cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
kartowijaya@universitaskebangsaan.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arcade@universitaskebangsaan.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
Published by Universitas Kebangsaan
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Architecture Journal A R C A D E is Open Journal System published by Prodi Architecture Kebangsaan University, Bandung. Architectural Journal A R C A D E is, is a peer-reviewed scientific journal, publishing scholarly writings about Architecture and its related discussion periodically. The aims of this journal is to disseminate research findings, ideas, and review in architectural studies SCIENTIFIC AREAS: Building (architecture) and Urban/Regional Study: theory, history, technology, landscape and site planning, behavioral, social and cultural, structure and construction, traditional architecture, criticism, digital architecture, urban design /planning, housing and settlements, and other related discussion Architecture Education and Practice: curriculum/studio development, work opportunities and challenges, globalization, locality, professionalism, code of ethics, project managerial etc. Architectural Journal A R C A D E is published 3 times a year in March, July and November every last date of the month.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
ETIMOLOGI SAUJANA SEBAGAI CULTURAL LANDSCAPE Elvis Salouw; Ikaputra Ikaputra
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i2.907

Abstract

Abstract: The term Landscape has different meanings from various points of view. Landscape in the scope of planning is defined as the aesthetics of the scenery, the urban environment, the field of land cover related to visuals as well as areas related to traditional and cultural characteristics. Cultural landscape is a landscape that is formed as a result of human interaction with nature. In Indonesia, the cultural landscape is defined as Saujana. The use of the word saujana in various studies related to landscape has not been completely consistent. By using the literature study method, this study aims to examine the etymology of Saujana and its suitability with the terminology of the cultural landscape. The results of this study found that the word saujana has the closest meaning to the word Landscape, but it is not appropriate when it is paired with the term cultural landscape. The recommendation from this study is that the use of the term saujana which refers to the cultural landscape needs to be reviewedAbstrak: Istilah Landscape memiliki pemaknaan yang berbeda dari berbagai sudut pandang. Landscape dalam lingkup perencanaan diartikan sebagai sebagai estetika pemandangan, lingkungan perkotaan, bidang tutupan lahan yang berkaitan dengan visual serta area yang berkaitan dengan karakteristik adat dan budaya. Cultural landscape merupakan landscape yang terbentuk dari hasil interaksi manusia dengan alam. Di Indonesia, cultural landscape diartikan sebagai Saujana. Pengunaan kata saujana dalam berbagai penelitian yang berkaitan dengan landscape belum sepenuhnya konsisten. Dengan menggunakan metode studi kepustakaan, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji etimologi saujana serta kesesuaiannya dengan terminologi cultural landscape. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa kata saujana memiliki kedekatan makna dengan kata landscape, namun tidak sesuai jika dipadankan dengan istilah cultural landscape. Rekomendasi dari studi ini adalah penggunaan istilah saujana yang merujuk pada cultural landscape perlu dikaji kembali.
PERFORMA BUKAAN SELUBUNG FASAD RUMAH PANGGUNG VERNAKULAR TERHADAP KENYAMANAN TERMAL PENGHUNI Atik Prihatiningrum; Panji Anom Ramawangsa
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i2.910

