cover
Contact Name
Masruchin
Contact Email
aldzikra@radenintan.ac.id
Phone
+6281379788639
Journal Mail Official
aldzikra@radenintan.ac.id
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits
ISSN : 19780893     EISSN : 27147916     DOI : 10.24042
Core Subject : Religion, Education,
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits [ISSN 2714-7916] is peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Quran and Hadits from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Quranic and Hadits Studies, Quranic and Hadits sciences, Living Quran and Hadits, Quranic and Hadits Studies accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Qur’an, Tafsir and Hadits Studies. Publishes twice in a year [June and December]. by Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty, UIN Raden Intan Lampung.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 16 No 1 (2022)" : 8 Documents clear
Kritik Epistemologis Ignaz Goldziher Dan Joseph Schacht Terhadap Kitab Al-Muwattha’ Imam Malik Mutaqin, Rizal Samsul; Muazar, Dandy Syauqy
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.9908

Abstract

AbstractThis paper will try to see how the contribution of Imam Malik with his book al-Muwattha' to the development of hadith, and how the orientalist criticism of the book. In other words, how do orientalists criticize al-Muwattha' as the first generation of books in the writing of hadith. The research conducted in this study is a literature study using the book of al-Muwattha' Imam Malik as the primary source. The result of this research is Goldziher said that al-Muwattha' is more appropriately called a law book than a hadith book. Schact said: there is not a single authentic hadith contained in the book al-Muwattha', so that criticism has implications for doubting the authentic hadith as the word of the Prophet, and the Prophet there is not a single authentic hadith from the Prophet. AbstrakTulisan ini akan mencoba melihat bagaimana kontribusi Imam Malik dengan kitabnya al-Muwattha’ terhadap perkembangan hadis, dan bagaimana kritik orientalis terhadap kitab itu. Dengan kata lain, bagaimana orientalis mengkritik al-Muwattha’ sebagai kitab generasi pertama dalam penulisan hadis. Penelitian yang dilakukan dalam studi ini adalah studi literatur dengan menggunakan kitab al-Muwattha’ Imam Malik sebagai sumber primer. Hasil dari penelitian ini ialah Goldziher mengatakan bahwa al-Muwattha’ lebih tepat disebut kitab hukum daripada disebut kitab hadis. Schact mengatakan: tidak ada satupun hadis yang shahih yang terdapat dalam kitab al-Muwattha’, sehingga dari kritik itu berimplikasi pada keraguan terhadap hadis yang otentik sebagai sabda Nabi, dan Nabi tidak ada satu pun hadis yang otentik dari Nabi. Kata Kunci: Critics; Hadith Literature; Orientalists; Kitab al-Muwattha’.
KARAKTER FUNDAMENTAL DI DALAM AL-QUR’AN Respon Atas Keberadaan Ayat Mutasyabih Masruchin, Masruchin; Wahyudin, Wahyudin
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.10311

Abstract

AbstractThis study explains the fundamental response to the existence of the mutasyabihat verses (verses with ambiguous interpretation) found in Surah Al-Imran: 7. The research method chosen was library research. The findings of this study show that the mutasyabih verse in the Qur'an has the potential for two or more meanings. This knowledge elicits two counterproductive arguing responses, which subsequently take on the personality of thinking and moving. The first is a character is known as zaigun (misguided), who seeks takwil and/or purposefully produces defamation. Rasikhun is the second (who studies knowledge). AbstrakTulisan ini memaparkan tentang respon fundamental atas keberadaan ayat mutasyabihat yang tercantum dalam surat Al-Imran: 7. Metode penelitian dalam tulisan ini berbasis pada kajian pustaka (library research). Hasil dari penelitian ini mengungkapkan ayat mutasyabih di dalam al-Qur’an, mengandung kemungkinan dua makna atau lebih. Informasi ini mengundang dua respon argumentatif kontraproduktif yang kemudian menjadi karakter berfikir dan bergerak. Pertama karakter yang disebut zaigun (condong kepada kesesatan) yang berupaya mencari-cari takwil dan atau sengaja menimbulkan fitnah. Dan kedua adalah rasikhun (yang mendalami ilmu).Kata Kunci: Fundamentalisme; Mutasyabih; Rasikhun; Respon Argumentatif; Zaighun.
Pemaknaan Waliy (Awliya’) Sebagai Pemimpin Dalam Pandangan Mufassir Klasik dan Modern Septiawadi, Septiawadi
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.10324

