cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
kartowijaya@universitaskebangsaan.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arcade@universitaskebangsaan.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
Published by Universitas Kebangsaan
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Architecture Journal A R C A D E is Open Journal System published by Prodi Architecture Kebangsaan University, Bandung. Architectural Journal A R C A D E is, is a peer-reviewed scientific journal, publishing scholarly writings about Architecture and its related discussion periodically. The aims of this journal is to disseminate research findings, ideas, and review in architectural studies SCIENTIFIC AREAS: Building (architecture) and Urban/Regional Study: theory, history, technology, landscape and site planning, behavioral, social and cultural, structure and construction, traditional architecture, criticism, digital architecture, urban design /planning, housing and settlements, and other related discussion Architecture Education and Practice: curriculum/studio development, work opportunities and challenges, globalization, locality, professionalism, code of ethics, project managerial etc. Architectural Journal A R C A D E is published 3 times a year in March, July and November every last date of the month.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
JALUR PEDESTRIAN SEBAGAI UNSUR FISIK PEMBENTUK KARAKTER VISUAL KORIDOR JALAN DIPONEGORO SALATIGA Reivandy Christal Joenso; Edi Purwanto; Wijayanti Wijayanti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i1.696

Abstract

Abstract: Diponegoro Street is one of the main roads in Salatiga City which has a pedestrian lane with its own characteristics and can be a different identity from other roads. This characteristic can be seen in the presence of vegetation in the form of a row of large trees on the pedestrian path so that it can visually give character to the corridor of Jalan Diponegoro. In addition, the pedestrian revitalization carried out by the Salatiga City Government on Jalan Diponegoro looks quite interesting because visually it can provide perceptions that can influence the visual character of Jalan Diponegoro.. The purpose of this study was to determine the effect of pedestrian ways elements on the visual character of the corridor. The method used is an exploratory descriptive approach where the researcher acts as the main instrument in exploring and analyzing field data. The results showed that the pedestrian ways had a strong effect on the visual character formation of the corridor of Jalan Diponegoro Salatiga as a Dutch Colonial heritage area. The elements of pedestrian paths that have a strong influence are the elements of sidewalks, lighting, trash cans, seating, and vegetation. The existence of strong dominance in these elements is strengthened by the continuity of the Jalan Diponegoro Salatiga corridor so that it has a strong influence on the visual character of the corridor.Abstrak: Jalan Diponegoro merupakan salah satu jalan utama di Kota Salatiga yang memiliki jalur pedestrian dengan ciri khas tersendiri dan dapat menjadi identitas yang membedakannya dengan jalan lainnya. Ciri khas tersebut dapat dilihat dengan keberadaan vegetasi berupa deretan pohon besar di jalur pedestrian sehingga secara visual dapat memberikan karakter pada koridor Jalan Diponegoro. Selain itu, adanya revitalisasi jalur pejalan kaki yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Salatiga di Jalan Diponegoro terlihat cukup menarik karena secara visual dapat memberikan persepsi yang dapat mempengaruhi karakter visual Jalan Diponegoro. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh elemen-elemen alur pejalan kaki terhadap karakter visual koridor. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif eksploratif dimana peneliti berperan sebagai instrumen utama dalam menggali dan menganalisis data lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jalur pejalan kaki berpengaruh kuat terhadap pembentukan karakter visual koridor Jalan Diponegoro Salatiga sebagai kawasan peninggalan Kolonial Belanda. Elemen jalur pejalan kaki yang memiliki pengaruh kuat adalah elemen trotoar, lampu penerangan, tempat sampah, tempat duduk, dan vegetasi. Adanya dominasi yang kuat pada elemen-elemen tersebut diperkuat dengan adanya kontinuitas pada koridor Jalan Diponegoro Salatiga sehingga memberikan pengaruh yang kuat terhadap karakter visual koridor.
MODEL KULINER WISATA BAHARI UNTUK PENINGKATAN PEMBERDAYAAN EKONOMI DESA TAMBAKBULUSAN KABUPATEN DEMAK
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i2.977

