cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Hasil skrining berdasarkan metode MNA (mini nutritional assestment) tidak berpengaruh terhadap lama rawat inap dan status pulang pasien lanjut usia di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Wahyu Hardi Prasetyo; I Dewa Putu Pramantara; R. Dwi Budiningsari
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 2, NOMOR 2, MEI 2014
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.194 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2014.2(2).75-84

Abstract

ABSTRACTBackground: The number of elderly people (over 60 years old) is growing rapidly in this 21th century, reaching as many as 425 millions (+ 6.8%) worldwide in 2000. This figure is estimated almost twice in 2025. In Indonesia, percentage the elderly people in 1995 was as much as 7.5%. In line with the increasing of live expectancy of the number of the elderly will grow bigger. This is related to greater need of health service for the eldery. In older people, nutrition problem is closely associated with disease. One factor that causes nutrition problem in the elderly is the increase of morbidity. Increased risk for disease and nutrition problem in the elderly require early identification of risk for malnutrition in the elderly. Routine assessment of preliminary nutritional status of patients being hospitalized is essential in order to get an overview of nutritional status patients at a time, detect high risk patients and help to identify nutrition treatment specifically for each patient so that appropriate nutrition support can be given to improve nutrition status of patient.Objectives: To identify the impact of early screening nutrition result based on MNA method to the length of stay and discharge status of elderly patients at inpatient ward of internal medicine and neurology of Dr Sardjito Hospital Yogyakarta.Methods: The study was observational that used prospective cohort design and was undertaken at inpatient ward of internal in medicine and neurologyod Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta on August-November 2009. Data were collected by the researcher with the help of an enumerator, i.e. nutritionsist at inpatient ward.Results: The result of study showed that impact of screening result during initial hospitalization to length of stay of eldery patients based on MNA method was RR 1.63. This indicated that malnourished patients were at risk for being hospitalized > 7 days 1.63 times longer than those not malnourished. Impact of result screening during initial hospitalization to discharge status of eldery patients based on MNA method was RR 1.29. This indicated that malnourished patient were at risk for uncovered discharged as much as 1.29 greater than those not malnourhized.Conclusions: There was no impact of screening result in admission to length of stay. There was impact of nutritional status to length of discharged status.KEYWORDS: discharge home, length of stay, nutritional status in initial admission.ABSTRAKLatar belakang: Pertumbuhan penduduk lanjut usia (umur ≥60 tahun) meningkat secara cepat pada abad 21 ini, yang pada 2000 di seluruh dunia telah mencapai 425 juta jiwa (± 6,8%). Jumlah ini diperkirakan akan mengalami peningkatan hampir dua kali lipat pada 2025. Di Indonesia, persentase lanjut usia pada 1995 mencapai 7,5%. Dengan meningkatnya angka harapan hidup, jumlah lanjut usia pun akan bertambah banyak. Hal ini terkait dengan perlunya peningkatan pelayanan kesehatan lanjut usia. Pada lanjut usia, masalah gizi erat kaitannya dengan penyakit. Salah satu faktor yang menyebabkan lanjut usia menjadi rawan gizi yaitu peningkatan morbiditas penyakit. Dengan meningkatnya risiko penyakit dan disertai gangguan nutrisi pada lanjut usia, perlu dilakukan identifikasi risiko malnutrisi pada lanjut usia sedini mungkin. Penilaian status gizi awal pasien masuk rumah sakit sangat penting dilakukan secara rutin karena dapat menggambarkan status gizi pasien saat itu, mendeteksi pasien-pasien yang berisiko tinggi, dan membantu mengidentifikasi perawatan gizi secara spesifik pada masing-masing pasien sehingga dukungan nutrisi yang tepat dapat diterapkan untuk meningkatan status gizi pasien.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh hasil skrining awal berdasarkan metode MNA (mini nutritional assessment) terhadap lama rawat inap dan status pulang pasien lanjut pada ruang rawat inap penyakit dalam dan saraf di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan menggunakan rancangan kohort prospektif. Penelitian ini dilakukan di ruang rawat inap penyakit dalam dan saraf pada pasien lanjut usia di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-November 2009. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dengan bantuan enumerator yaitu ahli gizi yang bertugas di ruang rawat inap.Hasil: Berdasarkan hasil skrining dengan metode MNA pada pasien lanjut usia terhadap lama rawat inap, maka diketahui bahwa nilai RR=1,63. Hal ini menunjukkan bahwa pasien yang terpapar (malnutrisi) berisiko dirawat selama ≥7 hari adalah 1,63 kali lebih besar daripada pasien yang tidak terpapar (tidakmalnutrisi). Berdasarkan hasil regresi logistik tidak ada pengaruh antara hasil skrining dengan lama rawat inap. Ada pengaruh secara statistik antara usia, jenis penyakit dan kelas perawatan terhadap lama rawat inap. Berdasarkan hasil regresi logistik, jenis penyakit memiliki pengaruh yang paling dominan dengan nilai RR 3,88 terhadap lama rawat inap. Berdasarkan hasil skrining awal masuk rumah sakit terhadap status pulang pasien lanjut usia berdasarkan metode MNA, maka diketahui nilai RR=1,29. Hal ini menunjukkan bahwa pasien yang terpapar (malnutrisi) berisiko keluar dalam keadaan tidak sembuh sebesar 1,29 kalilebih besar daripada pasien yang tidak terpapar (tidak malnutrisi). Berdasarkan hasil uji regresi logistik ada pengaruh antara hasil skrining dengan status pulang dengan nilai OR 9,21. Demikian pula ada pengaruh antara usia dan jenis kelamin dengan status pulang (p<0,05). Kesimpulan: Tidak ada pengaruh antara hasil skrining dengan lama rawat inap. Ada pengaruh antara usia, jenis penyakit dan kelas perawatan terhadap lama rawat inap. Ada pengaruh antara hasil skrining dengan status pulang.KATA KUNCI: skrining, lama rawat inap, status pulang pasien 
Tingkat asupan energi dan ketersediaan pangan berhubungan dengan risiko kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil Yanuarti Petrika; Hamam Hadi; Detty Siti Nurdiati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 2, NOMOR 3, SEPTEMBER 2014
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.451 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2014.2(3).140-149

