cover
Contact Name
Siti Dahlia
Contact Email
sitidahlia@uhamka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jgel@uhamka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan
ISSN : 25798499     EISSN : 25798510     DOI : -
Jurnal Geografi Edukasi dan Lingkungan (JGEL) ISSN 2579-8499 (print), ISSN 2579-8510 (online) is an national journal in Indonesia published by the Departement of Geography Education, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, concerns with physical geography, human geography, geography techniques, and geography education which releases twice in year (July and January).
Arjuna Subject : -
Articles 215 Documents
Deteksi Perubahan Jalur Lahar di Curah Lengkong Pasca Erupsi Gunungapi Semeru 2021 Menggunakan Google Earth Engine vischawafiq azizah; Listyo Yudha Irawan
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 7 No. 1 (2023): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jgel.v7i1.10321

Abstract

Pemetaan jalur aliran lahar memiliki relevansi dengan bahaya vulkanik pasca-erupsi terjadi. Teknik penginderaan jauh semakin banyak digunakan untuk memetakan daerah gunungapi aktif, berkat kemampuannya untuk mensurvei area yang luas dan berbahaya dengan keterbatasan waktu dan biaya serta memiliki keakuratan resolusi spasial cukup tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi perubahan jalur lahar pasca erupsi Gunungapi Semeru 2021 menggunakan klasifikasi terbimbing dengan Algoritma Random Forest dalam cloud computing Google Earth Engine. Data optik dan SAR merupakan sumber data pelengkap yang dapat digunakan untuk memetakan jalur aliran lahar secara efektif, selain mengurangi awan, dan meningkatkan kinerja pendeteksian perubahan. Sementara itu, studi area yang digunakan adalah Area of Interest (AOI) perubahan jalur aliran lahar di saluran Curah Lengkong yang masuk pada wilayah administrasi Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah klasifikasi terbimbing dengan algoritma Random Forest berdasarkan platform Google Earth Engine (GEE) untuk menganalisis secara bersamaan citra yang diperoleh oleh Synthetic Aperture Radar (SAR) Sentinel-1, dan oleh sensor optik Sentinel-2 MSI. Hasilnya menunjukkan bahwa, meskipun beberapa piksel terisolasi salah diklasifikasikan sebagai dari jalur aliran lahar, pendekatan algoritma Random Forest dapat mengidentifikasi badan jalur aliran lahar utama dengan benar serta mencapai akurasi antara data training dan data uji serta validasi dominan melebihi >85% untuk OA dan Kappa >0.80. Artikel ini menyimpulkan bahwa teknik klasifikasi terbimbing dengan algoritma Random Forest dapat diaplikasikan untuk menganalisis data optik dan SAR sebagai upaya pemetaan perubahan jalur aliran lahar dengan jangkauan area yang luas dan berbahaya. Meskipun demikian, diperlukan proses pembuktian langsung ke lapangan untuk memvalidasi hasil pemetaan dan interpretasinya.
Analisis Risiko Bencana Pada Lokasi Wisata Di Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat Listiana; Enok Maryani; Lili Somantri; Iwan Setiawan
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 7 No. 1 (2023): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jgel.v7i1.10322

Abstract

Pariwisata rentan terhadap bencana alam, sehingga analisis risiko bencana di lokasi pariwisata menjadi isu penting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko multi bencana (gempa bumi, kebakaran hutan, gunung api, dan longsor) pada lokasi wisata di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Unit analisis penelitian adalah 25 lokasi wisata alam di Kecamatan Lembang dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis. Indikator yang digunakan adalah tingkat bahaya, tingkat kerentanan dan tingkat kapasitas. Tingkat risiko bencana ditentukan berdasarkan tabel matriks dengan tiga klasifikasi rendah, sedang dan tinggi. Berdasarkan hasil analisis terdapat 12 lokasi wisata dengan risiko tinggi gempa bumi, 12 lokasi wisata berisiko rendah gempa bumi, satu wisata berisiko rendah gempa bumi, satu lokasi wisata berisiko sedang kebakaran hutan, lima lokasi wisata berisiko rendah kebakaran hutan, enam lokasi wisata berisiko sedang terdampak bencana gunung api, enam lokasi wisata berisiko rendah gunung api, sepuluh wisata berisiko tinggi longsor, satu lokasi wisata berisiko sedang longsor dan satu lokasi wisata berisiko rendah longsor. Risiko bencana di lokasi wisata perlu disertai kesiapsiagaan pengelola dan wisatawan dalam menghadapi bencana guna mengurangi dampak bencana.
PEMBELAJARAN "CONTEXTUAL COLLABORATING LEARNING” BERBASIS PENDIDIKAN KEBENCANAAN STUDI KASUS: DAS BOMPON, MAGELANG, JAWA TENGAH Heni Masruroh; Junun Sartohadi; Muhammad Anggri Setyawan
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 1 No. 1 (2017): Edisi Bulan Juli
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v1i1.450

