cover
Contact Name
Ahmad Nimatullah Al-Baarri, PhD
Contact Email
redaksi@ift.or.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi@ift.or.id
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Articles 216 Documents
PENGARUH PEMBERIAN ASAP CAIR DAN METODE PENGEMASAN TERHADAP KUALITAS DAN TINGKAT KESUKAAN DENDENG SAPI SELAMA PENYIMPANAN S Rahayu; V P Bintoro; Kusrahayu Kusrahayu
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 4 (2012): November 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.173 KB)

Abstract

Penggunaan asap cair pada pembuatan dendeng sapi dapat mempertahankan kualitas, memiliki daya terima pada konsumen serta memiliki masa simpan yang lebih lama. Pengemasan secara vakum ditujukan untuk menambah daya simpan dendeng. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan dendeng sapi dengan kualitas yang baik dan diterima oleh konsumen serta mengetahui pengaruh interaksi antara pemberian asap cair dan metode pengemasan yang berbeda terhadap aktivitas air, total mikroba, angka TBA, pH, warna dan uji kesukaan dendeng sapi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan 2 faktor (2 x 4 perlakuan) dan 4 ulangan dengan penyimpanan selama 4 bulan pada inkubator climacell (metode ASLT). Faktor A adalah pemberian asap cair (tanpa asap cair, asap cair 2%, 3% dan 5%) dan faktor B adalah metode pengemasan (pengemasan vakum dengan plastik nylon dan dan pengemasan non vakum menggunakan plastik PE). Hasil dari penelitian ini adalah tidak ada interaksi antar perlakuan pada masing-masing variabel dari awal sampai akhir penyimpanan kecuali pada total mikroba pada penyimpanan selama 1 sampai 4 bulan. Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian asap cair dan pengemasan secara vakum dapat mempertahankan kualitas dendeng sapi. Pemberian asap pada dendeng sapi dapat diterima oleh konsumen. Hasil terbaik secara keseluruhan adalah penambahan asap cair 3% dan pengemasan secara vakum.
Perbedaan Karateristik Oligofruktosa dan Komposisi Serat Inulin Hasil Hidrolisis dan tanpa Hidrolisis Enzim Inulinase Acremonium Sp-Cbs3 dari Umbi Dahlia Merah (Dahlia sp. L) Lokal untuk Anti Kolesterol Agustine Susilowati; Puspa D Lotulung; Yetti Mulyati Iskandar; Aspiyanto Aspiyanto
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.782 KB) | DOI: 10.17728/jatp.v4i4.5

Abstract

Fruktooligosakarida (FOS) yang dihasilkan oleh umbi dahlia merah (Dahlia sp. L) Sukabumi melalui ekstraksi secara kimia maupun hidrolisis enzimatik berpotensi sebagai serat larut air (SDF) untuk anti kolesterol. Ekstraksi inulin secara kimia dihasilkan inulin A, sedangkan hidrolisis enzimatik dilakukan terhadap inulin A menggunakan enzim inulinase kasar kapang Acremonium sp-CBS3 dihasilkan hidrolisat inulin B. Karakterisasi dilakukan terhadap komposisi kimia dan idensifikasi oligomer menggunakan LCMS. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan komposisi dan karateristik oligomer kedua bahan tersebut. Berdasarkan intensitas dan jumlah keluaran peak pada kromatogram diketahui bahwa hidrolisat inulin B lebih banyak menghasilkan peak (5) dibandingkan dengan inulin tanpa hidrolisis(A) (1 peak). Pada keadaan ini hidrolisat inulin menghasilkan oligomer dengan intensitas 100% berturut-turut sebagai T 1,9, T 2,4, T 2,6, T 3,1 danT 3,4 yang di dominasi oligomer berberat molekul berturut-turut sebesar 186, 202, 174, 174 dan 174 Da dengan kata lain oligomer berberat molekul 174 Da lebih mendominasi dibandingkan oligomer yang lain, sedangkan gel inulin didominasi oligomer berberat molekul lebih tinggi (181 Da) yang ditunjukkan pada mass spektra dari T 3,3. Hal ini menunjukkan bahwa  perolehan SDF melalui hidrolisis menggunakan kapang Acremonium sp-CBS3 menghasilkan oligomer dengan berat molekul rata-rata yang lebih rendah sehingga dimungkinkan lebih tinggi sifat fungsionalnya sebagai anti kolesterol
Analisis Kandungan Gizi, Nilai Energi, dan Uji Organoleptik Cookies Tepung Beras dengan Substitusi Tepung Sukun Fauzia Kusuma Wulandari; Bhakti Etza Setiani; Siti Susanti
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 4 (2016): November 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.729 KB) | DOI: 10.17728/jatp.183

