cover
Contact Name
Didik Supriyanto
Contact Email
didiksupriyanto21@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmodeling@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. mojokerto,
Jawa timur
INDONESIA
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI
ISSN : 24423661     EISSN : 2477667X     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 1,305 Documents
Supervisi Kepala Sekolah dalam Membina Kompetensi Pedagogik Guru PAI Sholihudin, Bagus; Astutik, Anita Puji
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 11 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v11i1.2476

Abstract

Supervisi Kepala Sekolah Dalam Membina Kompetensi Pedagogik Guru PAI berperan sangat penting dan merupakan salah satu kunci keberhasilan lembaga pendidikan baik dalam proses maupun output. Penelitian ini berfokus pada supervisi akademik dan supervisi administrasi kepala sekolah dalam membina kompetensi pedagogik guru PAI di SDN Pojok 1 Kediri. Penelitian ini menggunakan penelitian kulalitatif dan Sulmbelr data dalam pelnellitian ini telrdiri dari data primelr dan data selkulndelr. Telknik pelngulmpullan data melnggulnakan telknik wawancara, obselrvasi dan dokulmelntasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepala sekolah SDN Pojok 1 Kediri telah melaksanakan supervisi akademik dan administrasi dalam membina kompetensi pedagogik guru PAI yang dilakukan sangat komunikatif dan harmonis. Dan hasil supervisi kepala sekolah dalam membina kompetensi pedagogik guru yang dilaksanakan diantaranya yaitu: Kepala sekolah memeriksa perangkat ajar guru memeriksa kelengkapan berkas administrasi pembelajaran seperti Promes, Prota, Silabus, RPP, Modul Ajar dan lan-lain sesuai standar penilaian. Kedua kepala sekolah mengecek berkas administrasi dan menyesuaikan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Ketiga, memperbaiki dan membina ketika ditemukan ketidak sesuaian antara perangkat ajar dengan pelaksanaan pembelajaran di kelas, kepala sekolah melakukan penilaian perangkat ajar dan pelaksanaan pembelajaran. Kepala sekolah dengan cara diskusi kelompok atau secara individu mengoreksi, membina dan membantu guru untuk memperbaiki kesalahan dari hasil supervisi. Keempat, kepala sekolah menindak lanjuti kegiatan supervisi pada penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar, teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada guru yang belum memenuhi standar, dan guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/diklat lebih lanjut.
Inovasi Pendidikan Islam melalui Peningkatan Profesionalitas Guru Agama Islam Sitorus, Muhammad Rum; Pohon, Sonya Elsa Triyana; Ismail, Ismail; Farabi, Mohammad Al
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 11 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v11i1.2477