Abstract

ABSTRACTBackground: Chronic energy deficiency (CED) is one of nutritional problems in pregnant women. One of the causes is inadequate energy and protein in food consumption, and low household food availability.Objectives: To know association between energy and protein intakes, food availability with CED in pregnant women in Sedayu Subdistrict, Bantul, Yogyakarta.Methods: This was an observational study with cross sectional design. This study was conducted in Sedayu Subdistrict, Bantul, Yogyakarta from March to May 2014 and 201 pregnant women were selected as samples by using total sampling methods. Independent variable was the level of energy intake, protein,and food availability while the dependent variable was the risk of CED in pregnant women. Data were collected by direct interview with questionnaire and direct measurement of mid upper arm circumference (MUAC) with MUAC tape. Data were then analyzed by using univariable analysis (descriptive), bivariable(chi-square), and multivariable (multiple logistic regression).Results: Bivariable test showed a significant association between level of energy intake (OR=3, 95% CI:1.3-6.8) and food availability (OR=2.9, 95% CI:1.1-7.1) with the risk of CED in pregnant women in Sedayu Subdistrict. However, no significant association between level of protein intake and the risk of CED (OR=2.1, 95% CI: 0.9-5.1). In multivariable analysis, level of energy intake had the strongest association with the risk of CED.Conclusions: There was associaton between level of energy intake and food availability with the risk of CED in pregnant women. However, there was no association between level of protein intake and the risk of CED in pregnant women.KEYWORDS: chronic energi deficiency, pregnant women, intake of energy intake of protein, food availabilityABSTRAKLatar belakang: Kekurangan energi kronis (KEK) merupakan salah satu masalah gizi yang terjadi pada ibu hamil. Salah satu penyebab KEK adalah konsumsi makan yang tidak cukup mengandung energi dan protein serta ketersediaan pangan keluarga yang kurang.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat asupan energi, tingkat asupan protein, dan ketersediaan pangan dengan kejadian KEK pada ibu hamil di Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta.Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional yang dilakukan di Kecamatan Sedayu Bantul pada bulan Maret hingga Mei 2014. Populasi adalah seluruh ibu hamil di Kecamatan Sedayu yang diambil dengan metode total sampling dan didapatkan 201 orang. Variabel bebas yaitu tingkat asupan energi,protein, dan ketersediaan pangan, sedangkan variabel terikat adalah risiko KEK pada ibu hamil. Data diambil dengan wawancara langsung menggunakan software kuesioner Commcare dan pengukuran lingkar lengan atas (LILA) dengan pita LILA. Data dianalisis dengan analisis univariabel (deskriptif), bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik berganda).Hasil: Analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat asupan energi (OR=3, 95% CI:1,3-6,8) dan ketersediaan pangan (OR=2,9, 95% CI:1,1-7,1) dengan risiko KEK pada ibu hamil. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat asupan protein dengan risiko KEK (OR=2,1, 95% CI:0,9-5,1). Pada analisis multivariat, tingkat asupan energi memiliki hubungan paling kuat dengan risiko KEK dibandingkan dengan variabel lainnya.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat asupan energi dan ketersediaan pangan dengan risiko KEK pada ibu hamil. Namun tidak terdapat hubungan antara tingkat asupan protein dengan risiko KEK pada ibu hamil.KATA KUNCI: kekurangan energi kronis, ibu hamil, asupan energi, asupan protein, ketersediaan pangan
Motivation and exclusive breastfeeding among mothers in employment Fithri Hidayati; Eka Nurhayati; Rosma Fyki Kamala; Hamam Hadi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 1, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(1).16-22