Abstract

Penelitian pembuatan cookies tepung beras yang disubstitusi dengan tepung sukun dilakukan untuk mengeksplorasi karakteristik dari kandungan gizi, nilai energi, dan uji organoleptik yang dihasilkan oleh cookies tersebut. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat, kadar abu, kadar serat kasar, nilai energi, dan organoleptik. Untuk mengamati parameter tersebut, penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 kali ulangan dengan mensubstitusi bahan baku tepung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air terendah pada konsentrasi 10% dan 50%, kadar protein terendah pada konsentrasi 50%, kadar lemak terendah pada konsentrasi 0%, kadar karbohidrat terendah pada konsentrasi 30%, kadar abu terendah pada konsentrasi 0%, kadar serat kasar terendah pada konsentrasi 0%, dan nilai energi terendah pada konsentrasi 30%. Uji organoleptik kesukaan yang paling disukai oleh panelis adalah cookies dengan konsentrasi 0%. Semakin besar konsentrasi substitusi tepung sukun berakibat menurunkan kesukaan secara keseluruhan terhadap cookies tepung beras dengan substitusi tepung sukun yang dihasilkan.
Analisis Sifat Fisik, Sifat Organoleptik, dan Kandungan Gizi pada Produk Tempe dari Kacang Non-Kedelai Ani Radiati; Sumarto Sumarto
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.954 KB) | DOI: 10.17728/jatp.v5i1.32

Abstract

Kebutuhan akan kedelai sebagai bahan baku tempe masih harus dipenuhi sebagian besarnya dari impor. Untuk itu, perlu dilakukan kajian untuk mencari bahan baku lain dari kacang non-kedelai asli dari produksi dalam negeri untuk menggantikan kedelai. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh penggunaan kacang non-kedelai terhadap sifat fisik, daya terima secara organoleptik, dan kandungan gizi produk tempe dari kacang non-kedelai. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen murni (true experiment) dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Kacang non-kedelai yang dianalisis adalah kacang bogor, kacang hijau,kacang merah, dan kacang tanah. Proses pembuatan tempe dari kacang non-kedelai (kacang bogor, kacang hijau, kacang merah, dan kacang tanah) pada prinsipnya sama dengan proses pembuatan tempe dari kacang kedelai. Prinsip dasar pembuatan tempe adalah pembersihan, pencucian, perebusan, perendaman, pencucian, penambahan inokulum, pengemasan dan fermentasi. Pengemasan yang baik adalah dengan menggunakan pengemas daun pisang. Sifat fisik (rendemen dan kadar air) tempe kacang non-kedelai hampir sama dengan tempe kacang kedelai. Sifat organoleptik kacang non-kedelai masih dapat diterima oleh panelis. Kandungan gizi (energi, karbohidrat, protein, dan lemak) tempe kacang non-kedelai berbeda dengan tempe kacang kedelai. Hasil ini menunjukkan bahwa kacang-kacangan tersebut berpotensi untuk dikembangkan menjadi alternatif bahan baku subtitusi kacang kedelai dalam pembuatan tempe.
PENGARUH PENAMBAHAN MADU TERHADAP MUTU YOGHURT JAGUNG (Zea mays Indurata) R Nofrianti; F Azima; R Eliyasmi
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.468 KB)

Abstract

The study of the making of corn (Zea mays Indurata) extract yoghurt by adding 2%, 4%, 6% 8% and 10% honey concentration had been done. The purpose of this study is to find the precise honey concentration to produce corn yoghurt with good quality according to SNI 2981:2009. This study consist of 5 treatments and 3 replications, and was designed by factorial complete random design.  The data was analysed with varian analysis with F test  and DNMRT test  with significancy level of 5%. Measurement included corn extract, starter and corn yoghurt. The result of the study showed that the nutrients content of corn yoghurt with 2%-10% honey concentration has meet SNI 2981:2009 standart. The highest nutrient content was corn yoghurt with 10% honey concentration, with content analysis result : protein 3,15%, fat 2,73%, total solid 20,54%, pH 3,8, total lactic acid 0,85%, ash 0,32%, rough fiber 4,49%, vicosity 4,66 dPa.s, total lactid acid bacterias 5,3x108 CFU/ml and total plate 6,6 x 108 (CFU/ml). The organoleptic test shown that the most preferable is corn yoghurt with 8 % honey concentration with the score of appearance 3,7, taste 3,6, consistensy 3,9, colour 3,7 and flavour 3,6.
Spirulina platensis: POTENSINYA SEBAGAI BAHAN PANGAN FUNGSIONAL M Christwardana; M M A Nur; Hadiyanto Hadiyanto
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.408 KB)