Abstract

Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Kemampuan seorang guru dalam menghadapi era pendidikan 4.0 dengan kemajuan Iptek yang semakin pesat harus selalu diasah. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana penerapan dan urgensi dari Inovasi Pendidikan Islam Melalui Peningkatan Profesionalitas Guru Agama Islam. Penelitian ini menggunakan teknik studi literatur dari berbagai penelitian yang sudah ada yang mana peneliti menjabarkan mengenaiinovasi pendidikan islam melalui peningkatan profesionalitas guru agama Islam. Studi literatur merupakan kegiatan untuk mencari sebagian teori dari beberapa referensi yang relevan dengan topik pembahasan atau masalah yang sudah penulis temukan. Kesimpulan dari artikel ini adalah: (1) Professional secara istilah dapat diartikan sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan atau dididik untuk melaksanakan pekerjaan tersebut dan mereka mendapat imbalan atau hasil berupa upah atau uang karena melaksanakan pekerjaan tersebut. (2) Kompetensi profesional guru sangat dibutuhkan sebagai upaya proses pembelajaran yang lebih baik, sehingga peserta didik akan termotivasi untuk belajar dan berprestasi. Karena guru yang profesional akan mampu melaksanakan strategi pembelajaran dan menyajikan materi dengan baik dan menyenangkan dan tidak hanya berorentasi kepada ketuntasan belajar saja tetapi proses tumbuh kembang potensi peserta didik yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. (3) Inovasi pendidikan adalah suatu perubahan yang baru dan bersifat kualitatif, berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta diusahakan untuk meningkatkan kemampuan profesional tenaga pendidik (kepala sekolah dan guru) dan untuk memecahkan masalah tenaga kependidikan yang belum dapat diatasi dengan cara-cara yang konvensional. Untuk lebih mendekatkan pemahaman kita terhadap inovasi pendidikan tenaga pendidik (upaya profesionalisasi), Maka dalam konteks profesionalisasi, istilah profesi dapat dijelaskan dengan tiga pendekatan (approach), yaitu pendekatan karakteristik, pendekatan institusional, dan pendekatan legalistik. Abstract Teachers are educators, who become figures, role models and identification for students and their environment. A teacher's ability to face the era of education 4.0 with increasingly rapid advances in science and technology must always be honed. This article aims to see the implementation and urgency of Islamic Education Innovation through Increasing the Professionalism of Islamic Teachers. This research uses literature study techniques from various existing studies in which researchers describe innovations in Islamic education through increasing the professionalism of Islamic religious teachers. Literature study is an activity to search for some theories from several references that are relevant to the topic of discussion or problem that the author has found. The conclusions of this article are: (1) . Professional in terms can be interpreted as work carried out by those who are specifically prepared or educated to carry out the work and they receive rewards or results in the form of wages or money for carrying out the work. (2) Teacher professional competence is really needed as an effort to improve the learning process, so that students will be motivated to learn and achieve. Because professional teachers will be able to implement learning strategies and present material well and in a fun way and not only oriented towards learning completeness but also the process of potential growth and development of students which includes cognitive, affective and psychomotor aspects. (3) Educational innovation is a change that is new and qualitative in nature, different from what existed before and is sought to improve the professional abilities of teaching staff (school principals and teachers) and to solve problems of educational staff that cannot be resolved using conventional methods. . To bring our understanding closer to the educational innovation of teaching staff (professionalization efforts), in the context of professionalization, the term profession can be explained using three approaches, namely the characteristic approach, the institutional approach, and the legalistic approach.
Implementasi Nilai-nilai Responsif Gender dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah Ibtida’iyah Ni'mah, Khoiru; Fahyuni, Eni Fariyatul
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 11 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v11i1.2478

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana nilai-nilai pendidikan Islam tentang responsif gender diterapkan di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Penelitian ini termasuk field research atau penelitian lapangan, dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan fenomenologis dengan waktu tempuh empat bulan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana guru Pendidikan Agama Islam dan siswa mereka menerapkan nilai-nilai pendidikan Islam yang berkaitan dengan responsif gender di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip responsif gender dalam pendidikan agama Islam telah diterapkan pada aktivitas di sekolah. Kegiatan ini masih sederhana karena sekolah hanya melakukan kegiatan tambahan. Faktor internal dan eksternal mendukung pelaksanaan pendidikan agama Islam berbasis responsif gender. Faktor internal termasuk kepala sekolah, guru, kurikulum, dan materi pelajaran khusus gender, dan faktor eksternal termasuk orang tua dan lingkungan sekolah. Penanaman nilai-nilai pendidikan Islam tentang gender dilakukan dengan memberikan pelatihan dan pendalaman materi pendidikan Islam tentang pemahaman gender, dan membentuk lembaga khusus untuk mengawasi perilaku guru yang melakukan diskriminasi terhadap gender tertentu merupakan solusi yang diambil oleh sekolah untuk mengatasi tantangan untuk menerapkan nilai-nilai pendidikan Islam berbasis responsif gender.
Penerapan Metode Drill dalam Upaya Penanaman Karakter Anak melalui Budaya Positif di Sekolah Lukman Khakim, Mohamad; Astutik, Anita Puji
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 11 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v11i1.2479