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi selama enam bulan. Pemberian ASI eksklusif dapat memberikan banyak manfaat bagi ibu maupun bayi. Pemerintah Indonesia menargetkan cakupan pemberian ASI eksklusif sekitar 80%, tetapi berdasarkan data dari profil kesehatan Indonesia tahun 2014 menunjukkan cakupan ASI eksklusif baru mencapai 52,3%. Beberapa kendala yang muncul dalam upaya pemberian ASI eksklusif salah satunya adalah banyaknya ibu menyusui yang harus kembali bekerja. Faktor ini terkait karena kurangnya motivasi pada ibu bekerja untuk menyusui bayinya secara eksklusif.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi dengan riwayat pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja di perusahaan wilayah Kabupaten Bantul.Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak usia 6-12 bulan yang bekerja di perusahaan wilayah Kabupaten Bantul. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara menggunakan alat ukur berupa kuesioner. Hasil penelitian diuji dengan uji statistik uji chi square dengan program SPSS.Hasil: Hasil penelitian ini didapatkan sebagian besar ibu memiliki motivasi yang baik dalam memberikan ASI eksklusif sebesar 61,4% Hasil uji chi square diperoleh nilai p=0,011 dengan nilai signifikan P<0,05 sehingga terdapat hubungan antara dengan riwayat pemberian ASI eksklusif pada Ibu yang bekerja di wilayah perusahaan Kabupaten BantulKesimpulan: Ada hubungan motivasi dengan riwayat pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja yang bekerja di perusahaan wilayah Kabupaten Bantul KATA KUNCI: asi eksklusif, ibu bekerja, motivasi          ABSTRACT Background: Exclusive breastfeeding is breastfeeding without another additional food and drinks given to babies for six months. Exclusive breastfeeding can provide many benefits both for the mother and the baby. The Indonesian government is targeting coverage of exclusive breastfeeding for about 80%. However, based on the data taken from the Indonesian health profile in 2014, it shows that the coverage of exclusive breastfeeding only reached 52.3%. Some problems were encountered in the effort of giving exclusive breastfeeding, one of which is that many breastfeeding mothers have to go back to work. This factor is associated due to the lack of motivation for working mothers to exclusively breastfeed their infants.Objectives: This research aims to determine the relationship between motivation and the practice of exclusive breastfeeding mothers who work in companies in the Bantul Regency.Methods: This cross-sectional study recruited working mothers employed in medium and large companies in Bantul District, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. The study participants were 158 working mothers whose children were aged 6-12 months, and they were selected using the probability proportional to size technique. The data were analyzed using descriptive statistics and chi-square tests.Results: the majority of mothers have good motivation in providing exclusive breastfeeding, precisely reaching 61.4%. The result of the chi-square test shows that p=0.011 with a significant value of p<0.05. Therefore, there is a relationship between motivation and the practice of exclusive breastfeeding given by mothers who work in companies of Bantul Regency.Conclusion: There is a relationship between motivation and the practice of exclusive breastfeeding given by mothers who work in companies located in Bantul Regency. KEYWORDS: exclusive breastfeeding, motivation, working mothers
Keberhasilan ibu bekerja memberikan ASI eksklusif Intan Agustina Anggraeni; Detty Siti Nurdiati; Retna Siwi Padmawati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 2, MEI 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.88 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(2).69-76

