cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
kartowijaya@universitaskebangsaan.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arcade@universitaskebangsaan.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
Published by Universitas Kebangsaan
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Architecture Journal A R C A D E is Open Journal System published by Prodi Architecture Kebangsaan University, Bandung. Architectural Journal A R C A D E is, is a peer-reviewed scientific journal, publishing scholarly writings about Architecture and its related discussion periodically. The aims of this journal is to disseminate research findings, ideas, and review in architectural studies SCIENTIFIC AREAS: Building (architecture) and Urban/Regional Study: theory, history, technology, landscape and site planning, behavioral, social and cultural, structure and construction, traditional architecture, criticism, digital architecture, urban design /planning, housing and settlements, and other related discussion Architecture Education and Practice: curriculum/studio development, work opportunities and challenges, globalization, locality, professionalism, code of ethics, project managerial etc. Architectural Journal A R C A D E is published 3 times a year in March, July and November every last date of the month.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
ANALISIS LUAS BANGUNAN DAN FAKTOR SEKUNDER PENENTU KENYAMANAN RUMAH TINGGAL SEDERHANA Hatta Musthafa Adham Putra; Bhanu Rizfa Hakim
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i1.608

Abstract

Abstract: Demand of simple housing is growing rapidly as the population increases. Especially for simple housing for residents who run the National Family Planning Program. In principle, a house is not only a place of shelter but a place for various activities of each individual resident of the house so that it will be related to the ideal area. The simple residence has an area of 21 sqm, 36 sqm, 45 sqm and 60 sqm. A certain area of residence will affect the comfort level of residents in their activities. The research will use qualitative and quantitative descriptive methods in analyzing the comfort level of the area to the comfort level of the occupants in activities as seen from the size, shape and function of the space. This research will produce the ideal house area for residents of the Family Planning Program, as well as external factors that affect the comfort of the house.Abstrak: Kebutuhan rumah tinggal sederhana berkembang pesat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Khususnya kebutuhan rumah sederhana bagi penghuni yang menjalankan Program Keluarga Berencana Nasional. Rumah tinggal pada prinsipnya bukan hanya menjadi tempat bernaung melainkan sebagai wadah untuk berbagai aktifitas setiap individu penghuni rumah sehingga akan berkaitan dengan luasan ideal. Rumah tinggal sederhana memiliki luasan dari 21 m2, 36 m2, 45 m2, dan 60 m2. Luasan rumah tinggal tertentu akan mempengaruhi tingkat kenyamanan penghuni dalam beraktifitas. Penelitian akan menggunakan metode deskriftif kualitatif dan kuantitatif dalam menganalisa tingkat kenyamanan luasan terhadap tingkat kenyaman penghuni dalam beraktifitas yang dilihat dari luasan, bentuk, dan fungsi-fungsi ruang. Penelitian akan menghasilkan luasan rumah ideal bagi penghuni Program Keluarga Berencana, serta faktor-faktor eksternal yang berpengaruh terhadap kenyamanan rumah tinggal.
KINERJA FASILITAS KOMERSIAL STASIUN KERETA API : PERSEPSI VS HARAPAN Dewi Rachmaniatus Syahriyah; Nova Asriana
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i2.613