Abstract

Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui bagaimana metode latihan yang diterapkan sebagai upaya penanaman karakter siswa melalui budaya positif di sekolah.. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, display data dan verifikasi data. Metode drill adalah suatu metode yang pembelajarannya melibatkan pelaksanaan kegiatan latihan secara berulang-ulang dan terus menerus dengan tujuan membentuk kebiasaan siswa agar mempunyai karakter yang positif. Temuan menunjukkan bahwa hampir seluruh siswa menunjukkan karakter positif dalam kurun waktu tiga bulan melalui penerapan metode drill sebagai upaya penanaman karakter melalui budaya positif berupa kesepakatan kelas. Upaya penguatan pendidikan karakter di sekolah dasar dapat dilaksanakan dengan melibatkan siswa secara langsung dalam menulis dan mendiskusikan kesepakatan kelas. Hal ini akan menciptakan keinginan pada siswa untuk bertanggung jawab atas perjanjian yang telah dibuat. Terbukti para siswa SD Darul Hikmah Kediri antusias dan terlibat aktif dalam membuat kesepakatan kelas berulang kali setiap harinya sehingga terciptanya perjanjian kelas menyadarkan siswa secara penuh bahwa dirinya bertanggung jawab untuk menaati perjanjian yang telah dibuat dan melahirkan karakter yang baik dalam diri siswa antara lain disiplin, tanggung jawab, toleransi, hormat dan sopan santun.
Sosiologi Pendidikan Mannheim (Sebuah Refleksi) Purwanto, Purwanto
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 8 No. 2 (2021): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v8i2.2480

Abstract

Refleksi didefinisikan sebagai upaya untuk mencapai sudut pandang yang lebih tinggi untuk melihat situasi secara keseluruhan daripada hanya melihat fakta-fakta yang terisolasi. Pendekatan interdisipliner Mannheim terhadap pendidikan dan sosiologi pendidikan meliputi; (1). Tujuan Sosiologi Pendidikan, (2). Pengembangan Kurikulum dan Fungsi Sekolah, (3). Meninjau Ulang Posisi Nilai Mannheim dan Kaitannya dengan Tujuan Pendidikan, (4). Perdebatan Individualis-Kolektivis dalam Pendidikan, (5). Sifat Sosial-Psikologis Individu dan Perkembangan Kepribadian sebagai Aspek Pendidikan dan Pembelajaran, (6). Psikologi dan Pembelajaran, (7). Frustrasi, (8). Peran Guru dalam Pendidikan Kreatif, (9). Asumsi Naturalistik dan Teori Pembelajaran, (10). Faktor Sosiologis, (11). Pembelajaran dan Pengembangan di Sekolah, dan; (12). Ruang Kelas. Perspektif berbagai disiplin ilmu yang disebutkan, perlu upaya refleksi. Pembahasan refleksi sosiologi pendidikan inilah yang akan dibahas dalam tulisn ini. Penelitian ini adalah jenis penelitian library research dengan menggunakan pisau analisis deskriptif analisis. Hasil penelitian ini adalah: (1) Ada konsistensi dan kesinambungan dalam teori sosial Mannheim dan sosiologi pendidikannya. Mannheim berusaha mengkoordinasikan temuan-temuan epistemologisnya; usahanya untuk menemukan setidaknya seperangkat nilai yang bersifat sementara (temporary) dan relasional (relational) yang akan menjadi panduan untuk bertindak. (2) Mannheim meneliti faktor kepribadian, budaya, dan sosiologis atau struktural yang terlibat dalam proses pendidikan. Pembahasannya adalah rangkuman pengetahuan kontemporer yang paling relevan. Ia meninjau teori-teori kepribadian, gagasan tentang ciri-ciri budaya dasar suatu zaman, dan studi sosiologis tentang proses pendidikan. (3) Mannheim mencatat bahwa ada prasyarat fungsional (functional prerequisites) dari struktur dan budaya serta individu. Mannheim merasa bahwa pendidikan harus terdiri dari pengembangan untuk hidup. Pendidikan harus memberikan akar bagi stabilitas serta keamanan yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan. Pendidikan harus memberikan pengetahuan yang akurat tentang; dunia tempat kita hidup agar kita dapat menemukan tempat kita di dunia sebagai individu dan memiliki dasar minimal pengetahuan umum dan tujuan yang disepakati bersama dalam perspektif waktu historis tertentu. Abstract Reflection is defined as an attempt to reach a higher vantage point to see the situation as a whole rather than just looking at isolated facts. Mannheim's interdisciplinary approach to education and the sociology of education includes; (1). Purpose of Sociology of Education, (2). Curriculum Development and School Functions, (3). Revisiting Mannheim's Value Position and its Relation to the Purpose of Education, (4). The Individualist-Collectivist Debate in Education, (5). Socio-Psychological Nature of Individuals and Personality Development as Aspects of Education and Learning, (6). Psychology and Learning, (7). Frustration, (8). The Role of the Teacher in Creative Education, (9). Naturalistic Assumptions and Learning Theories, (10). Sociological Factors, (11). Learning and Development in Schools, and; (12). Classroom. The perspectives of the various disciplines mentioned, need reflection efforts. The discussion of reflection on the sociology of education is what will be discussed in this paper. This research is a type of library research using a descriptive analysis analysis. The results of this study are: (1) There is consistency and continuity in Mannheim's social theory and his sociology of education. Mannheim attempted to coordinate his epistemological findings; his attempt to find at least a set of temporary and relational values that would guide action. (2) Mannheim examined the personality, cultural, and sociological or structural factors involved in the educational process. His discussion is a summary of the most relevant contemporary knowledge. He reviewed personality theories, ideas about the basic cultural traits of an era, and sociological studies of the educational process. (3) Mannheim noted that there are functional prerequisites of structure and culture as well as the individual. Mannheim felt that education should consist of development for life. Education should provide the roots for the stability and security needed to deal with change. Education should provide accurate knowledge of the world we live in so that we can find our place in the world as individuals and have a minimal basis of common knowledge and goals that are mutually agreed upon within a specific historical time perspective.
Kritik Terhadap Multikulturalisme Dan Pendidikan Multikultural Purwanto, Purwanto
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 9 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v9i1.2481