Abstract

Abstract: Tourism activities are activities that directly touch and involve the community so as to bring various impacts to the local community. Indonesia which is rich in natural products highlights aspects of tourism in several sectors, culture, traditional food and natural wealth. Although Culinary Tourism is closely related to the taste of local food, this research will focus its discussion on the Design of Marine Culinary Tourism Model on the North Coast of Demak, precisely in Tambakbulusan Village, Karang Tengah District, Demak Regency. In the area cultivated fisheries namely bandeng ponds, tilapia fish, and shrimp. Seeing the culinary potential and fishery results of Demak Regency, especially in the area that excels. As one of the villages that have this potential, Tambakbulusan Village has not been developed optimally. Developing this potential requires careful planning. So that the planning is not the wrong target, research needs to be done first to identify the feasibility of the area to be used as a planning object. This study used qualitative descriptive analysis methods. The analysis is related to the tourism element. The results of the research were then used as input to design the tourist area in Tambakbulusan Village. The design is done by analyzing space needs, design elements, measurable and immeasurable performance, then from the results of design analysis produced a site plan of tambakbulusan tourist village.Abstrak: Kegiatan tourism adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setempat. Indonesia yang kaya akan hasil alamnya menonjolkan aspek tourism pada beberapa sektor, budaya, makanan tradisional dan kekayaan alam. Walaupun Culinary Tourism erat kaitannya dengan cita rasa makanan daerah setempat, namun penelitian ini akan memfokuskan pembahasannya pada Desain Model Wisata Kuliner Bahari di Pesisir Pantai Utara Demak, tepatnya di Desa Tambakbulusan, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Demak. Di kawasan tersebut dibudidayakan perikanan yakni tambak bandeng, ikan nila dan udang. Melihat potensi kuliner dan hasil perikanan Kabupaten Demak terutama di kawasan tesebut yang unggul. Sebagai salah satu desa yang memiliki potensi tersebut, Desa Tambakbulusan belum dikembangkan secara optimal. Untuk mengembangkan potensi tersebut diperlukan sebuah perencanaan yang matang. Agar perencanaan tersebut tidak salah sasaran, perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu untuk mengidentifikasi kelayakan kawasan yang akan dijadikan sebagai obyek perencanaan. Pada penelitian ini digunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Analisis yang dilakukan yaitu terkait dengan elemen pariwisata. Hasil dari penelitian kemudian dijadikan sbegai masukan untuk merancang desain kawasan wisata di Desa Tambakbulusan. Perancangan desain tersebut diklakukan dengan menganalisis kebutuhan ruang, elemen perancangan, kinerja terukur dan tak terukur, kemudian dari hasil analisis perancangan dihasilkan sebuah siteplan desa wisata Tambakbulusan.
EFEKTIVITAS PENCAHAYAAN ALAMI PADA RUMAH TINGGAL 2 TINGKAT (STUDI KASUS: PERUMAHAN AVANI ECOPARK SEMARANG TIPE 70) Astrihasna Shafa; Suzanna Ratih Sari
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i2.999

Abstract

Abstract: The intensity of natural light needs to consider when designing a building, especially a residential house. This study is about the effectiveness of the natural lighting system as a correction of type 70 two-story residential building in Semarang to obtain optimal natural lighting. This research uses quantitative methods. Data were obtained from direct light intensity measurements in the morning, afternoon, and evening using lux meter for one day. The analysis also uses data generated from computer simulations to determine differences in lighting intensity conditions with two window openings as reference. The final result is comparing the measurement analysis result with the recommended standards. Observations show that horizontal window enter more light than vertical window openings. In addition, the month in calendar influences the percentage of light intensity that enters the house.Abstrak: Intensitas cahaya alami sangat perlu untuk diperhatikan ketika merancang sebuah bangunan, khususnya rumah tinggal. Pengkajian efektivitas sistem pencahayaan alami dalam penelitian ini sebagai koreksi bangunan rumah tinggal dua tingkat tipe 70 di Semarang untuk mendapatkan pencahayaan alami yang optimal. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif. Data diperoleh dari hasil pengukuran intensitas cahaya secara langsung pada pagi, siang, dan sore hari selama satu hari menggunakan lux meter. Analisis juga menggunakan data yang diperoleh dari simulasi komputer yang digunakan untuk mengetahui perbedaan kondisi intensitas pencahayaan dengan dua referensi luas bukaan jendela. Hasil akhir penelitian adalah melakukan perbandingan antara hasil data pengukuran dengan standar yang direkomendasikan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa luas bukaan jendela horizontal lebih banyak memasukkan cahaya dibandingkan bukaan vertikal. Selain itu, bulan dalam kalender memiliki pengaruh terhadap persentase intensitas cahaya yang masuk ke dalam rumah. 
PENATAAN KAMPUNG TUA TIANGWANGKANG SEBAGAI KAWASAN WISATA BERKELANJUTAN Hendro Murtiono; Devi Fevita; Novya Mardhika
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i3.1067

