cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Antenatal care visit frequency of short stature mother as risk factor of stunting among children aged 6 - 23 months in Indonesia (IFLS 5 Study Analysis) Herwinda Kusuma Rahayu; BJ Istiti Kandarina; Abdul Wahab
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 3, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(3).%p

Abstract

 ABSTRAKLatar Belakang: Stunting adalah gangguan pertumbuhan linear yang saat ini menjadi masalah utama kesehatan anak di negara berkembang yang berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar, prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2018 masih tinggi, yaitu mencapai 30,8%.  Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting adalah tinggi badan ibu yang pendek, dengan prevalensi sebesar 30,5%. Ibu hamil dengan tinggi badan pendek harus memperhatikan kondisi kesehatan selama kehamilan, salah satunya melalui pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC) dengan frekuensi pemeriksaan yang sesuai dengan standar. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional yang menggunakan data sekunder dari penelitian longitudinal yaitu Indonesia Family Life Survey (IFLS) periode ke-5 yang dilaksanakan pada tahun 2014. Rancangan penelitian ini adalah kohort retrospektif. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi square, sedangkan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistic. Uji statistik dilakukan menggunakan software Stata v13.Hasil: Hasil analisis bivariat diketahui bahwa frekuensi ANC ibu dengan tinggi badan pendek memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunting dengan nilai p=0,04 (RR=1,29; CI 95%=1,02-1,65). Hasil analisis multivariat frekuensi ANC dengan kejadian stunting yang mengikut sertakan variabel luar didapatkan bahwa BBLR merupakan penyebab terbesar kejadian stunting (OR=1,97; CI 95%=1,06-3,64)Kesimpulan: Frekuensi ANC yang sesuai perlu dilakukan oleh ibu hamil dengan tinggi badan pendek. Hal ini adalah upaya untuk mengoptimalkan status kesehatan, sehingga kejadian BBLR yang merupakan faktor risiko kejadian stunting tidak terjadi. Diperlukan strategi pemerintah untuk meningkatkan frekuensi kunjungan ANC dengan mempertimbangkan komponen pelayanan.Kata kunci: stunting; ibu dengan tinggi badan pendek; antenatal care; IFLS 5 ABSTRACT Background: Stunting is linear growth retardation that associated with morbidity and mortality. Prevalence of stunting in Indonesia on 2018 is high, 30,8%. One of the factors that influence stunting is short stature mother. Pregnant women with short stature should concern to their health conditions during pregnancy, through antenatal care (ANC) with frequency that are in accordance with the standards.Method: This study was an observational study using the secondary data of the 5th wave Indonesian Family Life Survey (IFLS) on 2014. The design of this study was a retrospective cohort. . Bivariate analysis was performed using the chi square test, while the multivariate analysis used a logistic regression test. All analyses were performed in Stata v13.Results: Bivariate analysis showed that the ANC frequency of short stature mother had a significant relationship with stunting (p=0.04; RR= 1.29; CI 95%= 1.02-1.65). Multivariat analysis showed that low birth weight is the main cause of stunting (OR=1,97; CI 95%=1,06-3,64)Conclusion: ANC visit essential for short height mother to optimize their health status, so low birth weight which is a risk factor for stunting does not occur. Strategies are needed to improve the frequency and components of ANC services Keywords: stunting; short height mother; antenatal care; IFLS 5
Counseling of exclusive breastfeeding during antenatal care (ANC) and perceptions of insufficient milk supply Eka Nurhayati; Sandra Fikawati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 2, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(2).65-73

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Persepsi Ketidakcukupan ASI (PKA) adalah pikiran atau perasaan ibu terhadap kondisi ketiadaan atau berkurangnya produksi ASI sehingga ibu merasa bahwa ASI-nya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayinya. PKA menjadi alasan utama ibu berhenti menyusui secara dini dan alasan untuk memberikan makanan tambahan lebih awal pada bayinya. Prevalensi PKA belum diketahui secara pasti, diperkirakan antara 30-80% dari ibu yang menyusui mempunyai PKA. Tujuan : untuk mengetahui faktor paling dominan dalam PKA. Metode: Desain penelitian ini menggunakan Cross Sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 71 sampel ibu yang memiliki bayi 0-6 bulan yang gagal menyusui secara eksklusif dikarenakan mengalami PKA. Hasil: Hasil analisis