cover
Contact Name
Agus Hendra Al Rahmad, SKM, MPH
Contact Email
4605.ah@gmail.com
Phone
+6285260047644
Journal Mail Official
jurnal6121@gmail.com
Editorial Address
Jln. Soekarno-Hatta, Kampus Terpadu Poltekkes Kemenkes Aceh, Lampeunerut, Aceh Besar. Kode Pos: 23352 Provinsi Aceh, Indonesia.
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
AcTion: Aceh Nutrition Journal
ISSN : 25273310     EISSN : 25485741     DOI : http://dx.doi.org/10.30867
Core Subject : Health, Science,
AcTion: Aceh Nutrition Journal merupakan jurnal gizi dan kesehatan dengan E-ISSN 2548-5741 dan ISSN 2527-3310. Jurnal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam penyampaian hasil penelitian sebagai media yang dapat digunakan untuk meregistrasi, mendiseminasi, dan mengarsipkan karya peneliti tenaga gizi dan kesehatan di Indonesia, Aceh pada khususnya.
Articles 507 Documents
Intervensi media video berpengaruh pada pengetahuan dan sikap remaja putri dalam mencegah kurang energi kronik Waryana, Waryana; Sitasari, Almira; Febritasanti, Danissa Wulan
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 4, No 1 (2019): AcTion Vol 4 No 1 Tahun 2019
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.033 KB) | DOI: 10.30867/action.v4i1.154

Abstract

Community-based interventions to overcome chronic energy malnutrition among women of childbearing age and pregnant women can be done with communication, education, and information. Video can be useful for education purpose. The goal of this study was to determine whether video may have different effect to knowledge and attitude on preventing energy malnutrition among teenage girls compared to food model intervention. The Research a quasi experiment with pre-post test with control group design was conducted in Tridadi Village, Sleman in May 2018. Teenage girls in intervention group were asked to view video specifically developed for the study. Knowledge and attitude on energy malnutrition was assessed right after the intervention. Data were analyzed using paired and independent t-test. The results a total of 54 teenage girls completed the study. The pretest average score on knowledge was 7,09 in the control group, and 7,70 in the intervention group. The pretest average score of attitudes was 24,11 in the control group and 25,00 in the intervention group. While the post test average score on knowledge was 7,37 in the control group and 8,44 in the intervention group. The average post test score of attitude was 26,70 in the control group and 28,38 in the treatment group. The results showed that video intervention has different effect on knowledge (p= 0,00) and attitude (p= 0,01) on chronic energy malnutrition prevention compared to education with food model. Conclusion, there are difference knowledge and attitude between video intervention group and food model education group on chronic energy malnutrition prevention among teenage girls. Intervensi melalui pendekatan komunitas untuk penanggulangan kekurangan energi kronis (KEK) pada wanita usia subur dan ibu hamil dapat dilakukan melalui komunikasi, informasi, dan edukasi. Intervensi video dapat menjadi alternatif pemecahan masalah tersebut khususnya untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap pencegahan KEK pada remaja putri. Penelitian bertujuan untuk mengetahui  perbedaan  pengetahuan dan sikap remaja putri  dalam pencegahan kurang energi kronik (KEK)  antara yang diintervensi penyuluhan dengan media  video dan dengan   food model. Penelitian ini adalah eksperimen semu dengan menggunakan rancangan pre-post test with control group design. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2018. Remaja putri pada kelompok intervensi diberikan perlakuan menonton video yang sebelumnya telah dikembangkan untuk studi ini. Pengetahuan dan sikap dinilai setelah proses menonton video Analisis data menggunakan independent sample t- test. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh pemberian media video terhadap perubahan pengetahuan (p= 0,00) namun tidak pada sikap pencegahan kurang energi kronis (p= 0,01). Kesimpulan, terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap remaja putri antara grup media  video dan grup media food model dalam edukasi tentang pencegahan kurang energi kronik pada remaja putri.
Efektifitas deteksi stunting menggunakan KMS dinding indeks TB/U pada anak usia 4 – 5 tahun di Sekolah PAUD Abdul Hadi; Alfridsyah Alfridsyah; Ichsan Affan
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 4, No 1 (2019): AcTion Vol 4 No 1 Tahun 2019
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.199 KB) | DOI: 10.30867/action.v4i1.160