Abstract

Abstract: The operation of railway station facilities prioritizes comfort, security and safety. In addition, the station also has high commercial value with commercial facilities. The role of users in commercial facilities as visitors to commercial facilities is very important. This relates to the level of comfort and satisfaction felt by visitors. This research will discuss about the performance of commercial facilities in order to get a railway station commercial facility arrangement that can adjust the level of comfort and user satisfaction. The level of comfort is indicated by the value of the visitor's perception, while the level of satisfaction is indicated by the value of visitor expectations of the railway station commercial facilities. Quantitative analysis was performed using the quadrant analysis method. The selected case studies are Bandung Station and Kiaracondong Station. The results of the analysis show that there are two important elements in the arrangement of commercial facilities for the railway station, namely disability facilities and family facilities. The results of this analysis are expected to be the basis for the planning of the railway station commercial facilities.Abstrak: Penyelenggaraan sarana transportasi kereta api sangat memprioritaskan kenyamanan, keamanan dan keselamatan operasional. Selain dari sisi pelayanan transportasi, stasiun juga memiliki nilai komersial yang tinggi dengan adanya fasilitas komersial. Peran pengguna fasilitas komersial yaitu pengunjung fasilitas komersial sangatlah penting. Hal ini berkaitan dengan tingkat kenyamanan dan kepuasan yang dirasakan oleh pengguna fasilitas komersial. Pada penelitian ini akan membahas mengenai tingkat kinerja fasilitas komersial stasiun kereta api guna mendapatkan penataan fasilitas komersial stasiun kereta api yang dapat memenuhi tingkat kenyamanan dan kepuasan pengguna. Tingkat kenyamanan ditunjukkan dengan nilai persepsi pengunjung, sedangkan tingkat kepentingan ditunjukkan mencari nilai harapan pengunjung terhadap fasilitas komersial stasiun kereta api. Analisis dilakukan secara kuantitatif dengan metode analisis kuadran important performance analysis. Studi kasus yang dipilih adalah Stasiun Bandung dan Stasiun Kiaracondong. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat dua elemen penting dalam penataan ini, yaitu fasilitas disabilitas dan fasilitas ibu dan anak.  Hasil analisis ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam rencana penataan fasilitas komersial stasiun kereta api.
TIPOLOGI GEOMETRI BANGUNAN MEUNASAH DI KECAMATAN INDRAJAYA KABUPATEN PIDIE, ACEH Soraya Masthura Hassan; Fahmi Fefriandi; Cut Azmah Fithri; Sisca Olivia
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i3.746

Abstract

Abstract: The function of the meunasah in the social system of the Acehnese people is a place of worship, a center for religious and cultural education and is also a place to discuss social problems that occur in community life in the village. The search for characters is important to find typology of meuansah, so that the relationship between geometric typology and shape has a broad interpretation. The search for shape characters to find typology of meunasah in Indrajaya District, Pidie Regency, Aceh was carried out in 5 stages, (1) determine the location of the meunasah building sample points in 52 villages in Indrajaya District, (2) literature review, (3) collecting data on the object of research by measuring the meunasah building, (4) redrawing the meunasah measurements that have been carried out at the data collection stage using digital applications to produce data, namely the meunasah floor plans and facades in each village and the last stage is (5) analysis of determining the type with a geometric approach with architectural elements of the meunasah building facades, namely doors, columns, windows, walls, roofs, floors and terrace fences. The findings consist of 16 types of meunasah typology with similarity criteria of typology variable forms.Abstrak: Keberadaan bangunan meunasah dalam sistem sosial masyarakat Aceh berfungsi sebagai tempat ibadah, pusat Pendidikan kegamaan dan kebudayaan dan juga merupakan tempat untuk mendiskusikan berbagai permasalahan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat di gampong tersebut. Pencarian terhadap karakter menjadi penting untuk menemukan tipologi dari meunasah, sehingga katerkaitan tipologi geometri dengan bentuk memiliki intepretasi yang luas. Pencarian karakter bentuk untuk mememukan tipologi dari meunasah di Kecamatan Indrajaya Kabupaten Pidie, Aceh dilakukan melalui 5 tahap yaitu (1) menentukan lokasi titik sampel bangunan meunasah di 52 gampong di Kecamatan Indrajaya, (2) penguatan referensi, (3) pengumpulan data objek penelitian dengan cara pengukuran bangunan meunasah, (4) menggambar ulang pengukuran meunasah yang telah dilakukan pada tahap pengumpulan data menggunakan aplikasi digital untuk menghasilkan data yaitu gambar denah dan tampak meunasah di setiap gampong dan tahap yang terakhir adalah (5) analisis menentukan tipe dengan pendekatan geometri dengan variabel elemen arsitektural dari fasad bangunan meunasah antara lain pintu, kolom, jendela, dinding, atap, lantai dan pagar teras. Penemuan berupa 16 tipe dari tipologi meunasah dengan kriteria kesamaan dan kemiripan dari bentuk variabel tipologi. 
PENINGKATAN KUALITAS WALKBILITY DI RUAS JALAN H.Z. MUSTOFA KOTA TASIKMALAYA Dicky Nurmayadi; Farhan Sholahudin
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i1.883