didapatkan sebanyak 59 (83,1%) ibu memiliki PKA dengan ASI yang cukup. Ada hubungan yang bermakna konseling ASI saat Antenatal Care (ANC) dengan PKA yang mempunyai ASI cukup, ibu yang tidak mendapatkan konseling saat ANC berpeluang 19,7 kali mempunyai PKA, p=0,012; OR=19,746 (CI 95% 1,926-202,456).Kesimpulan: Konseling ASI pada saat ANC yang berkualitas merupakan hal yang sangat penting dilaksanakan oleh petugas kesehatan untuk persiapan menyusui. Pemanfaatan “Temu wicara” dalam konsep 10 T dalam ANC perlu diefektifkan untuk membahas persiapan laktasi.KATA KUNCI: persepsi ketidakcukupan ASI; konseling ASIABSTRACT Background: Perceptions of Insufficient Milk Supply (PIM) is the mother's thoughts or feelings about the condition of the absence or reduction in milk production. She felt that her breast milk is not enough to satisfy the needs of the baby. PIM was the main reason mothers stop breastfeeding early and a reason to give extra food early on the baby. Prevalence of PIM is not certain, it is estimated between 30-80% of breastfeeding mothers has PIM. Objectives: This study aimed to find out the most dominant factors related to PIM. Methods: Design of this study using cross-sectional. The numbers of samples in this study were 71 samples of mothers with babies’ 0-6 months exclusive breastfeeding failure due to experiencing PIM. Results: Found as many as 59 (83.1%) mothers had PIM with enough milk. There is a significant correlation counseling exclusive breastfeeding during Antenatal Care (ANC) by PIM that has enough milk, mothers who did not receive counseling when the ANC likely to have 19.7 times PIM, p = 0.012; OR = 19.746 (95% CI 1.926 to 202.456). Conclusion: Exclusive Breastfeeding counseling during ANC quality does health personnel in preparation for breastfeeding implement a very important thing. Utilization of “Gathering of speech” in the concept of 10 T in the ANC should be effected to discuss preparation for lactation.KEYWORDS: exclusive breastfeeding, perceptions of insufficient milk supply
The importance of mother’s care for improving exclusive breastfeeding practices Winda Irwanti; Kristen M Hurley; Tony Arjuna; Keith P West, Jr; Jane Chao; Hamam Hadi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 3, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(3).%p

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Secara global, prevalensi ibu yang memberikan ASI (air susu ibu) secara eksklusif untuk bayinya sampai dengan usia 6 bulan masih rendah (38%). Di Indonesia, pemberian ASI sudah dipraktikkan secara luas, namun yang memberikan hingga 6 bulan hanya 15,3% dan belum meningkat, meskipun Panduan Pemberian Makan Bayi dan Anak dari WHO telah tersedia.Tujuan: Studi ini bertujuan untuk menginvestigasi pentingnya pengasuhan oleh ibu (yaitu ibu memiliki peran terbesar dan menghabiskan waktu terbanyak untuk merawat bayinya sehari-hari) untuk meningkatkan praktik ASI Eksklusif pada populasi dengan tingkat ekonomi rendah.Metode: Studi cross-sectional ini dilakukan pada 408 anak usia 6 - 24 bulan dan pengasuhnya di daerah pedesaan Indonesia. Data riwayat ASI, pengasuhan anak, dan status sosio-ekonomi diambil dengan instrumen kuesioner terstruktur oleh pewawancara yang terlatih.Hasil: Lebih dari setengah (61%) Ibu di populasi ini memberikan ASI secara eksklusif pada bayinya sampai dengan usia 6 bulan. Hasil menunjukkan bahwa bayi mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk diberikan ASI eksklusif jika diasuh oleh ibu kandungnya (OR = 4.6., 95% CI = 1.75 - 12.2) dan berasal dari keluarga dengan penghasilan rendah (OR = 1.9 95% CI = 1.08 - 3.2), setelah mengendalikan variabel lain.Kesimpulan: Pada populasi berpenghasilan rendah dimana praktik pemberian ASI telah dilakukan, tetapi pengasuhan anak dilakukan oleh seseorang selain ibu kandung, pentingnya pemberian ASI eksklusif harus terus ditekankan. Edukasi untuk meningkatkan motivasi ibu dan anggota keluarga lainnya dalam memberikan ASI, serta membangun lingkungan kerja yang ramah menyusui adalah hal yang penting untuk dilakukan.KATA KUNCI: ASI eksklusif; pengasuh; ibu kandung; tingkat ekonomi; Indonesia Timur ABSTRACTBackground: Globally, the prevalence of women who exclusively breastfeed their infants to 6 months of age remains low (38%). In Indonesia, breastfeeding is widely practiced but the prevalence of exclusive breastfeeding at 6 months is only 15,3% and has not increased over time, despite WHO IYCF guidelines.Objectives: This study aims to examine the importance of mother’s care for improving exclusive breastfeeding practices in low-income populations in Indonesia.Methods: This cross-sectional study was conducted using 408 children aged 6 - 24 months and their caregivers in rural