Abstract

Stunted was condition failured growth in children under five did chronic malnutrition. Child of preschool did not gone to posyandu monitor growth. This study aimed  used wall growth chart to detected stunted in preschool. This tool has 92% of sensitivity dan 91% of specifitive.  This research to determine the prevalence  stunted for preschoolers Children using  wall growth chart in  Aceh Besar district. This research is descriptive with crossectional design, has been carried out for 2 months (April-June 2018). The sample are 355 children across 40 prescholl and anthropometry data were collected used wall growth chart. The results based on screening with wall growth chart it turned out that 38% of children were detected stunted and 62% children not stunted. Conclusion, the wall growth chart was eased to detected stunted in preschooler. It was expected that the role of the school can monitor growth every month used wall growth chart. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek usianya. Anak yang sudah memasuki PAUD jarang melakukan pemantauan pertumbuhan di posyandu. Pada penelitian ini menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) dinding sebagai media untuk mendeteksi stunting pada anak PAUD. Alat ini memiliki sensititas 92% dan spesifitas 91%.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi stunting anak paud menggunakan KMS Dinding di Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain crossectional, telah dilakukan selama 2 bulan (April-Juni 2018). Sampel sebanyak 355 anak yang tersebar di 40 sekolah PAUD dan pengumpulan data antropometri dilakukan menggunakan KMS Dinding. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan skrining dengan KMS dinding ternyata sebesar 38% anak PAUD mengalami stunting dan 62% normal. Kesimpulan, KMS Dinding lebih mudah mendeteksi stunting pada anak PAUD. Saran, diharapkan kepada pengelola PAUD untuk melakukan pengukuran dengan menggunakan KMS dinding.
Program Gastizi 1000 dalam meningkatkan kapasitas kader Posyandu Rachma Purwanti
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 4, No 1 (2019): AcTion Vol 4 No 1 Tahun 2019
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.707 KB) | DOI: 10.30867/action.v4i1.144

Abstract

Posyandu cadres are the main actor of UKBM. "Prevention of Stunting with Nutritional Improvement on the 1000 days of life (GASTIZI 1000)” program has purpose to increase the posyandu cadre capasity at Ngarap-arap Village. This research aims to analyze the effectivity of GASTIZI 1000 program  to improve the capacity of the posyandu cadres. This research uses a quasi experimental approach with one group pre test-post test design.  This research was conducted during July – August 2018. Topics presenting in the GASTIZI 1000 program are about Stunting and the nutritional improvement at the 1000 days of life. Subjects are chosen by the total sampling method (All of posyandu cadre at Ngarap-arap village that are willingness to join the GASTIZI 1000 program), 22 people from 6 Hamlet in Ngarap-arap village. Characteristic and cadre knowledge were collected by pre test-post test questionnaire. Skill of cadre to monitor the nutritional status of children was collected by observation and interview. Data were compiled by SPSS software. Then analyzed by univariate and bivariate test with related samples wilcoxon signed rank test. The results showed the averaged  score of cadres knowledge before the GASTIZI 1000 program is 51,8 and after program is 61,5. Bivariate test shows an increased in cadres knowledge after program (p = 0,001). Conclusions, there was an increased in knowledge and skills of cadres about stunting and nutrition during 1000 days of life after following the program. Kader Posyandu merupakan penggerak utama Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). Program “Cegah Stunting dengan Perbaikan Gizi pada 1000 HPK (GASTIZI 1000)” bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dari kader Posyandu di Desa Ngarap-arap. Penelitian bertujuan untuk menganalisis efektifitas Program GASTIZI 1000 dalam meningkatkan kapasitas kader posyandu. Penelitian berdesain quasi experimental, dengan rancangan one group pre test-post test design.  Penelitian dilakukan selama bulan Juli – Agustus 2018. Topik yang disampaikan dalam program GASTIZI 1000 yaitu mengenai Stunting dan pentingnya gizi pada periode 1000 HPK. Subjek dipilih dengan metode total sampling yaitu seluruh kader posyandu di Desa Ngarap-arap yang bersedia mengikuti program GASTIZI 1000 HPK sebanyak 22 orang. Pengumpulan data karakteristik dan pengetahuan kader dilakukan dengan instrumen kuesioner pre test-post test. Data keterampilan kader dalam pemantauan status gizi stunting pada balita dikumpulkan dengan observasi dan wawancara terhadap subjek. Data diolah dengan software SPSS. Selanjutnya data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat dengan related samples wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian menunjukkan terdapatnya peningkatan pengetahuan kader setelah diberikan program GASTIZI 1000 (p=0,001). Kesimpulan, terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader mengenai stunting dan gizi 1000 HPK setelah mengikuti program GASTIZI.
Serbuk effervescent kombinasi ekstrak buah pare (Momordica charantia L.) dan buncis (Phaseolus vulgaris L.) sebagai nutraseutikal Rima Hayati; Amelia Sari; Nur Alfina
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 4, No 1 (2019): AcTion Vol 4 No 1 Tahun 2019
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.424 KB) | DOI: 10.30867/action.v4i1.155

