cover
Contact Name
Siti Dahlia
Contact Email
sitidahlia@uhamka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jgel@uhamka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan
ISSN : 25798499     EISSN : 25798510     DOI : -
Jurnal Geografi Edukasi dan Lingkungan (JGEL) ISSN 2579-8499 (print), ISSN 2579-8510 (online) is an national journal in Indonesia published by the Departement of Geography Education, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, concerns with physical geography, human geography, geography techniques, and geography education which releases twice in year (July and January).
Arjuna Subject : -
Articles 215 Documents
Perhitungan Luas Atap Untuk Analisis Daya Tampung Pengungsian Menggunakan SIG Di Kecamatan Jatiyoso Kabupaten Karanganyar Farida Nurul Yusrina; Linta Alfi Fahmi; Edgar Jordan; Deviana Kusuma Putri; Mul yani; Alfi Okta Syahputra
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 3 No. 2 (2019): Edisi Bulan Juli
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v3i2.2948

Abstract

Karanganyar merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang sering mengalami bencana longsor. Data yang diterbitkan oleh BPBD Karanganyar menyatakan bahwa selama tahun 2017 tercatat 80 kejadian bencana tanah longsor terjadi. Kecamatan Jatiyoso merupakan salah satu Kecamatan yang memiliki tingkat kerawanan longsor sedang hingga tinggi. Daya tampung pengungsian menjadi aspek penting yang harus diketahui dalam perencanaan lokasi pengungsian, berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mencari potensi daya tampung fasilitas umum untuk pengungsian yang ada di Kecamatan Jatiyoso. Penelitian ini menggunakan metode perhitungan luas atap bangunan dengan menggunakan Sistem informasi geografis. Berdasarkan hasil yang diperoleh daya tampung fasilitas umum di Kecamatan Jatiyoso terdapat sebanyak 6.960 jiwa atau 16 % penduduk dapat tertampung di pengungsian sedangkan jumlah penduduk sebesar 36.465 jiwa, maka sebanyak 29.505 jiwa (84%) penduduk tidak tertampung. Daya tampung fasilitas pengungsian tidak dapat menampung keseluruhan penduduk yang terdampak bencana, karena jumlah shelter yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang ada. Kurangnya daya tampung shelter untuk pengungsian seharusnya dapat menjadi bahan pertimbangan pihak-pihak tertentu untuk lebih memperhatikan fasilitas-fasilitas sebagai tempat pengungsian.
Analisis Kesiapsiagaan Komunitas Sekolah Muhammadiyah dalam Menghadapi Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Karanganyar Marta Nilasari Catur Pujianingsih; Rochmad Tri Wibowo; Wahyu Tulus Indrianto; Intan Purnamasari; Abdullah Hadid Rozi; Dyah Ayu Wulandari
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 3 No. 2 (2019): Edisi Bulan Juli
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v3i2.2950

Abstract

Kabupaten Karanganyar merupakan suatu wilayah yang memiliki potensi terhadap bencana tanah longsor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesiapsiagaan di SD, SMP dan SMA Muhammadiyah terhadap bencana tanah longsor di Kabupaten Karanganyar, serta mengetahui perbandingan kesiapsiagaan di SD, SMP dan SMA Muhammadiyah terhadap bencana tanah longsor di Kabupaten Karanganyar. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik stratified random sampling dimana sampel yang dipilih berdasarkan strata atau tingkatan. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif, dengan menggunakan pedoman kesiapsiagaan yang bersumber dari LIPI 2006. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan Komunitas Sekolah Muhammadiyah dalam menghadapi bencana tanah longsor sangatlah beragam. Kesiapsiagaan siswa Muhammadiyah memiliki kategori sangat siap dalam menghadapi bencana tanah longsor, sementara itu kesiapsiagaan guru memiliki kategori siap dalam menghadapi bencana tanah longsor, akan tetapi kesiapsiagaan kepala sekolah yakni termasuk kedalam belum siap dalam menghadapi bencana tanah longsor. Sementara itu tingkat perbandingan kesiapsiagaan siswa, guru, dan kepala sekolah memiliki perbandingan yang sangat signifikan, yakni berdasarkan hasil yang telah diperoleh dapat dijelaskan bahwa kesiapsiagaan siswa dan guru Muhammadiyah sangatlah tinggi jika dibandingkan dengan kepala sekolah yang belum siap dalam menghadapi bencana tanah longsor berdasarkan parameter-parameter yang telah ditentukan.
Perilaku Masyarakat Kampung Naga Dalam Mengelola Sanitasi dan Fasilitas Kesehatan Fakaruddin Wahyu; Linda Kumala Sari; Muhammad Zid
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 3 No. 2 (2019): Edisi Bulan Juli
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v3i2.2973