Indonesia. five districts. Data on breastfeeding history, childcare, and socioeconomic status of families were collected using structured questionnaires by trained interviewers.Results: Over half (61%) of mothers in this population exclusively breastfed their infant at 6 months (?) Results showed that infants are more likely to receive exclusive breastfeeding if they were cared by biological mothers (OR = 4.6., 95% CI = 1.75 - 12.2) and reside in low-income households (OR = 1.9 95% CI = 1.08 - 3.2), after adjusting for confounding variables.Conclusion: In low-income populations where breastfeeding is common but the provision of child care is provided by someone besides the biological mother, the importance of exclusive breastfeeding should continue to be emphasizedKEYWORDS: exclusive breastfeeding; caregivers; biological mothers; economic level; Eastern Indonesia
Determinants of non-cardiorespiratory fitness in pre-elderly women Mustakim Mustakim; Kusharisupeni Djokosujono
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 2, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(2).41-50

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Kelompok lanjut usia mengalami perkembangan yang pesat di masa mendatang. Kebugaran menjadi salah satu prediktor dalam menentukan kesakitan dan kematian pada kelompok lansia.Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan untuk membahas karakteristik, komposisi tubuh, gaya hidup dan asupan gizi dengan kebugaran yang diukur melalui serangkaian tes kebugaran pada wanita pralansia di Kecamatan Pancoran Mas kota Depok.Metode: Penelitian menggunakan desain studi cross-sectional dan dilakukan pada 134 orang wanita pralansia di Kecamatan Pancoran Mas kota Depok.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72,4 persen wanita pralansia berada pada kondisi tidak bugar. Variabel paling berhubungan dengan kebugaran adalah aktivitas fisik setelah dikontrol dengan IMT, persen lemak tubuh, status merokok dan asupan vitamin B12.Kesimpulan: Akivitas fisik merupakan faktor paling berpengaruh terhadap kebugaran non kardiorespiratori pada wanita pralansia. Oleh karena itu, wanita pralansia wajib menjaga aktivitas fisiknya secara rutin melalui jalan kaki, senam ataupun kegiatan fisik lainnya.KATA KUNCI: wanita pra lansia, kebugaran non kardiorespiratori, aktivitas fisik  ABSTRACTBackgrounds: Fitness was found as an indicator of morbidity and mortality to the elderly. A person who have low physical fitness level is often associated with a lack of regular physical activities and causes of degenerative diseases and premature death. Besides, fitness will have an inluenfce to his body composition (reduced fat levels in the abdomen), increase lipid profile (reduced triglyceride levels, increased HDL), reduce LDL, and reduce blood pressure.Objectives: This study focused on the physical fitness of middle-aged women in Pancoran Mas, Depok. The purpose of this study was to look at the relationship between lifestyle, body composition and nutritional intake and physical fitness. In addition, this study also determined the dominant factor related to physical fitness.Methods: This study used a cross-sectional design and the data were collected from 134 middle-aged women. Physical Fitness was measured by fitness test using handgrip test, sit and reach test, and chair sit and stand the test. Data on body composition will be collected through a series of anthropometric measurements. Meanwhile, nutrition intake was collected using an interview questionnaire on a 2-day 24-hour dietary recall and lifestyle were collected by using Physical Activity Scele for Elderly (PASE Questionnaire).Results: The result showed that 72.4 percent of respondents had a low category level condition. This study showed that there is a significant relationship between physical activities and non-cardiorespiratory fitness in middle-aged women. The dominant factor related to determining fitness was physical activities with OR 2.382 after being measured by a percentage of body fat, body mass index (BMI), smoking status and vitamin B12 intake.Conclusions: The most influential variable was physical activities after adjusted by BMI (Body Mass Index), the percentage of body fat, smoking status, and vitamin B12 intake.middle aged women should keep their physical activity in active level. They can use walking or aerobic dance to maintain their physical activity.KEYWORDS: Middle-aged women; non-cardiorespiratory fitness; physical activity
The eating habbits of type 2 diabetes mellitus in primary healthcare center Ratna Wirawati Rosyida; Ni Kadek Diah Purnamayanti; Marina Kristi Layun Rining
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 3, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(3).%p