Abstract

Bitter melon and beans contain flavonoids which have the potential as antidiabetic agents. The combination of ethanolic extract of bitter melon (Momordica charantia L) and bean (Phaseolus vulgaris L) given orally has been investigated and proven to reduce blood glucose levels in mice. This study aims to formulate a combination of ethanol extract of bitter melon and beans with variations in sweetener concentration. This research is an experimental study. Effervescent powder made in two formulas with variations in sucralose and aspartame. Formula 1 (F1) uses a concentration of 0,20% sucralose and 0,5% aspartame and formula (F2) using a concentration of 0.24% sucralose and 0,75% aspartame. The organoleptic test indicated the powder produced is brownish white, has the smell of sucralose and aspartame and has a sweet taste (F1, F2). Flow rates are 0,6 g / sec (F1) and 0,5 g / sec (F2) with the category "very difficult", the test angle of repose of 43  (F1) and 42 (F2) with the category "rather good", Compressibility test is 19.4% (F1) and 20% (F2) with the category "good enough" and soluble time F1 and F2 which is 1 minute and 2,6 minutes shows the powder is completely dispersed.  Buah pare dan buncis memiliki kandungan flavonoid yang berpotensi sebagai agen antidiabetik. Pemberian kombinasi ekstrak etanol buah pare (Momordica charantia L) dan buncis (Phaseolus vulgaris L) secara oral telah diteliti dan terbukti dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan  kombinasi ekstrak etanol buah pare dan buncis menjadi sediaan serbuk effervescen dengan variasi konsentrasi pemanis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Sediaan effervescent dibuat dua formula dengan variasi  konsentrasi bahan pemanis suklarosa dan aspartam. Formula 1 (F1) menggunakan konsentrasi suklarosa 0,20 % dan aspartam 0,5% dan formula 2 (F2)  menggunakan konsentrasi suklarosa 0,24% dan aspartam 0,75%. Hasil uji organoleptis menunjukkan serbuk yang dihasilkan berwarna putih kecoklatan, memiliki bau suklarosa dan aspartam dan memiliki rasa manis (F1, F2). Waktu alir yaitu 0,6 g/detik (F1) dan 0,5 g/detik (F2) dengan katagori “sangat sukar”, sudut istirahat yaitu 43  (F1) dan 42 (F2) dengan katagori “agak baik. Uji kompresibilitas yaitu 19,4% (F1) dan 20% (F2) dengan katagori “cukup baik” dan waktu larut F1 dan F2 yaitu 1 menit dan 2,6 menit menunjukkan serbuk terdispersi sempurna.
Pemanfaatan kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus sp.) untuk memperpanjang umur simpan mie basah Weni Enjelina; Yunia Ovtasari Rilza; Zulya Erda
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 4, No 1 (2019): AcTion Vol 4 No 1 Tahun 2019
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.34 KB) | DOI: 10.30867/action.v4i1.162

