Karena itu, gagasan keadilan yang berkonsentrasi pada kebebasan individu yang ditelurkan oleh Amartya Sen dapat menjadi penangkal bagi merebaknya problem ketidakadilan sosial yang terjadi dalam masyarakat multikultural di Indonesia. Diharapkan, tulisan ini dapat memberikan kontribusi dalam pemahaman mendalam tentang keadilan sosial, serta merangsang diskusi dan perdebatan lebih lanjut mengenai isu yang sangat kompleks dan relevan ini.  
Kajian Etika Fenomena Phubbing pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Keislaman Negeri di Jawa Barat Budiman, Arip; Anditasari, Putri
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i2.18918

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk memahami dampak phubbing dari perspektif etika sosial, khususnya dalam lingkungan pendidikan tinggi keislaman. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods, yaitu pendekatan penelitian yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif dan mendalam terhadap suatu fenomena. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat ketergantungan yang tinggi pada gadgets (dependency on gadgets) sebesar 44%, tingkat social disconnectedness atau keterputusan sosial relatif rendah di kalangan mahasiswa, sebesar 27%, dan ignore others and switch to gadgets 29%. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai-nilai etis yang diajarkan dalam pendidikan keislaman memiliki peran penting dalam mencegah dampak negatif phubbing, terutama terkait dengan pengabaian lingkungan sosial. Dari perspektif etika Levinas, kesadaran akan tanggung jawab sosial dan keberadaan “wajah” orang lain menghalangi individu untuk melakukan phubbing, sekalipun kecenderungan penggunaan gadget tinggi. Implikasi penelitian ini adalah pentingnya penanaman etika tanggung jawab dalam mengurangi dampak negatif phubbing di lingkungan pendidikan. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah mengeksplorasi faktor-faktor lain yang memengaruhi kesadaran sosial mahasiswa, serta mengevaluasi efektivitas program pendidikan etika dalam mengurangi perilaku phubbing pada kelompok usia remaja dan dewasa muda.
Epistemologi Ilmu Ma'ani dalam Perspektif Filsafat Ilmu Fauzi, Muhamad Faiz Al; Komarudin, R. Edi; Kodir, Abdul; Rohanda, Rohanda
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i2.19481

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Epistemologi Ilmu Ma’ani dalam Perspektif Filsafa Ilmu dengan pendekatan deskriptif dan analisis isi. Studi ini menggunakan metode kualitatif berbasis penelitian kepustakaan (library research), dengan sumber data dari kitab tafsir, buku Ilmu Ma’ani, serta referensi sekunder seperti jurnal ilmiah dan literatur filsafat. Data dikumpulkan secara purposive dengan teknik snowball dan dianalisis secara induktif untuk memastikan validitas hasil melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Ilmu Ma’ani memenuhi kriteria epistemologi melalui tiga dimensi: empirisme (berbasis pengalaman inderawi), rasionalisme (berbasis akal), dan intuisisme (berbasis intuisi). Secara empiris, ilmu Ma’ani mendasarkan  analisisnya pada observasi bahasa; secara rasional, ia mengungkap struktur logis bahasa Arab; dan secara intutif, ia mengeksplorasi dimensi estetika dan spiritual bahasa. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan relevansi ilmu Ma’ani dalam diskursus modern, seperti komunikasi politik dan keindahan Al-Qur’an, serta memperkaya literatur akademik di bidang linguistik dan filsafat. 
Man is the Measure of All Things: Marcuse and Rawls on Human Nature Baharom, Hazman M.B.
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i2.18064

Abstract

In the development of post-war philosophy, the thought of the Frankfurt School thinkers has been seminal in pushing the boundaries of the discipline. One of these thinkers include Herbert Marcuse (1898 – 1979). Consequently, in the realm of moral and political philosophy, the post-war philosophy that was plagued by the interlocking clash between the consequence-based utilitarian theories and duty-based Kantian theories has found its new ground in Rawlsian liberalism, spearheaded by John Rawls (1921 – 2002). Using qualitative textual data found in the most important works of both philosophers, this paper would explore the ways in which Marcuse’s ideas have influenced Rawls in his outlook on human nature. Examined through the framework of secularization outlined by Syed Muhammad Naquib al-Attas (1931 –), the direction of influence has also intensified the process of “deconsecration of values,” hence characterizing a more secular worldview.
Pemahaman Orang Tua Tentang Bullying dan Dampaknya pada Siswa Sekolah Dasar (Perspektif Pragmatisme John Dewey dalam Mewujudkan SDG Pendidikan Berkualitas) Zurwanty, Recy Harviani; Fadhli, Ashabul; Dewimarni, Syelfia
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i2.18291

