cover
Contact Name
Yaqzhan
Contact Email
yaqzhanjurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yaqzhanjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan
ISSN : 24077208     EISSN : 25285890     DOI : -
Jurnal Yaqzhan adalah jurnal ilmiah yang fokus dalam publikasi hasil penelitian dalam kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun pada bulan januari dan juli. Jurnal Yaqzhan terbuka umum bagi peneliti, praktisi, dan pemerhati kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini dikelola oleh Jurusan Akidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Jurnal ini pertama kali terbit pada tahun 2015.
Arjuna Subject : -
Articles 188 Documents
Relasi Ontologis Guru dan Murid sebagai Dasar Humanisasi Pendidikan Agama Islam di Indonesia Pradipta, Muhammad Aldam Shaka; Rahmania, Puput; Parhan, Muhamad
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i2.23771

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini berangkat dari pertanyaan penelitian: Bagaimana relasi ontologis guru murid dapat menjadi dasar bagi humanisasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Indonesia? Tujuan penelitian adalah mengungkap secara sistematis hakikat ontologis guru dan murid sebagai pemeran utama dalam pendidikan agama Islam, menganalisis relasi ontologis keduanya, dan menunjukkan bagaimana relasi tersebut membuka kemungkinan humanisasi PAI. Penelitian ini menggunakan kerangka ontologi Aristotelian dengan konsep actual being, potential being, causa, telos, dan energeia sebagai lensa utama, diperkaya oleh pemikiran pendidikan Islam serta perspektif kritis Paulo Freire tentang banking versus problem-posing education, dan konsep teacher as facilitator dari Carl Rogers. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis PAI hari ini bukan krisis metodologis melainkan krisis ontologis: guru dan murid kehilangan pemahaman akan hakikat mereka sebagai being yang sedang menjadi. Ketika relasi ontologis guru-murid dibangun atas dasar mutual recognition dan dialog sejati, pembelajaran PAI bergeser dari struktur dehumanis menuju humanis, dengan guru hadir sebagai actual being yang mengaktualisasi diri, murid diberdayakan sebagai potential being yang aktif, dan keduanya terlibat dalam transformasi bermakna menuju kedewasaan spiritual dan intelektual.ABSTRACT: This research begins from the research question: How can the ontological relation between teacher student serve as a foundation for the humanization of Islamic Religious Education (PAI) learning in Indonesia? The research objective is to systematically uncover the ontological nature of teacher and student as main actors in Islamic religious education, analyze their ontological relation, and demonstrate how this relation opens possibilities for PAI humanization. This research employs the Aristotelian ontological framework comprising the concepts of actual being, potential being, causa, telos, and energeia as the primary lens, enriched by Islamic education thought, as well as Paulo Freire's critical perspective on banking versus problemposing education, and Carl Rogers' concept of teacher as facilitator. The research findings demonstrate that the current PAI crisis is not a methodological crisis but an ontological one: teachers and students lose understanding of their nature as beings becoming. When the ontological relation between teacher and student is built on mutual recognition and genuine dialogue, PAI learning shifts from a dehumanizing structure to a humanizing one, with the teacher present as an actual being actualizing itself, the student empowered as an active potential being, and both engaged in meaningful transformation toward spiritual and intellectual maturity.
Peran Negara dan Pasar dalam Filsafat Ekonomi Islam: Tinjauan Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Silviana, Fajria; Novia, Aidil
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i2.23566

