cover
Contact Name
Yaqzhan
Contact Email
yaqzhanjurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yaqzhanjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan
ISSN : 24077208     EISSN : 25285890     DOI : -
Jurnal Yaqzhan adalah jurnal ilmiah yang fokus dalam publikasi hasil penelitian dalam kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun pada bulan januari dan juli. Jurnal Yaqzhan terbuka umum bagi peneliti, praktisi, dan pemerhati kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini dikelola oleh Jurusan Akidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Jurnal ini pertama kali terbit pada tahun 2015.
Arjuna Subject : -
Articles 178 Documents
ADAPTASI HOTS KE DALAM SISTEM PEMBELAJARAN UNIVERSITAS SIBER ASIA: PARADIGMA FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM IMAM FAIZIN RM Imam Abdillah
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.15306

Abstract

Strategi pembelajaran high-order thinking skills (HOTS) yang dikemukakan oleh Bloom mendapat sambutan hangat dalam konteks pendidikan di Indonesia, khususnya di perguruan tinggi. Keberadaan HOTS yang diadopsi dalam Kurikulum Merdeka (dengan penekanan inovasi pembelajaran, inovasi produk mahasiswa, dan kolaborasi antara dosen dan mahasiswa) tidak hanya difungsikan sebagai penyiapan dan pengembangan masyarakat 4.0 bahkan masyarakat 5.0 semata, tetapi hal yang lebih mendasar juga menyasar pada pendalaman dan pengembangan minat dan bakat mahasiswa. Pemerintah melalui Kurikulum Merdeka secara terbuka mengintegrasikan TPACK, Kompetensi 4 C, Karakter Profil Pelajar Pancasila, dan HOTS.
Intimasi versus Isolasi dalam Tokoh Charlie Gordon: Kajian Fenomenologi dalam Cerita Pendek “Flowers for Algernon” Delima, Mestika Intan; Syihabuddin, Syihabuddin
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i1.16498

Abstract

Penelitian ini menganalisis karakter Charie Gordon dalam cerpen “Flowers for Algernon” karya Daniel Keyes. Fokus utama dalam penelitian ini adalah tahap keenam perkembangan psikososial Erikson, yaitu intimasi versus isolasi yang terjadi pada Charlie Gordon. Analisis penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif fenomenologis. Metode analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah thematic analysis (TA). Temuan menunjukkan usaha dan tantangan yang muncul dalam proses intimasi, faktor penyebab dan dampak isolasi, serta bagaimana karakter Charlie dalam membentuk relasi dan pengaruh relasi tersebut terhadap proses intimasi dan isolasi. Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pemahaman bagaimana pengalaman intimasi dan isolasi tercermin dalam kehidupan seorang individu, tetapi juga menunjukkan nilai-nilai penting dalam meneliti perkembangan psikososial melalui fenomenologi dari sebuah narasi fiktif.
ISLAMISASI TINDAKAN: KAJIAN KRITIS TERHADAP KONSTRUKSI TRANSFORMATIF DALAM TEOLOGI PEMBEBASAN HASSAN HANAFI Adi Candra Wirinata
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.15482

Abstract

Artikel ini mengkaji pemikiran Hassan Hanafi, khususnya pola pemikirannya tentang teologi pembebasan. Artikel ini berusaha mengklarifikasi posisi Hassan Hanafi dalam dunia pemikiran teologi Islam. Hal yang banyak diperhatikan dalam artikel ini adalah bagaimana Hassan Hanafi membaca dan memposisikan teologi Islam dalam pemikirannya dan bagaimana ia menggunakannya sebagai legitimasi perlawanan dalam konsep teologi pembebasannya. Usaha Hassan Hanafi dalam membaca, memposisikan, dan menggunakan teologi Islam sebagai legitimasi perlawanan tersebut yang dalam artikel ini disebut sebagai proses islamisasi tindakan. Kajian dalam artikel ini menemukan bahwa Hassan Hanafi membaca teologi Islam menggunakan hermeneutika dengan pendekatan istinbat istiq’ra’i; yang tidak memisahkan antara Tuhan dan bumi. Melalui pembacaan ini Hassan Hanafi memposisikan teologi Islam sebagai teori tindakan manusia. Sebagai sebuah teori, maka teologi dalam pemikiran Hassan Hanafi digunakan untuk melegitimasi tindakan-tindakan perlawanan terhadap penindasan.
Sisi Lain Islam; Relevansi Pemikiran Supra-Rasionalitas Agama Al-Ghazālī dan Ibn ‘Arabī di Era Disrupsi Amirudin, Amirudin; Khaer, Abu; Maliki, Noval
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i1.18003