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 yang termasuk dalam penyakit tidak menular memilki prevalensi yang terus meningkat setiap tahun. Yogyakarta menjadi provinsi dengan prevalensi DM tipe 2 terbanyak di Indonesia. Diet pada pasien diabetes merupakan salah satu pilar manajemen diri diabetes yang penting untuk dipatuhi. Diet pada pasien diabetes akan berpengaruh terhadap kadar glukosa darah atau kondisi glikemik yang optimal.Tujuan: untuk mengetahui gambaran pola makan pada pasien DM tipe 2 di Yogyakarta.Metode: metode cross sectional study dilakukan kepada 80 responden. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner demografi dan pertanyaan terbuka mengenai pola makan yang dilakukan.Hasil: usia rata-rata responden 56 tahun, lama menderita DM rata-rata hampir 6 tahun, sebagian besar responden (72,5%) mengatur pola makan sehari-hari dengan cara membatasi konsumsi makan/minum manis (32,39%), mengurangi karbohidrat (25,35%), dan mengurangi porsi makan (16,90%).Kesimpulan: sebagian besar pasien DM tipe 2 di Yogyakarta telah mengatur pola makan. Pola makan yang banyak diterapkan pasien DM tipe 2 di Yogyakarta adalah membatasi konsumsi makan/minum yang manis.KATA KUNCI: diabetes melitus; pola makan; Indonesia ABSTRACT Backgrounds: Type 2 Diabetes Mellitus (DM) which is included in non-communicable diseases has an increasing prevalence every year. Yogyakarta is the province with the highest prevalence of type 2 diabetes in Indonesia. Diet in diabetic patients is one of the important pillars of diabetes self-management to be obeyed. Diet in diabetic patients will affect blood glucose levels or optimal glycemic conditions.Objectives: to know the description of dietary pattern in patients with type 2 DM in YogyakartaMethods: a cross-sectional study method was carried out on 80 respondents. The instrument used was in the form of a demographic questionnaire and open-ended questions about eating patterns.Results: the average age of the respondent was 56 years, the duration of DM suffered an average of almost 6 years, the majority of respondents (72.5%) regulate daily eating patterns by limiting consumption of food/beverages sweet (32.39%), reduce carbohydrates (25.35%), and reduce food portions (16.90%).Conclusion: the majority of type 2 DM patients in Yogyakarta have adjusted their diet. The diet that is widely applied by patients with type 2 diabetes in Yogyakarta is to limit the consumption of sweet foods/drinks.KEYWORDS: diabetes mellitus; dietary; Indonesia
Total of phenol and antioxydant activities of rice bran yoghurt Olvi Ariyani; Fatma Zuhrotun Nisa; Mulono Apriyanto; Veriani Aprilia
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 2, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(2).37-40

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Bekatul merupakan salah satu produk pertanian Indonesia yang kaya akan zat bioaktif, terutama senyawa fenolik dan fitokimia. Senyawa fenolik sulit diekstraksi karena seratnya tidak larut air. Salah satu cara untuk mengekstraksinya yaitu dengan fermentasi. Yogurt merupakan salah satu produk fermentasi susu. Adanya penambahan bekatul ke dalam yogurt dapat meningkatkan efek fungsionalnya, tidak hanya efek kesehatan saluran cerna, tetapi juga efek antioksidatifnya.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh proses fermentasi terhadap aktivitas antioksidan dan total fenol yogurt dengan adanya penambahan bekatul.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap. Ada 4 formula yogurt yang berbeda pada jumlah bekatul yang ditambahkan, antara lain: 0%, 5%, 10%, dan 15%. Total fenol dianalisis menggunakan metode Follin-Ciocalteu dan aktivitas antioksidan dianalisis dengan metode DPPH. Data kemudian dianalisis statistika menggunakan one-way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji beda nyata Duncan.Hasil: Penambahan bekatul pada konsentrasi yang lebih tinggi memengaruhi persentase total fenol yang makin tinggi juga, antara lain 0,03±0,00; 0,04±0,00; 0,06±0,00; dan 0,07±0,00% untuk penambahan konsentasi bekatul 0, 5, 10, dan 15%. Aktivitas antioksidan juga meningkat secara signifikan dari 25,77±0,14% untuk sampel tanpa penambahan bekatul menjadi 47,43±0,29% untuk sampel dengan penambahan bekatul 15%.Kesimpulan:  Penambahan bekatul memiliki efek yang signifikan terhadap peningkatan total fenol dan aktivitas antioksidan yogurt. KATA KUNCI: bekatul, yogurt, aktivitas antioksidan, total phenol  ABSTRACTBackground: Rice bran is one of Indonesia agricultural product that is high in bioactives, especially phenolic and phytochemical compounds. Phenolic compunds are difficult to extract because the fiber can not solute in water. An alternative way to