cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan)
ISSN : 24610437     EISSN : 25409131     DOI : -
Jukung adalah jurnal yang berisikan hasil-hasil penelitian ilmiah meliputi bidang rekayasa dan teknologi lingkungan yang dikelola oleh Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat. Jukung diterbitkan dua kali dalam setahun setiap bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
PENYISIHAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK ALAMI PADA AIR BAKU UNTUK PRODUKSI AIR MINUM DENGAN KOMBINASI PRE-OKSIDASI DAN KOAGULASI Muhammad Firdaus Kamal; Euis Nurul Hidayah
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.508 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i1.6190

Abstract

Kehadiran NOM menurunkan kualitas air baku untuk air minum dengan mengubah sifat organoleptik, mengganggu sistem pengendapan dan meningkatkan penggunaan koagulan, menyebabkan penyumbatan pada saringan dan distribusi air minum. Komponen NOM, seperti humic acids (HA) dan fulvic acids (FA) yang bereaksi dengan logam berat menyebabkan terbentuknya senyawa toksik dan berkontribusi terhadap pembentukan disinfection by products (DBPs) yang menyebabkan potensi adanya senyawa karsinogenik dalam pengolahan air minum secara konvensional. Salah satu metode penyisihan bahan organik dalam air adalah dengan peningkatan proses koagulasi, dengan pretreatment sebelum proses koagulasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pre-oksidasi dan koagulasi terhadap penyisihan bahan organik pada air Kali Jagir yang digunakan untuk produksi air minum. Berdasarkan hasil analisis, konsentrasi TOC pada air baku sebesar 11,67  mg/liter dan nilai UV absorbansi 254 nm sebesar 0,10895 cm-1, sehingga diperoleh nilai SUVA sebesar 0,934 L/mg/cm, sehingga diketahui karakteristik pada air Kali Surabaya yang cenderung hidrofilik dengan berat molekul rendah dan kebanyakan bukan humik yang mengindikasikan bahwa air tersebut dihasilkan dari kegiatan domestik dan industri. Pada kombinasi pre-oksidasi dan koagulasi, CaOCl2 dengan dosis 25 mg/liter mampu menurunkan TOC dari 11,67 mg/liter menjadi 9,11 mg/liter, sedangkan permanganat dengan dosis 0,8 mg/liter hanya mampu menurunkan TOC dari 11,67 mg/liter menjadi 11,25 mg/liter. Kombinasi pre-oksidasi dan koagulasi mampu menurunkan bahan organik aromatik, ditunjukkan dengan nilai absorbansi UV210 air baku yaitu 1,4983 cm-1 menjadi 1,2720 cm-1 dengan pre-oksidasi KMnO4-koagulan Al2(SO4)3 dan 1,3152 cm-1 pada pre-oksidasi CaOCl2-koagulan Al2(SO4)3. Kata kunci: bahan organik alami, koagulasi, pre-oksidasi. The presence of NOM reduces air quality for drinking water with changes in organoleptic properties, deposition systems and increased use of coagulants, blockages in filters and distribution of drinking water. NOM components, such as humic acid (HA) and fulvic acid (FA) which are printed with heavy metals cause the formation of toxic compounds and contribute to product disinfection (DBPs) which produce potential carcinogenic compounds in conventional drinking water treatment. One method of removing organic matter in water is by increasing the coagulation process, with pretreatment before the coagulation process. The purpose of this study was to determine the effect of pre-oxidation and coagulation on the removal of organic material in Kali Jagir water used for the production of drinking water. Based on the results of the analysis, TOC concentration in raw water is 11.67 mg/liter and UV absorbance value 254 nm is 0.10895 cm-1, so that the SUVA value is 0.934 L/mg/cm, so it is known the characteristics of the Surabaya River water which tend to be hydrophilic with low molecular weight and most not humic which indicates that the water is produced from domestic and industrial activities. In a combination of preoxidation and coagulation, CaOCl2 with a dose of 25 mg/liter was able to reduce TOC from 11.67 mg/liter to 9.11 mg/liter, while permanganate at a dose of 0.8 mg/liter was only able to reduce TOC from 11,67 mg/liter to 11.25 mg/liter. The combination of preoxidation and coagulation is able to reduce aromatic organic matter, indicated by the absorbance value of UV210 of raw water, namely 1.4983 cm-1 to 1.2720 cm-1 with the KMnO4-coagulant Al2(SO4)3 and 1.3152 cm-1 preoxidation in preoxidation CaOCl2-coagulant (SO4)3. Keywords: natural organic matter, coagulation, pre-oxidation.
PENGOLAHAN LIMBAH DOMESTIK RUMAH MAKAN DENGAN PROSES MOVING BED BIOFILM REACTOR (MBBR) Aulia Ulfah Farahdiba; Yayok Suryo Purnomo; Satria Nugraha Sakti; Muhammad Firdaus Kamal
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.607 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i1.6198

