cover
Contact Name
M Taufik Rahmadi
Contact Email
taufikrahmadi@unimed.ac.id
Phone
+6281262337575
Journal Mail Official
jurnalgeografi@unimed.ac.id
Editorial Address
Jalan Willem Iskandar Pasar V Medan Estate, 20221, Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Geografi
ISSN : 20858167     EISSN : 25497057     DOI : -
Jurnal Geografi is published as a scientific communication media in the field of Geography Education in particular and Geography in general, as well as other related fields, for faculty members, alumni of Geography Education both from the Faculty of Social Sciences of State University of Medan and alumni of geography from other universities. As a medium of scientific communication, this magazine serves to provide a means of publication for the field of development of concepts and theoretical studies, including actual issues that are relevant in the field of Geography Education in particular and Geography in general. The content of the writing does not have to be in line with the editorial policy. The magazine is published twice a year in February and August and is distributed as a publication for geography education, geography or other related fields. Circulation for the limited circle and enthusiasts can get it by changing the cost of printing and postage.
Articles 330 Documents
FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN PESISIR PANTAI SRI MERSING DESA KUALA LAMA KABUPATEN SERDANG BEDAGAI SUMATERA UTARA Yemima Zebua; Pradinda Krisna Wildani; Andika Lasefa; Riki Rahmad
JURNAL GEOGRAFI Vol 9, No 1 (2017): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v9i1.6923

Abstract

Pantai Sri Mersing merupakan pantai dengan potensi laut yang cukup tinggi dalam hal perikanan. Banyak nelayan yang memanfaatkan potensi laut (perikanan) tersebut dalam rangka peningkatan perekonomian mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan mengenai rendahnya tingkat kesejahteraan nelayan di Desa Kuala Lama, dan dapat mendeskripsikan faktor-faktor penyebabnya. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah melalui metode penelitian kualitatif dengan subjek penelitian nelayan yang berada di sekitar pantai Sri Mersing. Walaupun memiliki potensi laut yang besar, hal ini bukan jaminan bahwa nelayan di sekitar perairan Pantai Sri Mersing ini hidup sejahtera. Faktanya masih banyak nelayan yang status ekonominya masih rendah. Sebuah ketimpangan dimana teori yang mengatakan kalau potensi yang besar akan mengahasilkan masyarakat yang sejahtera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kesejahteraan nelayan Pantai Sri Mersing, diantaranya sumberdaya manusia yang masih sangat rendah, metode penangkapan ikan yang masih tradisional, kebiasaan yang buruk dalam pengelolaan keuangan, kepemilikan modal, serta teknologi yang digunakan sangat terbatas.Kata Kunci: nelayan, pesisir, kesejahteraan
Analisis Kerentanan Situs Heritage Terhadap Ancaman Letusan Gunung Api Sinabung Nazli Ismail; Muhammad Yanis; Lucki Armanda; Muhammad Syukri Surbakti
JURNAL GEOGRAFI Vol 11, No 1 (2019): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v11i1.11049

