cover
Contact Name
M Taufik Rahmadi
Contact Email
taufikrahmadi@unimed.ac.id
Phone
+6281262337575
Journal Mail Official
jurnalgeografi@unimed.ac.id
Editorial Address
Jalan Willem Iskandar Pasar V Medan Estate, 20221, Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Geografi
ISSN : 20858167     EISSN : 25497057     DOI : -
Jurnal Geografi is published as a scientific communication media in the field of Geography Education in particular and Geography in general, as well as other related fields, for faculty members, alumni of Geography Education both from the Faculty of Social Sciences of State University of Medan and alumni of geography from other universities. As a medium of scientific communication, this magazine serves to provide a means of publication for the field of development of concepts and theoretical studies, including actual issues that are relevant in the field of Geography Education in particular and Geography in general. The content of the writing does not have to be in line with the editorial policy. The magazine is published twice a year in February and August and is distributed as a publication for geography education, geography or other related fields. Circulation for the limited circle and enthusiasts can get it by changing the cost of printing and postage.
Articles 330 Documents
Makna Berpikir Spasial Masyarakat Minangkabau Dalam Logo Pemerintahan Daerah di Sumatera Barat Muhammad Aliman; Silvia Marni; Budijanto Budijanto; Sumarmi Sumarmi; I Komang Astina
JURNAL GEOGRAFI Vol 11, No 2 (2019): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v11i2.13049

Abstract

Tujuan penelitian ini memberikan deskripsi tentang makna yang terkandung dari tanda dan simbol pada logo pemerintahan daerah di Propinsi Sumatera Barat. Metode deskriptif  kualitatif digunakan untuk mengkaji tema pada artikel ini dengan pendekatan semiotik. Pendekatan semiotik yang digunakan adalah analisis denotasi dan konotasi. Logo pemerintahan daerah yang dijadikan subjek penelitian mewakili daerah kepulauan, daerah pesisir, daerah dataran rendah dan daerah dataran tinggi. Unsur spasial untuk menganalisis makna logo menggunakan unsur spasial menurut Sharpe dan Huynh. Hasil penelitian menjelaskan makna yang terkandung pada logo pemerintahan daerah berasal dari kearifan lokal masyarakat setempat yang mewakili berbagai elemen fisik maupun non fisik. Salah satu makna yang terkandung adalah elemen fisik berupa unsur spasial. Hal ini menjelaskan bahwa pemikiran masyarakat Minangkabau sejak dahulu berasal dari unsur-unsur spasial dalam kehidupannya. Makna pada logo pemerintahan daerah perlu diungkapkan secara terbuka agar masyarakat dan pegawai pemerintahan dapat mengetahui dan memahami serta memaknainya sebagai kekayaan kearifan lokal yang harus dijaga, diamalkan dan dilestarikan.The purpose of this research is to provide a description of the meaning contained in signs and symbols on the logo of regional government in West Sumatra Province. Qualitative descriptive method is used to examine the theme in this article with a semiotic approach. The semiotic approach used is the analysis of denotations and connotations. The logo of the regional government that was used as the research subject represented islands, coastal areas, lowland areas and highland areas. Spatial elements to analyze the meaning of logos using spatial elements according to Sharpe and Huynh. The results of the study explain the meaning contained in the logo of regional government derived from the local wisdom of the local community which represents various physical and non-physical elements. One of the meanings contained is a physical element in the form of spatial elements. This explains that the thinking of the Minangkabau community has long been derived from spatial elements in his life. The meaning of the logo of regional government needs to be disclosed openly so that the public and government employees can know and understand and interpret it as a wealth of local wisdom that must be maintained, practiced and preserved.
PENGARUH SOSIAL EKONOMI TERHADAP KUALITAS PERMUKIMAN DI KELURAHAN SIDOREJO KECAMATAN MEDAN TEMBUNG KOTA MEDAN Mbina Pinem
JURNAL GEOGRAFI Vol 2, No 2 (2010): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v2i2.6371

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sosialekonomi terhadap kualitas permukiman di Kelurahan SidorejoKecamatan Medan Tembung. Populasi dalam penelitian ini adalahseluruh masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut,dengan jumlah sampel 110 Kepala Keluarga. Data dikumpulkandengan observasi dan penyebaran angket kepada responden.Hasilpenelitian menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masyarakatsangat berpengaruh positif terhadap permukiman masyarakat.Kata Kunci : Keadaan Sosial Ekonomi dan Kwalitas Permukiman
Beberapa Alternatif Pembangunan Sistem Agribisnis di Pedesaan Minah Sinuhaji
JURNAL GEOGRAFI Vol 3, No 2 (2011): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v3i2.7354