Abstract

ABSTRACTBackground: Indonesia faces double burden of nutritional problems, namely undernutrition and overnutrition. Exclusive breastfeeding may prevent infants from these kind of malnutritions. Working mothers are difficult to give exclusive breastfeeding due to some constraints and poor lactation management.Objectives: To explore the experience of working mothers who succeeded in providing exclusive breastfeeding.Methods: This was qualitative study using phenomenology design. It was conducted at Subdistrict of Sedayu, District of Bantul. Subjects were 13 mothers who purposively selected, work and have been successful provided exclusive breastfeeding, had children aged 6-24 months. Data were obtained throughin-depth interview to the respondents and observation of lactation facilities at the working place. Data triangualation was performed through interview with husbands, baby sitters, colleagues and chairman of mother’s workplace.Results: Exploration of several information were studied, including intention to give exclusive breastfeeding, positive attitudes toward exclusive breastfeeding, perceived norms from social references, good self efficacy, cultural aspect of breastfeeding, skills of lactation management, and environmental constraintexperienced by mother. Intention of mothers during pregnancy was associated with behavior in providing exclusive breastfeeding. Intention to give exclusive breastfeeding was infl uenced by positive attitude andself-efficacy. There was difference in self-efficacy that influenced intention of mothers working in formal and informal sectors. Working mothers at formal and informal sectors differed in managing lactation. Despite some constraints and limited facilities mothers kept trying to provide exclusive breastfeeding.Conclusions: Working mothers have a specific strategy to succeed in providing exclusive breastfeeding.Education, facilities, and breastfeeding policies in workplace should be given to working mothers.KEYWORDS: exclusive breastfeeding, intention, lactation management, working mothersABSTRAKLatar belakang: Indonesia menghadapi beban ganda masalah gizi, yakni gizi kurang dan gizi lebih. Salah satu cara untuk mencegah masalah gizi pada bayi adalah dengan memberikan ASI eksklusif. Ibu yang bekerja sulit untuk memberikan ASI eksklusif karena kendala yang tidak dapat diatasi dan manajemen laktasi yang buruk.Tujuan: Untuk mengeksplorasi pengalaman ibu bekerja di sektor formal dan informal yang sukses memberikan ASI eksklusif.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian dilakukan di Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul. Subjek diambil secara purposive sebanyak 13 orang. Kriteria inklusi subjek adalah ibu yang bekerja dan berhasil memberikan ASI eksklusif, memiliki anak usia 6-24 bulan dan bersedia menjadi subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan responden dan observasi fasilitas laktasi di tempat kerja. Triangulasi data dilakukan dengan mewawancarai suami, pengasuh, rekan kerja, dan pemimpin.Hasil: Hasil penggalian informasi meliputi intensi ibu dalam memberikan ASI eksklusif, sikap positif terhadap ASI eksklusif, norma yang dipersepsikan dari lingkungan sosial, efikasi diri yang baik, budaya menyusui, keterampilan manajemen laktasi, dan hambatan lingkungan yang dialami oleh ibu. Intensi untuk menyusui eksklusif telah dimiliki oleh ibu sejak hamil. Ibu yang bekerja di sektor formal memiliki perbedaan dalam melakukan manajemen laktasi dibandingkan dengan ibu yang bekerja di sektor informal. Ibu mengalami beberapa hambatan dan keterbatasan, namun ibu tetap berjuang untuk memberikan ASI eksklusif.Kesimpulan: Ibu bekerja memiliki strategi tertentu untuk mencapai keberhasilan dalam memberikan ASI eksklusif. Pendidikan, penyediaan fasilitas, dan kebijakan menyusui di tempat bekerja perlu diberikan kepada ibu bekerja.KATA KUNCI: ASI eksklusif, ibu bekerja, intensi, manajemen laktasi
Breakfast habits, physical activities, and overweight in elementary school children Dian Nur Khalifah; Alfi Fairuz Asna; Afrinia Eka Sari
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 1, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(1).9-15