Abstract

Indonesia is the Country which has potential disaster. Education as an effort totransform knowledge and technology is expected as one of disaster risk reduction effort.The implementation of education is expected to increase sustainable education andstudent's critical thinking. The purpose of this article is to apply "ContextualCollaborative Learning” based on disaster education in the Bompon Catchment. Theconcept of contextual collaborative learning is obtained by observation student's fieldstudy and research of society dedication in the Bompon Catchment. The concept oflearning design development "Collaborative Learning” can be done by 3 steps, such asi) orientation related the environmental condition in the Bompon Catchment; ii)observation and measurement related the geomorphology process such as landslide,erosion, and drought; iii) Focus Group Discussion to developing the media learningproduct based on the orientation, field observation and measurement.Keyword: Collaborative Learning, Disaster Education, and Bompon Catchment.ABSTRAKIndonesia merupakan negara yang berpotensi terjadi bencana alam. Pendidikan sebagaiupaya transformasi pengetahuan dan teknologi diharapkan sebagai salah satu upayapengurangan risiko bencana. Bentuk implementasi pendidikan berupa pengajarandiharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan, dapat mengaitkan materi ajar dengankondisi lingkungan sekitar, meningkatkan pemahaman dan daya kritis peserta didik.Penulisan artikel ini bertujuan untuk menjelaskan Penerapan Pembelajaran "ContextualCollaborative Learning” Berbasis Pendidikan Kebencanaan di DAS Bompon. Konseppembelajaran "Contextual Collaborative Learning” diperoleh berdasarkan hasilpengamatan kegiatan lapangan di wilayah DAS Bompon oleh mahasiswa dari beberapaUniversitas dan kegiatan pengabdian masyarakat. Penerapan "Contextual CollaborativeLearning” dilakukan melalui 3 tahapan, yaitu i) Orientasi atau pengenalan wilayah DASBompon secara umum; 2) pengamatan dan pengukuran proses-proses geomorfologiseperti longsor, erosi, dan kekeringan; 3) Diskusi terarah untuk pengembangan produkmedia pembelajaran hasil orientasi, pengamatan dan pengukuran lapangan.Kata Kunci: Contextual Collaborative Learning, Pendidikan Kebencanaan, dan DASBompon
AKURASI ARAH KIBLAT MASJID DI KECAMATAN BEKASI BARAT Mushoddik Daulay; Hartono Hartono; sunaryo ishaq
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 1 No. 1 (2017): Edisi Bulan Juli
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v1i1.452

