cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Naditira Widya
ISSN : 14100932     EISSN : 25484125     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
PELESTARIAN SITUS-SITUS ARKEOLOGI DI KALIMANTAN SELATAN: MASALAH DAN SOLUSI PEMECAHANNYA Wasita Wasita
Naditira Widya Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.267 KB) | DOI: 10.24832/nw.v10i1.177

Abstract

Realitas di lapangan terdapat beberapa kepentingan yang berbeda terhadap situs arkeologi. Akibat kepentingandi luar arkeologi menyebabkan beberapa situs mengalami kerusakan. Tujuan yang ingin diperoleh dari penelitian ini adalahmengetahui sebab-sebab munculnya berbagai kepentingan terhadap situs yang mengakibatkan kerusakan dan caramengatasinya. Metode yang digunakan untuk memecahkan permasalahan tersebut adalah deskriptif analitis. Deskripsidilakukan terhadap berbagai hal yang terjadi pada situs. Deskripsi itu akan membantu memahami penyebab munculnyaberbagai kepentingan terhadap situs dan kerusakan yang ditimbulkan, sehingga dapat diperoleh solusinya. Hasilnyadiketahui bahwa adanya perbedaan kepentingan karena cara pandang terhadap situs yang berbeda. Solusinya diraihdengan menggunakan cara pelestarian yang melibatkan masyarakat dengan pendekatan ekonomi dan budaya. Cara inidiharapkan akan menjadi sistem pelestarian yang dapat berjalan dengan sendirinya, karena pelestarian dilakukan denganmemperhatikan sistem kehidupan masyarakat yang sedang berlangsung. Kajian yang dilakukan membuktikan bahwapelestarian yang sistemik dapat terwujud jika tinggalan arkeologi itu memiliki relevansi dengan masyarakat, baik dalam aspekekonomi maupun identitas.
ANALISIS FITOLIT (PHYTOLITH ANALYSIS): PADA RESIDU ARTEFAK TULANG SITUS SONG BLENDRONG Nia Marniati Etie Fajari
Naditira Widya Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i2.178

Abstract

The result of phytolith analysis on Song Blendrong bone tools was the identification of a number of plant species which likely to had been benefited from by human in the past. In accordance to its morphological analysis, the identification was used as reference to interpret the function of Song Blendrong bone tools, which suggest their continuous use during the Pleistocene. It is futher suggested that humans in Song Blendrong used bone tools to exploit their surrounding enviroment, especially edible plant resources. This article discusses the phytolith analysis result that were done at bone tools from Song Blendrong rockshelter for describing the bone tools function.
AJARAN RAHASIA JNÂNASIDDHANTA Ririet Surjandari
Naditira Widya Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i2.179

Abstract

Jnanasiddhanta is one of the secret doctrine of Hinduism, Siva Siddhanta in particular, and it is mentioned in the Ten Chapter of Bhuwanakooea. The text stated that not until sadaka pay a large sum of learning fee to his teacher that he was taught the secret doctrine everyday; the term for the payment is gurutyaga (or guruyaga). It is suggested that this text was not written in detail and considered to be a mere teaching guidelines for the guru. This article discusses the translation and explanation of Jnanasiddhanta.
PASANG SURUT PERAN MASYARAKAT BUGIS PADA MASA KESULTANAN KUTAI KARTANEGARA: DALAM NASKAH KUNA DARI KOTABANGUN Mujib Mujib
Naditira Widya Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i2.180

Abstract

An old Latin manuscript in Malay language, in the possession Awang Sabirin, was documented during the archaeological research in Kotabangun in 2007. The manuscript was a copy a typed-text from an older manuscript written during the Dutch occupation. It is assumed that the text is another version of Salasilah Kutai Kartanegara written in the 17th century. This manuscript describes related events between the Kutai Kartanegara Kingdom and the role of the Buginese within the kingdom’s sovereignty. I assume the Buginese had played an important role then and it is essential to carry out an intensive multidisciplinary study on such subject based on archaeology, philology, history, and sociology. This article discusses the content of the manuscript and the role Buginese in Kutai Karatnegara.
NASKAH ARAB DAN LONTARA DI SULAWESI SELATAN, BARAT, DAN TENGGARA Muhaeminah Muhaeminah; mardan mardan
Naditira Widya Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i2.181

