cover
Contact Name
Masruchin
Contact Email
aldzikra@radenintan.ac.id
Phone
+6281379788639
Journal Mail Official
aldzikra@radenintan.ac.id
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits
ISSN : 19780893     EISSN : 27147916     DOI : 10.24042
Core Subject : Religion, Education,
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits [ISSN 2714-7916] is peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Quran and Hadits from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Quranic and Hadits Studies, Quranic and Hadits sciences, Living Quran and Hadits, Quranic and Hadits Studies accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Qur’an, Tafsir and Hadits Studies. Publishes twice in a year [June and December]. by Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty, UIN Raden Intan Lampung.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 15 No 2 (2021)" : 8 Documents clear
Transformasi Perkembangan Tafsir: Model Tafsir Hadis Modern Fazlur Rahman Sebagai Kritik Terhadap Model Tafsir Sebelumnya Ananda, Annisa Rizki; Masruchin, Masruchin
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.5635

Abstract

AbstractThis paper discusses about the transformation of the development of interpretation which was initiated by a modern commentator from Pakistan named Fazlur Rahman where he tried to restore the position of hadith which was considered to have stagnate and died in the growth of its interpretation. Fazlur Rahman offers a new method in increasing the growth of hadith science to be more developed and able to answer modern contexts with more complex problems. The purpose of this study is to reveal Fazlur Rahman's thoughts on hadith which are considered controversial but in fact have a very good purpose for the position of hadith it self, and to reveal the hadith research methods offered by Fazlur Rahman as a modern method in the science of hadith. This study uses the library research method and the results of the study found that the hadith method offered by Fazlur Rahman is a socio-historical method.AbstrakTulisan ini mengkaji tentang transformasi perkembangan tafsir yang digagas oleh seorang mufassir modern asal Pakistan bernama Fazlur Rahman dimana ia mencoba untuk mengembalikan kedudukan hadis yang dianggap mengalami stagnasi dan mati dalam pertumbuhan tafsirnya. Fazlur Rahman menawarkan metode yang baru dalam meningkatkan pertumbuhan ilmu hadis menjadi lebih berkembang dan dapat menjawab konteks modern dengan permasalahan yang lebih kompleks. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap pemikiran Fazlur Rahman mengenai hadis yang dinilai kontroversional namun pada kenyataannya memiliki tujuan yang sangat baik bagi kedudukan hadis itu sendiri, serta mengungkap metode penelitian hadis yang ditawarkan Fazlur Rahman sebagai metode modern dalam ilmu hadis. Penelitian ini mengunakan metode library Research dan hasil penelitian ditemukan bahwa metode hadis yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman adalah metode sosio-historis.Kata Kunci: Fazlur Rahman; Metodologi Hadis; Pemikiran Modern.
Konsep Keharmonisan Rumah Tangga dalam Al-Quran ( Interpretasi Ma’na-Cum-Maghza atas Term Libas dalam QS. Al-Baqarah: 187 ) Sari, Maula; Fahrudin, Fahrudin
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.7009

Abstract

AbstractThis research focuses on the study of "The Concept of Household Harmony in the al-Quran (Ma'na-Cum-Maghza Interpretation of Term Libas in QS. al-Baqarah: 187)". This research is motivated by many people who do not heed the harmony in their household and many people who interpret the word libas in QS. al-Baqarah: 187 means clothes only. In fact, the meanings contained in the word libas are very diverse which can be a guide in household harmony. Therefore, by using the Ma'na-Cum-Maghza approach, this study aims to explain the meanings contained in the word libas. This study concludes that the significance of this verse is that family harmony can be built through Gotong Royong, Loyalty, and Romance. AbstrakPenelitian ini fokus terhadap kajian “Konsep Keharmonisan Rumah Tangga dalam al-Qur’an (Interpretasi Ma’na-Cum-Maghza atas Term Libas QS. al-Baqarah: 187)”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya masyarakat yang tidak mengindahkan keharmonisan dalam rumah tangganya dan banyak masyarakat yang memaknai kata libas dalam QS. Al-Baqarah: 187 bermakna pakaian saja. Padahal, makna yang ada dalam kata libas sangat beragam yang dapat menjadi pedoman dalam keharmonisan rumah tangga. Oleh karena itu, dengan menggunakan pendekatan Ma’na-Cum-Maghza penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna-makna yang ada dalam kata libas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa signifikansi dalam ayat ini mengandung keharmonisan keluarga dapat di bangun melalui Gotong Royong, Kesetiaan, dan Romantisme. Kata Kunci: Keharmonisan; Libas pada al-Baqarah: 187; Ma’na-Cum-Maghza.
Epistemologi Hermeneutika Kaitan Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran Al-Qur’an Assarwani, Mahin Muqaddam
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.9216