Abstract

AbstrakSumber daya arkeologi sebagai wujud pemikiran dan tingkah laku kehidupan manusia pada masa lampau sangat penting bagi pengembangan sejarah sehingga perlu dilestarikan. Bencana alam merupakan salah satu actor yang dapat menyebabkan kerusakan dan kepunahan terhadap sumber daya arkeologi. Pada penelitian ini dilakukan pemetaan terhadap sumberdaya arkeologi di Kabupaten Karo yang dioverlay terhadap peta risiko bencana Gunung Api Sinabung. Proses ini dilakukan untuk analisis tingkat kerentanan sumber daya arkeologi terhadap dampak bencana gunung api. Hasil observasi menunjukkan sumber daya arkeologi tersebut masuk dalam tingkat kerawanan sedang atau relatif membahayakan. Dampak dari abu vulkanik yang diakibatkan oleh letusan gunung api Sinabung masih berpotensi memberikan kerusakan jangka panjang. Oleh karena itu pengelolaan cagar budaya yang berdamapak pada pelestarian harus membuka ruang keterlibatan setiap pemangku kepentingan termasuk masyarakat.Kata kunci: bahaya Gunung Api, Konservasi Cagar Budaya, Mitigasi Bencana, Peta Bahaya.AbstractArchaeological resources as a form of thought and behavior of human life are considerably important in developing of history so that it needs to be preserved. One of the factors that cause damage and extinction of archeological resources is natural disasters, in this study we have mapped archeological resources in Karo District and overlaid them on the Sinabung volcano hazards map. This process was carried out in order to analyze the level of vulnerability of archeological resources to the impact of volcanic disasters. The results show that vulnerability of the archeological resources is categorized at low to moderate levels. However, the influence of volcanic ash produced by the Sinabung volcanic eruption is expected as the most potential hazard to provide long-term damage. Therefore, efforts for conservation are urgently needed. Keywords: Volcano hazards, Cultural Reserve Conservation, Disaster Mitigation, Hazard Maps.
PENGGUNAAN MEDIA SEDERHANA DALAM PENERAPAN PRINSIP KOROLOGI PADA MATERI TENAGA ENDOGEN DI KELAS VII SMP SWASTA BUDI AGUNG KECAMATAN MEDAN MARELAN Nurmala Berutu; Erika Irmayani Hutagaol
JURNAL GEOGRAFI Vol 2, No 2 (2010): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v2i2.6367

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas danhasil belajar siswa melalui penggunaan media sederhana dalampenerapan prinsip korologi pada materi tenaga endogen bagisiswa SMP Swasta Budi Agung Medan. Sampel penelitian iniadalah siswa kelas VII-2 dengan jumlah 42 orang. Datadikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi dan teshasil belajar kemudian dianalisis secara diskriptif. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada peningkatan aktivitasbelajar siswa melalui penggunaan media sederhana dalampenerapan prinsip korologi pada materi tenaga endogen sebesar33,34%, dan (2) Ketuntasan belajar siswa telah tercapai baiksecara TPK/KD (80%), individual (88,1%) maupun secaraklasikal (88,1%).Kata Kunci : Aktifitas belajar, Hasil Belajar, Prinsip Korologi,Media Sederhana
Analisis Faktor-Faktor Industri Kecil Terasi di Desa Pulau Kampai Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat Hilpa Nurul Fitri; Walbiden Lumbantoruan
JURNAL GEOGRAFI Vol 5, No 1 (2013): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v5i1.8082

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui : (1)dinamika perkembangan Industri kecil terasi di Desa Pulau Kampai, (2)Keadaan Faktor-faktor industri ditinjau dari modal, bahan baku,tenaga kerja,transportasi dan pemasaran dan (3)pendapatan pengusaha pada industri terasi di Desa Pulau Kampai Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengusaha industri terasi dengan jumlah 114 pengusaha. Sampel ditentukan30% dari jumlah populasi sehingga sampel berjumlah 34 pengusaha yang diambil secara acak sederhana.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik komunikasi langsung, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik deskripif.            Hasil penelitian menunjukkan : (1)dinamika perkembangan industri kecil terasi di Desa Pulau Kampai selama periode 1988 - 1998 telah mengalami perkembangan. Hal ini terlihat dari pertambahan unit industrinyasebesar 21,87% dengan rata-rata2,19% pertahun. Namun selama periode 1998 - 2011 mengalami penurunan sebesar 146,12% dengan rata-rata  11,24% pertahun(2) Keadaan faktor-faktor industri pada umumnya sudah mendukung kegiatan industri terasi, akan tetapi ditinjau dari bahan baku (udang rebon) semakin berkurang populasinya sehingga harus mendatangkandari luar desa. Demikian juga dalam hal pemasaran telah mengalami persaingan pasar yang semakin ketat.  (3) Pendapatan pengusaha rata-rata Rp. 4.575.959/bulan. Oleh karena itu seluruh pengusaha terasi memiliki pendapatan di atas UMR Kabupatn Langkat (Rp.1.150.000) atau mereka sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Namun, bila dicermati dari pendapatan perkapita pengusaha makasebahagian besar (61,76%) pengusaha memiliki pendapatan di bawah UMR, hal itu berarti bahwa mereka belum mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnyaKata Kunci : Faktor-Faktor Industri Kecil, Terasi, Desa Pulau Kampai.
Kajian Ekosistem Hutan Mangrove di Muara Sungai Batang Manggung Kecamatan Pariaman Utara Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat Novelisa Suryani
JURNAL GEOGRAFI Vol 10, No 2 (2018): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v10i2.10411