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Kegemukan terjadi akibat dari asupan energi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengeluaran energi. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegemukan sering diabaikan oleh masyarakat seperti kebiasaan sarapan yang kurang baik dan rendahnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh anak sekolah dasar.Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan konsumsi sarapan dan aktivitas fisik dengan kejadian kegemukan pada anak sekolah dasar.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dengan 130 subjek dan menggunakan uji chi square pada tingkat kemaknaan 95% (α=0,05).Pengambian data kebiasaan sarapan menggunakan kuesioner ang sudah divalidasi, pengambilan data aktivitas fisik menggunakan kuesioner PAQ-C (Physical Activity Questionaire for Children) dan data status gizi diambil dengan melakukan penimbangan serta pengukuran tinggi badan kemudian diklasifikasikan menggunakan indikator IMT/U.Hasil: Hasil analisis menggunakan uji chi square menunjukkan terdapat hubungan antara kebiasaan konsumsi sarapan dengan kegemukan pada subjek (p=0,009) dan terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kegemukan pada subjek (p=0,000).Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan konsumsi sarapan dan aktivitas fisik dengan kegemukan pada anak usia sekolah dasar.KATA KUNCI: aktivitas fisik; kebiasaan sarapan; kegemukanABSTRACTBackground: Overweight occurs as a result of higher energy intake compared to energy expenditure. Many people often underestimate about factors that can lead to overweight, such as bad breakfast habits and low physical activity in elementary school children.Objectives: The purpose of this study is to determine a correlation between breakfast habits and physical activity of students in elementary school with overweight.Methods: This study was an observational study with a cross-sectional design with 130 of the students and tests of the significance level of 95% (α=0.05). Breakfast habits data obtained using a validated questionnaire, physical activity data collection using the PAQ-C (Physical Activity Questionnaire for Children) and nutritional status data were taken by weighing and measuring height then classified using BMI/U indicators.Results: The result of the analysis using a chi-square test showed that there was a correlation between breakfast habits and overweight (p=0,009) and there was a correlation between physical activity with overweight (p=0.000).Conclusions: The conclusion, there are correlations between breakfast habits and physical activity with overweight among primary school children.KEYWORDS: physical activity, breakfast habits, overweight
Influence/effectiveness of carrot and orange mix juice on ṼO2Max in soccer players Yeri Amranitalia Putri; Eni Yusniati; Diana Nurrohima; Herviana Herviana; Desty Ervira Puspaningtyas; Yuni Afriani
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 1, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(1).23-30

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Daya tahan kardiorespirasi merupakan salah satu unsur penting dalam melakukan latihan fisik. Daya tahan kardiorespiratori dapat diketahui dengan mengukur konsumsi atau volume oksigen maksimal (ṼO2maks). Suplementasi buah dan sayur tertentu telah dibuktikan dapat berperan terhadap daya tahan atlet. Buah dan sayur diduga mempengaruhi daya tahan dengan menunda kelelahan disebabkan zat gizi yang terkandung seperti karbohidrat, vitamin, mineral, dan zat fitokimia. Penelitian sebelumnya menyatakan buah-buahan sumber karbohidrat diketahui dapat memperbaiki ṼO2maks. Beta carotene dan vitamin C telah teruji dapat meningkatkan daya tahan. Buah wortel dan jeruk merupakan buah-buahan dengan kandungan beta carotene dan vitamin C yang tinggi. Buah wortel dan jeruk juga mengandung mineral yang tinggi yaitu kalium. Kalium merupakan mineral utama yang sangat dibutuhkan pada latihan yang membutuhkan daya tahan (endurance) dan kalium  diketahui juga berperan dalam metabolisme karbohidrat untuk mengubah glukosa menjadi glikogen yang disimpan dalam hati untuk energi. Efek dari kombinasi beta carotene, vitamin C dan kalium pada jus wortel dan jeruk terhadap daya tahan kardiorespirasi pada atlit perlu analisis lebih lanjut.Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian jus wortel-jeruk terhadap nilai ṼO2maks pada atlet sepak bola.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental dengan rancangan pre-post test without control group. Jumlah subjek penelitian adalah sembilan atlet sepak bola yang memenuhi kriteria inklusi di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sepak Bola Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Subjek penelitian menerima intervensi pemberian 250 ml jus wortel-jeruk selama 13 hari. Nilai ṼO2maks diukur menggunakan yoyo intermittent recovery test I sebelum dan setelah intervensi. Perbedaan nilai ṼO2maks sebelum dan setelah intervensi dianalisis menggunakan uji paired t-test.Hasil: Hasil pengukuran nilai ṼO2maks sebelum pemberian jus wortel-jeruk (44,02 ± 2,66) ml /kg /menit dan setelah pemberian jus wortel-jeruk (45,88±3,11) ml/kg/menit. Terdapat perbedaan ṼO2maks yang signifikan setelah pemberian jus wortel-jeruk pada atlet sepak bola (p= 0.003).Kesimpulan: Pemberian jus wortel-jeruk efektif meningkatkan nilai ṼO2maks atlet sepak bola.KATA KUNCI: jeruk; sepak bola; ṼO2maks; wortel; yoyo intermittent recovery test I ABSTRACT Background: Cardiorespiratory endurance is one of the main factors for exercising. Cardiorespiratory endurance can be known by measuring ṼO2max. Fruits and vegetables intake can give beneficial impact for endurance athletes. Fruits and vegetables are thought to affect endurance by delaying fatigue caused by nutrients contained such as carbohydrates, vitamins, minerals, and phytochemicals. Previous studies stated that fruit sources of carbohydrates are known to improve ṼO2maks. Beta carotene and vitamin C have been proven to increase endurance. Carrots and oranges are high in beta carotene and vitamin C. Carrot and orange also contain a high level of potassium. Potassium is one of the main mineral which is needed for endurance exercise and it also has the potential to help carbohydrates metabolism in converting glucose to glycogen which later saved by the liver as an energy source. The effect of the combination of beta carotene, vitamin C and potassium on carrot and orange juice on cardiorespiratory endurance in athletes requires further analysis.Objectives: The purpose of this study was to assess the effect of carrot-orange juice on ṼO2max in soccer players.Methods: This study was a quasi-experimental with pre-post test without control group design. There were nine soccer players from Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta that were taken by using purposive sampling which is match with criteria. The subject had been given 250 ml of carrot-orange juice for 13 days. ṼO2max was measured by using a yoyo intermittent recovery test I. All data were analyzed by paired T-test.Results: The mean of ṼO2max in soccer players before consuming carrot-orange juice is 44.02±2.66 ml /kg /min  and after consuming carrot-orange juice is 45.88±3.11 66 ml /kg /min. There was significant ṼO2max difference after carrot-orange (p=0.003).Conclusion: Consumption of carrot-orange juice for 13 days effectively increase ṼO2max level of soccer players.KEYWORDS: carrot; orange; soccer; ṼO2max; yoyo intermittent recovery test I
Relationship between sodium, calcium, and preeclampsia during pregnancy : a Cross-sectional study Fitri Handayani; Fatimah Fatimah; Yulinda Kurniasari; Lia Dian Ayuningrum
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 1, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(1).31-36

