cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice)
ISSN : 20888139     EISSN : 24432946     DOI : -
Core Subject : Health,
JMPF is the first open access journal in Indonesia specialized in both research of pharmaceutical management and pharmacy practice. Articles submitted in JMPF are peer reviewed, we accept review articles and original research articles with no submission/publication fees. JMPF receives manuscripts in both English (preferably) and Indonesian Language (Bahasa Indonesia) with abstracts in bilingual, both Indonesian and English. JMPF is also open for various fields such as pharmaceutical management, pharmacoeconomics, pharmacoepidemiology, clinical pharmacy, community pharmacy, social pharmacy, pharmaceutical marketing, goverment policies related to pharmacy, and pharmaceutical care.
Arjuna Subject : -
Articles 487 Documents
EFEKTIVITAS DAN KEAMANAN ANTIKOAGULAN PADA SINDROMA KORONER AKUT TANPA ELEVASI SEGMEN ST Dina Catur Hapsari; Suwaldi Suwaldi; Wara Kusharwanti
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 4, No 2
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.275

Abstract

Sindroma koroner akut (SKA) disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pasokan oksigen dengan kebutuhan oksigen di miokardium. Terapi antikoagulan pada SKA dapat mengurangi kejadian kardiovaskuler, tetapi juga sangat berhubungan dengan risiko pendarahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas dan keamanan antikoagulan fondaparinux dibandingkan enoxaparin pada SKA tanpa elevasi segmen ST. Penelitian ini menggunakan desain kohort. Data dikumpulkan secara retrospektif dari rekam medis periode Januari 2012 sampai Desember 2013. Subyek penelitian adalah pasien SKA tanpa elevasi segmen ST yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Jumlah subyek sebanyak 120 pasien yang dibagi ke dalam dua kelompok. Data dianalisis secara deskriptif, kuantitatif, dan statistik menggunakan uji Chi-square. Hasil akhir efektivitas (pasien yang tidak  mengalami infark miokard atau iskemik berulang) terjadi pada 45 pasien (75%) pada kelompok fondaparinux dan 40 pasien (66,7%) pada kelompok enoxaparin (p=0,315; RR=1,125; 95% CI 0,893-1,417). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada efektivitas fondaparinux dan enoxaparin (nilai p >0,05). Hasil akhir keamanan (pasien yang tidak mengalami pendarahan minor) terjadi pada 49 pasien (81,7%) pada kelompok fondaparinux dan 39 pasien (65%) pada kelompok enoxaparin (p=0,039; RR=1,256; 95% CI 1,007-1,567). Terdapat perbedaan signifikan pada keamanan fondaparinux dan enoxaparin (nilai p <0,05). Pendarahan mayor tidak ditemukan pada kelompok fondaparinux dan enoxaparin. Efektivitas fondaparinux sama dengan enoxaparin, tetapi keamanan fondaparinux lebih baik dibandingkan enoxaparin pada pasien SKA tanpa elevasi segmen ST. Kata kunci: SKA tanpa elevasi segmen ST, enoxaparin, fondaparinux
Differences of Implementation Pharmaceutical Care Standard with Potential Medication Errors Analysis at Several Hospital in Semarang Satibi Satibi; Vika Marin Y.W.; Sri Suwarni; Kuswardhani Kuswardhani
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 7, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.33251

Abstract

The impact of not implementing good pharmacy service activities are the possiblility of medication errors in the pharmaceutical care process (Depkes, 2014). In fact, most hospitals do not perform pharmaceutical care activities as expected, given some constraints such as the ability of pharmacy, limited knowledge of the hospital management in functions of hospital pharmacy, policy of the hospital management, and the limited knowledge of the relevant parties about hospital pharmacy service. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 58 Tahun 2014 appeared as a pharmaceutical care standard. This study aims to determine differences of the implementation of pharmaceutical care standard with potential medication errors prescriptions in Government and Private Hospitals in the city of Semarang. The methode used is quasi experiment time approach. The sampling technique used is purposive sampling on an outpatient prescriptions. Subjects were the outpatient prescription in government and private hospitals in Semarang. The analysis used in this study were bivariate analysis Chi square test results obtained administrative requirements x2count = 103,793 and p = 0.000, pharmaceutical requirements showed x2 count = 53,231 and p = 0.000, clinical requirements obtained x2 count = 259,515 and p = 0.000. Based on the three requirements medication errors in prior implementation of pharmaceutical care standard periods was significantly different to the classification of goverment and private hospitals.
PERBANDINGAN RESPON KLINIK NIKARDIPIN DENGAN DILTIAZEM PADA HIPERTENSI EMERGENSI Palupi, Poppy Diah; Rahmawati, Fita; Probosuseno, Probosuseno
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 5, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.146