Abstract

Abstract: Thermal conditions in buildings in residential houses include temperature, humidity, and wind speed that enter the dwelling which is influenced by the area of the openings in the facade of the building. Seeing the existing problems, the purpose of this research is to investigate the performance of the facade cladding on the Rejang tribal stilt houses using the software simulation method. This is done to obtain the thermal value for the occupants of the stilt house so that several factors are obtained that affect the quality of the thermal value in the space in the stilt house. The research methodology is divided into several stages, namely collecting data on room temperature, air humidity, and wind speed in the house that is the object of research, and data analysis using Google Sketchup Sefaira software and the Center For The Built Environment (CBE). The results obtained are that the thermal comfort conditions of the occupants of the house have a variety of sensations that are influenced by the activities of the occupants and the type of clothing. In addition, the condition of the openings on the windows and doors of the stilt houses and the orientation of the building to the path of the sun affect the indoor temperature conditions, humidity, and wind speed flowing into the room.Abstrak: Kondisi termal di dalam bangunan pada rumah tinggal meliputi suhu, kelembaban, dan kecepatan angin yang masuk ke dalam rumah tinggal dipengaruhi oleh luas bukaan yang ada di selubung fasad bangunan. Melihat permasalahan kondisi eksisting yang ada, maka tujuan penelitian ini untuk menelusuri performa selubung fasad pada rumah panggung suku Rejang dengan menggunakan metode simulasi software.  Hal ini dilakukan untuk mendapatkan nilai termal pada penghuni rumah panggung sehingga didapatkan beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas nilai termal pada ruang dalam rumah panggung.  Metodologi penelitian terbagi dari beberapa tahap, yaitu pengumpulan data suhu ruang, kelembaban udara, dan kecepatan angin di dalam rumah yang menjadi objek penelitian, dan analisis data dengan menggunakan software Google Sketchup Sefaira dan Center For The Built Environment (CBE). Hasil yang didapatkan adalah kondisi kenyamanan termal penghuni rumah memiliki ragam sensasi yang dipengaruhi oleh aktifitas penghuni dan jenis pakaian. Selain itu kondisi bukaan pada jendela dan pintu rumah panggung serta orientasi bangunan terhadap jalur lintas matahari mempengaruhi kondisi suhu ruang dalam, kelembaban udara, dan kecepatan angin yang mengalir ke dalam ruangan.
PENDEKATAN DESAIN ARSITEKTUR INDISCHE DALAM PERANCANGAN PASTORAN GEREJA SANTO ANTONIUS KOTABARU DI YOGYAKARTA Sinta Dewi; Sushardjanti Felasari; Yoseph Duna Sihesa; Samsul Hasibuan
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i2.689

Abstract

Abstract: Being located in the centre of cultural heritage area of Kotabaru, city of  Yogyakarta,  the Saint Anthony Catholic Church then is known as Kotabaru Church (Dutch: Nieuw Wijk Katholieke Kerk). The church is located in Abu Bakar Ali street (Boulevard Jonquiere) and I Dewa Nyoman Oka street (Sultansboulevard). As one of the eldest churches in the city, the church was built during the colonial time and inaugurated in 1926 by Mgr. A. Van Velsen SJ, the Bishop of Jakarta. In 2014 The Saint Anthony Church was stated as a cultural heritage building. In October 2016 the Church bought a piece of land with a building on it, adjacent to its parish house. The two story building was half constructed, developed from a single story Indische architectural style building which unfortunately was already destroyed, leaving only a small part of its original building entrance. The building was planned to be functioned as the new parish house with a spatial connection to the old parish house. Despite the strong recommendation to reduce the expenses by making minimum physical changes, the building especially the façade should be redesigned as far as possible to be restored to its original façade and according to the requirements as an Indische architectural style building. As a part of the cultural heritage buildings in the area of Kotabaru, the new parish house should perform contextual architectural style and elements. Furthermore, the design results are proposed three alternatives and presented in the form of floorplans and elevations.Abstrak: Terletak di tengah kawasan cagar budaya Kotabaru, Kota Yogyakarta, Gereja Katolik Santo Antonius kemudian dikenal dengan nama Gereja Kotabaru (Bahasa Belanda: Nieuw Wijk Katholieke Kerk). Gereja tersebut terletak di Jalan Abu Bakar Ali (Boulevard Jonquiere) dan Jalan I Dewa Nyoman Oka (Sultansboulevard). Sebagai salah satu gereja tertua di kota Yogyakarta, gereja ini dibangun pada masa kolonial dan diresmikan pada tahun 1926 oleh Mgr. A. Van Velsen SJ, Uskup Jakarta. Pada tahun 2014 Gereja Santo Antonius ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Pada bulan Oktober 2016 Gereja membeli sebidang tanah dengan sebuah bangunan di atasnya, bersebelahan dengan rumah parokinya. Bangunan berlantai dua ini setengah dibangun, dikembangkan dari bangunan bergaya arsitektur Indische berlantai satu yang sayangnya sudah hancur, hanya menyisakan sebagian kecil dari entrance bangunan aslinya. Gedung tersebut rencananya akan difungsikan sebagai rumah paroki baru dengan keterkaitan spasial dengan rumah paroki lama. Meskipun ada rekomendasi kuat untuk mengurangi biaya dengan melakukan perubahan fisik seminimal mungkin, bangunan terutama fasad harus didesain ulang sejauh mungkin untuk dikembalikan ke fasad aslinya dan sesuai dengan persyaratan sebagai bangunan bergaya arsitektur Indische. Sebagai bagian dari bangunan cagar budaya di wilayah Kotabaru, rumah paroki baru hendaknya menampilkan gaya dan elemen arsitektur yang kontekstual. Selanjutnya, hasil rancangan diusulkan 3 alternatif dan disajikan dalam bentuk denah dan tampak bangunan.
RUANG KOMUNAL UNTUK KEBERLANJUTAN INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT MINANGKABAU Resky Annisa Damayanti; Elda Franzia Jasjfi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i2.669

