cover
Contact Name
Siti Ikramatoun
Contact Email
siti.ikramatoun@unsyiah.ac.id
Phone
+626517555267
Journal Mail Official
sosiologiusk@gmail.com
Editorial Address
Gedung Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, Jln. Tgk Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi)
ISSN : 22525254     EISSN : 26548143     DOI : https://doi.org/10.24815/jsu
Jurnal Sosiologi USK (JSU) mengundang para Dosen, Praktisi dan Peneliti untuk mempublikasikan naskahnya pada JSU yang terbit setiap bulan Juni dan Desember setiap tahunnya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 117 Documents
Pola Rekrutmen Bacaleg Perempuan Partai Keadilan Sejahtera pada Pemilu 2019 di Kota Banda Aceh Aminah Aminah; Sri Mulyani; Ubaidullah Ubaidullah
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i2.20899

Abstract

Since the reform era, women in Indonesia have begun to be reconsidered in various aspects, including being a part of policymakers and political contestation. It can be seen from implementing affirmative action policies, which obliges every political party to include the national level management and legislative candidates for at least 30% women. The recruitment process for legislative candidates interesting to discuss because the candidates not only from party cadres but including non-cadres. Especially women candidates that sometimes had no basis and experiences in politics also recruited. This study aims to determine the Partai Keadilan Sejahtera (PKS) recruitment patterns in determining women's candidates for the 2019 general election in Banda Aceh City. The research method used is descriptive qualitative. This study concluded that PKS uses a candidate's recruitment pattern with an open and closed system with the Barber model and always pays attention to each candidate's motivation sources and opportunities. AbstrakSejak era reformasi, perempuan di Indonesia mulai dipertimbangkan kembali dalam berbagai aspek, termasuk menjadi pembuat kebijakan dan kontestasi politik. Hal ini terlihat dari penerapan kebijakan affirmative action yang mewajibkan setiap parpol untuk mengikutsertakan pengurus tingkat nasional dan calon legislatif minimal 30% perempuan. Proses rekrutmen calon legislatif menarik untuk dibahas karena calon tidak hanya dari kader partai tapi termasuk non kader. Apalagi calon perempuan yang terkadang tidak punya dasar dan pengalaman di bidang politik pun ikut direkrut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola rekrutmen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam penentuan calon perempuan pada pemilihan umum 2019 di Kota Banda Aceh. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa PKS menggunakan pola rekrutmen calon dengan sistem terbuka dan tertutup model Barber dan selalu memperhatikan sumber motivasi dan peluang masing-masing calon. 
Kejahatan Sunyi: Potret Pelecehan Seksual Buruh Perempuan Rufaidah Aslamiah; Milda Longgeita Pinem
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i1.17759

