Articles
545 Documents
SEKILAS SEJARAH KEDATANGAN DAN BUDAYA KERAMIK ORANG CINA DI SINGKAWANG
Ida Bagus Putu Prajna Yogi
Naditira Widya Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/nw.v2i1.167
Ceramic-making technology.Singkawang is a city in the Province of West Kalimantan, which inhabited mostly by the Chinese. The natural potency of Kalimantan’s western region and its strategic location on the Chinese trade route was probably one of aspects, which lead the Chinese to travel and inhabit in that specific area then. Up until now, the number of Chinese in West Kalimantan, especially in Singkawang, have been increasing and even outnumbered indigenous people of Kalimantan. Such increase in population has simultaneously encouraged the Chinese ancestral culture to flourish in Singkawang, which for instance reflected by the similary of city-form between Singkawang and those of China mainland’s. Ethnoarchaeologically, the ‘Tungku Naga’ or Dragon Klin stands out as the most striking phenomenon of the old Chinese tradition with its traditional ceramic production in Singkawang, which may well be rare attribute and yet scarcely found in China nowadays. This article discuss the arrival of Chinese in the Indonesian Archipelago and their
VISUALISASI TEMA PERAHU DALAM REKAYASA SITUS ARKEOLOGI DI MALUKU
Marlon Nicolay Ramon Ririmasse
Naditira Widya Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/nw.v2i1.168
In regard geographical characteristics of the Molluscas Islands, it is suggested the boats have played an important role in the daily life of the Molluscans since prehistoric period. A boat may be benefited for economic activities such as transportation purposes or communication needs. Subsequently, these economic role apparently had influenced the philosophical values of the Molluscas on the boats. Hence, boats were not regarded to have merely practical function, but also symbolic significance. Such phenomenon is apparently indicated by the use of boat as theme and concept to visualize its symbolic trait in many past cultural material and archaeological sites in the Molluscas. The article discusses many visualization of a boat including its manifestation onto architectural design and semi-macro scale landscape ‘blue-prints’ of a southeastern Mollucan tradional settlement.
SEKILAS TENTANG TEMUAN RIBUAN KOIN BELANDA DI DESA MANDALA, KECAMATAN TELAGA LANGSAT, KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN
Bambang Sugiyanto
Naditira Widya Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6213.556 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v6i2.169
Tulisan ini membahas temuan koin Belanda yang ditemukan dalam tempayan gerabah kecil oleh pendudukDesa Mandala di bantaran Sungai Mandala. Studi kedua temuan tersebut bersifat kualitatif, didukung oleh studipustaka tentang sejarah Kesultanan Banjar dan okupasi Belanda di kawasan tenggara Kalimantan. Analisis morfologismenunjukkan bahwa koin Belanda tersebut berasal dari abad ke-17 sampai ke-18 Masehi, sedangkan tempayangerabah merupakan buatan lokal. Keberadaan koin di bantaran Sungai Mandala tersebut diduga berhubunganerat dengan kegiatan perdagangan intensif yang terjadi di Daerah Aliran Sungai Mandala pada masa lampau.
PENGARUH BUDAYA LUAR TERHADAP PERKEMBANGAN MASYARAKAT BULUNGAN: STUDI PENDAHULUAN*
Nugroho Nur Susanto
Naditira Widya Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5723.004 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v6i2.170
Bulungan terletak pada kawasan geografis yang dilalui oleh Sungai Kayan. Sungai tersebut adalah uratnadi lalu lintas yang sangat penting dalam melancarkan interaksi manusia, budaya, dan perdagangan pada masalampau. Intensitas interaksi dengan kebudayaan dari luar dan ekskpansi politiklah yang pada akhirnya mendorongadanya perubahan-perubahan pada aspek sosial-budaya, ideologi, dan politik. Kajian ini dilakukan melalui studipustaka dan pengamatan langsung di lapangan. Hasil kajian menunjukkan kedatangan Islam telah mengubahperspektif sosial-budaya masyarakat asli Bulungan dan sistem pemerintahan yang berlandaskan Islam. Di lainpihak, kedatangan Belanda di Bulungan dilandasi oleh tujuan eksploitasi dan penguasaan tambang minyak bumi,yang akhirnya melemahkan kekuasaan politik Kaselutanan Bulungan.