Abstract

ABSTRACTBackground: In the world maternal mortality as many as 830 women died due to complications in childbirth. In 2015, 303.000 women died during pregnancy and after pregnancy. Target Sustainable Development Goals (SDGs) year 2030 lowers MATERNAL MORTALITY RATE under 70 per 100.000 live births. Pregnancy complications can cause bleeding before or after childbirth, preeclampsia, eclampsia, infections, and others. Maternal death case in Kab. Bantul in 2015 is 9 cases. Research Data in the Panembahan Senopati Hospital in the year 2017 the incidence of childbirth with complications of 1068 people. The prevalence of preeclampsia in expectant mothers is 176 people by 16.47%.Objectives: This research aims to know the relationship of sodium and calcium consumption in the mother of Nifas with preeclampsia during pregnancy in the Panembahan Senopati Hospital. Number of Samples were 54 postpartum women in Panembahan Senopati Bantul. Processing and analysis of data using the Chi-square test.Methods: This type of research is an analytical observational, with a research design using a cross-sectional.Results: Characteristics of most respondents in the age category of 20-35 years as many as 38 people (70.4%), education graduated of senior high school 28 people (51.9%), history of not hypertension as many as 51 people (94.4%) and has no preeclampsia history as much as 50 people (92.6%). Statistical test results of Chi-square and p-value sodium was 0.564 (> 0.05) and P-value calcium was 1.000 (> 0.05).Conclusion: There is no relationship between sodium and calcium consumption of postpartum women with preeclampsia problem during pregnancy at Panembahan Senopati Hospital.KEYWORDS: calcium, preeclampsia, sodium
Tingkat pendapatan dan pola makan berhubungan dengan status gizi balita di Daerah Nelayan Distrik Jayapura Utara Kota Jayapura Vonny Persulessy; Abidillah Mursyid; Agus Wijanarka
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 1, NOMOR 3, SEPTEMBER 2013
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.777 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2013.1(3).143-150