Abstract

AbstrakThe interpretation of the Qur’an will never be completed, starting from the first time it came down to eart, it has used the results of the Qur’an until now. The method used in monitoring the Qur’an has also developed. The development of the method has implications for various results. Methods in certain periods may not be relevant to other periods, because the development of the world is so fast and requires the existence of new methods of understanding that are in accordance with the times. This study wants to offer hermeneutics as a method of using the Qur’an. Hermeneutics appears as an alternative method in understanding a text (al-Qur’an), the pattern of understanding it offer reveals Contextual methodological assumptions because it does not only pay attention to the content of the text, but also considers the existence of the context that surrounds the text, both psychological context. And social context. The results of this study reveal that the disclosure of the Qur’an by using the hermeneutic method of storage is more human and contextual.Keywords : Text, Understanding, Context, Hermeneutics. AbstrakPenafsiran terhadap al-Qur’an tidak akan pernah selesai, terhitung sejak pertama kali turunnya ke bumi sudah ribuan hasil penafsiran al-Qur’an hingga saat ini. Metode yang digunakan dalam menafsirkan al-Qur’an juga mengalami perkembangan. Perkembangan metode tersebut berimplikasi pada hasil penafsiran yang beragam. Metode pada periode tertentu bisa jadi tidak relevan dengan periode yang lain, dikarenakan perkembangan dunia yang begitu cepat dan mengharuskan adanya metode-metode pemahaman baru yang sesuai dengan zamannya. Penelitian ini ingin menawarkan hermeneutika sebagai metode penafsiran al-Qur’an. Hermeneutika muncul sebagai salah satu alternatif metode dalam memahami sebuah teks (al-Qur’an), Pola pemahaman yang ditawarkannya mengungkap asumsi-asumsi metodologis yang Kontekstual karena tidak hanya memperhatikan isi teks, tetapi juga mempertimbangkan keberadaan konteks yang melingkupi teks tersebut, baik konteks psikologis maupun konteks sosial. Hasil dari penelitian ini mengungkap bahwa penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan metode hermenutik menghasilkan penafsiran yang lebih manusiawi dan kontekstual.Kata Kunci : Teks, Pemahaman, Konteks, Hermeneutika. 
Makna Pembacaan Surah al-Fa>tihah pada Fenomena Ritual Jemaah Dzikrul Ghafilin di Desa Baron Nganjuk: Analisis Fenomenologi Alfred Schutz Wachid, Mohamad Ibnu; Ahmadi, Rizqa
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.9530