Abstract

Abstract: Walkability is an innovation concept in creating pedestrian path facilities that prioritize pedestrian comfort and minimize air pollution levels. The purpose of this study is to identify the application of the walkability concept in Tasikmalaya City, especially the H.Z. Musthofa to support the City of Tasikmalaya as a productive and sustainable city. The research uses a literature study methodology or literature review by reviewing books and journals related to walkability and other literature such as news and regulations. The results show that the application of the concept of walkability in Tasikmalaya City in realizing Tasikmalaya City as a productive and sustainable city is still very low when viewed from several global walkability index indicators. In realizing the City of Tasikmalaya as a pedestrian-friendly city, there are still some obstacles, such as the misuse of pedestrian paths as parking lots or as places or stalls for Street Vendors (PKL).Abstrak: Walkability merupakan sebuah konsep inovasi dalam menciptakan fasilitas jalur pedestrian yang mengutamakan kenyamanan pejalan kaki dan meminimalisir tingkat polusi udara.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penerapan konsep walkablility di Kota Tasikmalaya khususnya Ruas Jalan H.Z. Musthofa untuk mendukung Kota Tasikmalaya sebagai kota yang produktif dan berkelanjutan. Penelitian menggunakan metodologi studi kepustakaan atau literature review dengan menelaah buku dan jurnal terkait walkability serta litelature lainnya seperti berita dan regulasi. Hasil penelitian menunjukkan penerapan konsep walkability di Kota Tasikmalaya dalam mewujudkan Kota Tasikmalaya sebagai kota yg produktif dan berkelanjutan masih sangat rendah apabila dilihat dari beberapa indikator global walkability index. Dalam mewujudkan Kota Tasikmalaya sebagai Kota yang ramah bagi pejalan kaki masih ditemui beberapa hambatan seperti halnya penyalahgunaan jalur pedestrian sebagai lahan parkir maupun dijadikan tempat atau lapak Pedagang Kaki Lima (PKL).
POTENSI VISUAL DAN STORYTELLING EKOWISATA BUKIT PANGONAN DI ERA DIGITAL Basuki Basuki
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i2.963

Abstract

Obyek wisata Bukit Pangonan Kabupaten Banyumas mempunyai potensi dalam pengembangan tujuan wisata yang hijau, sehat, alami dan lokal di era digital. Potensi visual tidak hanya terkait dengan estetika, namun juga nilai dan makna yang lebih luas, seperti: kebahagiaan, pengalaman, pengetahuan, kenangan (memori), konektivitas sosial, bahasa dan aktualisasi diri dalam bentuk narasi cerita (storytelling). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi visual obyek wisata bukit Pangonan Kabupaten Banyumas. Potensi visual yaitu visual yang unik dan bernilai dari obyek wisata tersebut. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif eksploratif melalui studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terbuka (open-ended), wawancara dan studi dokumen dari berbagai sumber yang terpublikasi maupun yang tidak terpublikasi. Data kemudian diolah secara kualitatif dengan metode open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menemukan bahwa potensi visual fisik kawasan wisata Bukit Pangonan adalah:  view diatas bukit, wisata hijau-sehat-alami, dan wisata lokal. Faktor-faktor tersebut merupakan faktor unik dan bernilai yang dapat menciptakan sense of place Bukit Pangonan. Namun demikian, utilitas marjinal akan semakin menurun seiring dengan intensitas kunjungan, sehingga peran kreativitas diperlukan untuk memperkuat potensi visual branding kawasan
TIPOLOGI SETTING RUANG RUMAH PRODUKSI BATIK DI KAWASAN KAMPUNG BATIK BABAGAN LASEM Aprilia Dwiki Harsanti; Edward E. Pandelaki; Edi Purwanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i3.1210

