cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur?an & Keislaman
ISSN : 23380349     EISSN : 23380349     DOI : -
Jurnal Syahadah merupakan jurnal Ilmu al-Qur’an dan keislaman dengan kajian multidisipliner, terbit dua kali dalam satu tahun (April dan Oktober), dikelola oleh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri Tembilahan. Redaksi menerima tulisan yang relevan selama mengikuti petunjuk penulisan yang ditetapkan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 1 (2017)" : 5 Documents clear
TAFSIR AYAT-AYAT HUKUM TENTANG PERNIKAHAN BEDA AGAMA Menurut Rasyid Ridha dan al-Maraghi Desri Ari Enghariano; Amaruddin Asra
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.101 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v5i1.128

Abstract

Masalah pernikahan beda agama telah menjadi wacana sekaligus realita yang aktual dan relevan untuk dikaji. Aktual, karena masalah ini terus menjadi polemik para ulama dan relevan karena pernikahan beda agama ini masih sering terjadi terutama dalam masyarakat yang hidup berdampingan antar agama atau masyarakat yang plural. Praktek pernikahan beda agama, disadari maupun tidak, merupakan salah satu problem sosial kemasyarakatan yang telah menjadi realita empirik dengan grafik kuantitasnya yang semakin meninggi. Fenomena tersebut, di satu sisi merupakan bagian dari permasalahan yang menuntut jawaban hukum Islam. Di sisi lain juga merupakan problem krusial yang senantiasa mengharapkan sekaligus menuntut jawaban arif bijaksana dari para ulama. Rasyid Ridha dan al-Maraghi sebagai seorang mufassir, yang mana masalah sosial ini juga terjadi di masa mereka, ikut andil mencarikan solusi hukum dalam al-Qur’an terhadap permasalah nikah beda agama yang terjadi di kalangan umat ini. Pendapat mereka dalam masalah ini cukup dinamis dan kontroversial. Tulisan ini akan menelisik pandangan kedua mufasir tersebut dan membandingkannya untuk melihat manakah pandangan yang lebih relefan bagi kehidupan kontemporer saat ini.
PARADIGMA TAFSIR AHKAM KONTEMPORER Studi Kitab Rawai’u al-Bayan Karya ‘Ali al-Shabuniy Syafril Syafril; Fiddian Khairudin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.537 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v5i1.129

Abstract

Dalam sejarahnya, perkembangan penafsiran al-Qur’an dapat dipetakan dalam tiga periode; klasik, pertengahan dan modern/kontemporer. Tafsir al-Qur’an yang lahir dari ketiga periode tersebut memiliki karakteristik dan paradigma yang berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan setting sosial-kultural masyarakat yang menjadi background pemikiran mufasir dan kecenderungan serta keilmuan yang ditekuninya. Tulisan ini akan mengkaji pemikiran seorang mufasir kontemporer- ‘Ali al-Shabuniy dalam kitab tafsirnya yang berjudul Rawai’u al-Bayan. Secara lebih spesifik, tulisan ini menelisik karakteristik dan paradigma tafsir ahkam karya al-Shabuniy dan perbedaannya dengan tafsir-tafsir ahkam yang muncul pada periode sebelumnya. Sebagai seorang mufasir kontemporer, al-Shabuniy sudah membangun suatu paradigma baru dalam penafsiran ayat-ayat hukum, baik secara teologis, metodologis, maupun aksiologis.
QIRAAT PADA AYAT-AYAT AHKĀM DAN PENGARUHNYA TERHADAP HUKUM FIKIH Miftah Khilmi Hidayatulloh
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.199 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v5i1.130