Abstract

Semakin banyaknya usaha rumah makan, maka air limbah yang dihasilkan akan bertambah dan akan menjadi suatu permasalahan. Pada proses pengolahan limbah khususnya yang mengandung senyawa organik, salah satu teknologi yang digunakan adalah dengan menggunakan proses Moving Bed Bioflm Reactor (MBBR). Pada prinsipnya, MBBR merupakan proses lumpur aktif yang ditingkatkan dengan menambahkan media (carrier) ke dalam reaktor aerasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis penurunan zat organik COD dan TSS dengan menggunakan proses MBBR pada limbah domestik rumah makan. Pada penelitian ini media yang digunakan adalah media kaldness 1 (K1) dengan variasi volume media yaitu tanpa media, 15%, 30%, 45%, dan 60%, serta variasi debit aliran air limbah yang akan masuk ke dalam reaktor MBBR sebesar 15 ml/menit, 30 ml/menit, 45 ml/menit, 60 ml/menit, dan 75 ml/menit. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan penyisihan beban pencemar COD dari limbah air domestik rumah makan oleh reaktor MBBR dengan volume media 60% dan debit 15 ml/menit sangat efektif. Reaktor ini mampu menurunkan nilai COD hingga 97,73% dan untuk TSS hanya sebesar 63,04% karena pada penelitian ini tidak menggunakan bak pengendap akhir sehingga nilai penyisihan TSS tidak terlalu besar.  Kata kunci:  COD, kaldness 1, moving bed bioflm reactor, TSS The more business restaurant, wastewater will be produced. In the processing of wastewater which contains an organic compound the most technology that is used is microorganisms or biological process by using Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR). In principle, MBBR is a process of activated sludge is improved by adding carrier into aeration reactor. This study aims to analyze the decrease in organic matter COD and TSS by using the MBBR process in restaurant domestic wastewater. The media that is used in this study is Kaldnes 1 (K1) with variation media volume that is without media, 15%, 30%, 45%, and 60%, and then the flow variation of wastewater discharge that will enter into MBBR reactor 75 ml/minute, 60 ml/minute, 45 ml/minute, 30 ml/minute, and 15 ml/minute. The results of this study results that the ability to set aside COD waste from restaurant domestic waste by MBBR with media volume 60% with 15 ml/minute debit more effective. This reactor able to increase COD till 97,73% and for TSS just 63,04% in this study do not use water tank so the TSS value is not too big. Keywords: COD, kaldness 1, moving bed bioflm reactor, TSS
ANALISIS TINGKAT KUALITAS PELAYANAN AIR BAKU PDAM KABUPATEN KOTABARU (Studi Kasus Instalasi Pengolahan Air Desa Gunung Relly) Irwan Azhar
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.83 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i1.6191