Abstract

Produksi usaha tani menggunakan sejumlah input seperti lahan/tanah, tenaga kerja, bibit, pupuk, pestisida, air, alat-alat pertanian dan manajemen. Sedangkan output adalah hasil-hasil usaha tani, yaitu hasil tanaman dan ternak yang bermacam-macam. Jumlah, jenisnya dan kombinasi input menentukan banyaknya output. Ada hubungan fungsional antara jumlah input dan jumlah output yang biasa dikenal fungsi produksi (production function). Fungsi produksi semakin berkembang sesuai dengan pengembangan teknologi. Berbagai fungsi produksi yang tersedia menetukan peluang untuk memperoleh output dari berbagai input. Input yang digunakan ada yang disediakan usaha tani tetapi ada yang dibeli dari luar usaha tani. Input yang disediakan antara lain tenaga kerja keluarga, lahan, air, kemungkinan bibit dan pupuk hijau. Sedangkan input yang dibeli dari luar antara lain pupuk, pestisida alat-alat pertanian, pakan ternak, obat-obatan ternak dan lain-lain. Semakin banyak ragam input, jumlah input dan jumlah input dari luar maka petani semakin memerlukan uang lebih banyak untuk membeli input. Semakin tinggi ongkos produksi maka keuntungan petani semakin kecil, sehingga hasil jerih payah petani (usaha tani) yang sesungguhnya adalah keuntungan, bukan volume produksi. Dipihak lain nilai output atau penerimaan ditentukan oleh harga penjualan produksi. Harga penjualan produksi ditentukan saluran pemasaran, struktur pasar, hasil pengolahan dan jasa-jasa pemasaran lainnya.Kata Kunci :Sistem Agribisnis
Inovasi Pembelajaran Melalui Penguatan Keterampilan Pembuatan Peta Dasar Wilayah Pada Matakuliah Praktek Kartografi Asnidar Asnidar; Ali Nurman; Muhammad Ridha S. Damanik
JURNAL GEOGRAFI Vol 5, No 1 (2013): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v5i1.8086

Abstract

Penelitian pembuatan peta dasar wilayah melalui hasil pengukuran lapangan menggunakan meteran dan kompas bertujuan untuk memperkuat penguasaan kompetensi pembuatan peta oleh mahasiswa pada matakuliah Praktek Kartografi. Keterampilan ini sangat penting untuk mendukung berbagai keterampilan pembuatan peta lainnya, terutama peta-peta tematik kebutuhan pembelajaran yang menjadi muara dari perkuliahan ini. Sebagai calon guru geografi professional, keterampilan ini perlu terus dilatih dan dikembangkan bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi, karena Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMA menuntut adanya keterampilan ini. Sebagai Lembaga Kependidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang memproduksi guru geografi, matakuliah Praktek Kartografi menjadi salah satu matakuliah yang dapat mengembangkan keterampilan tersebut, dengan demikian kebutuhan stake holder dapat dipenuhi dengan baik. Pengukuran wilayah dilakukan di wilayah Unimed yaitu Fakultas ILmu Sosial, Fakultas Teknik, Fakultas Bahasa dan Seni, Galeri Seni Rupa sampai ke UPPL, Sekolah Pascasarjana, dan Lapangan Tenis Unimed, yang dilaksanakan oleh 171 orang mahasiswa dari empat kelas paralel angkatan 2010 yang terdiri dari 32 kelompok kerja. Hasil penelitian dilaporkan oleh setiap kelompok menjadi laporan kegiatan praktek dan pada laporan ini dibuatkan tabel data hasil pengukuran dan peta dasar wilayah hasil pengukuran setiap kelompok dengan skala 1:250. Disamping itu pengukuran luas peta dasar hasil pengukuran juga dilakukan, dan luas semua peta dasar wilayah hasil  pengukuran yang dihitung melalui metoda bujur sangkar adalah 163.554,20 meter bujur sangkar. Aktivitas belajar meningkat rata-rata sebesar 24%. Dari tiga indikator yang diobservasi, kerjasama kelompok mengalami peningkatan yang paling besar (28%). Keterampilan pengukuran lapangan meningkat dengan rata-rata 67,83 pada pengukuran pertama, menjadi 88,38 pada pengukuran berikutnya.Nilai rata-rata yang diperoleh kelompok kerja mahasiswa 86,77.Kata Kunci : Inovasi Pembelajaran, Pembuatan Peta Dasar, Kartografi
PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN METODE “JUMPING TASK” PADA PEMBELAJARAN GEOGRAFI Nofrion Nofrion
JURNAL GEOGRAFI Vol 9, No 1 (2017): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v9i1.6043