Abstract

Fungsi bahan pangan saat ini tidak hanya untuk memenuhi rasa lapar saja, tetapi juga digunakan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran bagi manusia. Konsumsi nutrisi khususnya protein oleh manusia sangat kurang karena ketersediaan makanan sehat yang kurang serta pola makan manusia yang tidak teratur. Protein adalah zat yang penting bagi manusia, serta bahan pembentuk enzim dan hormon dalam tubuh. Manusia membutuhkan sekitar 1 g protein / kg berat badan per hari. Untuk memenuhi kebutuhan protein, cara alternatif yang digunakan adalah untuk memproduksi makanan fungsional atau suplemen yang mengandung protein tinggi seperti dari ganggang Spirulina sp. Spirulina adalah cyanobacteria berbentuk spiral, memiliki klorofil, dan mengandung protein sekitar 50-70% berat kering, beberapa vitamin dan mineral. Spirulina platensis dapat dibudidayakan pada media air tawar, air payau atau air laut. Untuk kebutuhan obat-obatan dan makanan manusia, Spirulina platensis dibudidayakan di air tawar lebih baik karena memiliki kandungan protein yang tinggi dan kandungan sodium rendah. Spirulina platensis dibudidayakan di media air laut memiliki fikosianin dan karbohidrat yang tinggi, dan memiliki biaya produksi rendah. Spirulina yang dibudidayakan menggunakan media air laut juga cenderung memiliki kandungan natrium tinggi sehingga tidak baik bagi kesehatan. Ulasan ini menggambarkan potensi penggunaan dari Spirulina sebagai sumber protein untuk makanan fungsional. Dalam makalah ini penerapan biomassa Spirulina akan ditampilkan dalam aplikasi makanan dan farmasi.
Analisis Indeks Glikemik dan Komposisi Gizi Keripik Simulasi Substitusi Tepung Bekatul dengan Tepung Labu Kuning Wayan Trisnawati
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.231 KB) | DOI: 10.17728/jatp.235

Abstract

Pola konsumsi masyarakat Indonesia menyukai camilan tinggi kandungan lemak dan gula. Konsumsi makanan tinggi lemak dan gula yang berlebihan dapat menyebabkan obesitas dan merupakan salah satu pemicu penyakit degeneratif. Camilan atau snack adalah jenis makanan ringan yang dikonsumsi pada pagi dan sore hari. Camilan yang beredar dipasaran kurang memperhatikan kandungan gizi dan umumnya tinggi kandungan lemak, gula, dan penyedap rasa. Salah satu jenis camilan yang memiliki kandungan gizi lengkap, mengandung antioksidan dan serat pangan adalah keripik simulasi dengan bahan tepung bekatul substitusi dengan tepung labu kuning. Tujuan penelitian ini adalah mengatahui indeks glikemik (IG) keripik simulasi tepung bekatul substitusi dengan tepung labu kuning. Penelitian pengukuran IG menggunakan relawan manusia sehat. Sebagai pembanding digunakan sampel keripik sejenis yang sudah dijual dipasaran. Hasil pengukuran IG keripik simulasi tepung bekatul substitusi tepung labu kuning memiliki nilai IG 51 (rendah) dengan beban glikemik (BG) sedang (13). Sedangkan keripik pembanding memiliki nilai IG tinggi (87) dengan BG 21 (tinggi). Jadi produk kerpik simulasi tepung bekatul substitusi dengan tepung labu kuning sangat sesuai dijadikan camilan sehat karena memiliki IG renah dengan BG sedang.Indonesia consumption patterns like a snack high in fat and sugar. Consumption of foods high in fat and sugar overload can lead to obesity and is one trigger degenerative diseases. The snack was kind of snacks consumed in the morning and evening. Snacks on the market less attention to the nutrients and are generally high in fat, sugar, and flavorings. One type of snack that has a complete nutritional content, contain antioxidants and fiber food is chips simulation with material substitution bran flour with flour pumpkin. The purpose of this research is know the glycemic index (GI) chips simulation bran flour flour substitution with pumpkin. IG measurement study using healthy human volunteers. For comparison samples used similar chips that have been sold in the market. The measurement results of simulation chips IG bran flour flour substitution pumpkin has a GI value of 51 (low) and glycemic load (BG) medium (13). While chips comparator has a high GI value (87) with BG 21 (high). So the simulation chips product bran flour substitution with pumpkin flour is very suitable used as a healthy snack because it has a moderate GI Renah with BG. 
KADAR SERAT, SIFAT ORGANOLEPTIK, DAN RENDEMEN NUGGET AYAM YANG DISUBSTITUSI DENGAN JAMUR TIRAM PUTIH (Plerotus ostreatus) S N Permadi; S Mulyani; A Hintono
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 4 (2012): November 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.97 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar serat, sifat organoleptik, dan rendemen nugget ayam yang disubstitusi dengan jamur tiram putih. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging ayam dan jamur tiram putih. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Parameter yang diambil adalah kadar serat, sifat organoleptik, dan rendemen. Perlakuan yang diterapkan yaitu nugget ayam tanpa substitusi jamur tiram putih (T0), nugget ayam dengan substitusi jamur tiram putih 20 % (T1), nugget ayam dengan substitusi jamur tiram putih 30 % (T2), nugget ayam dengan substitusi jamur tiram putih 40 %(T3), dan nugget ayam dengan substitusi jamur tiram putih 50 % (T4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi nugget ayam dengan jamur tiram putih berpengaruh yang sangat nyata (P<0,01) pada kadar serat, tetapi tidak memberikan pengaruh yang sangat nyata (P>0,01) pada randemen; sedangkan perlakuan menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) pada sifat organoleptik warna dan tekstur , walaupun perlakuan tidak memberikan pengaruh yang sangat nyata (P>0,01) pada tingkat kesukaan. Kesimpulannya, jamur tiram putih mampu meningkatkan kandungan serat kasar pada nugget sehingga memberikan nilai fungsional yang lebih baik pada produk nugget tanpa mempengaruhi nilai rendemen dan sifat organoleptik kesukaan.
LACTOPEROXIDASE IMMOBILIZED ONTO VARIOUS BEADS FOR PRODUCING NATURAL PRESERVATIVES SOLUTION Ahmad Ni&#039;matullah Al-Baarri; M Ogawa; T Visalsok; S Hayakawa
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Februari 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.857 KB) | DOI: 10.17728/jatp.52