Abstract

Perbedaan hukum fikih yang terjadi antara fuqahā' merupakan fakta yang terjadi sejak lahirnya fikih hingga saat ini. Diantara penyebab terjadinya fenomena ini adalah adanya perbedaan qirā‘āt pada ayat-ayat ahkām dalam Al-Qur'an. Penelitian ini akan mengurai fakta tersebut. Berbagai perbedaan qirā‘āt pada ayat-ayat ahkām akan dibahas satu persatu. Sehingga fakta ini benar-benar terungkap dan dapat dijadikan data untuk penelitian. Penulis menemukan bahwa fenomena ini hanya terjadi pada delapan ayat ahkām. Dari delapan ayat tersebut, hanya dua yang bisa diterima sebagai perbedaan qirā‘āt. Hal ini karena perbedaan qirā‘āt pada ayat-ayat ahkām lainnya tidak memenuhi ketentuan yang seharusnya.
DARI TAFSIR KE PEMAKNAAN HUKUM Studi Penafsiran Abdul Hamid Hakim Tentang Perluasan Makna Ahli Kitab dan Implikasinya Terhadap Argumentasi Perkawinan Muslim Dengan Wanita Ahli Kitab Nasrullah Nasrullah
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.164 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v5i1.126

Abstract

Artikel ini mendiskusikan suatu pendapat yang cukup kontroversial dalam konteks keulamaan di Nusantara pada akhir abad 20. Pendapat itu dikemukakaan oleh Abdul Hamid Hakim dari Padang Panjang Sumatera Barat tentang penafsiran perluasan makna ahli kitab dalam al-Qur’an yang berdampak pada signifikansi hukum. Menurut Hakim, konsep ahli kitab dapat ditafsirkan secara lebih luas dari hanya sekedar makna klasik yang merujuk pada Yahudi dan Nasrani an sich. Namun bisa dicakupkan pada agama selain dua di atas dalam koridor syibh/serupa ahli kitab seperti Majuzi, Shabi’in, Budha, Hindu dan sebagainya. Dari segi corak pendapat mengenai batasan makna ahli kitab, Hakim tergolong pada golongan yang apresiatif dan inklusif dalam memaknainya. Dalam konteks inilah lalu cakupan luas itu berdampak pada aspek hukum, khususnya mengenai perkawinan muslim dengan wanita ahli kitab dari golongan agama yang diperluas tersebut. Hakim berkesimpulan bahwa sepanjang perkawinan muslim dengan wanita ahli kitab dan bukan sebaliknya, berdasarkan ayat ke 5 dari surat al-Maidah yang men-takhsish keumuman larangan menikahi wanita musyrikat dalam surat al-Baqarah ayat 221, maka bisa dibenarkan dengan alasan tertentu yang ketat. Alasan perkawinan menjadi dibenarkan jika suami muslim bisa menarik sang istri kepada agamanya dan mendidik istrinya tersebut sebagaimana pengalaman yang dilakukan beberapa sahabat Nabi. Namun jika sebaliknya, sang suami terancam dengan keimanannya maka perkawinan itu demi hifz ad-din dan menampik mafsadat dalam teori kaidah fiqih dan ushul fiqih, maka perkawinan itu pun demi hukum dilarang/diharamkan.
METODE PEMAHAMAN MUHAMMAD SYAHRÛR TERHADAP AYAT-AYAT HUKUM Syofrianisda Syofrianisda; Dewi Murni
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.152 KB) | DOI: 10.32495/.v5i1.127

Abstract

Syahrûr as instigators of techniques can also be viewed as an observer of Islamic science, especially concerning the interpretation of legal verses of the famous al-hudud nazhariyyah theory (theoretical limit). Nazhariyyahal-Hudûd Muhammad Syahrûr is the ordinance of God against the limits of his terms in the Qur'an that should not be exceeded. The limit is there are six forms, namely the minimum limit, the maximum limits, maximum and minimum limits, minimum limits as well as maximum limits, maximum limits are close to straight lines and minimal restrictions that may be skipped but the maximum limit should not be skipped. Nazhariyyahal-Hudud foundation drawn from the word hudûd contained in the al-Quran al-Nisa 'verse 13, and in operational use Linguistic structuralism approach. This theory can be applied among others in the problems mahram who put in a minimum limit, the penalty of hand amputation for theft as the perpetrators of the maximum limit, the problem of polygamy in the position of minimum and maximum limits, penalty 100 times flogging for adultery as well as limit the maximum threshold, the physical relationship between men and women in positions close to the maximum limit straight line, and the permissibility of interest does not reach 100% is charged to those who have capital as the minimum limit that may be skipped and the maximum limits that should not be skipped.

Page 1 of 1 | Total Record : 5