extract is by fermentation. Yogurt is one of dairy fermentation product. The addition of rice bran into the yogurt will improve its functional effect, not only provides the gastrointestinal health effects but also antioxidant activity. Objectives: To investigate the influence of fermentation process on the antioxidant activity and total phenol of yogurt with the addition of rice bran.Methods: This was an experimental study using completely randomized design. There were 4 formulation of yogurts with different amount of rice bran, i.e. 0%, 5%, 10%, and 15%. Total phenol was measured by Follin-Ciocalteu methods and the antioxidant activity was analyzed by DPPH. Data were analyzed statistically by one-way ANOVA and continued to Duncan’s multiple range test.Results: The addition of rice bran in higher concentration showed higher percentage of total phenol, those were 0.03±0.00; 0.04±0.00; 0.06±0.00; and 0.07±0.00 respectively for the addition of 0, 5, 10, and 15% of rice bran. The antioxidant activities were also increased significantly from 25.77±0.14% for sample without rice bran to 47.43±0.29% for sample with the addition of 15% rice bran. Conclusions: The addition of rice bran gave the significant effect on total phenol and antioxidant activity of yogurt. KEYWORDS: rice bran, yogurt, antioxidant activity, total phenol
Implementation of regulation policy of Sleman Regency number 38 OF 2015 concerning of giving exclusive breastfeeding of working mother Della Kaulika; Sri Werdati; Arini Hardianti; Choirul Anwar
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 3, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(3).%p

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: ASI Eksklusif adalah memberikan hanya ASI saja tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 menegaskan bahwa setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI Eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya. Peraturan lain yang mendukung ASI adalah Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Kesehatan tentang peningkatan pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja. Pemerintah Kabupaten Sleman telah membuat peraturan tentang pemberian ASI Eksklusif yakni yang tercantum dalam Peraturan Bupati Kabupaten Sleman Nomor 38 Tahun 2015.Tujuan: Tujuan penelitian ini  adalah untuk mengetahui implementasi kebijakan Peraturan Bupati Sleman nomor 38 tahun 2015 tentang ASI Eksklusif pada ibu bekerja di Kabupaten Sleman.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan content analysis.Hasil: Sosialisasi kebijakan telah melibatkan lintas program dan lintas sektor. Dinas Kesehatan, Dinas Tenaga Kerja dan Puskesmas telah mengadakan program pendukung kebijakan pemberian ASI Eksklusif. Dukungan dari perusahaan terhadap kebijakan ini diantaranya dalam bentuk pemberian waktu cuti melahirkan yang sesuai, penyediaan ruang laktasi, dan pemberian waktu untuk memerah ASI di perusahaan.Kesimpulan: Implementasi kebijakan Peraturan Bupati Sleman Nomor 38 Tahun 2015 tentang Pemberian ASI Eksklusif saat ini mampu menaikkan cakupan ASI Eksklusif di Kabupaten Sleman. Akan tetapi, implementasi Peraturan Bupati tersebut belum sepenuhnya baik karena masih terdapat beberapa ketentuan yang belum terealisasikan sehingga menjadi hambatan untuk memajukan program ASI Eksklusif. Kata Kunci : ASI eksklusif; ibu bekerja; Kebijakan Peraturan Bupati Sleman        ABSTRACTBackground: Exclusive breastfeeding is giving only breast milk without giving other foods and beverages for infants from birth until the age of 6 months. Government Regulation, No. 33 of 2012 affirms that every mother giving birth must give exclusive breastfeeding to the baby born. Another rule that supports breastfeeding is the Joint Regulation of the State Minister for Women's Empowerment, Minister of Manpower and Transmigration and the Ministry of Health of the increase in breastfeeding during working hours at the workplace. The Government of Sleman Regency has made regulations on exclusive breastfeeding, which are listed in Sleman Regency Regulations Number 38 of 2015.Objectives: The objectives of this study was to determine the policy implementation of Sleman Regency Regulation number 38 of 2015 concerning Exclusive Breastfeeding for working mothers in Sleman Regency.Methods: This study uses qualitative methods and types of case study research. Data collection techniques are using observation and in-depth interviews. Data analysis uses content analysis and presentation based on collected data.Results: Policy of Socialization has involved cross-program and across sectors. Departments of Health, Labor and Health Center have held a policy support program exclusive breastfeeding. The company's support for this policy includes the provision of appropriate maternity leave time, provision of lactation space, and giving time to milk breastfeeding in the company.Conclusions: The policy implementation of Sleman Regency Regulation Number 38 of 2015 concerning the Provision of Exclusive Breastfeeding is currently able to increase the coverage of Exclusive ASI in Sleman Regency. However, implementation of the decree has not been entirely good because there are still some provisions that unrealized thus as an obstacle to advancing the program of exclusive breastfeeding. Keywords: exclusive breastfeeding, working mothers, policy regulations of Sleman District