Abstract

AbstractThe study of the scriptures through interpretations is a way to provide solutions to stem conflicts in socio-political relations in a pluralistic society. By using a qualitative method with a library research approach, this research will examine the meaning of waliy or awliya' from classical and modern commentators. The commentator's view explains that the mention of waliy or awliya' is a term that indicates close friendship, help from enemies used in asylum asking for protection. Wali is closer to its use outside of political leadership, while its use in political space and regional power uses the term waalin. AbstrakKajian terhadap kitab suci melalui penafsiran-penafsiran adalah suatu jalan untuk memberikan solusi membendung pertikaian dalam hubungan social politik ditengah masyarakat yang majemuk. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research) penelitian ini akan mengkaji makna waliy atau awliya’ dari mufassir klasik dan modern. Pandangan mufassir menjelaskan bahwa penyebutan waliy atau awliya’ merupakan istilah yang menunjukkan persahabatan dekat, pertolongan dari musuh yang digunakan dalam persuakaan minta perlindungan. Wali lebih dekat penggunaannya diluar kepemimpinan politik, sedangkan penggunaan pada ruang politik dan kekuasaan wilayah memakai istilah waalin.Kata Kunci: Pemimpin; Penafsiran; Waliy-Awliya’.
Konsep Jihad dalam Al-Qur’an (Kritik Hermeneutika Otoritatif Khaled Abu El-Fadh) Ahlan, Ahlan; Redho, M. Ragap
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.10428

Abstract

AbstractThis paper aims to explore the meaning of jihad using the analytical knife of Authoritative Hermeneutics which was initiated by Khaled Abu El Fadh. The view of Jihad that has spread widely in society is the result of a misunderstanding of hard-line Islamic groups. Such a mistake in thinking requires a reduction in thinking to be able to provide understanding to the community about a more inclusive teaching concept. This study uses a qualitative approach with descriptive analysis method. The results in this study reveal that the idea of Jihad according to Authoritative Hermeneutics is not the same as qital, in the Qur'an Jihad does not refer to battle or war. Jihad in Islam can mean an effort to harmonize a safe life in society, by not spreading worries, to bring about the suitability of life regardless of differences by prioritizing humanistic principles, as well as joint efforts to build a more decent life that avoids poverty in the midst of an increasingly developing era. It can be concluded from this paper that jihad is not only related to war but also talks about the moral and spiritual formation of people who uphold human values, tolerance, justice and equality in life by not creating gaps and worries in social life. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mengupas makna jihad dengan menggunakan pisau analis Hermeneutika Otoritatif yang digagas oleh Khaled Abu El Fadh . Pandangan tentang Jihad yang telah banyak menyebar dalam masyarakat merupakan hasil dari kesalahan berpikir kelompok Islam garis keras. Kesalahan berpikir yang demikian, diperlukan reduksi pemikiran untuk dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang sebuah konsep ajaran yang lebih inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif dengan metode Deskriptif analisis. Hasil dalam penelitian ini mengungkapkan bahwasannya gagasan Jihad menurut Hermeneutika Otoritatif tidak sama dengan qital, dalam al-Qur’an Jihad tidak merujuk pada pertempuran atau perang. Jihad dalam Islam bisa bermakna usaha menyelaraskan hidup yang aman dalam masyarakat, dengan tidak menebar kekhawatiran, menghadirkan kesesuaian hidup tanpa memandang perbedaan dengan mengedepankan prinsip humanistik, serta usaha bersama membangun kehidupan yang lebih layak yang terhindar dari kemiskinan di tengah kemajuan zaman yang semakin berkembang. Dapat disimpulkan dari tulisan ini bahwa jihad tidak hanya berkaitan dengan peperangan tapi juga berbicara tentang pembentukan moral dan spiritual umat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, keadilan dan kesetaraan hidup dengan tidak menciptakaan kesenjangan dan kekhawatiran dalam hidup bermasyarakat.Kata Kunci: Hermeneutika Otoritatif Khaled Abu El Fadh; Jihad; Qital.
Pemikiran William Montgomery Watt Tentang sosok Muhammad dalam karyanya Muhammad Prophet And Tasteman Adz Dzikri, Danang Fachri; Solehah, Ni'matus
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.10941