Abstract

Abstract: Kampung Tiangwangkang is one of the villages that has natural potential, namely on the coast and there is processing of marine products by the community. However, the processing of natural potential as a tourist place that is less than optimal causes the population to be far from the level of welfare. The natural products of the residents who were paid a high price were not enjoyed by the residents, but by foreign investors. Thus, this research was conducted to analyze the potential and recommend a design as a sustainability effort by utilizing this potential to the fullest. This research method is carried out by collecting data and then analyzing it using direct observation techniques which produce recommendations to solve problems. The results showed that the village of Tiangwangkang has advantages in the form of natural scenery as a visual attraction for tourists, as well as a platform that can bring tourists to the village opposite Tiangwangkang, and vice versa. Culinary buildings, which are characterized using materials and structures, are also an attraction for tourists in the area. However, apart from having advantages, it turns out that Kampung Tiangwangkang also has disadvantages, namely in terms of accessibility and reforestation.Abstrak: Kampung Tiangwangkang merupakan salah satu kampung yang memiliki potensi alam, yaitu di bagian pesisir serta terdapat pengolahan hasil laut oleh masyarakat. Namun pengolahan potensi alam sebagai tempat wisata yang kurang maksimal menyebabkan penduduknya jauh dari tingkat kesejahteraan. Hasil alam dari penduduk yang dibayar dengan harga mahal tersebut ternyata bukan dinikmati oleh penduduk, tetapi oleh investor asing. Dengan demikian, penelitian ini dilakukan untuk menganalisa potensi dan merekomendasikan suatu rancangan sebagai upaya keberlanjutan dengan memanfaatkan potensi tersebut secara maksimal. Metode penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data kemudian dianalisa menggunakan teknik observasi langsung yang menghasilkan rekomendasi untuk menyelesaikan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kampung Tiangwangkang memiliki kelebihan berupa pemandangan alam sebagai daya tarik visual bagi wisatawan, serta sebagai pelantar yang dapat membawa wisatawan ke kampung yang berada diseberang Tiangwangkang, begitu juga sebaliknya. Bangunan kuliner yang memiliki ciri khas dalam penggunaan material dan struktur, juga menjadi sebuah daya tarik bagi wisatawan di daerah tersebut. Namun selain memiliki kelebihan, ternyata Kampung Tiangwangkang juga memiliki kekurangan, yaitu dalam hal aksesibilitas serta penghijauan.
TIPOLOGI RUMAH VERNAKULAR BERDASARKAN SISTEM FISIK DI KAMPUNG BANDAR PEKANBARU, RIAU Laili Dwi Annisa; Atiek Suprapti; Edward Edrianto Pandelaki
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v4i3.476

Abstract

The development of the city of Pekanbaru originally came from a small hamlet on the edge of the Siak river. The development of Senapelan (Kampung Bandar now) is very closely related to the development of the Sri Indrapura Siak Kingdom which brought Malay culture and architecture to Bandar Village. To learn the characteristics of an architectural building one of them can be known by studying the typology of the building. Likewise with the characteristics of houses in a settlement, this can be known by examining the typology of the houses. The purpose of this study was to determine the typology of vernacular houses based on physical elements in Kampung Bandar Pekanbaru. The typology of this house will be discussed descriptively with qualitative methods. In this study, a strategy to determine the typology of vernacular houses uses physical system parameters that will discuss typologies based on the character of the material, typologies based on space constraints and typologies based on the structure of the house. The results of the study are expected to be a foundation for maintaining and preserving vernacular houses with Malay architecture in Pekanbaru. It also can be an input for the government to be able to develop the Bandar village area by continuing to emphasize the character of Malay architecture and advanced steps such as conservation so that it can be a positive impact on the city of Pekanbaru.
STRATEGI PERANCANGAN KAWASAN PERUMAHAN BERKELANJUTAN DENGAN PENDEKATAN WATER SENSITIVE URBAN DESIGN DI KAWASAN BANDUNG UTARA Tika Novis Putri; Nova Asriana; Yoska Farhabi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i1.631