Abstract

Banyak kontroversi mengenai multikulturalisme. Di antara para pengkritik multikulturalisme adalah argumen perspektif liberal-individualis (liberal-individualist perspectives) dan perspektif pendidik kritis (critical educators' perspectives). Dalam artikel ini, bukan mengulangi kembali kontroversi yang banyak diperdebatkan melainkan mendeskripsikan gambaran bagaimana para kritikus multikulturalisme menafsirkan dan merepresentasikan konsep tersebut. Penelitian ini adalah jenis penelitian library research dengan menggunakan pisau analisis deskriptif analisis. Hasil pembahasan tulisan ini adalah: [1]. Para kritikus liberal menganggap tesis di balik multikulturalisme dan pendidikan multikultural ini bermasalah. Kritik utama mereka; multikulturalisme sebagai separatisme, multikulturalisme sebagai etnosentrisme budaya, multikulturalisme sebagai determinisme dan fundamentalisme budaya, dan; budaya sebagai sumber identitas dipertanyakan. Para kritikus liberal memandang ‘multikulturalisme’ dan ‘pendidikan multikultural’ sebagai sebuah prinsip yang mendukung pentingnya identitas budaya di atas segalanya. Mereka lebih melihat kerugian dari menghormati budaya dengan cara-cara yang dianjurkan oleh para multikulturalis, karena hal tersebut menyiratkan partikularisme budaya yang dapat mendorong fundamentalisme budaya (cultural fundamentalism), etnosentrisme (ethnocentrism), dan stereotip budaya (cultural stereotypes). Dengan kata lain, para kritikus liberal berpikir bahwa perlindungan identitas budaya dan pengembangan otonomi individu saling bertentangan. Selanjutnya, [2]. para pendidik kritis menilai pendekatan pendidikan multikultural yang ada saat ini tidak bersifat transformatif atau memberdayakan. Multikulturalisme dinilai sebagai pendekatan yang ambigu dan pasif yang hanya "merayakan keragaman budaya," sambil menghindari isu-isu sosial yang lebih serius seperti kesetaraan, diskriminasi, dan penindasan ekonomi. Abstract There is much controversy about multiculturalism. Among the critics of multiculturalism are arguments from liberal-individualist perspectives and critical educators' perspectives. In this article, rather than rehashing the much-debated controversy, we describe how critics of multiculturalism interpret and represent the concept. This research is a type of library research using descriptive analysis. The results of the discussion of this paper are: [1]. Liberal critics consider the thesis behind multiculturalism and multicultural education to be problematic. Their main criticisms are; multiculturalism as separatism, multiculturalism as cultural ethnocentrism, multiculturalism as cultural determinism and fundamentalism, and; culture as a source of identity is questioned. Liberal critics view 'multiculturalism' and 'multicultural education' as a principle that supports the importance of cultural identity above all else. They rather see the disadvantages of respecting culture in the ways advocated by multiculturalists, as it implies cultural particularism that can encourage cultural fundamentalism, ethnocentrism, and cultural stereotypes. In other words, liberal critics think that the protection of cultural identity and the development of individual autonomy are in conflict. Furthermore, [2]. The critical educators think that current multicultural education approaches are not transformative or empowering. Multiculturalism is seen as an ambiguous and passive approach that only "celebrates cultural diversity," while avoiding more serious social issues such as equality, discrimination, and economic oppression.
Penggunaan At-Tartil dalam Pembelajaran Al-Qur’an Lahuddin, Anas; Astutik, Anita Puji
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 11 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v11i1.2482

