cover
Contact Name
Agus Hendra Al Rahmad, SKM, MPH
Contact Email
4605.ah@gmail.com
Phone
+6285260047644
Journal Mail Official
jurnal6121@gmail.com
Editorial Address
Jln. Soekarno-Hatta, Kampus Terpadu Poltekkes Kemenkes Aceh, Lampeunerut, Aceh Besar. Kode Pos: 23352 Provinsi Aceh, Indonesia.
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
AcTion: Aceh Nutrition Journal
ISSN : 25273310     EISSN : 25485741     DOI : http://dx.doi.org/10.30867
Core Subject : Health, Science,
AcTion: Aceh Nutrition Journal merupakan jurnal gizi dan kesehatan dengan E-ISSN 2548-5741 dan ISSN 2527-3310. Jurnal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam penyampaian hasil penelitian sebagai media yang dapat digunakan untuk meregistrasi, mendiseminasi, dan mengarsipkan karya peneliti tenaga gizi dan kesehatan di Indonesia, Aceh pada khususnya.
Articles 507 Documents
Hubungan kadar vitamin D plasma dengan IMT dan umur pada kanker payudara Zakirullah Syafei; Sri W Suryani; Denny S Rifsal
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.563 KB) | DOI: 10.30867/action.v3i2.110

Abstract

Breast cancer is the most common type of cancer in women worldwide. Statistics show breast cancer is the second leading cause of death after lung cancer. Vitamin D is believed to have anti-carcinogenic properties independently effective in protecting against breast cancer, biologically active vitamin D, can inhibit cell proliferation, induction of differentiation and apoptosis and inhibit angiogenesis in normal and malignant breast cells. Basal metabolic index (BMI) affects the bioavailability of vitamin D. Also the incidence of cancer increases with age, especially the age group> 40 years. The objective to analyze the relationship of plasma vitamin D levels with BMI and age in breast cancer. Method shaped analytic observational study with a cross-sectional design. A total of 53 outpatient breast cancer patients at Medan General Hospital were selected as study subjects using consecutive sampling technique. Serum 25 (OH) D testing used an enzyme-linked immunoabsorbent assay method. BMI data is obtained by measuring the body weight and height and age of the respondents' interviews. Data analysis used Spearman correlation statistical test. Results,  the mean vitamin D levels of the study subjects were 28,2 ± 8,9 ng / mL, BMI 25,5 ± 4,6 kg / m2, and subject age 51.1 ± 10,2 years. These results indicate normal vitamin D levels, a slightly high BMI and> 40 years of age. Statistical test results showed that there was a relatively weak relationship between plasma vitamin D levels and BMI (r = 0,2; p = 0,42) and age (r = 0,15; p = 0,86) breast cancer patients. Conclusion, there was no significant relationship between plasma vitamin D levels and the metabolic basal index and age in breast cancer patients.Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling umum terdapat pada wanita di seluruh dunia. Vitamin D memiliki sifat anti karsinogenik secara independen efektif dalam melindungi dari kanker payudara, secara biologis vitamin D aktif, dapat menghambat proliferasi sel, induksi deferensiasi dan apoptosis serta menghalangi angiogenesis pada sel payudara normal dan maligna. Indeks Masa Tubuh (IMT) berpengaruh terhadap bioavaibilitas vitamin D. Tujuan untuk menganalisis  hubungan kadar vitamin D plasma dengan IMT dan umur pada kanker payudara. Penelitian menggunakan studi observasional analitik dengan desain cross sectional. Sebanyak 53 pasien kanker payudara rawat jalan di RSUP-HAM Medan dipilih sebagai subjek penelitian menggunakan tehnik consecutive sampling. Pengujian serum 25(OH)D menggunakan metode enzyme-linked immunoabsorbent assay. Data IMT diperoleh dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan serta umur dari hasil wawancara responden. Analisis data menggunakan uji statistik korelasi spearman.  Hasil, rerata kadar vitamin D subjek penelitian adalah 28,2±8,9 ng/mL, IMT 25,5±4,6 kg/m2, dan usia subjek 51,1±10,2 tahun. Hasil ini menunjukkan kadar vitamin D normal, IMT sedikit tinggi dan usia > 40 tahun. Hasil uji statistik, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang tergolong lemah antara kadar vitamin D plasma dengan IMT (r=0,2; p=0,42) dan usia (r=0,15; p=0,86) pasien kanker payudara. Kesimpulan, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar vitamin D plasma dengan indek masa tubuh dan usia  pada pasien kanker payudara.
Asupan natrium dan kalium sebagai faktor penyebab hipertensi pada usia lanjut Yulia Fitri; Rusmikawati Rusmikawati; Siti Zulfah; Nurbaiti Nurbaiti
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.288 KB) | DOI: 10.30867/action.v3i2.117