Abstract

The number of female workers has begun to show equality between men and women. However, the workforce sector is very prone to gender injustice, one of which is sexual harassment of women workers. A study in 2017 conducted by Perempuan Mahardhika shows that 56.5% of 773 workers had experienced some forms of sexual harassment in the workplace, especially at KBN Cakung. Based on this, questions arise to be able to find out how the portrait of sexual harassment of women workers at KBN Cakung. This study aims to reveal the voices of women workers against silent crime in the workplace. This study uses a feminist standpoints method to acknowledge women's voices. In this study, a purposive technique accompanied by a gatekeeper determined the informants. The results of this study indicate a portrait of sexual harassment experienced by female workers, both verbally, psychologically, as well as physically. There are four forms of harassment found outside the 16 established forms, namely voyeurism, online-based sexual harassment, forced dating with a marriage mode and also intimidation. The existence of reduction carried out by the structure makes silent crime unable to be categorized as the dominant discourse about crime, a new model of crime that cannot be framed by a conventional paradigm. AbstrakSemakin banyaknya keterlibatan perempuan di sektor publik seperti bidang ketenagakerjaan, maka dipercaya hadir pula kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Namun, keyakinan seperti itu ternyata tidak cukup karena pada kenyataannya masih banyak buruh perempuan mengalami sexual harassment. Salah satu kasus pelecehan seksual tersebut dikaji oleh organisasi Perempuan Mahardhika pada tahun 2017 yang menunjukkan bahwa sekitar 56,5% dari 773 buruh perempuan di KBN Cakung pernah mengalami bentuk pelecehan seksual. Berdasarkan data tersebut, muncul pertanyaan terkait potret pelecehan seksual buruh perempuan di KBN Cakung. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap suara para buruh perempuan dalam melawan kejahatan sunyi atau kejahatan yang tidak teridentifikasi di tempat kerja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian feminist standpoint yang berfungsi untuk mengangkat suara buruh perempuan. Teknik penentuan informan adalah purposive, dengan didampingi oleh gate keeper atau mereka yang bisa memberi akses bagi para buruh perempuan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan potret pelecehan seksual yang dialami oleh buruh perempuan baik secara verbal, psikis, maupun fisik. Ditemukan empat bentuk pelecehan di luar 16 bentuk yang sudah diidentifikasi yakni voyeurisme, pelecehan seksual berbasis online, kencan paksa dengan modus dinikahi, dan juga adanya intimidasi. Adanya kecenderungan reduksi defenisi kriminalitas oleh perspektif formal atau konvensional, membuat kejahatan sunyi yang dialami buruh perempuan seringkali tidak dilihat sebagai praktek kriminalitas.
Fenomena Pungli dan Patologi Birokrasi Muhammad Hasyem; Ferizaldi Ferizaldi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i2.19521

Abstract

Extortion is an illegal levy or request for payment of an amount of money that is not appropriate or is not based on the prevailing laws. The root of and the widespread phenomenon of extortion in Indonesia is a form of legacy of the past, from the era of feudalism to the present modern era. The various forms, types, patterns, and colors of the extortion phenomenon have been entrenched as if they are normal, legal, lawful, permissible, and customary. The impact is that free extortion is carried out in society because the community views it as something normal, what it is, it has always been so, and even someone becomes alienated if they do not give tips/rewards for receiving a service. Sometimes someone also feels ashamed for not giving tips as a result of offering something or offering bribes or rewards so that it is facilitated, prioritized, privileged and other things to be served quickly. History records that the long phenomenon of corruption is increasingly rampant and increasingly difficult to detect in various cases in different time and space. AbstrakPungli atau pungutan liar adalah permintaan pembayaran sejumlah uang yang tidak sah berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Berakarnya dan merebaknya fenomena pungli di Indonesia adalah salah satu bentuk warisan atau peninggalan masa silam, dari masa feodalisme hingga masa modern sekarang ini. Berbagai bentuk, ragam, corak, dan warna fenomena pungli telah membudaya dimana seakan-akan hal tersebut adalah hal biasa, sah, resmi, halal, legal, diperbolehkan, dan dibiasakan. Dampaknya pungli bebas dilakukan dalam masyarakat dikarenakan masyarakat memandang sebagai sesuatu yang wajar, apa adanya, memang demikian dari dahulu, bahkan seseorang menjadi terasing bila tidak memberikan tip/imbalan setiap menerima suatu pelayanan. Terkadang seseorang juga timbul rasa malu karena tidak memberikan uang tip (uang pelicin, uang rokok, atau uang minum) akibat menyodorkan sesuatu atau menawarkan sogokan atau imbalan agar dipermudah, didahulukan, diistimewakan dan hal-hal lain agar dilayani dengan cepat. Sejarah mencatat bahwa fenomena panjang korupsi semakin merajalela dan semakin sulit terdeteksi di berbagai kasus dalam ruang dan waktu yang berbeda pula.
Pamer Kemewahan: Kajian Teori Konsumsi Thorstein Veblen Indra Setia Bakti; Anismar Anismar; Khairul Amin
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i1.18109