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengkaji bagaimanakah pengurus masjid menetapkan akurasi arah kiblat dan seberapa akurat masjid mengarah kiblat di kec. Bekasi Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian lapangan (field research) dengan kategori penelitian survei. Subjek dalam penelitian ini yaitu mengumpulkan data temuan, berdasarkan histori dan kesesuaian dalam pengukuran di lapangan. Adapun objek fokus penelitian adalah masjid di kecamatan Bekasi Barat. Teknik pengumpulan data dengan wawancara dan observasi. Hasil pengukuran diukur dengan menggunakan kompas (segitiga bola). Hasil penelitian menunjukkan dalam hal siapa yang mengukur dan alat apa yang digunakan dalam pengukuran arah kiblat, hasil penelitian ternyata lebih banyak dilakukan oleh Tokoh Agama atau ulama. Alat pengukuran yang digunakan oleh para pengukur arah kiblat hampir semua memakai alat kompas. Penelitian terhadap 30 masjid yang berada di Kecamatan Bekasi Barat dari 5 (lima) kelurahan yang berbeda, ditemukan 15 mesjid atau 50 % arah kiblatnya akurat, sedangkan 15 mesjid atau 50 % arah kiblatnya ada penyimpangan (Dari 15 masjid (50%) yang kurang/kelebihan, dan diketahui ada 4 masjid yang fisik bangunan kurang pas akan tetapi shafnya telah diakuratkan). Kata Kunci: Arah, Kiblat, dan Masjid ABSTRACThis study aims to examine how the board of the mosque set the accuracy of the direction of Qiblah and how accurately the mosque leads to Qiblah in West Bekasi Distric. This research uses field research approach (field research) with survey research category. Subjects in this study only collect data of findings based on history and suitability in field measurements. The object of research focus is the mosque in the  West Bekasi District. Technique of collecting data by interview and observation. The measurement results are measured using a compass (spherical triangle). The results of the study show that (1) who measures and what tools are used in measuring the direction of the Qibla from the results of research is more done by religious figures or ulama. While the measurement tools used by gauges of qibla direction almost all use the compass tool, (2) Research on 30 mosques located in West Bekasi District of 5 (five) different villages found 15 mosques or 50% accurate qiblah direction, while 15 mosques or 50% of the direction of the Qiblah there are deviations (of the 15 mosques (50%) that are lacking / excess, there are known 4 mosques that the building is less fit but the shaf has been accurate).   Keywords: Direction, Qiblah, and Mosque
ANALISIS SPASIAL RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK (RPTRA) "PUSPITA” SEBAGAI URBAN RESILIENCE DI KELURAHAN PESANGGRAHAN JAKARTA SELATAN Wira Fazri Rosyidin; Sri Giyanti; Siti Dahlia
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 1 No. 1 (2017): Edisi Bulan Juli
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v1i1.453

Abstract

ABSTRAK:Pembangunan Kota Layak Anak menjadi program Pemprov DKI Jakarta dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2013-2017. Salah satu wujud dari pengejawantahan Kota Layak Anak melalui pembangunan RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) disejumlah wilayah di DKI Jakarta. Pembangunan RPTRA juga diakibatkan banyaknya permasalahan sosial yang disebabkan penataan wilayah yang belum relevan, sehingga menghasilkan masalah-masalah turunan seperti kurang berkembangnya anak dalam interaksi sosial yang berdampak pada kualitas hidup di Jakarta. Pemerintah DKI Jakarta memberikan kebijakan dengan memutuskan pembuatan suatu ruang publik terpadu di sejumlah wilayah. RPTRA merupakan suatu langkah kebijakan dengan menyediakan ragam fasilitas dengan tujuan membuat area lingkungan ramah kepada anak, wanita dan lanjut usia. Keinginan terhadap pembangunan masyarakat dengan RPTRA untuk solusi bagi ketahanan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui hasil dari pemetaan sosial dari pembangunan RPTRA dengan pendekatan analisis spasial dengan aspek teori ketahanan masyarakat. Metode yang digunakan dalam analisis ini yaitu me-review draf perencanaan pembangunan pemerintahan daerah DKI dengan melihat tata ruang dari tingkat nasional hingga tingkat kota.Katakunci: RPTRA, Ketahanan, dan Keruangan.ABSTRACT:In this paper will be decribe of spatial analysis as resilience of urban. For the object of research is the RPTRA "Puspita” in one of place in Jakarta Area's. Most of area in Jakarta is slump category within management of spatial plan in daily have some problems like us traffic, social conflict, wich have given dammage of social quality of life. Jakarta's Govermen has give of solutions make to decission of problems solving by make of public areas in many area. The public space area ( RPTRA) with more facilities to make of safety area for children, woman and old man. Jakarta Goverment policy think that RPTRA will give result to solve of social problem in Jakarta. As goodwill build of construct citizens by more programme in RPTRA so that have be urban resilience. In conclussion by constuct build of public space area have make up of quality the people in Jakarta. Methode for analysis is by according of spatial rule area from nationality level until district area levels based of teory of urban resilience that The Public Space Area is tool for help the people to develop capacity social and to make of Jakarta are comfort for children.Keyword:The Public Space Area, Resilience, spatial planning.
PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA ANTARA PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH DENGAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEADS TOGETHER (Studi Komparasi Metode Pembelajaran Geografi Kelas XI IPS SMAN 01 Tanjung Agung Sumatera Selatan) Dita Ratnasari; Sunaryo Ishaq; MB Ali Sya'ban
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 1 No. 1 (2017): Edisi Bulan Juli
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v1i1.454