Abstract

Tulisan ini dilatar belakangi kontroversi terhadap pemahaman terhadap agama berkenaan dengan sisi rasionalitas dan pemahaman diluar akal manusia (metafisika), di mana atara rasionalitas dengan transendensi metafisik sulit di pahami secara bersamaan, terlebih pada era disrupsi di mana akal manusia lebih banyak digunakan untuk berpikr hal-hal yang empirik. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap pemahaman akan puncak rasionalitas manusia hingga pada tahap supra-rasional, dimana supra-rasional itu sendiri menjadi bagian penting dalan memahami essensi dan transendensi diluar kemampuan akal/rasio (metafisika). Penelitian ini merupakan penelitian literature, yang berupaya menganalisi essensi dan substansi teks-teks nalar agama berdasarkan metodologi filsafat dengan pendekatan hermeneutika Hans Georg Gaddamer dengan fusion of horizon dan hermeneutical Circle-nya. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dalam pandangan Al-ghazali supra-rasional merupakan manifestasi dari kepasrahan rasionalitas manusia-sehingga mengembalikan essensi kebenarannya kepada Tuhan, disisi lain Ibn ‘Arabi meyakininya sebagai salah satu dari manifestasi Wahdah al-wujud, sehingga supra-rasional hanya kan didapat bagi manusia-manusia dan memahami hakikat baik hakikat Tuhan ataupun hakikat lain yang ada dalam pikirannya.
Kontekstualisasi Filsafat Eksistensialisme terhadap Praktik Pendidikan di Era Digital Nuha, Farahah Kamilatun; Maemonah, Maemonah
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i1.17864

Abstract

Permasalahan era modern ini perlu diakomodasi oleh pendidikan, dan filsafat dapat menjadi alat analisisnya. Filsafat adalah inti, pedoman, dan sumber dari pendidikan. Filsafat Eksistensialisme merupakan filsafat pendidikan yang menekankan kepada otonomi peserta didik sebagai subjek. Pandangan-pandangan dari eksistensialisme tersebut dapat mengakomodasi bagaimana permasalahan eksistensi di era digital dan bagaimana pendidikan menangkap sinyalemen tersebut dengan memperbaharui praktik-praktik pendidikan yang sesuai dengan zaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkontekstualisasi filsafat eksistensialisme pada praktik pendidikan di era digital. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis pendekatan analisis generik yang konklusinya ditarik secara umum dalam mengidentifikasi makna dari suatu konsep. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pandangan-pandangan dari filsafat eksistensialisme yang mendasari interaksi dalam pendidikan di era digital dewasa kini. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi pedoman dalam praksis-praksis pendidikan.
KONSEP SOLIDARITAS ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF EMILE DURKHEIM Zulfikar Falah
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.13137

Abstract

This study analyzes the concept of inter-religious solidarity from the perspective of Emile Durkheim. The dictum regarding exclusive and inclusive teachings is under the auspices of every existing religion. Tension will arise when people of different religions show existential exclusivity of religion. Thus, solidarity becomes a way to neutralize tension. Emile Durkheim's solidarity theory is the result of interpretive ideas in interpreting the problematic relations of individuals with society. The formulation of the problem in this study is how is the concept of inter-religious solidarity from the perspective of Emile Durkheim. This study uses the library research method, with relevant sources, such as books, journals, theses, dissertations, etc. Responding to the formulation of the problem, this research gives the result that in Emile Durkheim's perspective, social change can occur due to the meaning of mechanical solidarity which turns into organic solidarity. This then implies that the relationship between religious communities with mechanical solidarity, social groups only see the importance of meeting the needs of facilities without having functional dependence. Harmony is increasingly intertwined in relations between religious communities with organic solidarity, harmony is increasingly intertwined, but it tends to promote functional dependence, and diversity is unstoppable.
Etika Lingkungan Arne Naess dan Implementasinya dalam Memperbaiki Kerusakan Lingkungan Akibat Sampah Riskidianto, Benedictus Bima
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i1.17296

Abstract

Tulisan ini mengkaji gagasan etika lingkungan menurut Arne Naess dan implementasinya dalam memperbaiki kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh sampah. Tujuan yang hendak dicapai dari studi ini yakni menjadikan konsep etika lingkungan sebagai sajian pemikiran etis yang kontributif dalam memperbaiki kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh sampah. Pada tulisan ini bank sampah menjadi subjek penelitian dalam mengolah sampah agar tidak semakin merusak lingkungan. Metodologi yang digunakan dalam studi ini yakni kualitatif dengan merujuk pada sumber kepustakaan. Dalam hal ini dilakukan pembacaan kritis atas konsep Deep Ecology dan mengaitkannya dengan solusi memperbaiki kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan yang kian parah memerlukan perhatian seluruh manusia. Arne Naess mengusulkan konsep Deep Ecology dalam membangun relasi antara manusia dan alam. Konsep ini mengkritik pandangan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta. Manusia memperlakukan alam dengan semena-mena hingga membuat alam menjadi sangat rusak. Dalam wujud nyatanya, konsep ini mengusulkan beberapa solusi yakni meningkatkan kesadaran Masyarakat akan pentingnya mengelola sampah, mengurangi konsumsi yang menimbulkan sampah dan mendorong regulasi yang mendukung pengelolaan sampah yang bersifat ekologi
PHENOMENA OF JAPAN'S POPULAR CULTURE HEGEMONY IN INDONESIA: ITS RELEVANCE IN STRENGTHENING NATIONAL CULTURE KOENTJARANINGRAT PERSPECTIVE Revi Dicky Adistu; Sartini Sartini; Kusuma Putri
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.12124