Abstract

Old manuscript discovered in South, West, and Southeast Sulawesi are usually written in Buginese letter (lontara) and Arabic Serang letter in local language. Manuscript written in Arabic using local language were found in Wolio each indicating the same content concerning Islamic wisdom similar to the Quran and also comprises the hadist, fiqh, and players. The manuscript are in degrading forms, incomplete and do not bear date, however, water marks are present indicating the chronology. Navertheless, there are old manuscript are well kept in the regional museum and archive office. 
KONFLIK SUMBER DAYA ARKEOLOGI PADA ERA OTONOMI DAERAH Bambang Sulistyanto
Naditira Widya Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i2.182

Abstract

The benefiting from archaeological resource during the district autonomy era -prior to the reformation era- in Indonesia shows varieties of conflict concerning either the factors which have caused the problems or the actors involved in the conflict. My research suggests that conflict of benefiting from archaeological resources had appeared due to mishmash of several old issue which was developed into new issue as a result of the reformation movement. Old issues which had to be dealt with were the theft, condemnation and destruction of cultural heritage. Such issue occured becauce of clashes of interest between the government’s intention to preserve archaeological resources and the basic economic needs of the community surround the site to provide a secure life. Meanwhile, new issues surfaced due to the development of democracy euphoria within the district goverment as the consequence of the commencement of Law number 32 tahun year 2004 concerning District Autonomy. Horizontal conflict between the central goverment in Jakarta and district goverments has emerged in regard to differences of perception on how to give meaning to archaeological  resources, which eventually caused differences of interest in benefiting from archaeological resources. Nevertheless, since the commencement of the reformation era in Indonesia, the people have been expreriencing enlightenment beyond expetation. Therefore, it is not surprising that the people of Indonesia show admirable response to deal with problem solving in manging the archaeological resources; they are more proactive and even demand their rights to be involved in managing the archaeological resources, which are essentially belong to the  people of Indonesia. This article discusses the conflict resolution in a cultural management resourch approach.
Penempatan Bangunan Candi Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut pada Bentang Lahan Fluvial di Musi Rawas, Propinsi Sumatera Selatan Sondang Martini Siregar
Naditira Widya Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2750.296 KB) | DOI: 10.24832/nw.v11i1.192

Abstract

Daerah Musi Rawas memiliki dataran aluvial yang membentang di daerah hulu Sungai Musi sampai dengan daerah hulu Sungai Rawas. Pada wilayah tersebut manusia berusaha berinteraksi dengan alam tidak hanya untuk bertahan hidup tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan ritualnya. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya bangunan candi di Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut pada abad ke-9 Masehi. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana bentuk adaptasi masyarakat pendukung bangunan candi dengan lingkungan fisik di situs Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut. Hal ini disebabkan bangunan candi didirikan harus mempertimbangkan lingkungan fisiknya, yaitu jenis tanah, keletakan candi dengan sumber air, sumber bahan bangunan candi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran bentuk adaptasi manusia pendukung bangunan candi dengan lingkungan fisik di situs Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif dangan analisis ruang sebaran bangunan candi dengan lingkungan fisiknya dan analisis laboratorium, yaitu uji sample tanah dari masing-masing profil tanah dari situs Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut. Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan masukan untuk penyusunan strategi dan kebijakan yang berhubungan dengan pemanfaatan lahan pada bentang lahan fluvial. Keberadaan bangunan candi menunjukkan adanya sisa peradaban India di situs Tingkip, Lesung Batu dan Bingin Jungut dan  masyarakat pendukung candi mempertimbangkan lingkungan fisik dalam mendirikan bangunan candi pada ketiga situs tersebut.
Perhiasan Emas dan Candi Buddha Sintong : Hubungan fungsi dan keletakannya Eka Asih Putrina Taim
Naditira Widya Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2118.593 KB) | DOI: 10.24832/nw.v11i1.194

Abstract

Candi Sintong adalah candi yang terletak di wilayah muara Sungai Rokan. Pada penelitian bersama anatara Bidang Sejarah dan Purbakala Pemda TK I provinsi Riau dan Pusat Arkeologi Nasional, ditemukan seperangkat temuan emas hasil ekskavasi tahun 2007 dan 2010. Emas tersebut cukup menarik baik dari segi bentuk dan keletakannya. Dalam tulisan ini akan mencoba untuk membahas temuan emas tersebut baik dari segi bentuk dan keletakannya, agar dapat diketahui sedikit banyak hal mengenai temuan tersebut pada keberadaan dan kesejarahan situs Candi Sintong. Metode yang digunakan dalam membahas hal di atas adalah metode kualitatif dengan konsep arkeologi ruang baik dalam sekala mikro maupun semi makro .serta konsep post prosesual arkelogi .
PRASASTI RAJA SORITAON churmatin nasoichah
Naditira Widya Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.895 KB) | DOI: 10.24832/nw.v11i1.206