Abstract

Hypertension is one of the most common diseases suffered by the elderly. At the age of ≥ 40 years, both men and women will be more at risk of hypertension. Many factors play a role in hypertension, one of which is an unbalanced diet. Imbalance intake of micronutrients such as sodium and potassium also plays an important role in the incidence of hypertension. The objective, to determine the relationship of sodium and potassium intake with the occurrence of hypertension in the elderly in the working area of Darul Imarah Community Health Center, Aceh Besar District. Method,  this cross-sectional descriptive analytic study used a sample of 60 elderly people (45-55 years) and conducted in the Darul Imarah Health Center in 2017. Sodium and Potassium intake was obtained through a semi-quantitative food frequency Questionnaires. Blood pressure data obtained with a sphygmomanometer. Bivariate data analysis using the Chi-Square test. The results, showed a significant relationship between sodium intake and the incidence of hypertension (p = 0.000), While potassium intake did not show a relationship (p = 1.000). Conclusion, sodium intake can have an impact on the occurrence of hypertension, while potassium does not affect hypertension in the elderly. Suggestion, people with hypertension can reduce consumption foods containing sodium such as preserved food, canned food, use of salt, soy sauce, cheese, and MSG to avoid increasing blood pressure.Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diderita oleh lansia. Pada usia ≥ 40 tahun baik pada laki-laki ataupun wanita akan lebih beresiko untuk menderita hipertensi. Banyak faktor yang berperan dalam penyakit hipertensi salah satunya adalah pola makan yang tidak seimbang. Ketidakseimbangan dalam pengaturan zat gizi mikro seperti natrium dan kalium merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam kejadian hipertensi. Tujuan untuk mengetahui hubungan asupan natrium dan kalium dengan terjadinya hipertensi pada usia lanjut di wilayah kerja puskesmas Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Penelitian deskriptif analitik berdesain srossectional ini menggunakan sampel sebanyak 60 orang usia lanjut (45-55 tahun), dilakukan di Darul Imarah tahun 2017. Asupan Natrium dan Kalium diperoleh melalui food frequency Questionaire semi Quantitatif. Data tekanan darah didapatkan dengan spygnomanomater. Analisis data bivariat menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukan hubungan signifikan antara asupan natrium dengan kejadian hipertensi (p= 0,000), sedangkan asupan kalium tidak menunjukan hubungannya (p= 1,000). Kesimpulan, asupan natrium dapat berdampak terhadap terjadinya hipertensi, sedangkan kalium tidak berdampak terhadap hipertensi pada usia lanjut. Saran, penderita hipertensi dapat mengurangi konsumsi makanan yang mengandung natrium seperti makanan yang diawetkan, makanan kaleng, penggunaan garam, kecap, keju dan MSG untuk menghindari peningkatan tekanan darah.
Berkontribusikah konsumsi minuman manis terhadap berat badan berlebih pada remaja? Qoirinasari Qoirinasari; Betty Yosephin Simanjuntak; Kusdalinah Kusdalinah
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.316 KB) | DOI: 10.30867/action.v3i2.86