Effect of modification of nutrition counseling by using diet message sticker on food waste of inpatients Pramesti Retno Hapsari; Retno Pangastuti; Fery Lusviana Widiany
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 2, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(2).58-64

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Asuhan gizi rumah sakit diberikan kepada pasien berdasarkan hasil asesmen, termasuk kondisi klinis. Salah satu faktor yang mendukung kepatuhan diet pasien di rumah sakit adalah edukasi gizi. Stiker pesan diet dapat digunakan sebagai alat bantu untuk pemberian edukasi terhadap pasien. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh pemberian stiker pesan diet terhadap sisa makanan pasien rawat inap. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain perbandingan kelompok statis. Sebanyak 220 responden diambil secara acak, dibagi menjadi kelompok kontrol (tanpa stiker diet) dan kelompok intervensi (diberi diet stiker). Stiker pesan diet diberikan kepada kelompok intervensi selama 1 hari dalam siklus menu ke-8. Stiker pesan diet ditempelkan di plato dan materinya disesuaikan dengan diet yang diberikan oleh ahli gizi rumah sakit. Sisa makanan diketahui menggunakan metode Visual Comstock berskala 6 poin. Data dianalisis univariat dan bivariat menggunakan uji-T independen. Hasil: Rata-rata sisa makanan pada kelompok intervensi berdasarkan masing-masing komponen makanan adalah 28,62 ± 28,62% pada buah, 23,24 ± 23,24% pada sayuran, 22,38 ± 20,87% pada makanan pokok, 22,30 ± 22,69% pada lauk nabati, dan 20,75 ± 22,38% pada lauk hewani. Sedangkan rata-rata sisa makanan pada kelompok kontrol adalah 44,89 ± 44,89% pada buah, 33,32 ± 33,32% pada sayuran, 39,83 ± 29,33% pada makanan pokok, 31,67 ± 31,67% pada lauk nabati, dan 36,20 ± 31,76% pada lauk hewani. Hasil uji-T independen untuk menganalisis pengaruh pemberian stiker diet terhadap sisa makanan menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05) untuk semua kelompok komponen makanan. Kesimpulan: Modifikasi konseling gizi dengan menggunakan stiker pesan diet berpengaruh terhadap sisa makanan pasien rawat inap. KATA KUNCI: intervensi gizi, metode visual Comstock, pasien rawat inap, sisa makanan, stiker pesan diet  ABSTRACTBackground: Nutrition care in hospital was provided to the patient based on nutritional assessment result, including clinical state. One of the factors supporting the dietary compliance of inpatients is a nutritional education. Diet message sticker could be used as a tool to educate patients. Objective: To analyze the effect of diet message sticker on food waste of inpatients. Methods: This was an experimental study with static group comparison design. As many as 220 respondents were randomly divided into control group (without diet sticker) and intervention group (given sticker diet). Diet message stickers were given to the intervention group for 1 day in the 8th menu cycle. Diet message sticker was attached on the plateau and the material was adjusted to the diet provided by the dietitian. Food waste was obtained by the Visual Comstock method with 6 point scale. Data was analyzed univariate and bivariate using independent T-test. Results: The average food waste in the intervention group which based on each food component were 28.62±28.62% in fruit, 23.24 ± 23.24% in vegetable, 22.38 ± 20.87% in staple food, 22.30 ± 22.69% in vegetable side dish, and 20.75 ± 22.38% in animal side dish respectively. While the average food waste in the control group were 44.89 ± 44.89% in fruit, 33.32 ± 33.32% in vegetable, 39.83 ± 29.33% in staple food, 31.67 ± 31.67% in vegetable side dish, and 36.20 ± 31.76% in animal side dish respectively. The result of the independent T-test to analyze the effect of applying diet message stickers to food waste showed p-value=0.000 (p<0.05) for all food component groups. Conclusion: Modification of nutritional counseling by using diet message sticker affects on food waste of inpatients. KEYWORDS: diet message sticker; dietary intervention; food waste; inpatient; visual comstock method.