Abstract

The natural preservative agent of hypothiocyanite (OSCN–) has been succeded to determine using immobilized LPO onto various types of beads or matrixes: SP Sepharose Fast Flow (SP-FF), SP Sepharose Big Beads (SP-BB), CNBr activated SP Sepharose (SP-CNBR). Lactoperoxidase (LPO) was obtained from bovine milk. The immobilization method was performed using ion exhange method and adsorption. Immobilized LPO onto matrixes has been stored for 7 days at 4˚C and 10˚C. Data of the production of OSCN– were collected before and after immobilized LPO storage. Data shows no remarkable effect of the production of OSCN– using immobilized LPO stored at 4˚C, however, the remarkable reduction has been detected in the production of OSCN– using immobilized LPO that was stored at 10˚C. As a conclusion, the 7 days storage does not change the capability of immobilized LPO for producing OSCN if the immobilized LPO was stored at 4˚C. 
Perbaikan Sifat Tepung Ubi Kayu Melalui Proses Fermentasi Sawut Ubi Kayu dengan Starter Bakteri Asam Laktat Annisa Kusumaningrum; Siswo Sumardiono
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.968 KB) | DOI: 10.17728/jatp.8

Abstract

Produksi ubi kayu di Indonesia mencapai total produksi sebesar 28.000.000 ton/tahun. Ubi kayu ini sangat besar potensinya untuk dimanfaatkan sebagai tepung ubi kayu termodifikasi. Salah satu metode untuk memodifikasi ubi kayu yaitu dengan proses fermentasi ubikayu menggunakan starter bakteri asam laktat Lactobacillus casei. Pada proses fermentasi sawut ubi kayu, mikroba yang tumbuh menghasilkan enzim yang dapat menghancurkan sel ubi kayu dan mendegradasi polimer pati menjadi lebih pendek. Proses degradasi granula pati ini menyebabkan perubahan sifat fisikokimia terutama daya kembang dari tepung ubi kayu yang dihasilkan. Variabel yang mempengaruhi proses fermentasi yaitu konsentrasi starter bakteri asam laktat dan waktu fermentasi sawut ubi kayu. Sifat fisikokimia tepung ubi kayu dengan perlakuan fermentasi dapat mencapai hasil yang lebih baik. Penelitian fermentasi yang telah dilakukan, menyatakan bahwa fermentasi 48 jam dan konsentrasi 6 % v/v menunjukan nilai swelling power, tingkat pengembangan papatan, dan viskositas  yang sangat baik. Nilai baking expansion dan hardness juga menunjukkan nilai yang cukup baik. Artikel ini mengulas kesimpulan penelitian yang pernah dilakukan penulis dan peneliti lainnya untuk didapat komparasi hasil-hasil penelitian.