Abstract

Kampung Naga is one of indigeneous villages in Indonesia. Community of Kampung Naga are known for their strongness in preserving the traditions of their ancestral heritage. As a indigeneous village, the lives of its people are inseparable from traditional rules, including in terms of health. Eventhough, Kampung Naga is not a community who's banned Modernism. They think modernism are not prohibited, as long as it does not violate customary provisions. Sanitation issue and also health facilities is one of the issues that are often encountered in the case of indigeneous villages, including Kampung Naga. With the reality of Kampung Naga's life is still traditionally and in influence of custom, then in terms of sanitation management it also does not escape the prevailing traditional provisions. As time goes by, the more visitors come, the mindset of the people of Kampung Naga gradually changes, especially in terms of health. Today, the majority of the residents of Kampung Naga have used modern medicine through Puskesmas and also village polyclinics and are handled by medical staff such as doctors and midwives.
Uji Akurasi Hasil Teknologi Pesawat Udara Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle) Dalam Aplikasi Pemetaan Kebencanaan Kepesisiran Rini Meiarti; Toshikazu Seto; Junun Sartohadi
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 3 No. 1 (2019): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v3i1.2987

Abstract

Teknologi perolehan data spasial menggunakan sistem pesawat udara tanpa awak (UAV/Unmanned Aerial Vehicle) menjadi salah satu tekonologi pemotretan udara yang menghasilkan data spasial detil, namun penggunaannya untuk pemetaan khususnya pemetaan kebencanaan masih perlu dikaji lebih mendalam. Tujuan penelitian ialah untuk menguji ketelitian geometrik dan semantik Foto Udara Format Kecil (FUFK) dari teknologi UAV yang ke depannya data akan digunakan sebagai input pemetaan kebencanaan. Ketelitian geometrik (horizontal dan vertikal) diuji dengan membandingkan antara koordinat mosaik ortho dan Digital Terrain Model (DTM) terhadap pengukuran GNSS RTK. Data spasial yang dihasilkan dari teknologi UAV pada penelitian ini mempunyai ketelitian geometrik 0,649 m horizontal dan 1,494 m vertikal sehingga masih dapat digunakan untuk pemetaan skala besar 1:5.000 (Sutanto, 2013). Uji ketelitian semantik dengan nilai NIIRS level 6 menunjukkan bahwa FUFK hasil teknologi UAV ini mampu mempermudah interpretasi objek geografik.
Identifikasi Multi Bahaya di Area Pendidikan Muhammadiyah dengan Metode VISUS di Jakarta Wira Fazri Rosyidin; Siti Dahlia; Asa Alvi Zahro; Adi Riyan Pangestu; Muhammad Katami; Moh Aji Najiyullah
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 3 No. 1 (2019): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v3i1.2989

Abstract

Penelitian dilakukan di Provinsi DKI Jakarta dengan fokus area sekolah. Jakarta adalah daerah ibukota dengan risiko tinggi terhadap suatu bencana. Jakarta memiliki banyak sekolah, dengan banyak potensi terhadap suatu ancaman dan tingginya elemen berisiko. Sekolah yang menjadi unti analisis yaitu SMP Muhammadiyah 36 Duren Sawit Jakarta Timur dan SMA Muhammadiyah 3 Jakarta Selatan. Unsur yang berisiko di sekolah sebagai analisis adalah manusia, bangunan, kendaraan dan lainnya. Metode yang digunakan VISUS, yaitu Inspeksi Visual untuk Strategi Peningkatan Keselamatan. Metode tersebut merupakan cara mengidentifikasi bahaya di bidang pendidikan untuk keselamatan dengan fokus pada bahaya, kapasitas dan tingkat kerentanan. Analisis pengamatan dilakukan secara visibilitas area fisik, dan fokus penilaian bahaya adalah gempa bumi, banjir, dan kebakaran. Tahapan mengamati adalah mempersiapkan, survei, dan masukan data. Proses survei di sekolah memiliki tiga proses, yaitu mengidentifikasi lokasi, lingkungan sekitar, dan bangunan di dalam dan di luar. Proses identifikasi dilakukan oleh surveyor yang telah mendapatkan sertifikasi dari UNESCO. Para surveyor yang menggunakan dukungan aplikasi VISUS yang dikembangkan oleh UNESCO untuk mengidentifikasi semua item fokus di sekolah. Hasilnya adalah SMP Muhammadiyah 36, dan SMA muhammadiyah 03 merupakan daerah aman terhadap bahaya banjir, dan penurunan daratan. Akan tetapi, potensial terhadap bahaya gempa dan kebakaran. Sekolah belum adanya peringatan dini terhadap bahaya sehingga potensial tingginya risiko.
Analisis Ketimpangan Perekonomian Terhadap Tingkat Pendidikan Di Kecamatan Prambanan Muhammad Hafidhudin Anwar; Mutia Januar Ramadani; Gatot Purbo Utomo; Fitria Febri Murnawi; Abdullah Hadiid Rozi; Kurnia Vionilla
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 3 No. 1 (2019): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v3i1.2990