Abstract

Overweight is a state that exceeds the relative body weight of a person as a result of the accumulation of nutrients, especially carbohydrates, fats, and proteins. This condition is caused by an imbalance between energy consumption compared to the needs or the use of energy. This study aims to determine the relationship of consumption patterns of sweet drinks to excess body weight teenagers in SMP IT IQRA  Bengkulu 2018.  This study is a cross-sectional research design. A sample is all teenagers who have overweight (overweight and obesity) as much as 57 teenagers. consumption of sweet drinks was collected by interviews using Food Frequency Questionaire (FFQ). The result showed that there was no contribution of consumption of sweet drinks to overweight teenagers (p-value 0.590). The habit of consuming sweet drinks does not contribute to increased body weight in teenagers who have excess body weight. To prevent overweight is recommended to consume balanced nutrition and avoid foods and beverages high in glucose.Berat badan berlebih adalah suatu keadaan yang melebihi dari berat badan relatif seseorang sebagai akibat penumpukan zat gizi terutama karbohidrat, lemak dan protein. Kondisi ini disebabkan oleh ketidakseimbangan antara konsumsi energi dibandingkan kebutuhan atau pemakaian energi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola konsumsi minuman manis terhadap berat badan berlebih pada remaja di SMP IT IQRA’ kota Bengkulu tahun 2018. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel adalah seluruh remaja yang mempunyai berat badan berlebih (overweight dan obesitas) yang diambil dengan metode Total sampling yaitu sebanyak 57 remaja. konsumsi minuman manis dikumpulkan dengan wawancara menggunakan Food Frequency Questionaire (FFQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada kontribusi konsumsi minuman manis terhadap berat badan berlebih pada remaja (p value 0.593). Kebiasaan mengonsumsi minuman manis tidak berkontribusi untuk meningkatkan berat badan pada remaja yang memiliki berat badan berlebih. Untuk mencegah berat badan berlebih disarankan  mengonsumsi gizi seimbang dan menghindari makanan dan minuman yang tinggi glukosa.
Pengaruh individu, dukungan keluarga dan sosial budaya terhadap konsumsi makanan ibu muda menyusui (Studi kasus di Desa Sofyan Kecamatan Simeulue Timur Kabupaten Simeulue) T. M Rafsanjani
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.116 KB) | DOI: 10.30867/action.v3i2.112

Abstract

Food that given to the breastfeeding mother should contain sufficient calories (energy) to replace the energy released as well as the energy needed to produce breast milk. Various factors that influence the mother’s nutrient in the breastfeeding period are lack of knowledge, lack of confident/attitude, also lack family support and environment. This research used an analytical survey with a cross-sectional study approach. The respondents of this research were 34 mothers that also the total of population. Data analysis was performed in univariate and bivariate analysis with the purpose of testing the hypothesis. Then, the method used was the Chi-Square Test (x2) and used the SPSS 17th version. The result would be considered significant if p-value < 0,05. The result of this study shows that there was the influence of individual understanding toward consumption of young breastfeeding mother with p-value 0,003. There was an influence of family support toward consumption of young breastfeeding mother with p-value 0,028. Then, there was an influence of social culture toward consumption of young breastfeeding mother with p-value 0,027. It can be concluded that there was an influence between individual understanding, family support and social culture toward food consumption of young breastfeeding mothers. Midwives and the community are expected to improve the understanding of individual breastfeeding young mothers and the community about nutritional needs during breastfeeding in various ways, including counseling and mentoring.Makanan  yang  diberikan  kepada  ibu  menyusui  harus  mengandung cukup kalori (energi) guna mengganti energi yang dikeluarkan maupun yang dibutuhkan  untuk  menghasilkan  ASI. Berbagai faktor  yang  mempengaruhi  gizi  ibu  pada  masa menyusui,  adalah  kurangnya  pengetahuan  ibu,  kurangnya  rasa percaya diri ibu/sikap, serta kurangnya dukungan keluarga dan lingkungan. Penelitian  ini  bersifat  survey  analitik, pendekatan  cross sectional dengan responden penelitian 34 orang yang merupakan total dari populasi. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat dan bivariat dengan tujuan menguji  hipotesis,  dengan menggunakan aplikasi komputer  SPSS  versi 17, dan digunakan uji  Chi-Square  Tets  (x2), dengan kategori bermakna jika p value < 0,05. Hasil  penelitian menunjukkan  bahwa  ada  pengaruh  pemahaman individu terhadap  konsumsi  makanan  ibu muda menyusui dengan p= 0,003, ada pengaruh dukungan keluarga terhadap konsumsi makanan ibu  muda menyusui  dengan nilai p= 0,028, dan ada  pengaruh  sosial budaya terhadap konsumsi  makanan  ibu muda menyusui  dengan nilai p= 0,027.  Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara pemahaman individu, dukungan keluarga dan sosial budaya terhadap  konsumsi makanan ibu muda menyusui. Diharapkan kepada  Puskesmas, bidan dan masyarakat agar dapat  meningkatkan pemahaman individu ibu muda menyusui dan masyarakat tentang kebutuhan nutrisi pada masa menyusui melalui.
Efektifitas mengkomsumsi jus apel dibandingkan dengan mengkonsumsi jus jambu biji terhadap penurunan tingkat halitosis Andriani, Andriani; Wilis, Ratna
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.45 KB) | DOI: 10.30867/action.v3i2.147