Prevalence of anemia and factors associated with pregnant women in West Sumatra, Indonesia: Findings from VDPM Cohort Study Arif Sabta Aji; Yusrawati Yusrawati; Safarina G Malik; Nur Indrawaty Lipoeto
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 3, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(3).97-106

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Anemia kehamilan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang yang berkontribusi terhadap risiko tinggi komplikasi kehamilan. Indonesia sebagai negara berkembang memiliki risiko anemia yang lebih tinggi yang bisa disebabkan oleh kekurangan asupan zat gizi mikro, infeksi, atau faktor sosial-demografis lainnya.Tujuan: Identifikasi prevalensi dan faktor risiko anemia pada ibu hamil yang tinggal di Sumatera Barat, Indonesia.Metode: Penelitian ini adalah analisis data sekunder dari studi kohort prospektif yaitu "“Vitamin D Pregnant Mother (VDPM) di Sumatera Barat". Subyek ibu hamil trimester diperoleh dari Puskesmas di Provinsi Sumatera Barat. Waktu penelitian dilakukan pada Januari-Maret 2017. Data demografi, sosial ekonomi, antropometri, dan Riwayat kesehatan ibu diteliti. Regresi logistik biner multivariatdigunakan untuk menentukan faktor-faktor terkait anemia. Dalam semua kasus, nilai p kurang dari 0,05 dianggap signifikan secara statistik.Hasil: 176 ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi diambil dalam penelitian ini. Prevalensi anemia ditemukan sebesar 61,90%. Rerata konsentrasi hemoglobin adalah 10,56 ± 1,41 g / dL. Prevalensi anemia sedang dan ringan masing-masing adalah 34% dan 27%. Status anemia ibu hamil trimester ketiga berhubungan dengan wanita yang memiliki <upah minimum/bulan (AOR: 5.15; 95% CI: 1.30-20.47), pengetahuan gizi ibu yang rendah (AOR: 15.88; 95% CI: 3.82- 66.02), IMT sebelum kehamilan <25 kg/m2 (AOR: 11.82; 95% CI: 2.70-51.69), dan tidak patuh konsumsi suplemen zat besi (AOR: 29.69; 95% CI: 6.58-133.91).Kesimpulan: Terdapat masih tingginya prevalensi anemia pada wanita hamil di Sumatera Barat. Oleh karena itu, meningkatkan kesadaran akan suplementasi zat besi dan kesehatan yang berkaitan dengan nutrisi selama kehamilan perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan status kesehatan ibu untuk mengurangi anemia. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan dengan ukuran sampel yang besar untuk mengkonfirmasi temuan ini.KATA KUNCI: anemia; faktor risiko; kehamilan; trimester ketiga; Sumatra Barat ABSTRACTBackground: Anemia during pregnancy remain to be a public health problem in developing countries which contributes to the high risk of adverse pregnancy outcomes. Indonesia as developing country has a higher risk of anemia that could be due to high of deficiencies of micronutrients intake, infection, or other socio-demographic factors.Objectives: The aim of this study was to determine the prevalence and risk factors anemia among pregnant women living in West Sumatra, Indonesia.Methods: The study is a secondary data analysis of prospective cohort study named “Vitamin D Pregnant Mother (VDPM) study in West Sumatra”. The third trimester pregnant women were enrolled from the public health centers in West Sumatra Province from January to March 2017. Structured questionnaires were used to collect data of demographic, socio-economic, anthropometry, and maternal health from all the study subjects. A multivariate binary logistic regression had been used to determine the associated factors of anemia. In all cases, P value less than 0.05 was considered statistically significant.Results: 176 pregnant women who fulfilled the inclusion criteria were enrolled this study. The prevalence of anemia was 61.90%. The mean of hemoglobin concentration was 10.56±1.41 g/dL. Moderate and mild anemia prevalence were 34% and 27%, respectively. The third trimester of pregnant women anemia status were associated with women who had <minimum wage/month (AOR: 5.15; 95%CI: 1.30-20.47), low-moderate maternal nutrition knowledge (AOR: 15.88; 95%CI: 3.82-66.02), pre-pregnancy BMI <25 kg/m2 (AOR: 11.82; 95%CI: 2.70-51.69), and no adherence iron supplement intake status (AOR: 29.69; 95%CI: 6.58-133.91).Conclusions: There was a high prevalence of anemia status in the third pregnant women in West Sumatra. Therefore, raise awareness of iron supplementation and health related to nutrition during pregnancy need to be considered to improve maternal health status to reduce anemia. However, further studies required with large sample size to confirm this finding.KEYWORDS: anemia; risk factors; third trimester; pregnancy; West Sumatra