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan hasil belajar siswa antara penggunaan model pembelajaran Make a Match dengan model pembelajaran Numbered Heads Together Pada Mata Pelajaran Geografi Kelas XI IPS. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yaitu quasi eksperimen dengan pendekatan komparatif, yang bertujuan untuk membedakan atau membandingkan hasil penelitian antara dua kelompok penelitian. Pengambilan sampel digunakan dalam penelitian ini adalah cluster sampling, dengan cara dibagi 2 kelas atau kelompok eksperimen. Kelompok pertama dengan jumlah 34 siswa yang akan diberikan perlakuan model pembelajaran Make a Match, dan kelompok kedua dengan jumlah 34 siswa yang akan diberikan model pembelajaran Numbered Heads Together. Hasil penelitian diperoleh bahwa pada materi kompetensi dasar menjelaskan pengertian fenomena bisofer dan menganalisis sebaran hewan dan tumbuhan, pada siswa kelas XI IPS I dan XI IPS II yang menggunakan model pembelajaran Make a Match sebesar 66,32, sedangkan yang menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together sebesar 77,85. Uji hipotesis diketahui bahwa thitung > ttabel. Hal ini berarti ada perbedaan signifikan hasil belajar siswa antara penggunaan Model Pembelajaran Make a Match, dengan Model Pembelajaran Numbered Heads Together.Kata Kunci: Model Pembelajaran Make a Match, Numbered Heads Together, Hasil Belajar GeografiABSTRACTThis study aims to determine difference of outcomes learning student between the using model Make a Match learning, and model Numbered Heads Together On Geography Lesson Class XI IPS. This research using quasi experimental with a comparative approach, to differentiate or compare the results between the two groups research. Technical sampling in this research used cluster sampling is object divided into 2 classes or the experimental group. The first group consist of 34 students, who will be given treatment study model Make a Match, and the second group consist of 34 students who will be given the learning model Numbered Heads Together. The result showed that on material the phenomenon of biosfer and analyzing the distribution of animals and plants, the average28Jurnal Geografi Edukasi dan Lingkungan, Vol. 1, No. 1, Juli 2017:27-35student learning outcomes XI IPS class I and II XI IPS using model Make a Match of 66.32, while those using learning model Numbered Heads Together for 77.85. It known that the result of rsearch thitung> ttabel, and there is a significant difference in student learning outcomes between the use Learning Model Make a Match, and Learning Model Numbered Heads Together.Keywords: Learning Model Make a Match, Numbered Heads Together, Geography Learning Outcomes.
MINAT PEMUDA DESA UNTUK URBANISASI Di Desa Sukasari, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat Indah Meitasari
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 1 No. 1 (2017): Edisi Bulan Juli
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v1i1.455

Abstract

ABSTRAKUrbanisasi senantiasa berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi desa yang mendorong warganya untuk pindah ke kota mencari kehidupan yang relatif lebih layak. Bagi penduduk desa, kota memiliki daya tarik untuk mencari pekerjaan. Meski pekerjaan for-mal terbatas, namun "elastisitas” pekerjaan informal tetap menjadi pilihan bagi para mi-gran urban. Upaya membangun desa dilakukan oleh pemerintah melalui bantuan dana desa, sehingga banyak mengalami kemajuan dari segi pembangunan infrastruktur dan sa-rana prasarana desa. Meski demikian, kehidupan di kota bagi sebagian pemuda desa, masih tetap menjanjikan. Tulisan ini menganalisis minat pemuda untuk urbanisasi, studi kasus di Desa Sukasari, Majalengka, Jawa Barat. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam terhadap pemuda desa, untuk mengetahui apakah mereka memiliki minat untuk urbanisasi berdasarkan faktor pendorong dan faktor penarik. Didasari hal tersebut, ternyata kehidupan warga desa yang bersifat Gemeinschaft merupakan modal sosial yang membuat para pemuda tetap ingin tinggal di desanya, dan tidak berminat untuk urbanisasi.Kata Kunci: Minat Pemuda, Urbanisasi, Gemeinschaft, dan modal sosialABSTRACUrbanization is always associated with the socio-economic conditions of the village that encourage its citizens to move to the city looking for a relatively more viable life. For the villagers, the city has an appeal to find a job. Although formal employment is limited, the "elasticity" of informal employment remains an option for urban migrants. The effort to build the village is done by the government through the funding of the village, so much progress in terms of infrastructure and public facilities. However, life in the city for some village youth, still promises. This paper addresses the interests of youth for urbanization, a case study in Sukasari Village, Majalengka, West Java. This qualitative research by conducting in-depth interviews of the village youths to find out if they have an interest in urbanization based on pull and push factors. The result is that the life of the villagers in Gemeinschaft is a social capital that keeps the youth in his village, and is not interested in urbanization.Keywords: Youth Interest, Urbanization, Gemeinschaft, And social capital
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMETAAN BAHAYA BANJIR MENGGUNAKAN PENDEKATAN MULTI DISIPLIN DI DESA RENGED, KECAMATAN BINUANG, KABUPATEN SERANG, PROVINSI BANTEN Siti Dahlia; Wira Fazri Rosyidin; Ahmad Dika Nurbudiansyah
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 1 No. 1 (2017): Edisi Bulan Juli
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v1i1.456

