cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Stunting among children Indonesian urban areas: What is the risk factors? Tri Siswati; Trynke Hoekstra; Hari Kusnanto
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 8 ISSUE 1, 2020
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2020.8(1).1-8

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Stunting adalah malnutrisi kronis yang dapat terjadi pada semua balita termasuk balita di daerah perkotaan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko stunting pada anak-anak 0-59 bulan di perkotaan di Indonesia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan menggunakan data sekunder berdasarkan Riskesdas tahun 2013. Sampel berjumlah 13.248 anak usia 0-59 bulan dari 33 provinsi, yang tinggal di daerah perkotaan, lahir tunggal (37 minggu), usia ≥37 minggu kehamilan, skor TB/U -5,99 hingga TB/U 5,99 SD, dan data yang diobservasi lengkap. Variabel bebas adalah karakteristik anak (usia, jenis kelamin, berat dan panjang lahir); dan karakteristik rumah tangga (usia orang tua, tinggi badan orang tua, pendidikan, pekerjaan, tingkat ekonomi), sedangkan variabel terikat adalah stunting. Analisis dilakukan dengan regresi logistik multivariat menggunakan Stata13.Hasil: Faktor yang berhubungan dengan terjadinya stunting balita di perkotaan adalah BBLR (AOR 1,2 CI 95% 1,09-1,32); dan bayi lahir pendek (AOR 1,16 CI95%: 1,99-1,23) dan karakteristik rumah tangga seperti ayah pendek (AOR 1,24, CI95% 1,18-1,31); ibu pendek (AOR 1,23, CI95% 1,17-1,29); ibu berpendidikan rendah (AOR 1,14, CI 95% 1,02-1,23); ayah berpendidikan rendah (AOR 1,13, CI95% 1,02-1,23), dan tingkat ekonomi menengah dan rendah (AOR 1,12, CI 95% 1,06-1,19; AOR 1,24, CI95% 1,15-1,33). Kesimpulan: Faktor yang berhubungan dengan stunting balita di perkotaan adalah BBLR dan tinggi badan orang tua.KATA KUNCI: balita; determinan; Indonesia; perkotaan; stuntingABSTRACTBackground:Childhood stunting is a form of chronic malnutrition, including among children in the urban area.Objectives: This research was to determine the risk factors of 0-59 months stunting children in urban Indonesia.Methods: This was a cross sectional study using secondary data based Indonesia’s Basic Health Research 2013. Samples were a total of 13,248 children aged 0-59 months from 33 provinces, urban residency, singleton, ≥37 weeks gestation, and HAZ score -5.99 to 5.99 SD. Independent variables were children characteristics (age, sex, size of birth); and household characteristics (parental age, high, education, employment, economic level), while the dependent variable was stunting. Multivariate logistic regression analysis was performed using Stata 13.Results: Children characteristics such as low birth weight (AOR 1.2 CI 95% 1.09-1.32); and short newborn length (AOR 1.16 CI95%:1.99-1.23) and stature father (AOR 1.24, CI95% 1.18-1.31) and mother (AOR 1.23, CI95% 1.17-1.29); maternal low education (AOR 1.14, CI 95% 1.02-1.23); paternal low education(AOR 1.13, CI95% 1.02-1.23), low middle economic level (AOR 1.12, CI 95% 1.06-1.19; AOR 1.24, CI95% 1.15-1.33) were factors associated with urban stunting children.Conclusion: Low birth weight and short stature were dominant factors associated with stunting children in Indonesian urban areas.KEYWORDS: children; determinant; Indonesian; urban; stunting
Nutrition counseling about general messages of balanced nutrition improve energy intake and haemoglobin level among HIV children Waisaktini Maragareth; Eviyani Margaretha Manungkalit; Nia Kurniati; Utih Arupah
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 8 ISSUE 1, 2020
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2020.8(1).30-38

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: HIV adalah masalah kesehatan yang signifi kan di Indonesia. satu kota di DKI Jakarta yang memiliki perkiraan jumlah kasus HIV tertinggi yang ditularkan melalui pria ke wanita. Beberapa penelitian menyatakan bahwa anak-anak dengan HIV memiliki asupan energi dan protein yang kurang, dan anemia. Oleh karena itu, pentingnya meningkatkan pengetahuan gizi seimbang pada orangtua yang memiliki anak HIV sehingga adanya peningkatan perilaku yang baik terhadap asupan makanan pada anaknya.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian pedoman nutrisi seimbang pada asupan gizi (energi dan protein) dan kadar hemoglobin pada anak-anak HIV Metode: Desain penelitian adalah studi pra-eksperimental desain One Group Pre-Post Test. Penelitian ini adalah desain pre-post test kelompok kontrol non acak. Penelitian dilakukan di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo dari Agustus hingga Oktober 2019. Sampel diambil secara purposive dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis dengan menggunakan paired t-test.