Abstract

Abstract: Communal activity done by Minangkabau society until now. The need of communication and social activity with internal community and the change of places are meaningful to nation sustainability. Human needs to interior activities can be analyzed through cultural and interior design approach, to know the communal room’s role in Rumah Gadang and Minangkabau people’s house in urban area. This research aims to understand the concept of communal room in Rumah Gadang at West Sumatera including its meaning and philosophy, and to know the implementation of communal room in Minangkabau people’s house in urban area as social interaction sustainability of Minangkabau peoples nowadays. This research used qualitative method to describe the meaning, function, and philosophy of Rumah Gadang in Minangkabau and its sustainability in Minangkabau people’s houses in urban area. The data collecting method is documentation and interview with resources to know how they used the communal rooms in the Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung and two houses as study cases of this research. The result is description of Minangkabau people’s communal room in traditional Rumah Gadang to urban houses that carries Minangkabau philosophy in their implementation activities.Abstrak: Aktivitas komunal dilakukan oleh masyarakat Minangkabau sejak dulu hingga saat ini. Adanya kebutuhan masyarakat Minangkabau untuk tetap melakukan aktivitas komunikasi dan sosial bersama saudara sekaum, dan adanya perubahan tempat di mana kegiatan tersebut dilakukan merupakan kondisi sosial masyarakat Indonesia yang bermakna penting untuk keberlanjutan bangsa. Kebutuhan manusia dalam melakukan aktivitas di dalam ruang dapat dikaji melalui pendekatan budaya dan desain interior, sehingga dapat diketahui peran ruang komunal pada Rumah Gadang dan rumah tinggal masyarakat Minangkabau di perantauan. Penelitian ini dilakukan untuk memahami konsep ruang komunal pada Rumah Gadang di Sumatera Barat meliputi makna dan filosofinya, serta mengetahui bagaimana implementasi ruang komunal pada rumah tinggal orang Minangkabau perantauan sebagai bentuk keberlanjutan interaksi sosial masyarakat Minangkabau saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mendeskripsikan makna, fungsi dan falsafah ruang komunal Rumah Gadang di Minangkabau dan keberlangsungannya di rumah tinggal masyarakat Minangkabau di perkotaan. Data dikumpulkan dengan metode dokumentasi dan wawancara dengan narasumber untuk mengetahui pemanfaatan ruang komunal Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung dan dua buah rumah tinggal yang menjadi studi kasus penelitian ini. Hasil penelitian ini adalah deskripsi ruang komunal masyarakat Minangkabau dari Rumah Gadang tradisional ke rumah tinggal di perantauan yang masih membawa falsafah adat Minangkabau dalam implementasi penggunaannya.
RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA KELURAHAN PELINDUNG HEWAN (RUSUNAWA PELWAN) Renita Ayuandra Nurasili; Karto Wijaya; Amat Rahmat
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i3.1276