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran Geografi melalui penerapan metode “Jumping Task”. Metode “Jumping Task” adalah metode pembelajaran yang ditandai dengan pemberian soal atau tugas yang menantang kepada siswa sehingga diharapkan siswa akan bekerja sama dalam mengerjakan soal/tugas tersebut melalui dialog, interaksi dan kolaborasi yang dikelola secara efektif dan efisien oleh guru. Aktivitas belajar yang diamati dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar individu, aktivitas belajar berpasangan, aktivitas belajar dalam kelompok dan aktivitas belajar klasikal. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sebanyak tiga kali pembelajaran/siklus di di kelas X SMA Islam Al Istiqamah, Pasaman Barat. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penerapan metode “jumping task” berhasil meningkatkan aktivitas belajar siswa dengan tingkat capaian di atas 80% pada semua jenis aktivitas belajar yang diobservasi.Kata Kunci : Aktivitas Belajar, Pembelajaran Geografi, Metode Jumping TaskThe objectives of this research is to improve the students learning activities in geography learning through the implementation of Jumping Task Method. Jumping Task Method is a learning method that is characterized by the provision of a matter or a challenging task to the students so that the students will be expected to cooperate in work on the problems / tasks through dialogue, interaction and collaboration are managed effectively and efficiently by the teacher. Learning activity observed in this study is the individual learning activities, and learning activities in pairs, group learning activities and activities of classical learning. This classroom action research conducted three times learning / cycle in class X SMA Islam Al Istiqamah, Pasaman Barat. The results showed that the implementation of the jumping task method successfully improving student learning activities with performance levels above 80% in all types of learning activities were observed.Keywords : Learning Activitiy, Geography Learning, Jumping Task Method
Perkembangan Desa Wisata Krebet dan Dampaknya Terhadap Kondisi Masyarakat Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul Rosyida Rahmawati; Joni Purwohandoyo
JURNAL GEOGRAFI Vol 11, No 1 (2019): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v11i1.10613

Abstract

Desa Wisata Krebet memiliki simbol utama kerajinan batik kayu. Ada dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat Dusun Krebet sejak menjadi desa wisata, yaitu dampak langsung, dampak tidak langsung, dampak lanjutan, maupun efek pengganda dari kegiatan wisata. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perkembangan Desa Wisata Krebet, menganalisis efek pengganda dari adanya perkembangan Desa Wisata Krebet, dan menganalisis keterkaitan antara perkembangan Desa Wisata Krebet dengan dampak ekonomi yang ditimbulkan. Analisis data dilakukan dengan cara analisis deskriptif, analisis dampak ekonomi kegiatan pariwisata, dan analisis efek pengganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan Desa Wisata Krebet yang dilihat dari empat aspek perkembangan desa wisata, saling berhubungan dengan dampak ekonomi yang ditimbulkan. Namun, dampak langsung yang berasal dari kegiatan non wisata lebih tinggi dibandingkan dengan dampak langsung yang berasal dari wisatawan. Hal ini menunjukkan bahwa usaha di Desa Wisata Krebet akan tetap berjalan meskipun wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Krebet mengalami kenaikan atau penurunan jumlah kunjungan karena produk kerajinan batik kayu dapat dipasarkan keluar Desa Wisata Krebet. Adanya branding “Desa Wisata Krebet” juga akan membantu pemasaran produk kerajinan batik kayu di luar Desa Wisata Krebet. Kata kunci: Perkembangan Desa Wisata, Dampak Ekonomi, Multiplier Effect.  The icon of Krebet Tourism Village is wooden batik craft. There is an economic impact felt by the community of Krebet Hamlet since becoming a tourism village, there are direct impacts, indirect impacts, induced impacts and multiplier effects of tourism activities in Krebet Tourism Village. This research aims to identify the development of the Krebet Tourism Village, analyzing the multiplier effects of the development of the Krebet Tourism Village, and analyzing the linkages between the development of the Krebet Tourism Village and the economic impacts. Data analysis was done by descriptive analysis, analysis of the economic impact of tourism activities, and analysis of multiplier effects. The results of the research indicate that the development of the Krebet Tourism Village which is viewed from four aspects of rural tourism development were related to economic impact. However, the direct impact of non-tourism activities was higher than the direct impact from tourists. This shows that businesses in the Krebet Tourism Village will continue to run even though tourists who visited Krebet Tourism Village either increased or decreased because the wooden batik craft products can be marketed outside Krebet Tourism Village. The branding of "Krebet Tourism Village" will also help the marketing of wooden batik craft products outside Krebet Tourism Village. Keywords: The development of Tourism Village, Economic Impacts, Multiplier Effect. 
PENGARUH PEMBERIAN KASCING DAN PUPUK N, P, K BUATAN PADA ULTISOL TERHADAP SIFAT KIMIA TANAH DAN HASIL TANAMAN JAGUNG (ZEA MAYS L) Elfayetti Elfayetti
JURNAL GEOGRAFI Vol 1, No 1 (2009): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v1i1.6362