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifi kan antara asupan energi rata-rata sebelum konseling dan setelah konseling (p = 0,013) tetapi tidak ada perbedaan yang signifi kan antara asupan protein rata-rata sebelum dan sesudah konseling (p = 0,934). Ada perbedaan yang signifi kan antara level Hb sebelum dan setelah konseling (p = 0,000).Kesimpulan: Ada pengaruh konseling gizi terhadap asupan energi tetapi tidak ada pengaruh terhadap kadar HbKATA KUNCI: energi; protein; Hb; HIV; anakABSTRACTBackground: HIV is a signifi cant health problem in Indonesia. There were an estimated 242.699 persons living with HIV. Central Jakarta is one of the cities in DKI Jakarta that has the highest estimated number of HIV cases transmitted through men to women. Thus means that there is a possibility that the number of HIV children in Central Jakarta wil also increase. Some studies suggest that children with HIV have less energy and protein intake, and anemia. Because of this, the importance of increasing the knowledge of balanced nutrition in parents who have HIV children so that there is an increase in good behavior towards food intake in children. Objectives: The study aimed to analyze the effect of providing balanced nutrition guidelines on nutritional intake (energy and protein) and hemoglobin levels in HIV children. Methods: The research design was a pre-expreimental study of the One Group Pre-Post Test design. study was experimental non randomized control group pre-post test design. The study was carried out at RSUPN dr Cipto Mangunkusumo from August to October 2019. The sample were taken purposively with inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed by using paired t-test.Results:The results showed that there was a signifi cant difference between the mean energy intake before counseling and after counseling (p = 0.013) but there was no signifi cant difference between the average protein intake before and after counseling (p = 0.934). There was a signifi cant difference between the level Hb before and atter counseling (p = 0.000).Conclusions: The provision of counseling on nutrition guidelines provide a signifi cant difference between the average energy intake and the levels of Hb.KEYWORDS: energy; protein; Hb; HIV; children
A nutrition diary-book effectively increase knowledge and adherence of iron tablet consumption among adolescent female students Jurianto Gambir; Iman Jaladri; Endah Mayang Sari; Yulinda Kurniasari
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 8 ISSUE 2, 2020
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2020.8(2).87-92

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Edukasi gizi yang tepat dapat merubah remaja putri untuk berperilaku hidup sehat. Inovasi program edukasi yang dapat memotivasi remaja putri dalam mencari dan mengkonsumsi tablet zat besi secara teratur sangat dibutuhkan sehingga dapat menurunkan prevalensi anemia di Indonesia.Tujuan: Mengetahui pengaruh edukasi melalui buku diary gizi terhadap pengetahuan gizi, minat mencari tablet zat besi dan kepatuhan remaja putri dalam mengkonsumsi tablet zat besi (Fe).Metode: Quasi experimental (Non-Randomized group pre–post test) study dengan 50 subyek penelitian yang terbagi menjadi dua kelompok perlakuan. Subjek penelitian adalah siswi remaja putri di SMA di Kota Pontianak, dengan kriteria umur 14-16 tahun sudah haid dan bersedia menjadi subjek penelitian. Intervensi berlangsung selama dua bulan efektif. Kelompok intervensi diberikan tablet zat besi (Fe) + buku Diary Gizi dan kelompok kontrol tanpa buku Diary Gizi. Tablet zat besi (Fe) yang diberikan mengandung 60 mg Fe elemental dan 20 mg asam folat. Data dianalisis menggunakan software komputer dan disajikan dalam bentuk tekstular dan table, dengan uji statistik Chi square dan t test. Hasil: Hasil penelitian program suplementasi zat besi (Fe) dikalangan remaja putri belum popular. Tingkat pengetahuan siswi yang mendapatkan edukasi gizi dengan Buku Diary lebih baik dibandingkan dengan siswi yang mendapatkan edukasi melalui penyuluhan (p<0,05). Siswi dari kelompok buku Diary Gizi lebih patuh dalam mengkonsumsi tablet zat besi (p<0,05). Kesimpulan: Pemberian dan aktivitas dengan catatan harian buku Diary Gizi dapat digunakan dalam meningkatkan pengetahuan dan meningkatkan kepatuhan remaja putri dalam mengkonsumsi tablet zat besi (Fe). Penggunaan Buku Diary Gizi dapat dipertimbangkan dalam mensukseskan program suplementasi zat besi (Fe) pada remaja putri KATA KUNCI: buku diary gizi; kepatuhan; konsumsi; pengetahuan; remaja putri; tablet zat besi (Fe) ABSTRACTBackground: Proper education about nutrition can change adolescent females to have a healthy lifestyle. Innovation of education programs which can motivate female adolescents in finding and consuming iron tablets regularly is highly necessary, so that it can decrease the prevalence of anemia in Indonesia.Objectives: To find out the effect of Nutrition Diary-Book education on nutritional knowledge, effort to find iron tablets and consuming