Associated factors of adolescents malnutrition in junior high school student Nuryani Nuryani; Yeni Paramata
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 8 ISSUE 1, 2020
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2020.8(1).9-21

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Remaja merupakan kelompok usia yang rentang mengalami malnutrisi baik gizi lebih maupun gizi kurang yang disebabkan oleh pertumbuhan fi sik yang cepat, perubahan hormonal untuk system reproduksi dan perubahan psikosial. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengkaji sejumlah faktor yang mempengaruhi kejadian malnutrisi pada remaja. Metode: Desain penelitian cross sectional study yang diselenggarakan di MTS Negeri Model 1 Limboto. Pengambilan sampel menggunakan tekhnik accidental sampling sejumlah 251 remaja. Variabel penelitian berupa status gizi remaja, status sosial ekonomi, pengetahuan, sikap dan perilaku gizi pada remaja. Analisis hubungan antara variabel menggunakan uji chi square test dengan nilai α = 0.05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 10,0% remaja mengalami stunting, 23,5% remaja mengalami obesitas, 72,5% pengetahuan gizi kurang, 41,8% sikap gizi seimbang negative dan 45,4% perilaku gizi seimbang yang tidak baik. Analisis uji chi square menunjukkan pendidikan ayah berhubungan dengan kejadian stunting pada remaja (p = 0,001), namun analisis hubungan social ekonomi dengan kejadian stunting dan obesitas remaja berturut – turut pendidikan ibu (p=0,051 dan p=0,647), pekerjaan ibu (p = 0,385 dan p = 0,206), pendapatan keluarga (p = 1,000 dan p=0,061), riwayat pengasuhan (p = 0,496 dan p = 0,525), jumlah saudara (p = 0,131 dan p = 0,903), jenis kelamin (p = 0,298 dan p = 1,000), pengetahuan (p = 0,767 dan p = 0,447), sikap (p = 0,656 dan p = 0,805) dan perilaku gizi (p = 1,000 dan p = 0,268) tidak berhubungan dengan kejadian stunting dan obesitas pada remaja. Kesimpulan: faktor social ekonomi yakni pendidikan ayah berhubungan signifi kan dengan kejadian stunting pada remaja.KATA KUNCI: malnutrisi: pengetahuan: perilaku: sikap: sosial ekonomiABSTRACTBackgrounds: Adolescents are an age group that vulnerable experiencing of malnutrition both over nutrition and undernutrition caused by rapid physical growth, hormonal changes to the reproductive system and psychosocial changes. Objectives: The purpose of this study was to examine the socioeconomic factors that infl uenced the incidence of malnutrition in adolescents. Methods: The design study was cross sectional study conducted in MTS Model 1 Limboto State. Sampling was used an accidental sampling technique with 251 adolescents. Research variables were included nutritional status, socioeconomic status, knowledge, attitudes, and nutritional behavior. Analysis of the association between variables using the chi square test with a value α = 0.05. The results showed as many as 10.0% of adolescents were stunted, 23.5% of adolescents were obese, 72.5% low nutritional knowledge, 41.8% negative balanced nutrition attitudes and 45.4% poor balanced nutrition behavior. Analysis chi square test was showed the father education related to the incidence of stunting in adolescents (p = 0.001) , but analysis of social economy with the incidence of stunting and obesity in adolescent respectively maternal education (p = 0.051 and p=0.647), mother occupation (p = 0.385 and p = 0.206), family income (p = 1,000 and p = 0.061), caregivers (p = 0.496 and p = 0.525), number of siblings (p = 0.131 and p = 0.903), gender (p = 0.298 and p = 1,000), nutrition knowledge (p = 0.767 and p = 0.447), attitudes (p = 0.656 and p = 0.805) and nutrition behavior (p = 1,000 and p = 0.268) were not related to the incidence of stunting and obesity in adolescents. Conclusion: It was concluded that socioeconomic factors namely father education were signifi cantly related to the incidence of stunting in adolescents.KEYWORDS: attitude: behavior: knowledge: malnutrition: social economy