Abstract

AbstractThe recitation of surah al-Fatihah 100 times is a characteristic of the tradition of Jemaah Dzikrul Ghafilin. Normatively the recitation of al-Fatihah has various virtues including the master surah of the Qur'an, being a condition of the validity of prayer, used as a healing medicine. According to the provisional argument Dzikrul Ghafilin in general his orientation is purely to draw closer to Allah. In the meaning of the congregation in Baron Nganjuk is more oriented to the hope of the granting of all hajat. He is facilitated in work, education, healing, homemaking, and all things world. This research is considered important to dig deeper into the motives of pilgrims, more precisely how the understanding of pilgrims about Dzikrul Ghafilin in Baron Nganjuk, and how the findings are phenomenological. This research is qualitatively designed, using phenomenological methods and refers to the analysis of alfred schultz's construction of meaning. As for data collection techniques, the author directly observes as well as becomes a participant, conducts interviews and collects documentation. Phenomenologically the findings of this field study are; Theological motives add faith to Allah SWT, motives to preserve the teachings of the single mursyid Dzikrul Ghafilin (Gus Miek) in order to get the blessings of Gus Miek's teachings by facilitated all worship, and the motive of self-introspection in order to become a pious person in life. The interaction of the experience of the congregation is to get the support of the new family of Dzikrul Ghafilin pilgrims, gain insight into knowledge by exchanging opinions on life issues, and mutual tolerance to help the Dzikrul Ghafilin event. AbstrakPembacaan surah al-Fatihah 100 kali ialah ciri khas tradisi Jemaah Dzikrul Ghafilin. Secara normatif pembacaan al-Fatihah memiliki berbagai keutamaan diantaranya ialah surah induk al-Quran, menjadi syarat sahnya salat, dijadikan obat penyembuh. Menurut argumen sementara Dzikrul Ghafilin secara umum orientasinya ialah murni untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pemaknaan jemaah di Baron Nganjuk ini lebih berorientasi pada pengharapan terkabulnya segala hajat. Diataranya diperlancar dalam pekerjaan, pendidikan, kesembuhan, berumahtangga, dan segala perkara dunia. Penelitian ini dirasa penting untuk menggali lebih dalam motif jemaah, lebih tepatnya bagaimana pemahaman jemaah mengenai Dzikrul Ghafilin di Baron Nganjuk, beserta bagaimana hasil temuanya secara fenomenologis. Penelitian ini berdesain kualitatif, menggunakan metode fenomenologi dan mengacu analisis konstruksi makna Alfred Schultz. Adapun teknik pengumpulan data, penulis secara langsung melakukan observasi sekaligus menjadi partisipan, melakukan wawancara dan mengumpulkan dokumentasi. Secara fenomenologis hasil temuan dari penelitian lapangan ini ialah; Motif Teologis menambah keimanan kepada Allah SWT, motif melestarikan ajaran mursyid tunggal Dzikrul Ghafilin (Gus Miek) agar mendapatkan berkah ajaran Gus Miek dengan diperlancar segala hajat, dan motif intropeksi diri agar menjadi pribadi umat yang saleh dalam kehidupan. Interaksi pengalaman jemaah ialah mendapat dukungan keluarga baru jemaah Dzikrul Ghafilin, mendapatkan wawasan ilmu dengan saling bertukar pendapat masalah kehidupan, dan saling toleransi membantu acara Dzikrul Ghafilin.Kata Kunci: al-Fatihah; Dzikrul Ghafilin; Fenomenologi.
Interpretasi kata Sulthan (Kajian Ma’na Cum Maghza Terhadap Q.S. Ar-Rahman (55): 33) Wijaya, Roma; Malikah, Siti Sholihatun
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.9713