Abstract

Hipertensi emergensi merupakan suatu kedaruratan medik dan memerlukan tindakan yang cepat dan tepat untuk menyelamatkan jiwa penderita. Secara umum, obat antihipertensi yang digunakan pada pasien hipertensi emergensi diberikan secara parenteral. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui respon klinik nikardipin dengan diltiazem intravena dalam menurunkan tekanan darah, mean arterial pressure, dan denyut jantung pada pasien hipertensi emergensi. Penelitian merupakan penelitian analitik dengan rancangan retrospective cohort study. Data diambil dari rekam medik pasien hipertensi emergensi yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD), Intensive Care Unit (ICU), maupun bangsal rawat inap selama periode Januari sampai Desember 2014 di RSUD Kota Semarang. Jumlah subjek penelitian sebanyak 117 pasien, terdiri dari 66 pasien kelompok nikardipin dan 51 pasien kelompok diltiazem. Nikardipin dapat menurunkan mean arterial pressure (MAP) sebesar 14,45%, sedangkan diltiazem sebesar 12,20%. Nikardipin menurunkan tekanan darah sistolik 17,69%, sedangkan diltiazem sebesar 17,63%. Nikardipin menurunkan tekanan darah diastolik 21,56% dan denyut jantung sebesar 1,74%, sedangkan diltiazem menurunkan tekanan darah sebesar 20,30% dan denyut jantung sebesar 7,83%. Tidak terdapat perbedaan signifikan dalam menurunkan tekanan darah dan MAP antara nikardipin dan diltiazem. Namun, terdapat perbedaan signifikan dalam menurunkan denyut jantung antara nikardipin dan diltiazem.
THE EVALUATION OF METAMIZOLE USE IN SOME PLACES OF PHARMACY SERVICE IN CILACAP COUNTY Marina Kurniawati; Zullies Ikawati; Budi Raharjo
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 2, No 1
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.60

Abstract

Metamizole is an analgesic antipyretic drug. However, its use has been associated with risk of involving agranulocytosis and aplastic anemia. These reactions are rare and unpredictable. The use of metamizole is controversial, as reflected in the very different regulations  among nation affecting it. The study aimed to evaluate the use of metamizole to 406 subjects in some pharmacies in Cilacap County, during December 2009 – February 2010. Methods used in this study  questionnaires and interviewing. This conclusions are metamizole was used in female (53.2%) than in male (46.8%); combination of metamizole was used more (77%) than single (23%); metamizol use by purchasing more non-prescription (65.24% ) than by prescription (32.76%). The most common reasons for using metamizole were for headache (70.44%), toothache, analgesic and stomachache. Side effect and drug interaction were not confirmed happen to the subjects. Physical examinations and laboratory results of the 2 subjects among of them showed symptoms of anemia, but the effect which lead to agranulocytosis still need further examination.Key words : metamizole, side effect, drug interaction
PERBANDINGAN PENURUNAN TEKANAN DARAH SETELAH PEMBERIAN LISINOPRIL MALAM ATAU PAGI HARI Annisa Nadya Utami; Lukman Hakim; I Dewa Putu Pramantara
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 4, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.281