Abstract

Abstract: Lasem City is a city that is one of the cities that has a distinctive Batik in Indonesia, the batik center in Lasem is in Babagan Village. Babagan Batik Village is a unique batik village, where in 13 centuries ago Chinese people came and settled here so as to form cultural acculturation. This cultural acculturation causes a physical change that occurs in the buildings there, which are related to Batik Production. This underlies the typology of spatial settings in the Batik Production House building.This study aims to find out the Spatial Setting and Typology of the Batik Industry building located in Babagan Lasem Batik Village. In this study, the approach taken is descriptive qualitative method, which describes the relationship between data and findings qualitatively, grounded theory is used as a basis for finding gaps with field conditions. From the results of the analysis, it is found that in the batik production building there are several developments in typology and spatial settings, in the setting there are fixed, semi-fixed, non-fixed components as forming spaces, while based on typology it can be categorized as determining the basic form, determining the basic nature, and studying the development process.Keyword: Babagan Batik House, Spatial Setting, Typology.Abstrak: Kota Lasem adalah kota yang menjadi salah satu kota yang memiliki ke Khasan Batik di Indonesia, sentra batik yang ada di Lasem berada di Desa Babagan. Kampung Batik Babagan merupakan perkampungan batik yang unik, dimana pada 13 abad yang lalu orang-orang China dating dan menetao disini sehingga membentuk akulturasi budaya. Akulturasi budaya ini menimbulkan suatu perubahan fisik yang terjadi pada bangunan yang ada di sana, yang berkaitan dengan Produksi Batik. Hal ini mendasari tipologi setting ruang yang ada pada bangunan Rumah Produksi Batik.Penelitian ini memiliki tujuan untuk dapat mengetahui Setting Ruang dan Tipologi pada bangunan Industri Batik yang berada di Kampung Batik Babagan Lasem. Dalam penelitian ini pendekatan yang diambil adalah metoda deskriptif kualitatif yaitu mendeskripsikan antara hubungan data dan temuan secara kualitatif, grounded teori dipakai sebagai landasan mencari kesenjangan dengan kondisi lapangan. Dari hasil analisis didapat bahwa pada bangunan produksi batik terdapat beberapa pengembangan secara tipologi dan setting ruang, pada setting terdapat komponen fix, semi fix, non fix sebagai pembentuk ruang, sedangkan berdasarkan tipologi dapat dikategorikan menentukan bentuk dasar, menentukan sifat dasar, dan mempelajari proses perkembangan.Kata Kunci: Rumah Batik Babagan, Setting Ruang. Tipologi.
ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL DI KAWASAN KAMPUNG KAPITAN PALEMBANG A. Malik Abdul Aziz; R. Siti Rukayah; Wijayanti Wijayanti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v4i3.484