Abstract

ABSTRAK: Artikel ini bertujuan untuk mengkaji relasi antara negara dan pasar dalam kerangka filsafat ekonomi Islam melalui pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis guna memahami peran keduanya dalam mewujudkan keadilan serta kesejahteraan ekonomi. Subjek kajian meliputi konsep negara, mekanisme pasar, dan kebijakan ekonomi dalam perspektif ekonomi Islam sebagaimana dibahas dalam khazanah pemikiran para ulama klasik dan cendekiawan kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan sumber data yang berasal dari artikel jurnal terakreditasi dan buku-buku akademik yang relevan, yang dianalisis secara kualitatif-deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekonomi Islam tidak memposisikan negara dan pasar sebagai entitas yang saling menegasikan, melainkan sebagai institusi yang saling melengkapi dalam satu sistem yang berorientasi pada kemaslahatan. Negara dipandang memiliki peran penting sebagai pengatur dan pengawas untuk mencegah distorsi pasar, menjaga keadilan distribusi, serta melindungi kepentingan publik, sementara pasar berfungsi sebagai sarana alokasi sumber daya yang efisien selama dijalankan secara bebas, adil, dan sesuai dengan prinsip etika syariah. Secara epistemologis, kebijakan ekonomi Islam bersumber pada wahyu yang dipadukan dengan rasionalitas dan pertimbangan empiris berbasis kemaslahatan. Berdasarkan temuan tersebut, artikel ini merekomendasikan penguatan peran negara sebagai regulator yang adil dan proporsional, sekaligus mendorong terciptanya mekanisme pasar yang sehat dan bertanggung jawab guna mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkelanjutan.ABSTRACT: This article aims to examine the relationship between the state and the market within the framework of Islamic economic philosophy through ontological, epistemological, and axiological approaches to understand their roles in realizing economic justice and prosperity. The research subjects include the concepts of the state, market mechanisms, and economic policy from an Islamic economic perspective as discussed in the thoughts of classical and contemporary scholars. This study uses a library research method with data sources derived from accredited journal articles and relevant academic books, which are analyzed qualitatively and descriptively. The results show that Islamic economics does not position the state and the market as opposing entities, but rather as complementary institutions in a system oriented towards the welfare of the people. The state is seen as having an important role as a regulator and supervisor to prevent market distortions, maintain distributive justice, and protect the public interest, while the market functions as a means of efficient resource allocation as long as it is run freely, fairly, and in accordance with the principles of Islamic ethics. Epistemologically, Islamic economic policy is based on revelation combined with rationality and empirical considerations based on the welfare of the people. Based on these findings, this article recommends strengthening the role of the state as a fair and proportional regulator, while simultaneously encouraging the creation of healthy and responsible market mechanisms to achieve sustainable social welfare.
Pendidikan Seksual Komprehensif di Era Digital: Analisis Terhadap Tren Perilaku Seksual Remaja Farah, Naila; Masriah, Masriah; Alfarel, M Rizqi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i2.23728

Abstract

ABSTRAK: Di tengah masifnya penggunaan media sosial yang disalahgunakan, kebijakan terkait Pendidikan seksual di Indonesia masih gamang. Fenomena alter atau digital prostitution yang merambah membuat remaja Indonesia sangat rentan mengalami apa yang disebut sebagai Non Consensual Intimate Image dan kekerasan gender berbasis online lainya. Data Goodstat menunjukan Indonesia memiliki potensi generasi sebaganyak 88 – 110 juta jiwa dengan usia muda. Sedangkan data lainya menunjukan bahwa lebih dari 60 persen remaja mengakses pornografi dan dating online sebagai aktivitas seksual. Maka, untuk menjaga potensi generasi tersebut, diperlukan Pendidikan seksual yang adaptif di era digital untuk membekali mereka dan mencegahnya dari paparan seksual. Metode yang digunakan Adalah studi kepustakaan dan pengamatan sosial, hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan Pendidikan seksual yang adaptif dan terbuka sudah diterapkan di banyak negara Asia Tenggara seperti Thailand. Maka dari itu penting untuk membandingkan dan mereorientasikan apa yang sudah dicontohkan.  ABSTRACT: In the midst of the massive misuse of social media, policies related to sexual education in Indonesia are still unclear. The phenomenon of alter or digital prostitution that pervasively makes Indonesian teenagers very vulnerable to experiencing what is called Non Consensual Intimate Image and other online-based gender violence. Goodstat data shows that Indonesia has a generation potential of 88-110 million people with a young age. Meanwhile, other data shows that more than 60 percent of teenagers access pornography and online dating as sexual activities. So, to maintain the potential of this generation, an adaptive sexual education is needed to equip them and prevent them from sexual exposure. The method used is a literature study and social observation, the results of the study show that the application of adaptive and educated sexual education has been applied in many Southeast Asian countries such as Thailand. Therefore, it is important to compare and reorient what has been exemplified. 
Telaah Empiris-Positivistik Auguste Comte terhadap Fenomena Dispensasi Nikah di Indonesia Salma, Kholidiyah; Soleh, Achmad Khudori; Hakim, M Aunul
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i2.23302