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk : (i) mengkaji karakteristik vegetasi dan  kerusakan ekosistem hutan mangrove, dan (ii) mengkaji kondisi fisik-kimia ekosistem hutan mangrove. Metode perolehan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Data karakteristik vegetasi diperoleh melalui metode transek dan petak contoh. Data ini dijadikan acuan dalam menentukan tingkat kerusakan ekosistem mangrove. Kondisi fisik-kimia diperoleh melalui pengukuran lapangan dan analisis laboratorium.Hasil penelitian menunjukkan INP paling tinggi untuk tingkat pohon terdapat pada  Xylocarpus rumphii (133,8%), yang dijumpai di Stasiun I. Spesies yang umumnya mendominasi pada tingkat pancang yaitu Sonneratia caseolaris, dengan INP 46,19% pada Stasiun III, sedangkan mayoritas spesies pada tingkat semai dan tumbuhan bawah yaitu Rhizophora mucronata, dengan INP 66,32% pada Stasiun II. Ekosistem mangrove untuk tingkat pohon termasuk dalam kategori rusak, dengan penutupan < 50% dan kerapatan < 1000 pohon/ha. Sementara, pada tingkat pancang, semai dan tumbuhan bawah, termasuk dalam kategori baik dengan kerapatan individu >1500 pohon/ha. Kondisi pH perairan dan suhu udara kurang mendukung untuk perkembangan dan pertumbuhan vegetasi mangrove, sedangkan parameter lain memiliki kondisi yang sudah sesuai.Kata kunci: ekosistem mangrove, fisik-kimia, INP, karakteristik vegetasiThis study aims to : (i) examined vegetation characteristic and the damage degree of mangrove ecosystems, (ii) examined the physical-chemical condition of mangrove ecosystems, and (iii) analyse the used of mangrove for environment and communities. This research is conducted in the surroundings mouth of Batang Manggung River, Pariaman Utara Subdistrict, Pariaman City. The sampling technique is purposive sampling. Vegetation characteristic data obtained trough line transect and plot sampling. This data is used to be reference in determine the damage degree of mangrove ecosystems. Physical-chemical data obtained trough field measured and laboratorium analysis. The results show that the value of INP at highest rate for tree level was Xylocarpus rumphii (133,8%) at Stasiun I. The most dominated species for sapling is Sonneratia caseolaris, which 46,19% of INP at Stasiun III. The seedling and herbs dominate with  Rhizhophora mucronata, which 66,32% of INP at Stasiun II. The tree level include in damage category, which < 50% covered area and the density <1000 tree/ha. For sapling, seedling and herbs include in good category, which density was >1500 tree/ha. The water pH and air temperature had less support in extent and growth of mangrove, while the other parameter had suitable. Keywords: mangrove ecosystems, physical-chemical, vegetation charactersitic, IVI
STUDI TENTANG PEKERJA ANAK PADA INDUSTRI KONVEKSI DI KECAMATAN MEDAN DENAI KOTA MEDAN Asnidar Asnidar
JURNAL GEOGRAFI Vol 1, No 1 (2009): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v1i1.6358