iron tablets in adolescence.Methods: A quasi experimental study (non-randomized group pre–post test) was conducted with 50 subjects divided into two groups. The age of the subjects were 14-16 years old, already had menstruation and were willing to be research subjects for 2 months. Iron tablets and nutrition diary-books were administered to intervention group and were administered to control group without nutrition diary-books. The results were analyzed using chi square and t-test.Results: The level of knowledge who get education about nutrition by having nutrition diary-books is better compared to female students who get the education through elucidation (p<0.05). The female students from the intervention group were proven to be more obedient in consuming iron tablets (p<0.05).Conclusion: The administration of nutrition diary-book and activity of writing nutrition diary-book can be used to increase knowledge and adherence in consuming iron tablets among adolescent female students.KEYWORDS: adherence; adolescent; iron tablet; knowledge; nutrition diary-book
Association of central obesity and smoking with HDL level among Indonesian peoples (18 – 59 years) Mukhlidah Hanun Siregar; Fatmah Fatmah; Ratu Ayu Dewi Sartika
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 8 ISSUE 3, 2020
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2020.8(3).101-108

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : High-Density Lipoprotein (HDL) adalah bagian dari profil lipid yang dianjurkan berada pada level diatas 40 mg/dl. HDL rendah menjadi salah satu kriteria sindrom metabolik. Rendahnya HDL dalam darah akan menyebabkan terjadinya aterosklerosis dan berdampak pada peningkatan risikopenyakit cardiovaskular. Beberapa penelitian menemukan bahwa obesitas sentral, merokok, aktivitas fisik, dan asupan makanan memiliki peran dalam menurunkan kadar HDL.Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor utama yang berhubungan dengan kadar HDL pada masyarakat Indonesia dengan range usia 18-59 tahun.Metode : Desain penelitian menggunakan desain cross sectional. Data penelitian diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013. Total responden setelah dilakukan manajemen data sebanyak 21.055 orang. Faktor yang dianalisis adalah usia, jenis kelamin, status menikah, aktivitas fisik, merokok, obesitas sentral, konsumsi buah dan sayur, konsumsi kopi dan konsumsi makanan berlemak. Data dianalisis dengan uji hipotesis multiple regression logistic for the prediction model.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 26,2% penduduk Indonesia berusia 18-59 tahun memiliki kadar HDL ≤40 mg/dl. Setelah dianalisis melalui 4 model, ditemukan bahwa obesitas sentral, merokok, konsumsi makanan berlemak, status menikah, dan jenis kelamin memiliki hubungan secara signifikan dengan kadar HDL (berurutan berdasarkan nilai OR).Kesimpulan : Obesitas sentral dan merokok menjadi faktor utama terhadap kadar HDL abnormal setelah dikontrol dengan faktor lain yang berhubungan, dengan nilai OR 1.948 (1.740-2.182; p-value<0.0001) dan 1.284 (1.127-1.462; p-value<0.0001). Obesitas sentral merupakan faktor utama yang berhubungan dengan penurunan kadar HDL. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan untuk menjaga lingkar pinggang selalu berada pada batas <80 cm untuk perempuan dan <90 untuk laki-laki dengan melaksanakan pedoman gizi seimbang (terutama menurunkan konsumsi makanan berlemak dan meningkatkan aktivitas fisik), menjauhi merokok, khususnya pada perempuan menikah.KATA KUNCI: gizi seimbang; kadar HDL; merokok; obesitas sentral ABSTRACTBackground: High-Density Lipoprotein (HDL) is a part of the lipid profile and it is recommended to be above 40 mg/dl. Low HDL is one of the criteria of metabolic syndrome. Low HDL in the blood will cause atherosclerosis and affect the increased risk of cardiovascular disease. Some research found that centralobesity, smoking, physical activity, and dietary intake have a role in lowering HDL levels.Objectives: The purpose of this research is to know the main factors associate to HDL levels in Indonesian society with range age 18-59 years.Methods: Design research was using cross sectional design. Research data obtained from Basic Health Research in 2013. Total respondents after doing data management were 21.055 people. The analyzed factors are age, gender, married status, physical activity, smoking, central obesity, dietary of fruit and vegetable, coffee consumption and dietary of fatty foods. The data was analyzed by multiple regression logistic for the prediction model.Result: The results showed that 26.2% of the Indonesian population aged 18-59 years had HDL levels ≤ 40 mg/dl. After being analyzed through 4 models, it was found that central obesity, smoking, dietary of fatty foods, married status, and sex associated significantly with HDL levels (sequentially based on OR value). Central obesity and smoking are becoming a major factor related with abnormal HDL levels after adjustment with other significant associated factors, with OR 1.948 (1.740-2.182; p-value < 0.0001) and 1.284 (1.127-1.462; p-value < 0.0001).Conclusions: Central obesity was a major factor associated with decreasing levels of HDL. Therefore, this research suggested to keep the waist circumference always under 80 cm for women and 90 for men, by applied the balanced nutritional guidelines (decreasing of fatty foods and increasing physical activity), avoiding smoking, especially for married women.KEYWORDS: balance nutrition; central obesity; HDL levels; smoking