Abstract

Untuk meningkatkan kualitas layanan pada PDAM Kotabaru mengukur tingkat kepuasan masyarakat atau pelanggan khususnya terhadap kualitas pelayanan air baku Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gunung Relly yang dianalisis berdasarkan tingkat kesesuaian hasil perbandingan skor kinerja dengan skor kepentingan (harapan). Apabila TKi­ < 100%, berarti pelayanan belum memuaskan, Apabila TKi­ = 100%, berarti pelayanan telah memuaskan, Apabila TKi­ > 100%, berarti pelayanan sangat memuaskan. Berdasarkan hasil analisis dari 100 responden, diketahui tingkat kualitas pelayanan air baku PDAM Kotabaru dengan analisis importance dan performance matrix didapat tingkat kesesuaian rata-rata (TKi) 73% < 100% masuk dalam kategori belum memuaskan. Variabel yang menjukan untuk mendapat tindakan prioritas perbaikan menurut pelanggan, yakni variabel-variabel pada kuadran I, 1) kualitas air yang disalurkan kerumah pelanggan, 2) kontinuitas debit air yang disalurkan kerumah pelanggan, 3) keramahan dan kesabaran dalam pelayanan pelanggan serta menhadapi pengaduan pelanggan, 4) kelayakan tarif yang diberlakukan. Sehingga perlu evaluasi pada 1) kualitas air, perlu ada filtrasi atau penyaringan sebelum air didistribusikan ke rumah pelanggan sehingga air layak konsumsi 2) Kontinuitas debit air, Perlu pemeliharaan dan penambahan pompa air, deteksi tingkat kebocoran jaringan perpipaan dan penambahan sumber air alternative, 3) Keramahan pelayanan, perlu penyuluhan internal pimpinan terhadap petugas pelayanan untuk meningkatkan kesadaran sebagai perusahaan daerah yang melaksanakan pelayanan publik, 4) Kelayakan tarif, Perhitungan kembali tarif pelayanan disesuaikan dengan layanan yang diberikan. Kata Kunci : Air Baku, Analisis Importance, IPA Gunung Relly, Kualitas Pelayanan, PDAM Kotabaru. To improve the quality of service at PDAM Kotabaru, measure the level of satisfaction of the community or customers, especially the quality of raw water services in the Gunung Relly Water Treatment Plant (IPA) area, which is analyzed based on the level of comparison between performance scores and interest scores (expectations). If TKi <100%, means the service is not satisfactory, If TKi = 100%, means the service has been satisfactory, If TKi > 100%, means the service is very satisfying. Based on the analysis from 100 respondents, have the level of quality of raw water service in PDAM Kotabaru with importance and performance matrix analysis shows that the average level of suitability (TKi) is 73% <100% in the unsatisfactory category. Variables that indicate to get priority improvement actions according to customers, namely variables in quadrant I, 1) quality of water channeled to customers homes, 2) continuity of water flow distributed to customers' homes, 3) friendliness and patience in customer service and dealing with customer complaints, 4) feasibility of tariffs that apply. So it is necessary to evaluate 1) the quality of the water, there needs to be filtration or filtration before the water is distributed to the customer's house so that the water is suitable for consumption 3) Hospitality of services, need internal leadership counseling to service officers to increase awareness as regional companies that carry out public services, 4) Feasibility of tariffs, Re-calculation of service rates according to services provided. Keywords: Importance Analysis, IPA Gunung Relly, Raw Water, PDAM Kotabaru, Service Quality.
ANALISIS KEDALAMAN DAN KUALITAS AIR TANAH DI KECAMATAN SIPATANA KOTA GORONTALO BERDASARKAN PARAMETER FISIKA DAN KIMIA Aang Panji Permana
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.466 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i1.6208

