cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE
ISSN : 25486365     EISSN : 25486365     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 23 Documents
GAMBARAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN BPJS TERHADAP PELAYANAN DOKTER GIGI DI APOTEK DAERAH KENDAL PADA BULAN MARET TAHUN 2016 Khasanah, Laelatul
PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE Vol 1, No 1 (2017): PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakannya dengan harapannya.Kepuasan pasien menjadi salah satu faktor penentu dalam kinerja petugas, Hasil penelitian yang dilakukan pada dokter gigi Apotek Daerah Kendal, dengan mengambil sampel 55 pasien. Gambaran tingkat kepuasan pasien BPJS terhadap pelayanan dokter gigi di Apotek Daerah Kendal pada bulan Maret tahun 2016, sebagian besar pasien merasa puas pada kuesioner pertanyaan 1-5 dengan prosentase >60% dan menyatakan cukup puas pada kuesioner pertanyaan 6-8 >50%.
PENGARUH KONSENTRASI Natrii Carboxymethylcellulosum (CMC Na) SEBAGAI SUSPENDING AGENT TERHADAP STABILITAS FISIK PADA SEDIAAN SUSPENSI KLORAMFENIKOL Candra Wardani, Catur
PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE Vol 1, No 2 (2017): PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengobatan penyakit dengan antibiotik sudah lama dilakukan dengan obat-obat sintetik contohnya kloramfenikol. Bentuk sediaan yang digunakan dalam obat kloramfenikol adalah dalam bentuk kapsul dan suspensi. Suspensi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat yang tidak larut dalam air. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Natrii Carboxymethylcellulosum (CMC Na 0,1%; 0,5% dan 1%) sebagai suspending agent terhadap stabilitas fisik pada sediaan suspensi kloramfenikol. Penelitian ini bersifat eksperimental di laboratorium. Evaluasi dalam penelitian ini meliputi organoleptis, pH, bobot jenis, volume sedimentasi, dan viskositas.  Hasil: Hasil paired t-test dari parameter evaluasi suspensi didapatkan kesimpulan tidak ada pengaruh perbedaan konsentrasi suspending agent pada pembuatan suspensi kloramfenikol dengan menggunakan 3 konsentrasi CMC Na. Berdasarkan uji volume sedimentasi pada konsentrasi 0,1% menunjukkan  hasil (0,21) lebih besar dari konsentrasi 0,5%(0,05) dan 1%(0,04). Pada konsentrasi 0,1% harga F lebih mendekati 1, suspensi yang baik pada perhitungan rasio kekeruhan dimana harga F=1. Berarti konsentrasi 0,1%  lebih baik daripada konsentrasi 0,5% dan 1%.
PERBEDAAN KADAR PARASETAMOL YANG DIGERUS MENGGUNAKAN MORTIR DAN MENGGUNAKAN BLENDER DENGAN METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT) Cou, Demetris
PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE Vol 1, No 1 (2017): PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar parasetamol yang digerus menggunakan mortir dan menggunakan blender. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian secara eksperimental kuantitatif yaitu analisis terhadap komponen utama parasetamol yang digerus menggunakan mortir dengan yang menggunakan blender dengan metode uji yaitu metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Penelitian ini bersifat true eksperiment yang dilakukan di laboratorium yang bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul sebagai akibat dari adanya perlakuan dua alat yang berbeda yaitu mortir dan blender. Dari hasil penelitian diperoleh kadar rata-rata dari parasetamol yang digerus menggunakan mortir adalah sebesar 90.53 %, dan menggunakan blender adalah sebesar 91 %, ini berarti bahwa kadar zat aktif parasetamol baik yang digerus menggunakan mortir maupun yang digerus menggunakan blender dinyatakan memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan dalam Farmakope Indonesia (FI) Edisi IV Tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih dari 110,0 %. Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan analisa One Way Anova diketahui bahwa nilai signifikansi uji anova sebesar 0,418 > 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu tidak adanya perbedaan kadar parasetamol baik yang digerus menggunakan mortir maupun yang digerus menggunakan blender.
TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA TERHADAP BAHAYA ROKOK DI LINGKUNGAN KAMPUNG PELITA DASAN AGUNG MATARAM Praditha, Dedy Indra; Hardani, Hardani; Utami, Evi Fatmi
PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE Vol 2, No 1 (2018): PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rokok merupakan silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah (Jaya, 2009). Rokok memilki Kandungan dalam asap rokok, antara lain : carbon monoksida (CO) yang dapat menyebabkan berkurang daya angkut bagi oksigen dan orang tersebutdapat meninggal dunia karena keracunan, amoniaacrolin, benzopiren dan lutidin berasal dari tar tembakau yang dapat menyebabkan kanker, Colidin menyebabkan kelumpuhan dan lambat laun mengakibatkan kematian, MetilAlkohol menimbulkan kebutaan, Formalin sering digunakan untuk membalsem mayat serta Arsenik merupakan sejenis racun yang dipakai untuk membunuh tikus.Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Karyo (2012) yang menyatakan bahwa bahaya merokok bagi remaja diantaranya dapat meningkatkan resiko kanker paru-paru dan penyakit jantung di usia yang masih muda. Selain itu kesehatan kulit tiga kali lipat lebih beresiko terdapat keriput di sekitar mata dan mulut. Kulit akan menua sebelum waktunya atau biasa disebut dengan penuaan dini. Merokok di usia dini menyebabkan impotensi dan mengurangi jumlah sperma pada pria dan mengurangi tingkat kesuburan pada wanita.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa besar tingkat pengetahuan remaja Lingkungan Kampung Pelita Dasan Agung Mataram terhadap bahaya merokok menggunakan analisis data rumus persentase dengan metode Deskriptif. Hasil yang diperoleh rata-rata tingkat pengetahuan siswa Remaja tentang bahaya merokok didapatkan hasil rata-rata persentase 54,72 % termasuk dalam kategori yaitu cukup. 
ANALISA PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL DALAM UPAYA SWAMEDIKASI DI LINGKUNGAN TOLOTONGGA KECAMATAN ASAKOTA BIMA Apriliana Lestari, Intan
PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE Vol 1, No 2 (2017): PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, dan campuran bahan-bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat tradisional dalam upaya swemedikasi di Lingkungan Tolotongga Kecamatan Asakota Bima.        Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian non eksperimental terhadap responden di Lingkungan Tolotongga dengan jumlah responden 91 orang menggunakan alat bantu angket/kuesioner. Pengambilan sampel dilakukan secara quota sampling.Analisis penggunaan obat tradisional dalam upaya swemedikasi dilakukan secara persentase deskriptif dengan menggunakan aplikasi SPSS (Statistical Product and Service Solution).        Analisa penggunaan obat tradisional dalam upaya swamedikasi di Lingkungan Tolotongga Kecamatan Asakota Bima adalah hasil dari persentase tentang tujuan penggunaan obat tradisional menunjukkan bahwa 88% masyarakat lebih cenderung pada penggunaan obat tradisional dalam usaha untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan, dan 83% untuk mengobati penyakit ringan. Hasil persentase tentang Bentuk sediaan penggunaan obat tradisional menunjukan bahwa 86% masyarakat lebih cenderung menggunakan obat tradisional dalam bentuk rebusan atau seduhan. Hasil persentase tentang cara memperoleh obat tradisional menunjukan bahwa 80% masyarakat lebih cenderung menggunakan obat tradisional dengan cara meracik sendiri.        Hasil penelitian menunjukan bahwa pengetahuan masyarakat di Lingkungan Tolotongga Kecamatan Asakota bima untuk penggunaan obat tradisional dalam upaya swamedikasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: jenis kelamin, umur, pekerjaan dan pendapatan/bulan.