Relationship between supplement consumption and aerobic capacity in taekwondo athletes Geraldi Novian; Berliana Berliana; Komarudin Komarudin; Nina Sutresna
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 8 ISSUE 3, 2020
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2020.8(3).124-129

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi fisik atlet yang mulai menurun akibat karantina mandiri yang dilakukan selama masa pandemic COVID-19 mulai dari bulan Maret 2020. Hal ini membuat atlet menjadi terbatas dalam melakukan proses latihan karena proses latihan dilakukan secara online. Metode ini dirasa kurang maksimal karena kemungkinan eror yang cukup tinggi, sedangkan tuntutan kondisi fisik atlet yang optimal tetap dibutuhkan. Untuk memenuhi kebutuhan kondisi fisik tersebut, atlet tidak boleh hanya berfokus pada latihan fisik saja, namun atlet juga perlu memperhatikan gaya hidup dimana makanan yang tepat memiliki peranan utama. Atlet harus mempertimbangkan kebutuhan nutrisi, asupan kalori dan cairan, serta waktu makan agar memperoleh kebutuhan fisik yang optimal. Namun, atlet mengalami kesulitan untuk melakukan hal tersebut. Ketidakmampuan atlet dalam memenuhi kebutuhan nutrisi dengan maksimal membuat atlet dan pelatih mencoba mencari cara agar mampu memenuhi kebutuhan tersebut, salah satu caranya adalah dengan menggunakan suplemen.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsumsi suplemen dengan kapasitas aerobik atlet taekwondo.Metode: Penelitian ini menggunakan desain korelasional yang melibatkan 16 atlet (8 putra dan 8 putri) TKD Universitas Pendidikan Indonesia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria adalah atlet yang tergabung dalam tim inti dan dipersiapkan khusus untuk menghadapi pertandingan tahun 2021. Instrument penelitian yang digunakan adalah close-ended questionnaire dan balke test.Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 63% atlet TKD mengonsumsi suplemen. Jenis suplemen yang paling banyak digunakan berdasarkan kandungan mayoritas didalamnya adalah protein sebanyak 50%. Bentuk suplemen yang paling banyak dikonsumsi adalah bubuk dengan frekuensi konsumsi setiap hari. Informasi tentang suplemen diperoleh dari pelatih sebanyak 50%, teman sebanyak 30% dan lainnya 20%. Kapasitas aerobik yang dimiliki atlet TKD masih 60% dari target yang ditentukan pelatih.Kesimpulan: Penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi suplemen dengan kapasitas aerobik atlet TKD.KATA KUNCI: atlet taekwondo; kapasitas aerobik; kondisi fisik; suplemen ABSTRACTBackground: This research was motivated by the physical condition of athletes which began to decline due to self-quarantine carried out during the COVID-19 pandemic starting from March 2020. This made athletes limited in carrying out the training process because the training process was carried out online. This method is considered to be less than optimal because the possibility of error is quite high, while the demands of the optimal athlete’s physical condition are still needed. To meet the needs of these physical conditions, athletes should not only focus on physical exercise, but athletes also need to pay attention to a lifestyle in which the right food plays a major role. Athletes must consider nutritional needs, calorie, and fluid intake, and meal times to obtain optimal physical needs. However, athletes have difficulty doing this. The inability of athletes to meet their nutritional needs optimally makes athletes and coaches try to find ways to be able to meet these needs, one way is to use supplements.Objectives: This study aims to analyze the relationship between supplement consumption and the aerobic capacity of taekwondo athletes.Methods: This study used a correlational design involving 16 athletes (8 males and 8 females) from TKD of the Indonesia University of Education who were selected using purposive sampling technique with the criteria being athletes who are members of the core team and are specially prepared to face the 2021 competition. The research instrument used was a close-ended questionnaire and a Balke test.Results: The results showed that as many as 63% of TKD athletes took supplements. The type of supplement that is most widely used based on the majority content in it is protein as much as 50%. The most commonly consumed form of supplement is powder at a daily frequency. Information about supplements was obtained from trainers by 50%, friends as much as 30% and the other 20%. The TKD athlete’s aerobic capacity is still 60% of the target set by the coach.Conclusion: This study concludes that there is no significant relationship between supplement consumption and the aerobic capacity of TKD athletes.KEYWORD: aerobic capacity; physical condition; supplement; taekwondo athletes