Abstract

Halitosis is caused by food scraps that are decayed by bacteria because oral hygiene is poor, and this condition can be aggravated by irregular teeth. Eliminate unpleasant odors by brushing your teeth, using mouthwash and traditional methods by consuming fibrous fruits such as apples and guava. The study aimed to determine the effectiveness of consuming guava juice compared to apple juice against changes in halitosis. Samples for a class I students of Banda Aceh 7th Middle School was 120 people divided into 2 groups. The research was in August 2017. This research method is quasi-experimental. Data analysis was tested by T-test at 95% significance level. The results of the study before consuming apple juice were the first measurement of 3,00 and the second was 3,02, after being given halitosis apple juice the first mean decreased 1,70 and the second measurement was 1.58. Before consuming red guava juice it had the first large measurement average of 2,98 and after being given red guava juice, it decreased to 2,22 (first measurement) and 2,13 (second measurement). A very significant decrease in the halitosis score that consumes apple juice has better effectiveness in reducing halitosis scores compared to consuming red guava juice p= 0,000. It is recommended for schools to be able to consume apples and red guava fruit as natural ingredients to reduce bad breath or prevent bad breath (halitosis).Halitosis disebabkan dari sisa makanan yang membusuk oleh bakteri karena kebersihan mulut buruk, dan keadaan ini dapat diperburuk oleh faktor susunan gigi yang tidak teratur. Menghilangkan bau tidak sedap melalui cara menggosok gigi, memakai obat kumur dan cara tradisional dengan mengkonsumsi buah-buahan yang berserat seperti apel dan jambu biji. Penelitian bertujuan mengetahui efektifitas mengkonsumsi jus jambu biji dibandingkan jus apel terhadap perubahan halitosis. Sampel pada siswa SMPN 7 Banda Aceh kelas I sejumlah 120 orang dibagi 2 kelompok. Penelitian pada Agustus 2017. Metode penelitian ini adalah eksperimen semu. Analisa data di uji dengan Uji T pada derajat kemaknaan 95%. Hasil penelitian sebelum mengkonsumsi jus apel rerata pengukuran pertama 3,00 dan kedua 3,02, setelah diberikan jus apel halitosis menurun rerata pertama 1,70 dan pengukuran kedua 1,58. Sebelum mengkonsumsi jus jambu biji merah mempunyai rerata pengukuran pertama besar 2,98 dan setelah diberikan jus jambu biji merah, menurun menjadi 2,22 (pengukuran pertama) dan 2,13 (pengukuran kedua). Penurunan skor halitosis sangat signifikan yang mengkonsumsi jus apel mempunyai efektifitas yang lebih baik dalam menurunkan skor halitosis dibandingkan dengan mengkonsumsi jus jambu biji merah diperoleh nilai p= 0,000. Disarankan pada sekolah untuk dapat mengkonsumsi buah apel dan buah jambu biji merah sebagai bahan alami menurunkan bau mulut atau pencegahan bau mulut (halitosis).
Ekstrak ethanol pegagan (Centella asiatica) meningkatkan osifikasi tulang dan panjang badan larva zebrafish (Danio rerio) model stunting usia 9 hari pasca fertilisasi Evi Zahara; Een Nuraenah; Tri Yuliyani; Darwitri Darwitri; Husnul Khotimah; Umi Kalsum; I Wayan Arsana Wiyasa; Nurlaili Ramli; Agus Hendra Al Rahmad; Mohammad Muljohadi Ali
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Department of Nutrition at the Health Polytechnic of Aceh, Ministry of Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (828.578 KB) | DOI: 10.30867/action.v3i2.87