Abstract

Abstract: The rate of population growth in Indonesia is growing very rapidly, but this is not accompanied by the availability of adequate decent housing. Limited land in urban areas in Indonesia is one of the important issues behind the unavailability of decent housing for all groups. The decent housing that has been built offers prices that are not affordable for most people. This certainly needs to find a solution so that all people can still get decent housing by utilizing limited urban land, especially for people with middle to lower economic levels or Low Income Communities (MBR). Land efficiency by making residential terraces up or vertical can be a low-cost housing solution for MBR. Through the role of architecture in creating vertical settlements in the form of flats that meet standards, the concept of Pragmatic Architecture which prioritizes aspects of function over aesthetics is considered capable of answering the findings of certain problems that are real and measurable such as population density, limited land, allocation of funds, supporting facilities for the needs of daily residents. day, structure & construction and various other aspects. It is hoped that this functional design will be effective in improving the quality of life for the occupants of the flats in order to provide decent housing in limited urban land.Abstrak: Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia berkembang sangat pesat namun hal ini tidak diiringi dengan ketersediaan hunian layak yang memadai. Keterbatasan lahan di perkotaan di Indonesia menjadi salah satu isu penting dibalik tidak tersedianya hunian layak bagi semua kalangan. Adapun hunian layak yang terbangun menawarkan harga yang tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat. Hal ini tentu perlu dicari solusi agar seluruh kalangan masyarakat tetap mendapatkan hunian layak dengan memanfaatkan lahan perkotaan yang terbatas terkhusus bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah kebawah atau Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Efisiensi lahan dengan membuat hunian bersusun keatas atau vertikal dapat menjadi solusi hunian murah bagi MBR. Melalui peran arsitektur guna menciptakan pemukiman vertikal berupa rumah susun yang memenuhi standar, konsep Arsitektur Pragmatik yang memprioritaskan aspek fungsi diatas estetika dinilai mampu menjawab temuan permasalahan tertentu yang nyata adanya serta dapat diukur seperti kepadatan penduduk, keterbatasan lahan, pengalokasian dana, fasilitas penunjang kebutuhan penghuni sehari hari, struktur & konstuksi dan berbagai aspek lainnya. Harapan dari desain yang fungsional ini dapat efektif dalam meningkatkan kualitas hidup penghuni rumah susun dalam rangka memberikan hunian layak di keterbatasan lahan perkotaan.
ANALISIS PENGARUH BENTUK SERAMBI MASJID TERHADAP KENYAMANAN TERMAL ADAPTIF Abdul Qodir; Erni Setyowati; Suryono Suryono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v4i3.522

Abstract

This study examines the effect of the porch on the adaptive thermal comfort of mosques by taking 2 mosques that have different porch shapes with the specific purpose of obtaining data on the neutrality, acceptability and preferences of the mosque respondents' thermal conditions in the framework of developing adaptive thermal comfort standards for Indonesia. Measurement of physical environment variables is done by taking data on temperature, humidity, air velocity, and mean radiant temperature (MRT) at 2 mosques and at the same time the impression and thermal preference questionnaire data are taken, examination of clothing types and activities, and list of thermal environment controls to 40 respondents in each mosque. Data of thermal neutrality and thermal preferences were analyzed by regression analysis using SPSS 19 software, while thermal acceptance was analyzed based on the results of the questionnaire answers. The analysis showed that the neutrality value at Ulul Albab mosque was Tdb = 28.47 OC, ET * = 30.11 OC, SET * = 23.11 OC, TSENS = 1.17, DISC = -1.06, and PMV = -0.65, this data shows that the neutral condition desired by respondents is slightly below the average condition, while the neutrality in Nurul Ilmi mosque at Tdb = 30.27 OC, ET * = 31.65 OC, SET * = 29.05 OC, TSENS = 1.03, DISC = 1.68, and PMV = 1.22, this data also shows that the neutral conditions desired by respondents are slightly below average conditions. While the preference value at Ulul Albab mosque is Tdb = 22.25 OC, ET * = 28.62 OC, SET * = 24.24 OC, TSENS = 0.23, DISC = 0.23, and PMV = -0.60 and preference conditions at Nurul Ilmi mosque at Tdb = 29.11 OC, ET * = 31.17 OC, SET * = 28.50 OC, TSENS = 1.04, DISC = 1.45, and PMV = 1.03. As many as 92% of respondents in the Ulul Albab mosque can accept local thermal conditions in the temperature range of 27oC - 31oC. While 90% of respondents in the Nurul Ilmi mosque can accept local thermal conditions in the temperature range of 27oC-32oC. The results of the neutrality, acceptance and preference analysis show that the Ulul Albab mosque is better than the Nurul Ilmi mosque.
IMPLEMENTATION OF NET-ZERO ENERGY BUILDING CONCEPT IN THE DESIGN FACADE ARCHITECTURE BUILDINGS IN CENTRAL JAVA Khansa Nur Ghaasyiyah; Dedes Nur Gandarum; Rita Walaretina
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i1.679