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana metode latihan yang diterapkan sebagai upaya penanaman karakter siswa melalui budaya positif di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, display data dan verifikasi data. Metode drill adalah suatu metode yang pembelajarannya melibatkan pelaksanaan kegiatan latihan secara berulang-ulang dan terus menerus dengan tujuan membentuk kebiasaan siswa agar mempunyai karakter yang positif. Temuan menunjukkan bahwa hampir seluruh siswa menunjukkan karakter positif dalam kurun waktu tiga bulan melalui penerapan metode drill sebagai upaya penanaman karakter melalui budaya positif berupa kesepakatan kelas. Upaya penguatan pendidikan karakter di sekolah dasar dapat dilaksanakan dengan melibatkan siswa secara langsung dalam menulis dan mendiskusikan kesepakatan kelas. Hal ini akan menciptakan keinginan pada siswa untuk bertanggung jawab atas perjanjian yang telah dibuat. Terbukti para siswa SD Darul Hikmah Kediri antusias dan terlibat aktif dalam membuat kesepakatan kelas berulang kali setiap harinya sehingga terciptanya perjanjian kelas menyadarkan siswa secara penuh bahwa dirinya bertanggung jawab untuk menaati perjanjian yang telah dibuat dan melahirkan karakter yang baik dalam diri siswa antara lain disiplin, tanggung jawab, toleransi, hormat dan sopan santun.
Konsep-konsep Sosiologi Pengetahuan dan Pendidikan Mannheim Purwanto, Purwanto
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 9 No. 3 (2022): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v9i3.2483