Abstract

The water content of wet noodles reaches 52%, so that the shelf life is short. Effort to extend the shelf life of wet noodles is using peel of red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus sp.). The purpose of this study was to determine the effect of variation concentration of red dragon fruit peel solution to prolong shelf life of wet noodles, the level of preference, and knowing the pH value of wet noodles with the longest shelf life. This research is an experimental study using a post only group design. Before experiment, doing a test of preference for wet noodles. Measurement of pH was done by observing changes in physical quality in wet noodles. Analysis bivariate is one way ANOVA test. The results of this study showed the longest shelf life is 39 hours that obtained from the wet noodles that using  75% red dragon fruit peel solution. The hedonic test proves that wet noodles with the addition of dragon fruit peel are particularly preferred from color and texture. Using  red dragon fruit peel solution can have an effect to increase the shelf life of wet noodles. However, the increasing concentration of the solution will affect the smell and taste of wet noodles which are unpleasant. It is recommended to add natural ingredients to remove odors and unpleasant taste in wet noodles. Kadar air mie basah mencapai 52% sehingga umur simpannya relatif singkat. Salah satu upaya untuk memperpanjang umur simpan mie basah yaitu dengan menggunakan bahan alami kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus sp.). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi larutan kulit buah naga merah terhadap umur simpan mie basah, tingkat kesukaan, serta mengetahui nilai pH pada mie basah dengan umur simpan terlama. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan desain post only group design. Sebelum penyimpanan dilakukan uji kesukaan terhadap mie basah. Pengukuran umur simpan pH dilakukan dengan cara mengamati perubahan kualitas fisik pada mie basah. Analisis bivariat menggunakan uji one way anova.Hasil dari penelitian ini menunjukkan mie basah dengan umur simpan terlama diperoleh dari penggunaan larutan kulit buah naga merah 75% selama 39 jam pada suhu ruang. Uji hedonik membuktikan mie basah dengan tambahan kulit buah naga sangat disukai  terutama dari warna dan tekstur. Penggunaan larutan kulit buah naga merah dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan umur simpan mie basah. Akan tetapi, dengan konsentrasi larutan yang semakin meningkat akan mempengaruhi bau dan rasa pada mie basah yang menjadi langu. Disarankan dilakukan penambahan bahan alami untuk menghilangkan bau dan rasa langu pada mie basah.
Status gizi, pengetahuan dan kecukupan konsumsi air pada siswa SMA Negeri 12 Kota Banda Aceh Saiful Bakri
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 4, No 1 (2019): AcTion Vol 4 No 1 Tahun 2019
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.736 KB) | DOI: 10.30867/action.v4i1.145

Abstract

Fluid requirements increased in adolescents is caused by increased physical activity so that the body needs water to complied of body fluids. Adequacy of fluids is related to the level of knowledge and nutritional status of adolescents. Knowledge affects the act of consuming water. This study aims to related nutritional status, knowledge to the adequacy of water consumption. This research was conducted at Senior Hight School 12 Banda Aceh city. This research is descriptive analytic with crossectional design. The total sample was 64 people with stratified random sampling and data collection methods using questionnaires. Results: normal of nutritional status (92,2%), knowledge level of drinking water consumption is quite good (54,7%), inadequate water consumption (70,3%). There is no relationship between nutritional status (p= 0,318), knowledge (p= 0,149) with adequate water consumption. Conclusion: nutritional status and knowledge are not related to the adequacy of water consumption. adolescents need information about water consumption needs so that dehydration does not occur during daily activities.Peningkatan kebutuhan cairan pada remaja disebabkan karena meningkatnya aktifitas fisik sehingga tubuh memerlukan air  untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Kecukupan cairan berkaitan dengan tingkat pengetahuan dan status gizi remaja. Pengetahuan mempengaruhi tindakan mengkonsumsi air. Penelitian bertujuan untuk hubungan status gizi, pengetahuan dengan kecukupan konsumsi air. Penelitian ini  di lakukan di SMAN 12 kota Banda Aceh. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain crossectional. Total sampel sebanyak 64 orang dengan metode pengambilan sampel stratified random sampling dan pengumpulan data di lakukan menggunakan kuasioner.Hasil :status gizi remaja normal (92.2%), tingkat pengetahuan konsumsi air minum cukup baik (54.7%), ketidakcukupan konsumsi air ( 70.3%). Tidak ada hubungan antara status gizi (p= 0,318), pengetahuan (p=0,149) dengan kecukupan konsumsi air. Kesimpulan: status gizi dan pengetahuan tidak berhubungan dengan kecukupan konsumsi air. Remaja membutuhkan informasi tentang kebutuhan konsumsi air agar tidak terjadi dehidrasi saat melakukan aktifitas.
Analysis of feeding pattern and health practices in child 6-24 months nutritional status in Makassar, Bugis and Toraja tribes Armenia Eka Putriana; Drajat Martianto; Hadi Riyadi
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 4, No 2 (2019): AcTion Vol 4 No 2 Tahun 2019
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.974 KB) | DOI: 10.30867/action.v4i2.152