Abstract

Abstract: Issues relating to conventional energy and environmental sustainability is a hot topic that has been often discussed in today's developing world. Researchers have predicted that in the coming years, numerous non-renewable resources would be scarcer and harder to get access to. This phenomenon would cause a detrimental influence on energy use in the future, resulting in the need for the development of alternative energy resources and implementation of energy conservation energy efficiency policies in every construction design. One of the most essential elements in constructions that have great influence in resolving this problem is the construction facades. Therefore, this research will focus on types of construction facade designs using the NZEB concept approach. The methodology used in this research is analytical descriptive by using case studies that relate to the construction of Net-Zero Energy Building, namely: BCA Academy, ENERPOS, PT. Ungaran Sari Garments, NUS School of Design & Environment 4, dan CIC Zero Carbon Park. The purpose of this research is to identify various types of innovation façade designs of NZEB technologies that could be applied in construction that resides in Central Java considering the area has a tropical climate. This research also proves that construction that resides in warm climates prefers to use technologies that could prevent and reduce the fallout of sun radiation towards its buildings without sacrificing any natural light and takes advantage of the wind to minimalize the usage of frosting energy in buildings.Abstrak Isu mengenai krisis energi konvensional dan kelestarian lingkungan menjadi perhatian khusus yang marak diperbincangkan dalam perkembangan dunia saat ini. Telah diprediksi oleh sejumlah ilmuan bahwa dalam beberapa tahun kedepan, sumber-sumber alam tak terbarukan akan sulit dan langka untuk dikonsumsi. Masalah ini akan menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap penggunaan energi di masa depan, sehingga diperlukannya pengembangan teknologi yang dapat menghasilkan sumber-sumber energi alternatif terbarukan dan implementasi kebijakan efisiensi energi di setiap rancangan bangunan. Elemen penting pada bangunan yang memiliki pengaruh besar dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah fasad bangunan. Maka penelitian ini difokuskan pada macam-macam desain fasad bangunan dengan Konsep NZEB. Metodologi yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif analitis dengan menggunakan studi kasus bangunan Net-Zero Energy Building, yaitu gedung BCA Academy, ENERPOS, PT. Ungaran Sari Garments, NUS School of Design & Environment 4, dan CIC Zero Carbon Park. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasikan berbagai macam inovasi desain fasad teknologi NZEB yang dapat diterapkan pada bangunan di Jawa Tengah yang iklim tropis basah. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa bangunan di daerah beriklim panas lebih menggunakan teknologi yang dapat mencegah atau mengurangi jatuhnya radiasi matahari pada bangunan tanpa mengorbankan pencahayaan alami dan memanfaatkan angin untuk meminimalisir penggunaan energi pendingin pada bangunan.
PENGGUNAAN SIMULASI DESKTOP RADIANCE PADA KONFIGURASI BENTUK BUKAAN Nova Asriana; Dewi Rachmaniatus Syariyah
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i2.629