Abstract

This article aims to discuss Thorstein Veblen's perspective about the behavior of waste or excessive consumption by the leisure class. This article uses the library research to understanding the perspective of Veblen's theory of consumption. We review Veblen's work, The Theory of the Leisure Class, as the main note complemented by relevant books and journals to support this study. The leisure class in this regard act deliberately to display their wealth. The newly rich group flaunted the luxury of their life with a motive to accommodate their desire for social respect and social status. The leisure class realizes their social actions through conspicuous leisure time consumption and conspicuous consumption of goods characterized by imitative and emulative behavior among the actors involved in it. The conspicuous consumption behavior produces élite taste which in turn has a social impact that affects the class behavior of the lower strata.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mendiskusikan sudut pandang Thorstein Veblen dalam melihat perilaku konsumsi berlebihan yang dilakukan oleh kelas sosial tertentu dalam masyarakat. Studi ini menggunakan metode kajian pustaka dalam memahami perspektif teori konsumsi Veblen. Data dalam artikel ini bersumber dari karya-larya Veblen sendiri, The Theory of the Leisure Class, serta buku-buku dan jurnal-jurnal yang relevan dalam mendukung artikel ini. Perilaku ini rupanya lahir dari sebuah konteks sosial dimana kelompok orang kaya baru mencoba mengakomodasi hasrat mereka akan penghargaan sosial dan status sosial. Hal ini diwujudkan melalui konsumsi waktu luang mencolok dan konsumsi barang mencolok yang ditandai dengan perilaku imitatif dan emulatif diantara aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Perilaku konsumsi mencolok menghasilkan selera elite yang selanjutnya meluas dan berdampak secara sosial dimana mempengaruhi perilaku kelas dari strata yang lebih rendah
Modal Sosial dan Kearifan Lokan dalam Pengelolaan Hutan: Studi Kasus di Kawasan Hutan Gampong Kunci Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara Rakhmadsyah Putra Rangkuti; Amiruddin Ketaren; Darmadi Ridwan
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i2.18894

Abstract

The natural environment becomes the primary source for humans' lives to fulfill their daily needs. Life necessities encourage humans to adapt in various ways according to their abilities. The diversity of local cultures contains norms, ethics, and moral values that emphasize to preservation environment. These values integrated and becoming a guide in behaving and interacting with nature. Forest is a part of the customary community unit in Aceh, and there are customary laws to regulate the lives of the people related to the forest. Forest management in customary law in Aceh is a manifestation of local wisdom that is still guarded by the community. It has become social capital for the Acehnese people who have been passed to maintain environmental equilibrium. The utilization of social capital in forest management base on customary law has encouraged the village social institutions to make the community prosperous.AbstrakLingkungan alam menjadi sumber utama kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan hidup mendorong manusia untuk beradaptasi dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuannya. Keragaman budaya lokal mengandung norma, etika, dan nilai moral yang mengedepankan kelestarian lingkungan. Nilai-nilai tersebut terintegrasi dan menjadi pedoman dalam berperilaku dan berinteraksi dengan alam. Hutan merupakan bagian dari kesatuan masyarakat adat di Aceh, dan terdapat hukum adat yang mengatur kehidupan masyarakat terkait dengan hutan. Pengelolaan hutan dalam hukum adat di Aceh merupakan perwujudan kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat. Hal tersebut menjadi modal sosial bagi masyarakat Aceh yang telah dilalui untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Pemanfaatan modal sosial dalam pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat telah mendorong kelembagaan sosial desa untuk ikut menyejahterakan masyarakat.
Modal Sosial pada Industri Kecil Menengah di Kelurahan Purbalingga Lor Dea Ayu Pusparini; Nurhadi Nurhadi; Sigit Pranawa
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i1.18167