Abstract

Centella Asiatica (Linn) Urban is known as Gotu Kola. Centella Asiatica (CA) is rich in micro and macronutrients. The aim of this study was to investigate the effect of ethanol extract of CA on bone ossification and body length in zebrafish larva stunting model at 9 dpf. This study used zebrafish at 2 hpf (hour post-fertilization) - 9 dpf (day post-fertilization). The population of 300 larvae divided into 5 groups consisting of control group, rotenone group (exposed by 12.5 ppb of rotenone) and 3 rotenone+CA groups that exposed to CA extract for 4, 5 and 6 days,  respectively. The CA extract was obtained by maceration method with ethanol solvent. The results showed that rotenone 12,5 ppb able to inhibit the growth of larvae >2SD of body length and decrease bone ossification at rotenone group, were significantly different from the control group. Administration of CA extract was increased expression of cartilage at rotenone+CA5 as well rotenone+CA6 group and increase expression of bone at the rotenone+CA5 group and also increase body length rotenone+CA groups significantly different from rotenone group. It can be concluded that the period of CA extract exposure can correct the length of the body reaching 99.6% at 9 dpf and increased bone ossification in a time-dependent manner.Centella asiatica (Linn) Urban dikenal dengan nama pegagan. Centella Asiatica (CA) kaya akan mikro maupun makro nutrisi yang diperlukan bagi tubuh terutama masa pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek ekstrak etanol CA terhadap osifikasi tulang dan panjang badan larva zebrafish model stunting yang diinduksi rotenone pada 9 hari post fertilisasi. Penelitian ini menggunakan zebrafish mulai 2 hpf (hour post fertilisation) - 9 dpf (day post fertilisation), populasi larva sejumlah 300 yang dibagi 5 kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol, kelompok rotenon (dipapar rotenone 12,5 ppb) dan 3 kelompok rotenone+CA yang diberikan pegagan selama 4, 5 dan 6 hari secara berurutan. Ekstrak CA diperoleh melalui  metode maserasi dengan pelarut etanol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rotenone dapat menghambat pertumbuhan panjang larva >2SD dan menurunkan osifikasi tulang pada kelompok rotenon secara signifikan dibanding kontrol. Pemberian ekstrak CA dapat meningkatkan ekspresi tulang rawan kelompok rotenone+CA5 maupun rotenone+CA6 dan meningkatkan ekspresi tulang keras kelompok rotenone+CA5 serta meningkatkan panjang badan kelompok rotenone_CA secara signifikan dibanding kelompok rotenone. Dapat disimpulkan bahwa lamanya pemberian ekstrak CA dapat meningkatkan osifikasi tulang dan meningkatkan panjang badan mencapai 99.6% pada 9 dpf. 
Faktor resiko kadar kolesterol darah pada pasien rawat jalan penderita jantung koroner di RSUD Meuraxa Nunung Sri Mulyani; Agus Hendra Al Rahmad; Raudatul Jannah
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.148 KB) | DOI: 10.30867/action.v3i2.113