Abstract

Abstract: The usage of daylight in a room or building during the day is a wide strategy for illuminating the room naturally without artificial lighting services so that it can reduce the energy consumption of building. In addition, the use of daylight aims to enhance the quality of spatial visualization, vision health, environmental comfort, and increase the performance of user productivity in the room. This research will discourse about the amount of light get into room to identify how much the daylight can be useful and captured by human sight’s perception through a radiance simulation camera which will be translated into realistic images. This simulation is experimental-based that include two phases, namely the configuration of alternative openings and draws light according to the perception of user’s vision, then the set of radiance simulation based on scripting to generate the realistic images. Based on this simulation, the amount of daylight is influenced by source, quantity, position, area of openings and the building orientation or building. The amount of light intensity also affects the visual comfort of users who have activities in the room. The result of this simulation is to identify the room that generates daylight area and non-daylight area to decrease the artificial lighting.Abstrak: Pemanfaatan pencahayaan alami (daylight) pada sebuah ruangan dan bangunan di siang hari merupakan salah satu strategi desain untuk menerangi ruangan secara alami tanpa bantuan cahaya buatan sehingga dapat mengurangi konsumsi energi pada bangunan. Selain itu juga, permanfaatan pencahayaan alami (daylight) bertujuan untuk meningkatkan kualitas visual dalam ruangan, kesehatan indera penglihatan, kenyamanan lingkungan dan meningkatkan produktivitas kinerja pengguna bangunan. Pada penelitian ini akan membahas mengenai besaran cahaya yang masuk ke dalam suatu ruangan untuk melihat seberapa besar pencahayaan alami yang masuk dan ditangkap dalam suatu persepsi indera penglihatan manusia melalui kamera simulasi radiance yang diwujudkan ke dalam foto realistik. Simulasi ini dilakukan dengan metode berbasis eksperimen mandiri (experimental-based) yang terdiri dua tahap, yaitu tahapan konfigurasi bentuk bukaan dan draw light berdasarkan persepsi indera penglihatan peneliti, kemudian dilanjutkan dengan simulasi radiance berbasis scripting untuk menghasilkan foto realistik. Berdasarkan hasil simulasi ini, besarnya cahaya alami yang masuk ke dalam ruangan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sumber bukaan, jumlah bukaan, posisi bukaan, besaran bukaan, dan orientasi ruangan atau bangunan. Besarnya intensitas cahaya yang masuk juga akan mempengaruhi kenyamanan visual bagi pengguna yang beraktivitas dalam ruangan tersebut. Hasil dari penelitian ini untuk melihat konfigurasi mana yang menghasilkan sebagian area daylight dan area non-daylight yang cukup merata untuk menghindari bantuan cahaya buatan.
PENGARUH LOKASI BANGUNAN TERHADAP BENTUK DAN KONSTRUKSI RUMAH TRADISIONAL DI JAWA BARAT Andi Harapan
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i3.840

Abstract

Abstract:. West Java has so many topographical area, such as highland (mountain), low land (valley) and coastal area. All of these areas have differently influenced the typology of building system, which coming from their knowledge of local material, cultures, and technology, which have been delivered from their generation.  The knowledge has been developed by times with trial and error process and become the local knowledge of this area (specific area). This paper will be elaborating the buildings (houses) on this 3 topographical area, with focusing on 3 systems of the building (house): lower, upper, and middle system. 3 parts of these building have been observed and created to propose the mapping of construction joint system. On this paper, the map of contraction system (which related to the area) has been explored on 3 traditional villages in West Java: Panjalin village at Majalengka District (located at coastal area), Cikondang village at Bandung District (located at highland area), and Mahmud Village at Bandung District (located at lowland area).Abstrak: Jawa Barat mempunyai geografis yang beragam, terdiri dari area pantai, dataran tinggi (pegunungan) dan dataran rendah. Kondisi geografis yang beragam ini, dihuni oleh masyarakat Jawa Barat yang memberikan ciri khas tersendiri dimana kehidupan tersebut berada, khususnya untuk masyarakat perkampungannya. Uniknya di Jawa Barat terdapat berbagai jenis bangunan tradisional yang mencirikan masyarakatnya, misalnya bangunan tradisional masyarakat di pantai, bangunan tradisional masyarakat di dataran rendah, dan bangunan tradisional masyarakat di dataran tinggi (pegunungan). Untuk itu, pada tulisan ini dilakukan pemetaan bangunan tradisional yang mewakili ketiga area tersebut, dengan melakukan pengamatan dan pengukuran bangunan. Pemetaan dilakukan pada 3 (tiga) lokasi yaitu kampung Panjalin–kabupaten Majalengka (yang mewakili area pantai), Kampung Cikondang–Kabupaten Bandung (yang mewakili area dataran tinggi (pegunungan), dan kampung Mahmud–Kabupaten Bandung (yang mewakili area dataran rendah). Setiap area mempunyai keunikan tersendiri, tetapi juga mempunyai persamaan, seperti konfigurasi bangunan, bentuk fisik bangunan, material, dll, tetapi ada juga perbedaan diadalam dimensi dan beberapa detail bangunan.
IDENTIFIKASI LOGIKA-LOGIKA ARSITEKTUR BERKELANJUTAN DALAM PENELITIAN DAN PRAKTEK BERARSITEKTUR Yanuarius Benny Kristiawan; Sidhi Pramudito
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i1.749