Abstract

This research aims at explaining and understanding how Small and Medium Enterprises (SMEs) of vehicle exhaust in Purbalingga Lor utilize social capital in improving their company’s performance. This research used Qualitative Method and Case-Study Approach. Data of this research was collected through a series of in-depth interviews, observations, and documentation. The intake of informants was done through a snowball sampling technique. Data validated by source and technique triangulation. Data were analyzed by using the Interactive Analysis Model. The result of this research shows that the actors involved in SMEs of vehicle exhaust in Purbalingga Lor consist of raw material suppliers, craftsmen, resellers, consumers, associations, and related government agencies. The actors maintain good relations with each other, build mutual trust and networks, and create regulating norms. The social capital has been able to improve the enterprise’s performance and support the business development and expansion of vehicle exhaust in PurbalinggaAbstrakTujuan penelitian ini untuk menjelaskan dan mengetahui modal sosial pada Industri Kecil Menengah knalpot di Kelurahan Purbalingga Lor mampu meningkatkan kelangsungan perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data penelitian ini diperoleh melalui wawancara, dokumentasi dan observasi. Pengambilan informan dilakukan dengan teknik snowball sampling. Validitas data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Analisis data menggunakan model analisis interaktif.  Hasil dari peneltian ini dapat diketahui aktor yang terlibat di dalam Industri Kecil Menengah Knalpot di Kelurahan Purbalingga Lor terdiri dari pemasok bahan baku, pengrajin, reseller, konsumen, pihak asosiasi dan pemerintah dinas terkait. Para aktor saling menjaga hubungan baik satu sama lain, di antara mereka saling menjaga kepercayaan, membangun jaringan dan terdapat norma yang mengatur. Modal sosial mampu meningkatkan kinerja usaha knalpot dan bisa mendukung serta mengembangkan Industri Kecil Menengah Knalpot di Purbalingga.
Proses, Motif, dan Upaya Keluarga dalam Melaksanakan Resepsi Pernikahan di Gampong Teupin Baja Aceh Utara Eviana Eviana; Alwi Alwi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i2.19835

Abstract

This study focuses on the process of implementing a wedding reception, the motives that encourage the culture of a wedding reception, and the efforts made by poor families in holding their children's wedding receptions in Gampong Teupin Banja, Muara Batu District, North Aceh Regency. The research method used in this research is a qualitative method with a descriptive approach. The results of this study conclude that the process of implementing a wedding reception is (1) informing the geuchiek of the wedding reception, (2) carrying out the Duek Pakat event, (3) informing the organizer of the wedding reception equipment, and (4) conducting the wedding reception. The motives that encourage the culture of wedding receptions carried out by the community are (1) signaling that they have married, (2) avoiding social sanctions from the community, (3) strengthening family relations with relatives, and (4) wanting to be seen as the economically capable. Efforts made by poor families to carry out wedding receptions are (1) owing materials for the wedding reception, (2) selling their livestock, (3) setting aside the rice harvest, and (4) pawning the fields.AbstrakPenelitian ini mengfokuskan pada proses pelaksanaan resepsi pernikahan, motif yang mendorong budaya resepsi pernikahan, dan upaya yang dilakukan oleh keluarga miskin dalam mengadakan resepsi pernikahan anaknya di Gampong Teupin Banja Kecamatan Muara Batu Kabupaten Aceh Utara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini menyimpulkan proses pelaksanaan resepsi pernikahan adalah (1) memberitahukan pelaksanaan resepsi pernikahan kepada geuchiek, (2) melaksanakan acara Duek Pakat, (3) memberitahukan pihak pengelola perlengkapan resepsi pernikahan, dan (4) melaksanakan  acara resepsi pernikahan. Motif yang mendorong budaya resepsi pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat adalah (1) menandakan telah melangsungkan pernikahan, (2) menghindari sanksi sosial masyarakat, (3) mempererat hubungan kekeluargaan dengan kerabat, dan (4) ingin dipandang sebagai orang mampu dalam melaksanakan resepsi pernikahan. Upaya yang dilakukan oleh keluarga miskin untuk melaksanakan resepsi pernikahan adalah (1) mengutang bahan keperluan pelaksanaan resepsi pernikahan, (2) menjual hewan ternak yang dimilikinya, (3) menyisihkan hasil panen padi, dan (4) menggadai sawah.
Relasi Agama dan Masyarakat dalam Perspektif Emile Durkheim dan Karl Marx Hanifa Maulidia
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i2.17506