Abstract

AbstractThe Qur'an with all the words and sentences in it always gives birth to a double meaning. In accordance with the point of view, the approach used is the interpreter or reader. One of the words reviewed is sulthan, because the word contains variations in meaning depending on the syntax of the sentence before and after and the context that accompanies it. Therefore, this study reveals the meaning of the word sulthan from the verse Q.S. Ar-Rahman (55): 33. The theoretical approach used is the theory of ma'na cum maghza which was pioneered by Sahiron Syamsuddin as a hermeneutic lighter at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. With the description-analysis analysis method as well as the primary source in the form of the interpretation of the word sultan from various books of interpretation and also the Qur'an itself. Then secondary sources in the form of studies related to the theme of discussion, either in the form of journals, books, and so on. The results of this study are first, this verse is used as a reference source for the science of astronomy to explore the universe, because it expresses the invitation to penetrate the heavens and the earth. Second, the word sulthan in Surah Ar-Rahman verse 33 describes the power and power of Allah over his supervision of humans and jinn. Third, in depth the Qur'an through Surah Ar-Rahman verse 33 is a proof of Allah's power. AbstrakAl-Qur’an dengan segala kata dan kalimat di dalamnya selalu melahirkan makna ganda. Sesuai dengan sudut pandang, pendekatan yang digunakan mufassir atau pembaca. Salah satu kata yang diulas adalah sulthan, karena kata tersebut mengandung variasi makna tergantung kepada sintaksis kalimat sebelum dan sesudah serta konteks yang menyertainya. Oleh karena itu, penelitian ini mengungkapkan makna kata sulthan dari ayat Q.S. Ar-Rahman (55): 33. Adapun teori pendekatan yang digunakan adalah teori ma’na cum maghza yang dipelopori oleh Sahiron Syamsuddin selaku pemantik hermeneutika di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan metode analisis deskripsi-analisis serta sumber primer berupa penafsiran kata sulthan dari berbagai kitab tafsir dan juga al-Qur’an itu sendiri. Kemudian sumber sekunder berupa kajian-kajian yang terkait dengan tema pembahasan, baik berupa jurnal, buku, dan lain sebagainya. Adapun hasil penelitian ini adalah pertama, ayat ini dijadikan sumber rujukan tentang ilmu astronomi untuk menjelajahi alam semesta, karena di dalamnya mengungkapkan dipersilahkannya menembus langit dan bumi.  Kedua,  kata sulthan dalam surah Ar-Rahman ayat 33 mendeskripsikan tentang kekuatan dan kekuasaan Allah terhadap pengawasannya kepada manusia dan jin. Ketiga, secara mendalam al-Qur’an melalui surah Ar-Rahman ayat 33 ini sebagai bukti kekuasaan Allah Kata Kunci: Interpretasi; Ma’na-Cum-Maghza; QS. ar-Rahman: 33; Sulthan.
Reinterpretasi Hadis Ketaatan Istri Terhadap Suami Perspektif Qira’ah Mubadalah Haitomi, Faisal
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.9764

Abstract

AbstractThis article discusses about the relationship between husband and wife in the family which focuses on the hadith narrated by Ibn Majah through the Musawir al-Himyari route. This hadith is one of the many religious texts that are used to legitimize the marginalization of women, especially in the family realm. This research borrows the Mublah approach offered by Faqihuddin Abdul Kodir as an analytical tool that emphasizes cooperation and/or interdependence between two parties. From the discussion presented in this paper, the author comes to the conclusion that the hadith regarding the recommendation of a wife to seek and gain the pleasure of her husband, cannot be understood as one party only as emphasized by classical scholars. Partial texts like this when viewed from the point of view of mublah, are very contrary to the teachings of Islamic principles, especially in the family which emphasizes cooperation between husband and wife for the sake of creating a sakinah family, mawaddah warahmah. Therefore, it is not only the wife who is encouraged to seek and get the pleasure of her husband, but also vice versa in this case the husband also has the same obligations as those imposed on his wife.AbstrakArtikel ini membahas terkait relasi suami dan istri di dalam keluarga yang fokus  terhadap hadits riwayat Ibnu Majah melalui jalur Musawir al- Himyari. Hadits ini merupakan salah satu dari sekian banyak teks agama yang digunakan sebagai legitimasi atas pemarginalan perempuan, terlebih lagi dalam ranah keluarga. Riset ini meminjam pendekatan Mubadalah yang ditawarkan oleh Faqihuddin Abdul Kodir sebagai pisau analisis yang menekankan kerjasama dan atau ketersalingan antara dua belah pihak. Dari diskusi yang dihadirkan dalam paper ini, penulis sampai kepada kesimpulan bahwa hadits tentang anjuran istri mencari dan mendapatkan ridho suami, tidaklah bisa difahami sebagai salah satu pihak saja seperti yang ditegaskan oleh ulama klasik. Teks- teks parsial seperti ini jika dilihat dari sudut pandang mubadalah, sangatlah bertentangan dengan ajaran prinsip Islam terutama dalam keluarga yang menekankan kerjasama antara suami dan istri demi terciptanya keluarga sakinah, mawaddah warahmah. oleh karenanya tidak hanya istri yang dianjurkan mencari dan mendapatkan ridho suami, tetapi juga sebaliknya suami dalam hal ini juga memiliki kewajiban yang sama sebagaiamana yang dibebankan kepada istri.Kata Kunci: Hadits; Mubadalah; Relasi Suami Istri.
Penafsiran Masa Sahabat, Di antara Perbedaan Pemahaman dan Perpecahan Umat. Sadewa, Mohammad Aristo
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.10014