Abstract

Abstract: Architecture is part of the overall process of the building and construction industry. The latest report by the World Green Building Council (WGBC) in 2019 states that buildings and construction are responsible for 39% of carbon emissions in the world. Therefore, the vision for 2050 needs to be supported by various research actions and their application in sustainability-related architecture. Simon Guy's writings about the practice of sustainable architecture that cannot be seen as a mere technological solution become the basis for inspiration on what types of research have been carried out. Architectural works analysis needs a more pluralistic view. Based on Simon Guy's research, a literature study using a rationalistic research paradigm with a quantitative deductive method was carried out. It is hoped that opportunities for design theme activities, research, and other activities with the theme of sustainable architecture can be identified. Based on the analysis of the six logics of sustainable architecture themes, there are still opportunities for studies in the eco-centric and eco-aesthetic fields. There is a finding that critical regional dimensions in sustainable architectural practice need to be clearly stated. At a more strategic level, the procurement of locally available materials and local development practices would be more profitable when considering the workforce's skills to reduce the negative impact of the ecological footprint on construction projects. The Socio-Cultural theme approach in solving energy problems and sustainable architecture is an essential issue in managing the future.Abstrak: Laporan terbaru World Green Building Council (WGBC) tahun 2019 menyebutkan bahwa bangunan dan konstruksi bertanggungjawab terhadap 39% emisi karbon di dunia. Visi untuk tahun 2050 perlu didukung dengan berbagai tindakan penelitian dan penerapannya dalam bidang arsitektur yang terkait dengan keberlanjutan. Tulisan Simon Guy tentang praktek arsitektur berkelanjutan yang tidak bisa dipandang sebagai pemecahan teknologi semata menjadi pijakan untuk menjadi inspirasi tentang jenis riset apa saja yang telah dilakukan. Pandangan yang lebih pluralistik dibutuhkan dalam menganalisis karya arsitektur. Penelitian studi pustaka ini berdasarkan tulisan Simon Guy yang menggunakan paradigma penelitian rasionalistik dengan metode deduktif kuantitatif. Diharapkan teridentifikasi peluang kegiatan bertema desain, penelitian dan kegiatan lain yang bertemakan arsitektur berkelanjutan. Berdasar analisis enam logika-logika tema arsitektur berkelanjutan, terbuka peluang yang lebih luas pada kajian-kajian bidang eco-centric dan eco aesthetic. Terdapat temuan bahwa dimensi regional yang penting dalam praktek arsitektur berkelanjutan harus dinyatakan dengan jelas. Pada tingkat yang lebih strategis pengadaaan bahan lokal yang tersedia dan praktek pembangunan daerah akan lebih menguntungkan apabila mempertimbangkan keterampilan tenaga kerja untuk mengurangi dampak negatif dari sisi jejak ekologis pada proyek konstruksi. Pendekatan tema Sosio-Kultural dalam menyelesaikan permasalahan energi dan arsitektur berkelanjutan menjadi isu penting dalam menata masa depan.