Abstract

This article talks about the relation of religion and society according to the views of two sociologists, are Emile Durkheim and Karl Marx. This paper begins with the definition of religion, how religion can emerge and develop, followed by the definition of religion according to Durkheim and Marx. Relation of religion and society according to Durkheim is very intimate because religion is formed from social current, that is from the existence of collective effervescence towards collective consciousness, when traditional societies perform worship rituals by purifying something called totem. In contrast to Marx's opinion which explains that religion can reduce pain due to pressure from all life problems experienced by society. Writer used study of literature and the results of this article are forms of cumulative theoretical descriptions.  Abstrak Artikel ini berbicara mengenai relasi agama dan masyarakat menurut pandangan kedua tokoh sosiologi yaitu Emile Durkheim dan Karl Marx. Tulisan ini diawali dengan definisi agama, bagaimana agama dapat muncul dan berkembang yang dilanjutkan oleh definisi agama menurut Durkheim dan Marx. Relasi agama dan masyarakat menurut Durkheim sangatlah intim karena agama terbentuk dari social current (arus sosial) yaitu dari adanya collective effervescence (kesadaran kolektif) menuju collective consciousness, ketika masyarakat tradisional melakukan ritual-ritual peribadatan dengan mensucikan sesuatu yang disebut dengan totem. Berbeda dengan pendapat Marx yang menjelaskan bahwa agama dapat mengurangi rasa sakit akibat tekanan dari segala permasalahan hidup yang dialami oleh masyarakat. Penulis menggunakan kajian kepustakaan yang hasil tulisan ini adalah berupa deskripsi-deskripsi teoritis yang sifatnya kumulatif.
Ulama: Roh Kebudayaan untuk Rekonsiliasi di Aceh Muhammad Sahlan; Khairul Amin; Ade Ikhsan Kamil; Iromi Ilham
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i2.18460

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang posisi Ulama Aceh sebagai roh kebudayaan untuk proses rekonsiliasi pasca konflik Aceh. Dengan menggunakan metode kualitatif pendekatan deskriptif, artikel ini menunjukkan bahwa dalam konteks sosio kultural masyarakat aceh, posisi ulama masih menempati strata yang tinggi. Kontribusi dan peran ulama dalam lintas sejarah hingga saat ini telah mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh.  Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa dimensi kultural ulama sebagai ruh kebudayaan masyarakat Aceh dapat menjadi solusi dari rekonsiliasi Aceh untuk perdamaian yang berkelanjutan. Hal ini berarti bahwa pelibatan ulama aceh secara praktis dalam kerja rekonsiliasi dapat menjadi salah satu faktor pendukung perdamaian berkelanjutan di Aceh.
Kontruksi Sosial dan Eksistensi Perempuan Bercadar Yuva Ayuning Anjar; Bukhari Bukhari; Nova Hary Utari
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v15i1.21989

Abstract

The veil on women is not always the result of doctrine. The development of women's thoughts in the modern era makes women free to make choices about what they will wear. This article tries to read the veil phenomenon on women through a phenomenological perspective. Research informants were several members of the Majelis Halaqatul Qulub. As a result, the women's decision to use the veil in the Halaqatul Qulub Assembly went through a process of social construction so that they could interpret the veil itself. The veil as part of identity has also been successfully recognized by the surrounding environment because they have succeeded in voicing their choice in using the veil. AbstrakCadar pada perempuan tidak selalu hasil doktrinasi. Perkembangan pemikiran para perempuan era modern membuat perempuan bebas menentukan pilihan mengenai apa yang akan mereka kenakan. Artikel ini mencoba membaca fenomena cadar pada perempuan tersebut melalui perspektif fenomenologi. Informan penelitian adalah beberapa anggota pengajian Majelis Halaqatul Qulub Banda Aceh. Hasilnya keputusan para perempuan menggunakan cadar di Majelis Halaqatul Qulub telah melalui proses konstruksi sosial hingga mereka dapat memaknai cadar itu sendiri. Cadar sebagai bagian dari identitas juga berhasil diakui keberadaanya oleh lingkungan sekitarnya karena mereka berhasil menyuarakan pilihannya dalam menggunakan cadar

Page 7 of 12 | Total Record : 117