Abstract

The cultural practices of eating in the Makassar, Bugis and Toraja tribes have a variety of unique characteristics based on their respective beliefs. Objective of this study was to analyze the practice of feeding pattern and health practices in child under two years nutritional status in Makassar, Bugis and Toraja tribes. The study using a cross-sectional study design. Total 360 child under two years were divided into 3 tribes: 120 in Makassar tribes, 120 in Bugis tribes and 120 in Toraja tribes. The results showed that there were significant differences in parenting feeding pattern on cultural. The parenting feeding pattern style applied by child under two years mothers is mostly in the Toraja tribe (OR: 1,6), less than the Makassar and Bugis tribes. Health parenting in Bugis tribe (OR: 8,1) is better than the Toraja and Makassar tribes. In conclusion, the highest percentage of parenting feeding pattern styles in the less category is Makassar tribe and the highest percentage of health care patterns in the good category is Toraja tribe. Praktek terhadap budaya makan di suku Makassar, Bugis dan suku Toraja memiliki berbagai karakteristik unik berdasarkan keyakinan masing-masing. Tujuan penelitian untuk menganalisis praktik pola makan dan praktik kesehatan serta analisis status gizi pada anak di bawah dua tahun pada suku Makassar, Bugis dan suku Toraja. Penelitian menggunakan desain potong lintang. Total sampel yaitu 360 anak di bawah dua tahun yang berasal dari 3 suku: 120 di suku Makassar, 120 di suku Bugis dan 120 di suku Toraja. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan terhadap pola makan orang tua pada budaya. Model pola asuh makan yang diterapkan kepada anak dibawah dua tahun oleh ibu sebagian besar berada di suku Toraja kurang baik (OR: 1,6), dibandingkan dari suku Makassar dan Bugis. Pelayanan kesehatan oleh orang tua kepada anak-anak mereka di suku Bugis (OR: 8,1) lebih baik dari pada suku Toraja dan Makassar. Kesimpulan, persentase tertinggi pola pola asuh makan dalam kategori kurang adalah suku Makassar dan persentase tertinggi pola perawatan kesehatan dalam kategori baik adalah suku Toraja.
ARSENIC CONTAMINATION SURVEY IN WHITE RICE IN ACEH Hanum, Farida; Sudiarto, Dwi; Zakiah, Noni; Safwan, Safwan; Al Rahmad, Agus Hendra
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 4, No 2 (2019): AcTion Vol 4 No 2 Tahun 2019
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.072 KB) | DOI: 10.30867/action.v4i2.177