Abstract

AbstractMany of the experts in Islamic studies both Eastern (Occidental) and Western (Orientalist) describe concepts related to the Prophet Muhammad. One of them is William Montgomerry Watt, an English orientalist. The purpose of this study is to determine the subjectivity and objectivity of orientalist figures in studying Islamic history. This study uses a qualitative research method with a library research approach. Watt is one of the figures who examines Muhammad's life with thoughts based on a socio-cultural approach. Then Richard Bell, one of the teachers who also influenced Watt's thinking a lot. In his book, Muhammad Prophet and Tasteman, Watt tries to accommodate the previous book about Muhammad. Was Muhammad the Prophet? or as a statesman? Or even as a second?. AbstrakBanyak dari para pakar kajian Islam baik Timur (oksidentalis) ataupun Barat (Orientalis) menjabarkan konsep-konsep yang berkaitan dengan Nabi Muhammad. Salah satunya yaitu William Montgomerry Watt, orientalis yang berkebangsaan Inggris. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui subjektivitas dan objektifitas tokoh orientalis dalam mengkaji sejarah Islam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Watt merupakan salah satu tokoh yang mengkaji kehidupan Muhammad dengan pemikiran-pemikiran yang dilandasi dengan pendekatan sosio-kultur. Kemudian Richard Bell, salah seorang guru yang juga banyak banyak mempengaruhi pemikiran Watt. Dalam bukunya yang berjudul Muhammad Prophet and Tasteman, Watt mencoba mengakomodir buku tentang Muhammad yang sebelumnya. Apakah Muhammad sebagai Nabi? atau Sebagai Negarawan? Atau bahkan sebagai kedua?. Kata Kunci: Kajian Islam di Barat; Muhammad Prophet and Tasteman; William Montgomerry Watt.
Hadits Tentang Perintah Membunuh Cicak (Tinjauan Hikmah Tasyri’) Zaki, Muhammad
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.11365

Abstract

AbstractThis paper will discuss the hadiths of the command to kill lizards, especially those found in al-kutub al-sittah. Outwardly, these hadiths contradict the mission of the Prophet as a blessing lil 'alamin, who was sent to spread love to all beings. The purpose of this study is to determine the validity of the hadiths about the command to kill lizards and reveal the wisdom behind the command. This research is a qualitative descriptive literature. The data were analyzed using the approach of hadith science and the wisdom of tasyri '. The results of the study concluded that the hadiths about the order to kill lizards that belong to fawaisiq animals range between sahih and hasan, therefore it is permissible to be killed but it is not an obligation only as far as encouragement. The wisdom is to avoid harm, because lizards include reptiles that carry bacteria that are harmful to health. AbstrakTulisan ini akan membahas tentang hadits-hadits perintah membunuh cicak, khususnya yang terdapat dalam al-kutub al-sittah. Secara lahiriahnya hadits-hadits ini bertolak belakang dengan misi Rasulullah sebagai rahmatan lik ‘alamin, yang di utus untuk menebarkan kasih sayang kepada semua makhluk. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui validitas hadits-hadits tentang perintah membunuh cicak dan mengungkap hikmah di balik perintah tersebut. Penelitian ini adalah kepustakaan yang bersifat deskriptif kualitatif. Data dianalisis menggunakan pendekatan ilmu hadits dan hikmah tasyri’. Hasil penelitian menyimpulkan, hadits-hadits tentang perintah membunuh cicak yang tergolong hewan fawaisiq berkisar antara shahih dan hasan, oleh karenanya boleh untuk dibunuh akan tetapi bukan suatu kewajiban hanya sebatas anjuran. Adapun hikmahnya adalah untuk menghindari dari kemudaratan, karena cicak termasuk reptil yang membawa bakteri yang berbahaya bagi kesehatan. Kata Kunci: Fuwaisiq; Hikmah; Tasyri’.
Respon Al-Qur’an atas Trend Childfree (Analisis Tafsir Maqāṣidi) Wijaya, Roma
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.11380