Abstract

Ada satu masalah yang menjadi pusat perhatian Mannheim di sepanjang kariernya; dan ini melibatkan sifat makna. Ketika Mannheim mengajukan pertanyaan utama tentang sosiologi pengetahuan, yaitu “How men actually think?" Bagi Mannheim, diagnosis sosial merupakan metode untuk menentukan dalam kondisi apa individu, kelompok, atau masyarakat hidup: (a) tanpa makna, atau (b) dengan makna yang khas pada masanya. Untuk memahami hubungan antara nilai-nilai sosial, epistemologi, sosiologi pengetahuan, diagnosis sosial, sosiologi politik, dan sosiologi pendidikan Mannheim, perlu kiranya dipahami konsep-konsep teorinya. Karena itulah, berikut ini akan dielaborasi konsep-konsep sosiologi pengetahuan dan pendidikan Mannheim. Penelitian ini adalah jenis penelitian library research dengan menggunakan pisau analisis deskriptif analisis. Prosedur dasarnya adalah mengevaluasi karya-karya Mannheim dan membedakan antara posisi dan asumsi dasarnya dalam bidang nilai, epistemologi, sosiologi pengetahuan, diagnosis sosial, sosiologi politik, dan sosiologi pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep-konsep Sosiologi Pengetahuan Dan Pendidikan Karl Mannheim adalah: 1. Masyarakat yang terdiri dari struktur, budaya, dan keperibadian (Society as constituted of structure, culture, and personality), 2. Interpretasi (Interpretation), 3. Pengetahuan (Knowledge), 4. Pemikiran Ideologis dan Utopis (Ideological and Utopian Thinking), 5. Utopia, 6. Pemikiran yang Realistis atau Sesuai dengan Situasi (realistic or situationally congruous thought), 7. Intelektual yang Relatif Tidak Terikat Secara Sosial (The Relatively socially-unattached Intellectual), 8. Kebebasan (Freedom), 9. Pendidikan (Education), dan 10. Diagnosis Sosial (Social Diagnosis). Karya Mannheim sangat penting untuk menghubungkan pertanyaan-pertanyaan nilai tentang orang dan masyarakat seperti pertanyaan-pertanyaan diagnostik sosial tentang sifat realitas dan ide-ide kita tentang realitas. Juga, jembatan antara kita ingin menjadi seperti apa, dan menjadi seperti apa, perlu dibangun di atas sistem pendidikan yang kita rancang. Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari kodifikasi pandangan Mannheim tentang isu-isu ini. Abstract There is one issue that has been at the center of Mannheim's attention throughout his career; and this involves the nature of meaning. When Mannheim posed the central question of the sociology of knowledge, namely "How do men actually think?" For Mannheim, social diagnosis was a method for determining under what conditions individuals, groups, or societies live: (a) without meaning, or (b) with meaning unique to their time. To understand the relationship between Mannheim's social values, epistemology, sociology of knowledge, social diagnosis, political sociology, and sociology of education, it is necessary to understand his theoretical concepts. Therefore, the following will elaborate on the concepts of Mannheim's sociology of knowledge and education. This research is a type of library research using descriptive analysis. The basic procedure is to evaluate Mannheim's works and distinguish between his basic positions and assumptions in the fields of value, epistemology, sociology of knowledge, social diagnosis, political sociology, and sociology of education. The results show that Karl Mannheim's concepts of Sociology of Knowledge and Education are: 1. Society as constituted of structure, culture, and personality, 2. Interpretation, 3. Knowledge, 4. Ideological and Utopian Thinking, 5. Utopia, 6. Realistic or situationally congruous thought, 7. The Relatively socially-unattached Intellectual, 8. Freedom, 9. Education, and 10. Social Diagnosis. Mannheim's work is crucial for connecting value questions about people and society as well as social diagnostic questions about the nature of reality and our ideas about reality. Also, the bridge between what we want to be, and what we want to become, needs to be built on the education system we design. There is much to be learned from Mannheim's codification of views on these issues.
Mannheim dan Para Pengkritiknya (Sebuah Tinjauan Literatur) Purwanto, Purwanto
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 10 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v10i1.2484