Abstract

White rice as the major staple food for Indonesian people has the opportunity to be contaminated with chemical hazards. Research in USA shows that arsenic is contained in rice. The arsenic emissions of 75% are estimated to originate from the mining, fertilizers and pesticides. This study aims to determine qualitatively arsenic contamination of white rice consumed by Acehnese people and how to cook it. A total of 30 white rice samples were obtained with purposive technique from the Aceh Health Polytechnic employees who brought breakfast. The the consideration that they come from various regions in Aceh. Arsenic analysis contamination in samples was carried out using arsenic test kit. Data collected is in the form of interviews about white rice cooking techniques and the analysis of arsenic contamination. The results showed that white rice consumed by the employees was safe from arsenic and that the rice cooking technique on a household is feasible. Besides that the arsenic test was also carried out on white rice sold in stalls, the results were positive. This indicates that white rice is consumed by people in Aceh, there are those which are contaminated with arsenic. This study provides evidence that the contamination is still present in rice which has been processed into rice cooked.  Keywords:   ABSTRAKNasi putih sebagai salah satu sumber makanan pokok di Indonesia memiliki peluang tercemar bahan kimia yang sangat berbahaya. Penelitian di USA menunjukkan bahwa arsen terkandung di dalam beras, 75% emisi arsen diperkirakan berasal dari aktivitas penambangan, pemupukan dan pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cemaran arsen secara kualitatif pada nasi putih di Aceh dan bagaimana teknik memasaknya. Penelitian ini merupakan survey deskriptif berbasis laboratorium. Populasi adalah seluruh pegawai Poltekkes Kemenkes Aceh. Sebanyak 30 sampel nasi putih dicuplik secara purposif dari 30 orang pegawai yang membawa bekal sarapannya. Pertimbangan bahwa mereka berasal dari berbagai daerah di Aceh. Analisis arsen menggunakan arsen test kit. Data primer dikumpulkan dari hasil wawancara tentang teknik memasak nasi putih dan hasil analisis arsen pada nasi putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasi putih yang dikonsumsi oleh pegawai Poltekkes Kemenkes Aceh aman dari cemaran arsen. Hasil ini menegaskan bahwa teknik memasak nasi pada skala rumah tangga dapat menghasilkan nasi putih yang bebas dari cemaran kimia arsen. Analisis arsen juga dilakukan pada nasi putih yang dijual di warung sebagai pembanding, hasilnya positif. Ini menunjukkan bahwa nasi putih yang dikonsumsi oleh masyarakat Aceh, ada yang tercemar arsen. Penelitian ini membuktikan bahwa cemaran arsen masih ada pada beras yang telah diolah menjadi nasi.
Tingkat pengetahuan dan sikap ibu terkait makanan tambahan dengan status gizi balita di Kecamatan Woyla Barat Maharani Maharani; Sri Wahyuni; Diah Fitrianti
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 4, No 2 (2019): AcTion Vol 4 No 2 Tahun 2019
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.832 KB) | DOI: 10.30867/action.v4i2.78

Abstract

The double burden of nutrition is very worrying for children in Indonesia. Indonesia has a prevalence of malnutrition of 13,8% and 3,1% was overweight of children, while in Aceh that is 16,8% and 2,9% of overweight. One of the factors is the arrangement of additional food that is not patterned. The purpose of this study was to examine the relationship between mother's knowledge and attitudes about supplementary food and nutritional status in infants. The study was an analytic survey using a cross sectional approach. Samples were taken as many as 86 toddlers with a simple random technique. Data collection using questionnaires and anthropometric measurements. Knowledge and attitude data are processed according to percentage values, and nutritional status data are processed according index to WFA. The statistical test is chi-square at CI:95%. The results showed that mothers' knowledge and attitudes about supplementary food were still not good, and there were still many toddlers with the best nutritional status. Other results show the relationship between maternal knowledge (p=0,000) and maternal attitudes (p=0,019) regarding supplementary food with nutritional status in toddlers in Woyla Barat District. Conclusions, poor mother's knowledge and attitude about supplementary feeding is related to the high problem of malnutrition and over nutrition. Suggestions, counseling is needed related to providing good and nutritious supplementary food, as well as monitoring the nutritional status of children continuously both in the WFA, HFA and WFH indexs.Beban ganda masalah gizi sangat mengkhawatirkan anak-anak di Indonesia. Indonesia mempunyai prevalensi kekurangan gizi sebesar 13,8% dan 3,1% balita gizi lebih, sedangkan di Aceh yaitu sebesar 16,8% dan 2,9% anak gizi lebih. Salah satu faktor penyebab yaitu pengaturan makanan tambahan yang tidak terpola. Tujuan penelitian untuk mengukut hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang makanan tambahan dengan status gizi pada balita di. Penelitian bersifat survey analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel diambil sebanyak 86 balita dengan teknik acak sederhana. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri. Data pengetahuan dan sikap diolah menurut nilai persetase, dan data status gizi diolah menurut indeks BB/U. Uji statistik yaitu chi-square pada CI:95%. Hasil penelitian menunjukan pengetahuan dan sikap ibu tentang makanan tambahan masih kurang baik, serta masih banyak balita yang bestatus gizi kurang. Hasil lainnya menunjukkan hubungan antara pengetahuan ibu (p= 0,000) dan sikap ibu (p= 0,019) tentang makanan tambahan dengan status gizi pada balita di Kecamatan Woyla Barat Kabupaten. Kesimpulan, pengetahuan dan sikap ibu yang kurang baik tentang pemberian makannan tambahan berhubungan dengan tingginya masalah gizi kurang dan kelebihan gizi. Saran, perlu dilakukan penyuluhan terkait pemberian makanan tambahan yang baik dan bergizi, serta pemantauan status gizi anak secara terus menerus baik pada indeks BB/U, TB/U dan BB/TB.
Hubungan aktifitas fisik dengan kejadian kegemukan pada remaja di Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Mataram Wahyuningsih, Retno; Pratiwi, Intan Gumilang
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 4, No 2 (2019): AcTion Vol 4 No 2 Tahun 2019
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.894 KB) | DOI: 10.30867/action.v4i2.180