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji (1)karakteristik pekerja anak yangmemasuki pasar kerja pada industry konveksi di Kecamatan Medan Denai KotaMedan, (2)faktor-faktor yang menyebabkan mereka masuk menjadi pekerja,(3)pendapat pekerja anak tentang lingkungan kerja, beban kerja, dan harapan masa depannya, serta (4)menjelaskan hubungan pendidikan orang tua/pengganti orang tua, motivasi berprestasi, dan persepsi pekerja anak tentang pendidikan, dengan pendidikan pekerja anak. Data penelitian diambil dengan teknik Snowball Sampling yang dihentikan pada angka 60, responden tersebar di 6 kelurahan Kecamatan Medan Denai. Analisis deskriptif digunakan untuk melihat karakteristik masingmasing variabel yang diteliti, dan regresi ganda digunakan untuk melihat hubungan variabel pendidikan orang tua/pengganti orang tua, motivasi berprestasi, dan persepsi pekerja anak tentang pendidikan, dengan pendidikan pekerja anak.Penelitian ini mengungkap bahwa sebahagian besar pekerja anak pada industrikonveksi di Kecamatan Medan Denai berasal dari luar wilayah Sumatera utaradengan pendidikan sangat rendah, rata-rata 4,75 tahun. Sebahagian besar (95%) pekerja anak menjalani pekerjaan dengan jam kerja sangat panjang, rata-rata 61,85 jam/minggu dengan pendapatan sebahagian besar (88,33%) berada di atas Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara. Ada lima faktor yang menyebabkan pekerja anak masuk menjadi pekerja pada industri konveksi, yaitu kemiskinan, rendahnya pendapatan keluarga, adanya saudara yang sudah bekerja, tingkat pendidikan orang tua yang rendah, dan aspirasi budaya. Sebahagian besar (81,67%) pekerja anak bekerja pada ruangan yang dialihfungsikan menjadi ruangan kerja. Terjalin hubungan sosial yang baik dengan pengusaha dan sesama pekerja, sistem pencatatan dan penerimaan hasil kerja menjadi salah satu ganjalan hubungan kerja antara pekerja anak dan pengusaha. Pekerja anak yang sebahagian besar (51,67%) berhasil menjahit pakaian setara dengan 201-250 helai baju kemeja sekolah/minggu bercita-cita menjadikan pekerjaan industri konveksi sebagai pekerjaan untuk masa depannya. Secara bersama-sama pendidikan orang tua, motivasi berprestasi, dan persepsi pekerja anak tentang pendidikan memiliki hubungan signifikan dengan pendidikan pekerja anak dengan R square 0,875.Kata Kunci : Pekerja anak dan industri konveksi
PEMULIHAN PASCA BENCANA GEMPA BUMI DI LOMBOK UTARA PADA TAHUN 2018 Heru Kusuma Bakti; Achmad Nurmandi
JURNAL GEOGRAFI Vol 12, No 2 (2020): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v12i02.16750