Abstract

ABSTRAKDesa Renged Kecamatan Binuang Kabupaten Serang, Banten merupakan daerah yang secara geografi terletak di daerah dataran rendah dan berasosiasi dengan DAS Cidurian. Kondisi tersebut menyebabkan wilayah penelitian rawan terhadap banjir luapan DAS Cidurian. Kejadian banjir terbesar diwilayah penelitian terjadi tahun 1994, 2001, dan 2013. Tujuan penelitian ini yaitu 1). Pemetaan daerah rawan banjir wilayah penelitian, menggunakan pendekatan natural science dan social science dan (2). Menganalisis hasil peta bahaya banjir berdasarkan pendekatan natural science dan social science. Analisis penelitian menggunakan metode kualitatif dan kuantutatif, dengan pendekatan natural science dan social science. Metode analisis data yang digunakan yaitu interpretasi secara kualitatif citra satelit, interpolasi, dan skoring. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara dan survei. Hasil penelitian berdasarkan pendekatan natural science dan social science menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah penelitian terletak pada bahaya banjir sedang. Berdasarkan pola spasial, hasil terdapat kesamaan diantara dua pendekatan yaitu bahaya banjir tinggi terletak di satuan bentuklahan dataran banjir yang berasosiasi dengan DAS Cidurian, aliran sungai mati, dan dataran aluvial yang berasosiasi dengan saluran irigasi. Daerah dengan bahaya banjir sedang terletak disatuan bentuklahan dataran banjir yang berasosiasi dengan aliran sungai mati dan dataran aluvial. Daerah dengan tingkat bahaya banjir rendah terletak di satuan bentuklahan dataran aluvial antropogenik, tanggul alam, dan sebagian dataran aluvial.Kata Kunci: Bahaya Banjir, DAS Cidurian, dan Pendekatan Natural dan Social Science.ABSTRACTRenged Village, Binuang District, Serang Regency, Banten Province is geographically located in lowland area and associated with Cidurian Watershed. It caused research area have flood prone area. The major floods event in the last 21 years occurred in 1994, 2001, and 2013. The aims of research: (1) Mapping of flood pronea area, using natural and social science approach, and (2). Analysis of flood hazard map, based on natural and social science approach. Research conducted using qualitative and quantitative methods, with natural and social science approach. The data analysis are qualitative interpretation of satellite imagery, interpolation, and scoring. Tthe cholleting data method using interview and survey. The result of the research based on natural and social science approach shows that most of research area located in medium level of flood hazard. Based on spatial pattern there are similarities between the result of natural and social science approach. It is the high level of flood hazard is located in landform units: flood plain associated with Cidurian River, abandoned river channels, and aluvial plain that associated with irrigation drainage. Medium level of flood hazard is located in landform units: flood plain associated with abandoned river channels, and alluvial plain. Low level of flood hazard is located in landform units: antropogenic alluvial plain, natural levee, and part of alluvial plain.Keywords: Flood Hazard, Cidurian Watershed, and Natural and Social Science Approach.
ANALISIS RISIKO BENCANA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI PULAU BENGKALIS Agung Adiputra
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 2 No. 1 (2018): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v2i1.1015