Abstract

Lisinopril merupakan salah satu pilihan terapi hipertensi dengan mekanisme menghambat kerja dari angiotensin-converting enzyme (ACE). Penelitian mengenai pengaruh ritme sirkadian terhadap sistem renin-angiotensin membuktikan bahwa target utama dari terapi anti-hipertensi dengan lisinopril justru mengalami puncak aktivasi pada malam hari, saat waktu tidur. Penelitian bertujuan membandingkan penurunan tekanan darah antara pasien hipertensi yang mengkonsumsi lisinopril pada pagi hari dengan pada malam hari. Penelitian merupakan penelitian prospektif analitik dengan rancangan penelitian cohort. Cara pengambilan data adalah dengan metode wawancara dan data sekunder berdasarkan rekam medik terhadap pasien rawat jalan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Mei sampai Juli 2014. Dari 26 pasien yang diambil dalam penelitian ini yaitu pasien hipertensi rawat jalan (kelompok penggunaan lisinopril pagi 13 pasien dan lisinopril malam 13 pasien) dengan diagnosis utama hipertensi yang menggunakan lisinopril 10 mg per hari sebagai terapi hipertensi selama 1 bulan diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan penurunan tekanan darah sistole sebesar 13,00 ± 13,16 mmHg dan diastole sebesar 6,23 ± 11,34 mmHg untuk lisinopril yang dikonsumsi pada pagi hari sedangkan untuk lisinopril yang dikonsumsi malam hari menghasilkan penurunan tekanan darah sistole sebesar 12,23 ± 15,19 mmHg dan diastole sebesar 6,62 ± 11,93 mmHg. Berdasarkan uji t independen dengan tingkat kepercayaan 95%, hasil di atas tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p>0,05). Lisinopril pemberian satu kali sehari yang diberikan pada malam hari tidak menunjukkan penurunan tekanan darah yang lebih besar dibandingkan pagi hari pada pasien di apotek rawat jalan RSUP Dr. Sardjito. Kata kunci: hipertensi, ritme sirkadian, lisinopril, kronoterapi
KAJIAN DRUG RELATED PROBLEMS PADA TERAPI PASIEN GAGAL JANTUNG RAWAT INAP Alfin Rufaidah; I Dewa Putu Pramantara; Ika Puspita Sari
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 5, No 2
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.133

Abstract

Keberhasilan pharmaceutical care tidak terlepas dari tiga fungsi utama apoteker, yaitu mengidentifikasi Drug Related Problems (DRPs) baik yang aktual maupun yang potensial terjadi, mengatasi DRPs yang terjadi aktual, dan mencegah terjadinya DRPs potensial. Penelitian bertujuan untuk mengetahui prevalensi kejadian DRPs, mengetahui DRPs yang terjadi, dan menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian DRPs pada terapi pasien gagal jantung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional cross sectional dan pengumpulan data dilakukan secara prospektif. Penelitian dilakukan di ruang rawat inap kelas II dan III RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten sejak pertengahan November 2014 hingga awal Januari 2015. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Data dianalisis menggunakan statistik Uji-Chi Square dan Odds Ratio. Prevalensi kejadian DRPs pada terapi pasien gagal jantung rawat inap adalah sebesar 58,33% (49 pasien) dari 84 pasien, terdiri dari 88 kejadian DRPs, yang dikelompokkan menjadi enam kategori DRPs yaitu timbulnya reaksi merugikan sebesar 29,55% (26 kejadian), diperlukan terapi obat tambahan sebesar 21,59% (19 kejadian), dosis obat terlalu tinggi sebesar 19,32% (17 kejadian), obat tidak efektif sebesar 15,91% (14 kejadian), dosis obat terlalu rendah sebesar 7,95% (7 kejadian), dan terapi obat tidak diperlukan sebesar 5,68% (5 kejadian). Uji Chi-Square dan Odds Ratio menunjukkan bahwa umur, penyakit penyerta, dan polifarmasi tidak berpengaruh terhadap kejadian DRPs, namun LOS berpengaruh terhadap kejadian DRPs pada terapi pasien gagal jantung rawat inap di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Pasien dengan LOS ≥6 hari mempunyai kemungkinan 6,92 kali (95% CI 2,63-18,25) untuk mengalami DRPs dibandingkan dengan pasien dengan LOS <6 hari (p<0,05).
ANALISIS BIAYA OBAT PADA ERA JKN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DI FASILITAS PENUNJANG KESEHATAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Dewi, Dewa Ayu Putu Satrya; Satibi, Satibi; Puspandari, Diah Ayu
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 5, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.161