Formulations of tapioca, tofu dregs flour, pumpkin flour as cereal type-2 diabetic Elly Puji Sri Rahayu; Astutik Pudjirahaju; Sulistiastutik Sulistiastutik
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 8 ISSUE 3, 2020
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2020.8(3).109-117

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Indonesia menduduki peringkat ke-7 dunia dengan penderita Diabetes Mellitus (DM) sebanyak 10,3 juta jiwa (IDF, 2017). Tepung ampas tahu dan tepung labu kuning dipilih sebagai bahan pengembangan susu sereal karena mengandung tinggi serat dan antioksidan.Tujuan: Menganalisis pengaruh formulasi tepung tapioka, tepung ampas tahu dan tepung labu kuning terhadap nilai energi, mutu kimia (protein, lemak, karbohidrat, kadar air, dan kadar abu), mutu fungsional (kadar serat dan aktivitas antioksidan), dan mutu organoleptik susu sereal pengembangan bagi penderita diabetes mellitus tipe 2.Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL). Taraf perlakuan adalah perbandingan tepung tapioaka, tepung ampas tahu dan tepung labu kuning yaitu P (60 : 15 : 25), P 2 (45 : 20 : 35), P (35 : 25 : 40).Hasil: taraf perlakuan P 1 3 (60 : 15 : 25) merupakan taraf perlakuan terbaik karena kadar karbohidrat 64% total asupan energi, nilai energi 431 Kkal, kadar serat kasar 2,02%,kadar protein 14,7% total asupan energi, kadar lemak 24% total asupan energi, kadar abu 2,9%, tetapi kadar air melebihi standar yaitu 3,40% dan aktivitas antioksidan dalam kategori sangat lemah 176.490 µg/ml. Tingkat kesukaan panelis terhadap atribut warna, aroma, mouthfeel dan rasa susu sereal pengembangan pada taraf perlakuan 1 (P ) memperoleh skala 3.Kesimpulan: Mutu kimia (Kadar air, kadar abu, protein, lemak, karbohidrat) memenuhi standar SNI 014270-1996 dan PERKENI kecuali kadar air.KATA KUNCI: diabetes mellitus tipe 2; susu sereal pengembangan; mutu kimia; tepung ampas tahu; tepung labu kuning ABSTRACTBackground: Indonesia was ranked 7th in the world with 10.3 million diabetic based on The International Diabetes Federation (IDF) in 2017. Tofu dregs and pumpkin flour were chosen as ingredients for the development of cereal milk because they are high in fiber and antioxidants.Objective: To analyze the effect of tapioca flour, tofu dregs flour and pumpkin flour on energy value, chemical quality (protein, fat, carbohydrate, water content, and ash content), functional quality (fiber content and antioxidant activity), and organoleptic quality developmental cereal milk for type 2 diabetic.Methods: This type of research is experimental with a completely randomized design (CRD). The level of treatment is the ratio of tapioca flour, tofu dregs and yellow pumpkin flour, namely P1 (60: 15: 25), P2 (45: 20: 35), P3 (35: 25: 40).Results: P1 (60: 15: 25) is the best treatment level because carbohydrate content is 64% of total energy intake, energy value is 431 Kcal, fiber content is 2.02%, protein content is 14.7%, content fat 24% ash content of 2.9%, but water content exceeds the standard of 3.40% and antioxidant activity in the very weak category 176,490 µg / ml. The level of preference of panelists on the attributes of color, aroma, mouthfeel and taste of cereal milk at treatment level 1 (P1) obtained a scale of 3.Conclusions: Chemical quality SNI 01-4270- 1996 and PERKENI standard except water content.KEYWORDS:chemical quality; milk cereal develompment;
Positive body image affect body mass index among high school Widya Lionita; Fatmalina Febry; Yeni Anna Appulembang; Rini Angraini
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 8 ISSUE 3, 2020
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2020.8(3).118-123