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman orang tua siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Agam tentang tindakan dan akibat bullying yang banyak terjadi di lingkungan Sekolah Dasar. Lahirnya Permenristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan serta Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak merupakan bentuk kehadiran Negara dalam menyikapi serta mencegah terjadinya bullying di lingkungan pendidikan. Agar aturan tersebut berjalan optimal, keterlibatan orang tua sangat diperlukan. Penelitian ini berangkat dari penelitian lapangan dengan jenis penelitian deskriptif. Subyek dari penelitian ini adalah orang tua siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Agam sebanyak 79 respondens yang terdiri dari 60 perempuan (ibu) dan 19 laki-laki (ayah). Instrumen penelitian berupa angket peran orang tua dalam menyikapi tindakan bullying yang sudah valid. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik persentase. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa tingkat pemahaman orang tua mengenai tindakan bullying memiliki kriteria persentase baik (53,79%). Begitu juga mengenai akibat tindakan bullying yang juga tergolong dalam kriteria persentase baik (54,43%). Sejalan dengan itu, didapati pula kecendrungan orang tua bahwa bullying yang dilakukan secara fisik lebih dinilai sebagai bentuk tindakan kekerasan yang lebih kongkrit dan berdampak lebih nyata sehingga menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan pada anak.
The Contemporary Muslim between The Middle Ages and Modernity Qazaz, Azad Raouf
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 2 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i2.18475

Abstract

This article delves into a crucial aspect of Islamic thought—the dynamic interplay between text and reality, with a particular focus on the Quranic text. It explores the implicit or explicit adherence to the idea that the fixed text, especially the Quran, holds supremacy over the ever-changing reality. The intricate relationship between text and reality has far-reaching implications for intellectual, scientific, and societal transformations throughout the history of human knowledge. This work aims to spotlight significant shifts and pivotal moments in human thought, driven by fundamental changes in how the relationship between text and reality is perceived. It argues that the accumulation of ideas from human experiences unlocks doors to unexplored realms that were previously overlooked. Here, "reality" refers to observable events and the revelations uncovered through human experiences, aligning closely with the concept of science. By the term "truth" here, I do not imply the existence of a predetermined entity that is lost to humans and needs to be discovered. No, the truth for us is the continuous discovery of the unknown. The article raises the question of when and how humanity shifted its focus from text to reality, giving rise to what is now known as the era of science, and it probes into the position of Muslims in this transformative period. This is a question that I attempt to answer. The author posits that the answer does not lie in the interpretation of religious texts, advocating for a broader perspective to unravel this inquiry. While contemporary Muslim thinkers seek answers through text interpretation. the author contends that the solution requires exploration from a different vantage point.
Refleksi Humanisme dalam Perspektif Erich Fromm berbasis Penelitian Pengembangan Modul Ajar Pendidikan Nilai dan Karakter Berbantuan Artificial Intelligence Gunawan, Indra; Nawawi, Fuad; Novianto, Fauzan Akbar
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i2.23726

Abstract

ABSTRAK: Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi pendidikan nilai dan karakter. Artikel ini bertujuan merefleksikan penggunaan AI dalam pendidikan nilai dari perspektif humanisme Erich Fromm dengan berpijak pada hasil penelitian pengembangan modul pembelajaran berbasis AI pada mata kuliah Teori Pendidikan Nilai dan Karakter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pijakan penelitian dan pengembangan terdahulu yang menerapkan metode Research and Development (R&D) melalui model Educational Design Research (EDR). Data empiris dianalisis melalui refleksi filosofis dengan menggunakan konsep being, having, dan automaton conformity dari Erich Fromm. Hasil refleksi menunjukkan bahwa AI tidak bersifat dehumanisasi apabila digunakan sebagai medium reflektif dan dialogis, bukan sebagai pengganti peran pendidik. Sebaliknya, AI dapat memperkuat proses pemaknaan nilai, kesadaran diri, dan tanggung jawab moral peserta didik ketika diintegrasikan dalam kerangka pedagogi humanistik. Artikel ini juga menegaskan bahwa peran pendidik tetap sentral sebagai subjek pedagogis dan penjaga orientasi nilai, sementara AI berfungsi sebagai mitra pedagogis yang mendukung pembelajaran reflektif. Secara teoretis, artikel ini berkontribusi pada pengembangan kajian filsafat pendidikan dengan menawarkan kerangka humanisme reflektif sebagai dasar etis penggunaan AI dalam pendidikan nilai dan karakter di era digital.ABSTRACT: The development of Artificial Intelligence (AI) in education presents both opportunities and challenges for value and character education. This article aims to reflect on the use of AI in value education from the perspective of Erich Fromm’s humanism, grounded in the results of developmental research on an AI-based learning module implemented in the Theory of Value and Character Education course. The study adopts a qualitative approach, drawing upon prior Research and Development (R&D) employing the Educational Design Research (EDR) model. Empirical data are examined through a philosophical reflection using Erich Fromm’s concepts of being, having, and automaton conformity. The reflection reveals that AI is not inherently dehumanizing when positioned as a reflective and dialogical medium rather than as a substitute for educators. Instead, AI can enhance the process of value formation, self-awareness, and moral responsibility when integrated within a humanistic pedagogical framework. The article further emphasizes that educators remain central as pedagogical subjects and guardians of value orientation, while AI functions as a pedagogical partner that supports reflective learning. Theoretically, this study contributes to the field of philosophy of education by proposing a reflective humanistic framework as an ethical foundation for the use of AI in value and character education in the digital era.
Ekoteologi dalam Bingkai Etika Sadar Kawasan sebagai Alternatif dalam Menjawab Krisis Lingkungan Budiman, Arip; Hasbiyallah, Hasbiyallah; Aludin, Aludin; Solahudin, Dindin; Abidin, Yusuf Zaenal
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i2.23721