Abstract

The development of Japanese popular culture is spreading worldwide, especially in Indonesia. Indonesia has a diversity of local wisdom values and national culture that is rich in culture with noble traditions and artistic values that are now starting to erode Japanese popular foreign culture. The research findings explain that there are people in a community, especially the Yogyakarta, Jakarta and Bandung areas, who are eroded by Japanese culture by demonstrating that fashion and language are products of Japanese popular culture, which has implications for the loss of inherent national identity as national identity. In this case, Koentjaraningrat's cultural philosophy from the perspective of the seven cultural elements answers how to prevent a developed nation from being eroded by westernization from Western (Japanese) influences without eliminating local wisdom and cultural values by strengthening national culture.Keyword: Popular culture1, national culture2, modernzation3
Analisis Gaya Berbusana dalam Perspektif Filsafat Estetika dan Maslahah Mursalah A’yun, Mayada Izzatul; Mustofa, M. Lutfi; Habib, Zainal
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v10i1.17494

Abstract

Era modern tren berbusana mengalami transformasi yang pesat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti globalisasi, media sosial, dan pergeseran nilai-nilai budaya. Integrasi perspektif filsafat dan maslahah mursalah ini menjadi penting untuk mencapai pemahaman yang utuh tentang estetika dalam berbusana, sehingga mampu menciptakan tren busana yang tidak hanya modis tetapi juga bermakna secara filosofis dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk menjembatani berbagai perspektif ini, guna menghasilkan pemahaman yang komprehensif tentang estetika dalam berbusana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif library research dengan pendekatan komparatif yang sumber datanya berasal dari kepustakaan, buku, dan jurnal terpadu. Subjek pembahasan dari penelitian ini adalah berbusana perspektif filsafat estetika dan maslahah mursalah. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa (1) Tren berbusana di Indonesia saat ini menunjukkan lanskap yang dinamis dan beragam, menggabungkan pengaruh mode global dengan elemen tradisional dan budaya lokal, serta mencerminkan adaptasi terhadap religiusitas, identitas nasional, dan keterlibatan aktif di media sosial. (2) Filosof Estetika Schiller dalam suratnya Kallias menyatakan bahwa berbusana merupakan sebuah kebebasan. (3) Berbusana perspektif maslahah mursalah menitikberatkan pada kebebasan dalam kerangka syariat untuk membawa kebaikan umum. (4) Perbandingan antara Berbusana Perspektif Filosof Friedrich Schiller dalam Kalliasbrife dengan Berbusana Perspektif Maslahah Mursalah menunjukkan bahwa Schiller menekankan aspek kebebasan dan subjektivitas dalam estetika berpakaian sebagai manifestasi kebebasan moral individu, sementara perspektif Maslahah Mursalah lebih fokus pada manfaat dan tujuan syariat yang lebih besar untuk menutupi aurat dan membawa kebaikan bagi individu serta masyarakat.
MEMBACA FENOMENA PERDAGANGAN MANUSIA (HUMAN TRAFFICKING) DI INDONESIA DALAM TERANG KONSEP RELASI AKU-ENGKAU MARTIN BUBER Yohanes D Naimnanu; Oktovianus Kosat; Dominikus Saku
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i2.14391

Abstract

The research aims to examine the concept of human relations in Martin Buber's thought and seeks to read this concept against the phenomenon of human trafficking in Indonesia. The formulation of the questions in this study are; what is the concept of the I-thou relationship from Martib Buber's point of view? and how is this concept used to read (analyze, view) the phenomenon of human trafficking crimes in Indonesia? This paper is analyzed using the literature review method through literary sources such as books, journals and relevant articles. The results of the study found that Martin Buber divides human relations into two types, namely the I-it relationship and the I-thou relationship. Through the pattern of the "I-it" relation, there is a relation that runs as subject-object. Where "I" always sees the other as a mere object. Meanwhile, the pattern of "I-thou" relationship requires interpersonal relationships that run dialogically and reciprocally. There is a dimension of equality there. I see other people not as objects but as subjects like the other me. Because of that there is a principle of mutual responsibility. The relevance of Martin Buber's concept to the phenomenon of human trafficking is as follows: first, in the I-you relationship it is reflected that I must treat others the way I want to be treated. Second, the couple must hold each other, not annihilate each other. Third, dialogue oriented towards mutual understanding, responsibility towards 'the other' without imposing personal will, fourth, an I-Thou relationship requires everyone to uphold the attitude of sociality with the aim of eliminating the attitude of ego and greed that often makes other people need satisfiers.