Abstract

Tujuan penelitian mengetahui posisi kedalaman muka air tanah dari muka air laut dan mengetahui kualitas air tanah berdasarkan parameter fisika dan kimia. Metode penelitian yang dilakukan terbagi menjadi dua yakni metode survei lapangan dan analisis laboratorium. Hasil analisis menunjukkan perbandingan hasil pengamatan parameter fisika air (warna, bau dan rasa) dari dua tahap menunjukkan 18 sumur atau 36% yang berubah secara fisika. Analisis laboratorium untuk parameter kimia pada sampel air sumur nomor 15 memenuhi syarat untuk air minum baik kandungan arsen, besi maupun nitrat. Pemanfaatan air tanah di 50 sumur warga dominan dipakai kebutuhan sehari-hari yakni untuk air minum dan MCK sebanyak 34 sumur atau 68%. Berdasarkan model pola aliran air tanah diketahui ada enam titik cekungan rendah ditandai berwarna biru (ketinggian muka air tanah 1-5 meter).  Kata kunci: Air Tanah, Kualitas, Sipatana.  The purpose of the research is to know the position of the depth of the groundwater from the sea level and to know the quality of groundwater based on physical and chemical parameters. The research method carried out is divided into two, namely the field survey method and laboratory analysis. The results of the analysis showed a comparison of the results of observations of water physics parameters (color, smell and taste) from the two stages showing 18 wells or 36% which changed physically. Laboratory analysis for chemical parameters in number 15 well water samples meets the requirements for drinking water both in arsenic, iron and nitrate content. Daily use of ground water in 50 wells of dominant citizens is used for drinking water and MCK as many as 34 wells or 68%. Based on the model of groundwater flow patterns it is known that there are six low basin points marked in blue (1-5 meters groundwater level). Keywords: Groundwater, Quality, Sipatana.
PEMANFAATAN LIMBAH LUMPUR IPAL KAWASAN INDUSTRI DAN SERBUK GERGAJI KAYU MENJADI BRIKET Sissar Eka Bimantara; Euis Nurul Hidayah
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.543 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i1.6192

Abstract

Lumpur IPAL pada Kawasan Industri sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan dengan baik, pemanfaatan lumpur IPAL menjadi briket merupakan salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan limbah lumpur IPAL. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui lumpur IPAL dengan campuran serbuk gergaji kayu dapat dijadikan bahan bakar alternatif berupa briket, mengetahui pengaruh variasi lumpur IPAL dan serbuk gergaji kayu terhadap mutu briket berupa kadar abu, nilai kalor, kadar air , dan mengetahui komposisi terbaik antara lumpur IPAL dan serbuk gergaji kayu untuk menghasilkan nilai kalor optimum pada briket. Metodologi penelitian meliputi pengeringan bahan, karbonisasi bahan, penghalusan dan penyaringan bahan 20 mesh (841 µm), 40 mesh (420µm), dan 60 mesh (250 µm), pencetakan dan pengepresan briket, serta pengeringan briket. Selanjutnya dilakukan uji mutu briket, hasil analisis pada briket terbaik terdapat pada perbandingan 20 : 80 dengan menggunakan ayakan 60 mesh, memiliki nilai kalor 4366,8 kal/g, kadar air 1,26% dan kadar abu 1,32%. Nilai kalor pada briket masih belum memenuhi baku mutu dari SNI 4931 Tahun 2010, Minimnya nilai kalor yang dihasilkan bisa juga karena variabel perlakuan, dengan perbandingan yang dilakukan terhadap lumpur dan serbuk gergaji serta menggunakan ukuran ayakan yang berbeda. Kata Kunci : briket, lumpur IPAL, serbuk gergaji kayu. IPAL sludge in the Ngoro Persada Industry has yet to be utilized properly, utilizing IPAL sludge into briquettes is one of the efforts to solve this problem. The aim of this research was to determine the IPAL sludge with a mixture of wood sawdust can be used as an alternative fuel in the form of briquettes, to determine the effect of variations in IPAL sludge and wood sawdust on the quality of briquettes in the form of heat value, ash content and moisture content as well as knowing the best composition between IPAL sludge and wood sawdust to produce briquettes with the best heating value. The research methodology included material drying, carbonization of materials, refining and filtering of 20 mesh (841 μm), 40 mesh (420μm), and 60 mesh (250 μm), printing and pressing briquettes, and briquette drying. Furthermore, briquette quality testing was conducted, the results showed that the best briquettes were at a ratio of 20: 80 using 60 mesh sleve, having a heating value of 4366.8 cal / g, 1.26% moisture content and 1.32% ash content. The calorific value of briquettes still does not meet the quality standards of SNI 4931 of 2010, the lack of heat value produced can also be due to treatment variables, with the comparison carried out on sludge and wood sawdust and using different sieve sizes. Keywords: briquettes, IPAL sludge, wood sawdust.
PERENCANAAN BANGUNAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) KOMUNAL DOMESTIK DENGAN PROSES ANAEROBIC BAFFLED REACTOR (ABR)PADA ASRAMA PON-PES TERPADU NURUL MUSTHOFA DI KABUPATEN TABALONG KALIMANTAN SELATAN Chairul Abdi; Riza Miftahul Khair; Titis Sofi Hanifa
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.564 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i1.6200