Abstract

Abstract: The rapid growth of settlement in the northern part of Bandung, as well as known KBU, increases slightly as an impact of the economy growth in the capital city of West Java. These influences strongly has some effects, such as the changing of land use and the decreasing of water absorption. For instance, the agricultural land area, the conservation area and the green area become settlement area and commercial area, therefore this area is a lack of absorption area due to the declining the green area. These evidences are following checked according to the WALHI’s data, around 70% of green area, such as protected forest, agricultural land, and plantation area leads to be settlement area, residential area and commercial area. Mostly Bandung Raya, included Cimahi, South Bandung, and Kabupaten Bandung get flood as the effect of these issues, especially when rain season. Based on the issues explanation and evidences, this research aims to have problem solving in the development of environmental friendly settlement and residential area that will lead to sustainable residences and conservation area. This research purpose is to conduct experimental-based and explorative-based the development model of sustainable residences in the Kelurahan Citeureup, one of sub-district in the North Bandung, through Water Sensitive Urban Design (WSUD) approach. This approach is not only study from architectural aspect, but also study from landscape and the utilities aspects. Meanwhile, this method of this study is to conduct morphology analysis to recognize the pattern and urban structure, also the water flow patterns in this area. The result then will be used to elaborate the strategic developing for environmental friendly settlement and residential area (sustainable residences, especially in water well-disposed so that to reduce the flood impact when rain season, the shortage rainfall when dry season, and to fulfill further the sustainability of water needs.Abstrak: Pertumbuhan pemukiman di Kawasan Bandung Utara (KBU) terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Kota Bandung sebagai Ibu Kota Jawa Barat. Dampak dari pertumbuhan ini adalah terjadinya alih fungsi lahan, yang sebelumnya merupakan lahan pertanian dan perkebunan, menjadi kawasan pemukiman. Sebagai Kawasan yang diandalkan menjadi daerah resapan air, kondisi KBU saat ini cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang dihimpun oleh WALHI, sekitar 70% lahan hijau yang berupa hutan lindung, lahan pertanian dan perkebunan telah beralih fungsi menjadi kawasan permukiman dan komersial. Dampaknya, dapat dilihat saat musim penghujan, dimana banjir terjadi hampir di sebagian wilayah Bandung Raya, mencakup Wilayah Cimahi, Bandung Selatan, Kabupaten Bandung, dan sekitarnya. Berdasarkan isu tersebut, diperlukan solusi terkait model pengembangan kawasan perumahan ramah lingkungan (perumahan berkelanjutan) yang mampu berperan sebagai kawasan konservasi air, selain sebagai tempat bermukim.Melalui pendekatan Water Sensitive Urban Design (WSUD), penelitian ini mencoba mengeksplorasi model pengembangan perumahan berkelanjutan di Kelurahan Citeureup, salah satu kelurahan di Kawasan Bandung Utara,  tidak hanya dari segi arsitektur bangunan, namun juga terkait lansekap dan utilitas kawasan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan analisis morfologi kawasan untuk memahami pola dan struktur ruang kawasan dan pola pergerakan aliran air. Hasil dari analisis tersebut selanjutnya digunakan untuk merumuskan strategi pengembangan kawasan perumahan yang ramah lingkungan (perumahan berkelanjutan) khususnya dalam hal ini ramah air, sehingga dapat turut mengurangi dampak banjir ketika musim penghujan, kekeringan di musim kemarau, serta untuk memenuhi kebutuhan air berkelanjutan di masa depan.
KAJIAN ESTETIKA ARSITEKTUR FASAD PADA RUMAH TINGGAL DESA KENALI Adelia Enjelina; Andhini Laksita Putri; Diyah Arum Wahyuni
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i2.600