Abstract

ABSTRAK: Artikel ini bertujuan untuk menganalisis fenomena dispensasi nikah di Indonesia melalui perspektif empiris-positivistik Auguste Comte, guna memberikan pemahaman ilmiah yang objektif terhadap dinamika sosial-hukum yang berkembang pasca perubahan batas usia perkawinan. Subjek penelitian ini adalah praktik dispensasi nikah sebagai realitas sosial-hukum yang tercermin dalam putusan Pengadilan Agama, statistik perkara Badan Peradilan Agama, serta regulasi hukum terkait. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan landasan positivistik, melalui pengumpulan data empiris institusional yang dianalisis menggunakan teknik observasi, klasifikasi, analisis pola, serta hubungan sebab–akibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) positivisme Auguste Comte menyediakan kerangka epistemologis yang menempatkan fakta empiris sebagai sumber pengetahuan yang sah, dengan kebenaran diuji melalui konsistensi dan keterulangan data; (2) fenomena dispensasi nikah di Indonesia merupakan realitas sosial-hukum yang objektif dan terstruktur, ditandai oleh pola peningkatan, stabilisasi, dan variasi kasus yang dapat diukur lintas wilayah dan waktu; serta (3) telaah positivistik menegaskan bahwa dispensasi nikah berfungsi sebagai mekanisme keteraturan sosial yang lahir dari interaksi antara norma hukum dan kondisi sosial yang konkret. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan pendekatan empiris dalam kajian hukum keluarga agar analisis kebijakan lebih berbasis data dan realitas sosial.ABSTRACT: This article aims to analyze the phenomenon of marriage dispensation in Indonesia through the empirical-positivistic perspective of Auguste Comte, in order to provide an objective scientific understanding of the socio-legal dynamics that have developed following changes to the minimum age of marriage. The subject of this research is the practice of marriage dispensation as a socio-legal reality reflected in Religious Court decisions, case statistics from the Directorate General of Religious Courts, and relevant legal regulations. The research employs a qualitative-descriptive method grounded in a positivistic approach, using institutional empirical data analyzed through observation, classification, pattern analysis, and causal relationships. The findings indicate that (1) Auguste Comte’s positivism provides an epistemological framework that positions empirical facts as the sole legitimate source of knowledge, with truth verified through data consistency and recurrence; (2) the phenomenon of marriage dispensation in Indonesia constitutes an objective and structured socio-legal reality, as evidenced by measurable patterns of increase, stabilization, and variation in cases across regions and time; and (3) a positivistic analysis confirms that marriage dispensation functions as a mechanism of social order arising from the interaction between legal norms and concrete social conditions. This study recommends the adoption of empirical approaches in family law studies to ensure that policy analysis is more firmly grounded in data and social reality.
Peranan Perguruan Tinggi Islam dalam Melestarikan Ilmu Qiraat di Sumatera Barat Simbolon, Parlindungan; Akhyar, Yundri; Saputra, Waldi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i2.23727