Abstract

Pondok pesantren menyediakan asrama sebagai tempat menghuni para siswa. Beberapa kegiatan di asrama ini menghasilkan limbah. Semakin banyak penghuni yang menempati asrama semakin banyak pula limbah yang dihasilkan, salah satunya adalah limbah cair hasil dari kegiatan MCK. Pondok pesantren Nurul Musthofamemiliki jumlah penghuni dengan kapasitas maksimal 475 orang, sehingga apabila penghuni tersebut memenuhi kapasitas terbanyak, maka limbah yang akan dihasilkan adalah 45,6 m3/hari. Pondok pesantren ini memiliki beberapa sarana sanitasi yang kurang layak, oleh sebab itu perlu adanya upaya perbaikan sanitasi yakni merencanakan instalasi pengolahan air limbah domestik.yakni Anaerobic Baffled Reactor (ABR). Kualitas air limbah domestik BOD, COD, TSS, pH yang digunakan sebagai perencaaan yaitu 167mg/l, 469mg/l, 209mg/l, 7. ABR yang akan direncanakan memiliki 5 kompartemen dengan total dimensinya panjang, lebar, dan kedalaman adalah 9,85 meter, 2.8 meter, dan 2.3 meter. Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan ABR ini adalah Rp.225.000.000,00, dengan waktu kegiatan pembangunan yang direncanakan adalah 5 bulan. Kata Kunci : Anaerobic Baffled Reactor, Air Limbah domestic, Asrama, Pondok Pesantren.  The Boarding school provides the dormitory as a living place for the students. Some of the activities in the dorm produce the wast. The more people who live in the dorm, the more waste that will beproduce, whice one is the wastewater from Bathing, Washing, and to defecate. Nurul Musthofa Boarding school has the occupants by maximal capacity of 475 people, if the occupants fill the most excessily capacity, the the wastewater that will be produced is 45.6 m3/day. This Boarding school has some inapproviate sanitation facilities, therefore it needs an improvement of the sanitation, that is to design the Wastewater Treatment Plant Anaerobic Baffled Reactor (ABR). The quality of domestic wastewater BOD, COD, TSS, pH used as planning is 167mg/l, 469mg/l, 209mg/l, 7. ABR planned to have 5 compartementswith a total dimesion of length, width, and depth is 9,85 meter, 2.8 meter, dan 2.3 meter. The cost needed for the construction of this ABR is Rp.225.000.000,00 Keywords : Anaerobic Baffled Reactor, the boarding school, the dormitory, wastewater. 
PERAN RUANG TERBUKA HIJAU DALAM PERENCANAAN KOTA SEBAGAI POTENSI PEMBENTUK SMART CITY Hanny Maria Caesarina; Nahdi Saubari
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.269 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i1.6202