Abstract

Ultisol mempunyai sifat kimia yang kurang menguntungkan bagipertumbuhan dan hasil tanaman karena miskin unsur hara N,P,K,Ca,Mgdisamping itu kadar Al-dd dapat ditukar yang tinggi sehingga meracun bagitanaman.Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui pengaruhkasing terhadap sifat kimia tanah dan pertumbuhan serta produksi jagungpada Ultisol. 2).Untuk menentukan pengaruh N,P,K buatan terhadappertumbuhan serta produksi jagung pada Ultisol. 3). Untuk menemukanpengaruh interaksi kascing dan N,P,K buatan terhadap kadar hara danpertumbuhan serta produksi jagung pada UltisolPercobaan ini merupakan percobaan faktorial dengan rancang acaklengkap 5 x 5 perlakuan dan 3 kali ulangan’ Perlakuan yang digunakanadalah kascing dengan dosis 0, 5, 10, 15, 20 ton/ha dan pupuk N, P K buatandengan dosis 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100%. Inkubasi tanah dilakukandengan pemberian kascing sesuai dengan dosis anjuran dengan cara diaduksecara merata dengan tanah , kemudian tanah disiram sampai kapasitaslapang, lalu diinkubasi selama dua minggu. Setelah itu dilakukan penanamanbiji jagung varietas C-7 pada setiap poly bag.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian kascing danpupuk N, P, K buatan mampu meningkatkan kandungan hara tanah dankandungan hara tanaman.Kata Kunci : Sifat Kimia Tanah , Kascing dan pupuk NPK buatan , Ultisol,Hasil Tanaman Jagung
APLIKASI CITRA SENTINEL-2 UNTUK PEMETAAN TUTUPAN DAN PERUNTUKAN LAHAN PADA TINGKAT DESA indarto indarto; Marga Mandala; Fery Febrian Arifin; Farid Lukman Hakim
JURNAL GEOGRAFI Vol 12, No 2 (2020): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v12i02.16970

Abstract

Sentine-2 menjanjikan citra yang gratis, pada ketelitian spasial sedang dan ketelitian spektral tinggi. Data citra ini mungkin dapat digunakan sebagai dasar pemetaan tutupan lahan (land cover) dan pruntukan lahan (land use) sampai dengan level Desa. Artikel ini bertujuan untuk membandingkan dan mengevaluasi peta tematik yang dihasilkan dari: (1) Klasifikasi dari citra Sentinel-2A, (b) digitasi manual dari Google Earth Image, (c) dan peta RBI (Rupa Bumi Indonesia). Citra Sentinel-2A, citra google earth dan peta RBI digital  digunakan sebagai input utama. Pengolahan citra Sentinel-2A mencakup: atmosferic correction, image composite, klasifikasi terbimbing, koleksi training area,  dan  uji-akurasi. Selanjutnya, ke tiga jenis peta tematik yang dihasilkan digunakan untuk membandingkan luasan per jenis tutupan lahan  yang dipetakan dan interpretasi perubahan peruntukan lahan yang terjadi. Selanjutnya, wilayah empat desa digunakan sebagai sampel pengukuran. Penelitian menghasilkan peta tematik tutupan dan peruntukan lahan pada level Desa. Perbandingan peta tematik menunjukkan bahwa citra Sentinel mampu untuk menangkap fitur tutupan lahan yang utama (yaitu: Lahan-sub-optimal kering, lahan irigasi, lahan non-irigasi, area terbangun, hutan-perkebunan, dan badan air) pada level desa. Lebih lanjut peta yang dihasilkan dari citra Sentinel dapat digunakan untuk memperbaharui, perencanaan dan evaluasi kegiatan pembangunan di Desa. Kata Kunci: Sentinel-2A, Pemetaan, Tutupan Lahan, peruntukan lahan, desa.Sentinel-2 provide a free of cost imagery in medium spatial and high spectral resolutions. These data promise a rapid, low-cost and easy to apply imagery for the end-user.  These free data may produce a rationale thematic land cover and land use (LCLU) map at the village level. This paper aims to compare and to evaluate the thematics maps created by (a) Sentinel-2, (b) digitalisation from Google Earth and (c) RBI (Rupa Bumi Indonesia) Digital Map. Sentinel-2 image, google earth image, and RBI digital map used as the primary input. The treatment of sentinel 2A imagery consists of atmospheric correction, image composite, supervised classification, collecting training areas, and accuracy assessment.  The three types of maps use to compare area extent mapped for each type of land cover (LC), and the interpretation of land-use change occurred. Four villages used as samples of measurement. The research produces thematic LCLU maps at the village level. Comparison of maps shows that Sentinel capable of capturing major LC (i.e., Dry-marginal land, non-irrigated area, irrigated area, pavement areas, forest - plantation, and water body) at the village level.  Moreover, Sentinel-2A produce more detail of land cover type. Finally, the maps derived from Sentinel data provide data for up-dating, planning and evaluation of village development.Keywords :  Sentinel-2A, mapping, land cover, land use, village.
Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan Tumiar Sidauruk
JURNAL GEOGRAFI Vol 4, No 2 (2012): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v4i2.8070