Abstract

Pada era JKN apotek dapat berperan sebagai apotek program rujuk balik (PRB) atau apotek jejaring dan apotek klinik pratama (KP). Biaya obat apotek PRB diklaim langsung ke BPJS, sedangkan biaya obat apotek lainnya diklaim ke fasilitas kesehatan (faskes) primer berdasarkan perjanjian kerjasama. Perbedaan pola kerjasama apotek di era JKN berdampak pada biaya obat pasien, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata biaya obat, persentase biaya obat terhadap kapitasi, dan perbedaan biaya obat di apotek era JKN. Penelitian ini adalah penelitian observasi yang bersifat analitik cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada 6 apotek PRB, 6 apotek jejaring, dan 7 apotek KP di DIY pada bulan Oktober 2015. Subjek penelitian adalah resep pasien JKN bulan Maret 2015 dengan 8.430 lembar resep. Data dianalisis secara statistik deskriptif dan uji komparatif (uji Kruskal-Wallis). Hasil penelitian menunjukkan, rata-rata biaya obat pasien satu kali terapi di apotek jejaring; apotek KP; dan apotek PRB bernilai Rp12.589±Rp8.874,49; Rp14.173 ±Rp6.424,09; Rp143.807 ± Rp162.251,30. Rata-rata persentase biaya obat terhadap biaya kapitasi faskes primer bernilai 13,58% untuk apotek jejaring dan bernilai 15,91% untuk apotek KP. Terdapat perbedaan biaya obat yang signifikan di ketiga jenis apotek tersebut (p=0,000) yang dipengaruhi oleh lama waktu pemberian obat, jumlah lembar resep, margin keuntungan, dan jasa kefarmasian. Biaya obat di era JKN tergantung pada pola kerjasama apotek dengan faskes dan BPJS.rata-rata persentase biaya obat terhadap kapitasi faskes di apotek jejaring lebih rendah dibandingkan dengan apotek klinik pratama.
EVALUATION ON THE ANTIHYPERTENSIVE THERAPY USAGE ON BLOOD PRESSURE PREDIALYSIS IN OUTPATIENTS WITH END STAGE RENAL DISEASE (ESRD) RECIVING ROUTINE HEMODIALYSIS AT PKU MUHAMMADIYAH HOSPITAL YOGYAKARTA Fitriani Fitriani; Agung Endro Nugroho; Inayati Inayati
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 1, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.11

Abstract

Hypertension and chronic kidney disease (CKD) are the two kinds of disease that are related each others. The prevalence of hypertension is estimated occur in 80% of the hemodialysis population. This research aims to determine the relationship between the compliance levels of patients in antihypertensive medication on blood pressure predialysis This research is conducted by using a descriptive prospective observational study. Data analysis was performed to determine the profile of antihypertensive therapy use, antihypertensive medication therapy outcomes profile, and the influence of the patients’ compliance level in antihypertensive medication. The patient compliance level in taking antihypertensive drugs is assessed by questionnaire of Modified Morisky Scale (MMS). Based on the research results,, the antihypertensive profile used was CCBs system (32,91%), loop diuretics (23,42%), AIIRA (15,82%), central α agonists (12,66%), ACEI (12,03 %), and β blockers (3,16%). Antihypertensive therapies applied single and combination therapy. The most used monotherapy is CCBs (3,70%), whereas the most used combination are combination of the class of CCBs, AIIRA, and loop diuretics (16.67%). The outcomes profile of antihypertensive medication therapy based on the measurement results of pre-dialysis blood pressure are target of pre-dialysis blood pressure (<140/90 mmHg) can only be achieved by 3 patients, 2 patients are the compliance patients with the right choice and appropriate dose of antihypertensive therapy and 1 patient is a non-adherent patient with incorrect type and inappropriate doses of antihypertensive therapy. Most of hemodialysis patients have isolated systolic hypertension. The influence of the patients’ compliance level in antihypertensive medication towards the blood pressure control of pre-dialysis outpatients, there are 19 patients (35,19%) in the category of non-adherent patients with a mean blood pressure is 168,40/ 91,95 mmHg, and 35 patients (64,81%) in the category of adherence with a mean blood pressure is 165,60/ 87,77 mmHg. Keywords : digoxin, heart failure, renal dysfunction, clinical outcome. 
HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN, KEPUASAN TERAPI DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN USIA LANJUT DIABETES MELITUS TIPE 2 Raisya Hasina; Probosuseno Probosuseno; Chairun Wiedyaningsih
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 4, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.295