Abstract

Sebagian besar dari prasasti-prasasti di Nusantara, masih harus diteliti dengan seksama karena sekalipun sudah banyak yang dibaca dan diterbitkan namun kebanyakan baru terbit dalam bentuk alih aksara dan alih bahasa sementara, seperti Prasasti Raja Soritaon. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui gambaran menyeluruh terkait Prasasti Raja Soritaon pada makam Batak kuno di wilayah Padang Bujur, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Pengkajian dilakukan melalui penalaran induktif yang bergerak dari fakta-fakta di lapangan yang kemudian diakhiri dengan sebuah kesimpulan sebagai jawaban atas permasalahan yang dikemukakan. Prasasti Raja Soritaon merupakan makam dari seorang pendiri huta/kampung yang bernama Raja Soritaon. Raja Soritaon digambarkan sebagai sosok orang kaya, pendiri kampung Padang Bujur, orang yang dituakan dan dihormati, serta orang yang dapat memutuskan segala permasalahan tanpa bisa diganggu gugat.
SISTEM SETING OKUPASI MANUSIA KALA PLEISTOSEN – AWAL HOLOSEN DI KAWASAN GUNUNGKIDUL Indah Asikin Nurani
Naditira Widya Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4394.333 KB) | DOI: 10.24832/nw.v11i1.207

Abstract

Kawasan Gunung Sewu tidak diragukan lagi menyimpan tinggalan budaya yang berkesinambungan utamanya masa prasejarah. Beberapa arkeolog menyebut kawasan Gunung Sewu sebagai metropolitan prasejarah. Hal tersebut didasarkan tinggalan budaya sejak paleolitik sampai dengan neolitik – megalitik tersebar luas tanpa putus di kawasan ini. Gunungkidul sebagai salah satu kabupaten yang termasuk dalam kawasan Gunung Sewu juga menunjukkan potensi arkeologis yang tinggi dan berkesinambungan. Hal yang menjadi permasalahan adalah bagaimana seting okupasi yang berlangsung di Gunungkidul? Tulisan ini mencoba menjabarkan potensi arkeologis secara ruang dan waktu dalam sistem seting yang berlangsung khususnya kala Pleistosen ke Holosen. Daerah-daerah mana dimanfaatkan sebagai pusat aktivitas, dan daerah mana sebagai sumber bahan baku. Selanjutnya apakah terjadi pergeseran ruang dalam kurun waktu berikutnya? Faktor-faktor apakah yang menyebabkan seting okupasi tersebut terjadi. Diharapkan tulisan ini akan memberikan kontribusi dalam pelestarian seting okupasi budaya kala Pleistosen – Holosen kawasan Gunungkidul berlangsung. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik, sehingga akan terjabarkan seting okupasi secara ruang dan waktu.Hasil penelusuran Sungai Oyo dan gua hunian di Gunungkidul memberikan informasi terjadi perkembangan budaya dari aspek ruang dan waktu.

Filter by Year

2006 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023 Vol 16 No 2 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 2 Tahun 2022 Vol 16 No 1 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 1 Tahun 2022 Vol 15 No 2 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 2 OKTOBER 2021 Vol 15 No 1 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 1 APRIL 2021 Vol 14 No 2 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 2 OKTOBER 2020 Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020 Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13, No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13 No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 12 No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 11 No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11, No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11, No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9 No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9 No 1 (2015): April 2015 Vol 9, No 1 (2015): April 2015 Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 1 (2014): April 2014 Vol 8, No 1 (2014): April 2014 Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 1 (2013): April 2013 Vol 7 No 1 (2013): April 2013 Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 1 (2012): April 2012 Vol 6 No 1 (2012): April 2012 Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5 No 1 (2011): April 2011 Vol 5, No 1 (2011): April 2011 Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4 No 1 (2010): April 2010 Vol 4, No 1 (2010): April 2010 Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 3 No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 2 No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 1, No 2 (2007): Naditira Widya Volume 1 Nomor 2 Tahun 2007 Vol 1 No 2 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.2 Vol 1, No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 Vol 1 No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 More Issue