Abstract

ABSTRACTBackground: Nutrition has an important role in human life cycle. Undernourishment in infants and underfives can cause growth and development disorder. Development of Papua community begins from village empowerment, such as nutrition improvement, health service, and people’s economy. There are544 fisherman families at District of Jayapura Utara. Main stipend of Papua community consists of rice, sago, hipere, taro and banana. Sago is consumed by the majority of people residing at coastal areas. Nutrition Status Monitoring of Jayapura Municipal Health Office in 2008 indicated that 3.4% of underfiveswere malnourished, 17.8% undernourished, 76% well nourished and 2.8% overnourished.Objectives: To identify correlation between level of income and diet pattern with nutritional status of underfive in fi sherman area of Jayapura District Jayapura Municipality.Methods: The study was observational with cross sectional design. The independent variables were level of income and eating pattern; the dependent variable was nutritional status. The study was undertaken in October-December 2010 at District of North Jayapura, Jayapura Municipality involving 162 underfives (of 12-59 moths), and mothers of underfives as respondents. Data were obtained through questionnaire of income, eating pattern using food frequency questionnaire, nutritional status measured from anthropometrybased on weight/age standard of WHO 2005. Data analysis used bivariate with chi square, multivariate with multiple logistic regression.Results: There was signifi cant correlation between income level with nutritional status with (p=0.000) and between diet pattern with nutritional status (p=0.000).Conclusions: Underfives having parents with sufficient income had better nutritional status than those having parent with insufficient income. Underfives with good diet pattern had better nutritional status than those with poor diet pattern.KEYWORDS: income, diet pattern, nutrition status of underfives, fisherman areaABSTRAKLatar belakang: Secara nasional, prevalensi balita gizi buruk dan kurang menurun sebanyak 0,5% menjadi 17,9%. Prevalensi gizi buruk dan kurang Provinsi Papua menurut Riskesdas tahun 2010 sebanyak 16,3%. Data neraca bahan makanan (NBM) Provinsi Papua secara kuantitas menunjukkan rata-rata peningkatan produksi bahan makanan di antaranya beras, jagung, umbi-umbian. Secara kualitas, energi dan protein melebihi angka kecukupan gizi (AKG), tetapi status gizi buruk dan kurang di Kota Jayapura mencapai 21,2% yang dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu tingkat pendapatan, pola makan, pengetahuan ibu, jumlah anggota dalam keluarga.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan dan pola makan dengan status gizi balita di daerah nelayan Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 162 balita (usia 12-59 bulan) dan ibu balita sebagai responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tingkat pendapatan, pola makan anak dalam keluarga menggunakan food frequency questionnaire (FFQ), status gizi diukur menggunakan antropometri berdasarkan BB/U standar baku WHO 2005. Analisis data bivariat menggunakan chi-square, sedangkan analisis multivariat menggunakan multiple logistic regression.Hasil: Tingkat pendapatan dengan status gizi menunjukkan hubungan yang bermakna dengan nilai (p=0,000). Pola makan dengan status gizi menunjukkan hubungan yang bemakna yaitu (p= 0,010). Variabel luar pengetahuan ibu dengan status gizi, jumlah anggota keluarga dengan status gizi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna, yaitu p>0,05.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendapatan dengan status gizi, pola makan dengan status gizi.Tetapi tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan status gizi, dan jumlah anggota keluarga dengan status gizi.KATA KUNCI: tingkat pendapatan, pola makan, status gizi balita, daerah nelayan
The tendency of parents’ perception about underestimating the body weight and height of their own children under five years old Siti Helmyati; Setyo Utami Wisnusanti; Dominikus Raditya Atmaka
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 1, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(1).1-8

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Proporsi balita gizi lebih dan gizi kurang masih cukup tinggi di Indonesia. Penanggulangan masalah gizi sangat penting dilakukan karena memiliki dampak kesehatan jangka panjang. Penyelesaian masalah gizi buruk dan gizi lebih di Indonesia terkendala dengan kurangnya efektivitas program intervensi dan pola asuh yang diberikan orang tua kepada anak. Salah satu hal yang mempengaruhi keberhasilan penanggulangan masalah gizi adalah persepsi orang tua terhadap status gizi balita.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai persepsi orang tua terhadap status gizi balita yang dikelompokkan antara berat badan atau tinggi badan menurut umur.Metode: Penelitian menggunakan desain potonglintang dengan memberikan kuesioner penilaian persepsi kepada orangtua yang memiliki anak balita dan datang ke posyandu di 11 Padukuhan di Kecamatan Seyegan, DI Yogyakarta. Penelitian berfokus pada penilaian persepsi orang tua terhadap berat badan dan tinggi badan anak menurut umur dan apakah orang tua mengalami underestimasi atau overestimasi terhadap status gizi anak-anaknya.Hasil: Terdapat 89 responden yang bersedia mengikuti penelitian ini. Dari jumlah tersebut, 27 orang tua (30%) memiliki overestimasi bahwa anaknya gemuk atau normal, padahal apabila menurut kurva z-skor, anak tergolong kurus. Terdapat 10 orang tua (11,2%) underestimasi terhadap tinggi badan anak yang sebenarnya normal atau tinggi namun dianggap pendek. Sebaliknya, 5 orang tua (5,6%) mengalami overestimasi dengan menganggap tinggi badan anaknya normal atau tinggi padahal sebenarnya tergolong pendek menurut kurva z-skor.Kesimpulan: Masih terdapat kesalahan persepsi orang tua terhadap status gizi anaknya. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendalami faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan bagaimana cara mengubahnya sehingga pola asuh orang tua dan penerimaan terhadap program perbaikan gizi menjadi lebih baik.KATA KUNCI: persepsi; berat badan; tinggi badan; balita; status giziABSTRACT Background: The proportion of over- and under-nutrition is still high in Indonesia. Overcoming the nutritional problems is important since it can lead to long term health impacts. However, there are some problems that inhibit the intervention program such as low effectiveness and inappropriate parenting. One thing that affects the success of the program is about parents’ perception of the nutritional status of their children.Objectives: The study aimed to identify the perception of the parents towards the nutritional status of their children, which is categorized as body weight and height to age.Methods: The research use cross-sectional design by giving the questionnaire to the parents who have children under-five and go to Posyandu in 11 villages in Seyegan, DI Yogyakarta. The study focused on the judgment of the parents towards the height and weight to the age of their children and whether the parents under- or overestimate the nutritional status of their children. Results: There were 89 respondents following the study. From the number, there were 27 parents (30%) who overestimate their children by assuming the children to be overweight while according to z-score they was categorized as wasted. There were 10 parents (11.2%) who underestimate the height of their children by assuming that their children was stunted while they was not. On the other hand, 5 parents (5.6%) overestimate the height of their children by saying they had normal height while the fact they were stunted.Conclusion: There is still misperception among the parents about the nutritional status of their children. Further study is needed to identify what factors affecting the perception and how to change it so that the nutritional intervention program and parenting can be better.KEYWORDS: perception; body weight; body height; children under-five; nutritional status
Free radical scavenging and cytotoxic assay of soursop fruit juice (Annona muricata Linn.) on cervical cancer cell lines (HeLa) Rahma Micho Widyanto; Rifanty Meydiana Rachmawati Putri; Fuadiyah Nila Kurniasari; Yunimar Yunimar; Budi Utomo
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 2, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(2).51-57