Abstract

Para ahli berpendapat bahwa karya-karya Mannheim tidak mewakili keseluruhan secara kongruen. Pemikiran dan karya Mannheim dianggap mengalami perubahan penekanan (changes of emphasis), meskipun terbukti bahwa tema dan perhatian yang saling mengintegrasikan, yang menjadi korelasi mengintegrasikan seluruh karya Mannheim. Tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi kritik terhadap pemikiran dan karya Mannheim. Penelitian ini adalah jenis penelitian library research dengan menggunakan pisau analisis deskriptif analisis. Hasil penelitian adalah: Pertama; Kritik terhadap pemikiran dan karya Mannheim adalah: (1) teori pengetahuan Mannheim, meskipun rumusan pengetahuan dapat menjelaskan bagaimana ide-ide muncul, rumusan tersebut tidak dapat menjelaskan apakah ide-ide tersebut benar atau salah; (2) Kesalahan terbesar teori Mannheim, menganggap kaum intelektual adalah sebuah kelas seperti kelas-kelas lainnya, bukannya tidak terikat, tetapi seperti setiap kelas, terikat pada lokasi sosial yang spesifik. (3) Pemikiran Mannheim tidak dapat direduksi menjadi relativisme total, sebab mengabaikan elemen universalistik, inklusif, dan normatif yang melingkupi pemikirannya. (4). Mannheim tidak pernah menawarkan perbedaan yang jelas antara tingkat ilmu pengetahuan dan akal sehat, antara penilaian rasional dan cara-cara tradisional yang mendasar, atau antara jenis-jenis pengetahuan lainnya. Pada intinya para ahli berpendapat bahwa karya-karya Mannheim tidak mewakili keseluruhan secara kongruen. Menurut penulis, pernyataan posisi pemikiran Mannheim beradaptasi dengan argumen kesesuaian (argument of congruence). Abstract Scholars argue that Mannheim's works do not represent a congruent whole. Mannheim's thought and works are considered to undergo changes of emphasis, although it is evident that the themes and concerns that integrate each other, which become correlates, integrate all of Mannheim's works. This paper aims to elaborate critiques of Mannheim's thought and work. This research is a type of library research using a descriptive analytical analysis knife. The results of the research are: First; Criticisms of Mannheim's thoughts and works are: (1) Mannheim's theory of knowledge, although the formulation of knowledge can explain how ideas arise, the formulation cannot explain whether the ideas are true or false; (2) The biggest mistake of Mannheim's theory, assuming the intellectuals are a class like other classes, is not unbound, but like every class, is bound to a specific social location. (3) Mannheim's thought cannot be reduced to total relativism, as it ignores the universalistic, inclusive, and normative elements that pervade his thought. (4). Mannheim never offers a clear distinction between the levels of science and common sense, between rational judgment and basic traditional ways, or between other types of knowledge. In essence, scholars argue that Mannheim's works do not represent a congruent whole. According to the author, the statement of Mannheim's position of thought adapts to the argument of congruence.
Antara ‘Multikulturalisme’ dan Pendidikan Multikultural (Sebuah Autokritik) Purwanto, Purwanto
MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Vol. 10 No. 3 (2023): September
Publisher : Program Studi PGMI Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Hikmah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69896/modeling.v10i3.2485

Abstract

Multikulturalisme adalah disiplin yang rumit dan kontroversial yang mencakup berbagai kebijakan dan praktik. tulisan ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi dasar-dasar teoritis multikulturalisme dan pendidikan multikultural dalam masyarakat yang secara budaya beragam, liberal, dan demokratis. Penelitian ini adalah jenis penelitian library research dengan menggunakan pisau analisis deskriptif analisis. Hasil penelitian ini adalah: Pertama, multikulturalisme dapat dipahami sebagai ‘sebuah nilai dan prinsip politik yang bertujuan untuk mempromosikan koeksistensi yang damai dan bermakna antara kelompok-kelompok yang berbeda secara budaya dengan melindungi warisan budaya dan identitas masyarakat. Kedua, ada empat jenis multikulturalisme, iaitu: oposisi (oppositional), dominan (dominant), liberal (liberal), dan ‘multikulturalisme mainstream’ (mainstream multiculturalism). Penulis akan menunjukkan bahwa ‘multikulturalisme mainstream’ bisa dan semestinya diterapkan. Argumen utamanya bahwa ‘multikulturalisme mainstream’ tidak mendukung identitas budaya yang terpisah, nasionalisme budaya, atau determinisme budaya seperti yang diklaim oleh banyak pengkritik multikulturalisme. Abstract Multiculturalism is a complex and controversial discipline that encompasses a wide range of policies and practices. This paper is intended to explore the theoretical foundations of multiculturalism and multicultural education in a culturally diverse, liberal, and democratic society. This research is a type of library research using a descriptive analytical analysis knife. The results of this research are: First, multiculturalism can be understood as 'a political value and principle that aims to promote peaceful and meaningful coexistence between culturally different groups by protecting the cultural heritage and identity of society. Second, there are four types of multiculturalism, namely: oppositional, dominant, liberal, and 'mainstream multiculturalism'. The author will show that 'mainstream multiculturalism' can and should be applied. The main argument is that 'mainstream multiculturalism' does not support separate cultural identities, cultural nationalism, or cultural determinism as many critics of multiculturalism claim.