Abstract

Kampung kapitan merupakan sebuah kampung etnis tionghoa yang ada di kota Palembang. Kampung ini berdiri setelah berakhirnya masa pemerintahan Kesultanan Palembang dikarenakan penjajahan Belanda pada tahun 1821. Disini dibangunlah rumah-rumah yang menjadi kediaman masyarakat Cina. Hal ini menciptakan sebuah kawasan permukiman yang dimana dipengaruhi oleh tiga budaya yaitu budaya Cina, Belanda, dan Palembang. Pencampuran budaya ini membuat kawasan ini memiliki ciri khas rumah tradisional yang unik jika dibandingkan dengan rumah limas tradisonal Palembang pada umumnya. Akan tetapi identitas rumah tradisional ini terancam semakin menghilang karena kurangnya perawatan rumah dari pemilik rumah. Walau beberapa rumah sudah terdaftar sebagai bangunan cagar budaya nasional, masih kurangnya tindakan dari pemerintah daerah untuk mengkonservasi rumah-rumah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi arsitektur rumah tradisional di kawasan Kampung Kapitan sebagai dokumentasi yang bermanfaat untuk kajian koservasi bangunan bersejarah. Metode penelitian yang digunakan adalah diskriptif kualitatif yang dimana dilakukannya survei lapangan lalu didukung dengan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya pencampuran langgam budaya pada elemen bangunan pola ruang, fasad, bahan bangunan, sistem konstruksi, dan ornamen di rumah tradisional Kampung Kapitan
STUDI PENERAPAN DESAIN UNIVERSAL TERHADAP AKSESIBILITAS PASIEN DENGAN KETERBATASAN FISIK DI RSUD DR ISKAK
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i1.617

Abstract

The accessibility of the hospital building design in Indonesia has not been accommodated optimally. The guidelines regarding the universal design standards arranged by the government have not been implemented as a full assemble, considering hospitals are places where the patients may experience various physical conditions. Patients might need assistive aids such as canes, crutches, walkers, wheelchairs, and gurney to support their mobility, along with the helper. The existing elements of hospital buildings are supposed to be part of the accessibility standards thus the patients and their helpers could access facilities and circulations conveniently. The universal designs are vitals, especially at the Outpatient Installation. It requires comprehensive accessibility due to the various backgrounds of the outpatients. The objective is to investigate the accessibility level of patients according to the existing implementation of the universal design guidelines in the hospitals. The case study is conducted at the Instalasi Rawat Jalan zone of RSUD dr. Iskak. This research is performed by using the quantitative descriptive method while the questionnaires are analyzed by using the statistic descriptive analysis approach. The result suggested that the hospital has not implemented the universal design guidelines as a whole while most parameters are part of the accessibility standards.Ketersediaan aksesibilitas pada desain bangunan gedung rumah sakit di Indonesia masih belum terakomodasi optimal. Kebijakan mengenai standar desain universal yang ditetapkan oleh pemerintah belum tegas diterapkan secara menyeluruh. Apalagi jika terkait dengan rumah sakit yang memiliki karakter berbeda dari bangunan publik yang lainnya, mengingat bahwa pengguna adalah orang yang memiliki bermacam-macam keterbatasan fisik, kemudian membutuhkan alat bantu seperti tongkat, kruk, walker, kursi roda dan brankart untuk mendukung mobilitasnya, beserta dengan orang lain yang mendampingi. Elemen bangunan rumah sakit yang ada harusnya masuk parameter aksesibilitas standar agar pasien dan pendampingnya tidak menemui hambatan sirkulasi dan fasilitas. Desain universal sangat penting diaplikasikan, apalagi di instalasi rawat jalan karena banyaknya ragam pasien yang berobat jalan sehingga aksibilitas yang menyeluruh sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat aksesibilitas pasien berdasarkan pada penerapan prinsip desain universal di rumah sakit. Lokasi studi dilakukan pada zona Instalasi Rawat Jalan RSUD dr. Iskak. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Data kuesioner dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan data observasi menggunakan analisis deskriptif. Hasil analisis menyatakan bahwa rumah sakit belum menerapkan prinsip desain universal secara menyeluruh dan sebagian besar masuk dalam parameter aksesibilitas sebagian standar.
PENGARUH AKTIVITAS MASYARAKAT TERHADAP PEMANFAATAN RUANG TERBUKA, (Studi Kasus Lapangan Minggiran Kota Yogyakarta) Dwiani Intan Kartika Putri; Suzanna Ratih Sari
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i2.704