ISOLASI SENYAWA AKTIF DAUN MIMBA (Azadiracha indica A. Juss) TERHADAP Streptococcus mutans Fitriah, Rahmayanti
PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE Vol 2, No 1 (2018): PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan hasil penelitian pengujian aktivitas antibakteri ekstrak n-heksana, etil asetat dan etanol daun mimba ( Azadirachta indica a. juss ) terhadap Streptococcus mutans dengan konsentrasi masing-masing pelarut yaitu               100 mg/100 mL, 50 mg/100 mL dan 25 mg/100 mL menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana, etil asetat dan etanol 95% dari daun mimba memberikan aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Ekstrak n-heksana memberikan aktivitas antibakteri tertinggi pada konsentrasi 100 mg/ 100 mL dengan daya hambat 18,70 mm terhadap Streptococcus mutans. Untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam ekstrak n-heksana maka dilakukan pengujian kromatografi lapis tipis. Dari uji KLT dihasilkan dua noda yaitu X1 (Rf : 0,7) dan X2 (Rf : 0,6). Hasil pemisahan KLT diuji aktivitas antibakteri dengan Metode Sumur (Hole Method). Isolat aktif (X2) yang ditunjukkan pada kromatogram dipisahkan dengan KLT Preparatif, lalu dilakukan uji kemurnian  dengan KLT 2 arah dan diidentifikasi dengan spektrofotometer UV dan Infra Merah (IM). Hasil pengujian aktivitas antibakteri menunjukkan adanya isolat aktif (X2) dengan Rf = 0,6 yang memberikan flouresensi biru hijau dibawah sinar UV 366 nm dan menunjukkan daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa isolat X2 dalam metanol memberikan serapan pada panjang gelombang 272 nm dan 331 nm pada spektrum UV. Hasil spektrofotometri Infra Merah (IM) isolat X2 menunjukkan pita serapan pada bilangan gelombang 3350.1 cm-1 yang menunjukkan gugus OH, bilangan gelombang 2974.0 cm-1 2891.1 cm-1  menunjukkan Ar-H dan C=C-H, bilangan gelombang 1649.0 cm-1 menunjukkan C=O, serta bilangan gelombang           1382.9 cm-1; 1454.2 cm-1 yang menunjukkan lentur C-H. Dari hasil identifikasi dan karakterisasi menunjukkan bahwa isolat X2 termasuk golongan senyawa flavonol.
ANALISIS RASIONALITAS PERESEPAN ANTIBIOTIK DI PRAKTIK dr. H. TRIS CAHYOSO MAJELUK KOTA MATARAM PERIODE DESEMBER 2015 Zurmala, Zurmala
PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE Vol 1, No 1 (2017): PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan resistensi. Resistensi merupakan kemampuan bakteri dalam menetralisir dan melemahkan daya kerja antibiotik. Kementrian kesehatan telah membuat suatu pedoman umum penggunaan antibiotik dan diundangkan dalam peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia nomor 2406/MENKES/PER/XII/2011. Pedoman penggunaan antibiotik yang bijak harus menjadi prioritas utama untuk semua pelayanan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini merupakan metode penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif yang diambil dari catatan medik pasien untuk dianalisis rasionalitas peresepan antibiotik berdasarkan tepat indikasi, tepat dosis, dan tepat lama pemberian. Penelitian ini menggunakan studi populasi yaitu keseluruhan populasi menjadi objek penelitian. Berdasarkan hasil penelitian rasionalitas peresepan antibiotik di praktik dr. H. Tris Cahyoso pada bulan Desember 2015, rasionalitas penggunaan antibiotik berdasarkan tepat indikasi yaitu sebesar 99,47%, rasionalitas penggunaan antibiotik berdasarkan tepat dosis yaitu sebesar 100%, rasionalitas penggunaan antibiotik berdasarkan tepat lama pemberian yaitu sebesar 100%.
FORMULASI SEDIAAN SALEP KOMBINASI EKSTRAK GETAH ASHITABA (Angelica keiskei koudzumi) DAN BAWANG MERAH BIMA (Allium sp.) SEBAGAI KANDIDAT OBAT ULKUS DIABETIKUM Hardyanti, Elka Laras; Pertiwi, Ajeng Dian; Auliya, Nurhikmatul
PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE Vol 2, No 2 (2018): Pharmaceutical and Traditional Medicine
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Getah ahitaba dan bawang merah bima mengandung banyak zat senyawa bioaktif yang berkhasiat obat sehingga digunakan sebagai obat tradisional. Salah satu khasiat getah ashitaba ialah sebagai antimikroba yang diduga berasal dari kandungan golongan alkaloid, saponin, flavonoid, triterfenoid, glikosida dan tanin sedangkan untuk bawang merah bima juga berkhasiat sebagai antimikroba yang diduga berasal dari kandungan allisin, Alilpropil disulfide seperti flavonoid, flavonol dan saponin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas formulasi sediaan salep kombinasi ektrak getah ashitaba dan bawang merah bima untuk ulkus diabetiukum. Metode ektraksi yang digunakan adalah metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Formulasi sediaan dibuaat dengan menggunakan basis vaselin album dan tambahan PEG dengan kosentrasi 5% dan 10%. Data yang diperoleh berupa uji organoleptik, uji pH, uji homogenitas, uji iritasi kulit sukarelawan dan uji in vivo. Dari hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa sediaan setengah padat, bau khas bawang merah bima dan bewarna kuning, pH sediaan adalah 6, uji homogenitas menunjukkan tidak ada butiran kasar yang terdapat dalam formulasi sediaan salep dan tidak adanya iritasi pada kulit sukarelawan. Hasil uji in vivo formulasi sediaan salep kombinasi ektrak getah ashitaba dan bawang bima efektif dalam penyembuhan luka sayatan yang telah terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus. Dimana formulasi yang efektif adalah formulasi sediaan salep konsentrasi 10% dengan prosentase penyembuhan luka sayatan mencapai 78%.