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Remaja putri berisiko untuk mengalami kekurangan energi kronik yang dikaitkan dengan pemahaman konsep diri. Perubahan fisik pada remaja, khususnya berat dan tinggi badan, cenderung diartikan negatif sehingga dikhawatirkan dapat mempengaruhi status gizi remaja putri pada fase kehidupan selanjutnya.Tujuan: Penelitian bertujuan menggambarkan persepsi citra tubuh dan indeks massa tubuh (IMT) serta menganalisis hubungan antara dua variabel tersebut.Metode: Penelitian menggunakan desain potong lintang. Responden merupakan pelajar kelas X dan XI dari 4 sekolah di kota Palembang dan dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran IMT. Data dianalisis dengan uji chi-square dari aplikasi SPSS.Hasil: Responden berjumlah 138 orang dan berumur 13 – 17 tahun. Lebih dari 50 persen responden memiliki IMT tidak normal (IMT kurang dan berlebih). Tetapi, Sebagian besar mempersepsikan citra tubuhnya secara positif (54,35%). Persepsi citra tubuh yang negatif lebih banyak dimiliki oleh responden yang memiliki IMT pada kategori normal. Analisis bivariat membuktikan ada hubungan yang signifikan antara persepsi citra tubuh dan IMT (p=0,046). Semakin negatif persepsi remaja putri tentang citra tubuh yang dimilikinya, maka semakin besar kemungkinan IMT-nya tergolong tidak normal.Kesimpulan: Citra tubuh yang positif dapat mempengaruhi status gizi remaja putri, khususnya IMT. Sebuah intervensi psikologi dan promosi kesehatan diperlukan untuk memfasilitasi remaja putri mengenali diri sendiri serta diberikan kemampuan untuk memilih asupan gizi yang baik bagi kesehatannya. KATAKUNCI: citra tubuh; indeks massa tubuh; persepsi; remaja putri; sekolah menengah atas ABSTRACTBackground: Female adolescents have a risk on experiencing chronic deficiency of energy linked with understanding of self-concept. Adolescent’ physical changes, especially weight and height, tend to be perceived negatively, so it is worried that they could affect the nutritional status of them in the next phase of life.Objectives: This study aims to describe the perception of body image and Body Mass index (BMI) and to analyze the relationship between the two variables.Methods: This study used a cross-sectional design. Respondents were students of first and second grade of four senior high schools in Palembang and were selected by purposive sampling techniques. Data were collected using questionnaires and BMI measurements. Data were analyzed using the chi-square test of SPPS application.Results: Number of respondents was 138 high school girls aged 13 – 17 years. More than 50 percent of respondents have abnormal BMI (underweight and overweight). However, most of them perceived their body image positively (54.35%). The perception of negative body image is mostly owned by respondents with normal BMI. Bivariate analysis proved that there was a significant relationship between perceived body image and BMI (p=0.046) The more negative girl’s perception of her body image, the more likely her BMI is classified as abnormal.Conclusions: A positive body image can affect the nutritional status of female adolescents, especially BMI. A psychological intervention and health promotion is needed to facilitate them to identify themselves and be given the ability to choose nutrition intake that is good for their health.KEYWORDS: body image; body mass index; girl; high school; perception
Relationship between micronutrient and anemia incidence in adolencents at Islamic boarding school Kartika Pibriyanti; Lola Zahro; Hafidhotun Nabawiyah
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 8 ISSUE 3, 2020
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2020.8(3).130-135

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Anemia terjadi apabila jumlah sel darah merah berkurang, sehingga kemampuan membawa oksigen keseluruh tubuh akan berkurang. Secara global diketahui prevalensi anemia 1,62 miliar, dimana mayoritas penderita anemia adalah kelompok perempuan yang tidak hamil sebanyak 468,4 juta jiwa. Prevalensi tertinggi anemia adalah kelompok anak-anak perempuan usia sekolah ialah 47,4%, sedangkan pada pria hanya 12,7%. Kebutuhan asupan zat besi pada seorang wanita memiliki kebutuhan yang besar dibandingkan dengan kebutuhan laki-laki.Tujuan: mengetahui hubungan antara asupan mikronutrient (vitamin B6,vitamin B12, vitamin C, zat besi) dengan kejadian anemia pada remaja putri di Islamic Boarding School.Metode: case control dengan matching, kriteria matching yang digunakan umur 15-19 tahun, tidak sedang menstruasi pada saat pengecekan Hb, tidak puasa, dan sudah mengalami menstruasi, pengambilan data dengan cara non-propability yaitu dengan quota sampling. Populasi terdapat 1359 orang dengan sampel 92 orang, case 46 orang control 46 orang, pengambilan data asupan dengan kuesioner Semi Quantitative Food Frequency (SQ-FFQ). Pengujian dengan menggunakan uji statistik 2 berpasangan.Hasil: terdapat hubungan yang signifikan antara asupan mikronutrient (Vitamin C p-value 0,04,OR 1,17,Vitamin B6 p-value 0,0001 OR 3,588, Vitamin B12 (p-value 0,0001)OR 0,27, zat besi (p-value 0,0001) OR 3,091) dengan kejadian anemia remaja di Islamic Boarding School.Kesimpulan: terdapat hubungan yang signifikan antara asupan mikronutrient dengan kejadian anemia pada remaja di Islamic Boarding School.KATA KUNCI: anemia; vitamin B6; vitamin B12; vitamin C; zat besi ABSTRACTBackground : Anemia occurs when the number of red blood cells decreases, so that the ability to carry oxygen throughout the body will decrease. Globally, the prevalence of anemia is 1.62 billion, where