USULAN MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA BUDAYA: PEMIKIRAN BERDASARKAN KASUS-KASUS DI KALIMANTAN
Wasita Wasita
Naditira Widya Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5547.282 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v6i2.171
Tulisan ini membahas sejumlah kasus pengelolaan sumber daya budaya di Kalimantan yang tidak sesuaidengan Undang-Undang Cagar Budaya dan menyusun gagasan tentang sebuah model pelestarian cagar budayaberbasis pemanfaatan. Upaya tersebut dilakukan dengan mengidentifkasi dan mengevaluasi implemantasi peraturandan kegiatan pelestarian yang telah dilakukan oleh para pemangku kepentingan kebudayaan di Kalimantan. Hasilevaluasi menunjukkan adanya standar ganda penerapan peraturan pelestarian cagar budaya di Kalimantan.Selain itu, persepsi subyektif-afektif dan kepentingan stakholders ternyata juga mempengaruhi tujuan dan aktivitaspengelolaan cagar budaya. Dengan demikian, model pelestarian yang diajukan adalah menginduksikan perspektifpemanfaatan cagar budaya dalam konteks sistem, yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam aktivitaspelestariannya, serta memposisikan instansi arkeologi sebagai fasilitator, mediator, dan pengawas pelestariancagar budaya.
LINGKUNGAN PENGENDAPAN DI SITUS NEGERI BARU, KALIMANTAN BARAT
Yuka Nurtanti Cahyaningtyas
Naditira Widya Vol 7 No 1 (2013): April 2013
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (8271.291 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v7i1.172
Situs Negeri Baru terletak di tepi aliran Sungai Pawan yang bermuara di Selat Karimata. Satuan batuandi Situs Negeri Baru adalah aluvium dan endapan rawa, yang terdiri atas lingkungan pengendapan aluvium resen,aluvium tua, dan endapan rawa dataran pantai. Tulisan ini membahas lebih jauh karakteristik lingkungan pengendapandi kawasan Situs Negeri Baru. Studi ini dilakukan dengan analisis sedimentologi dan stratigrafi berdasarkan datadari delapan belas kotak ekskavasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa korelasi perubahan lingkungan pengendapansecara lateral dan vertikal pada rangkaian endapan kuarter di Situs Negeri Baru diindikasikan merupakan perubahandari lingkungan permukaan pantai atas (upper shoreface) menjadi sol. Lingkungan pengendapan ini terletak padaestuari dan permukaan pantai (shoreface) dan sangat dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut.
ROCK-ARTKALIMANTAN TIMUR: JENIS GAMBAR DAN WAKTU PEMBUATANNYA
Bambang Sugiyanto
Naditira Widya Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1507.552 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v10i1.173
Keberadaan lukisan dinding gua di Kalimantan Timur yang mulai ditemukan sekitar tahun 1990an, merupakanpenemuan baru dan merubah wawasan pengetahuan arkeologi di Indonesia. Beraneka jenis gambar ada di dinding guagua di kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat. Telapak tangan merupakan jenis gambar yang paling dominan dikawasan situs ini, dengan berbagai bentuk dan variasinya. Penelitian ini akan membahas hubungan antara jenis gambaryang ada dan waktu pembuatannya secara relatif. Metode yang digunakan bersifat deskriptif. Penentuan kronologi didasarkanpada perbedaan jenis gambar dan kebiasaan yang dilakukan dalam budaya rock-artpada umumnya. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa proses pembuatan lukisan dinding pada masa lalu dilakukan secara berurutan.