Abstract

Overweight becomes a problem in young women, because in general they want to look perfect by having an ideal body, slim and slim. Teenagers who lack physical activities, such as sports and activities that require a lot of body movement are things to watch out for obesity. This research is a correlational study that aims to determine the relationship of physical activity with the incidence of obesity in adolescents in the Department of Nutrition Health Polytechnic Mataram. The study population was all students of the Nutrition Department. The sample that was selected randomly as many as 62 students from the Department of Nutrition. Data collected were physical activities obtained from the recall of 2x24 hours of physical activity conducted over two days, namely college days and holiday days (weekends). Measurement of physical activity using the PAL instrument (Physical Activity Level). Data analysis used chi-square test and OR at 95% CI. The results showed that adolescents have moderate physical activity, but BMI tends to be obese (28,2), and there is a significant relationship (p value = 0,048; OR= 3,3) between physical activity and BMI of adolescent students. Mild physical activity has a 3.3-fold chance of obesity compared to moderate physical activity. In conclusion, adolescent physical activity shows a significant relationship with body mass index. Kegemukan menjadi suatu permasalahan pada remaja putri, karena pada umumnya mereka ingin tampil sempurna dengan memiliki tubuh yang ideal, langsing dan ramping. Remaja yang kurang melakukan aktifitas fisik, seperti olahraga dan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan banyak gerak tubuh merupakan hal yang harus diwaspadai terhadap terjadinya obesitas. Penelitian korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan aktifitas fisik dengan kejadian obesitas pada remaja di Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Mataram. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Gizi yang terpilih secara acak sebanyak 62 orang. Data yang dikumpulkan yaitu aktivitas fisik yang diperoleh dari hasil recall aktivitas fisik selama 2x24 jam yang dilakukan selama dua hari yaitu hari kuliah dan hari libur kuliah (weekend). Pengukuran aktivitas fisik tersebut dengan menggunakan instrument PAL (Physical Activity Level). Analisis data menggunakan uji chi-square dan OR pada CI 95%. Hasil penelitian diketahui remaja mempunyai aktifitas fisik yang sedang, namun IMT cenderung gemuk (28,2), dan terdapat hubungan signfikan (nilai p= 0,048; OR= 3,3) antara aktifitas fisik dengan IMT remaja mahasiswa. Aktifitas fisik ringan berpeluang sebesar 3,3 kali mengakibatkan obesitas dibandingkan aktifitas fisik sedang. Kesimpulan, aktifitas fisik remaja menunjukkan hubungan secara signifikan dengan indeks masa tubuh.

Page 9 of 51 | Total Record : 507