Abstract

WHO memprediksi jumlah pasien diabetes di Indonesia tahun 2030 meningkat 61% dan pasien usia lanjut meningkat 4%. Pada pasien usia lanjut dengan diabetes melitus cendrung mudah mengalami komplikasi sehingga diperlukan data normatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan pengukuran kepatuhan pengobatan, kepuasan terapi diabetes dengan kualitas hidup. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan pengobatan, kepuasan terapi diabetes melitus tipe 2 dengan kualitas hidup pasien usia lanjut. Desain penelitian adalah studi potong lintang di Klinik Geriatri RSUP dr. Sardjito Yogyakarta pada November 2014 sampai Januari 2014. Morisky Medication Adherence scale (MMAS-8) digunakan untuk mengukur kepatuhan pengobatan dan Diabetes Medication Satisfaction Tool Scale (DMSAT) digunakan untuk mengukur kepuasan terapi dan SF-36 digunakan untuk mengukur kualitas hidup pasien. Hasil utama ukuran adalah tingkat kepatuhan, kepuasan terapi, dan hubungan antara kepatuhan dan kepuasan terapi dengan kualitas hidup pasien usia lanjut diabetes melitus tipe 2. Analisis statistik menggunakan program SPSS. Hasil penelitianmenemukan 81,7 % pasien patuh terhadap pengobatan. Skor rata - rata kepuasan secara keseluruhan berada dalam kategori puas (7,10 ± 1,05), dan median QoL (minimum- maximum) kualitas hidup pasien adalah 62,66 (28,71 - 98,81).Kepatuhan pengobatan berhubungan signifikan dengan kualitas hidup (P=0,012). Tidak terdapat perbedaan signifikan antara kepuasan terapi, usia, tingkat pendidikan, jenis ADO, jenis kelamin, durasi DM tipe 2 dan komorbiditas dengan kualitas hidup pasien (P > 0,05). Kata kunci: kepatuhan pengobatan, Diabetes Melitus, kepuasan terapi, antidiabetik oral, kualitas hidup
EFFICIENCY ANALYSIS OF DRUG MANAGEMENT ON DISTRIBUTION AND USAGE LEVEL IN COMMUNITY HEALTH CENTERS Abd Razak; Gunawan Pamudji; Mugi Harsono
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 2, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.83

Abstract

Drug management in community health centers is conducted by the pharmacy section. Drug management problems in Sibela, Pajang and Nusukan health centers were that there were expired drugs and dead stock. The purpose of this study was to evaluate the efficiency of drug management in both use and distribution levels in Sibela, Pajang and Nusukan health centers. This research was conducted using retrospective and concurrent data. Data were collected in form of qualitative and quantitative data observations from existing document and interview with relevant officials. Then, the data were presented in tabular and textual description. The efficiency of drug management was measured at distribution and use stages using its indicators and compared with standard. The result showed that distribution and use of medicine in Sibela, Pajang and Nusukan health centers generally were not efficient. In Sibela and Pajang health centers, the level of drug availability were 53 and 68 days, respectively. The inefficiency of drug management in both health centers was shown in the percentage of expired drugs that accounts for 0.3% and 0.61%, and in the percentage of dead stock, that accounts for 4.6% and 20.40% respectively. In Nusukan health center, the level of drug availability was 40 days and there were no expired drugs. However, in Nusukan health center, the percentage of dead stock was 14.31% that was not efficient. Drug use in Sibela, Pajang and Nusukan health centers showed that the number of item of drugs per prescription was 3.17, 2.97 and 4, the percentage of generic drug per prescription was 91.85%, 93% and 88.10%, the demand of all medicines was fulfilled, the use of antibiotics for acute respiratory tract infection non-pneumonia was 1.87%, 0% and 1.20%, and the percentage of antibiotic use for non-specific diarrhea was 3.51%, 0% and 0.29, respectively.Keywords: medication management, indicators, efficiency, distribution, usage

Page 7 of 49 | Total Record : 487