Abstract

ABSTRAK Salah satu daerah yang mengalami kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan adalah Pulau Bengkalis di Provinsi Riau. Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau hampir setiap tahun terjadi. Kebakaran di lokasi tersebut terjadi setiap musim kemarau. Berdasarkan data statistik Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau 2014, sekitar 56% total lahan gambut di Pulau Bengkalis mengalami kebakaran hampir setiap tahun. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui nilai risiko bencana kebakaran hutan dan lahan di pulau Bengkalis, dengan memperhitungkan kerawanan dan kerentananya. Upaya mengurangi risiko bencana kebakaran hutan dan lahan memerlukan arahan mitigasi bencana sebagai tindakan preventif. Sekitar 543,786 jiwa total penduduk di pulau Bengkalis sebagian di-antaranya rentan terpapar bencana asap dari kebakaran hutan dan lahan. Metode dalam penelitian ini merupakan metode perhitungan risiko bencana dari interaksi antara bahaya (hazard) yang ada, dan tingkat kerentanan (vulnerability) masyarakat terhadap bencana, serta kapasitas yang dimiliki masyarakat dalam menghadapi bencana (R=H x V x E). Jika masyarakat cukup tinggi dalam menghadapi bencana, maka kapasitas bersifat mengurangi risiko. Luas wilayah Pulau Bengkalis yang mempunyai tingkat risiko tinggi terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan seluas 73.441,61 ha, dan tingkat risiko sedang seluas 2.721,81 ha. Total luas wilayah berisiko terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan di Pulau Bengkalis adalah 14.295,83 ha. Seluruh desa atau kelurahan di Pulau Bengkalis mempunyai wilayah dengan risiko sedang dan tinggi dengan luas yang bervariasi. Kata Kunci: Kebakaran hutan dan lahan, Risiko Bencana. ABSTRACT One of the areas that suffered losses due to forest and land fires was Bengkalis Island in Riau Province. Forest and land fires in Riau Province almost every year. Fires in these locations occur every dry season. Based on Statistics of Riau Provincial Environmental Agency 2014, about 56% of the total peatland on Bengkalis Island suffered fire almost every year. This study aims to determine the value of risk of forest and land fires on Bengkalis Island taking into account the vulnerability. Risks reducing to forest and land fires requires disaster mitigation directives as a preventive measure. Around 543,786 people in Bengkalis are some of them are vulnerable to smoke from forest and land fires. The method used in this research is a method of calculating risk from the interaction between hazard, vulnerability of society to disaster and the capacity of society (R = H x V x E). If the community is high enough in the face of disaster, then the society have hight of capacity it can reduce of risk. The area of "‹"‹Bengkalis Island which has a high risk level for the forest fire disaster and land area of "‹"‹73,441.61 ha. While the level of risk was about 2,721.81 ha. The total area of "‹"‹risk for forest and land fire disasters on Bengkalis Island is 14,295.83 ha. All villages in Bengkalis Island have medium and high risk areas with varying areas. Keywords: Land and Forest Fire, Disaster Risk.
PERILAKU PENDUDUK TERHADAP KEBERADAAN BANK SAMPAH SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN LINGKUNGAN Irdam Ahmad
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 2 No. 1 (2018): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v2i1.1016

Abstract

ABSTRAK Bank Sampah menawarkan sistem pengelolaan sampah terpadu pada tingkat desa atau kelurahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku penduduk terhadap keberadaan Bank Sampah. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode regresi logistik dan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pendidikan dan umur mempunyai pengaruh positif dan nyata terhadap perilaku penduduk dalam memilah sampah. Penduduk yang berpendidikan Diploma dan Sarjana mempunyai kecenderungan sebesar 1,41 kali lebih besar untuk memilah sampah dirumah, dibandingkan dengan penduduk yang berpendidikan SMA atau kurang. Kata Kunci: Bank Sampah, perilaku penduduk, pendidikan lingkungan ABSTRACT The Trash Bank offers integrated solid waste management system in village level. The aims of this research is to find out people's behaviour about the Trash Bank. Logistic regression and Chi Square test of independence were employed to analyse the data. The results show that educational attainment have positive effect and significant on people's bahaviour to separate organic and inorganic waste at their household. People graduated from colleges or universities tend to separate organic and inorganic waste as much as 1,41 times, compared to people graduated from high school or less. Keywords: trash bank, people's bahaviour, environmental education

Filter by Year

2017 2025