Abstract

Coronary heart disease generally occurs due to an increase in irregular cholesterol levels. Blood cholesterol is influenced by several factors, including genetic, gender, diet, obesity, and excessive coffee drinking. This study aims to determine the factors that influence blood cholesterol levels in outpatients with coronary heart disease at Meuraxa Regional Hospital. This study is a descriptive-analytical Case Control design, conducted in patients with coronary heart disease as many as 45 cases and 45 controls in May 2017 Data analysis using Chi-Square test. Diet data was collected using food recall, genetic data, sex collected by interview using questionnaires, nutritional status data collected through body mass index (BMI) measurements and cholesterol data collected through blood tests. Bivariate analysis showed a significant relationship between coffee consumption and total cholesterol levels with OR 2.768 (p = 0.033). There was no significant relationship between coffee consumption with HDL, LDL, and triglycerides (0.292; 0.088; 0.125). There was no significant correlation between genetic, gender, diet and nutritional status with levels of total cholesterol, LDL, HDL, and Triglycerides.T here is a significant relationship between coffee consumption and total cholesterol levels in patients with coronary heart disease, so it is necessary to limit coffee consumption for people with coronary heart disease.Penyakit jantung koroner umumnya terjadi karena peningkatan kadar kolesterol yang tidak teratur. Kolesterol darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya genetik, jenis kelamin, pola makan, obesitas, serta minum kopi yang berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kadar kolesterol darah pada pasien rawat jalan penderita jantung koroner di RSUD Meuraxa. Penelitian deskriptif analitik berdesain Case Control, yang dilakukan pada  pasien penderita jantung koroner sebanyak 45 kasus dan 45 kontrol pada bulan Mei 2017. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Data pola makan dikumpulkan dengan menggunakan food recall, data genetik, jenis kelamin dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuisioner, data status gizi dikumpulkan melalui pengukuran indeks massa tubuh (IMT) dan data kolesterol dikumpulkan melalui pemeriksaan darah. Analisis bivariat  menunjukkan ada hubunganyang signifika konsumsi kopi dengan kadar kolesterol total dengan OR 2,768 (p= 0,033). Tidak ada hubungan yang signifikan konsumsi kopi dengan HDL, LDL dan trigliserida (0,292; 0,088; 0,125). Tidak ada hubungan yang signifikan genetik, jenis kelamin, pola makan dan status gizi dengan kadar kolesterol total, LDL, HDL dan Trgliserida. Ada hubungan yang signifikan konsumsi kopi dengan kadar kolesterol total pada penderita jantung koroner sehingga perlu kiranya pembatasan konsumsi kopi bagi penderita jantung koroner.
Hubungan pengetahuan, sikap dan tindakan hygiene sanitasi pedagang makanan jajanan di pinggir jalan Rahmayani Rahmayani
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.655 KB) | DOI: 10.30867/action.v3i2.84

Abstract

Traders do not wash hands at the time and before touched food and there are peddle food in the open side of the road and touch the food without using tools. This indicates that the risk of food sold can be contaminated with germs that cause foodborne illness. The aim of research to measure the correlation between knowledge, attitude and practice with the hygiene and sanitation of street food. This research is quantitative research with a cross-sectional design. The population of this research is all traders in the roadside in Elementary School 20 and 24 Banda Aceh which amount to 54 people and also become a sample of research. From the result of research known there is no relation between knowledge with hygiene sanitation of street food trader in elementary school with p-value 0,146. there is a correlation between attitude with hygiene sanitation of street food merchants in elementary school with 0,041. there is a correlation between the action with hygiene sanitation of street food vendors in elementary school with p-value 0,042. It is expected that the socialization of the Health Office on the importance of food sanitation hygiene to the traders.Pedagang tidak mencuci tangan saat dan sebelum menjamah makanan ada yang menjajakan makanan dalam keadaan terbuka dipinggir jalan serta menjamah makanan tanpa menggunakan alat. Hal ini mengindikasikan bahwa adanya risiko makanan yang dijajakan dapat tercemar kuman penyakit yang mengakibatkan penyakit bawaan makanan. Tujuan penelitian untuk mengukur hubungan pengetahuan, sikap dan tindakan dengan hygiene dan sanitasi makanan jajanan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pedagang yang ada di pinggir jalan di Sekolah Dasar 20 dan 24 Banda Aceh yang berjumlah 54 orang dan sekaligus menjadi sampel penelitian. Hasil penelitian diketahui tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan hygiene sanitasi pedagang makanan jajanan di pinggir jalan di Sekolah Dasar dengan p value 0,146. ada hubungan antara sikap dengan hygiene sanitasi pedagang makanan jajanan di pinggir jalan di Sekolah Dasar dengan 0,041. ada hubungan antara tindakan dengan hygiene sanitasi pedagang makanan jajanan di pinggir jalan di Sekolah Dasar dengan p value 0,042. Diharapkan adanya sosialisasi dari Dinas Kesehatan tentang pentingnya higiene sanitasi makanan kepada para pedagang.
Pemberian MP-ASI dini dengan status gizi (PB/U) usia 4-7 bulan di Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu Rama Beka Sariy; Betty Yosephin Simanjuntak; Desri Suryani
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.949 KB) | DOI: 10.30867/action.v3i2.95