Abstract

Abstract: The existence of open space provides a function of comfort to gather and release saturation with various other communities. The purpose of this research is to determine the influence of community activities in the open space of  Lapangan Minggiran between visitors, sellers and the government officials. This research used rationalistic qualitative research, qualitative analysis with description to analyse the object to the condition in the research field. Data analysis used in the result of interviews from various age group using tables and the result were analysed descriptively. The result showed that through interviews and questionnaires of various age groups it was known that the result of the influence of activity patters, which occurred in open spaces are inadequate and lack arrangement in the area.Abstrak: Keberadaan ruang Terbuka memberikan fungsi kenyamanan untuk berkumpul dan melepas kejenuhan dengan berbagai masyarakat yang lain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh aktivitas masyarakat di ruang terbuka Lapangan Minggiran antara pengunjung, penjual, petugas pemerintah. Metode digunakan adalah penelitian kualitatif rasionalistik, kualitatif analisis dengan deskriptif untuk menganalisa suatu objek dengan kondisi di lokasi penelitian.Analisis data menggunakan hasil wawancara dari berbagai golongan umur menggunakan tabel kemudian hasilnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan melalui wawancara dan kuisoner berbagai golongan umur diketahui bahwa hasil dari pengaruh pola aktivitas, yang terjadi di ruang terbuka kurang memadai,kurangnya penataan dalam kawasan.
POST OCCUPANCY EVALUATION OF ACCESSIBLITY FOR DISABILITIES IN PLAZA MULIA SAMARINDA Mafazah Noviana; Zakiah Hidayati
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i3.806

Abstract

Abstract: Shopping center is one of the public facilities visited by various people, it should provide facilities that pay attention to accessibility, namely the facilities provided for everyone, including people with disabilities to realize equal opportunities in all aspects of life. Problems that are often encountered in shopping center facilities are that they are not yet fully easy to use by persons with disabilities, making it difficult for them to carry out their shopping activities. it in all fields. This study aims to evaluate the accessibility of persons with disabilities at shopping centers in Samarinda with a case study of Plaza Mulia,. This research is a Post-Occupational Evaluation (EPH) to determine the level of success of a building's performance in providing satisfaction to its users, using quantitative and qualitative mixed methods. The results showed that the percentage of the overall conformity of the building to the standards of Permen PUPR No. 14/PRT/M/2017 is 71.45%, which means the building has good accessibility. However, there is still a very low percentage if you look at each aspect, in diffable toilet and urinals.Abstrak: Pusat perbelanjaan merupakan salah satu fasilitas publik yang banyak di kunjungi oleh beragam orang, seharusnya perlu menyediakan fasilitas yang memperhatikan aksesibilitas yaitu kemudahan yang disediakan bagi semua orang, termasuk penyandang disabilitas untuk mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan. Permasalahan yang seringkali ditemui di fasilitas pusat perbelanjaan yaitu belum sepenuhnya mudah digunakan oleh penyandang disabilitas, sehingga menyulitkan mereka dalam menjalankan aktivitas berbelanja. Pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan yang berkaitan dengan aksesibilitas fasilitas publik, namun pada pelaksanaannya pemerintah daerah masih belum sepenuhnya memperhatikan penyediaan fasilitas-fasilitas aksesibilitas pada semua bidang. Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi terhadap aksesibilitas penyandang disabilitas pada pusat perbelanjaan di Samarinda dengan studi kasus Plaza Mulia. Penelitian ini adalah Evaluasi Purna Huni (EPH) untuk mengetahui tingkat keberhasilan kinerja suatu bangunan dalam memberi kepuasan terhadap penggunanya, dengan menggunakan metode gabungan (mixed methods) kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kesesuaian bangunan secara keseluruhan terhadap standar Permen PUPR No. 14/PRT/M/2017 sebesar 71,45 %, yang berarti bangunan sudah cukup baik aksesibilitasnya. Tetapi masih terdapat persentase yang sangat rendah jika dilihat tiap aspeknya yaitu pada toilet difabel dan urinoir.