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji kemungkinan kontribusi ekoteologi Islam dalam menjawab krisis lingkungan global melalui pembacaan atas etika sadar kawasan yang dikembangkan Komunitas Patanjala, sebagai artikulasi kearifan lokal Sunda yang terasimilasi dengan nilai-nilai Islam. Masalah utama yang diajukan adalah: pertama, apakah paradigma teologis Islam memiliki elastisitas untuk merespons krisis ekologis tanpa harus menanggalkan watak antroposentrisnya; kedua, bagaimana etika sadar kawasan Patanjala dapat menjadi medium rekonstruksi paradigma relasi manusia–alam yang kosmosentris dan berkeadilan ekologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis berbasis studi kepustakaan, yang mengkaji teks-teks ekoteologi kontemporer, literatur tentang krisis ekologi, serta sumber-sumber mengenai falsafah Patanjala dan praktik etika kawasan. Hasil kajian menunjukkan bahwa akar krisis ekologis tidak terletak pada doktrin agama, melainkan pada pembacaan yang memutus alam dari dimensi kesakralannya dan mereduksi manusia menjadi subjek eksploitasi tanpa batas. Dalam kerangka Patanjala, etika sadar Kawasan –dengan pembedaan tata ruang, tata wayah, dan tata lampah– menawarkan cara pandang lain yang menempatkan hak-hak alam sebagai prasyarat penentuan hak manusia, sekaligus menghidupkan kembali fungsi khalifah sebagai amanah etis dan spiritual. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya diskursus ekoteologi kontemporer dengan menghubungkan maqāṣid al-sharī‘ah, konsep khalīfah fī al-arḍ, dan kearifan lokal Sunda dalam satu kerangka etis operasional dan praksis keagamaan. Praktis, etika sadar kawasan memberikan kerangka evaluatif untuk menimbang kebijakan dan gerakan lingkungan berbasis agama lokal. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa antroposentrisme teologis Islam dapat direformulasi melalui etika sadar kawasan menjadi paradigma tanggung jawab ekologis, sejalan dengan semangat deep ecology, sehingga ekoteologi Islam berpotensi tampil bukan hanya apologetik, tetapi propositif dalam merumuskan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.ABSTRACT: This study aims to examine the potential contribution of Islamic ecotheology in addressing the global environmental crisis through an analysis of etika sadar kawasan (area-conscious ethics) as developed by the Patanjala Community, understood as an articulation of Sundanese local wisdom assimilated with Islamic values. The study raises two principal questions: first, whether the Islamic theological paradigm possesses sufficient elasticity to respond to ecological crises without abandoning its anthropocentric character; and second, how Patanjala’s area-conscious ethics may serve as a medium for reconstructing a cosmocentric and ecologically just paradigm of human–nature relations. Employing a qualitative approach with a descriptive-analytical method based on library research, this study examines contemporary ecotheological texts, literature on ecological crises, and sources concerning Patanjala philosophy and practices of spatial ethics. The findings indicate that the roots of the ecological crisis lie not in religious doctrine per se, but in interpretive frameworks that sever nature from its sacred dimension and reduce humans to subjects of limitless exploitation. Within the Patanjala framework, area-conscious ethics—through the differentiation of tata ruang (spatial order), tata wayah (temporal order), and tata lampah (practical conduct)—offers an alternative perspective that positions the rights of nature as a prerequisite for determining human rights, while revitalizing the concept of khalīfah as an ethical and spiritual trusteeship. Theoretically, this study enriches contemporary ecotheological discourse by integrating maqāṣid al-sharī‘ah, the concept of khalīfah fī al-arḍ, and Sundanese local wisdom into a coherent framework of operational ethics and religious praxis. Practically, area-conscious ethics provides an evaluative framework for assessing environmentally oriented policies and faith-based ecological movements grounded in local religious traditions. The study concludes that Islamic theological anthropocentrism can be reformulated through area-conscious ethics into a paradigm of ecological responsibility aligned with the spirit of deep ecology, thereby enabling Islamic ecotheology to emerge not merely as apologetic, but as a propositional force in articulating sustainable environmental governance.