Abstract

Abstract: The façade is the part that separates the outer and inner areas of the building, which can be interpreted as the leather or face layer of the building. Aesthetics is an architectural term for visually assessing a beauty in an architectural product, which has the value of abstract beauty. In assessing an aesthetic must have 3 things namely utility/ usability, firmness / robustness, and venusitas / beauty. Research using qualitative methods that compare observation results with existing theories. The building that was used as an object is the building of kenali village residence which is a development of the traditional house of pesagi. The purpose of this research is to analyze the aesthetics of the facade and typical facade according to the development of the times in the traditional house of Kenali Village. The elements of the facade are color, wall, ventilation, entrance, column, roof, signboard, balcony and staircase. The aesthetic value highlighted on the facade is the rhythm, composition, proportions, and symmetry shown by the arrangement and selection of openings, the material of the facade walls, and the arrangement of materials on the facade. The balance of aesthetic values on the façade of the building can make an interesting visual that has its own uniqueness.Abstrak: Fasad merupakan bagian yang memisahkan area luar dan dalam bangunan, yang dapat diartikan sebagai lapisan kulit atau muka dari bangunan. Estetika  merupakan istilah arsitektur dalam menilai suatu keindahan pada produk  arsitektur secara visual, yang memiliki nilai keindahan abstrak. Dalam menilai suatu estetika harus memiliki 3 hal  yaitu utilitas/kegunaan, firmitas/kekokohan, dan venusitas/keindahan. Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif yang membandingkan  hasil observasi dengan teori yang ada. Bangunan yang dijadikan sebagai objek  adalah bangunan rumah tinggal Desa Kenali yang merupakan perkembangan dari  rumah tradisional pesagi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis  estetika fasad dan tipikal fasad sesuai perkembangan zaman pada rumah tradisional  Desa Kenali. Elemen pembentuk fasad adalah warna, dinding, ventilasi, entrance, kolom,  atap, papan tanda, balkon dan tangga. Nilai estetika yang ditonjolkan pada fasad  adalah irama, komposisi, proporsi, dan simetri yang diperlihatkan dengan penyusunan dan pemilihan  bukaan, material dinding fasad, serta penataan material pada fasad. Keseimbangan  nilai estetika pada fasad bangunan dapat menjadikan suatu visual yang menarik yang memiliki keunikan tersendiri.
PENGARUH ELEMEN INTERIOR STUDIO ANIMAXX TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN Ronald Justice; Atik Suprapti; Budi Sudarwanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i3.878

Abstract

Abstract: Dynamic education must be able to follow the progress of the times that continue to develop. The demands of 21st century skills have an impact on improving the quality of vocational education through innovation of educational facilities and infrastructure that are in line with sustainable development goals in realizing quality education. To achieve this goal, the school seeks to improve the quality of learning through structuring the interior elements of the learning space. The purpose of this study was to describe the interior elements of Animaxx studio in terms of lighting, color, shape, and material aspects and to determine the effect of interior elements on the learning process in terms of motifs, affective, and learning achievement. Combined research methods (mix methods) were used in this study, quantitative methods were used to collect data about user perceptions of interior elements and responses to motives, affective, and learning achievement through questionnaire collection. Strengthened by qualitative methods with data collection techniques through interviews, literature studies and direct observation to the object of research. The data collected were analyzed descriptively and hypothesis testing through regression analysis. From this research, it was found that the effect of user perception on Animaxx studio interior elements had an effect on motive and affective. While the motive and affective simultaneously affect the achievement of learning. So it can be concluded that there is a significant influence between Animaxx studio interior elements on the learning process.Abstrak: Pendidikan yang dinamis harus dapat mengikuti kemajuan zaman yang terus berkembang. Tuntutan keterampilan abad 21 berdampak pada peningkatan mutu pendidikan kejuruan melalui inovasi sarana dan prasarana pendidikan yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan dalam mewujudkan pendidikan berkualitas. Maka dari itu sekolah berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penataan elemen interior ruang pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan elemen interior studio Animaxx ditinjau dari aspek pencahayaan, warna, bentuk, dan material dan mengetahui pengaruh elemen interior terhadap proses pembelajaran yang dilihat dari motif, afektif, dan ketercapaian pembelajaran. Metode penelitian kombinasi (mix methods) digunakan dalam penelitian ini, metode kuantitatif digunakan untuk mengumpulkan data tentang persepsi pengguna terhadap elemen interior dan respon tentang motif, afektif, dan ketercapaian pembelajaran melalui pengumpulan kuesioner. Dikuatkan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, studi literatur dan observasi langsung ke obyek penelitian. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dan uji hipotesis melalui analisis regresi. Dari penelitian ini diperoleh hasil penelitian adanya pengaruh persepsi pengguna terhadap elemen interior studio Animaxx berpengaruh terhadap motif dan afektif. Sedangkan motif dan afektif secara simultan berpengaruh terhadap ketercapaian pembelajaran. Sehingga disimpulkan ada pengaruh signifikan antara elemen interior studio Animaxx terhadap proses pembelajaran.
KONSEP OPTIMALISASI KENYAMANAN TERMAL PADA PERANCANGAN PUSAT PELATIHAN BAHASA ASING DI BANDA ACEH Indra Putra Misbach; Maysarah Bakri; Dony Arief Sumarto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i1.825