the majority of anemia sufferers are women who are not pregnant as many as 468.4 millions of people. The highest prevalence of anemia is that of girls at school age, 47.4%, while for men it is only 12.7%. The need for iron intake in a woman has a greater need compared to the needs of men.Objectives: to determine the relationship between micronutrient intake (vitamin B6, vitamin B12, vitamin C, iron) and the incidence of anemia in adolescent girls in Islamic boarding schools.Methods: Case control with matching, matching criteria used aged 15-19 years, not menstruating at the time of checking Hemoglobin, not fasting, and already experiencing menstruation, data collection using non-probability, namely by quota sampling, the population was 1359 with a sample of 92 people , case 46 people control 46 people, data retrieval with Semi Quantitative Food Frequency (SQ-FFQ) questionnaire. Tests using paired 2 statistical tests.Results: there was a significant relationship between micronutrient intakes (Vitamin C p-value 0.04, OR 1.17, Vitamin B6 p-value 0.0001 OR 3.588, Vitamin B12 (p-value 0.0001) OR 0.27, iron (p-value 0, 0001) OR 3,091) with the incidence of adolescent anemia in Islamic boarding schools.Conclusion: There is a significant relationship between micronutrient intake and the incidence of anemia in adolescents in Islamic boarding schools.KEYWORDS: anemia; iron; vitamin B6; vitamin B12; vitamin C
Frequency of online food ordering is not risk factor of central obesity in women aged 20 - 49 years Hildagardis Meliyani Erista Nai; Maria Amrijati Lubijarsih
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 9 ISSUE 1, 2021
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2021.9(1).19-26

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Obesitas adalah masalah kesehatan dunia dengan prevalensi terus meningkat dari tahun ke tahun. Wanita secara umum lebih banyak mengalami masalah berat badan dibandingkan dengan laki-laki. Perkembangan teknologi berpengaruh terhadap gaya hidup sedentari yang menyebabkan kenaikan berat badan. Wanita paling sering melakukan pemesanan makanan online dibandingkan laki-laki.Tujuan: menganalisis hubungan frekuensi pemesanan online food dengan obesitas sentral pada wanita usia 20 -49 tahun.Metode: jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan potong lintang (cross-sectional). Populasi adalah wanita dewasa usia 20 – 49 tahun. Total 120 wanita usia 20 - 49 tahun diobservasi status gizi dan frekuensi pemesanan online food. Lingkar perut digunakan untuk menentukan status obesitas sentral dari wanita. Wanita dikategorikan obes jika dia mempunyai lingkar perut >80 centimeter dan tidak obes jika lingkar perut ≤80 centimeter. Variabel paparan utama adalah frekuensi pemesanan online food yang dikategorikan menjadi ≥ 3 kali dan < 3 kali dalam seminggu. Kovariat adalah karakteristik responden yang meliputi usia, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status pernikahan, dan aktivitas fisik. Data dianalisis menggunakan analisis univariat (frekuensi dan persentase) dan analisis bivariat (chi-square).Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 70,8% responden mengalami obesitas sentral. Rata-rata lingkar perut responden adalah 85,0 centimeter. Sebagian besar responden (60,8%) pernah melakukan pemesanan online food. Makanan yang paling banyak dipesan responden antara lain ayam goreng, nasi goreng, martabak / roti panggang, dan pizza. Analisis bivariat menunjukkan bahwa karakteristik responden tidak berhubungan signifikan dengan kejadian obesitas sentral. Tidak ada hubungan signifikan antara frekuensi pemesanan online food dengan kejadian obesitas sentral pada wanita dewasa usia 20 - 49 tahun (p=0,325).Kesimpulan: frekuensi pemesanan online food ≥ 3 kali seminggu bukan faktor risiko obesitas sentral pada wanita dewasa.KATA KUNCI: aplikasi smartphone; obesitas sentral; online food; wanita ABSTRACTBackground: Obesity is a global health problem with prevalence increasing from year to year. Women, in general, have more weight problems than men. Technological developments affect sedentary lifestyles that cause weight gain. Women are more often ordering food online than men.Objectives: To analyze the relationship between the frequency of online food ordering with central obesity in women aged 20 - 49 years.Methods: This study was an analytic observational study with a cross-sectional design. The population was women aged 20 - 49 years. A total of 120 women aged 20-49 years were observed for their nutritional status and frequency of online food ordering. Waist circumference was used to determine the status of central obesity in women. The woman was categorized as obese if she has waist circumference > 80-centimeters and not obese if waist circumference ≤ 80 centimeters. The main exposure was the frequency of online food ordering that was categorized into ≥ 3 times and < 3 