Abstract

Ruang terbuka hijau telah dikenal memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan. Ruang terbuka hijau dalam perencanaan kota kerap dianggap sebagai elemen pendukung terwujudnya smart city. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan seberapa jauh peran ruang terbuka hijau lewat penyediaan wifi corner dalam perencanaan kota menuju konsep smart city. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif berdasarkan observasi, survey lapangan dan serangkaian wawancara. Studi kasus yang diambil dalam penelitian ini adalah dua kota di Kalimantan Selatan, yaitu Banjarmasin dan Banjarbaru yang telah memiliki konsep smart city. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau dalam perencanaan kota memiliki potensi yang kuat sebagai elemen pembentuk smart city. Apabila ruang terbuka hijau suatu kota telah direncanakan dengan baik dari berbagai segi fasilitas dan terkoneksi dengan jaringan internet yang berkualitas, maka dengan sendirinya konsep smart city akan lebih mudah dicapai. Kata kunci: perencanaan kota, ruang terbuka hijau, smart city, wifi corner. Green space has an important role in enhancing environmental quality of a city. Green space often considered as a supporting element for the concept of smart city. This research intended to acknowledge the role of green space through the installation of wifi corner in urban planning towards smart city. The methods that has been used was descriptive qualitative through observation, field survey and interviews. The case study in this research were Banjarmasin and Banjarbaru which already has the smart city concepts. The result shows that green space in urban planning is a potential element towards smart city. A well good planned green space with all the facilities that connected to a good internet network in a city might help forming the concept of smart city. Keywords: green space, smart city, urban planning, wifi corner.
ANALISIS PENGARUH PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) TERHADAP KINERJA KARYAWAN DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PT. HASNUR CITRA TERPADU Rd. Indah Nirtha; Muhammad Firmansyah; Helda Prahastini
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.48 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i1.6203

Abstract

PT. Hasnur Citra Terpadu (PT. HCT) merupakan perusahaan kelapa sawit yang berada di Pamatang Karangan Hilir, Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. PT. HCT mempunyai perkebunan kelapa sawit dengan luas perkebunan 12.708,7 Ha. Pekerjaan yang ada di perkebunan kelapa sawit berpotensi menimbulkan bahaya, sehingga diperlukan upaya untuk mengendalikannya. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh kesehatan dan keselamatan kerja terhadap kinerja karyawan. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode HIRAC dan uji statistik dengan aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Kata Kunci : kelapa sawit, keselamatan dan kesehatan kerja, kinerja karyawa, PT. Hasnur Citra Terpadu,  PT. Hasnur Citra Terpadu (PT. HCT) is an oil palm company located in Pamatang Karangan Hilir, Tapin District, South Kalimantan Province. The area of oil palm plantations is 12.708,7 Ha. The activities in this plantation are potentially to create  danger. Therefore, it is required  to manage the risks. This study was conducted to analyze the impacts of occupational safety and health to employee’s performance. Investigation of this research was carried out using the HIRAC method and statistical test (SPSS). The result of this research showed that occupational safety and health has a significant effect on worker’s accomplishment. Keywords  :  palm oil, performance of employee, PT. Hasnur Citra Terpadu, safety and health.
ANALISIS KESESUAIAN TATA GUNA LAHAN RUANG HIJAU PERMUKIMAN DAN KECENDERUNGAN MASYARAKAT Dienny Redha Rahmani; Rosalina Kumalawati; Wahyunah Wahyunah
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.303 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i1.6209