Abstract

Infants who fail to grow much occur in the third month or fourth month of early life. Early breastfeeding of the ASI causes mothers not to give breast milk and cause infectious diseases that result in stunting in infants. The purpose of this research is to find out the relationship of early breastfeeding with nutritional status (PB/U) age 4-7 months in Ratu Samban Sub-district of Bengkulu City.  This research uses analytic observational with a cross-sectional design. The results showed the nutritional status of PB / U short category 18.3% and MP ASI early 66.7% while the statistical test showed probability (p) of 0.273 (p> 0.05).  There is no correlation between early breastfeeding of MP and nutritional status of PB / U age 4-7 months in Ratu Samban Sub-district of Bengkulu City. Need to do re-research a using Cohort method and with other variables.Bayi yang gagal tumbuh banyak terjadi pada bulan ketiga atau bulan ke empat awal kehidupan. Pemberian MP ASI dini mengakibatkan ibu tidak berusaha memberikan ASI dan menyebabkan terjadinya penyakit infeksi yang mengakibatkan stunting pada balita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian MP-ASI dini dengan status gizi (PB/U) pada bayi usia 4-7 bulan di Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu. Jenis penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan desain cross sectional. Hasil penelitian menunjukan status gizi PB/U kategori pendek 18,3% dan MP ASI dini 66,7% sedangkan uji statistik menunjukkan nilai probabilitas (p) sebesar 0,273 (p > 0,05).  Tidak ada hubungan antara pemberian MP ASI dini dengan status gizi PB/U usia 4-7 bulan di Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu . Hal ini berkaitan dengan pemberian makanan pendamping ASI sementara sebagai makanan prelaktal sebelum ASI ibu keluar dan diberikan dalam jumlah sedikit. Lebih baik dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan metode Kohort dan dengan variabel lain.
Daya terima terhadap jajanan lokal Sulawesi Selatan subtitusi tepung ikan gabus (Channa striata) Nadimin Nadimin; Nurjaya Nurjaya; Retno Sri Lestari
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.332 KB) | DOI: 10.30867/action.v3i2.115

Abstract

Generally, local snacks only have a high amount of carbohydrates and imbalanced nutrient compounds. In addition, South Sulawesi has abundant snakehead fish (Channastriata) which was nutritions. The study aims to determine the acceptability of local snacks in South Sulawesi which substitute snakehead fish flour (SFF). This research is an experimental study using the static group comparison design and aimed to identify acceptability of the local nack with 0%, 5%, 10%, and 15%of SFF concentration. The result showed that preference in the color of local snacks with 5% of SFF was better than 0% of SFF, particularly in “BangkeKelapa”. There were no significant differences in acceptability of the texture throughout the concentration of SFF; Bolu (p=0.243), Bangke Sagu (p=0,204), and PutriSalju (p=0,198). Conversely, there was a significant correlation on the concentration of SFF in the aroma and taste of local Bolu, Bangke Sagu, Putri Salju, and Bangke Kelapa. In conclusion, the substitution of SFF more than 5% affected the acceptability of the product. Furthermore, substitution from 5% of SFF could maintain the acceptability of local snacks from South Sulawesi. SFF substitution into local snacks should not exceed 5% in order to maintain acceptance.Jajanan lokal memiliki kandungan zat gizi yang tidak seimbang, umumnya hanya mengandung sumber energi. Disisi lain, Sulawesi Selatan banyak tersedia ikan gabus yang kaya zat gizi. Penelitian bertujuan mengetahui daya terima jajanan local Sulawesi Selatan yang subtitusi tepung ikan gabus (TIG). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunaan rancangan Static group comparison design, yaitu daya terima jajanan lokal dari beberapa konsentrasi tepung ikan gabus 0%, 5%, 10% dan 15%.Rerata skor kesukaan pada aspek warna jajanan lokal TIG 5% lebih baik dari  kosentrasi 0%, terutama pada Bangke kelapa. Tidak ada perbedaan skor daya terima pada aspek tekstur antar kosentrasi TIG pada Bolu (p=0,243), Bangke Sagu (p=0,204), Putri salju (p=0,198). Terdapat pengaruh kosentrasi TIG pada kesukaan aroma dan rasa jajanan lokal bolu, bangke sagu, putri salju dan bangke kelapa.Penambahan TIG di atas 5% dapat mempengaruhi daya terima. Penambahan TIG pada konsentrasi 5% dapat mempertahankan daya terima terhadap produk jajanan lokal. Subtitusi TIG ke dalam jajanan local sebaiknya tidak melebihi 5% guna mempertahankan daya terima.

Page 7 of 51 | Total Record : 507