times a week. Age, education level, employment status, marital status, and physical activity were analyzed using univariate analysis. The bivariate analysis was also conducted to analyze relations between variables.Results: Results showed that 70.8% of respondents have central obesity. Respondent’s average waist circumference was 85.0 centimeters. Most of the respondents (60.8%) have ordered food online. Respondents’ top-ordered foods include fried chicken, fried rice, martabak (fried crepe filled with egg, and vegetable) and pizza. Bivariate analysis showed that there was no significant relationship between characteristics of respondents with central obesity. There was no significant relationship between the frequency of online food ordering with central obesity in women aged 20 - 49 years (p = 0.325).Conclusion: online food ordering frequency 3 times a week is not a risk factor for central obesity in women aged 20 - 49 years.KEYWORDS: central obesity; online food; smartphone applications; women
Energy and nutrient density, nutrient density intake and nutrient contribution of lunch among employees at foundation Ninda Aini Syaher; Putri Ronitawati; Prita Dhyani Swamilaksita; Rachmanida Nuzrina; Laras Sitoayu
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 9 ISSUE 1, 2021
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2021.9(1).40-48

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Salah satu syarat keselamatan dan kesehatan kerja adalah dengan memenuhi kebutuhan gizi guna meningkatkan derajat kesehatan pekerja. Perencanaan menu perlu memperhatikan kualitas atau keragaman pangan. Semakin tinggi keanekaragaman makanan yang dikonsumsi akan diikuti dengan semakin terpenuhinya kebutuhan zat gizi seseorang yang selanjutnya akan berpengaruh pada produktivitas kerja pegawai.Tujuan: Menganalisis densitas energi dan zat gizi pangan, densitas energi konsumsi, densitas asupan zat gizi, dan kontribusi zat gizi makan siang pada pegawai Yayasan Islam Asy-Syukriyyah TangerangMetode: Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling dengan jumlah responden sebanyak 74 pegawai. Analisis bivariat menggunakan uji statistik Korelasi Spearman.Hasil:Sebagian besar responden berusia 31 – 50 tahun (middle adult) dan sebagian besar status gizi responden adalah gizi lebih. Hasil uji korelasi menunjukan ada hubungan antara densitas asupan vitamin A, vitamin C, zat besi makan siang pegawai dengan kontribusi vitamin A, vitamin C, zat besi makan siang pegawai (p-value=0,0001, p-value=0,0001, p-value=0,0001). Tidak ada hubungan antara densitas asupan protein dan kalsium makan siang pegawai dengan kontribusi protein dan kalsium makan siang pegawai (p-value=0,051, p-value=0,087). Kesimpulan: Ada hubungan antara densitas asupan vitamin A, vitamin C, zat besi makan siang dengan kontribusi vitamin A, vitamin C, zat besi makan siang. Hal ini dikarenakan kurang beragam dan berkualitasnya pangan yang digunakan pada menu makan siang. Sehingga zat gizi seperti vitamin dan mineral tidak terpenuhi.KATA KUNCI: densitas asupan zat gizi; densitas energi dan zat gizi pangan; densitas energi konsumsi; kontribusi zat gizi; pegawaiABSTRACTBackground: One of the requirements for occupational health and safety is to fulfill the nutritional needs to improve the health status of workers. Menu planning needs to pay attention to the quality and diversity of food. The higher the variety of food consumed, the more nutritional needs can be fulfilled and affect employees' work productivity.Objectives: To analyze energy and nutrient density, energy density intake, nutrient density intake, and nutrient contribution of lunch in employees at Asy-Syukriyyah Islamic Foundation Tangerang.Methods: This study was a cross-sectional study. Sampling was done by a total sampling technique with a total of 74 employees. Bivariate analysis using Spearman's Correlation statistical test.Results: Most of the respondents were 31 – 50 years old (middle adult), and most of the respondents' nutritional status was overweight.The correlation test results showed a relationship between vitamin A, vitamin C, iron density intake of employee’s lunch with vitamin A, vitamin C, and iron contribution of employee’s lunch (p-value = 0.0001, p-value = 0.0001, p-value=0.0001). There was no relationship between protein and calcium density intake of employee’s lunch with protein and calcium contribution of employee’s lunch (p-value=0.051, p-value=0.087).Conclusions: There is a relationship between the nutrient density intake (vitamin A, vitamin C, iron) with the nutrient contribution (vitamin A, vitamin C, iron) of lunch. This result is because of the lack of diversity and quality of food used on the lunch menu. So, the nutrients such as vitamins and minerals are not fulfilled.KEYWORDS: employees; energy and nutrient density; energy density intake; nutrient density intake; nutrient contribution