Abstract

Indonesia merupakan negara berkembang di Asia Tenggara. Berbagai problematika di Indonesia cukup banyak, salah satunya permasalahan yaitu disparitas (ketimpangan) pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan fenomena ketimpangan perekonomian, serta pengaruhnya terhadap tingkat pendidikan masyarakat di Kecamatan Prambanan. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis kuantitatif untuk mendeskripsikan bagaimana suatu ketimpangan ekonomi itu dapat mempengaruhi tingkat pendidikan. Sampel dari penelitian ini menggunakan persil bangunan di Kecamatan Prambanan, dengan jumlah sampel 1599 persil bangunan. Teknik pengambilan data dengan menggunakan kuisioner, observasi, dan dokumentasi. Variabel penelitian meliputi pendapatan yang mewakili keadaan perekonomian masyarakat Prambanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 16 desa di Kecamatan Prambanan, adanya keberagam keadaan perekonomian warga. Desa Pereng memiliki tingkat pendapatan paling tinggi dengan rata rata pendapatan lebih dari Rp. 1.500.000, sedang Desa Randusari memiliki tingkat perekonomian paling rendah yaitu rata rata pendapatan kurang dari Rp.500.000. Keragaman ekonomi tersebut dapat mempengaruhi pendidikan. Faktor-faktor yang membuat ekonomi dan pendidikan saling memengaruhi adalah jumlah penghasilan dan pengeluaran tiap bulan dari tiap-tiap individu. Hasil penelitian membuktikan bahwa meskipun memiliki tingkat pendapatan yang rendah, tapi masyarakat memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan yang tinggi, mereka tetap menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah gratis yang dibiayai oleh negara.
Kajian Risiko Bencana Kekeringan Di Kabupaten Cianjur M.Galih Permadi; Agung Adiputra
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 3 No. 1 (2019): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v3i1.2991

Abstract

Kejadian kekeringan merupakan masalah rutin di Kabupaten Cianjur yang perlu di tanggulangi melalui persiapan dan perencanaan. Penanggulangan kekeringan dapat diumlai dengan kajian risiko bencana, sehingga dapat mengurangi tingginya dampak kerugian. Kajian risiko bencana merupakan penilaian (assessment) pra bencana yang dilakukan dengan metode analisis keruangan melalui pemberian skor pada setiap parameter berdasarkan pada kontribusi relatif terhadap kekeringan. Parameter yang dipergunakan adalah curah hujan, ketersediaan sumber air, penggunaan lahan, jenis tanah dan kemiringan lereng. Hasil analisis menunjukkan wilayah dengan kelas bahaya tinggi seluas 23.263,4 ha, dan wilayah dengan tingkat bahaya sedang seluas 314.145,6 ha. Kekeringan umumnya terjadi di wilayah bagian selatan dan tenggara Kabupaten Cianjur yang lebih dekat ke arah laut. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah topografi wilayah yang tidak terjangkau pasokan air dari pegunungan, dan curah hujan yang lebih rendah dari wilayah utara. Wilayah yang memiliki kerentanan tinggi adalah Kecamatan Cidaun, Kecamatan Takokak, Kecamatan Sukaresmi, dan Kecamatan Naringgul. Keterpaparan menurut jarak dari ibukota kabupaten Cianjur adalah wilayah Karang Tanah sebagai yang terluas, disusul oleh Kecamatan Pacet dan Kecamatan Cibeber.
Peremajaan Permukiman Kumuh Dengan Penerapan Konsep Ecovillage Wardana Wibawa; Alwin Alwin
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 3 No. 1 (2019): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v3i1.2992