Abstract

AbstractThis paper aims to trace the history of the development of interpretation in the time of the Companions. This research uses a comparative-descriptive method with a qualitative approach. So it can be concluded that the development of the interpretation of the Companions period cannot be separated from the different conditions of the Companions in understanding the Qur'an. In addition, at that time there was also a division among the friends. The differences in understanding and division of the people have implications for the interpretation carried out. Differences in understanding do not have such a big impact, while the division of the ummah has a very big impact on interpretation. The division of the ummah which resulted in the emergence of distorted interpretations under the pretext of justifying their sect. The sources of interpretation carried out are the Qur'an, Hadith, Ijtihad, and Ahl-Kitab. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk melacak sejarah perkembangan tafsir di masa sahabat. Penelitian ini menggunakan metode komparatif-deskriptif dengan pendekatan kulitatif.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa perkembangan penafsiran masa sahabat tidak terlepas dari kondisi sahabat yang berbeda dalam memahami al-Qur’an. Ditambah lagi pada saat itu muncul juga sebuah perpecahan di antara para sahabat. Dari perbedaan pemahaman dan perpecahan umat tersebut berimplikasi kepada penafsiran yang dilakukan. Perbedaan pemahaman tidak berdampak begitu besar, sedangkan perpecahan umat dampaknya begitu besar bagi penafsiran. Perpecahan umat yang mengakibatkan munculnya penafsiran yang menyeleweng dengan dalih untuk menjustifikasi alirannya. Sumber-sumber penafsiran yang dilakukan ialah dengan al-Qur’an, Hadits, Ijtihad, dan Ahl-Kitab. Kata Kunci: Perbedaan Pemahaman; Perpecahan Umat; Tafsir Sahabat.
Pembacaan Surat At-Taubah Dalam Tradisi “Tobatan” pada Usia Kehamilan Tujuh Bulan di Dusun 2 Umbulkadu Desa Sendang Asri Lampung Tengah Masruchin, Masruchin
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.10719

Abstract

AbstractThis article examines the implementation of the "Repentance" tradition for pregnant women when they are seven months old by reading the letter at-Taubah to offer a prayer to pregnant women. Researchers want to examine the origin and implementation, where "Penance" is another term for "mitoni". By studying the history and how it is implemented, the researcher uses a literature review and interviews with figures in Sendang Asri village. From the results of this study, the people of Sendang Asri, especially hamlet 2 Umbulkadu, have been carrying out the "Repentance" tradition for a long time which was brought by one of the clerics from Java who lived in the village and the implementation of "Tobat" was carried out by seven people to read the letter at-Taubah with hope that mothers and babies who are being conceived will get health and safety until the time of delivery. AbstrakArtikel ini mengkaji tentang pelaksanaan tradisi “Tobatan” untuk ibu hamil ketika berusia tujuh bulan dengan membaca surat at-Taubah untuk memanjatkan do’a kepada ibu yang sedang mengandung. Peneliti ingin mengkaji asal usul serta pelaksanaannya, dimana “Tobatan” adalah sebuah istilah lain dari “mitoni”. Dengan mengkaji historis serta cara pelaksanaannya, peneliti menggunakan kajian pustaka serta wawancara dengan tokoh yang ada di kampung Sendang Asri. Dari hasil penelitian ini bahwa masyarakat Sendang Asri khususnya dusun 2 Umbulkadu melakukan tradisi “Tobatan” sudah cukup lama yang dibawa oleh salah satu tokoh Kiyai dari Jawa yang menetap di kampung tersebut dan pelaksanaan “Tobatan” dilakukan oleh tujuh orang untuk membaca surat at-Taubah dengan harapan agar ibu dan bayi yang sedang dikandung mendapatkan kesehatan serta keselamatan hingga waktu melahirkan.Kata Kunci: Mitoni; Surat at-Taubah; Tradisi Tobatan.

Page 1 of 1 | Total Record : 8