FORMULASI DEODORAN CAIR EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus epidermidis Meisani, Sagita
PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE Vol 2, No 2 (2018): Pharmaceutical and Traditional Medicine
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Staphylococcus epidermidis merupakan flora normal yang dominan terdapat pada kulit, terutama kulit ketiak yang menimbulkan bau badan. Sediaan kosmetika deodorant adalah suatu bahan atau campuran bahan yang dapat digunakan untuk menghilangkan atau mengurangi bau badan yang tidak sedap. Sediaan deodorant  cair ekstrak etanol daun jambu biji (Psidium guajava) dapat berfungsi sebagai antibakteri Staphylococcus epidermidis penyebab bau badan. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan cara membuat formulasi deodorant ekstrak daun jambu biji dengan konsentrasi yang berbeda, kemudian dilakukan uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH dan uji iritasi pada sediaan deodorant dan uji daya hambat bioassay guna mengetahui aktifitas antibakteri sediaan deodorant. Berdasarkan hasil uji organoleptik,  deodorant yang dihasilkan memiliki aroma yang khas mengikuti aroma parfum dan masih bersifat heterogen. Berdasarkan uji pH, pH deodorant berturut-turut 5, 6, 6, 6, 7. Berdasarkan hasil uji iritasi terhadap 5 orang laki-laki dan perempuan menghasilkan tidak adanya reaksi iritasi.  Berdasarkan hasil uji dapat disimpulkan bahwa sediaan deodorant cair ekstrak etanol daun jambu biji (Psidium guajava L.) dapat sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis bakteri penyebab bau badan dengan kategori berturut-turut sensitifitas sedang (50%), sensitifitas rendah (20%), resisten (10%, 5%, dan 1%). Dan memiliki diameter berturut-turut sebesar 9,66 mm, 6,33 mm, 5,16 mm, 4,33 mm dan 2,16 mm, antibiotik khloramphenicol (K+) sebesar 19,66 mm dan DMSO (K-) sebesar 0 mm. 
FORMULASI SEDIAAN SALEP EKSTRAK BAWANG BIMA SEBAGAI OBAT LUKA DIABETES Romdiana, Meli
PARMACEUTICAL AND TRADITIONAL MEDICINE Vol 2, No 2 (2018): Pharmaceutical and Traditional Medicine
Publisher : Politeknik Medica Farma Husada Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bawang merah mengandung banyak zat senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai obat sehingga digunakan sebagai obat tradisional. Salah satu khasiat bawang merah ialah sebagai antimikrobaa dan antiinflamasi yang diduga berasal dari kandungan allisin, flavonoid, Alilpropil disulfide, flavonol, Saponin (Indobic, 2005). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi sediaan salep ekstrak bawang bima sebagai obat luka diabetes. Metode ekstraksi yang yang digunakan adalah metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96% dan menggunakan vaselin album sebagai basis salep. Sediaan salep ekstrak  etanol bawang bima dibuat sebanyak 2 formulasi yaitu dengan konsentrasi 5% dan 10%. Kontrol negatif tanpa ekstrak dan kontrol positif menggunakan oksitetrasiklin. Data yang diperoleh berupa uji kualitas fisik salep dan uji in vivo. Dari hasil kualitas uji organoleptik menunjukkan bahwa kedua formulasi sediaan salep dengan konsentrasi 5% dan 10% menunjukkan bentuk sediaan setengah padat, memberikan bau khas bawang merah dan berwarna kuning muda untuk konsentrsi 5% dan berwarna kuning kecoklatan untuk konsentrasi 10%. Uji homogenitas menunjukkan tidak ada butiran kasar, nilai pH yaitu 4,5 dan tidak menunjukkan adanya reaksi iritasi kulit pada kedua formulasi. Sedangkan dari hasil uji in vivo menunjukkan formulasi dengan konsentrasi 10% lebih efektif dengan persentase penyembuhan 78%. Jika dibandingka dengan formulasi 5%, kontrol positif dan kontrol negatif  dengan rata-rata persentase penyembuhan 73%,77% dan 70%.

Page 2 of 3 | Total Record : 23