Abstract

ABSTRAK: Ilmu Qiraat merupakan salah satu disiplin ilmu al-Qur’an yang memiliki peran penting dalam menjaga keaslian bacaan al-Qur’an. Di tengah arus modernisasi dan berkurangnya minat generasi muda terhadap kajian klasik, keberlanjutan Ilmu Qiraat menghadapi berbagai macam tantangan. Perguruan tinggi Islam sebagai pusat pengembangan keilmuan memiliki tanggung jawab strategis dalam melestarikan dan mengembangkan ilmu ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peranan perguruan tinggi Islam di Sumatera Barat dalam menjaga eksistensi dan keberlanjutan ilmu Qiraat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi terhadap kurikulum, kegiatan akademik, serta program pembinaan Qiraat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perguruan Tinggi Islam berperan aktif melalui integrasi mata kuliah Qiraat dalam kurikulum, pembinaan mahasiswa melalui halaqah dan penyelenggaraan pelatihan Qiraat, serta kerja sama dengan pesantren dan lembaga keagamaan. Selain itu, Perguruan Tinggi Islam juga berfungsi sebagai pusat kaderisasi qari dan pecinta Ilmu Qir’at yang berkompeten. Dengan demikian, Perguruan Tinggi Islam memiliki peran strategis dalam melestarikan ilmu Qiraat di Sumatera Barat, baik melalui pendidikan formal, kegiatan nonformal, maupun pengabdian kepada masyarakat. ABSTRACT: The science of Qiraat is one of the core disciplines of Qur’anic studies and plays a crucial role in preserving the authenticity of Qur’anic recitation. Amid the currents of modernization and the declining interest of younger generations in classical Islamic scholarship, the sustainability of Qiraat studies faces various challenges. Islamic higher education institutions, as centers for intellectual and scholarly development, bear a strategic responsibility in preserving and advancing this discipline. This study aims to analyze the role of Islamic higher education institutions in West Sumatra in maintaining the existence and continuity of the science of Qiraat. This research employs a qualitative method with a descriptive approach, utilizing observation, interviews, and documentation studies of curricula, academic activities, and Qiraat development programs. The findings indicate that Islamic higher education institutions play an active role through the integration of Qiraat courses into the curriculum, the mentoring of students through halaqah-based learning and the organization of Qira’at training programs, as well as collaboration with pesantren and religious institutions. Furthermore, these institutions function as centers for the regeneration of competent qāriʾ and scholars dedicated to the science of Qiraat. Thus, Islamic higher education institutions hold a strategic role in preserving the science of Qiraat in West Sumatra through formal education, non-formal activities, and community engagement.
Korupsi sebagai Kegagalan Moral: Tinjauan Etika Deontologis Immanuel Kant Jugan, Wenseslaus; Wijanarko, Robertus; Sudi, Yulius Defri
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i2.20741