Abstract

Guncangan gempa bumi berkekuatan 7.0 SR yang terjadi di Provinsi NTB khususnya Lombok Utara pada tahun 2018 yang lalu telah berdampak kepada kondisi berbagai aspek kehidupan masyarakat dan pemerintah di Kabupaten Lombok Utara, untuk itu tentu pemerintah daerah punya tanggung jawab yang lebih besar untuk melakukan pemulihan pasca terjadinya bencana hal tersebut juga tertuang dalam Undang-undang No 24 Tahun 2007, penelitian ini bertujuan untuk melihat upaya pemulihan yang dilakukan oleh pemerintah daerah melalui proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan di olah dengan aplikasi Nvivo 12 Plus. Hasil menunjukan bahwa upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah adalah dengan melakukan Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang telah ditetapkan melalui 5 aspek utama yaitu Sektor Sosial, Ekonomi, Infrastruktur, Pemukiman serta Lintas Sektor. Akan tetapi dalam proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah banyak menimbulkan persoalan di masyarakat khususnya di Sektor Pemukiman, rumitnya proses birokrasi menimbulkan lambatnya  pemulihan sektor pemukiman, ketidak puasan masyarakat dalam pendataan kategori rusak ringan, sedang maupun rusak berat yang dilakukan oleh pemerintah daerah serta kurangnya keterlibatan masyarakat dalam proses pemulihan juga merupakan permasalahan yang terjadi pada proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi.Kata kunci: Bencana, Gempa Bumi, Pemulihan Bencana, rehabilitasi dan rekonstruksiShock earthquake with a magnitude of 7.0 that occurred in NTB Province, especially North Lombok in 2018, has had an impact on the conditions of various aspects of community and government life in North Lombok. Therefore, local governments have a greater responsibility to carry out recovery after the occurrence disaster, this study aims to look at the recovery efforts undertaken by the local government through the Rehabilitation and Reconstruction process. This research is descriptive in nature using a qualitative research method and treated with the application of Nvivo 12 Plus. The results show that the efforts made by the local government are to carry out the Rehabilitation and Reconstruction that have been determined through 5 main aspects namely the Social, Economic, Infrastructure, Settlement and Cross-Sector . However, in the process of Rehabilitation and Reconstruction carried out by the Regional Government, many problems in the community, especially in the Settlement Sector, the complexity of the bureaucratic process caused slow recovery of the residential sector, community dissatisfaction in the data collection categories of minor, moderate and severe damage carried out by the local government as well the lack of community involvement in the recovery process is also a problem in the Rehabilitation and Reconstruction process.Keywords: Disasters, Earthquakes, Disaster Recovery, rehabilitation and reconstruction
Partisipasi Masyarakat Kabupaten Gayo Lues Terhadap Pemanfaatan Kawasan Penyangga (Buffer Zone) Taman Nasional Gunung Leuser Meilinda Suriani Harefa; Gunmas Gunmas
JURNAL GEOGRAFI Vol 3, No 1 (2011): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v3i1.7289

Abstract

The aim of this research is to know the understanding of society about the benefit of buffer zone around in Gunung Leuser National Park (GLNP), to know the effort which are done by around of society as living earning and to know the participation of society to manage the buffer zone and also to see the relationship of socio economic to the participation of society. The research is done by the set of questioners and field observation. Society data is obtained at 4 regional districts of research in Sub-Province Gayo Lues to understand that their settlement resides at conservation frontier area and reside at GLNP buffer zone. Most of the people work as a farmer and carry out the cultivation of the plant in benefit the land as the first of their living earning to fulfill their life needed. The participation of society at Sub-Province Gayo Lues based on the result of calculation of questioners of expressed which have high percentage average. From calculation analyze correlation at 4 districts (Blangkejeren District, Kuta Panjang District, Blang Pegayon District and Puteri Betung District) represented Sub-Province Gayo Lues, it was obtained by the result that average didn’t have a significant relationship between socio economic variable to the participation of society.Keywords:   Participation society, Gunung Leuser National Park, Sub-Province Gayo Lues, buffer zone 
Meningkatkan Kualitas Manusia Dalam Praktek Lapangan Analisis Vegetasi dan Kemampuan E-Learning Melalui Problem Based Instruction (PBI) Meilinda Suriani Harefa
JURNAL GEOGRAFI Vol 4, No 2 (2012): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v4i2.8065

Abstract

Penelitian ini bertujuan menerapkan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI), meningkatkan kualitas mahasiswa melakukan praktek lapangan analisa vegetasi  pada wilayah pesisir, melakukan kerjasama  Jurusan Pendidikan Geografi dengan Jurusan Biologi melalui pemanfaatan Laboratorium Biologi dalam pembelajaran Ekologi dan Lingkungan dan meningkatkan kemampuan e-learning dalam penerapan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data peningkatan hasil belajar mahasiswa dari siklus I rata-rata nilai mahasiswa 79.23 dengan komposisi nilai (A = 11.63 %, B = 32.56% dan C = 55.81 %) , siklus II nilai rata-rata mahasiswa 83,68 dengan komposisi nilai (A = 16.28 %, B = 69.77 % dan nilai C = 13.95 %) dan siklus ke III memperoleh nilai rata-rata 89,09 dengan komposisi nilai (A = 41.86 %, B = 55.81 % dan C = 2.33 %) sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dapat mengembangkan praktek lapangan analisa vegetasi pada mata kuliah Ekologi dan Lingkungan, pengembangan praktek lapangan analisa vegetasi pada wilayah pesisir oleh kelompok mahasiswa dapat memberikan keterampilan yang ilmiah, suasana pembelajaran  dengan pemanfaatan e-learning  yang diterapkan pada kelompok mahasiswa dalam membahas hasil identifikasi vegetasi menjadi karya ilmiah dapat memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya dan pemanfaatan laboratorium Jurusan Biologi  sangat membantu mahasiswa Jurusan pendidikan Geografi memahami konsep analisa vegetasi pada matakuliah Ekologi dan lingkungan.Kata Kunci :      Model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI), praktek lapangan analisa vegetasi, e-learning
Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Kabupaten Sukoharjo Mohammad Isnaini Sadali
JURNAL GEOGRAFI Vol 10, No 1 (2018): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v10i1.8493