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Kanker serviks merupakan penyakit yang menduduki posisi kedua penyebab kematian pada wanita. Berbagai terapi pendukung mulai dikembangkan, seperti melalui bahan makanan yang dipercaya memiliki efek anti-kanker. Buah sirsak disebut memiliki kandungan fitokimia seperti Annonaceous acetogenin, flavonoid dan fenol yang bermanfaat sebagai anti-kanker. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi anti-oksidan dan sitotoksisitas dari sari buah sirsak pada sel HeLa secara in vitro. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan membuat sari buah sirsak dengan cara diblender kemudian dikeringkan dengan metode freeze-drying, yang kemudian dilanjutkan dengan uji 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) untuk mengetahui potensi penghambatan radikal bebas, dan potensi sitotoksisitas melalui uji MTT (3-(4,5-dimetiltiazol-2-il)-2,5-difenitetrazolium bromide) assay pada sel kanker serviks HeLa. Hasil: Hasil uji aktivitas anti-oksidan menunjukkan persamaan regresi linier (y=0,0149x – 2,8812) dan nilai perhitungan IC50 sari buah sirsak sebesar 3549 μg/mL dan hasil uji sitotoksisitas menunjukkan persamaan regresi linier (y=0,0197x + 0,3101) dan nilai perhitungan IC50 sari buah sirsak pada sel HeLa sebesar 2522,33 μg/mL.Kesimpulan: Sari buah sirsak memiliki aktivitas anti-oksidan yang sangat rendah dan tidak berpotensi sebagai anti-kanker terhadap sel HeLa secara in vitro. KATA KUNCI : Annona muricata Linn, anti-oksidan, kanker, sitotoksisitas ABSTRACTBackground: Cervical cancer is the second leading cause of death in women. Various supporting therapies have been developed, such as through food ingredients which are believed to have anti-cancer effects. Soursop is known to be high phytochemical content such as Annonaceous acetogenin, flavonoid and phenols which are useful as anti-cancer. Objectives: This research was conducted to determine the antioxidant and cytotoxic activity of soursop juice on HeLa cell lines.Methods: This study started by making the soursop fruit extract by blending then dried with freeze-drying method, and then proceed with 2.2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) assay to determine the potential free radical scavenging activity, cytotoxic potential activity in vitro through MTT (3-(4,5-dimethylthiazol-2-il)-2,5-difenitetrazolium bromide) assay on HeLa cell lines.Results: The IC50 antioxidant activity of soursop fruit extract is 3549 μg/mL with linear regression equation (y=0.0149x – 2.8812) and the IC50 cytotoxicity test of soursop fruit extracton HeLa was 2522,33 μg/mL with linier regression equation (y=0.0197x + 0.3101). Conclusion: The conclusion in this study is that soursop fruit extract has very low antioxidant activity and has no in vitro potential effect as an anti-cancer on HeLa cell lines. KEYWORDS : Annona muricata Linn, antioxidant, cancer, cytotoxic