Abstract

Abstract: In order to support its function, the educational building is required to provide thermal comfort for the user. The thermal comfort affects the learning quality that occurs in the classroom. It is a challenge for the designed objects in a tropical region. Therefore, this design research aims to implement a tropical concept using the passive approach to optimize the building’s thermal comfort. The data is collected through literature review and site studies. This design research produces a designed object that implements the passive approaches through building design and layout, the use of sloping roof, the optimization of the cross-ventilation system, the use of exterior bright color, and outdoor space arrangement.Abstrak: Untuk mendukung fungsinya, bangunan pendidikan dituntut untuk memberikan kenyamanan termal bagi pengguna. Kenyamanan termal mempengaruhi kualitas pembelajaran yang terjadi di ruang belajar. Hal ini menjadi tantangan bagi objek rancangan yang berada di daerah tropis. Oleh karena itu, penelitian perancangan ini berupaya menerapkan konsep tropis dengan pendekatan pasif untuk mengoptimalkan kenyamanan termal pada bangunan. Data dikumpulkan melalui kajian literature dan studi tapak. Penelitian perancangan ini menghasilkan objek rancangan yang mengaplikasikan pendekatan pasif melalui desain bentuk dan tata bangunan, penggunaan atap miring, optimalisasi system ventilasi silang, penggunaan warna cerah pada kulit bangunan serta penyediaan dan penataan ruang luar.   
KONTEKSTUAL DALAM ARSITEKTUR: Adaptasi Bangunan di Komplek Gedung Negara Cirebon Nurtati Soewarno; Nurhidayah Nurhidayah; Erwin Yuniar Rahadian
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i2.1017

Abstract

Abstract: Indonesia has various of cultural heritages, both from local and immigrant culture. Gedung Negara, which previous called Residency Building, is one of the Dutch colonial government legacies in Cirebon city. Since its founding in 1865 until now this building has several times changed its name and function. This encourages various changes, additions, demolitions and transformations as an effort to adapt to new functions. The problem occurs if there is no context between new buildings and Gedung Negara as a cultural heritage building. This paper aims to determine the adaptation of architectural style of new buildings to Gedung Negara. By observing, a description of the function, form and architectural style of the new buildings around the Gedung Negara is obtained. Is there any architectural context betweem new buildings and Gedung Negara? How will the adaptation of these new buildings be? The architectural style context between new buildings and heritage buildings is highly recommended so that the new building can coexist in harmony with the cultural heritage building. It is hoped that the change of functions will not eliminate the uniqueness of the Indische Empire style and the Gedung Negara as a cultural heritage building in Cirebon city should be preserved well.Abstrak: Indonesia memiliki berbagai warisan budaya, baik yang berasal dari budaya lokal maupun budaya pendatang. Gedung Negara yang semula bernama Gedung Karesidenan adalah salah satu warisan Pemerintah Kolonial Belanda di kota Cirebon. Sejak didirikan tahun 1865 hingga saat ini gedung ini telah mengalami beberapa kali pergantian nama dan fungsi. Hal ini mendorong terjadinya berbagai perubahan, penambahan, pembongkaran maupun transformasi sebagai upaya adaptasi terhadap fungsi barunya. Permasalahan terjadi apabila tidak ada konteks antara bangunan baru dengan Gedung Negara sebagai bangunan cagar budaya. Makalah ini bertujuan untuk mengetahui adaptasi bentuk dan gaya arsitektur bangunan-bangunan baru terhadap Gedung Negara. Dengan melakukan observasi diperoleh gambaran fungsi, bentuk dan gaya arsitektur bangunan-bangunan baru di sekitar Gedung Negara. Apakah ada konteks gaya arsitektur antara bangunan baru dengan Gedung Negara? Bagaimana bentuk adaptasi bangunan-bangunan baru tersebut? Konteks gaya arsitektur antara bangunan baru dengan bangunan cagar budaya sangat disarankan agar bangunan baru dapat bersanding harmoni dengan bangunan cagar budaya. Diharapkan alih fungsi tidak menghilangkan keunikan gaya Indische Empire dan Gedung Negara sebagai bangunan cagar budaya di kota Cirebon sudah selayaknya dilestarikan dengan baik.