Abstract

 AbstrakKabupaten Sukoharjo merupakan kota satelit yang memberi daya dukung bagi kota utamanya (Kota Solo). Pembangunan Kawasan Solo Baru dan Kartasuro sebagai kota satelit mandiri dengan konsep permukiman yang didukung oleh ketersediaan fasilitas penunjang akan berimbas pada perubahan pemanfaatan lahan. Kabupaten Sukoharjo sebagai salah satu lumbung beras nasional justru perlu diperhatikan dan dijaga. Keberadaan lahan pertanian (pangan) di Kabupaten Sukoharjo menjadi terancam oleh intensitas pembangunan kota yang mengarah pada alih fungsi lahan non terbangun (lahan pertanian) menjadi terbangun. Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis kebutuhan dan ketersediaan pangan, (2) menganalisis daya dukung (Carrying Capacity) lahan pertanian dalam mendukung ketahanan pangan, dan (3) melakukan estimasi kebutuhan lahan pertanian pangan di Kabupaten Sukoharjo. Sebesar 44,16% (20.617 ha) lahan di Sukoharjo diperuntukkan untuk sawah. Daya dukung pangan secara keseluruhan di Kabupaten Sukoharjo mampu tercukupi ditunjukkan dengan nilai 1,62 yang berarti bahwa kebutuhan pangan mampu dicukupi dengan luas lahan pertanian dan produksi padi yang dihasilkan saat ini. Kebutuhan lahan pertanian pangan berkelanjutan (KLP2B) menurut kecamatan di Kabupaten Sukoharjo yang masih belum dapat dipenuhi kebutuhan pangan di wilayahnya adalah Kecamatan Kartasura. Hingga 20 tahun ke depan (2031), KLP2B yang tinggi di Kabupaten Sukoharjo masih berada di Kecamatan Grogol, Kecamatan Kartosuro, Kecamatan Mojolaban dan Kecamatan Sukoharjo.Kata kunci: ketahanan pangan, daya dukung, pembangunan wilayah AbstractSukoharjo Regency is a satellite city that provides support for its main city (Solo City). The development of Solo Baru and Kartasuro areas as self-contained satellite cities with the concept of settlements supported by the availability of supporting facilities will impact on land use change. Sukoharjo Regency as one of the national rice granary precisely needs to be considered and maintained. The existence of agricultural land (food) in Sukoharjo Regency becomes threatened by the intensity of urban development that leads to the conversion of non-built land (agricultural land) to be built. This study aims to: (1) analyze the need and availability of food, (2) analyze the carrying capacity of agricultural land in supporting food security, and (3) estimate the needs of food agriculture land in Sukoharjo Regency. A total of 44.16% (20,617 ha) of land in Sukoharjo is reserved for rice fields. The food carrying capacity in Sukoharjo Regency as a whole is sufficiently indicated by a value of 1.62 which means that food needs can be satisfied with the existing area of agricultural land and rice production. The need for sustainable agricultural land (KLP2B) in Sukoharjo Regency that has not been fulfilled by the needs of food in its area is Kartasura District. Until the next 20 years (2031), high KLP2B in Sukoharjo Regency is still in Grogol District, Kartosuro District, Mojolaban District and Sukoharjo District.Keywords: food security, carrying capacity, regional development