Abstract

AbstractChildfree, who is committed to withholding children, is seen as the basis for a couple to reach their desired goals, but on the other hand, Indonesian socio-cultural aspects, both legally and culturally, require that they have offspring. From this phenomenon, this article describes the concept of childfree which is responded to by the Qur'an with various interpretations. In this case, the main argument for responding to childfree is Q.S. Ali 'Imran: 38-39 which gives an understanding of the commitment to have children. The theory used in this research is the theory of maqāṣid interpretation analysis which was coined by Abdul Mustaqim. This theory reveals the message behind the meaning of the Qur'an, in this case examining maqāṣid on childfree responses which are considered the principle of freedom. This research is a type of library research that uses data sources in the form of journal articles, books, and other documentary data with the same theme. The results of this study are that there are no specific verses discussing childfree and there are values of maqāṣid that appear, namely hifzhh al-din containing the continuity of religious development, hifzhh al-nasl the existence of gaps that occur in the future, and hifzh al- look at the quality of society and the condition of the people's welfare. AbstrakChildfree yang berkomitmen untuk menahan memiliki anak dipandang sebagai landasan pasutri untuk menggapai cita-cita yang diinginkan, tetapi di sisi lain sosio-kultural Indonesia baik secara undang-undang maupun budaya masyarakat mengharuskan memiliki keturunan. Dari fenomena tersebut artikel ini menguraikan konsep childfree yang direspon oleh Alqurandengan berbagai penafsirannya. Dalam hal ini yang menjadi dalil utama untuk merespon childfree adalah Q.S. Ali ‘Imran: 38-39 yang memberikan pemahaman atas komitmen untuk memiliki keturunan. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori analisis tafsir maqāṣid yang dicetuskan oleh Abdul Mustaqim. Teori ini mengungkapkan pesan dibalik makna al-Qur’an, dalam hal ini mengkaji maqāṣid atas respon childfree yang dianggap sebagai prinsip kebebasan. Penelitian ini berjenis library research yang menggunakan sumber data berupa artikel jurnal, buku, serta data dokumentar lain yang setema. Hasil penelitian ini adalah ayat yang spesifik membicarakan childfree tidak ditemukan dan adanya nilai-nilai maqāṣid yang muncul yaitu hifzh al-din memuat adanya kontinuitas perkembangan agama, hifzh al-nasl adanya kesenjangan yang terjadi di masa depan, dan hifzh al-daulah melihat kualitas masyarakat dan kondisi kesejahteraan rakyat. Kata Kunci: Interpretasi; Ma’na Cum Maghza; QS. Ar-Rahman:33; Sulthan.
Konstruksi Praktik Salat Taqwiyatul Hifdzi Bagi Penghafal Al-Qur’an Di Pondok Pesantren An-nur 1 Charisma, Nur Lailatul; Enjelita, Linandha Shinta; Mustafidah, Nurul Fahmi; Hasanah, Mutimmatul; Mukaromah, Ni'matul; Idris, Muhammad Anwar
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.11559

Abstract

AbstractThis paper examines the practice of praying sunnah taqwiyatul hifdzi at Pondok Pesantren An-Nur 1 Putri Bululawang Malang. Researchers will examine the practice, factors and the influence of religious taqwiyatul hifdzi prayer for students who memorize the Qur'an. The methods of interview, observation, documentation and phenomenological approach as well as the use of the living hadith approach are used in this study. As for the results of this study, that the taqwiyatul hifdzi prayer at Pondok Pesantren An-Nur 1 Putri Malang is carried out in congregation on Thursday night, Friday Kliwon. The Hadith of the Prophet became the normative reason for the practice and the certificate given by the caregiver to the santri became the historical reason behind the practice. The benefits obtained by the perpetrators after carrying out the prayers include: strengthening the memorization of the Qur'an, nadzam, being given convenience and understanding in diniyah subject matter and getting closer to Allah. AbstrakTulisan ini mengkaji tentang praktik salat sunnah taqwiyatul hifdzi di Pondok Pesantren An-Nur 1 Putri Bululawang Malang. Peneliti akan mengkaji tentang praktik, faktor serta pengaruh keberagamaan salat taqwiyatul hifdzi bagi santri penghafal al-Qur’an. Metode wawancara, observasi, dokumentasi dan pendekatan fenomenologi serta pemanfaatan pendekatan living hadits digunakan dalam penelitian ini. Adapun hasil penelitian ini, bahwa salat taqwiyatul hifdzi di Pondok Pesantren An-Nur 1 Putri Malang dilakukan dengan berjamaah pada hari Kamis malam Jum’at kliwon. Hadits Nabi menjadi alasan normatif praktik tersebut serta ijazah yang diberikan pengasuh kepada santri menjadi alasan historis yang melatarbelakangi praktik tersebut. Manfaat yang diperoleh para pelaku setelah melaksanakan salat tersebut antara lain: memperkuat hafalan al-Qur’an, nadzam, diberikan kemudahan dan kefahaman dalam materi pelajaran diniyah serta mendekatkan diri kepada Allah.Kata Kunci: An-Nur 1; Living Hadits; Salat Taqwiyatul Hifdzi.

Page 1 of 1 | Total Record : 8