Abstract

ABSTRAK: Fokus penelitian ini adalah membahas korupsi sebagai persoalan moral yang mendalam, bukan semata-mata sebagai pelanggaran hukum atau penyimpangan administratif. Melalui pendekatan etika deontologis Immanuel Kant, korupsi dianalisis sebagai tindakan yang bertentangan dengan prinsip kewajiban moral dan hukum moral universal. Dalam pandangan Kant, tindakan dianggap bermoral apabila dilakukan berdasarkan niat baik dan ketaatan terhadap prinsip yang dapat dijadikan hukum universal. Oleh karena itu, korupsi dipahami sebagai bentuk kegagalan moral karena dilakukan demi kepentingan pribadi dan mengabaikan tanggung jawab etis terhadap sesama dan masyarakat luas. Metodologi yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah studi pustaka dengan menelaah literatur filsafat moral yang secara khusus membahas pemikiran etika deontologis Immanuel Kant dan referensi terkait korupsi sebagai fenomena sosial. Pembacaan kritis atas literatur-literatur ini dibahas secara terperinci dalam artikel ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penanggulangan korupsi membutuhkan pendekatan yang tidak hanya bersifat struktural dan hukum, tetapi juga penguatan kesadaran moral individu berdasarkan prinsip-prinsip etika universal Kantian. ABSTRACT: The focus of this study is to examine corruption as a profound moral issue, not merely as a legal violation or administrative misconduct. Through the deontological ethical approach of Immanuel Kant, corruption is analyzed as an act that contradicts the principles of moral duty and universal moral law. According to Kant, an action is considered moral if it is carried out based on good will and adherence to principles that can be universally applied as law. Therefore, corruption is understood as a form of moral failure, as it is driven by personal interests and neglects ethical responsibilities toward others and the broader society. The methodology used in this research is a literature study by reviewing philosophical texts on moral ethics, particularly those discussing Immanuel Kant’s deontological thought, as well as references related to corruption as a social phenomenon. A critical reading of these literatures is discussed in detail in this article. The findings of this study indicate that efforts to eradicate corruption require not only structural and legal approaches, but also the strengthening of individual moral awareness based on Kantian universal ethical principles.
Scientific Authority in Crisis: A Dialogical Reflection between Bruno Latour and Syed Muhammad Naquib Al-Attas in The Post-Truth Era Hadi, Rahmad Tri; Putra, Rido; Rais, Zaim
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i2.23749

Abstract

ABSTRACT: In this article, the crisis of authority of science in the post-truth era is analyzed in a dialogical reflection between the science studies of Bruno Latour and the Islamic metaphysics of Syed Muhammad Naquib al-Attas. The context of the investigation is rooted in the challenge of public confidence in science, hoax information, as well as the rising impact of ideology rather than facts in decision-making. This article has a twofold purpose: first, to analyze with a comparative-hermeneutic dialogical approach the works of Latour and al-Attas, considering both philosophical backgrounds despite differences in scholarship, in relation to the challenge of science credibility; second, considering an in-depth review of both Latour’s science studies and al-Attas’ metaphysical thinking in an Islamic context. Articles in refereed journals, books, among other literature sources focusing on science education, science epistemology, as well as literature on Islamic thought, have been used in analyzing information in this article. The results of the analysis have shown commonalities between both Latour’s perspectives and al-Attas’ metaphysical thoughts in relation to a new vision emphasizing the reintegration of science into a metaphysical view. Latour requires a reassembly of science through the agency of a network model of socio-material actors, whereas al-Attas promotes the Islamization of knowledge on the basis of ta’dib and the Islamic worldview. In the conclusion, the current paper finds that there is a potential for a more nuanced and holistic approach through the dialogical encounter between the two models for addressing the problem of the crisis in the legitimation of science.ABSTRAK: Artikel ini mengkaji krisis epistemologis otoritas sains di era post-truth melalui refleksi dialogis antara studi sains Bruno Latour dan metafisika Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas. Latar belakang penelitian ini adalah merosotnya kepercayaan publik terhadap sains, maraknya misinformasi (hoax), serta meningkatnya pengaruh narasi ideologis dan emosional dibandingkan bukti empiris. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelusuri bagaimana Latour dan al-Attas, meskipun berasal dari tradisi filsafat yang sangat berbeda, secara kritis merespons krisis kredibilitas sains dan menawarkan kerangka epistemologis alternatif. Dengan menggunakan metode hermeneutik-dialogis dan komparatif, kajian ini menganalisis karya-karya utama kedua pemikir tersebut yang dikontekstualisasikan melalui literatur kontemporer tentang pendidikan sains, epistemologi, dan pemikiran Islam. Data penelitian diperoleh dari jurnal ilmiah, buku, dan literatur lainnya yang membahas pendidikan sains, krisis post-truth, dan Islamisasi ilmu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa baik Latour maupun al-Attas sama-sama mengkritik modernitas dan menekankan pentingnya mengembalikan sains ke dalam kerangka etika dan metafisika yang lebih luas. Latour menyerukan penyusunan ulang sains melalui jaringan aktor sosial-material, sementara al-Attas menggagas Islamisasi ilmu yang berlandaskan pada ta’dib dan pandangan hidup Islam. Artikel ini menyimpulkan bahwa pertemuan dialogis antara kedua kerangka ini dapat menawarkan respons yang lebih kaya dan holistik terhadap krisis legitimasi sains, serta mengarah pada epistemologi yang tidak hanya menekankan pengetahuan, tetapi juga kebijaksanaan dan makna.
Simbol dan Makna Spiritualitas pada Struktur Koreografi Tari Topeng Rumyang dalam Perspektif Semiotik Wahyudi, Ayu Vinlandari; Resmalasari, Septiani; Jayanti, Yunita Dwi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v11i2.23723