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan ruang terbuka hijau di perkotaan berdasarkan rasio jumlah penduduk terhadap kebutuhan ruang terbuka hijau pada kawasan permukiman di perkotaan. Kebutuhan ruang terbuka hijau dengan jumlah penduduk 250 jiwa membutuhkan ruang terbuka hijau dengan tipe Taman Tetangga seluas 250 m2. Kebutuhan ruang terbuka hijau dengan jumlah penduduk 2500 jiwa membutuhkan ruang terbuka hijau dengan tipe Taman Rukun Warga seluas 1250 m2. Kebutuhan ruang terbuka hijau dengan jumlah penduduk 30000 jiwa membutuhkan ruang terbuka hijau dengan tipe Taman Keluraha seluas 9000 m2. Kebutuhan ruang terbuka hijau dengan jumlah penduduk 120000 jiwa membutuhkan ruang terbuka hijau dengan tipe Taman Kecamatan seluas 24000 m2.Kata kunci :  ruang terbuka hijau, kebutuhan, kota  
Aplikasi Data Penginderaan Jauh Untuk Kajian Kondisi Eksisting Ekosistem Mangrove di Wilayah Kepesisiran Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara Eni Yuniastuti; Anik Juli Dwi Astuti; Dwi Wahyuni Nurwihastuti
JURNAL GEOGRAFI Vol 10, No 2 (2018): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v10i2.9384

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kepesisiran Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting, mengetahui indeks keanekaragaman, dan mengetahui agihan ekosistem mangrove yang tumbuh di wilayah kepesisiran Kecamatan Pantai Labu. Penelitian ini menggunakan metode survei. Metode pengumpulan data dengan sampling serta metode analisisnya secara kualitatif. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh ekosistem mangrove yang terdapat di daerah penelitian. Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling untuk penentuan transek garis dan petak contoh (transect line plot). Teknik pengumpulan data meliputi analisis data sekunder, observasi, dan perhitungan langsung di lapangan. Variabel penelitian ini meliputi kerapatan (densitas), kekerapan (frekuensi), luas penutupan (coverage), indeks nilai penting (importance value index), indeks dominasi (index of dominance), dan indeks keanekaragaman (diversity). Teknik analisis hasil menggunakan analisis spasial dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan kondisi eksisting ekosistem mangrove yang terdapat di Kecamatan Pantai Labu berdasarkan hasil interpretasi visual citra Google Earth Tahun 2015 sebesar 517,95 ha. Keanekaragaman vegetasi mangrove di Kecamatan Pantai Labu memiliki indeks keanekaragaman H’ < 1,0. Artinya keanekaragaman mangrove di Kecamatan Pantai Labu masih rendah, miskin, produktivitas sangat rendah sebagai indikasi adanya tekanan yang berat, dan ekosistem tidak stabil. Spesies mangrove yang terdapat di Kecamatan Pantai Labu meliputi Avicennia sp (api-api), Rhizophora sp (bakau), Sonneratia sp (pedada), Bruguira sp, dan Xylocerpus sp (nyirih). Persebaran dan agihan ekosistem mangrove di Kecamatan Pantai Labu berada di sepanjang tepi pesisir yang meliputi Desa Sungai Tuan dengan luas 128,58 ha, Desa Bagan Serdang dengan luas 78,75 ha, Desa Regemuk dengan luas 33,50 ha, Desa Pantai Labu Pekan dengan luas 15,85 ha, Desa Paluh Sebaji dengan luas 73,48 ha, dan Desa Denai Kuala dengan luas 187,79 ha.Kata Kunci: ekosistem mangrove, wilayah kepesisiran, Google Earth