JEJAK TANTRAYANA DI SITUS BUMIAYU
Sondang Martini Siregar
Naditira Widya Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (955.674 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v10i1.174
Agama Hindu Buddha mengenal aliran Tantrayana. Aliran ini bersifat gaib dan diajarkan secara lisan kepadapemeluknya. Aliran ini pernah berkembang di Nusantara dan sisa-sisa arca yang dipuja masih ditemukan di beberapa situsdi Indonesia. Aliran Tantrayana juga berkembang di situs Bumiayu. Selanjutnya, permasalahan yang muncul adalahbagaimana penggambaran arca Tantrayana yang ada di Bumiayu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis danciri arca Tantrayana di situs Bumiayu, dan hubungannya dengan arca Tantrayana lainnya di Pulau Sumatera (PadangLawas dan Sungai Langsat). Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif denganpenalaran induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal perkembangan agama Hindu di Bumiayu berkisar pada abadke-9 Masehi, yang selanjutnya mendapat pengaruh aliran Tantrayana. Arca dengan aliran Tantrayana digambarkan dalambentuk menyeramkan dan memiliki hiasan tengkorak. Umat Hindu melakukan upacara Tantrayana dengan tujuan untukmelindungi daerah Bumiayu dari serangan Raja Kertanegara yang melakukan ekspedisi Pamalayu ke Sumatera pada tahun1275
GEORADAR DALAM PENELITIAN ARKEOLOGI DI INDONESIA
M. Fadlan S. Intan
Naditira Widya Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2631.718 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v10i1.175
Disadari bahwa kegiatan ekskavasi yang dilakukan terhadap situs arkeologi cenderung bersifat merusak, strukturlapisan tanah tidak bisa dikembalikan ke kondisi semula, ditambah dengan sifat data arkeologi yang terbatas, baik dari segikualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu, perlu digunakan metode yang lebih maju sehingga dengan mudah bisa menemukandata arkeologi tanpa harus membuka banyak kotak ekskavasi yang kosong. Penelitian ini bertujuan untuk memperkenalkanmetode georadar yang memberikan rekomendasi terhadap lokasi anomali di bawah permukaan tanah sehingga akanmempermudah dalam proses penelitian arkeologi. Metode yang digunakan bersifat deskriptif dengan penalaran induktif. Datadikumpulkan melalui studi pustaka, baik dari sumber primer maupun sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaanmetode modern sudah mulai dilakukan pada beberapa penelitian arkeologi di Indonesia, meskipun dalam jumlah yangterbatas. Oleh karena itu, diharapkan penggunaan metode georadar dapat lebih ditingkatkan bagi institusi yang berkecimpungdalam penelitian arkeologi
ARKEOLOGI KEPULAUAN TANIMBAR HASIL PENELITIAN 2011 – 2014 DAN ARAH PENGEMBANGANNYA
Marlon Ririmasse
Naditira Widya Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1595.645 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v10i1.176
Kepulauan Tanimbar merupakan salah satu gugus pulau utama yang ada di Kepulauan Maluku. Wilayah ini cukupdikenal secara budaya, sebagaimana tercermin dalam karya-karya akademis. Demikian halnya ragam pusaka budayaTanimbar yang tersebar di berbagai museum dunia. Fakta budaya tersebut menjadi cermin bagi potensi pengetahuanarkeologi dan sejarah budaya di kepulauan ini. Penelitian ini merupakan rangkuman hasil penelitian mengenai potensiarkeologi di Kepulauan Tanimbar selama tahun 2011-2014 yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Maluku. Metode penelitianyang digunakan meliputi survei penjajakan, ekskavasi arkeologi, wawancara etnografi, dan studi pustaka. Hasil penelitianselama kurun waktu ini menunjukkan bahwa Kepulauan Tanimbar adalah kawasan yang kaya dengan tinggalan arkeologisdan potensial untuk ditindaklanjuti dengan studi yang lebih mendalam