Abstract

ABSTRAK: Tari Topeng Rumyang merupakan salah satu jenis dari Tari Topeng Cirebon yang menggambarkan sosok manusia remaja yang lincah dan bijaksana. Dalam Tari Topeng Rumyang tersebut terkandung nilai serta makna simbolik dari sturktur koreografi, desain topeng, serta tata busananya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur koreografi Tari Topeng Rumyang dengan menggunakan pendekatan semiotik. Pendekatan semiotik digunakan untuk mengungkap makna gerakan Tari Topeng Rumyang sebagai sistem tanda yang mewakili nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat. Studi ini menjelaskan bagaimana tanda-tanda koreografis dari berbagai ragam gerak menyampaikan makna tertentu dengan menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce dan Roland Barthes. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui observasi Tari Topeng Rumyang, wawancara dengan seniman Tari Topeng Cirebon, dan dokumentasi terkait dengan struktur koreografi Tari Topeng Rumyang. Teknik analisis data yakni melalui pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur koreografi Tari Topeng Rumyang terdiri dari tahapan dramatik yang menggambarkan perjalanan spiritual manusia. Setiap gerakan memiliki hubungan simbolik yang kuat dengan prinsip-prinsip lokal seperti keselarasan hidup, kesucian, dan ketulusan. Melalui pendekatan semiotik, tari ini dapat dipahami sebagai teks budaya yang memuat sistem tanda kompleks, baik secara tekstual maupun kontekstual. Temuan ini menegaskan bahwa koreografi tidak hanya berfungsi sebagai bentuk estetika, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya dan spiritual. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pelestarian seni tari tradisional melalui kajian ilmiah, serta memperkaya pemahaman tentang makna simbolik dalam pertunjukan tari tradisional IndonesiaABSTRACT: Rumyang Mask Dance is one type of Cirebon Mask Dance that depicts a lively and wise teenager. The Rumyang Mask Dance contains values and symbolic meanings in its choreography, mask design, and costume design. This study aims to analyze the choreographic structure of the Rumyang Mask Dance using a semiotic approach. The semiotic approach is used to reveal the meaning of the movements of the Rumyang Mask Dance as a system of signs representing the cultural and spiritual values of the community. This study explains how the choreographic signs of various movements convey specific meanings using the semiotic theories of Charles Sanders Peirce and Roland Barthes. Data collection techniques were obtained through observation of the Rumyang Mask Dance, interviews with Cirebon Mask Dance artists, and documentation related to the choreographic structure of the Rumyang Mask Dance. Data analysis techniques included data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study show that the choreographic structure of the Rumyang Mask Dance consists of dramatic stages that depict the spiritual journey of humanity. Each movement has a strong symbolic connection to local principles such as harmony in life, purity, and sincerity. Through a semiotic approach, this dance can be understood as a cultural text containing a complex system of signs, both textual and contextual. This finding affirms that choreography not only functions as an aesthetic form but also as a medium of cultural and spiritual communication. This research is expected to contribute to the preservation of traditional dance through scientific study, as well as enriching understanding of the symbolic meaning in traditional Indonesian dance performances.