Abstract

Permukiman kumuh merupakan salah satu masalah yang dapat timbul dalam suatu kota atau kabupaten. Desa Bojongsoang Kabupaten Bandung menjadi salah satu wilayah yang menghadapi masalah pertumbuhan permukiman kumuh. Faktor penyebab kumuhnya permukiman di Desa Bojongsoang yakni akibat aktifitas yang terlalu berlebihan, sehingga menyebabkan lingkungan hunian menjadi tidak sehat dan tidak nyaman untuk ditinggali. Adanya permasalah ini masyarakat berinisiatif melakukan program ecovillage sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan. Tujuan penelitian adalah menerapkan konsep ecovillage di Desa Bojongsoang Kabupaten Bandung. Konsep ecovillage adalah konsep penataan permukiman yang menggunakan prinsip berkelanjutan dengan mengedepankan aspek lingkungan dan berintegrasi dengan dimensi sosial, ekonomi, dan budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur, studi banding, dan observasi objek. Analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan perbandingan antara hasil observasi objek dengan studi literatur. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini membuktikan bahwa untuk mengatur kawasan permukiman kumuh dapat dilakukan dengan cara peremajaan permukiman, melalui penerapan lima konsep karakteristik ecovillage, sehingga diharapkan dapat menghasilkan permukiman yang bersifat berkelanjutan dan ekologis.
Pemetaan Bahaya dan Kerentanan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau Sumardani Kusmajaya; Supriyati Supriyati; Agung Adiputra; M. Galih Permadi
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 3 No. 1 (2019): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v3i1.2993

Abstract

Provinsi Riau merupakan salah satu wilayah yang tidak pernah luput dari kebakaran hutan dan lahan. Salah satu penyebab kebakaran semakin parah, karena kejadian kebakaran hutan dan lahan terjadi pada ekosistem gambut. Di sisi lain, pemerintah daerah mempunyai kewajiban untuk menyusun, menetapkan, dan menginformasikan peta rawan bencana untuk melakukan perencanaan dan pemadaman dini, apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan. Mengacu Perka BNPB Nomor 2 Tahun 2012, peta bahaya kebakaran hutan dan lahan Provinsi Riau dibuat menggunakan map algebra dan peta kerentanan dibuat secara dasimetrik. Hasil pemetaan menunjukkan daerah yang mempunyai bahaya tinggi adalah Kabupaten Indragiri Hilir dan Kabupaten Rokan Hilir, sedangkan kerentanan tertinggi berada di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Indragiri Hilir.
Persepsi Masyarakat Terhadap Tanaman Eceng Gondok Rawa Pening Di Desa Banyubiru Kabupaten Semarang Yoza Wahyu Ningsih; Tomi Kurniawan; Aprilia Nur Rahmawati; Diah Ayu Permatasari; Daud Al-Hadid Ghunarso; Rawi Akbar Pratama; Astria Mei Sanjaya; Wahyu Widiyatmoko
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 3 No. 2 (2019): Edisi Bulan Juli
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/jgel.v3i2.3488

Abstract

Desa Banyubiru merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Desa ini memiliki letak yang berdekatan dengan Danau Rawa Pening yang ditumbuhi oleh tanaman vegetasi air yaitu eceng gondok. Hal tersebut menimbulkan dampak terhadap masyarakat yang berdampak positif maupun dampak negatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat Desa Banyubiru terhadap dampak positif dan dampak negatif tanaman eceng gondok yang tumbuh di Rawa Pening. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh persil bangunan permukiman di Desa Banyubiru. Sampel diambil secara acak terhadap persil bangunan permukiman. Jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin dengan taraf kepercayaan 95%dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 288 persil bangunan. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan kuisioner, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Desa Banyubiru lebih dominan menilai keberadaan tanaman eceng gondok kearah dampak positif. Hal tersebut dilatarbelakangi bahwa masyarakat masih melihat tanaman eceng gondok membantu perekonomian masyarakat khususnya membuat kerajinan tangan hasil dari tanaman eceng gondok. Berdasarkan hasil penelitian faktor-faktor terhadap persepsi masyarakat Desa Banyubiru adalah tingkat pengetahuan masyarakat, lama tinggalnya masyarakat, jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan. Faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh yang berbeda terhadap tingkat persepsi masyarakat.

Filter by Year

2017 2025