Abstract

Ruang hijau pada dasarnya telah menjadi perhatian penting dalam menyusunan lahan di negara maju dan telah mendapat perhatian di negara berkembang salah satunya Indonesia. Hal ini tercermin dari telah disusunnya berbagai kebijakan terkait penyediaan hingga penataan ruang hijau baik tingkat komunal maupun pribadi. Sehingga perlu dianalisa kesesuaian kondisi aktual lingkungan ruang hijau permukiman baik komunal maupun privat pada aturan yang berlaku. Data diperoleh dengan menggunakan kuisioner dan pengamatan vegetasi permukiman (komunal dan pribadi) pada permukiman komplek perumahan dengan pedoman utama kebijakan pemerintah yaitu Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 5 Tahun 2008 tentang Ruang Terbuka Hijau dengan didampingi oleh peraturan, perudang-udangan dan kebijakan terkait lain yang berlaku. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa 80% masyarakat komplek/perumahan telah memiliki pekarangan yang sesuai dengan aturan yan berlaku. Kecenderungan untuk mimiliki pekarangan dengan kebaradaan vegetasi perdu dan tumbuhan bahwah terdapat pada 13,3% masyarakat. Hanya 6,6% pekarangan yang masih belum sesuai. Sehingga, dapat terlihat bahwa kondisi aktual ruang hijau permukiman dan kecenderungan masyarakat sebagian besar telah taat dan memahami pentingnya Ruang Hijau permukiman sesuai peraturan yang berlaku. Kata kunci :     Pekarangan, Peraturan pemerintah, Ruang hijau permukiman, Tata guna lahan. Green space has basically become an important concern in the preparation of land in developed countries and has received attention in developing countries, including Indonesia. This is reflected in the formulation of various policies related to the provision of communal and private green spaces. So that it is necessary to analyze the suitability of the actual conditions of the environment of green spaces of both communal and private settlements in the applicable rules. Data were obtained using questionnaires and observations of residential (communal and private) vegetation in residential area with the main guidelines of government policy, namely the Minister of Public Works Regulation No. 5 of 2008 concerning Green Open Space accompanied by regulations, barriers and other relevant policies. The data obtained shows that 80% of the residential community already has a yard that is in accordance with the regulation. Only 6.6% of the yard is still not suitable. Thus, it can be seen that the actual conditions of the residential green space and the tendency of the majority of the community have obeyed and understood the importance of the Green Living settlement according to the applicable regulations. Keywords: Government Regulation, Land Use, Residential Green Space, Yard.
VARIASI KEMAMPUAN BEBERAPA JENIS POHON DALAM MENYERAP CO2 PADA TAMAN KOTA BANJARBARU Hafiizh Prasetia; Rony Riduan; Nova Annisa
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 4, No 2 (2018): SEPTEMBER 2018
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.06 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v4i2.6586

Abstract

Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) di Kelurahan Komet sangat diperlukan keberadaannya. Jumlah, jenis dan distribusi vegetasi yang sudah ada perlu diketahui untuk membuat perencanaan RTH taman kota dan taman lingkungan yang dibutuhkan di Kota Banjarbaru. Oleh sebab itu, selain untuk menginventarisir RTH taman kota dan taman lingkungan yang ada, juga perlu dilakukan analisis variasi kemampuan serapan CO2 atmosfir beberapa jenis pohon penyusun ruang terbuka hijau Kota Banjarbaru, khususnya Kelurahan Komet. Tata hijau yang digunakan dalam lansekap kawasan taman menggunakan pohon yang bertajuk lebar dan didominansi pohon seperti akasia (Acacia mangium), jambu air (Eugenia aquea), mangga (Mangifera indica), sawo (Manilkara zapota), rambutan (Nephelium lappaceum), jambu biji (Psidium guajava), angsana (Pterocarpus indicus), mahoni berdaun lebar (Swietenia macrophylla), dan ketapang (Terminalia catappa). Penyerapan tertinggi tercatat pada pohon angsana (Pterocarpus indicus) yaitu sebesar 720 kg.tahun-1, sedangkan yang terendah pada pohon jambu biji (Psidium guajava), dan mahoni berdaun lebar (Swietenia macrophylla) yaitu sebesar 61 kg.tahun-1. Kata Kunci: Banjarbaru, serapan CO2, taman. The existence of green open space in Comet Village is indispensable. The number, type and distribution of existing vegetation should be known to make urban park planning and environmental parks needed in Banjarbaru City. Therefore, in addition to the inventory green open space park city and environmental parks that exist, it is also necessary to analyze the variation of atmospheric CO2 absorption capacity of several types of trees making up green open space Banjarbaru City, especially Comet Village. The green streets used in the landscape of the park area use wide-brim and tree-dominated such as Acacia mangium, Eugenia aquea, Mangifera indica, Manilkara zapota, Nephelium lappaceum, Psidium guajava, Pterocarpus indicus, Swietenia macrophylla and Terminalia catappa. The highest absorption was recorded in Pterocarpus indicus tree which was 720 kg.year-1, while the lowest in Psidium guajava and Swietenia macrophylla tree was 61 kg.year-1.Keyword : Banjarbaru, CO2 absorption, park.

Page 6 of 20 | Total Record : 200